Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

KEPRIBADIAN PSIKOANALISIS (FREUD & ERIKSON)

Disusun oleh :

Kelompok 1

1. RAFIDAH THAIB (1701025)


2. JULFIANI SAMPURNA (1701033)
3. MEGIWATI ANO (1701094)
4. MIRAWATI GOBEL (1701063)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)


MUHAMMADIYAH MANADO
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
T.A 2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Yang telah memberikan Rahmat,
hidayah dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Kepribadian
Psikoanalisis (Freud & Erikson)”
Tak lupa pula kami sadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari
berbagai media dan pihak yang telah membantu untuk menyusun makalah ini. Sehubungan
dengan itu kami ucapkan banyak terimah kasih kepada pembimbing yang telah membantu
menyusun makalah ini.
Akhir kata kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya bila ada perkataan atau tulisan
yang tidak berkenaan dihati para pembaca maupun yang menilai. Untuk itu, kami
mengharapkan masukan dalam bentuk kritik, saran maupun tanggapan dari para pembaca
sekalian demi kesempurnaannya makalah ini
Semoga ilmunya bermanfaat bagi para pembaca

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Manado, Mei 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata pengantar ……………………………... i


Daftar isi …………………………….. ii

BAB I : PENDAHULUAN ……………………………... 1


1.1 Latar Belakang ……………………………... 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………... 1
1.3 Tujuan …………………………….. 2

BAB II : PEMBAHASAN ……………………………… 3


2.1 Biografi Sigmund Freud ……………………………… 3
2.2 Teori Perkembangan menurut ……………………………… 3
Sigmund Freud
2.3 Biografi Erik Erikson ……………………………… 7
2.4 Teori Perkembangan Menurut Erik ………………………………. 8
Erikson
2.5 Perbandingan Antara Kedua Teori ………………………………... 11

BAB III : PENUTUP …………………………………. 12


4.1 Kesimpulan ………………………………… 12

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam waktu kewaktu manusia sebagai makhluk hidup yang sempurna


mengalami perkembangan entah itu fisik ataupun non fisik. Adapun perkembangan fisik
dapat kita ukur kuantitasnya seperti pertumbuhan badan, kaki, gigi dan lainnya
sedangkan perkembangan non fisik berhubungan dengan tingkat kedewasaan, proses
berfikir dan lain sebagainya.

Dalam psikologi perkembangan Richard M. Lerner (1976), merumuskan sebagai


pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fungsi-fungsi psikologis
sepanjang hidup. Misalnya, mempelajari bagaimana proses berpikir pada anak-anak usia
satu, dua atau lima tahun, memiliki persamaan atau perbedaan, atau bagaimana
kepribadian seseorang berubah dan berkembang dari anak-anak, remaja sampai dewasa.

Sehingga dengan adanya ilmu ini dapat bermanfaat untuk kita semua khususnya
para praktisi pendidikan ataupun para orang tua agar tahu proses perkembangan individu
dari waktu ke waktu agar dapat dijadikan pijakan pola asuh kepada anak supaya
pekembangan anak dapat terpenuhi dari tahapan ke tahapan selanjutnya. Namun jika
sebaliknya guru ataupun para orang tua tidak memahami teori ini yang menjadi korban
adalah anak karena mereka akan berkembang tidak sesuai dengan harapan. Seperti anak
sudah bisa berlari kita malah mengajarinya berjalan atau sebaliknya anak baru belajar
berjalan malah kita mengajarinya berlari.
Dalam pembahasan psikologi perkembangan manusia terdapat banyak teori dari
yang rumit sampai yang sederhana. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dijelaskan
2 teori psikologi perkembangan menurut ilmuwan besar yaitu Sigmund Freud dan Erik
Erikson.

