Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan sinar X dari masa ke masa sangatlah pesat

sejak ditemukannya oleh seorang fisikawan asal Jerman bernama

Wilhelm Conrad Rontgen pada tahun 1895. Sinar x memegang

peran yang sangat penting dalam dunia medis, yaitu digunakan

untuk melihat bagian dalam tubuh manusia berupa tulang,

persendian antartulang, organ-organ dalam, saluran-saluran dalam

tubuh maupun pembuluh darah. Oleh karena itu, sinar X digunakan

sebagai penegak diagnosa suatu penyakit atau kelainan.

Tulang dan sendi merupakan sistem gerak pada tubuh yang

mempunyai banyak fungsi untuk menunjang kehidupan manusia.

Tanpa keduanya, manusia akan kesulitan untuk melakukan aktivitas

sehari-hari. Diantara sekian banyak persendian pada tubuh

manusia, knee joint atau dikenal dengan sendi lutut termasuk sendi

yang sangat penting bagi tubuh, karena merupakan sendi terbesar

dalam tubuh manusia, yang berfungsi untuk menopang hampir

seluruh berat tubuh.

Berbagai macam penyakit yang dapat menyerang

persendian pada lutut, salah satunya adalah radang sendi yang

biasa dikenal dengan istilah osteoartritis. Osteoartritis adalah

1
penyakit akibat degeneratif tulang rawan sendi dengan disertai

terbentuknya bibir dipinggiran tulangnya, sehingga terjadi

penyempitan ruang sendi dan mengakibatkan timbulnya rasa sakit.

Osteoartritis bisa dipicu karena cedera masa lalu dan abnormalitas

bawaan pada susunan tulang (Hart, 1989).

Berdasarkan teori untuk dapat menilai kelainan pada knee

joint dapat dilakukan dengan beberapa proyeksi, diantaranya yaitu

pemeriksaan knee joint proyeksi Anteroposterior (AP) dengan CR

tegak lurus dan Lateral (mediolateral) dengan penyudutan CR 5-7º

chepalad.(Bontrager, 2018).

Di Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

prosedur pemeriksaan knee joint pada kasus Osteoarthritis

menggunakan proyeksi anteroposterior (AP) dan lateral dengan

arah sinar tegak lurus, yang mana proyeksi tersebut merupakan

prosedur tetap yang sering dilakukan.

Adanya perbedaan inilah yang membuat penulis tertarik dan

menuangkannya dalam laporan kasus yang berjudul "TEKNIK

RADIOGRAFI KNEE JOINT PADA KASUS OSTEOARTHRITIS DI

INSTALASI RADIOLOGI RSUP dr. SOERADJI TIRTONEGORO

KLATEN”.

2
A. Rumusan Masalah

1. Bagaimana teknik radiografi knee joint pada kasus

osteoarthritis di Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji

Tirtonegoro Klaten?

2. Mengapa pada pemeriksaan radiografi knee joint pada kasus

osteoarthritis menggunakan proyeksi lateral tanpa

penyudutan?

B. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui teknik radiografi knee joint pada kasus

osteoarthritis di Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji

Tirtonegoro Klaten.

2. Untuk mengetahui alasan dilakukan pemeriksaan radiografi

knee joint menggunakan proyeksi Lateral tanpa

penyudutan..

C. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan maka disusun

sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN berisi tentang latar belakang, tujuan

penulisan, rumusan masalah, dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA berisi tentang anatomi knee joint,

patologi osteoarthritis, indikasi pemeriksaan, teknik radiografi

knee joint, proteksi radiasi dan computer radiography(CR)

3
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN berisi tentang Paparan Kasus

yang membahas tentang identitas pasien, riwayat pasien,

prosedur pemeriksaan, teknik pemeriksaan knee joint, dan

pembahasan tentang hasil pemeriksaan knee joint di Instalasi

Radiologi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

BAB IV PENUTUP berisi tentang kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Anatomi Knee Joint

Gambar 2.1 Anatomi Knee (Bontrager,2018)

Sendi lutut merupakan sendi terbesar dalam tubuh manusia. Pada

dasarnya terdiri dari dua articulatio kondilaris yaitu, antara kondilus

femoralis dan kondilus tibia serta sebuah sendi plana antara fasies

patelaris femoris dan patella.

