Anda di halaman 1dari 18

USULAN PENELITIAN

PEMANFAATAN TEPUNG KERABANG TELUR SEBAGAI


AGEN PENYERAP PADA LIMBAH EKSKRETA AYAM
BROILER DAN LAYER UNTUK MENGHAMBAT PRODUKSI
BAU KANDANG DAN PERKEMBANGBIAKAN LALAT

Oleh:

Tegar Ridho Utami

15/385669/PT/07107

Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
USULAN PENELITIAN
MAHASISWA FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
PROGRAM STUDI ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Diajukan oleh:

Nama Mahasiswa : Tegar Ridho Utami


Nomor Mahasiswa : 15/385669/PT/07107
Alamat : Kel. Mangge, RT 10/ RW 3, Kec. Barat,
Kab. Magetan, Prov. Jawa Timur
Dibawah Bimbingan :
Pembimbing : Nanung Agus Fitriyanto, S.Pt., M.Sc.,
Ph. D.
Pembimbing Pendamping : Novita Kurniawati, S.Pt. M.App.Sc.

JUDUL

PEMANFAATAN TEPUNG KERABANG TELUR SEBAGAI


AGEN PENYERAP PADA LIMBAH EKSKRETA AYAM
BROILER DAN LAYER UNTUK MENGHAMBAT PRODUKSI
BAU KANDANG DAN PERKEMBANGBIAKAN LALAT

Yogyakarta, …. - ….. - 2018

Tegar Ridho Utami


Telah Diperiksa dan Disetujui
Pembimbing Tanggal

Nanung Agus Fitriyanto, S.Pt., M.Sc., Ph. D.


NIP. 197908092002121003
Pembimbing Pendamping Tanggal

Novita Kurniawati, S.Pt. M.App.Sc.


NIP. 198011282005012002
Mengetahui
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan

Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., Prof.


NIP. 197008291996011001
HALAMAN PENGESAHAN

Makalah seminar yang berjudul:

PEMANFAATAN TEPUNG KERABANG TELUR SEBAGAI AGEN


PENYERAP PADA LIMBAH EKSKRETA AYAM BROILER DAN LAYER
UNTUK MENGHAMBAT PRODUKSI BAU KANDANG DAN
PERKEMBANGBIAKAN LALAT

Diajukan oleh:
Tegar Ridho Utami
15/385669/PT07107

Disetujui pada tanggal:

Dosen Pembimbing

Novita Kurniawati, S.Pt. M.App.Sc.


NIP. 198011282005012002
PEMANFAATAN TEPUNG KERABANG TELUR SEBAGAI
AGEN PENYERAP PADA LIMBAH EKSKRETA AYAM
BROILER DAN LAYER UNTUK MENGHAMBAT PRODUKSI
BAU KANDANG DAN PERKEMBANGBIAKAN LALAT

Tegar Ridho Utami


15/385669/PT/07107

INTISARI
Penumpukan ekskreta ayam dapat menimbulkan pencemaran
udara akibat bau yang ditimbulkan, selain itu ekskreta merupakan media
yang bagus untuk perkembangbiakan lalat. Penelitian ini bertujuan
mengetahui kadar agen penyerap pada limbah ekskreta ayam broiler dan
layer untuk menghambat produksi bau kandang dan perkembangbiakan
lalat. Tepung kerabang telur dimanfaatkan untuk menyerap kadar air pada
ekskreta ayam, sehingga kadar air yang dapat dipergunakan untuk
aktivitas mikroorganisme dan lalat menjadi rendah. Materi utama yang
digunakan dalam penelitian ini antara lain tepung kerabang telur, dan
ekskreta ayam broiler dan layer. Parameter dalam penelitian antara lain
kadar air, kadar amonia, nilai pH, pertama kali lalat datang untuk bertelur,
pertama kali telur lalat berubah menjadi larva, dan pertama kali larva lalat
berubah menjadi pupa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah rancangan acak pola searah.

