Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN


(Individu)

IAS 2
PERSEDIAAN

Disusun oleh :
Ressa Veranti
1811070005

Dosen : Dr. Reschiwati, S.E., Ak., M.M.

JAKARTA
2019
IAS 2
PERSEDIAAN

I. PENDAHULUAN

Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling aktif dalam operasi
kegiatan perusahaaan dagang. Sebagaian besar sumber daya perusahaan yang
diinvestasikan dalam bentuk barang-barang yang dibeli atau diproduksi. Biaya
barang – barang ini harus dicatat, dikelompokan, dan diikhtisarkan selama
periode akuntansi. Pada akhir periode, biaya dialokasikan diantara aktivitas
periode berjalan dan aktivitas periode mendatang yaitu diantara barang – barang
yang berada dalam persediaan untuk dijual periode mendatang.

Persediaan juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan


manufaktur maupun dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah
terlihat ketika kegiatan bisnis berfluktuasi. Selama iklim usaha baik, penjualan
menjadi tinggi dan persediaan bergerak lebih cepat dari pembelian ke penjualan.
Namun ketika kondisi ekonomi menurun, tingkat penjualan juga menjadi
menurun, persediaan bertumpuk dan perlu dilakukan penjualan meskipun
mengalami kerugian.

Pengertian persediaan menurut Skousen, Stice dan Stice (2004:653)


adalah sebagai berikut : “ Kata persediaan ditujukan untuk barang- barang yang
tersedia untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal, dan dalam kasus perusahaan
manufaktur, maka kata ini ditujukan untuk proses produksi atau yang
ditempatkan dalam kegiatan produksi“.

IAS 2 merupakan standard akuntansi keuangan international yang


mengatur mengenai persediaan. Tujuan dari IAS 2 adalah untuk menentukan
perlakuan akuntansi untuk persediaan. IAS 2 memberikan panduan untuk
menentukan biaya persediaan dan untuk selanjutnya mengakui beban, termasuk
setiap penurunan-down menjadi nilai realisasi bersih. Hal ini juga memberikan
panduan rumus biaya yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan. IAS 2
menyatakan dasar penentuan dan akuntansi untuk persediaan sebagai suatu aset,
hingga pendapatan yang terkait diakui. Standar juga memberikan pedoman
mengenai penilaian persediaan dan konsekuensi penghapusannya sebagai suatu
beban (expense), dan perlakuan yang harus di adopsi atas pendapatan terkait yang
di akui.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai persediaan berdasarkan IAS


2, yaitu dasar penilaian, ruang lingkup, pengukuran biaya perolehan, dan
pengungkapan.

II. RUANG LINGKUP IAS 2

Sebelum tahun 2005 IAS 2 membolehkan penggunaan tiga alternatif pengukuran


kas persediaan, yaitu metode FIFO dan rata-rata tertimbang yang oleh IAS 2
disebut sebagai benchmark treatments, serta satu lagi metode yang oleh IAS 2
disebut sebagai allowed alternative treatments yaitu metode LIFO. Namun
efektif mulai 1 Januari 2005 IFRS tidak membolehkan penggunaan metode
LIFO, sehingga metode pengukuran kas yang berlaku tinggal metode FIFO dan
metode Rata-rata Tertimbang. Pembatasan penggunakan metode akuntansi
semacam ini merupakan indikasi bahwa IFRS pada dasarnya tidak sepenuhnya
menggunakan principles-based, bahkan dalam kasus akuntansi persediaan
menjadi lebih rules-based dibanding US GAAP.

Tujuan Pernyataan ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk


persediaan. Permasalahan pokok dalam akuntansi persediaan adalah penentuan
jumlah biaya yang diakui sebagai aset dan perlakuan akuntansi selanjutnya atas
aset tersebut sampai pendapatan terkait diakui. Pernyataan ini menyediakan
panduan dalam menentuan biaya dan pengakuan selanjutnya sebagai beban,
termasuk setiap penurunan menjadi nilai realisasi neto. Pernyataan ini juga
memberikan panduan rumus biaya yang digunakan untuk menentukan biaya
persediaan.

Persediaan adalah salah satu aset lancar signifikan bagi perusahaan pada
umumnya, terutama perusahaan dagang, manufaktur, pertanian, kehutanan,
pertambangan, kontraktor bangunan, dan penjual jasa tertentu. Hal ini
menyebabkan akuntansi untuk persediaan menjadi suatu masalah penting bagi
perusahaan-perusahaan tersebut.

Menurut IAS No.2 inventory atau persediaan adalah :

 Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal


 Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau
 Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam
proses produksi atau pemberian jasa

Terdapat beberapa poin penting terkait dengan definisi tersebut diatas :

a. Persediaan merupakan aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha
normal. Ini berarti aset yang dikelompokkan sebagai persediaan adalah aset
yang memang selalu dimaksudkan untuk dijual atau digunakan dalam proses
produksi atau pemberian jasa.
b. Perlengkapan yang dimaksudkan sebagai persediaan adalah
perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi, sehingga perlengkapan
kantor (seperti alat tulis kantor) dengan tujuan untuk digunakan administrasi
kantor dan bukan untuk dijual, bukanlah bagian dari persediaan.
c. Perlengkapan tersebut juga harus merupakan perlengkapan yang digunakan
secara regular dalam proses produksi dan bukan perlengkapan yang hanya bisa
digunakan bersamaan dengan aset tetap.