1.2 Rumusan Masalah


2. Bagaimana biografi Sigmund Freud
3. Bagaiman teori perkembangan menurut Sigmund Freud
4. Bagaimana biografi Erik Erikson
5. Bagaimana teori perkembangan menurut Erik Erikson
6. Perbandingan teroti Sigmund Freud dengan Erik erikson

1.3 Tujuan
2. Mengetahui biografi Sigmund Freud
3. Mengetahui teori perkembangan menurut Sigmund Freud
4. Mengetahui biografi Erik Erikson
5. Mengetahui teori perkembangan menurut Erik Erikson
6. Mengetahui Perbandingan teroti Sigmund Freud dengan Erik erikson
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Sigmund Freud


Sigmund Freud lahir di Freiberg, Austria 6 Mei 1856 Kemudian meninggal di
London, 23 September 1939 pada umur 83 tahun adalah seorang Austria keturunan
Yahudi.
Pendidikan formalnya ialah kedokteran dan setelah lulus memperdalam bidang
neurologi dan melakukan penyelidikan dalam bidang ini. Pada tahun 1885 freud pergi ke
paris dan selama setahun ia belajar pada piere janet dan jean Charcot dalam teknik
menyembuhkan para penderita hysteria yakni dengan cara hypnosa. Sekembalinanya ke
Wina freud bekerja pada joseph Breuer dalam menyembuhka penyakit hysteria.

2.2 Teori Perkembangan menurut Sigmund Freud


Sigmund Freud merupakan tokoh pendiri psikoanalisa atau disebut juga aliran
psikologi dalam (depth psychology) ini secara skematis menggambarkan jiwa sebagai
gunung es. Bagian yang muncul di permukaan air adalah bagian terkecil, yaitu puncak
dari gunung es situ, yang dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (conscious-ness).
Agak dibawah permukaan air adalah bagian yang di sebutnya prakesaadaran atau
subconsciousness atau preconsciousness. Ketidaksadaran ini berisi dorongan dorongan
yang ingin muncul ke permukaan atau ke kesadaran. Bagian yang terbesar dari gunung
es itu berada dibawah permukaan air sama sekali dalam hal jiwa merupakan dalam
ketidaksadaran (unconsciousness).
Ketidaksadaran ini berisi dorongan dorongan yang ingin muncul ke permukaan
atau kesadaran. Dorongan dorongan ini mendesak ke atas, sedangkan tempat diatas
sangat terbatas sekali. Tinggallah “Ego” (Aku) yang memang menjadi pusat dari pada
kesadaran yang harus mengatur dorongan dorongan mana yang harus tetap tinggal di
ketidaksadaran. Sebagian besar dari dorongan –dorongan yang berasal dari
ketidaksadaran itu memang harus tetap tinggal dalam ketidaksadaran, tetapi mereka ini
tidak tinggal diam, melainkan mendesak terus dan kalau “Ego” tidak cukup kuat
menahan desakan ini akan terjadilah kelainan-kelainan kejiwaan . Dorongan dorongan
yang sudah ada sejak manusia lahir yaitu dorongan seksual dan dorongan agresi sebagian
lagi berasal dari pengalaman masa lalu yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran dan
pengalaman itu bersifat traumatis (kegoncangan jiwa) sehingga perlu ditekankan dan
dimasukkan dalam ketidaksadaran.

Contoh Gambar “Fenomena gunung es”

