Anda di halaman 1dari 40

CRITICAL BOOK REVIEW

Mozaik Keterampilan Berbahasa Di Sekolah Dasar

Disusun Oleh :
NAMA : MARIANA AGUSTINA TURNIP
NIM : 1173311076
KELAS : H EKSTENSI
JURUSAN : PGSD
MATA KULIAH : PEND. BHS DAN SASTRA INDONESIA KLS
RENDAH SD

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ‘Critical Book Riview’ mata kuliah
“PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS RENDAH SD” yang berjudul
“Mozaik Keterampilan Berbahasa Di Sekolah Dasar”. Penulis juga berterima kasih kepada
semua orang yang sudah memberikan bimbingannya.

Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan oleh karena itu
penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik
dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas ini. Akhir kata penulis ucapkan terima
kasih semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan maupun hiburan bagi pembaca.

Medan, September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

COVER (SAMPUL)
KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................1
BAB II RINGKASAN BUKU...................................................................................................2

BAB III KEUNGGULAN BUKU...........................................................................................35


A. KETERKAITAN ANTAR BAB....................................................................................35
B. KEMUKTAKHIRAN BUKU........................................................................................35
C. ANALISIS BAHASA....................................................................................................35
BAB IV KELEMAHAN BUKU..............................................................................................36
A. KETERKAITAN ANTAR BAB...................................................................................36
B. KEMUKTAKHIRAN BUKU........................................................................................36
BAB V IMPLIKASI.................................................................................................................37
A. Impikasi terhadap Teori...................................................................................................37
B. Implikasi terhadap Program Pembangunan di Indonesia................................................37
C. Pembahasan dan Analisis.................................................................................................38
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN........................................................................................39
1. SIMPULAN.............................................................................................................................39
2. SARAN....................................................................................................................................39
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

Dr.Taufina,M.P.d. dilahirkan di Bukit Tinggi pada tanggal 4 Mei 1962. Beliau anak
pertama dari pasangan ibu Hj.Rosmawar Lukman (Alm) dan bapak H.Taufik. Setelah menempuh
pendidikan di SD Negeri 02 Bukit Tinggi pada tahun 1975, melanjutkan pendidikan ke SMEP
Negeri Bukit Tinggi tahun 1986, dan SMSR Negeri Padang tahun 1982.
Penulis melanjutkan pendidikan S1 Seni Rupa di IKIP Padang dan lulus tahun 1986. Selanjutnya
melanjutkan pendidikan S2 pada program studi Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Padang
tahun 2000. Kemudian, pada tahun 2006 penulis menyelesaukan Progaram Doktor Pendidikan
Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang.

Buku Mozaik Keterampilan Berbahasa di sekolah Dasar ini adalah cetakan ke 1 pada
tahun 2016 dan memiliki ISBN 978-602.73296-7-6. Penerbit buku ini CV.Angkasa Jl.Cipagalo
Girang No.24, Margacinta – Bandung 40284. Buku ini memiliki : Telp : (022) 753 1124 – 753
1163, Fax : (022) 753 1084 – 753-1194, Website : www.angkasagroup.id,
www.tokobukuangkasa.com, Email : redaksi_angkasa@angkasagroup.id,
pemasaran@angkasagroup.id. Buku ini dicetak oleh Percetakan CV Titian Ilmu Jln. Rumah
Sakit No.108 Cinambo – Bandung 40294. Buku ini memiliki ukuran 336,17,5 x 25 cm, Berat
buku 590 gr, jumlah halaman ada 336 halaman dan harga buku ini dijual sebesar Rp.98.000.,M

BAB II
RINGKASAN ISI BUKU
BAB 1 KETERAMPILAN MENYIMAK
A. Pengertian Menyimak
Menyimak mempunyai pengertian yang lebih kompleks dibandingkan dengan mendengar.
Dalam bahasa Karo terdapat suatu pemeo yang berbunyi “Tubu nge ibegina, tapi labo
idengkehkenna” yang artinya “Memang didengarnya, tetapi tidak disimaknya”. Dalam kamus
besar bahasa Indonesia (KBBI, 2001:251), mendengar mempunyai makna, “dapat menangkap
bunyi dengan telinga.” Sadar atau tidak, kalau ada bunyi bunyi tertentu, alat pendengar akan
menangkap atau mendengar bunyi-bunyi tersebut. Seorang mendengar suara tanpa unsure
kesengajaan. Proses mendengar terjadi tanpa perencanaan tetapi datang secara kebetulan. Bunyi-
bunyi yang hadir diteliga itu mungkin menarik perhatian, mungkin juga tidak. Menyimak juga
harus memperhatikan aspek-aspek non kebahasaan, yaitu:
1. Tekanan (keras lembutnya suara)
2. Jangka (panjang pendeknya suara)
3. Nada (tinggi rendahnya suara)
4. Intonasi (naik turunnya suara)
5. Ritme (pemberian tekanan suara)

B. Manfaat Menyimak
Menurut Setiawam (dalam Darmawan, dkk, 2006:11-12) manfaat menyimak antara lain sebagai
berikut:
1. Menambah ilmu pengetahuan dan penglaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan
sebab menyimak memiliki nilai informative yaitu memberikan masukan-masukan
tertentu yang menjadikan seorang lebih berpengalaman.
2. Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah
ilmu.
3. Memperkaya kosakata, menambah pembendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan
puitis.

C. Tujuan Menyimak
Menyimak adalah suatu peristiwa penerimaan pesan, gagasan, atau pikiran seseorang. Ada dua
aspek tujuan yang perlu diperhatikan dalam proses menyimak, yaitu:
1. Adanya pemahaman dan tanggapan penyimak terhadap pesan pembicara.
2. Pemahaman dan tanggapan penyimak terhadap pesan itu sesuai dengan kehendak
pembicara.
Menurut (Solchan, 2011:21) Berdasarkan dua aspek tujuan diatas lebih jauh maka tujuan
menyimak dapat disusun sebagai berikut:
1. Mendapatkan fakta
Mendapatkan fakta dapat dilakukan melalui berbagai cara, bisa melalui keterampilan menyimak,
bisa pula melalui keterampilan membaca. Di Negara berkembang khususnya di Indonesia,
memperoleh fakta melalui kegiatan menyimak masih sangat membudaya di seluruh lapisan
masyarakat, baik melalui radio, televisi, pertemuan, maupun menyimak ceramah-ceramah.
Namun di Negara maju, budaya menyimak sudah jarang ditemukan. Mereka lebih suka
mendapatkan fakta melalui majalah, koran, dan buku-buku.
2. Menganalisis fakta
Tujuan lain dari menyimak adalah menganalisis fakta, yaitu proses menafsir fakta-fakta atau
informasi sampai pada tingkat unsur-unsurnya dan menafsir sebab akibat yang terkandung dalam
fakta-fakta.
3. Mengevaluasi fakta
Mengevaluasi fakta atau gagasan merupakan tujuan menyimak yang ketiga lebih lanjut.
Penyimak yang kritis akan mengajukan pertanyaan sehubungan dengan analisisnya,seperti:
a. Cukup bernilaikah fakta-fakta yang diterimanya?
b. Akuratkah fakta-fakta tersebut?
c. Relevankah fakta-fakta dengan pengetahuan dan pengalaman penyimak?
Jika fakta yang diterima penyimak cukup dinilai akurat dan relevan dengan pengetahuan dan
pengalaman penyimak berarti fakta dapat diterima. Namun, apabila fakta yang diterima kurang
bermutu, tidak akurat, apalagi kalau kurang relevan dengan pengetahuan dan pengalaman
penyimak, penyimak akan menolak fakta.

