Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikenal sebagai negara kaya
akan sumber alam dan budaya. Kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia
merupakan warisan dari nenek moyang bangsa Indonesia. Menurut
(Muhammad Junaud Musa, Dr.Purba Daru Kusuma, S.T., M.T., Andrew Brian
Osmond,ST. MT., 2018) Budaya tersebut diwariskan secara turun temurun
dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan budaya yang miliki oleh
Indonesia adalah batik. kata “Batik” berasal dari bahasa Jawa yaitu: “amba”
yang berarti menulis dan “nitik” yang berarti titik[1]. Khasanah budaya
bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai
corak dan jenis batik tradisioanal dengan cirri khasnya sendiri. Misalnya batik
Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Banyumas ataupun daerah-daerah lain di
Indonesia memiliki corak atau motif sesuai dengan cirri khas daerahnya.
Dalam perkembangannya, kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan
selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya
untuk mengisi waktu senggang. Batik adalah teknik pembuatan corak atau
motif dengan menggunakan malam (lilin) sebagai pewarnaannya[1]. Batik
yang paling dikenali berasal dari Jawa yang mempunyai kulturasi sejarah yang
panjang dengan motif, teknik, dan kualitas dari pengerjaannya. Dan batik
tidak hanya terkenal di Indonesia saja, tapi di masyarakat dunia juga mengakui
keindahan batik. Salah satunya ketika UNESCO mengakui bahwa batik
Indonesia sebagai warisan dunia pada tanggal 2 Oktober 2009[1]. Salah satu
kebudayaan batik yang berasal dari Jawa adalah Batik Banyumas.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh penulis secara langsung kelokasi
ternyata Batik Bawor masih sangat tradisional dan sederhana dalam proses
produksi pembuatan batiknya, masih menggunakan alat-alat yang sederhana
dan seadanya untuk melakukan produksi batiknya tersebut, dan system
penganalannya masih menggunakan cara tradisional belum memanfaatkan
2

teknologi informasi dan komunikasi sebagai strategi pengenalan dari motif-


motif maupun hasil dari produknya, sehingga Batik Bawor kurang diketahui
oleh masyarakat baik di dalam Kabupaten Banyumas maupun masyarakat
luas. Dari permasalahan yang muncul pada Batik Bawor maka penulis ingin
memberikan sebuah ide solusi pada system pengenalan dan edukasi mengenai
motif dan makna dari motif-motif Batik Bawor dengan media informasi dan
komunikasi yaitu membuatkan sebuah video pengenalan dengan
menggunakan Penerapan Teknik Motion Tracking Sebagai Media Edukasi
Pengenalan Batik.
Pada penelitian (Slamet Pamujianto, M. Suyanto, Amir Fatah Sofyan
2018), teknik Motion Tracking disebut dikenal oleh (Huang, 2016)
mengungkapkan bahwa 3D Motion Tracking adalah teknologi kunci dalam
realitas maya serta bidang terkait lainnya seperti animasi komputer, antarmuka
pengguna 3D, robotika, dan sebagainya[2]. Pada penelitian (Purwanto, 2014)
mengemukakan dalam penelitiannya menjelaskan bahwa Motion Tracking
merupakan Teknik yang digunakan untuk mengambil koordinat titik posisi
dalam sebuah adegan gerak sehingga ketika dimasukkan objek akan bergerak
dengan sempurna[3]. Menurut penelitian (Sebastian Schröder, dkk. 2017)
mengemukakan bahwa Pada perkembangannya Teknik motion tracking itu
dibagi menjadi dua jenis yaitu motion tracking menggunakan marker dan
motion tracking tanpa marker (markerless). Pengembangan motion tracking
tanpa marker memang sedang sedang meningkat pada saat ini, namun motion
tracking dengan marker memiliki keunggulan dibandingkan markerless.
Motion capture berbasis optical marker, atau mocap, secara luas dianggap
sebagai metode standar untuk memperoleh gerakan pemain manusia baik
dalam konteks penelitian maupun industri atau hiburan[4]. Pada penelitian
sebelumnya, (Umam 2016) dengan judul “PERANCANGAN MOTION
GRAPHIC PENGENALAN BATIK GEMAWANGKHAS KABUPATEN
SEMARANG”, penelitian tersebut dilakukan karena adanya sebuah
permasalahan dalam memperkenalkan batik dari semarang yaitu batik
gumawang sehingga peneliti menawarkan sebuah ide solusi yaitu membuatkan
video dengan teknik motion graphic untuk mempekernalkan batik gumawang
3