Pada permukaan dari sendi terdapat patella. Patella adalah tulang

sesamoid yang paling besar pada tubuh manusia dan terletak pada

tendon dari otot quadriceps femoralis. Pada bagianinferior apex

patella berikatan dengan ligamen patella yang terletak di anterior

tuberkel tibial sampai ke kondilus (Bryan, 1979).

5
B. Patologi Osteoarthritis (OA)

1. Definisi

Osteoarthritis adalah jenis peradangan sendi yang

disebabkan karena memburuknya tulang rawan artikular yang

melindungi bagian ujung tulang sendi, sehingga menyebabkan

rasa sakit dan rasa kaku. Jika bertambah parah, penyakit ini

dapat mempengaruhi banyak sekali aktifitas rutin, seperti

berpakaian, mengikat sepatu, naik-turun tangga, dan juga tidur.

2. Penyebab Osteoarthritis

Ada banyak faktor yang menyebabkan osteoarthritis antara

lain :

a) Usia

Semakin bertambahnya usia, makin rentan pula seseorang

terkena osteoarthtritis.

b) Trauma sendi

Trauma sendi yang pernah terjadi pada tulang yang tidak

segera terdeteksi dapat meningkatkan resiko terkena

osteoarthritis.

c) Obesitas

Berat badan yang berlebih akan menambah beban pada

persendian sehingga meningkatkan resiko terkena

osteoarthritis.

6
d) Genetika

Osteoarthritis merupakan penyakit degenerative yang dapat

diturunkan.

3. Gejala Osteoarthritis

a) Rasa nyeri pada persendian

b) Kelenturan sendi menurun

c) Adanya suara ketika sendi digerakan

d) Otot melemah

4. Klasifikasi Osteoarthritis

Berdasarkan lokasi sendi yang terkena :

a) OA tangan

b) OA lutut

c) OA kaki

d) OA panggul

e) OA vertebrae

f) OA generalisata / sistemik (lebih dari 3 tempat)

C. Indikasi Pemeriksaan Knee Joint

1. Fraktur

2. Fissure

3. Dislokasi

4. Osteoarthritis

7
D. Prosedur Pemeriksaan Knee Joint (Bontranger,2018)

1. Persiapan Alat

a. Pesawat sinar-X

b. IR ukuran 35 x 35 cm dan 24 x 30cm

c. Marker R dan L

d. Alat proteksi radiasi ( apron diletakkan diatas dada sampai

perut pasien)

e. CR

2. Persiapan Pasien

Pada dasarnya pemeriksaan knee joint tidak

membutuhkan persiapan khusus, hanya saja pasien dianjurkan

melepas benda – benda asing yang berada di sekitar lutut

tujuannya agar tidak menimbulkan gambaran radiopaq pada

gambaran radiograf. Selain itu juga sebelum pemeriksaan

petugas harus memberitahu prosedur pemeriksaan kepada

pasien agar tidak terjadi kesalahpahamaan dari pasien

tersebut.

8
3. Teknik Radiografi

a. Proyeksi Antero-Posterior (AP)

Gambar 2.2 Proyeksi Knee Joint AP (Bontrager, 2018)

1) Posisi Pasien (PP)

Pasien diatur dalam posisi supine, dan atur tubuh

sehingga pelvis tidak mengalami rotasi.

2) Posisi Objek (PO)

Atur kaki pasien dengan menempatkan femoral

epicondyles parallel dengan kaset agar didapatkan

proyeksi true AP.

3) Central Ray (CR)

Berdasarkan pada pengukuran antara anterior superior

iliac spine (ASIS) dan permukaan atas meja, sebagai

berikut :

< 19 cm 30 sampai 50 caudad (pelvis

kurus)

19 sampai 24 cm 00

9
>24 cm 30 sampai 50 cephalad (pelvis

gemuk)

4) Central Point (CP) : pada ½ inchi (1,3 cm) inferior apex

patella.

