Anda di halaman 1dari 6

Audit Plus-PAS yang Dahsyat

RMK Devililiana_11160065
Eror dan Fraud

Tujuan Auditor, menurut ISA 200, ialah memperoleh assurans yang memadai bahwa laporan
keuangan bebas dari salah saji yang material baik yang disebabkan oleh kekeliruan (error) dan
manipulasi (fraud).

ISA 240 menjelaskan makna error dan fraud, adapun perbedaan, yaitu:

 Manipulasi adalah perbuatan yang disengaja oleh satu orang atau lebih dalam tim
manajemen, pengawas, karyawan, pihak ketiga, dengan cara menipu untuk memperoleh
keuntungan tidak halal (melawan hukum).
 Kekeliruan adalah salah saji dalam laporan keuangan yang tidak disengaja, termasuk
kealpaan berkenaan dengan angka atau pengungkapan.

Perbedaan antara error dan fraud ialah apakah perbuatan yang menyababkan salah saji pada LK,
disengaja atau tidak.

Mendeteksi error lebih mudah dari pada mendeteksi fraud, karena:

 Pelaku fraud berupaya menyembunyikan perbuatannya. Froud disengaja, ada unsur niat
jahat dan penipuan!
 Temuan auditor yang mencurigal, menduga, atau menemukan fraud, mungkin sekali
hanyalah "puncak gunung es”. Fraud yang masif dan yang belum terungkap, berada di
bawah puncak gunung es.
 Bandingkan dengan error, dalam contoh berikut. Akuntan di suatu perusahaan, belum
mengikuti pelatihan tentang materi IFRS tertentu la membuat kekeliruan yang ditemukan
auditor Mudah bagi auditor, menentukan berapa meluas/terbatasnya salah saji. Auditor
bisa menguji akun atau transaksi yang diatur materi IFRS tersebut. Atau, auditor
melokalisasi periode kekeliruan, yakni selama akuntan itu menggantikan seniornya yang
cuti.
 Error lazimnya terendus dan terdeteksi oleh sistem pengendalian internal. Sebaliknya,
pelaku fraud justru "memotong-kompas" atau mematikan sistemnya. Pimpinan yang
mempunyai wewenang (discretion), lebih leluasa melakukan fraud S. Froud yang besar
dilakukan lewat persekongkolan (collusion). Persekongkolan di antara anggota keluarga
dan kerabat, sangat sulit terdeteksi karena mereka saling melindungi. Persekongkolan di
antara kelompok yang tidak punya ikatan yang kuat, lebih rentan dengan pembocoran
informasi.
Untuk menemukan error dan fraud auditor perlu waspada. Untuk menemukan fraud, di samping
harus waspada, auditor harus menerapkan tingkat kehati-hatian yang tinggi, serta memanfaatkan
pengalaman dan pelatihan tentang fraud.

Kelemahan Audit Independen

Mengapa auditor gagal mendeteksi fraud? Karena…..

 Tidak memahami dengan baik klien, bisnisnya dan industrinya. Auditor sering kali tidak
dapat menjawab pertanyaan sederhana seperti ini, yaitu:
 Apa transaksi normal untuk industri yang bersangkutan?
 Apa transaksi anda temukan di klien, yang seharusnya tidak ada dalam bisnis?
apakah ini anomali? Apakah ini indikasi fraud?
 Apa anda memahami lingkungan bisnis klien ? apa bisnis ini berurusan dengan
pengadaan barang dan jasa pemerintah pusat / daerah yang rentan terhadap
korupsi?
 Auditor mungkin tidak menerapkan atau tidak terbiasa menerapkan kewaspadaan
profesional

Terdapat beberapa temuan yang dirangkum dalam investigasi SEC, yaitu :

 Dari 1998-2010, SEC menginvestigasi 347 kasus yang diduga ada manipulasi LK.
 Dari 87 kasus yang melibatkan auditor, 58% untuk LK terakhir mendapat WTP tanpa
modifikasi tambahan, dari 42% WTP dengan paragraf penjelasan mengenai hal-hal lain
dicatat auditor, seperti perubahan standar akuntansi/ going concern issues
 Dan sebagainya…

Berdasarkan temuan-temuan penelitian ini, para peneliti mendalami implikasi temuan tersebut
terhadap proses audit. Mereka mengidentifikasi tantangan untuk 4 tema, yaitu:

 Tidak cukupnya tingkat atau jenjang kewaspadaan profesional---auditor gagal


memenuhi tanggung jawabnya dengan kemampuan maksimalnya, termasuk pelaksanaan
prosedur yang secara umum diharapkan dalam suatu audit. Perlu penelitian lebih lanjut
untuk memahami akar permasalahan, mengapa auditor gagal melaksanakan hal-hal
yang begitu mendasar dalam penugasan audit
 Tidaknya cukup kewaspadaan profesional---padahal konsep profesional skepticism sudah
berpuluh-puluh tahun merupakan bagian standar audit. Namun, dalam beberapa kasus
para auditor berjuang hebat untuk mempertahankan mindset yang tepat selama berbagai
tahap proses audit. Seperti, memahami akar permasalahan yang menyebabkan
kegagalan menerapkan kewaspadaan profesional secara konsisten. Memastikan
tantangan dengan adanya perbedaan norma budaya.
 Tidak cukup identifiasi dan penilaian resiko---manipulasi LK yang tidak terdeteksi,
Proses audit bisa memperoleh pencerahan dari disiplin ilmu lain mengenai
pengelolaan risiko.
 Kegagalan menanggapi risiko yang diidentifikasi, dengan tanggapan yang tepat untuk
mengumpulkan bukti ---auditor tidak menyesuaikan prosedur audit mereka ketika
anggota tim audit telah mengidentifikasi adanya resiko, atau dipicu oleh kegagalan
mengaitkan prosedur audit dengan resiko yang mendasari.

Penjelasaan lebih lanjut yang kalimat di bold, yaitu :

 Tingkat kewaspadaan profesional yang tinggi, merupakan sesuatu yang sangat mendasar,
namun berada di peringkat teratas kegagalan auditor. Itu sebabnya para peneliti tersebut
merekomendasikan penelitian tambahan yang dapat mengungkap akar permasalahannya.
 Jika kewaspadaan profesional memang diterapkan, kasus-kasus menunjukkan bahwa
kewaspadaan itu tidak diterapkan secara konsisten. Mengapa? Apakah ini berkaitan
dengan MBTI? Jika ya, pertu tes MBTI dalam merekrut SDM.Atau, faktor budaya?
(bangsa Amerika terdiri dari berbagal latar belakang budaya, etnis, dan agama di dunia).
lika penelitian menunjukkan bahwa kewaspadaan profesional mempunyal korelasi yang
tinggi dengan budaya kesimpulan ini akan berimplikasi pada globalisasi proses audit.
 Para peneliti berpendapat bahwa profesi audit bisa memperoleh pencerahan dari disiplin
ilmu yang lain mengenai pengelolaan risiko. Memang revolusi mengenai pemahaman dan
penanganan risiko terjadi dalam banyak disiplin ilmu yang lain. Lihat Bacaan G
("Manusia dan Risiiko") dalam Bacaan Latar Belakang di akhir buku ini
 Para peneliti tidak menggunakan istilah yang lugas seperti ISA Perumusan temuan dan
masalah dalam laporan penelitian mereka relatif panjang, yang dengan frasa ISA dapat
disederhanakan, yakni PAS harus sepadan dengan risiko yang ditemukan (identified and
assessed risks). Konsep "risiko versus tanggapan yang sepadan” juga ditemukan dalam
disiplin ilmu yang lain. Konsep inilah yang mendasari Audit Plus.

Adanya kesenjangan terhadap SA menurut temuan PPAJP dalam ROSC 2012, yaitu :

 Banyak auditor tidak melakukan audit planning dengan baik


 Banyak dokumentasi yang diperlukan tidak disiapkan. Seperti proses audit dilakukan
benar, dokumentasi yang seharusnya mendukung hasil audit tersebut, tidak lengkap.
 Banyak auditor tidak berupaya mendeteksi manipulasi (fraud)
 Banyak auditor tidak menerapkan prosedur untuk mengenal, menilai, dan
menanggapi risiko salah saji yang material, misalkan timbul akibat hubungan pihak
berelasi
 Auditor sering kali menerima begitu saja penilaian manajemen
 Auditor juga sering menerima begitu saja penilaian audior lain
Temuan PPAJP menunjukan bahwa defisiensi dalam audit independen kita, masih sangat
elemente, kecuali temuan daftar C. yakni auditor tidak berupaya mendeteksi manipulasi,
makanya adanya AUDIT PLUS

AUDIT PLUS

Inti dari penjelasan hubungan tanggapan yang sepadan degan resiko dinilai dan Audit Plus, yaitu:

 Resiko adalah resiko salah saji yang material dalam LK, baik yang disebabkan oleh error
dan fraud
 Salah saji yang disebabkan oleh error bukan sasaran Audit Plus. Namun yang menjadi
sasarannya yaitu Fraud karena error sangat mudah dideteksi, tidak mengandung niat
jahat, tidak berupaya untuk menyembunyikan sebaliknya fraud dapat merugikan orang
berkepentingan, berupaya keras menyembunyikan fraud yang dilakukan.
 Resiko salah saji yang material dengan prosedur audt dalam proses audit di tahap pertama
 Tanggapan terhadap resiko dilakukan PAS (Prosedur Audit Selanjutnya) di tahap kedua
 Audit Plus adalah PAS yang dahsyat. Audit Plus merupakan tanggapan atas resiko salah
saji material karena fraud, yang dinilai tinggi.