kepada masyarakat luas. Tujuan akhir dari pembuatan video tersebut adalah,
masyarakat terbuka wawasannya tentang batik khas Kabupaten Semarang ini,
baik dari sejarah, motif dan filosofi[5].
Pada penelitian yang dilakukan oleh (Maredhany, dkk 2017) dengan judul
“Perancangan Iklan Animasi 3D Batik Tie Dye di Surabaya Berbasis Online
Guna Mengenalkan Pada Masyarakat”, Permasalahan pada penelitian ini
adalah kurangnya media promosi untuk Batik Tie Dye di Surabaya sehingga
banyak konsumen kurang memilikidaya tarik untuk membeli. Sehingga
penulis memberikan sebuah ide solusi dengan membuatkan iklan animasi 3D
berbasis Online pada Batik Tie Dye di Surabaya untuk mengenalkan kepada
masyarakat[6]. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Hananto, dkk 2018)
dengan judul “PENGEMBANGAN MOTIF BATIK SEMARANGAN
MENGGUNAKAN TIPOGRAFI SEBAGAI GAGASAN VISUAL”,
penelitian tersebut dilakukan bertujuan untuk menghasilkan desain motif batik
Semarangan menggunakan tipografi sebagai gagasan visual. Motif ini didesain
dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan yang ada di Kampung Batik
Semarang agar jika dikehendaki, motif tersebut dapat diproduksi di Kampung
Batik Semarang atau sentra batik yang setara dengan Kampung Batik
Semarang[7]. Sehingga penulis memberikan sebuah ide solusi dengan
membuatkan video sebagai media infromasi pengenalan dan media edukasi
mengenai batik banyumasan tentang Batik Bawor dengan menggunakan
penerapan teknik Motion Tracking karena Motion Tracking dapat memberikan
informasi yang lebih detail dan lebih rinci dari produk yang dihasilkan dan
menyediakan iklan yang lebih dinamis dibandingkan dengan citra umum yang
ada. Perpaduan antara teknik Motion Tracking dan motif batik bawor akan
meningkatkan daya tarik kepada masyarakat mengenai batik banyumasan.
4

1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka timbul sebuah rumusan
masalah yaitu Bagaimana cara membuat video edukasi pengenalan batik
dengan menggunakan penerapan teknik Motion Tracking?

1.3. Batasan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka timbul batasan masalah
yaitu :
1. Pembuatan video batik ini memperkenalkan batik banyumasan kepada
masyarakat terutama di Kabupaten Banyumas.
2. Video pengenalan batik banyumasan melibatkan unsur motif batik bawor,
teks dan suara.
3. Pembuatan video pengenalan batik banyumasan menggunakan teknik
Motion tracking.
4. Pembuatan video batik ini sebagai media edukasi mengenai motif batik
bawor.

1.4. Tujuan Penelitian


Tujuan penilitian ini adalah untuk membuat sebuah video sebagai media
informasi pengenalan batik banyumasan dengan menggunakan penerapan
teknik Motion Tracking sebagai media edukasi pengenalan batik.

1.5. Manfaat Penelitian


1.5.1. Manfaat Teoritik
a. Bagi mahasiswa dapat menambah daftar referensi pengembangan ilmu
pengetahuan tentang penyusunan yang berkaitan dengan pembuatan
video cinemagraph yang digabungkan antara gamba rbergerak dan
gambar diam.
b. Manfaat penelitian bagi bidang keilmuan adalah menjadi panduan
membuat video sebagai media informasi dan komunikasi dengan
menggunakan Software Adobe after effect berguna untuk penelitian
berikutnya apabila ingin dikembangkan dengan teknik lain.
5

1.5.2. Manfaat Aplikatif


a. Batik banyumas semakin dikenal oleh masyarakat luas.
b. Dapat meningkatkan daya tarik terhadap batik banyumas.
c. Dapat dijadikan sebagai bahan referensi masyarakat ketika ingin
membeli batik tulis terutama batik bayumasan.