IAS 2 diterapkan untuk semua persediaan, kecuali :

a) Barang dalam proses yang timbul menurut kontrak konstruksi (IAS 11


mengenai kontrak konstruksi)
b) Instrumen keuangan (misal saham, surat hutang, obligasi) yang
dimiliki sebagai persediaan (IAS 32 mengenai instrumen keuangan)
c) Aset biologis dan memproduksi yang terkait dengan aktivitas pertanian
(IAS 41 mengenai pertanian).
IAS 2 ini tidak berlaku untuk pengukuran persediaan bagi pialang
pedagang komoditi yang mengukur persediaannya pada nilai wajar setelah
dikurangi biaya untuk menjual, sesuai dengan praktik yang berlaku pada
industri. Ketika persediaan tersebut diukur pada nilai wajar setelah dikurangi
biaya untuk menjual, maka perubahan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk
menjual diakui dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya .

III. DASAR PENILAIAN

Menurut IAS 2 dalam buku IFRS Interpretation and Application of


International Financial Reporting Standards, “Inventories are defined ad items
that are held for sale in the ordinary course of business; int the process of
production for such sale; or in the form of materials or supplies to be consumed
in the production process or in the rendering of services”, yang bila diartikan,
Persediaan didefinisikan sebagai barang-barang yang dimiliki untuk dijual
dalam kegiatan usaha sehari, dalam proses produksi untuk penjualan tersebut,
atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk dikonsumsi dalam proses
produksi atau pemberian jasa.

IAS 2 mendeskripsikan bahwa basis utama akuntansi persediaan adalah kas, dan
kas didefinisikan sebagai jumlah kas pembelian atau kas konversi, termasuk kas
lain untuk membuat persediaan ada di lokasi perusahaan dan dalam kondisi
seperti pada saat pelaporan persediaan. Dikatakan bahwa kas atas pembelian
persediaan mencakup harga beli, biaya angkut, asuransi, dan biaya penanganan
persediaan (handling costs). Potongan tunai, rabat, dan jenis-jenis
potongan pembelian lain jika ada harus dikurangkan ke biaya persediaan. Dapat
disimpulkan bahwa sampai dengan titik ini, tidak ada perbedaan kententuan
pengukuran kas persediaan antara IFRS dengan US GAAP, keduanya membuat
aturan yang boleh dikatakan sama persis, karena memang untuk kasus kas
perolehan persediaan tidak ada ruang untuk penerapan konsep principles-based,
sehingga mau tidak mau harus menggunakan konsep rules-based
Untuk kasus persediaan yang memerlukan proses produksi cukup lama,
IAS 23 mengatur bahwa bagian dari biaya pendanaan (borrowing costs) harus
diperlakukan sebagai bagian dari biaya persediaan. Dalam kasus ini dapat
disimpulkan bahwa IFRS justru sangat mengatur tentang bagaimana biaya
pendanaan harus diperlakukan, atau justru menggunakan rules-based dan
bukannya menggunakan principles-based. Semestinya jika konsisten
menggunakan principles-based, financing costs untuk keperluan proses produksi
yang panjang semacam ini tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukannya
diperlakukan sebagai production costs, karena jika manajemen memutuskan
untuk tidak menggunakan dana luar dalam proses produksinya, maka financing
costs tidak akan pernah terjadi.

IAS 2 menyebutkan bahwa biaya konversi untuk proses produksi


persediaan mencakup seluruh biaya yang berhubungan langsung dengan proses
produksi persediaan, seperti biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead.
Alokasi biaya overhead harus dilakukan secara sistematis dan rasional, dan
dalam kasus biaya overhead tetap, yaitu yang jumlahnya tidak berubah-ubah
menyesuaikan dengan volume produksi, alokasi harus dilakukan berdasarkan
tingkat produksi normal. Dalam periode tingkat produksi turun secara tidak
normal, sebagian dari biaya overhead tetap harus dibebankan langsung ke
periode terjadinya biaya, atau dengan kata lain harus diperlakukan sebagai biaya
periode (period costs), dan tidak diperhitungkan sebagai bagian dari biaya
persediaan. Dalam kasus standard pengukuran biaya produksi ini, sekali lagi
dapat dirasakan bahwa IFRS membuat aturan dengan cukup jelas tetang
bagaimana pengukuran biaya produksi harus dilakukan, sama sekali tidak
berbeda dengan standard pengukuran biaya produksi versi US GAAP, sehingga
dapat disimpulkan baik IFRS maupun US GAAP tetap menggunakan
konsep rules-based, dan bukannya menggunakan konsep principles-
based. Berdasarkan paparan dalam paragraf ini, sama sekali tidak ada alasan
untuk bisa mengatakan IFRS menggunakan principles-based dan US GAAP
menggunakan konsep rules-based.