5) Focus Film Distance (FFD) ; 100 cm

6) IR ukuran 24 x 30 cm

7) Kriteria radiograf :

Gambar 2.3 Radiograf Knee Joint Proyeksi AP (Bontrager, 2018)

 Femorotibial joint membuka.

 Tidak ada rotasi femur jika tibia normal.

 Bagian proksimal tibia dan fibula terlihat terlihat

sedikit superposisi.

10
 Terlihat soft tissue didaerah sekitar knee.

b. Proyeksi Lateral

Gambar 2.4 proyeksi lateral (Bontrager, 2018)

1) Posisi Pasien (PP)

- Pasien diminta miring dengan sisi yang sakit dekat

dengan meja pemeriksaan , pastikan pelvis tidak

mengalami rotasi.

- Pada standart lateral, proyeksi kaki yang sakit diatur

kedepan sedang kaki yang satu lurus ke sisi belakang.

Dapat juga kaki yang tidak diperiksa diatur kedepan

untuk fiksasi.

2) Posisi Objek (PO)

- Fleksikan kaki 20°-30°. Dipilih karena pada posisi ini

otot kaki rilek dan menampakkan joint cavity secara

maximum.

11
- Pada kasus fraktur kaki difleksikan tidak boleh melebihi

10°. Atur lengan bawah dan lengan atas pada satu

bidang datar.

- Tempatkan penyangga di daerah ankle joint.

- Atur kedua epicondylus superposisi dan patella tegak

lurus dengan IR (Image Receptor).

3) CR : 5-7 ° cephalad

4) CP : 1 inchi dibawah epicondylus medialis

5) FFD : 100 cm

6) IR ukuran 24 x 30 cm

7) Kriteria Radiograf :

Gambar 2.5 Radiograf Knee Joint f proyeksi lateral (Bontrager, 2018)

 Condylus femoris medial dan lateral superposisi

 Patella terlihat di sebelah knee

 Terlihat space antara femoral condylus dengan tibia

12
 Terlihat soft tissue di daerah sekitar knee

 Densitas yang cukup dari femoral condylus

c. Proyeksi AP Weight-Bearing

Gambar 2.6 proyeksi AP Weight Bearing (Bontrager, 2018)

1) Posisi Pasien (PP)

Pasien berdiri dan tegak dengan bagian belakang knee

menempel pada bucky.

2) Posisi Objek (PO)

- Atur posisi knee pasien di pertengahan IR.

- Letakkan jari-jari kaki lurus didepan, dengan kaki

diberi sedikit jarak untuk keseimbangan.

- Minta pasien untuk berdiri lurus dengan knee full

ekstensi dan lebar sama besar pada kaki.

13
- ½ inchi (1,3 cm) bawah permukaan patella terletak

di pertengan IR.

3) CR : Horizontal dan tegak lurus dengan pertengahan IR

4) CP : ½ Inchi (1,3 cm) dibawah patella

5) FFD: 100 cm

6) IR ukuran 35 x 43 cm

7) Kriteria Radiograf :

Gambar 2.7 Radiograf Knee Joint

proyeksi AP Weight Bearing (Bontrager, 2018)

 Knee kiri dan kanan tampak true AP tanpa rotasi

 Celah antara sendi lutut terlihat di tengah-tengah

area penyinaran

 Tampak permukaan persendian knee baik kanan

maupun kiri

14
 Ukuran kaset memadai/cukup untuk menunjukan

sumbu tegak (longitudinal) daripada badan atau

batang os. Femur dan os. Tibia.

E. Proteksi Radiasi

Selain memperhatikan ketepatan melakukan pemeriksaan, perlu

juga untuk memperhatikan prinsip proteksi radiasi terhadap pasien,

petugas maupun masyarakat umum yang berada di sekitar ruang

pemeriksaan atau benda yang menghasilkan radiasi.