4. Mendapatkan inspirasi
Inspirasi dipakai alasan oleh seseorang untuk menyimak suatu pembicaraan. Seseorang
menyimak pembicaraan bukan untuk memperoleh fakta saja melainkan untuk memperoleh
inspirasi. Seorang mendengarka ceramah atau diskusi ilmiah semata-mata untuk tujuan
mendapatkan inspirasi atau ilham.
5. Mendapatkan hiburan
Pada dasarnya manusia dalam hidup memerlukan hiburan. Hiburan dapat diperoleh melalui
berbagai macam kegiatan termasuk kegiatan menyimak, yang disimak tentu saja hal-hal yang
menyegarkan pikiran, menyenangkan hati, dan menghibur diri.
6. Memperoleh kemampuan berbicara
Tujuan menyimak yang terakhir justru memperbaiki kemampuan berbicara. Dengan menyimak
pembicaraan yang terpilih seseorang dapat memperbaiki kemampuan berbicara. Aspek-aspek
yang perlu diperhatikan agar kemampuan berbicara seorang meningkat, yaitu:
a. Cara mengorganisasikan bahan pembicaraan
b. Cara penyampaian bahan
c. Cara memikat perhatian penyimak
d. Cara mengarahkan
e. Cara menggunakan alat-alat bantu, seperti: mikrofon, alat peraga, dan sebagainya
f. Cara memulai dan mengakhiri pembicaraan.

D. Proses Menyimak
1. Tahap mendengar (hearing)
Tahap mendengar yaitu tahap di mana seseorang baru mendengar segala sesuatu yang
dikemukakan oleh pembicara atas apa yang pembicara bicarakan. Ini merupakan tahap paling
awal dari proses menyimak. Pada tahapan ini disebut hearing.
2. Tahap memahami (understanding)
Tahap memahami yaitu tahap bagi seseorang untuk mengerti atau memahami dengan baik isi
pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara. Pada tahap ini seseorang memasuki tahap
understanding.
3. Tahap menginterprestasi (interpreting)
Tahap menginterprestasi yaitu tahap ketika seseorang ingin menafsirkan atau
mengnterprestasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu. Dalam
hal ini berarti seseorang sudah memasuki tahap interpreting.
4. Tahap mengevaluasi (evaluating)
Tahap mengavaluasi yaitu tahap dimana seseorang mulai menilai atau mengevaluasi pendapat
serta gagasan pembicara mengenai kelemahan serta kebaikan dan keunggulan pembicara. Pada
tahap ini disebut evaluating.
5. Tahap menanggapi (responding)
Tahap menanggapi yaitu tahap yang terakhir dalam proses menyimak. Penyimak menyambur,
mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicra
dalam ujaran atau pembicaraannya. Pada tahap ini berarti sudah memalui tahap terakhir yang
disebut tahap menanggapi disebut responding.

E. Jenis-jenis Menyimak
Jenis-jenis menyimak dapat diklasifikasikan berdasarkan:
1. Jenis menyimak berdasarkan sumber suara yang disimak, terbagi menjadi 2 bagian:
a. Menyimak intrapribadi (intrapersonal listening)
Sumber suara yang disimak dapat berasal dari diri sendiri. Ini terjadi saat seseorang
menyendiri dan merenungkan nasib diri, menyesali perbuatan sendiri atau berkata-
kata dengan diri sendiri.
b. Menyimak antarpribadi (interpersonal listening)
sumber suara yang disimak dapat pula berasal dari luar diri penyimak. Menyimak
seperti misalnya percakapan, diskusi, seminar dan sebagainya.
2. Jenis menyimak berdasarkan cara menyimak bahan yang disimak, terbagi 2:
a. Menyimak ekstensif
Menyimak eksntensif adalah kegiatan menyimak yang tidak memerlukan perhatian,
ketentuan, dan ketelitian sehingga penyimak hanya memahami seluruhnya secara
garis besar saja. Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi menjadi 4 yaitu:
1) Menyimak sekunder
2) Menyimak estetik
3) Menyimak pasif
4) Menyimak sosial
b. Menyimak intensif
Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-
sungguh dan penuh konsentrasi untuk menangkap makna dan informasi yang
dikehendaki, serta terjadi tidak dengan kebetulan melainkan keinginan sendiri untuk
menyimak. Ada 6 jenis menyimak intensif, yaitu:
1) Menyimaak kritis
2) Menyimak interogatif
3) Menyimak penyelidikan
4) Menyimak kreatuf
5) Menyimak konsentratif
6) Menyimak selektif
3. Jenis menyimak berdasarkan taraf aktivitas penyimak
Tidyman dan Butterfield mengklasifikasikan menyimak berdasarkan:
a. Kegiatan menyimak bertaraf rendah (silent listening)
b. Kegiatan menyimak bertaraf tinggi (active listening)

F. Strategi Menyimak
Strategi pembelajaran menyimak berkembang terutama dalam pengajaran bahasa asing.
Munculnya teknologi perekaman seperti: kaset, CD, video dan lain-lain meningkatkan kemajuan
pemberian materi menyimak. Pembelajaran menyimak dapat menggunakan strategi: menyimak
murni, wicara, visual, gerakan, dan menulis. Pada prinsipnya, strategi pembelajaran menyimak
dapat memilih salah satu campuran dari ketiga pola pembelajaran menyimak yang umum,
sehingga bentuknya kurang lebih sebagai berikut:
1. Pemberian informasi tertentu kepada siswa mengenai apa dan bagaimana menyimak
menurut jenis dan tahap aktivitas, kemudian diikuti demonstrasi. Siswa mendengarkan
informasi, melihat demonstrasi, dan mencatat informasi.
2. Interaksi, pengajar dan siswa menirukan, diikuti pemantapan oleh pengajar dan siswa
dengan cara menirukan lagi atau mengulang secara lebih kreatif.
3. Secara independen tiap individu siswa bekerja sendiri dengan melakukan kegiatan
tertentu:
a. Menyimak rekaman model
b. Mengidentikasi, mengklasifikasi, dan melakukan retensi tertent sesuai dengan tingkat
keterampilan yang dipilih dari model yang diprogramkan atau dari suatu bentuk
percakapan yang nyata.
Berikut penjabaran langkah-langkah dari masing-masing strategi menyimak beserta
bahan simakannya.
1. Simak ulang ucap
2. Simak kerjakan
3. Simak tulis
Langkah-langkah simak tulis:
1) Siswa menyimak kalimat siswa yang diucapkan oleh guru.
2) Siswa menulis hasil simakan dikertas yang telah disiapkan
3) Beberapa siswa membacakan simakannya kedepan kelas dan siswa
lainnya memberikan tanggapan
4) Guru menanggapi jawaban dari masing-masing siswa
5) Siswa kembali menyimak kalimat yang telah disimak sebelumnya untuk
memastikan jawaban yang benar dan berurutan (dibacakan secara
perlahan)
6) Siswa di bawah bimbingan guru menyimpulkan urutan yang benar dari
simakan.
4. Simak terka
5. Memperluas kalimat
6. Simak rangkuman
Langkah-langkah simak rangkuman:
1) Siswa menyimak wacana yang dibacakan oleh guru dan setiap siswa
menyatat hal-hal penting yang terdapat dalam wacana
2) Masing-masing siswa dalam menyusun simpulan dari wacana yang telah
simak
3) Masing-masing hasil rangkuman dari simakan wacana kedepan kelas
4) Guru dan siswa menanggapi hasil rangkuman masing-masing kelompok
5) Siswa mengumpulkan rangkuman kepada guru.
Langkah-langkah simak baca:
1) Guru membagikan sebuah wacana kepada masing-masing siswa
2) Siswa membaca wacana dalam hati
3) Masing-masing siswa menyimpulkan isi dari wacana, lalu
membacakannya di depan kelas
4) Siswa lain menanggapi hasil simpulan siswa yang tampil
5) Guru menyempurnakan simpulan wacana yang disimpulkan siswa.
7. Simak salin
Langkah-langkah simak salin:
1) Siswa menyimak sebuah teks yang dibacakan guru
2) Siswa menuliskan hal-hal penting atau pokok dari teks yang dibacakan
guru
3) Siswa bertanya jawab terhadap wacana yang dibacakan guru
4) Siswa membacakan hasil tulisannya ke depan kelas dan ditanggapi oleh
siswa lainnya
5) Siswa menyimak masukan yang diberikan guru terhadap catatannya.
8. Menyimak setuju
Langkah-langkah simak setuju:
1) Siswa menyimak informasi yang disebutkan oleh guru
2) Masing-masing siswa diminta untuk mengeluarkan pendapat mengenai
informasi yang disampaikan guru
3) Siswa lain mennggapi pendapat teman yang berpendapat
4) Guru mengoreksi pendapat dari masing-masing siswa.
9. Menyimak selektif
10. Menyimak interogatif
11. Menjawab pertanyaan
12. Menelaah materi simakan
Langkah-langkah menelaah materi simakan:
1) Siswa mendengarkan wacana yang dibacakan oleh guru
2) Siswa mencatat hal-hal penting dalam wacana
3) Siswa bertanya jawab terhadap wacana yang disampaikan guru
4) Siswa menelaah tentang tujuan, tema, dan rangkuman dari wacana yang
dibacakan guru tersebut.
13. Bermain drama

