Anda di halaman 1dari 5

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan paku (Pteridophyta) antara lain:

1) Faktor Klimatik

a) Intensitas Cahaya

Aneka jenis paku memiliki daya adaptasi yang luas terhadap keadaan

lingkungan tumbuh asalkan persyaratan lingkungan untuk pertumbuhan yang

ideal terpenuhi. Intensitas cahaya merupakan faktor penting yang membantu

menentukan penyebaran dan pembentukan keanekaragaman tumbuhan.

Berdasarkan adaptasinya terhadap cahaya, ada jenis-jenis tumbuhan yang

memerlukan cahaya penuh, ada juga tumbuhan yang tidak memerlukan cahaya

penuh (Siti Sutarmi Tjitrosomo, 1985: 188). Iklim cahaya pada suatu tempat

bergantung pada lamanya penyinaran, waktu, dan intensitas cahaya yang

diterima (Polunin, 1994: 350).

Umumnya tanaman paku membutuhkan lingkungan bersuhu rendah

sampai agak panas, yakni pada suhu rata-rata 25oC (siang hari) dan 12oC –

15oC (malam hari) dengan kelembaban 50% - 80%, mendapat sinar matahari

sekitar 3 - 4 jam/hari, dan mendapatkan tiupan angin sepoi-sepoi. Proses

fotosintesis, tumbuhan paku membutuhkan sinar matahari pagi antara pukul

07.00 – 10.00 dan masih toleran terhadap sinar matahari sore antara pukul

17.00 – 18.00 (Anonim, 2009)

b) Temperatur atau Suhu Udara

Suhu udara adalah derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan

skala tertentu menggunakan termometer (Ance Gunarsih Kartasapoetra, 2006:

9).

Bagi tumbuh-tumbuhan, suhu merupakan faktor pengontrol

persebarannya sesuai dengan letak lintang dan ketinggian tempat. Oleh karena
itu, penamaan habitat tumbuhan biasanya sama dengan nama wilayah lintang

bumi, seperti vegetasi hutan hujan tropis dan vegetasi lintang sedang.

Wilayah-wilayah yang memiliki suhu udara yang tidak terlalu dingin atau

tidak terlalu panas merupakan habitat yang sangat sesuai bagi kehidupan

sebagian besar organisme, baik tumbuhan, hewan, maupun manusia. Kondisi

suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah merupakan salah satu

penghalang dalam kehidupan makhluk hidup.

Perbedaan suhu akan mempengaruhi vegetasi yang ada di bumi,

dengan demikian akan mempengaruhi pula jenis-jenis Pteridophyta yang

ditemukan (Prihanta, 2004).

Pada umumnya tumbuhan paku merupakan tumbuhan darat, yang

banyak ditemukan di daerah atau tempat-tempat lembab, agak terlindung dan

di batu-batuan. Suhu yang baik untuk pertumbuhan paku pada suhu 24oC.

Faktor suhu biasanya digunakan untuk membedakan tumbuhan yang

megaterm (tumbuhan menyukai habitat panas), mikoterm (yang menyukai

habitat dingin), dan mesoterm (yang menyukai di antara habitat panas dan

dingin ) (Polunin, 1994:350).

c) Kelembaban Udara Relatif

Kelembaban udara relatif, dalam hal ini yaitu perbandingan jumlah uap

air di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dikandung udara pada

temperatur tertentu, yang dinyatakan dalam persen (%) (Ance Gunarsih

Kartaspoetra, 2006: 12).

Kelembaban udara menunjukkan banyaknya uap air yang terkandung

dalam udara. Kelembaban berpengaruh langsung terhadap kehidupan

tumbuhan (flora). Ada tumbuhan yang sangat sesuai hidup di daerah kering, di
daerah lembab, bahkan terdapat pula jenis tumbuhan yang hanya hidup di

wilayah-wilayah yang sangat basah.