Sebagai teori kepribadian psikoanalisis mengatakan bahwa jiwa terdiri dari 3


sistem yaitu :
1. Id yaitu gudang semua dorongan atau tenaga yang sifaynya primitive. Dorongan
primitif ini mempunyai sidat yang disebut prinsip kenikmatan. Ia menghendaki
segera memperoleh kenikmatan, bilamana dorongannya sudah sampai pada tingkat
tingkat dorongan untuk minta disalurkan. Contoh seorang bayi menangis terus bila
timbul keinginan untuk menyusu ibunya, tanpa dapat ditunda dan baru berhenti ,
setelah ia mulai menyusu.
2. Ego yaitu berkembang dari id yang berhadapan dengan realitas. Freud mengatakan
bahwa ego adalah bagian dari id yang telah diubah oleh pengaruh pengaruh
langsung dari dunia luar melalui persepsi kesadaran. Eo melaksanakan prinsip
realitas. Ia mengatur dorongan dorongan id dengan menunda atau menahan, agar
mencapai tujuan secara realistik . secara umum dapat dikatan bahwa ego
melaksanakan fungsi fungsinya sesuai dengan prinsip proses sekunder, yaitu harus
realistis di satu pihak, di pihak yang lain melaksanakan dorongan dorongan yang
ada dari id. Dalam perkembangan tingkah laku anak melakukan proses sekunder ini
jelas berhubungan erat dengan perkembangan intelek anak. Contohnya saja ketika
batita menangis karena lapar kemudian di hidangkan batu sama roti tentu yang akan
di pilih adalah roti.
3. Super ego yaitu struktur kepribadian yang merupakan badan moral kepribadian.
Perhatian utama adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah.
Contohnya yaitu ketika anak sudah bisa memilih mana yang benar dan salah
dimanapun tempatnya ia akan selalu memegang norma norma itu. Misalnya ketika
ada kantin kejujuran dia mengambil makanan tentu dia akan membayar sesuai
yang dia ambil.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa id, ego dan superego adalah suatu
konsep yang dikembangkan Freud untuk menjelaskan komponen komponen
perkembangan biologis (id), psikologis (ego) dan sosial (superego). Ketiga komponen
kepribadian ini berkembang melalui tahap tahap perkembangan psikoseksual. Freud
menggunakan istilah seksual untuk segala tindakan dan pikiran yang member
kenikmatan atau kepuasan dan istilah psikoseksual digunakan untuk menunjukkan
bahwa proses perkembangan psikologis ditandai dengan adanya libido (energy
seksual) yang dipusatkan pada daerah daerah tubuh tertentu yang berbeda beda Freud
yakin bahwa perkembangan manusia melewati lima fase tahapan perkembangan
psikoseksual dan bahwa setiap tahap perkembangan tersebut individu mengalami
kenikmatan pada satu bagian tubuh lebih dari pada bagian tubuh lainnya. 5

 Tahap-tahap perkembangan psikoseksual menurut Freud yaitu oral, anal,


phallik, laten dan genital.

1.) Tahap Oral (Oris = Mulut)


Fase oral adalah fase perkembangan yang terjadi pada tahun pertama dari
kehidupan individu. Pada fase ini daerah erogen yang paling peka adalah mulut,
yang berkaitan dengan pemuasan kebutuhan pokok seperti makanan dan air.
Rangsangan yang terjadi pada mulut adalah pada saat menghisap makanan atau
minumannya. Fase oral berakhir saat bayi tidak lagi memperoleh asupan gizi secara
langsung dari ibunya.
2.) Tahap Anal (Anus = Dubur)
Tahap ini berada pada usia kira-kira 2 sampai 3 tahun. Pada tahap ini libido
terdistribusikan ke daerah anus. Anak akan mengalami ketegangan, ketika
duburnya penuh dengan ampas makanan dan peristiwa buang air besar yang
dialami oleh anak merupakan proses pelepasan ketegangan dan pencapaian
kepuasan, rasa senang atau rasa nikmat. Peristiwa ini disebut erotic anal.
Setelah melewati masa penyapihan, anak pada tahap ini dituntut untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan orang tua (lingkungan), seperti hidup bersih,
tidak mengompol, tidak buang air (kecil atau besar) sembarangan. Orang tua
mengenalkan tuntutan tersebut melalui latihan kebersihan (toilet training), yaitu
usaha sosialisasi nilai-niai sosial pertama yang sistematis sebagai upaya untuk
mengontrol dorongan-dorongan biologis anak.

3.) Tahap Phallik (Phallus = Dzakar)


Tahap ini berlangsung kira-kira usia ini anak mulai memperhatikan atau
senang memainkan alat kelaminnya sendiri. Dengan kata lain, anak sudah mulai
bermasturbasi, mengusap-usap atau memijit-mijit organ seksualnya sendiri yang
menghasilkan kepuasan atau rasa senang.
Pada masa ini terjadi perkembangan berbagai aspek psikologis, terutama
yang terkait dengan iklim kehidupan sosiopsikologis keluarga atau perlakuan orang
tua kepada anak. Pada tahap ini, anak masih bersikap “selfish” sikap
memementingkan diri sendiri, belum berorientasi keluar, atau memperhatikan
orang lain.