Biaya produksi selain bahan baku dan biaya konversi (biaya tenaga kerja
langsung dan biaya overhead) hanya akan dibebankan sebagai bagian dari biaya
persediaan pada saat biaya tersebut dipandang sangat diperlukan untuk membuat
persediaan dalam kondisi siap untuk dijual atau dilaporkan dalam laporan
keuangan. Contoh biaya semacam ini adalah biaya perancangan produk dan
biaya persiapan produksi untuk memenuhi kepuasan sekelompok pelanggan
tertentu. Di sisi lain, seluruh biaya riset dan pengembangan produk, berdasarkan
IAS 38, tidak boleh diperlakukan sebagai bagian dari biaya persediaan. Biaya
lain yang juga tidak perperbolehkan diperlakukan sebagai bagian dari biaya
persediaan adalah biaya administrasi dan biaya penjualan atas persediaan, biaya
sisa bahan-bahan produksi, serta biaya penggudangan persediaan. Biaya lain
yang harus dimasukkan sebagai bagian dari biaya overhead, dan oleh karenanya
diperlakukan sebagai bagian dari biaya persediaan adalah biaya perbaikan dan
pemeliharaan mesin, biaya peralatan produksi, biaya sewa peralatan produksi,
biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya gaji pengawas produksi, biaya bahan-
bahan produksi tidak langsung, biaya pengendalian dan pengawasan kualitas
produk, dan biaya atas peralatan kecil yang tidak dikapitalisasi. Ketentuan dalam
IFRS atas biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya konversi, yang
diuraikan dalam paragraf ini, juga memperjelas fakta bahwa untuk kasus ini IFRS
tidak menggunakan principles-based, tetapi menggunakan rules-
based sebagaimana yang terjadi pada US GAAP.

IV. DASAR PENELITIAN

a. Nilai Realisasi Neto

Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa
dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk
membuat penjualan. Nilai realisasi neto mengacu kepada jumlah neto yang entitas
berharap untuk direalisasi dari penjualan persediaan dalam kegiatan usaha biasa.
Nilai wajar mencerminkan suatu jumlah di mana persediaan yang sama dapat
dipertukarkan antara pembeli dan penjual yang berpengetahuan dan berkeinginan
di pasar. Nilai realisasi neto adalah nilai khusus entitas sedangkan nilai wajar
tidak tergantung pada nilai khusus entitas. Nilai realisasi neto untuk persediaan
bisa tidak sama dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.
IAS 2 menyatakan bahwa estimasi net realizable value harus diterapan untuk
setiap jenis persediaan atau item demi item, kecuali terdapat sekelompok
persediaan yang sejenis dan dapat dinilai secara tepat per kelompok jenis
persediaan. Sebagai pedoman umum, penilaian harus dilakukan untuk setiap jenis
persediaan untuk mencegah kemungikan terjadinya kompensasi unrealized
gain dengan unrealized loss kelompok persediaan lain, sehingga menurunkan
jumlah rugi yang harus diakui, hal ini penting untuk diperhatikan mengingat
IFRS melarang pengakuan unrealized gain pada laporan rugi-laba. Dikatakan
bahwa evaluasi penurunan nilai persediaan yang dilakukan atas sekelompok
persediaan, tidak atas item per item persediaan, adalah merupakan mekanisme
tidak langsung atau ?backdoor mechanism? untuk mengakuiunrealized
gain yang seharusnya tidak diakui, sehingga perlu ditegaskan bahwa tuntutan
dasar evaluasi penurunan nilai persediaan adalah diterapkan atas item demi item
persediaan. Paparan dalam dua paragraf di atas menegaskan bahwa IAS 2 sangat
mengatur penerapan net realizable value, yaitu harus diterapkan item demi item
demi untuk mencegah potensi pengakuan unrealized gain secara tidak langsung,
di sisi lain US GAAP tidak mengatur hingga sedetil ini, sehingga dapat
disimpulkan bahwa IFRS ternyata justru lebih condong ke rules-based dan
bukannya berbasis pada konsep principles-based.

Recoveries of previously recognized losses. Untuk kasus terjadinya kenaikan


kembali nilai persediaan, IAS 2 mendeskripsikan bahwa pengukuran net
realizable value harus dilakukan pada setiap periode pelaporan keuangan, dan
pada saat tidak terdapat lagi fakta adanya penurunan nilai persediaan, misalnya
karena nilai persediaan mengalami kenaikan kembali, maka penurunan nilai
persediaan harus dibatalkan dengan membuat jurnal koreksi, dan karena
penurunan nilai persediaan telah dimasukkan ke dalam laporan rugi-laba, maka
jurnal koreksi atas penurunan nilai persediaan juga harus direfleksikan dalam
laporan rugi-laba. Juga ditegaskan bahwa jurnal koreksi atau recovery hanya
diperkenankan maksimum sebesar penurunan nilai yang telah diakui pada periode
sebelumnya. Dalam kasus ini perbedaannya dengan US GAAP adalah bahwa
dalam US GAAP penurunan nilai persediaan yang telah diakui pada periode
sebelumnya tidak boleh ditutup dengan kenaikan nilai pada periode
berikutnya. Dari sudut pandang istilah konsep principles-based dan ruled-
based, ternyata untuk kasus inipun keduanya lebih bisa dikatakan sama-sama
menggunakan ruled-based.

b. Nilai wajar

Nilai wajar adalah jumlah di mana suatu aset dipertukarkan, atau kewajiban
diselesaikan, antara pihak yang berpengetahuan dan berkeinginan dalam suatu
transaksi yang wajar.

c. Komoditi

Komoditi adalah barang dagangan yang menjadi subjek kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa berjangka.

d. Nilai Khusus Entitas

Nilai khusus entitas adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan oleh suatu
entitas yang timbul dari penggunaan aset berkelanjutan dan dari pelepasannya
pada akhir umur manfaat atau yang diharapkan terjadi ketika penyelesaian
kewajiban.

V. METODE PENILAIAN PERSEDIAAN

Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:235), ada tiga metode yang
dapat digunakan untuk menilai persediaan, yaitu :
1. First-in, first out (FIFO).
2. Last-in, first-out (LIFO).
3. Average cost.