BAB II KETERAMPILAN BERBICARA


A. Pengertian Berbicara
Berbicara seecara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi
hati) seseorang kepada orang lain (Haryadi dan Zamzani, 2000:72). Pcngertiannya secara khusus
banyak dikemukakan oleh para ahli. Tarigan (2008b:1 5) misalnya. mcngemukakan bahwa
berbicara adalah. “Kemampuan mcngucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk
mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan petasaan.”
Utari dan Nababan (1993:45) juga mcnyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah,
“Pengetahuan bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa, serta kemampuan untuk
menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa.” Sementara itu, Ibrahim (2001:36)
memberikan pengertian bahwa keterampilan berbicara adalah, “Kemampuan bertutur dan
mcnggunakan bahasa sesuai dengan Iimgsi, situasi, serta norma-norma bcrbahasa dalam
masyarakat yang sebenarnya.”
Definisi berbicara juga dikemukakan oleh Brown dan Yule (dalam Santosa, dkk,
2007:34) bahwa berbicara adalah, “Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk
mcngekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan.” Sedangkan
Slamet dan Amir (1996:64) mcngemukakan pengertian berbicara sebagai, “keterampilan
menyampaikan pesan melalui bahasa lisan sebagai aktivitas untuk menyampaikan gagasan yang
disusun scrta dikcmbangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak.”
Brown (dalam Santosa. 2007:6.26) menjelaskan bahwa, “Berbicara dapat diartikan scbagai
kcmampuan mcngucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengeksprrsikan atau menyampaikan
pikiran gagasan atau perasaan secara lisan.” Sedangkan Akhadiah, dkk (1993:153)
mcngemukakan, “Berbicara adalah keterampilan menyampaikan melalui bahasa lisan.”
B. Tujuan Berbicara
Seseorang dapat mengidentifikasi tujuan seseorang berbicara ketika memperhatikannya
berbicara. Menurut Iskandarwassid dan Sunendar (2011:242-243), “Program pengajamn
keterampilan berbicara harus mampu memberikan kesempatan kepada setiap individu mcncapai
tujuan keterampilan berbicara mencakup: kemudahan berbicara, kejelasan, bertanggung jawab,
membentuk pendengaran yang kritis, dan membentuk kebiasaan.’' Sedangkan Santosa
(2007:6.27) menyatakan tujuan berbicara adalah (l) memberitahukan, melaporkan,
menginformasikan, (2) menghibur, dan (3) membujuk, mengajak, meyakinkan atau
menggerakan. Novi (2006:187) berpendapat bahwa, “Tujuan berbicara adalah untuk
menginformasikan, untuk melaporkan sesuatu hal pada pendengar, sesuatu tersebut dapat berupa
menjelaskan suatu proses, menguraikan, menyebarkan atau menanamkan pengetahuan.
Resmini(2006:127) juga mengemukakan bahwa ada tiga tujuan yg hendak dicapai yaitu : ( 1)
mengekspresikan pemikiran dan ide secara verbal. (2) memuaskan audience dan (3)
mendapatkan reward dari aktivis bicara.

C. Jenis-jenis Berbicara
Ada lima landasan tumpu yang dapat digunakan dalam mengldasiflkasikan berbican
yaitu: situasi, tujuan, jumlah pendcngar, peristiwa khusus, dan mctode penyampaian (Tarigan
dalam Solchan, 2011:11.10). Kelima landasan tersebut dapat dijabarkan scbagaj berikut.
l. Ienis Berbicara Berdasarkan Situasi Pembicaraan
Aktivitas berbicara selalu terjadi atau berlangsung dalam suasana, situasi, dan lingkungan
tertentu. Jika kita melihat bcrdasarkan situa'si pcmbicaraan, berbicara dapat digolongkan ke
dalam dua bagian yaitu pcmbicaraan yang bersifat formal dan pcmbicaraan yang bcrsifat
informal. Pembicaraan yang bcrsifat formal yaitu pembicaraan yang terjadi dalam kegiatan ini.
Adapun yang tergolong dalam pembicaraan formal yaitu ceramah, wawancara, debat, diskusi,
dan bercerita dalam situasi formal. Sedangkan pembicaraan yang bersifat informal yaitu
pembicaraan yang terjadi dalam kegiatan yang tidak resmi. Adapun yang tergolong dalam
pembicaraan informal yaitu bertukar: pcngalaman, percakapan, penyampaian berita,
pengumuman, bertelepon, dan memberi petunjuk.
2. Jenis Berbicara Berdasarkan Tujuan Pembicaraan
Bagian akhir pembicaraan, pembicara ingin mendapat respon dari pendengarnya. Respon
pendengar yang bagaimana yang diharapkan oleh pembiara? Jawaban terhadap Pertanyaan
tersebut mengarahkan perhatian kita kepada tujuan berbiara. Tujuan berbicara mudah menjadi
bahan pembiaraan di kalangan para ahli dari dahulu sampai sekarang. Tujuan orang yang
berbicara pada umumnya adalah untuk mcnghibur. menginformasikan. menstimulasi,
meyakinkan, atau menggerakkan pendengamya. Setiap yang berbiara memiliki tujuan tersendiri.
Hal ini dapat kita perhatikan ketika seseorang babicara dan menangkap inti sari pembiacaranya.
Tujuan berbicara dapat diklasifikasi dalam lima jenis berbiara yaitu untuk: mcnghibur,
mcnginformasikan, menstimulasikan, meyakinkan. dan menggerakkan (Solchan, 2011:11.10).
3. Janis Bcrbicara Berdasarkan Jumlah Penyimak
Komunikasi lisan selalu melibatkan dua pihak, yakni pendengar dan pembicara Jumlah
peserta yang berfungsi sebagai penyimak dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu
orang, berapa orang (kelompok kecil), dan banyak orang (kelompok bcsar). Dilihat dari segi
jumlah pendengar, jenis bicara dapat digolongkan menjadi: (a) berbiara antarpribadi, (b)
berbicara dalam kelompok kecil, dan (c) berbicara dalam kelompok besar
Berbicara antarpribadi, atau bicara empat mata, terjadi apabila dua pribadi
membicarakan, mempercakapkan, merundingkan, atau mendiskusikan sesuatu. Suasana
pembicaraan mungkin serius dan mungkin pula santai, akrab, dan bebas. pembicaraan sangat
tergantung kepada masalah yang dipercakapkan, hubungan antar dua Pribadi yang terlibat.
Dalam berbicara antar pribadi pembicara dan penyimak berganti Peran secara otomatis sesuai
dengan tuntutan situasi.