Kata Kunci: Ekskreta, Kerabang Telur, Amonia, Larva Lalat


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Industri ayam layer dan broiler menghasilkan hasil samping
berupa ekskreta dalam jumlah yang besar. Permasalahan seringkali
timbul, akibat penanganan ekskreta yang kurang optimal. Ekskreta
mengandung protein dan kadar air yang tinggi. Wihandoyo et al. (2005) cit
Djuriono (2015) menyatakan bahwa ekskreta ayam mempunyai
kandungan protein kasar 29,30%. Mikroorganisme dapat berkembang
dengan sangat baik pada lingkungan dengan jumlah protein dan kadar air
tinggi. Protein dalam jumlah tinggi dalam ekskreta akan diubah menjadi
amonia (NH3) oleh mikroorganisme. NH3 yang dihasilkan diketahui
menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat menimbulkan masalah
kesehatan bagi manusia. Kadar nitrogen dan air yang tinggi pada ekskreta
juga dapat dimanfaatkan oleh lalat sebagai sumber nutrisi bagi pupa. Lalat
merupakan salah satu serangga pembawa penyakit dan merugikan bagi
manusia. Perkembangbiakan lalat dan bau akibat produksi NH3 dapat
dicegah dengan pengurangan kadar nitrogen dan air pada ekskreta.
Kerabang telur merupakan hasil samping dari industri ayam layer.
Komposisi kerabang telur terdiri dari air (1,6%) dan bahan kering (98,4%).
Bahan kering terdiri dari mineral (95,1%) dan protein (3,3%) (Fenty dan
Sari, 2017). Kerabang telur memiliki kemampuan menyerap air sehingga
mampu menghambat aktivitas organisme. Kerabang telur diubah menjadi
ukuran kecil untuk memudahkan menyerap air pada limbah ekskreta ayam
layer dan broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar agen
penyerap pada limbah ekskreta ayam layer dan broiler untuk mengahmbat
produksi bau kandang dan perkembangbiakan lalat.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar penggunaan
tepung kerabang telur sebagai agen penyerap pada limbah ekskreta ayam
layer dan broiler untuk menghambat produksi bau kandang dan
perkembanbiakan lalat.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk mengurangi permasalahan emisi
gas amoniak dari limbah ekskreta ayam broiler dan layer dan
perkembangbiakan lalat.
TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Ekskreta Ayam Broiler dan Layer


Ekskreta ayam terdiri atas kotoran dari usus besar dan urin dari
ginjal, tersusun atas sisa pakan yang tidak dapat dicerna, sisa sekresi
pencernaan, bakteri yang mati maupun hidup, garam-garam organik, sel-
sel epitel yang telah rusak dan asam urat (North dan Bell, 1990). Jumlah
dan komposisi ekskreta unggas bervariasi tergantung pada jenis unggas,
bobot badan dan jumlah pakan (Ensminger, 1992). Ekskreta ayam broiler
biasanya mengandung protein kasar 30% dengan kisaran antara 18%-
40%, dari jumlah tersebut 37%-45% merupakan protein murni, 28%-55%
asam urat, 8%- 15% ammonia, 3%-10% urea dan nitrogen lainnya (Muller,
1980). Wihandoyo et al. (2005) cit Djuriono (2015) menyatakan bahwa
ekskreta ayam mempunyai kandungan protein kasar 29,30%.
Amonia merupakan gas hasil dekomposisi bahan limbah nitrogen
dalam eskreta, seperti uric acid, protein yang tidak diserap, asam amino
dan senyawa non protein nitrogen (NPN) lainnya akibat adanya aktivitas
mikroorganisme di dalam feses (Manin et al., 2010). Gas amonia yang
berasal dari kotoran ayam akan menyebabkan ayam sakit. Penyakitnya
adalah snod yaitu gangguan saluran pernapasan. Jika kandungan gas
amonia tinggi akan membuat mata manusia pedas (Fasa, 2012).
Humaidi et al. (2006) menjelaskan proses pelepasan gas amonia
pada ekskreta ayam diawali dari perombakan karbohidrat dalam eskreta
ayam menjadi H2O dan CO2. Kedua molekul tersebut akan bereaksi
membentuk H2CO3 yang dapat terionisasi menjadi HCO3- dan CO3
sementara itu, protein yang mengalami deaminasi terperangkap dalam air
membentuk ion amonium (NH4+). Keberadaan HCO3- mendorong NH4+
melepaskan proton kepada HCO3- sehingga menghasilkan gas amonia.
Karakteristik Tepung Kerabang Telur
Kerabang telur merupakan lapisan luar telur yang melindungi dari
penurunan kualitas baik disebabkan oleh kontaminasi mikroba, kerusakan
fisik, maupun penguapan. Salah satu yang mempengaruhi kualitas
kerabang telur adalah umur ayam. Semakin meningkat umur ayam,
kualitas kerabang semakin menurun, kerabang telur semakin tipis, warna
kerabang semakin emudar dan berat telur semakin besar (Yuwanta,
2010). Kerabang telur memiliki sifat-sifat yang menguntungkan apabila
digunakan sebagai bahan pengolah limbah. (Dewi et al., 2016).
Kandungan nutrisi kerabang telur secara lengkap dapat dilihat dalam tabel
sebagai berikut.
Tabel 1. Komposisi Nutrisi Kerabang Telur
Nutrisi Kerabang telur (%berat)
Air 29 – 35
Protein 1,4 – 4
Lemak murni 0,10 – 0,20
Abu 89,9 – 91,1
Kalsium 35,1 – 36,4
Kalsium karbonat (CaCO3) 90,9
Fosfor 0,12
Sodium 0,15 – 0,17
Magnesium 0,37 – 0,40
Pottasium 0,10 – 0,13
Sulfur 0,09 – 0,19
Alanin 0,45
Arginin 0,56 – 0,57
(Warsy et al., 2016)