Seperti yang sudah dibahas diawal, bahwa pada tanggal 1 Januari 2005 IAS 2
sudah tidak membolehkan penggunaan metode LIFO, sehingga metode
pengukuran kas yang berlaku tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata
Tertimbang.

a. Metode First-in, First Out (FIFO).


Metode FIFO mengasumsikan persediaan yang dibeli pertama kali akan dijual
terlebih dahulu. Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:236) pengakuan
cost of goods sold dengan menggunakan metode FIFO adalah sebagai
berikut : “Under the FIFO method, the costs of the earliest goods purchased are
the first to be recognized as cost of goods sold”. Sedangkan, untuk perhitungan
persediaan akhir (ending inventory) dengan menggunakan metode FIFO menurut
Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:236) adalah sebagai berikut : “Under FIFO,
the cost of ending inventory is found by taking the unit cost of the most recent
purchase and working backward until all units of inventory are costed”.

Dengan menggunakan metode FIFO, perusahaan akan menghasilkan laba


yang lebih besar dibandingkan dengan menggunakan metode LIFO maupun
metode rata-rata karena biaya unit yang lebih rendah dari pembelian persediaan
pertama kali. Tetapi, dengan laba yang besar, maka perusahaan juga akan
membayar pajak yang lebih besar sehingga tidak dapat dilakukan penghematan
pajak jika menggunakan metode FIFO. Manajemen perusahaan akan lebih
memilih untuk menggunakan metode FIFO karena dengan nilai laba perusahaan
yang besar akan menunjukkan bahwa kinerja manajemen perusahaan tersebut
bagus dan manajemen akan mendapatkan kompensasi berupa bonus yang cukup
besar dari perusahaan. Perusahaan yang menggunakan metode FIFO pada saat
terjadi inflasi akan menghasilkan laba yang besar sedangkan pada saat terjadi
deflasi, perusahaan yang menggunakan metode FIFO akan menghasilkan laba
yang kecil.

b. Metode Rata-Rata Tertimbang - AVERAGE


Metode rata-rata mengasumsikan persediaan yang tersedia untuk dijual
memiliki rata-rata biaya per unitnya sama. Menurut Weygandt, Kieso, dan
Kimmel (2005:238) perhitungan unit cost berdasarkan formula rata-rata
tertimbang adalah sebagai berikut : “Under this method, the cost of goods
available for sale is allocated on the basis of the weighted-average unit cost”.
Berikut adalah formula perhitungan unit cost berdasarkan metode rata-rata
tertimbang (weighted-average method) :
Pada sistem periodik, metode rata-rata disebut metode rata-rata tertimbang
(weighted average method) dan pada sistem perpetual disebut dengan metode
rata-rata bergerak (moving average method) (Abdullah dan Djalil, 2004) dalam
Metallia (2007). Dengan menggunakan metode rata-rata, perusahaan akan dapat
melakukan penghematan pajak (tax saving) dikarenakan laba yang di dapat
perusahaan dengan menggunakan metode tersebut akan lebih kecil. Tetapi, pada
saat menggunakan metode rata-rata akan dapat menghasilkan nilai akhir
persediaan di antara FIFO dan LIFO.

c. Metode Last In First Out (LIFO)


Metode LIFO mengasumsikan persediaan yang terakhir dibeli akan dijual
terlebih dahulu. Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:237) menyatakan bahwa
pengakuan cost of goods sold dengan menggunakan metode LIFO adalah
sebagai berikut : “Under the LIFO method, the costs of the latest goods purchases
are the first to be assigned to cost of goods sold”. Sedangkan, untuk mengetahui
nilai persediaan akhir (ending inventory) dengan menggunakan metode LIFO
adalah sebagai berikut : “Under the LIFO method, the cost of ending inventory is
found by taking the unit cost of the oldest goods and working forward until
all units of inventory are costed”.

Dengan menggunakan metode LIFO, perusahaan akan menghasilkan laba


yang kecil sehingga dapat melakukan penghematan pajak. Pada saat inflasi,
perhitungan harga beli terakhir dibebankan ke operasi dalam periode kenaikan
harga sehingga mengurangi laba dan menghasilkan pengurangan pajak.

VI. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN

Adapun sistem pencatatan persediaan dapat digolongkan ke dalam dua cara yaitu:
a. Sistem Periodic Atau Fisik (Physical Method)
Menurut Epstein dan Jermakowicz (2007:p176), Sistem periodik ialah sistem
persediaan di mana jumlah yang ditentukan hanya berkala oleh perhitungan fisik.
Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2007:p2461), dalam sistem persediaan
periodik, rincian catatan persediaan barang yang dimiliki tidak disesuaikan secara
terus menerus dalam satu periode. Harga pokok penjualan barang ditentukan
hanya pada akhir periode akuntansi.
Menurut sistem ini setiap pembelian atau pemasukan maupun penjualan
(pengeluaran) persediaan tidak dicatat atau dibukukan kedalam perkiraan
persediaan. Pembelian barang dibukukan keperkiraan-keperkiraan pembelian dan
beberapa perkiraan lain seperti potongan pembelian dan pengembalian
pembelian. Penjualan dibukukan ke perkiraan penjualan.
Dengan sistem ini jumlah persediaan akhir diketahui setelah dilakukan
perhitungan fisik (invertory taking) terhadap barang yang ada digudang.
Selanjutnya setelah perhitungan fisik maka perlu dilakukan closing (penutup)
terhadap persediaan awal. Jadi dalam buku besar persediaan hanya terdapat
jumlah persediaan awan dan persediaan akhir. Bagi perusahaan dagang jika
menggunakan metode ini maka sistem pencatatannya adalah sebagai berikut:

Saat Pembelian:

Purchase Rp xxx

Cash/Account Payable Rp xxx

Jika barang yang telah dibeli dikembalikan karena rusak atau penyebab lainnya:

Cash/Account Payable Rp xxx

Purchase Return Rp xxx

Saat penjualan:

Cash/Account Receivable Rp xxx

Sales Rp xxx

Jika barang yang telah dijual dikembalikan karena sesuatu hal:


Sales Return Rp xxx

Cash/Account Receivable Rp xxx

Contoh:
Berikut transaksi PT XYZ pada tahun 2019:

25 Jan 2019 Membeli Persediaan Barang Dagang kepada PT C sebesar Rp


50.000.000, 5/10, n/30
30 Jan 2019 Dikembalikan barang kepada PT C karena tidak sesuai, senilai
Rp 10.000.000
15 Feb 2019 Pembayaran hutang ke PT C atas transaksi tgl 25 Jan 19
30 Mar 2019 Dijual Barang dagang sebesar Rp 48.000.000, 2/10, n/30
2 Apr 2019 Ada retur penjualan sebesar Rp 6.000.000

Jurnal:
25 Jan 19
Dr. Purchase Rp 50.000.000
Cr. Account Payable Rp 50.000.000
30 Jan 19
Dr. Account Payable Rp 10.000.000
Cr. Purchase Return Rp 10.000.000
15 Feb 19
Dr. Account Payable Rp 40.000.000
Cr. Cash Rp 40.000.000
30 Mar 19
Dr. Account Receivable Rp 48.000.000
Cr. Sales Rp 48.000.000
2 Apr 19
Dr. Sales Return Rp 6.000.000
Cr. Account Receivable Rp 6.000.000

b. Sistem Perpetual atau Kontinyu (Perpetual Method)


Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2007:p2461), Dalam sistem persediaan
perpetual, rincian catatan mengenai setiap pembelian dan penjualan persediaan
disimpan. Sistem ini secara terus menerus menunjukkan persediaan yang harus
dimiliki untuk setiap jenis barang. Berdasarkan sistem persediaan perpetual, harga
pokok penjual ditentukan setiap kali terjadi penjualan. Menurut Epstein dan
Jermakowicz (2007:p176), Sistem perpetual ialah sistem persediaan di mana
pembaruan catatan jumlah persediaan selalu dilakukan dan disimpan.

Menurut sistem ini, setiap saat harus dilakukan pencatatan atas penambahan
atau pun pengurangan persediaan akibat adanya pembelian, pemakaian
bahan baku dan penjualan sehingga jumlah maupun nilai persediaan dapat
diketahui sewaktu-waktu tanpa melakukan perhitungan fisik. Untuk perusahaan
dagang, pencatatan yang dilakukan menurut metode ini adalah sebagai berikut:

Saat pembelian:

Merchandise Inventory Rp xxx

Account Payable/Cash Rp xxx

Jika barang yang telah dibeli dikembalikan karena rusak atau penyebab lainnya:

Account Payable/Cash Rp xxx

Account Payable/Cash Rp xxx

Saat penjualan:

Account Receivable/Cash Rp xxx

Sales Rp xxx

Cost of Good Sold Rp xxx

Merchandise Inventory Rp xxx

Jika barang yang telah dijual dikembalikan karena sesuatu hal:

Sales Return Rp xxx

Cash/Account Receivable Rp xxx

Merchandise Inventory Rp xxx

Cost of Good Sold Rp xxx


Karena sistem perpetual dicatat setiap ada perubahan dalam persediaan, maka
saldo dalam perkiraan yang ada di neraca saldo adalah saldo perkiraan
persediaan akhir, sehingga tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian.
Contoh:
Berikut transaksi PT XYZ pada tahun 2019:
25 Jan 2019 Membeli Persediaan Barang Dagang kepada PT C sebesar Rp
50.000.000, 5/10, n/30
30 Jan 2019 Dikembalikan barang kepada PT C karena tidak sesuai, senilai
Rp 10.000.000
15 Feb 2019 Pembayaran hutang ke PT C atas transaksi tgl 25 Jan 19
30 Mar 2019 Dijual Barang dagang dengan HPP persediaan tersebut sebesar
Rp 40.000.000, Mark Up 20%
2 Apr 2019 Ada retur penjualan sebesar Rp 6.000.000

Jurnal:

25 Jan 19
Dr. Merchandise Inventory Rp 50.000.000
Cr. Account Payable Rp 50.000.000
30 Jan 19
Dr. Account Payable/Cash Rp 10.000.000
Cr. Account Payable Rp 10.000.000
15 Feb 19
Dr. Account Payable Rp. 40.000.000
Cr. Cash Rp. 40.000.000
30 Mar 19
Dr. Account Receivable Rp 48.000.000
Cr. Sales Rp 48.000.000
(Rp 40.000.000 x 120%)

Dr. Cost of Good Sold Rp 40.000.000


Cr. Merchandise Inventory Rp 40.000.000
2 Apr 19
Dr. Sales Return Rp 6.000.000
Cr. Account Receivable Rp 6.000.000
Dr. Merchandise Inventory Rp 5.000.000
Cr. Cost of Good Sold Rp 5.000.000
(Rp 6.000.000 x 100/120