BAB III KeterampilanMembaca


A. PengertianMembaca
Poerwodarminto (dalam Hardjasujana, 1996;71) mengatakan bahwa membaca yaitu
melihat sambil melisankan suatu tulisan dengan tujuan ingin mengetahui isinya.
Tarigan (199:2) mengungkapkan bahwa membaca yaitu proses memperoleh pesan yang
disampaikan oleh seorang penulis melalui tulisan. MenurutTarigan (2008c:7) membaca adalah
proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak
disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Membaca dapat pula dianggap
sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, melihat pikiran yang
terkandung di dalam kata-kata yang tertulis.
Kegiatan membaca tidak timbul secara alami tetapi ada faktor-faktor yang dpaat
mempengaruhi yaitu faktor dalam (intern) pembaca dan faktor luar (ekstern) pembaca. Faktor
yang berasal dari dalam diri pembaca itu antara lain tuntutan kebutuhan pembaca, adanya rasa
persaingan antar sarana yang diperlukan oleh pembaca, adanya dorongan dari luar (guru
misalnya) adanya hadiah atau sejenisnya dalam waktu-waktu tertentu dan sebagainya.
Pembelajaran membaca SD merupakan dasar atau landasan untuk tingkat pendidikan yang lebih
tinggi. Seandainya dasar tersebut kurang kuat, niscaya pengaruhnya cukup besar yang sangat
terasa, baik para siswa sendiri atau juga oleh guru.

B. Manfaat Membaca
Banyak orang sukses dan cerdas karena kecintaan mereka membaca buku dan belajar.
Oleh sebab itu, tingkatkan intensitas membaca terutama diwaktu senggang. Membaca adalah
kegiatan yang sangat bermanfaat dan sangat penting dalm kehidupan. Banyak sekali manfaat
yang akan didapat dengan membaca. Manfaat dari membaca yaitu:
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, seorang terhalang masuk dalam kebodohan.
3. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam
bertutur kata.
4. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
5. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
6. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain,
seperti mencontoh kearifan orang bijaksana dan kecerdasan para sarjana.
Pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hariadalah pertama, membaca dapat
membuka wawasan baru. Banyak hal-hal baru yang akan ditemukan dalam sebuah bacaan.
Kedua, membaca dapat memberikan pencerahan baru pada pemikiran. Tidak jarang seseorang
digelayuti guru persoalan yang dipikir tidak ada pecahannya. Ketiga, membaca dapat
mencerdaskan intelektual, spiritual, emosional, dan kepercayaan diri yang berpadu dengan
kerendahan hati. Membaca akan membuka peluang untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu
pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan. Keempat, membaca membuat seseorang menjadi
seorang yang mandiri dalam mencari pengetahuan. Seseorang tidak bergantung pada sekolah,
les, kursus, atau seminar.

C. Tujuan Membaca
Menurut Tarigan (2008c:9) tujuan utama dalam membaca dalah untuk mencari serta
memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat
sekali berhubungan dengan maksud tujuan , atau intensif dalam membaca. Tujuan membaca
secara umum yaitu mampu membaca dan memahami teks pendek dengan cara lancar atau
bersuara beberapa kalimat sederhana dan mambaca puisi (Depdiknas, 2004:15). Selain itu, secara
umum tujuan membaca adalah: (1) mendapat informasi, (2) memperoleh pemahaman, dan (3)
memperoleh kesenangan.
Sedangkan secara khusus, tujuan membaca adalah: (1) memperoleh informasi faktual, (2)
memperoleh keterangan tentang suatu yang khusus dan problematis, (3) memberikan penilaian
kritis terhadap karya tulis seseorang, (4) memperolehan kenikmatan emosi, dan (5) mengisi
waktu luang. Lebih lanjut Walpes (dalam Nurhadi, 2004:17) menuliskan bahwa tujuan membaca
adalah:
1. Mendapat alat atau cara praktis mengatasi masalah.
2. Mendapat hasil yang berupa prestise yaitu agar mendapat rasa lebih bila dibandingkan
dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya.
3. Memperkuat niali pribadi atau keyakinan.
4. Mengganti pengalaman estetika yang sudah usang.
5. Menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu.

D. Proses Membaca
Proses membaca dapat dilakukan dengan memperhatikan langkah-langkah dalam
membaca. Langkah kegitan dalam proses pembelajaran membaca oleh Burns (dalam Saleh,
2006:110) dirinci menjadi tiga tahap yaitu: “(1) Prabaca (prereading), (2) Saat baca (durring-
reading), dan (3) Pascabaca (postreading).” Langkah-langkah dalam membaca dapat dijabarkan
sebagai berikut:
1. Kegiatan Prabaca
Kegiatan prabaca dimaksud untuk mengunggah prilaku siswa dalam penyelesaian masalah dan
memotivasi penelaahan materi membaca.
2. Kegiatan Saat Baca
Menurut Novi (2009:97), “Kegiatan intibaca, beberapa strategi membaca dapat meningkatkan
pemahaman membaca siswa yaitu strategi metakognitif, close procedure, dan pertanyaan
pemandu.”
3. Kegiatan Pascabaca
Burns, dkk (dalam Rahim, 2007:114) menjelaskan bahwa, “Kegiatan pascabaca digunakan untuk
membantu siswa memadukan informasi baru yang dibacanya ke dalam skemata yang telah
dimilikinyasehingga diperoleh tingkat pemahaman yang lebih tinggi.” Santosa (2007:6.12)
menjelaskan, “ Ada beberapa kegiatan dan strategi dan strategi yang dapat dilakukan siswa
setelah membaca.” Kegiatan dan strategi yang dimaksud yaitu: memperluas kesempatan belajar,
mengajukan pertanyaan, mengadakan pameran visual, melaksanakan pementasan teater aktual,
menuturkan kembali apa yang telah dibaca kepada orang lain dan mengaplikasikan apa yang
diperoleh dari membaca ketika melakukan sesuatu. Membaca merupakan proses yang kompleks.
Proses ini melibatkan sejumlah kegiatan fisik dan mental. Menurut Burns, dkk (1996:7) proses
membaca terdiri dari sembilan aspek yaitu:
a. Aspek Sensori
b. Perseptual
c. Aspek Urutan
d. Aspek Pengalaman
e. Aspek Berpikir
f. Aspek Pembelajaran

E. Jenis-jenis Membaca
Klasifikasi jenis membaca dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang (Iskandarwassid,
2011:147) salah satunya yaitu berdasarkan sasaran pembacanya. Jenis membaca berdasarkan
sasaran pembacanya, yaitu: (1) membaca permulaan dan (2) membaca lanjut. Membaca
permulaan terdiri atas membaca nyaring dan membaca lancar. Sedangkan membaca lanjut yang
dimaksud yaitu membaca dalam hati.
1. Membaca Permulaan
Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori
keterampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal.
Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recording dan
decoding. Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologi. Proses yang
bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indra visual, pembaca
mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya.
a. Membaca nyaring
b. Membaca lancar

BAB IV KETERAMPILAN MENULIS


A. PengertianMenulis
Menulis adalah menurunkan dan menuliskan lambing-lambang grafik yang
menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat
membaca lambang-lambang grafik kalau mereka memahami bahasa dengan benar grafik (
Tarigan, 1991:21). Menurut Nurgiyantoro (2005:273), menulis adalah aktivitas mengungkapkan
gagasan melalui media bahasa. Menulis merupakan kegiatan produktif dan ekspresif sehingga
penulis harus memiliki kemampuan dalam menggunakan kosa kata, tata tulis, dan struktur
bahasa.Pendapat ini menunjukkan, bahwa dengan tulisan dapat terjadi komunikasi antara penulis
dan pembaca.Hal ini dapat terjadi apabila penulis dan pembaca memahami lambang-lambang
grafik yang dipergunakan untuk menulis tersebut.

B. Manfaat Menulis
Menurut Sabarti, dkk ( 1988:2 ), manfaat menulis ada delapan, diantaranya:
1. Mengetahui kemampuan dan potensi diri serta pengetahuan tentang topik yang dipilih.
2. Dengan mengembangkan berbagai gagasan kita terpaksa bernalar, menghubung-hubungkan
serta membandingkan fakta-fakta yang mungkin tidak pernah kita lakukan kalau kita tidak
menulis.
3. Lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang
ditulis.
4. Menulis berarti mengorganisasi gagasan secara sistematik serta mengungkapkan secara
tesurat.
5. Melalui tulisan kita dapat menjadi peninjau dan penilai gagasan kita secara objektif.
6. Lebih mudah memecahkan masalah dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks
yang lebih konkret.
7. Dengan menulis kita aktif berpikir sehingga kita dapat menjadi penemu sekaligus pemecah
masalah, bukan sekedar penyeda informasi.
8. Kegiatanmenulis yang terencanaakanmembiasakankitaberpikirdanberbahasasecaratertib.