Sistem Perkandangan Ayam


Sistem perkandangan yang sering digunakan yaitu sistem baterai
dan sistem litter. Pemeliharaan ayam pada sistem kandang litter dan
baterai memberikan keuntungan dan kerugian. Keuntungan pemeliharaan
pada sistem baterai memudahkan pengontrolan penyakit, kotoran mudah
dibuang sehingga penyebaran penyakit lebih sedikit, sedangkan kerugian
pemeliharaan ayam broiler pada sistem baterai yaitu mudah menimbulkan
breast blister (lepuh dada), persentase lemak abdomennya tinggi akibat
ayam sedikit bergerak atau tidak memiliki aktifitas seperti pada kandang
litter yaitu mengais-ngais litter. Keuntungan pada kandang sistem litter
yaitu litter yang mengalami dekomposisi menjadi sumber nutrien
tambahan (vitamin, mineral, dan protein), proses mengais litter
memberikan manfaat pada sistem pencernaan karena ayam akan lebih
cepat memproses makanan karena pada sitem kandang ini alasnya terdiri
dari sekam padi, kapur dan pasir yang dapat membantu tembolok ayam
dalam memproses makanan, bahan-bahan litter bersifat menyerap air.
Kerugian pada kandang sistem litter yaitu mudah terjangkit penyakit dan
akan menurunkan konsumsi ransum yang dapat mempengaruhi berat
karkas (Anggella et al., 2014).