Berikut cara pemberian proteksi radiasi :

a. Proteksi radiasi terhadap pasien, diantaranya :

1) Pemeriksaan sinar-X hanya dapat dilakukan atas

permintaan dokter.

2) Membatasi luas lapangan penyinaran seluas objek yang

diperiksa.

3) Menggunakan faktor eksposi yang tepat, serta

memposisikan pasien dengan tepat sehingga tidak terjadi

pengulangan foto.

4) Menggunakan apron dan gonad shield pada waktu

pemeriksaan.

15
b. Proteksi radiasi terhadap petugas, diantaranya :

1) Petugas menjaga jarak dengan sumber radiasi saat

pemeriksaan.

2) Selalu berlindung dibalik tabir proteksi sewaktu

melakukan eksposi.

3) Jika tidak diperlukan, petugas tidak berada di area

penyinaran.

4) Jangan mengarahkan tabung ke arah petugas.

5) Petugas menggunakan alat ukur radiasi personal (film

badge) sewaktu bertugas yang setiap bulannya

dikirimkan ke BPFK (Balai Pengaman Fasilitas

Kesehatan) guna memonitor dosis radiasi yang diterima

oleh petugas.

c. Proteksi radiasi terhadap masyarakat umum, diantaranya :

1) Sewaktu penyinaran berlangsung, selain pasien

perhatikan agar tidak ada yang berada di daerah radiasi

(ruang pemeriksaan).

2) Ketika penyinaran berlangsung pastikan pintu ruangan

selalu tertutup.

3) Tabung sinar-X diarahkan ke daerah aman (jangan

mengarah ke petugas/ruang tunggu).

16
4) Perawat/keluarga yang terpaksa berada dalam kamar

pemeriksaan sewaktu penyinaran wajib menggunakan

apron.

F. CR (Computer Radiography)

Computer radiography adalah salah satu system atau proses

untuk mengubah system analog pada konvensional radiografi

menggunakan photostimulable untuk mengakuisisi data dan

menampilkan parameter dari gambaran yang akan dimanipulasi

oleh computer (Balinger, 1999:370).

Computer radiography masih memerlukan x-ray unit seperti

halnya radiografi konvensional sebagai sumber radiasi untuk

mengekspose pasien.

1. Komponen Computer Radiography

Computer radiography memiliki beberapa komponen yaitu

imaging plate, cassete, image reader, image console, dan printer.

a) Imaging Plate (IP)

Imaging plate adalah plat film yang mempunyai kemampuan

menyimpan energy sinar-x, dan energy tersebut dapat dibebaskan

atau dikeluarkan melalui proses scanning dengan menggunakan

laser. Imaging plate biasa digunakan dengan ditempatkan dalam

cassette imaging plate.Ukuran imaging plate yang paling banyak

digunakan adalah 18X24 cm, 24X30 cm, 35X35 cm, dan 35X43 cm.

17
imaging plate merupakan media pencatat gambaran sinar-x pada

computer radiography yang terbuat dari bahan

photostimulablephosphor tinggi.

Pada penggunaan radiografi konvensional digunakan

penggabungan antara film radiografi dan screen, akan tetapi pada

computer radiography menggunakan imaging plate. Walaupun

imaging plate terlihat sama dengan screen konvensional tetapi

fungsinya berbeda. Imaging palte berfungsi untuk mencatat

gambar sinar-x kedalam foto stimulable phosphor dan

menyampaikan informasi gambar tersebut kedalam bentuk elektrik.

Gambar 2.8 imaging plate

b) Cassette

Cassete pada computerr radiography bagian depan(front

side terbuat dari carbon fiber dan bagian belakang terbuat dari

aluminium. Cassette berfungsi sebagai pelindung dari imaging

plate.Phosphor screen (IS) pada cassette analog berfungsi

mengubah sinar-x menjadi cahaya tampak, namun pada cassete

18
CR hanya berisi plate yang dilapisi phosphor screen, bentuknya

seperti IS namun tanpa film sehingga dapat dipakai berulang-ulang.