VII. PENGUKURAN BIAYA PEROLEHAN

Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang
lebih rendah, Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya
konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan
lokasi saat ini.

a) Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali
yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak), biaya
pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat
diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat
dan hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.

b) Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit
yang diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi
sistematis overhead produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi
bahan menjadi barang jadi. Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak
langsung yang relatif konstan, tanpa memerhatikan volume produksi yang
dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik,
dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead produksi variabel adalah
biaya produksi tidak langsung yang berubah secara langsung, atau hampir secara
langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak langsung
dan biaya tenaga kerja tidak langsung.
c) Biaya Standar
Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan
perlengkapan, tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-
review secara reguler dan, jika diperlukan, direvisi sesuai dengan kondisi terakhir.

d) Metode Eceran
Metode eceran seringkali digunakan dalam industri eceran untuk menilai
persediaan dalam jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan memiliki
marjin yang sama saat tidak praktis untuk menggunakan metode penetapan biaya
lainnya.

e) Biaya-biaya Lain
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya
tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk memasukkan overhead
nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk pelanggan tertentu sebagai
biaya persediaan.

VIII. PENGAKUAN BEBAN

Nilai tercatat persediaan harus diakui sebagai beban (expense) didalam suatu
periode dimana persediaan dijual dan pendapatan yang terkait diakui.
Bilamana biaya perolehan persediaan pada tanggal perolehan lebih rendah
daripada nilai realisasi, atau suatu kerugian persediaan terjadi, jumlah penurunan
atau kerugian persediaan harus diakui sebagai suatu beban (expense) di dalam
periode yang sama sebaimana penurunan penurunan atau kerugian yang terjadi.
Demikian pula, bilamana nilai realisasi neto persediaan yang diturunkan lebih
awal,meningkatkan atau melibihi nilai yang dinyatakan, jumlah pemulihan dari
penurunan harus diakui sebagai suatu pengurangan didalam jumlah persediaan
yang dianggap beban didalam periode dimaa pemulihan tersebut terjadi.

1. Biaya Akuisisi
Biaya perolehan saham yang terdiri dari harga pembelian, tarif impor dan pajak

lainnya (yang tidak dapat diperoleh kembali, maka otoritas pajak), transportasi,

penyimpanan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan dengan

perolehan barang, bahan atau jasa. diskon perdagangan, potongan harga dan

barang barang sejenis lainnya dikurangkan untuk menentukan biaya.

2. Biaya transformasi

Biaya Pengolahan saham termasuk biaya-biaya langsung unit terkait yang

dihasilkan, seperti tenaga kerja langsung. Mereka juga termasuk satu pihak,

dihitung dengan cara sistematis, biaya tidak langsung, tetap atau variabel, yang

dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi. Biaya tidak

langsung adalah tetap semua orang yang tetap relatif konstan, terlepas dari volume

produksi, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik,

serta biaya manajemen dan administrasi pabrik. Biaya tidak langsung adalah

semua variabel yang bervariasi secara langsung, atau hampir secara langsung,

dengan volume produksi, seperti bahan dan tenaga kerja tidak langsung.

Proses distribusi biaya tidak langsung untuk biaya pengolahan tetap

berdasarkan kapasitas kerja normal dari alat-alat produksi. Normal kapasitas

produksi diharapkan dapat mencapai dalam keadaan normal, mengingat jumlah

rata-rata tahun atau musim, dan dengan mempertimbangkan hilangnya kapasitas

yang dihasilkan dari operasi pemeliharaan yang direncanakan. Anda dapat

menggunakan tingkat produksi aktual asalkan mendekati kapasitas normal.

Jumlah biaya tetap tidak langsung didistribusikan ke setiap unit produksi tidak

akan meningkat sebagai hasil produksi yang rendah, atau adanya kapasitas

menganggur. Biaya tidak langsung tidak harus diakui sebagai beban pada tahun di
mana mereka terjadi. Dalam periode normal produksi tinggi, jumlah biaya tidak

langsung didistribusikan ke setiap unit penurunan produksi, sehingga tidak ada

saham yang dinilai di atas biaya. Biaya tidak langsung variabel akan

didistribusikan ke setiap unit produksi, berdasarkan tingkat sebenarnya

penggunaan alat-alat produksi.

Proses produksi dapat menyebabkan produksi simultan lebih dari satu produk.

Hal ini terjadi, misalnya, produksi bersama atau produksi bersama produk utama.

Ketika biaya pengolahan setiap jenis produk yang tidak dapat diidentifikasi secara

terpisah, total biaya akan dibagikan di antara produk, menggunakan seragam dan

yayasan suara. Distribusi mungkin didasarkan, misalnya, nilai pasar produk

masing-masing, baik sebagai produksi sedang berjalan pada saat itu bahwa produk

mulai diidentifikasi secara terpisah, atau ketika mereka menyelesaikan proses

produksi. Sebagian besar produk, dengan sifatnya, tidak memiliki nilai yang

signifikan. Bila hal ini terjadi, sering diukur dengan nilai realisasi bersih, jumlah

tersebut dengan dikurangi dengan biaya produk utama. Sebagai hasil dari

distribusi ini, jumlah tercatat produk utama tidak akan secara signifikan berbeda

dari biaya.