Perkembangbiakan Lalat di Kandang Ayam


Ekskreta unggas di kandang ayam dalam jumlah yang cukup
merupakan sumber protein untuk pematangan telur dan merupakan
medium untuk meletakkan telur dan perkembangbiakan larva lalat yang
baik (Astuti dan Pradani, 2010). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti
dan Pradani, (2010) menunjukkan bahwa telur lalat berbentuk seperti
pisang dengan panjang 1-1,2 mm dan berwarna putih kekuningan. Satu
ekor lalat betina dewasa dapat menghasilkan telur sebanyak 120 - 150
butir setiap peneluran. Selama hidupnya lalat bertelur minimal enam kali
dengan selang waktu tiga atau empat hari. Penetasan telur menjadi larva
terjadi sekitar 2-3 hari, kisaran waktu ini hampir sama dengan proses
moulting setiap stadium. Waktu yang diperlukan untuk perkembangbiakan
telur mulai oviposisi sampai menetas dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu
35⁰C dari enam sampai delapan jam. Pada suhu dibawah 13⁰C
merupakan suhu yang ekstrim sehingga tidak terjadi perkembangan lalat.
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Landasan Teori
Kerabang telur merupakan limbah ikutan dari industri ayam layer.
Kerabang telur memiliki kemampuan sangat bagus dalam menyerap air,
oleh karena itu kerabang telur yang telah dihaluskan dapat digunakan
sebagai bahan penyerap air pada ekskreta ayam. Kadar air yang
berkurang akan menurunkan jumlah mikroba dalam ekskreta, sehingga
proses perombakan nitrogen menjadi NH3 menurun. Kadar air yang
berkurang pada ekskreta juga akan menurunkan kemampuan telur lalat
untuk menetas karena kekurangan nutrisi.
Ekskreta ayam masih mengandung banyak kandungan nutrien
antara lain nitrogen dan air. Air merupakan sumber kehidupan yang
dibutuhkan oleh banyak makhluk hidup, termasuk mikroba dan lalat. Air
yang berlimpah dalam ekskreta yang tidak ditangani dengan baik akan
digunakan untuk perkembangbiakan mikroba dan lalat. Protein yang
terdapat dalam ekskreta akan dirombak oleh mikroba. Perombakan
tersebut akan menghasilkan amonia (NH3). NH3 merupakan penyebab
bau yang menyengat dari ekskreta ayam dan harus ditangani agar tidak
menimbulkan permasalahan kesehatan baik bagi ternak maupun manusia.
Lalat merupakan serangga yang berperan sebagai vector penyakit
dan merugikan bagi manusia. Lalat akan meletakkan telurnya pada
tempat yang memiliki kandungan nutrien, meskipun dalam jumlah sedikit.
Air dan nitrogen pada ekskreta yang tidak segera ditangani akan berperan
sebagai penyedia nutrisi bagi telur lalat.
Keterbaruan Penelitian
Sebelum penelitian ini dilakukan, telah ada penelitian yang
dilakukan oleh peneliti lain dengan pengembangan yang sedikit berbeda.
Tabel 2. Keterbaruan Penelitian
Hasil Penelititan Perlakuan
No Objek
Perlakuan Pustaka Penelitian
1 Bahan Kimia Danar, 2017 Fisika
Diaplikasikan Diaplikasikan
pada alas pada
2 Metode Danar, 2017
kandang ekskreta
ayam ayam
Ayam broiler
3 Materi Ayam broiler Danar, 2017
dan layer

Hipotesis
Penaburan tepung kerabang telur pada limbah ekskreta ayam
broiler dan layer dapat mengurangi produksi amonia (NH3) dan
menghambat perkembangbiakan lalat.
MATERI DAN METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian direncanakan akan dilaksanakan di Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Materi Penelitian
Materi utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung
kerabang telur, ekskreta ayam layer dan broiler, aquades, asam borat,
larutan Nessler A, dan larutan Nessler B.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah
timbangan digital, plastic transparan, kertas putih, kertas pH, pH meter,
dan spektrofotometer.

Metode Penelitian
Sebanyak 6 perlakuan digunakan dalam penelitian ini, yaitu
penggunaan tepung kerabang telur dengan persentase dari berat ekskreta
ayam yang digunakan sebesar 0% (kontrol), 5%, 10%, 15%, 20% dan
25% dengan dua jenis ekskreta yang digunakan yaitu ekskreta ayam layer
dan ekskreta ayam broiler. Tepung kerabang telur yang telah disiapkan,
kemudian ditaburkan diatas ekskreta yang telah disiapkan terlebih dahulu.
Parameter dalam penelitian ini antara lain kadar air, kadar amonia, kadar
pH, petama kali lalat datang untuk betelur, pertama kali telur lalat berubah
menjadi larva, pertama kali larva berubah menajdi pupa.
Tabel 3. Perlakuan
Tepung
Ekskreta
No Perlakuan Kerabang Total
ayam
Telur
1 P0 100% 0% 100%
2 P1 100% 5% 105%
3 P2 100% 10% 110%
4 P3 100% 15% 115%
5 P4 100% 20% 120%
6 P5 100% 25% 125%
Pengukuran Kadar Air
Pengukuran kadar air dilakukan dengan menimbang 1 gram
sampel. Sampel dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105⁰C selama
12 jam sampai bobot akhir konstan. Sampel ditimbang setelah
pengovenan sebagai berat akhir. Kadar air diperoleh dengan mengurangi
berat awal dengan berat akhir sampel. Data yang diperoleh diisi ke dalam
tabel berikut:
Tabel 4. Hasil Pengukuran Kadar Air
Pengamatan Perlakuan
No
hari ke- P0 P1 P2 P3 P4 P5
1 1
2 2
3 3
dst dst