Gambar 2.9 cassette

c) Image Reader

Image reader berfungsi sebagai pebaca, pengolah gambar

yang yang diperoleh dari imaging plate yang dijalankan dengan

menggunakan laser scanner.Dilengkapi dengan preview monitor

untuk melihat apakah pemotretan yang dilakukan tidak terpotong

atau obyeknya bergerak. Selain itu, image reader juga berperan

dalam proses pembacaan, pengolahan gambar, system

transportasi imaging palte serta proses penghapusan data dari

permukaan imaging plate.

19
Gambar 2.10 image reader

d) Image Console

Berfungsi untuk mengolah gambar, berupa computer dengan

software khusus untuk medical imaging.Gambar dapat diolah

tampilannya sehingga memudahkan memperoleh gambar yang

lebih baik. Pada image console juga dilengkapi dengan menu lebih

dari 200 macam pilihan gambar yang sesuai dengan bagian

anatomi yang akan difoto pada anatomi tertentu. Karena CR

merupakan bentuk digital, bermacam-macam jenis processing

gambar dapat digunakan untuk menambah dan juga mempertinggi

kualitas gambar seperti mengatur latitude, brightnes dan contras.

20
Gambar 2.11 image console

e) Imager (Printer)

Apabila foto dikehendaki untuk dicetak, maka gambar dapat

dikirim ke bagian imager untuk dicetak sesuai yang diinginkan

karena imager mempunyai fungsi sebagai pencetak gambar. Pada

proses pencetakkan ini tidak memerlukan lagi kamar gelap karena

dapat dicetak langsung dalam dry imager tanpa harus di kamar

gelap dan tidak lagi memerlukan cairan seperti fixer dan developer

sehingga tempat kerja bisa lebih bersih.

Gambar 2.12 printer

21
2. Prinsip Kerja Computer Radiography

a. Imaging plate yang terletak didalam kaset, diexpose dengan

menggunakan peralatan pembangkit sinar-x. pada saat

sinar-x menembu obyek, akan terjadi attenuasi (perlemahan)

akibat dari kerapatan objek karena berkas sinar-x yang

melalui obyek tersebut. Kemudian terbentuk bayangan laten.

b. Imaging plate cassette kemudian dimasukkan kedalam

image reader. Didalam image reader, bayangan laten yang

disimpan pada permukaan phosphor dibaca dan dikeluarkan

menggunakan cahaya infra merah untuk menstimulus

phosphor, sehingga mengakibatkan energi yang tesimpan

berubah menjadi cahaya tampak.

c. Cahaya yang dikeluarkan dari permukaan plate, akan

ditangkap oleh sebuah pengumpul cahaya dan diteruskan ke

tabung photomultiplier yang mengubah energy cahaya

menjadi sinyal listrik analog.

d. Selanjutnya sinyal analog diubah menjadi sinyal digital oleh

rangkaian analog to digital converter (ADC) dab diproses

dalam computer.

e. Setelah proses pembacaan selesai, data gamabar pada IP

dapat dihapus dengan cara IP dikenai cahaya yang kuat. Hal

ini membuat IP dapat dipergunakan kembali.

22
f. Setelah gambaran tampil dilayar monitor, gambaran tersebut

dapat dilakukan rekonstruksi atau dimanipulasi pada image

console sehingga mendapatkan gambaran yang diinginkan.

23
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Kasus

1. Identitas Pasien

Nama : Ny, S

Tanggal lahir : 4 Juni 1953

Umur : 56 tahun 4bulan

No. RM : 282***

No. RO : 10238

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Ngawen, Klaten.

Diagnose : suspect OA knee dextra&sinistra

Dokter Pengirim : dr.IDN Suci, Sp.Ort.