3. Biaya lain-lain

Dalam menghitung biaya saham, akan mencakup biaya lain, di mana ia telah

terlibat di dalamnya untuk memberikan status mereka saat ini dan lokasi. Sebagai

contoh, mungkin tepat untuk dimasukkan sebagai biaya saham, bukan biaya tidak

langsung yang berasal dari produksi atau biaya merancang produk untuk

pelanggan tertentu.
Contoh biaya tidak termasuk biaya saham, dan dengan demikian diakui sebagai

beban pada tahun terjadinya, sebagai berikut:

1. Jumlah abnormal dari bahan limbah, tenaga kerja dan biaya produksi lainnya;

2. Biaya penyimpanan, kecuali biaya-biaya mungkin diperlukan dalam proses

produksi, sebelum proses pengembangan lebih lanjut;

3. Tidak langsung biaya administrasi yang belum memberikan kontribusi untuk

memberikan saham kondisi dan lokasi dan

4. Biaya penjualan.

5. Dalam IAS 23 Biaya bunga, mengidentifikasi keadaan terbatas di mana biaya

keuangan akan termasuk dalam biaya saham.

6. Sebuah lembaga bisa membeli saham dengan pembayaran ditangguhkan.

Ketika persetujuan mengandung unsur pembiayaan secara de facto, seperti dapat,

misalnya, perbedaan antara harga beli dalam penggunaan normal dan jumlah yang

dibayar, unsur ini akan diakui sebagai beban bunga selama periode pembiayaan.

4. Biaya saham untuk penyedia layanan

Dalam hal penyedia jasa untuk mengambil saham, menilai biaya yang terlibat

dalam produksi mereka. Biaya ini terutama terdiri dari tenaga kerja dan biaya

lainnya personil terlibat langsung dalam memberikan pelayanan, termasuk

personil pengawasan dan biaya tidak langsung lainnya didistribusikan. Biaya

tenaga kerja dan lainnya yang berhubungan dengan penjualan dan staf

administrasi umum, tidak akan dimasukkan dalam biaya saham, tetapi dihitung
sebagai beban pada tahun di mana ia terjadi. Biaya ditimbun penyedia layanan

yang tidak mencakup margin keuntungan atau biaya tidak langsung non-

didistribusikan yang sering tercermin dalam harga yang dibebankan oleh penyedia

layanan.

5. Biaya produk pertanian yang dikumpulkan dari aktif biologis

Menurut IAS 41 Pertanian, saham-saham yang terdiri dari produk pertanian,

bahwa entitas telah dipanen atau diambil dari aset hayati yang ada, dinilai untuk

pengenalan awal, dengan nilai wajar dikurangi taksiran biaya pada titik penjualan,

dianggap pada saat panen atau koleksi. Ini akan menjadi biaya saham pada tanggal

tersebut, untuk pelaksanaan standar ini.

Sistem untuk menilai biaya

Sistem untuk menentukan biaya persediaan, seperti metode biaya atau

metode standar pengecer, dapat digunakan untuk kenyamanan diperoleh hasil

penerapan mereka datang mendekati biaya. Biaya standar akan dibentuk dari

tingkat normal konsumsi bahan baku, bahan pembantu, tenaga kerja, efisiensi dan

pemanfaatan kapasitas. Dalam hal ini, kondisi perhitungan akan ditinjau secara

berkala dan, jika perlu, diubah standar sepanjang kondisi telah berubah.

Metode pengecer sering digunakan di sektor komersial retail, untuk

penilaian saham, dimana terdapat sejumlah besar item yang berputar cepat, yang

memiliki margin yang serupa dan yang tidak praktis untuk menggunakan metode

lain perhitungan biaya. Dalam metode ini, biaya saham ditentukan dengan

mengurangi harga pembelian artikel tersebut, persentase yang tepat margin kotor.

Persentase tersebut diterapkan akan mempertimbangkan porsi saham yang sudah


ditandai di bawah harga beli mereka. Hal ini sering menggunakan persentase rata-

rata untuk setiap bagian atau departemen komersial.

Rumus biaya

1. Biaya barang ditimbun yang biasanya tidak dipertukarkan satu sama lain, serta

barang dan jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus

ditentukan melalui metode identifikasi khusus biaya masing-masing.

2. Identifikasi khusus biaya berarti bahwa setiap jenis biaya beton akan

didistribusikan antara item tertentu diidentifikasi dalam saham. Prosedur ini akan

perawatan yang memadai untuk produk-produk yang segregasi untuk proyek

tertentu, terlepas dari yang telah dihasilkan oleh entitas atau dibeli di luar negeri.

Namun, identifikasi khusus biaya akan memadai ketika, dalam saham, memiliki

sejumlah besar produk yang biasanya saling dipertukarkan. Dalam keadaan ini,

metode untuk memilih produk apa yang individu akan tetap pada akhirnya

keberadaan dapat digunakan untuk memperoleh tujuan yang telah ditentukan

dalam laporan laba rugi.

3. Biaya saham, selain yang dibahas dalam ayat 23, akan dialokasikan dengan

menggunakan metode inning pertama, biaya rata-rata keluar pertama (FIFO) atau

tertimbang. Entitas menggunakan rumus yang sama biaya untuk semua saham

yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama di dalamnya. Untuk saham dengan

sifat yang berbeda atau menggunakan, dapat dibenarkan dengan menggunakan

rumus biaya yang terlalu berbeda.