C. Tujuan Menulis
Mengingat proses komunikasi dilakukan secara tidak langsung, tidak melalui tatap muka
antara penulis dan pembaca, dengan tulisan itu berfungsi itu sebagaimana yang diharapkan oleh
penulis, maka isi tulisan serta lambang grafik yang dipergunakan penulis harus benar-benar
dipahami baik oleh penulis ataupun pembacanya.
Hal tersebut diatas, sangat berkaitan erat dengan tujuan menulis.Hartig (dalamTarigan, 1991:24-
25) mengemukakan tujuan menulis sebagai berikut:
1. Tujuan penugasan
Penulis tidak memiliki tujuan, untuk mencapai menulis. Penulisannya menulis, tanpa mengetaui
tujuannya.
2. Tujuan altruistik
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindari kedukaan para pembaca,
ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalaranya, ingin
membuat hidup para pembaca lebih mudah dan menyenangkan dengan karya itu.
3. Tujuan persuasif
Penulis bertujuan mempengaruhi pembaca,agar para pembaca yakin akan kebenaran gagasan
atau ide yang dituangkan atau diutarakan oleh penulis.
4. Tujuan informasion alat atau tujuan penerangan
Penulis menuangkan ide/gagasan dengan tujuan memberi informasi atau keterangan kepada
pembaca.
5. Tujuan penyataan diri
Penulis berusaha untuk menyatakan atau memperkenalkan dirinya sendiri kepada para pembaca.
6. Tujuan kreatif
Penulis bertujuan agar pembaca dapat memiliki nilai-nilai artistic atau nilai-nilai kesenian
dengan membaca tulisan sipenulis.
7. Tujuan pemecahan masalah
Penulis berusaha memecahkan masalah yang dihadapi.Dengan tulisanya, penulis berusaha
memberi kejelasan pada pembaca tentang bagaimana cara pemecahan suatu masalah.

D. Jenis-jenis Menulis
Keterampilan menulis tidak diperoleh secara alamiah proses pembelajaran.Agar terampil
dalam menuliskan huruf sebagai lambang bunyi, siswa harus berlatih mulai dari cara memegang
alat tulis. Siswa juga berlatih menggerakan tangan dengan memperhatikan ayang yang harus
ditulis atau digambarkan.Siswa harus dilatih mengamati lambang bunyi, memahami setiap huruf
sebagai lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskannya dengan benar.Proses belajar
menulis permulaan dilaksanakan setelah siswa mampu mengenal huruf-huruf yang
diajarkan.Setelah mampu menulis, siswa dituntut mengarang berbagai tulisan sesuai dengan apa
yang mereka ketahui, baik melalui apa yang mereka alami, dilihat, maupun yang
didengar.Artinya, dalam menulis terdapat jenis menulis secara garis besar, yaitu menulis
permulaan dan menulis lanjut.
1. Menulis Permulaan
Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang
benar.Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal bersifat
melanis.Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa :
a. Sikap duduk yang baik dalam menulis
b. Cara memegang pensil/alat tulis
c. Cara memegang buku
d. Melemaskan tangan dengan cara menulis diudara
e. Melemaskan jari-jari melalui kegiatan menggambar, menjiblak/ngeblat, melatih dasar-dasar
menulis.
Pengenalan huruf dengan menulis dikelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai
dengan perkembangan siswa, yaitu :
a. Menulis Permulaan dengan Huruf Kecil
Menulis permulaan dengan menggunakan huruf kecil diajarkan dikelas I semester I
SD.Proses kegiatan belajar menulis di SD terutama dikelas I dan II selalu dilakukan melalui
proses : mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis kerangka, menulis naskah jadi, dan
memajangkan (Subana :2008:31).
Menulis permulaan d SD dapat dilakukan dengan tahapan, yaitu :
1. Berlatih menulis di awang-awang
2. Berlatih menulis dipunggung teman
3. Berlatih menulis di pasir
4. Berlatih mengeblat
5. Berlatih menulis huruf lepas

b. Menulis Tegak Bersambung


Menulis huruf tegak tersambung atau menulis harus memiliki banyak manfaat bagi anak-
anak.Ketika anak menulis dngan tangan,sensori motorik halus, sentuhan, dan visual anak akan
aktif secara bersamaan.Proses penggoresan garis tegak yang tebal dan garis miring yang tipis
pada huruf tegak yang tebal dan garis miring yang tipis pada huruf tegak bersambung melatih
anak tentang ketegasan, kelembutan, dan ketekunan.Karena itu, sekalipun zaman sudah serba
kompute dan digital, tidak ada salahnya kita tetap mengajarkan anak cara menulis huruf tegak
bersambung.

c. Menulis Permulaan dengan Huruf Kapital pada Huruf Awal Kata Permulaan Kalimat
Menulis permulaan dengan memperkenalkan cara menulis huruf besar atau huruf kapital
pada awal kalimat diajarkan dikelas II SD.Dalam pengajaran menulis permulaan ini, kapital pada
siswa ditugaskan untuk menuliskan kembali kalimat demi kalimat pada buku catatan pada
masing-masing.Disamping itu dapat pula para siswa ditugaskan untuk menceritakan kembali isi
bacaan tersebut dengan secara tertulis.Untuk membantu mereka dalam menuliskan kembali isi
bacaan, antara lain dapat dibantu oleh guru dengan cara menuliskan kata-kata pokok dalam
kalimat.
d. Menulis Ejaan
Ejaan adalah cara atau aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu
bahasa(Tarigan, 1991:2).Pada pengertian itu ternyata menulis ejaan ialah menulis sesuai dengan
ketentuan yang harus dilaksanakan dalam menuliskan kata-kata dengan huruf.

2. Menulis Lanjut
Ragam tulisan dapat didasarkan pada isi tulisan pada menulis lanjut, isi tulisan
mempengaruhi jenis informasi, pengorganisasian, dan jenis menulis.Berdasarkan ragam tersebut
jenis menulis dibedakan menjadi empat: deskripsi, eksposisi, argumentasi, narasi.Keraf(1993:6)
berpendapat bahwa jenis menulis didasarkan pada tujuan umum, berdasarkan hal tersebut
menulis dapat dibedakan menjadi lima: desripsi, eksposisi, argumentasi, narasi dan persuaisi.
a. Deskripsi
Kata deskripsi berasal dari bahasa latin describere yang berarti menggambarkan atau
memberikan sesuat hal.Jadi, menulis deskripsi adalah menulis dengan menceritakan kedaan
sesuai dengan aslinya sehingga pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penulis.
Tujuan deskripsi adalah membentuk gambaran melalui ungkapan bahasa dari imajinasi pembaca
agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan memahami suatu sensasi atau emosi
(Anshori, 2007:10).
Menurut Sparno (2008:4:14), menulis deskripsi ada dua macam yaitu :
1. Deskripsi Ekspositori
Merupakan karangan yang sangat logis, biasanya merupakan daftar rincian atau hal yang
penting-penting saja yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis objek yang diamati.
2. Deskripsi Impresionatis
Merupakan karangan yang menggambarkan impresi penulisnya, atau untu menetralisir
pembacanya.
b. Eksposisi (Paparan)
Eksposisi berasal dari kata exposition yang berarti membuka.Dapat pula diartikan sebagai tulisan
yang bertujuan untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu
(Suparno, 2006:5:29).Langkah-langkah penulisan karangan eksposisi : (1) menentuan tema, (2)
menentukan tujuan karangan, (3) memilih data yang sesuai dengan tema, (4) membuat kerangka
karangan, (5) mengembangkan keranga menjadi karangan.
Ciri-ciri/karakteristik karangan eksposisi: (a) menjelaskan informasi agar pembaca
mengetahuinya, (b) menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data faktual), (c) tidak
terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak, (d) menunjukkan sebuah peristiwa
yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu.
Berdasarkan cara atau metode penguraiannya, karangan eksposisi dapat dibedakan ke dalam
beberapa karangan, antara lain:
1) Eksposisi Definisi
2) Eksposisi Proses
3) Eksposisi Klasifikasi
4) Ekasposisi Ilstrasi (Contoh)
5) Eksposisi Perbandingan dan Pertentangan
6) Eksposisi Laporan