Tanggal pemeriksaan : 24 September 2019

2. Riwayat Pasien

Ny.S merupakan pasien aktif di poli jantung RSUP dr

Soeradji Tirtonegoro Klaten. Sekitar sebulan yang lalu, pasien

merasakan nyeri pada kedua lututnya hingga lututnya tidak

bisa ditekuk. Karena merasa tidak nyaman dan kegiatan

sehari-harinya terganggu karena hal tersebut, pasien

mengeluhkan sakit pada lututnya kepada dokter spesialis

jantung saat beliau kontrol rutin di poli jantung. Menanggapi

keluhan pasiennya, dokter spesialis jantung kemudian merujuk

24
Ny.S ke Poli Orthopedi. Akhirnya, pada tanggal 24 September

2019 pasien datang ke Poli Orthopedi RSUP dr Soeradji

Tirtonegoro Klaten. Setelah diperiksa, dokter orthopedi

mengirim pasien ke Instalasi Radiologi RSUP dr Soeradji

Tirtonegoro Klaten untuk dilakukan pemeriksaan radiografi.

3. Prosedur Pemeriksaan

Setelah melakukan pendaftaran di pendaftaran radiologi,

pasien menunggu untuk melakukan pemeriksaan. Pada

pemeriksaan sendi lutut tidak dibutuhkan persiapan khusus.

Hanya saja pasien harus melepas benda benda pada lututnya

yang dapat menimbilkan artefak .

Jika pasien memakai celana panjang, sebaiknya dilipat

sampai keatas lutut, untuk memudahkan dalam menentukan

central point (CP).

4. Teknik Pemeriksaan Knee Joint

a) Persiapan Alat

1) Pesawat X-ray

Merk : Allengers

Kapasitas : 125 kV, 500 mA

2) Imaging Plate (IP) ukuran 35x43 cm dibagi 2, 2 buah

3) Film ukuran 8x10 inchi, 2 buah

4) Computer Radiografi (CR)

Merk : Carestream

25
Type : Direct view classic CR system

5) Printer

Merk : Carestream

Type : Dry View 6950 Laser Imager

b) Persiapan Pasien

Tidak ada persiapan khusus, hanya melepaskan benda-

benda yang dapat mengganggu gambaran radiograf

c) Proyeksi Pemeriksaan

1) Proyeksi Antero Posterior (AP)

a. Posisi Pasien

Pasien berdiri di depan bucky stand menghadap ke

arah tabung sinar-X.

b.. Posisi Objek

- Kaset dipasang melintang, dan dibagi 2 sama besar,

kanan dan kiri.

- Knee kanan ditempatkan di pertengahan IP sisi

kanan dengan bagian posterior knee menempel

pada IP.

- Knee diposisikan true AP

- Lakukan hal yang sama pada knee kiri

c. CR : Horizontal tegak lurus terhadap IP

d. Central Point (CP) : pada pertengahan knee joint

e. Focus Film Distance (FFD) : 1000 cm

26
f. Imaging Plate (IP) : 35 x 40 cm melintang, dibagi 2

g. Faktor Eksposi : 56 kV, 6mAs

2) Proyeksi Lateral dengan Sinar Tegak Lurus

a. Posisi Pasien (PP)

Pasien berdiri miring ke salah satu sisi dengan sisi

luar kaki menempel pada IP. Pastikan pelvis tidak

mengalami rotasi. Kaki yang tidak diperiksa diatur

belakang.

b. Posisi Objek (PO)

- Kaset dipasang melintang, dan dibagi 2 sama besar,

kanan dan kiri.

- Pasien berdiri miring ke sisi kanan dengan sisi luar

kaki menempel pada IP sisi kanan

- Kaki kiri diatur ke belakang

- Kaki kanan sedikit difleksikan dan tempatkan pada

pertengahan IP sisi kanan.

- Lakukan hal yang sebaliknya untuk kaki kiri

c. CR : Horizontal tegak lurus terhadap IP

d. CP : pertengahan knee joint

e. FFD : 100 cm

f. Imaging Plate (IP) : 35 x 40 cm melintang dibagi 2

g. Faktor Eksposi : 56 kV, 6 mAs

27
h. Pengolahan Film pada CR

 Pilih New Patient, kemudian masukkan identitas

pasien berupa nama pasien, no RM, jenis kelamin,

tanggal lahir, No RO, asal ruangan, dan nama

petugas radiografer yang mendampingi.