Lingkungan yang lembab sangat cocok untuk tumbuhan paku. Bila

keadaan kurang lembab (kering, kelembaban udara di bawah 50%)

menyebabkan daun-daun tanaman paku mudah pecah (sobek) dan bagian

tepinya mengering, sebaliknya kelembaban udara yang terlalu tinggi

(kelembaban di atas 80%) dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit yang

disebabkan oleh cendawan (Rahmat Rukmana, 1997: 28-29).

2) Faktor Edafik

Selain kondisi iklim, faktor lain yang juga berpengaruh bagi kehidupan

makhluk hidup di permukaan bumi adalah faktor edafik atau tanah. Tanah

merupakan media utama khususnya bagi pertumbuhan vegetasi. Oleh karena itu,

faktor edafik sangat mempengaruhi pertumbuhan jenis vegetasi dalam suatu

wilayah. Faktor-faktor fisik tanah yang memmengaruhi pertumbuhan vegetasi,

antara lain sebagai berikut.

a) Suhu Tanah

Kondisi suhu udara yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain suhu

minimum, suhu maksimum, dan suhu optimum. Suhu maksimum adalah suhu

tertinggi yang memungkinkan tanaman masih dapat melakukan pertumbuhan.

Suhu optimum adalah suhu yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh secara

maksimal. Suhu minimum untuk tanaman ±10oC, sedangkan suhu optimum di

daerah tropis antara 22oC – 37oC.

Kelembaban dan suhu sangat mempengaruhi proses pertumbuhan

tanaman. Kelembaban tanah yang rendah akan berpengaruh terhadap

menurunnya jasad yang berada di dalam tanah itu sendiri. Apabila hal itu
terjadi maka akan mempengaruhi proses-proses kimiawi dan aktivitas jasad-

jasad yang dapat menombak unsur hara dalam tanah yang merupakan asupan

yang penting bagi proses pertumbuhan pada tanaman. Fluktuasi suhu tanah

lebih rendah dari suhu udara, dan suhu tanah sangat tergantung pada suhu

udara. Suhu tanah lapisan atas mengalami fluktuasi dalam satu malam dan

tergantung musim. Fluktuasi juga tergantung pada keadaan cuaca, topografi,

daerah dan keadaan tanah (M. Eriza Wisudawan Putra, 2010: 6).

Di habitat alami tanaman suplir tumbuh subur pada tanah humus.

Humus biasanya mampu menahan air ckup lama dan keadaannya relatif

lembab. Keadaan tanah yang ideal bagi pertumbuhan paku yaitu dengan

kelembaban antara 50% - 80% dengan pH 5,5 – 6,5 (Rahmat Rukmana, 1997:

29).

b) pH tanah

Tanah dikatakan netral (tidak bersifat asam dan basa) apabila memiliki

pH 7. Pada umumnya tanaman dapat tumbuh pada pH antara 5,0 – 8,0 (Ance

Gunarsih Kartasapoetra, 2006: 62).

a. Ekologi Tumbuhan Paku


Tumbuhan paku memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi. Tumbuhan paku dapat hidup

pada keadaan yang bersuhu lembab dan suhu kering, sehingga tidak jarang dijumpai

paku dapat hidup di mana-mana, di antaranya di daerah lembab, di bawah pohon, di

pinggiran sungai, di lereng-lereng terjal, di pegunungan bahkan banyak yang sifatnya

menempel di batang pohon, batu atau tumbuh di atas tanah. Tumbuhan paku paling

banyak dijumpai pada daerah beriklim tropis dan lembab.

Dilihat dari habitatnya tumbuhan paku digolongkan menjadi 3 yaitu paku terestrial, paku

epifit, dan paku hidrofit (Gombong Tjitrosoepomo, 2001: 220). a. Paku terestrial, terdiri

dari tumbuhan paku yang hidup di tanah, biasanya tumbuhan paku ini menyukai tempat

yang memiliki cukup cahaya dan naungan. b. Paku epifit, terdiri dari tumbuhan paku

yang hidup di bawah naungan dan seringkali menempel pada batang pohon dan

menyukai tempat terbuka. c. Paku hidrofit, merupakan tumbuhan paku yang hidup di

daerah perairan.