4.) Tahap Latensi


Tahap latensi berkisar antara usia 6 sampai 12 tahun (masa sekolah dasar).
Tahap ini merupakan masa tenang seksual, karena segala sesuatu yang terkait
dengan seks dihambat atau didepres (ditekan). Dengan kata lain masa ini adalah
periode tertahannya dorongan-dorongan seks dan agresif. Selama masa ini, anak
mengembangkan kemampuannya bersublimasi (seperti mengerjakan tugas-tugas
sekolah, bermain olah raga dan kegiatan-kegiatan lainnya) dan mulai menaruh
perhatian untuk berteman (bergaul dengan orang lain).
Mereka belum mempunyai perhatian khusus kepada lawan jenis (bersikap
netral) sehingga dalam bermainpun anak laki-laki akan berkelompok dengan anak
laki-laki lagi, begitupun anak wanita. Bahkan anak merasa malu apabila anak
disuruh duduk sebangku dengan teman lawan jenisnya (seperti anak laki-laki
sebangku dengan wanita dan sebaliknya).
Tahap ini dipandang sebagai masa perluasan kontak sosial dengan orang-
orang di luar keluarganya. Oleh karena itu proses identifikasi pun mengalami
perluasan atau pengalihan objek. Yang semula objek identifikasi anak adalah orang
tua, sekarang meluas kepada guru, tokoh-tokoh sejarah atau para bintang (seperti
film, musik dan olah raga).

5.) Tahap Genital


Tahap ini dimulai sekitar usia 12 atau 13 tahun. Pada masa ini anak sudah
masuk usia remaja. Masa ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak.
Pada periode ini, instink seksual dan agresif menjadi. Anak mulai mengembangkan
motif untuk mencintai orang lain atau mulai berkembangnya
motif altruis (keinginan untuk memperhatikan kepentingan orang lain).
Motif-motif ini mendorong anak (remaja) untuk berpartisipasi aktif dalam
berbagai kegiatan dan persiapan untuk memasuki dunia kerja, pernikahan dan
berkeluarga. Masa ini ditandai dengan proses pengalihan perhatian, dari mencari
kepuasan atau kenikmatan sendiri (yang bersifat kekanak-kanakan atau selfish)
kepada kehidupan sosial orang dewasa dan berorientasi kepada kenyataan (prinsip
realitas) atau sikap altruis

2.3 Biografi Erik Erikson


Ia dilahirkan di Frankurt dari orang tua yang berketurunan Denmark (Danish).
Mengikuti pendidikan dsar di Karl sruhe, Jerman. Ia menjadi guru sekolah Amerika di
Wina, sambil mengikuti kursus psikoanalisa di Institut Psikoanalisa Wina, khususnya
untuk bekerja dengan anak. Kursus ini, ditambah dengan sertifikat Sekolah Maria
Montessori, adalah pendidikan formal yang pernah dialami, selebihnya ia mencapai
puncak ilmunya dari usaha usaha dan belajar sendiri. Ia juga pernah berhubungan pribadi
dengan Freud.
Pada tahun1939 ia mulai dengan karirnya di Amerika, sambil berprakterk ia
juga mengajar. Mulai di Harvard Medical School kemudian berpindah ke Yale School of
Medicine. Disini ia banyak melakukan penyelidikan mengenai perkembangan Ego dan
segi segi sosial pada anak anak terutama pada lingkungan bermain. Erikson selama
beberapa tahun pernah mengajar Psikoanalisa di Institute Psikoanalisa San Fancisco,
Universitas California. Terakhir menjadi guru besar dalammatakuliah perkembangan
manusia di Harvard University. Erikson Menjadi terkenal dengan teori teorinya yang
dianggap tersendiri sekalipun dengan dasar dari teori freud mengenai perkembangan
ego, dalam bukunya pertama childhood and society (1950). H.W Maier mengatakan
bahwa teori teori yang dikemukakan oleh Erikson merupakan teori baru dalam
perkembangan anak.7