Pengukuran Kadar NH3


Pembuatan larutan standar amonia. Larutan baku amonia 50
ppm dibuat dengan melarytkan 0,0367 gram (NH4)SO4 dengan 100 ml
aquades. Larutan diencerkan hingga menjadi larutan baku standar dengan
konsentrasi 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm, 2,5 ppm, 3 ppm, 3,5
ppm, 4 ppm, 4,5 ppm, 5 ppm. Larutan tersebut masing-masing
ditambahkan 0,2 ml larutan Nesler dengan perbandingan Nesler A dan B
sebanyak 1:1. Larutan divortex dan didiamkan selama 10 menit, dalam
kondisi gelap karena larutan Nessler peka terhadap cahaya, kemudian
dibaca absorbansinya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang
425 nm.
Pengambilan sampel gas NH3. Setiap hari, sebanyak 2 gram
sampel diambil dari masing-masing perlakuan untuk pengukuran kadar
amonia. Sampel tersebut disimpan di dalam plastic klip. Larutan asam
borat 0,02N sebanyak 1 ml ditambahkan ke dalam sampel dan diaduk rata
dengan vortex dalam wadah plastic test tube ukuran 1,5 m. Pengukuran
dilakukan pada hari berikutnya.
Pengukuran gas NH3. Sampel disentrifugasi untuk memisahkan
padatan dan larutan. Larutan diambil dan dipisahkan untuk diuji Nessler.
Pembacaan hasil uji Nessler dilakukan dengan metode spektrofotometer
menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 425 nm.
Data kadar amonia yang telah didapatkan kemudian ditulis dalam tabel
sebagai berikut:
Tabel 5. Hasil Pengukuran Kadar Amonia
Pengamatan Perlakuan
No
hari ke- P0 P1 P2 P3 P4 P5
1 1
2 2
3 3
dst dst

Pengukuran Nilai pH
Pengukuran nilai pH dilakukan dengan kertas pH. Sedikit sampel
ekskreta diambil dan diletakkan dalam wadah, kemudian dicampur
dengan air. Kertas pH yang telah disiapkan dicelupkan ke dalam air yang
telah tercampur dengan sampel. Kertas pH diangkat dan dibaca dengan
bantuan trayek indikator pH. Data yang didapatkan kemudian ditulis dalam
tabel sebagai berikut:
Tabel 6. Hasil Pengukuran Nilai pH
Pengamatan Perlakuan
No
hari ke- P0 P1 P2 P3 P4 P5
1 1
2 2
3 3
dst dst

Pengamatan terhadap Pertama Kali Lalat Datang untuk Bertelur


Kertas putih ukuran 10 x 10 cm diletakkan pada ke empat sisi
sampel, kemudian setiap hari diamati ada atau tidak bekas kaki lalat.
Bekas kaki lalat yang nampak pada kertas di hari ke-sekian setelah
penelitian dimulai akan diestimasikan sebagai kedatangan pertama kali
lalat untuk bertelur pada ekskreta. Data yang didapatkan kemudian ditulis
dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 7. Hasil Pengamatan terhadap Pertama Kali Lalat Datang untuk


Bertelur
Perlakuan dan
No P0 P1 P2 P3 P4 P5
Ulangan
Ulangan 1
Ulangan 2
1 P0
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 1
Ulangan 2
2 P1
Ulangan 3
Ulangan 4
dst dst

Pengamatan terhadap Pertama Kali Telur Lalat Berubah Menjadi


Larva
Pengamatan terhadap pertama kali telur lalat berubah menjadi
larva dilakukan setiap hari secara visual. Data yang didapatkan kemudian
ditulis dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 8. Hasil Pengamatan terhadap Pertama Kali Telur Lalat Berubah
Menjadi Larva
Perlakuan dan
No P0 P1 P2 P3 P4 P5
Ulangan
Ulangan 1
Ulangan 2
1 P0
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 1
Ulangan 2
2 P1
Ulangan 3
Ulangan 4
dst dst