 Pilih add view, kemudian pilih Primary Category,

Lower Extremity, Pilih Knee Joint 2 kali.

 Kemudian barcode ID Imaging Plate pada image

reader untuk di scanning. Tunggu sampai

radiograf muncul.

 Lakukan pengeditan dengan mngubah contras dan

densitas, lalu beri marker sesuai surat

permintaannya. Kemudian pilih Save and Accept.

 Pada menu image console, pilih find. Pilih nama

pasien. Pilih film ukuran 8x11 inchi, pilih grid foto

landscape menjadi 2 bagian. Pilih Filter , dan Print.

i. Hasil radiograf

Gambar 3.1 Hasil radiograf Proyeksi AP

28
Gambar 3.2 Hasil Radiograf Proyeksi Lateral

3) Proyeksi Lateral dengan Sinar 7˚ Cephalad

a. Posisi Pasien (PP)

Pasien berdiri miring ke salah satu sisi dengan sisi

luar kaki menempel pada IP. Pastikan pelvis tidak

mengalami rotasi. Kaki yang tidak diperiksa diatur

belakang.

b. Posisi Objek (PO)

- Kaset dipasang melintang, dan dibagi 2 sama besar,

kanan dan kiri.

- Pasien berdiri miring ke sisi kanan dengan sisi luar

kaki menempel pada IP sisi kanan

- Kaki kiri diatur ke belakang

- Kaki kanan sedikit difleksikan dan tempatkan pada

pertengahan IP sisi kanan.

- Lakukan hal yang sebaliknya untuk kaki kiri

c. CR : 7˚ cephalad terhadap IP

29
d. CP : pertengahan knee joint

e. FFD : 100 cm

f. Imaging Plate (IP) : 35 x 40 cm melintang dibagi 2

g. Faktor Eksposi : 56 kV, 6 mAs

h. Pengolahan Film pada CR

 Pilih add view, kemudian pilih Primary Category,

Lower Extremity, Pilih Knee Joint.

 Kemudian barcode ID Imaging Plate pada image

reader untuk di scanning. Tunggu sampai

radiograf muncul.

 Lakukan pengeditan dengan mngubah contras dan

densitas, lalu beri marker sesuai surat

permintaannya.Kemudian pilih Save and Accept.

 Pada menu image console, pilih find. Pilih nama

pasien. Pilih film ukuran 8x11 inchi, pilih grid foto

landscape menjadi 2 bagian untuk proyeksi lateral

sinar tegak lurus dan lateral dengan penyudutan 7˚

cephalad. Setelah itu pilih text untuk

menambahkan tulisan “penyudutan 7˚ cephalad”

yang diletakkan di radiograf proyeksi lateral

dengan penyudutan 7˚ cephalad. Kemudian Pilih

Filter , dan Print.

30
i. Hasil Radiograf

Gambar 3.3 Hasil Radiograf proyeksi lateral sinar

tegak lurus dan lateral sinar 7˚ cephalad

j. Hasil Bacaan Dokter Radiologi

- Alignment tulang baik

- Trabekulasi tulang prototik

- Tak tampak garis fraktur

- Femurotibial osteoarthritis dextra sinistra grade 2

- Femuropatellar osteoarthritis dextra sinistra

grade 2

- Soft tissue swelling (+) pada genu dextra sinistra

31
B. Pembahasan

1. Teknik radiografi knee joint pada kasus osteoarthritis di

Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Teknik Pemeriksaan knee joint pada kasus

osteoarthritis meliputi persiapan alat dan persiapan pasien

tidak membutuhkan persiapan yang khusus. Hanya saja

pasien diminta untuk melepaskan benda benda pada lutut

yang dapat menimbulkan artefak dan menganggu gambaran

radiograf.