2.4 Teori Perkembangan Menurut Erik Erikson


Salah satu sumbangan tersebsar Erikson dan psikologi perkembangan adalah
psikososial yang berarti bahwa tahap tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati
dibentuk oleh pengaruh pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang
menjadi matang secara fisik dan psikologis (Hall & Lindzey. 1993). Menurut teori ini
kepribadian terbentuk kerika seseorang melewati tahap psikososial sepanjang hidupnya.
Masing masing tahap memiliki tugas perkembangan yang khas, dan
mengharuskan individu menghadapi dan menyelesaikan krisis . Erikson melihat bahwa
krisis tersebut sudah ada sejak lahir, tetapi pada saat saat tertentu pada siklus kehidupan
krisis menjadi dominan. Baginya krisis bukanlah bencana, tetapi suatu titik balik
peningkatan dan potensi. Pemecahan yang positif dapat membentuk jiwa yang sehat
namun jika pemecahannya negatif akan membentuk penyesuaian diri yang buruk.
Semakin berhasil seseorang menghadapi krisis akan semakin sehat perkembangannya.
(Santrock, 1998).
Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang saling
berurutan sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap bergantung pada hasil tahapan
sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap krisis ego adalah pentingnya bagi individu
untuk dapat tumbuh secara optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan yang
berbeda untuk mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari masyarakat. Berikut adalah
delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erik Erikson :

1.) Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun)


Kepercayaan dan ketidak percayaan, yaitu tahap psikososial yang terjadi selama
bertahun tahun pertama kehidupan. Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk
mendapatkan pengasuhan dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan
anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat mempercayai dan
mengembangkan asa (hope)

2.) Tahap II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun)
Rasa malu dan ragu yaitu tahap kedua perkembangan yang berlangsung pada
akhir masa bayi. Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol
atas tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya untuk
mengontrol keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang
kasar. Mereka melatih kehendak, tepatnya otonomi. Harapan idealnya, anak bisa
belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa banyak kehilangan
pemahaman awal mereka mengenai otonomi, inilah resolusi yang diharapkan.

3.) Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun)


Prakarsa dan rasa bersalah yaitu pada tahap ini berlangsung selama tahun tahun
pra sekolah. Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan
melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan
membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena takut
berbuat salah. Anak memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak mau
mengembangkan harapan-harapan ketika ia dewasa. Bila anak berhasil melewati masa
ini dengan baik, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah memiliki tujuan dalam
hidupnya.

4.) Tahap IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun)


Kerajinan dan rendah diri yaitutahap perkembang akira kira berlangsung pada
tahun tahun sekolah dasar pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh
kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik.
Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat
memecahkan masalah dan bangga akan prestasi yang diperoleh. Keterampilan ego
yang diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak yang tidak mampu untuk
menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa yang diraih teman sebaya
akan merasa inferior.
5.) Tahap V : Identity versus Identity Confusion (12-20 tahun)
Identitas dan kekacauan identitas yaitu perkembangan yang terjadi selama tahun
tahun masa remajaPada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa
biologis seperti orang dewasa sehingga tampak adanya kontraindikasi bahwa di lain
pihak anak dianggap dewasa tetapi di sisi lain dianggap belum dewasa. Tahap ini
merupakan masa stansarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual,
umur dan kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber perlindungan dan nilai utama
mulai menurun. Adapun peran kelompok atau teman sebaya tinggi. Apabila anak tidak
sukses pada fase ini, maka akan membuat anak mengalami krisis identitas, begitupun
sebaliknya.

6.) Tahap VI: Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda, 20-30 tahun)
Keintiman dan isolasi yaitu perkembangan yang terjadi pada awal awal masa
dewasa. Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi dengan
orang lain secara lebih mendalam. Ketidakmampuan untuk membentuk ikatan sosial
yang kuat akan menciptakan rasa kesepian. Bila individu berhasil mengatasi krisis ini,
maka keterampilan ego yang diperoleh adalah cinta.