Pengamatan terhadap Pertama Kali Larva Lalat Berubah Menjadi


Pupa
Pengamatan terhadap pertama kali larva lalat berubah menjadi
pupa dilakukan setiap hari secara visual. Data yang didapatkan kemudian
ditulis dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Pengamatan terhadap Pertama Kali Larva Lalat Berubah
menjadi Pupa
Perlakuan dan
No P0 P1 P2 P3 P4 P5
Ulangan
Ulangan 1
Ulangan 2
1 P0
Ulangan 3
Ulangan 4
Ulangan 1
Ulangan 2
2 P1
Ulangan 3
Ulangan 4
dst dst

Analisis Data
Percobaan ini menggunakan analisis Rancangan Acak Lengkap
pola Searah.
DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, S. K. 2009. Struktur dan Fungsi Protein Kolagen. Jurnal


Pelangi Ilmu, Vol (2):5, hal. 19-29.
Anggela, T. T., V. Rawung., M. Montong, dan Z. Poli. 2014. Pengaruh
berbagai smacam ransum komersial dengan menggunakan sistem
kandang yang berbeda terhadap kualitas karkas ayam broiler.
Jurnal zootek, Vol 34:(edisi khusus):76 – 84.
Astuti, E. P dan F. Y. Pradani. 2010. Pertumbuhan dan reproduksi lalat
musca domestica pada berbagai media perkembangbiakan.
Aspirator Vol. 2:(1), hal: 11-16.
Danar, B. I. 2017. EVALUASI PENAMBAHAN TEPUNG KERABANG
TELUR TERHADAP KONSENTRASI GAS AMONIA (NH3) PADA
LITTER AYAM LAYER. Skripsi. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Dewi, S., N. Purnama, dan Rahmat. 2016. Serbuk dari limbang cangkang
telur ayam ras sebagai adsorben terhadap logam timbal (Pb).
Jurnal Akademik Kimia, Vol (5): 3, hal. 103-108.
Djuriono. 2015. Pengaruh pemberian ekskretae ayam layer terfermentasi
dalam pakan yang ditambah organic deodorant terhadap performa itik
jantan umur 7-12 minggu. Buletin Peternakan, Vol. 39:(1), 24 30.
Manin, F., Ella H, Yusrizal, dan Yatno. 2010. Penggunaan Simbiotik yang
Berasal dari Bungkil Inti Sawit dan Bakteri Asam Laktat Terhadap
Performans, Lingkungan dan Status Kesehatan Ayam Broiler.
Laporan Penelitian Strategi Nasional.
Ensminger, M. E. 1992. Poultry Science (Animal Agricultural Series). 3 rd
Ed. Interstate Publishers, Inc. Danville. Illionis.
Fasa, F. 2012. Beternak Ayam Layer Untuk Pemula. Dafa Publishing,
Yogyakarta.
Fenty, W. P, dan C. E. Sari. 2017. Sintesis dan karakterisasi hidroksiapatit
dari cangkang telur ayam ras (Gallus gallus) menggunakan metode
pengendapan basah. Unesa Journal Of Chemistry, Vol 6:(2).
Humaidi, M. F., Charlena, dan I.H. Suparto. 2006. Pengaruh penambahan
kapur terhadap pelepasan gas NH3 pada ekskreta ayam layer
[skripsi] Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Muller, Z. O. 1980. Feed From Animal Waste. State of Knowledge. FAO,
Animal Production and Healt Paper Food and Agriculture
Organization of United Nation Rome.
North, M. O. and D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production
Manual. 4 thEdition. Van Nostrand Rainhold. New York.
Poedji, H dan E. F. Loeki. 2007. Potensi Musca domestica Linn. Sebagai
vektor beberapa penyakit. Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol
(XXIII): 3, 125-136.
Sigit. H. S., F. X. Koesharto., U. K. Hadi., D. J. Gunandini dan S Soviana.
2006. Hama Pemukiman Indonesia, Pengenalan, Biologi dan
Pengendalian. Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman
(UKPHP), Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor:
Bogor.
Varianti, N. I., U. Atmomarsono, dan L. D. Mahfudz. 2017. Pengaruh
pemberian pakan dengan sumber protein berbeda terhadap
efisiensi penggunaan protein ayam lokal persilangan. Agripet. 17
(1): 53-59.
Warsy., C. Siti, dan R. waode. 2016. Optimalisasi kalsium karbonat dari
cangkang telur untuk produksi pasta komposit. Al-Kimia, Vol (4): 2,
86-97.
Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.