c. Argumentasi (Bahasan)
Argumentasi adalah tulisan yang berisi atas paparan alasan dan pendapat untuk mumbuat
suatu kesimpulan (Suparno : 2008:5:56).Argumentasi ditulis untuk memberikan alasan,
mmperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.Jadi, setiap karangan
argumentasi selalu terdapat alasan atau argumen tentang bantahan terhadap suatu pendapat atau
penguatan terhadap pendapat tersebut.Langkah-langkah menulis argumentasi antara lain :
a. Membuat topik
b. Menetapkan tujuan karangan
c. Melakukan observasi lapangan
d. Membuat kerangka karangan
e. Mengembangkan kerangka karangan
f. Membuat kesimpulan

d. Narasi (Kisahan)
Karangan narasi berisi penyampaian rangkaian peristiwa menurut urutan kejadiannya,
dengan maksud memberi arti pada suatu kejadian.Menoleh devenisi yang dipaparkan oleh
Suparno (2006:4:54) bahwa narasi adalah tulisan yang menyajikan serangkaian
peristiwa.Menurut Gorys Keraf (200:136) cii-ciri karangan narasi adalah ; (1) menonjolkan unsur
perbuatan atau tindakan, (2) dirangkai dalam urutan waktu, (3) berusaha menjawab pertanyaan
“apa yang terjadi?”, dan (4) ada konflik.Tujuan menulis narasi ada dua, yaitu hendak
memberikan informasi atau memberikan wawasan dan memperluas pengetahuan kepada
pembaca, dan memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.
Jenis-jenis narasi terdiri atas lima, jenis narasi akan dijabarkan sebagai berkut :
1) Narasi Informasi
Adalah narasi yang memilik sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa
dengan tujuan mmperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.
2) Narasi Ekspositorik
Adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa
dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.Dlam narasi ekspositorik,
penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya.
3) Narasi Objektif atau Artistik
Adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu
amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.
4) Narasi Sugestif
Adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu
amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-lah melihat.
c. Persuasi
Persuasi adalah tulisan yang bermaksud mempengaruhi orang lain. Dalam persuasi selain logika
perasaan juga memegang peranan penting.
Langkah-langkah menulis persuasi adalah sbagai berikut:
a. Menentukan topik dan tujuan
b. Membuat kerangka karangan
c. Mengumpulkan bahan
d. Menarik kesimpulan
e. Penutup

E. Proses Menulis
Langkah-langkah dalam proses menulis ada tiga. Agar tulisan anda rapid an benar lalui
semua langkah berikut , yaitu pra menulis, saat menulis dan pasca menulis. Banyak orang gagal
menulis karena tidak melakukan proses tesebut dengan lengkap. Atau mungkin tulisan jadi, tapi
tidak maksimal.
1. Pra Menulis
Pra menulis merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis melakuksn berbagai
kegiatan, misalnya menemukan ide gagasan, menentukan judul karangan, menentukan judul,
memilih bentuk atau jenis tulisan, membuat kerangka dan mengumpulksn bahan-bahan. Ide
gagasan bersumber dari pengalaman, observasi, buku bacaan dan imajinasi. .
Pengembangan ide ke dalam kerangka karangan dapat menggunakan berbagai pola
pengembangan. Secara umum, kerangka karangan terdiri atas tiga bagian , yaitu pendahuluan,
pengembangan dan penutup. Pengembanga dapat dilakukan dengan dua pola yaitu pola alamiah
dan rasional. Pola alamiah adla pola pengembangan yang disesuaikan dengan urutan waktu
terjadinya peristiwa dan urutan tempat atau ruang (space order). Sedangkan pola pengembangan
rasional dilakuan berdasarkan urutan sebab akibat, problem solving (pemecahan masalah), aspek
da topik.

2. Saat Menulis
Tahap enulisan dimulai dengan menjabarkan ide ke dalam bentuk tulisan. Pada tahap ini
memerlukan berbagai pengetahuan kebahasaan dan teknik penulisan. Pengetahan kebahasaan
digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa, pembentukan kalimat sedangkan teknik
penulisa untuk penyusunan paragraph sampai dengan penyusunan karangan secara utuh.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan pada saat menentukan judul, antara lain (1)singkst,
(2) provokatif, (3) relevan dengan isi.

3. Pasca Menulis
Pasca menulis terdiri atas tiga yaitu merevisi atau mengubah, mengedit dan menyajikan atau
mempublikasikan tulisan. Ketiga langkah tersebut daoat dijelaskan sebagai berikut :
a. Merevisi atau mengubah
Pada tahap merevisi dilakukan dengan koreksi terhadap keseluruhan karangan. Koreksi dilakuka
terhadap berbagai aspek misalnya, struktur krangan dan kebahasaan. Pada tahap ini masih
dimungkinkan mengubah judul karangan apabila judul yg telah ditentukan kurang tepat.
b. Mengedit
Dalam pengeditan ini diperlukan format buku yang akan menjadi acuan, misalnya ukuran kertas,
bentuk tulidan dan pengaturan spasi. Proses pengeditan dapat diperluas dan disempurnakan
dengan penyedian gambar atau ilustrasi.
c. Menyajikan atau mempublikasikan tulisan
Mempublikasikan tulisan merupakan menyampaikan karangan kepada publik dalam bentuk
cetakan dan tidak dalam bentuk cetakan. Contoh penyampaian tanpa cetakan dilakukan dengan
pementasan, penceritaan , peragaan dsb. Karangan ebrbentuk cerita anak disampaikan melalui
majalah.

F. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Menulis


a. RPP Menulis Menggunakan KTSP Adapun komponennya yaitu :
1. Standar Kompetensi
2. kompetensi Dasar
3. indicator
4. Tujuan Pembelajaran
5. deskripsi Materi
6. Metode /strategi
7. langkah-langkah Pembelajaran
8. Sumber Belajar
9. Penilaian

b. RPP Menulis Menggunakan Kurikulum 2013


Adapun komponennya yaitu :
1. Kompetensi Intidan Indika
2. Kompetensi Dasar dan Indikator
3. Tujuan Pembelajaran
4. metode dan Pendekatan
5. Materi Pembelajaran
6. Media, alat dan Sumber Belajar
7.Langkah-langkah pembelajaran
8. Penilaian
BAB V APRESIASI SASTRA
A. Pengertian Sastra
Sastra berasal dari kata Castra berarti tulisan. Dari makna asalnya dulu, sastra meliputi
segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan,
kitab-kitab suci, surat-surat, undang0undang, dan sebagainya. Sastra dalam arti khusus yang kita
gunakan dalam konteks kebudayaan adalahekspersi gagasan dan persaan manusia. Jadi
pengertian sastra sebagai hasil budaya yang dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk
mengungkapkan gagasannya melalui n=bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya.
Banyak ahli yang mendefinisikan pengertian mnegenai sastra, diantaranya:
1. Zainuddin (1992:99) menyatakan bahwa, “Sastra adalah karya seni yang dikarang
menurut standar bahasa kesusastraan”. Standar kesusastraan yang dimaksud adalah penggunaan
kata-kata yang indah dan gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik. Sedangkan kesusastraan
adalah karya seni yang mengungkapkannya baik dan diwujudkan dalam bentuk bahasa yang
indah.
2. Esten (1993:9) mendefinisikan “Sastraatau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta
artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (masyarakat) melalui bahasa
sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan)”.
3. Semi (1988:8) mengungkapkan “Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni
kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan mengggunakan bahasa sebagai
mediumnya”
4. Sudjiman (1991:68) mendefinikan :Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki
berbagai ciri keunggulan seperti keorisinilan, keartisikan, keindahan dalam bagian isi, dan
ungkapnnya..”
Gambaran pengertian oleh para ahli membuka cakrawala untuk memahamibahwa sastra
merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan karya seni kreatif secaralisan dan tulisan berupa
gambaran dari kenyataan yang dikarang menurut standarbahasa kesusastraan, yaitu penggunaan
kata-kata yang indah dan gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik.