Berdasarkan pengamatan penulis, di Instalasi radiologi

RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten pemeriksaan knee

joint kasus osteoarthritis pada teknik radiografi yang meliputi

posisi pasien, Posisi objek, CP, dan FFD sudah sesuai teori.

Namun pada ukuran IP dan Central Ray proyeksi Lateral

terdapat perbedaan. Untuk ukuran IP yang digunakan

adalah ukuran 35x43 cm melintang. Hal tersebut dilakukan

karena tubuh pasien yang gemuk. Untuk CR Proyeksi

Lateral dilakukan tanpa penyudutan, yaitu Cr tegak lurus

dengan IP. Selain merupakan prosedur tetap, pemilihan

Lateral tanpa disudutkan karena dengan proyeksi ini

dianggap sudah dapat menampakkan kelainan yang

dicurigai dalam hal ini osteoarthritis knee joint.

32
2. Alasan dilakukan pemeriksaan radiografi knee joint

menggunakan proyeksi Lateral tanpa penyudutan..

Menurut Bontranger 2018, pemeriksaan knee joint

untuk kasus osteoarthrthitis dianjurkan utnuk dibuat proyeksi

AP Weight Bearing dan Lateral dengan penyudutan 7 derajat

cephalad. Tujuan dibuat proyeksi AP weight bearing adalah

untuk membandingkan antara celah sendi yang sakit dan

sendi yang normal. Yang mana proyeksi AP weight bearing

ini dapat dilakukan pada diagnose Osteoarthrtis di salah satu

sendi lutut saja. Sedangkan pada proyeksi lateral dengan

penyudutan sinar 7 derajat cephalad dapat menampakkan

Space antara femoral condylus dengan tibia, yang mana

space/celah tersebut digunakan untuk menilai kelainan

dalam hal ini osteoarthritis.

Penulis telah melakukan wawancara pada salah satu

dokter radiolog (dr.Anggun Esti Wardani,Sp.Rad) mengenai

alasan mengapa tidak dilakukannya penyudutan pada CR

proyeksi lateral knee joint. Berdasarkan hasil wawancara

alasannya adalah karena radiograf yang dihasilkan dari

proyeksi lateral tanpa penyudutan dan dengan penyudutan 7

derajat cephalad tidak memiliki perbedaan anatomi yang

begitu signifikan. Oleh karena itu, radiograf yang dihasilkan

dari proyeksi lateral dengan CR tanpa penyudutan sudah

33
cukup untuk memberikan informasi yang dibutuhkan untuk

menegakkan diagnosa dalam hal ini anatomi pada knee joint

sudah tervisualisasi dengan jelas. Disisi lain, pelaksanaan

proyeksi lateral tanpa penyudutan dinilai lebih efektif dalam

hal ini dapat menyingkat waktu pemeriksaan sehingga

berujung dengan semakin singkatnya waktu tunggu pasien.

34
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Teknik radiografi knee joint pada kasus Osteoarthritis di

Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

meliputi persiapan alat dan bahan sedangkan untuk pasien

tidak ada persiapan khusus.

2. Proyeksi radiografi knee joint pada kasus Osteoarthritis di

Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

menggunakan proyeksi AP dan Lateral dengan sinar tegak

lurus.

3. Teknik radiografi knee joint pada kasus Osteoarthritis di

Instalasi Radiologi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

menggunakan proyeksi lateral tanpa penyudutan pada CR

sudah dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk

menegakkan diagnosa.

B. Saran

Pada pemeriksaan radiografi knee joint meskipun

menggunakan kaset 35x43 cm, dosis yang diterima pasien

akan lebih rendah dengan cara mengatur kolimasi sesuai

dengan besarnya obyek. Selain itu, pengaturan kolimasi

sesuai obyek dapat mengurangi radiasi hambur, sehingga

tidak mengurangi kualitas radiograf.

35
DAFTAR PUSTAKA

Bontrager.2018. Textbook of Radiographic Positioning and Related


Anatomy. Seventh edition. USA: Mosby Elsevier

36

Anda mungkin juga menyukai