Audit Plus dikelompokan menjadi 5 bagian, yaitu :

A. Pastikan adanya potensi fraud


Dimulai dengan kesadaran dan kewaspadaan bahwa ada potensi terjadinya fraud. Audit
Plus untuk mengendus potensi fraud, yaitu:
1) Memahami bisnis dan industri klien dengan mendalam
2) Memahami berbagai gejala fraud. Seperti penyakit, fraud terindikasi dari gejala-
gejala yang dapat diamati, yang disebut red flag. Red flag berkaitan dengan
perilaku seperti: gaya hidup, masalah dalam keluarga, dan masalah di tempat
kerja.
3) Mengetahui untuk apa dan siapa laporan keuangan dibuat. Pengguna LK yang
diaudit adalah pihak internal dan eksternal, internal dari emiten itu sendiri untuk
memenuhi kewajiban yang berarti digunakan nasabah untuk melakukan
peminjaman kredit kepada bank, yang ditetapkan pengawasan oleh OJK dan BEI
dan yang eksternal adalah para analisi keuaangan, investor, pialang, brokers dan
dealers, calon investor.
B. Terapkan sikap kondusif
Ada sikap auditor yang membantunya “mengendus” potensi fraud, dan kemudian
membuktikan fraud itu memang terjadi, yaitu:
1) Kewaspadaan profesional, menekankan bahwa auditor bisa ditipu oleh klien.
2) Perhatikan yang tidak ada, padahal seharusnya ada.
3) Berantas penyakit 5W2H (who, what, why, when, how, and how much)
C. Manfaatkan pengendalian internal
Lingkungan dan sistem pengendalian internal (LSPI) dibangun oleh entitas, antara lain:
untuk mencegah fraud, mengendus fraud, menemukan fraud dan melakukan koreksi
pasca ditemukan fraud:
1) Memahami management override. Entitas dan pengelolanya mempunyai
kewajiban merancang dan melaksanakan sistem pengendalian internal, yang mana
menekankan bahwa Lingkungan PI disamping Sistem PI. Seperti, Sistem PI
semacam tubuh manusia dan Lingkungan PI semacam roh.
2) Komunikasi TCWG. TCWG adalah petinggi perusahaan yang mempunyai
otoritas dalam bidang pengawasan tertinggi contohnya komisaris dan komite
audit.
3) Libatkan audit internal. Apabila auditor eksternal menemukan pola” fraud maka
bisa dilibatkan ke auditor internal. Namun auditor harus menggunakan kearifan
lokalnya untuk mau melibatkan atau tidak terhadap AI.
D. Seleksi teknik audit forensik yang tepat
Forensik adalah penerapan disiplin ilmu untuk meyelesaikan masalah hukum. Beberapa
contoh Audit Plus yang menerapkan teknik audit forensik yang tepat, yaitu:
1) Pendadakan, suatu prosedur audit biasa, seperti inspeksi, bisa lebih agresif jika
dilaksanakan dengan unsur pendadakn atau kejutan. Seperti, pemilihan sampel
yang berbeda dari kebiasaan lalu cth, gudang yang dipilih untuk inspeksi.
2) Penggalian, jika ada dugaan fraud, auditor wajib mendalami jawaban atas inquiry-
nya. Auditor akan menggali informasi secara lebih mendalam, menanggapi
dengan kritis jawaban yang diberikan, dan bertanya pada beberapa orang yang
terlibat
3) Pengembangan, mendalami dan mengembangkan dua kata kerja yang cocok
untuk Audit Plus. Yaitu PAS nya akan dikembangkan sesuai nilai resiko salah
saji.
4) Memanfaatkan Tip, jika auditor menilai adanya resiko besar terjadinya fraud,
prosedur audit plusnya mempelajari sistem whistleblowing yang ada diklien,
membaca keluhan dan tip yang diterima dan membahas dengan pengelola sistem
tersebut dan TCWG.
5) Data analytics
Kemajuan teknologi informasi memungkinkan perusahaan mengolah data yang
banyak dan yang sebelumnya memakan waktu pemrosesan yang lama, dengan
cepat, akurat dan efesien. Keunggulan inilah yang dimanfaatkan oleh auditor.
Seperti big data, data mining, dll.
E. Bersiap untuk permainan terakhir
Merupakan tahap akhir bagi auditor yang mungkin menerapkan sebagain kecil/besar atau
seluruh audit plus, yaitu:
1) Dokumentasi seluruh audit plus dan temuan. Semua pekerjaan audit harus
didokumentasi dalam kertas kerja audit, kertas kerja audit adalah bukti auditor
telah melaksanakan audit, yang dapat digunakan dalam persidangan sebgau bukti
bahwa auditor telah bekerja sesuai dengan SA dan ketentuan yang berlaku.
2) Siapkan senjata pamungkas, jika menemukan kondisi yang mengindikasikan
potensi fraud, maka auditor perlu menggunakan kearifan profesionalnya untuk
menentukan, saatnya mengundurkan diri dari penugasaan dan mengakhiri
perikatan audit atau menerima (menerima apabila menurutnya resiko salah saji
relatif kecil/ dapat dikelola dengan keahlian dan pengalaman yang dimiliki tim
audit dibawah patner yang mumpuni).