B. Manfaat Sastra
Menurut Lazar (2002:15-19) beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pemebelajaran sastra,
antara lain yaitu :
Pertama, sastra dapat memberikan motivasi kepada siswa.
Kedua, sastra merupakan akses latar belakang budaya.
Ketiga, sastra merupakan akses pemerolehan bahasa.
Keempat, sastra memperluas perhatian siswa terhadap variasi bahasa.
Kelima, sastra mendidik siswa secara keseluruhan.

C. Tujuan Sastra
Tujuan umum pembelajaran sastra merupakan bagian dari tujuan peyelenggaraan
pendidikan nasioal yaitu mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyrakat, bangsa, dan negara. Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tujuan
khusus di bawah ini.
1. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta
kematangan emosional dan sosial.
2. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi
pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
3. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual
manusia Indonesia.

D. Jenis-jenis Sastra
Sastra dapat dikelompokkan menjadi prosa, puisi, dan drama. Prosa juga terbagi menjadi
prosa lama dan prosa baru. Begitu juga dengan puisi, puisi terdiri dari puisi lama dan puisi baru.
Berikut penjabaran tentang prosa, puisi, dan drama.
1. Prosa
Prosa merupakan karya sastra yang bersifat menguraikan atau mendeskripsikan suatu fakta
ataupun isi pikiran dan perasaan secara jelas serta tidak terikat pada syarat-syarat tertentu. Jenis
tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa
dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis
media lainnya. Prosa juga disebut dengan karangan bebas. Prosa terdiri atas prosa lama dan prosa
baru.
a. Prosa Lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan
barat. Prosa lama mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum
dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia,
masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Prosa lama
terdiri atas:
1) Dongeng
Dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi dan dalam banyak hal sering tidak masuk
akal (Nurgiyantoro, 2005:198). Jenis-jenis dongeng berdasarkan isinya, yaitu: mite, legenda,
fabel, cerita jenaka, farabel, dan sage.
a. Mite
Menurut Bascom (dalam Danandjaja, 2007:50) Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat
yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain
(kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh empu cerita atau
penganutnya dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat dan
dongeng suci.

b. Legenda
Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi oleh pemilik cerita
yang ceritanya dihubungkan dengan tokoh sejarah dan tempat tertentu, telah dibumbui dengan
keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokoh.
c. Fabel
Fabel memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Bentuknya cerita pendek, (2) Kebanyakan terdiri dari
2 hewan sebagai tokoh utama. Tokoh bisa juga berupa tumbuhan, (3) Tidak ada waktu yang
tepat, (4) Tokoh menggambarkan karakteristik manusia, (5) Ada binatang dengan karakteristik
berlawanan (kuat-lemah, kecil-besar, cerdas-bodoh), (6) Bersifat menghibur dan mendidik, (7)
Isi ceritanya dirancang lucu dan menyindir.
d. Cerita Jenaka
Cerita jenaka adalah cerita yang berisikan kejadian lucu yang terjadi pada masa lalu. Cerita
jenaka terbagi kepada dua jenis: (1) cerita jenaka tempatan dan (2) cerita jenaka pengaruh
asing/luar.
e. Parabel
Parabel yaitu dongeng atau cerita rekaan yang mengandung nilainilai pendidikan untuk
menyampaikan ajaran agama, moral, atau kebenaran umum dengan menggunakan perbandingan
atau ibarat. Parabel menggunakan gabungan manusia dan hewan sebagai tokoh cerita.
f. Sage
Sage yaitu dongeng yang mengandung unsur sejarah atau kisah kepahlawanan.
1) Cerita Sejarah
Cerita sejarah adalah cerita yang berisi tentang sejarah yang dipadukan dengan hal-hal yang
kurang masuk akal.
2) Cerita Pelipur Lara
Cerita pelipur lara adalah cerita yang digunakan sebagai hiburan berupa kisah raja, putri raja
yang cantik, atau putera raja yang gagah berani.
3) Cerita-cerita Berbingkai
Cerita berbingkai adalah cerita yang menceritakan sebuah kejadian dalam pelaku utama atau
pelaku pendamping, lalu dalam cerita pelaku utama atau pelaku pendamping juga menceritakan
kisah lain sehingga menimbulkan cerita kedua atau ketiga.
4) Wiracerita (Epos)
Epos adalah cerita kepahlawanan atau syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan
seorang pahlawan yang hidup terus menerus di tengah bangsa dan masyarakat.
5) Kitab
Kitab adalah cerita yang berisi tentang hukum, aturan, budi pekerti, raja yang bijaksana dan ahli
dalam pemerintahan, tentang hukum adat, dan agama.
6) Hikayat
Hikayat berasal dari India dan Arab. Hikayat berisikan cerita para dewa, peri, pangeran, putri,
ataupun kehidupan para bangsawan. Hikayat banyak dipenuhi cerita-cerita gaib dan berbagai
kesaktian. Karena tokoh dan latarnya banyak yang mengambil dari sejarah, cerita terselubung
sering disebut cerita sejarah.

b. Prosa Baru
Prosa baru merupakan pancaran dari masyarakat baru. Ciri-ciri prosa baru yaitu: (1) Dinamis,
perubahannya cepat. (2) Rakyat sentris, mengambil bahan dari rakyat sekitar. (3) Realistis,
bentuknya roman, novel, cerpen, drama, kisah, dan sebagainya. (4) Dipengaruhi sastra barat. (5)
Nama pencipta selalu dicantumkan. Jenis-jenis prosa baru adalah:
1) Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala
suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak
sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Berdasarkan isinya, roman dapat dibagi
menjadi roman sejarah, roman sosial, roman jiwa, dan roman tendens.

2) Novel
Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang
terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik mengakibatkan perubahan
nasib pelaku. Novel condong pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan
lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus dan Keluarga Gerilya oleh Pramoedya
Ananta Toer.
3) Cerpen
Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya
yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, tetapi hal
itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan
Anwar dan Bola Lampu oleh Asrul Sani.
4) Riwayat
Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup
pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga
dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.J
Habibie, Ki Hajar Dewantara, dan Chairul Tanjung Si Anak Singkong.
5) Kritik
Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan
memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan
menghakimi.
6) Resensi
Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku,film, drama, dan lain-lain).
Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek seperti
tema, alur, perwatakan, dialog, dan lain-lain, sering juga disertai dengan penilaian dan saran
tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

7) Esai
Esai adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi
penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup,tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang
budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dan lain-lain.
8) Kisah Perjalanan
Kisah perjalanan adalah karangan cerita yang mengungkapkan sesuatu yang pernah dialami
seseorang dalam perjalanan. Contohnya seperti karangan Adinegoro berjudul Melewat ke Barat.
1. Puisi
Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dandiberi irama dengan
bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif) (Sumardi:1995:47).
a. Puisi Lama
Ciri puisi lama: (1) Merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal nama pengarangnya. (2)
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan. (3) Sangat terikat oleh aturan-
aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Berikut adalah jenis-jenis
puisi lama.
1) Mantera
Mantera merupakan karya sastra lama yang berisi pujian-pujian terhadap sesuatu yang gaib atau
yang dikeramatkan, seperti dewa, roh, dan binatang. Contoh mantera: Mantera penutup luka.
2) Pantun
Pantun merupakan puisi lama yang terdiri dari empat baris dalam satu baitnya. Baris pertama dan
kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempatnya adalah isi. Bunyi terakhir
pada kalimat-kalimatnya berpola a-b-a-b. Tiap larik terdiri atas 8-12 suku kata.