7.) Tahap VII: Generativity versus Stagnation (masa dewasa menengah, 30-65 tahun)
Generativitas dan stagnanisasi yaitu tahap perkembangan yang dialami pada
masa dewasa Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai
balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan sesuatu yang
dapat memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan
untuk memiliki pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini
tidak berharga dan membosankan. Bila individu berhasil mengatasi krisis pada masa
ini maka ketrampilan ego yang dimiliki adalah perhatian, sedangkan bila individu
tidak sukses melewatinya maka akan merasa bahwa hidupnya tidak berarti.

8.) Tahap VIII: Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir, 65 tahun ke atas)
Integritas dan keputusasaan yaitu tahap perkembangan yang dialami pada akhir
masa dewasa.Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa
lalu dan melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terasa
menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup
yang telah dikejar selama bertahun-tahun. Apabila individu sukses melewati faase ini
maka akan timbul perasaan puas akan diri, sedangkan apabila mengalami kegagalan
dalam melewati tahapan ini akan menyebabkan munculnya rasa putus asa. 10

2.5 Perbandingan Antara Kedua Teori

No Freud Erikson

Peranan fungsi ego lebih ditonjolkan,

1. Peranan faktor Id sangant penting yang berhubungan dengan tingkah laku


yang nyata.

Hubungan-hubungan yang penting lebih


Hubungan Segitiga antara anak, ibu dan
luas, karena mengikutsertakan pribadi
2. ayah menjadi landasan penting dalam
pribadi lain yang ada dalam lingkungan
perkembangan kepribadian.
sosial yang langsung pada anak.

Hanya memuat 5 tahap perkembangan Membagai tahap perkembangan menjadi


3.
manusia pada masa kanak kanak saja 8 dari anak anak sampai dewasa

menekankan bahwa pengalaman di awal


Perkembangan Ego bersifat seumur
4. masa kanak-kanak membentuk kepribadian
hidup.
secara permanen
Landasan pemikirannya menggunakan
Landasan pemikirannya yaitu
pengaruh pengaruh yang timbul oleh
5. perkembangan individu dari psikis berupa
masyarakat serta kebudayaan terhadap
libido yang bersifat seksual
perkembangan kepribadian

Menggunakan fase fase kenikmatan Menggunakan fase saling kontra

6. seksual sebagai penentu tahap (berlawanan) untuk menggambarkan

perkembangannya setiap tahap dalam perkembangan

Hambatan perkembangan karena faktor Hambatan Perkembangan karena ego


7.
psikis karenakonflik antara id dan superego dengan lingkungan sosial.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Pada dasarnya teori dari Sigmund Freud dan Erikson tidaklah jauh berbeda.
Mereka membuat tahapan perkembangan sama sama sejak lahir hingga tahap
selanjutnya. Bila Sigmund freud hanya 5 tahapan sedangkan Erikson membagi menjadi
8. Sebenarnya di sini Erikson melengkapi apa yang sudah di temukan oleh Freud karena
Erikson juga pernah belajar dengan Freud.

Selain itu teori ini juga saling melengkapi jika Freud berpendapat bahwa fase
psikologis manusia merupakan murni karena dorongan dari dalam individu tersebut baik
sadar maudpun tidak sadar. Kemudian Erikson melengkapi teori tersebut dengan
menambahkan selain faktor dalam individu tersebut juga ada faktor eksternal berupa
faktor lingkungan sosial.

Sebenarnya dengan adanya teori ini dapat menjadi acuan untuk para praktisi
pendidikan ataupun para orang tua agar di gunakan ketika berhadapan dengan anak agar
tidak salah mendidik. Karena sekali salah dalam mendidik sulit untuk merubahnya lagi
DAFTAR PUSTAKA

Rochman, Fauzi. 2017. “Makalah Perbandingan Antara Teori Sigmund Freud Dan Teori
Erikson”,
https://www.academia.edu/29955603/MAKALAH_PERBANDINGAN_ANTARA_TEORI_
SIGMUND_FREUD_DAN_TEORI_ERIKSON, diakses pada 01 Mei 2019 pukul 01:30