4. Sebagai contoh, dalam entitas yang sama, saham digunakan dalam segmen

eksploitasi dapat memiliki menggunakan selain yang diberikan kepada jenis yang
sama saham, di lain laba usaha segmen. Sekalipun demikian, perbedaan dalam

lokasi geografis saham (atau pajak aturan) tidak, dengan sendirinya, alasan yang

cukup untuk membenarkan penggunaan biaya formula yang berbeda.

5. Rumus FIFO, mengasumsikan bahwa produk dalam stok yang dibeli atau

diproduksi sebelumnya, akan dijual pertama dan, akibatnya, bahwa produk-

produk yang pada akhirnya akan ada yang diproduksi atau dibeli lebih baru-baru

ini. Menggunakan biaya metode atau rumus rata-rata tertimbang, biaya setiap unit

output akan ditentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari item yang

sama, diadakan di awal tahun, dan biaya barang yang sama dibeli atau dihasilkan

selama latihan. Anda dapat menghitung rata-rata secara berkala atau setelah

menerima setiap pengiriman tambahan, tergantung pada keadaan entitas.

IX. PENGUNGKAPAN

Laporan keuangan harus mengungkapkan hal-hal berikut :

1. Kebijakan akuntansi yang diadopsi untuk mengukur persediaan, termasuk


formula pengukuran biaya yang digunakan (masuk pertama, keluar pertama =
FIFO, metode identifikasi khusus atau metode biaya perolehan rata-rata
tertimbang);
2. Total jumlah yang dicatat dri persediaan sepanjang dengan klarifikasi yang
baik (misal barang jadi, barang dalam proses, bahan baku, suku cadang dan lain-
lain);
3. Jumlah tercatat persediaan yang dibukukan atas dasar nilai wajar dikurang
biaya untuk menjual (misal persediaan broker-pedagang komoditas);
4. Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode (misal harga
pokok penjualan);
5. Jumlah persediaan yang diturunkan jika ada , diakui sebagai beban di dalam
periode;
6. Jumlah pemulihan atas penurunan sebelumnya yang diakui sebagai seuatu
pengurangan di dalam jumlah persediaan yang dibebankan dalam periode tersebut
dimana pemulihan terjadi dan kondisi atau peristiwa yang menyebabkan
pemulihan itu terjadi; dan
7. Jumlah tercatat persediaan yang dijaminkan sebagai jaminan hutang.

Laporan keuangan mengungkapkan informasi berikut:

1. Kebijakan akuntansi yang dianut dalam penilaian saham, termasuk rumus

untuk menilai biaya yang telah digunakan;

2. Jumlah saham dalam buku-buku, dan jumlah sesuai dengan klasifikasi yang

sesuai untuk perusahaan tersebut;

3. Nilai tercatat saham yang akan dicatat sebesar nilai wajar dikurangi biaya

penjualan;

4. Jumlah saham diakui sebagai beban selama periode;

5. Jumlah nilai penjualan saham telah diakui sebagai beban pada tahun, sesuai

dengan ayat 34;

6. Jumlah pembalikan dalam nilai penjualan sebelumnya, yang telah diakui

sebagai pengurang jumlah pengeluaran saham dalam latihan, sesuai dengan ayat

34;

7. Keadaan atau peristiwa yang telah mengakibatkan pembalikan nilai penjualan,

menurut kata ayat 34;

8. Nilai tercatat saham dijadikan jaminan untuk pembuangan utang.

9. Informasi tentang jumlah kelas yang berbeda tercatat saham, serta variasi

jumlah tersebut dalam latihan, akan berguna bagi pengguna laporan keuangan.

Sebuah klasifikasi umum saham adalah apa yang membedakan antara barang dan

perlengkapan untuk produksi, bahan baku, produk dalam proses dan barang jadi.

Saham dari penyedia layanan dapat digambarkan hanya sebagai produk saat ini.
10. Jumlah saham diakui sebagai beban selama latihan, yang dikenal sebagai

biaya penjualan menutupi biaya sebelumnya termasuk dalam penilaian produk

yang telah dijual, serta biaya tidak langsung dan biaya produksi yang tidak

dibagikan saham dengan jumlah yang abnormal. Keadaan khusus setiap entitas

dapat meminta dimasukkannya biaya lainnya, seperti biaya distribusi.

11. Beberapa entitas mengadopsi suatu format untuk presentasi laba rugi tahun di

mana angka berbeda dari angka untuk biaya saham diakui sebagai beban tahun

berjalan. Dalam format ini, perusahaan akan menyajikan analisis pengeluaran

melalui klasifikasi berdasarkan sifat dari beban. Dalam hal ini, maka entitas

mengungkapkan biaya diakui sebagai biaya bahan baku dan bahan pembantu,

biaya tenaga kerja dan biaya lainnya, bersama dengan jumlah perubahan bersih

dalam saham untuk tahun yang bersangkutan.

X. KUTIPAN DARI LAPORAN KEUANGAN YANG DITERBITKAN

Suatu penurunan nilai (write down) persediaan dibukukan apabila Nilai Realisasi

Neto (NRV) lebih kecil dari pada nilai buku. Penurunan nilai persediaan dari suku

cadang barang yang dapat dikonsumsi dihitung dengan membandingkan nilai

buku dan probabilitas nilai realisasi neto setelah analisis tertentu mengenai rotasi

dan keusangan barang persediaan, dengan mempertimbangkan manfaat barang

untuk aktivitas pemeliharaan dan jasa purna jual, dan perubahan dalam berbagai

produk yang dipasarkan.