3) Seloka
Seloka disebut juga dengan pantun berbingkai. Bedanya dengan pantun, kalimat ke-2 dan ke-4
pada bait pertama diulang kembali dan menjadi kalimat ke-1 dan ke-3 pada bait keduanya.
Pengulangan itu dilakukan terusmenerus sehingga bait-bait dalam puisi sambung-menyambung.
4) Talibun
Talibun adalah pantun yang susunannya terdiri atas enam, delapan, atau sepuluh baris.
Pembagian baitnya sama dangan pantun biasa, tiga baris pertama marupakan sampiran dan tiga
baris berikutnya merupakan isi.
5) Karmina
Karmina atau pantun kilat ialah pantun yang terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan
sampuran dan baris kedua isinya.
6) Gurindam
Gurindam disebut juga sajak pribahasa atau sajak dua seuntai. Gurindam terdiri atas dua kalimat.
Kalimat pertama berhubungan langsung dengan kalimat keduanya. Kalimat pertama selalu
menyatakan pikiran atau pristiwa sedangkan kalimat keduanya menyatakan keterangan atau
penjelasan.
7) Syair
Dilihat dari jumlah barisnya, syair hampir sama dengan pantun, yakni sama-sama terdiri atas
empat baris. Syair bersajak a-a-a-a. Syair tidak memiliki sampiran.
b. Puisi Baru/Modern
Ciri-ciri puisi baru: (1) Bentuknya rapi, simetris; (2) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
(3) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain; (4)
Sebagian besar puisi empat seuntai; (5) Tiap-tiap barisnya terdiri atas sebuah gatra (kesatuan
sintaksis); dan (6) Tiapgatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar): 4-5 suku kata. Jenis-jenis
puisi baru menurut isinya, puisi dibedakan atas:
1) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing
dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah
menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-
bait berikutnya. Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya
Seorang Pemberontak”.
2) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu
pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater
(Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne
diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru,
pahlawan, dewa, dan Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
3) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi
(metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik
terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
4) Elegi, yaitu puisi atau sajak duka nestapa.
5) Epigram, yaitu puisi atau sajak yang mengandung bisikan hidup yang baik dan benar,
mengandung ajaran nasihat dan pendidikan agama.
6) Satire, yaitu sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme)
kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.
7) Romance, yaitu sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih
kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian, dan sebagainya.

2. Drama
Secara umum, pengertian drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan
maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskahdrama dikenal dengan istilah teater.
Selanjutnya, dalam pengertian sekarang, yang dimaksud drama adalah cerita yang diperagakan di
panggung berdasarkan naskah. Pada umumnya, drama mempunyai dua arti, yaitu drama dalam
arti luas dan drama dalam arti sempit. Dalam arti luas, pengertian drama adalah semua bentuk
tontonan yang mengandung cerita yang dipertunjukkan di depan orang banyak.
Dalam arti sempit, pengertian drama adalah kisah hidup manusia dalam masyarakat yang
diproyeksikan ke atas panggung (Wijayanto, 2007:2). Unsur-unsur yang terdapat di dalam
drama, yaitu: (1) Tema. (2) Alur. (3) Tokoh drama atau pelaku drama terdiri dari tokoh utama
dan tokoh pembantu. (4) Watak. (5) Latar atau setting. (6) Amanat drama. Ciri-ciri yang
membedakan teks drama dengan teks lainnya di antaranya, yaitu: (1) Seluruh cerita berbentuk
dialog, baik tokoh maupun narator. Inilah ciri utama naskah dialog, semua ucapan ditulis dalam
teks. (2) Semua dialog tidak menggunakan tanda petik (“…”). (3) Naskah drama dilengkapi
petunjuk tertentu yang harus dilakukan tokoh pemerannya. Petunjuk itu ditulis dalam tanda
kurung (…) atau dengan memberikan jenis huruf yang berbeda dengan huruf dialog. (4) Naskah
drama terletak di atas dialog atau disamping kiri dialog.
BAB III
KEUNGGULAN BUKU

A. KETERKAITAN ANTAR BAB


Buku ini saling berbubungan antar bab satu dengan bab yang lainnya. Setiap bab penulis
membuat satu kesimpulannya yang dapat dimengerti.

B. KEMUTAKHIRAN BUKU
Kemuktakhiran buku bisa dijadikan pedoman dalam mengajar di kelas. Dan buku ini
memiliki cover yang menarik sehingga dapat menarik minat pembaca untuk membaca isi buku
ini

C. ANALISIS BAHASA
Bahasa yang digunakan dalam buku ini adalah bahasa yang mudah dimengerti. Begitu
juga dengan tata penulisan sangat rapi sehingga memudahkan pembaca untuk membacanya. Dan
buku sangat menarik untuk dibaca
BAB IV
KELEMAHAN BUKU

A. KETERKAITAN ANTAR BAB


Keterkaitan antar bab yang membuat buku ini memiliki kekurangan yaitu setiap babnya
terlalu banyak memasukkan pendapat para ahli.

B. KEMUKTAKHIRAN BUKU
Kemuktakhiran buku yang membuat buku ini memiliki kekurangan yaitu penulis tidak
menyertakan gambar atau ilustrasi yang menarik sehingga terkesan sedikit membosankan ketika
membaca buku ini.
BAB V
IMPLIKASI

A. IMPLIKASI TERHADAP TEORI


Buku ini mengggunakan implikasi terhadap teori disetiap babnya dengan 3 atau lebih
menurut pendapat para ahli.

B. IMPLIKASI TERHADAP PROGRAM PEMBANGUNAN DI INDONESIA


Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengemukakan ada enam
implikasi terhadap kebijakan pembangunan manusia, enam implikasi kebijakan itu terdiri dari
pertama pembangunan yang proaktif, kedua pemanfaatan pasar-pasar global, ketiga inovasi
kebijakan social, keempat momentum yang berkelanjutan, kelima disain baru untuk era baru,
yang terakhir menurutnya yaitu institusi baru, mekanisme baru.
“Negara Pembangunan yang proaktif menurut Sharief yaitu mempunyai komitmen
jangka panjang untuk pembangunan manusia, secara aktif mempromosikan penciptaan lapangan
pekerjaan, selalu meningkatkan investasi public untuk kesehatan dan pendidikan, serta selalu
membina kapasitas industrial”.ujarnya saat menjadi nara sumber pada acara Workshop
Penentuan Tema PHDR Provinsi kepulauan Bangka Belitung, selasa (7/5/2013) di Hotel Aston
PangkalanBaru Bangka Tengah. Sedangkan tiga pemanfataan pasar global menurutnya adalah
investasi manusia untuk memanfaatkan dengan baik kesempatan untuk perdangangan, kedua
investasi infrastruktur untuk memfasilitasi akses terhadap pasar, terakhir yaitu ekspansi ke pasar
yang non tradisonal.
Empat inovasi kebijakan social, Negara Turkey melalui pelayanan kesehatan untuk
semua orang dan mentargetkan yang miskin, sedangkan Negara Brazil melalui ekspansi akses
pendidikan dengan mengimbangkan pendanaan antar daerah dan antar kota, Negara Mexico
melalui pengentasan kemiskinan melalui program cash transfer yang inovatif, sedangkan Negara
india memperluas jangkauan keuntungan pembangunan kepada masyarakat kunci yang lebih luas
untuk mempercepat kemajuan.
C. PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Upaya menciptakan proses pembelajaran keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra
Indonesia di SD yang bermutu dapat dilakukan dengan penguasaan subtansi dan kemampuan
aplikasi yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra Indonesia di SD.
Oleh sebab itu, diperlukan buku yang mampu menyajikan secara komprehensif mengenai teori
dan aplikasi pembelajaran keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra Indonesia di SD.
Buku Mozaik Keterampilan Berbahasa di SD ini merupakan salah satu sumber yang
mampu menjawab tantangan di atas. Buku ini berbicara tentang teori dan aplikasi keterampilan
berbahasa dan apresiasi sastra Indonesia di SD. Pokok bahasan dalam buku ini meliputi: teori
dan aplikasi mengenai keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca,
keterampilan menulis, dan apresiasi sastra di SD. Misi dan tujuan utamanya adalah untuk
memberikan wawasan pengetahuan yang mendasari keterampilan menyajikan bahasa dan
apresiasi sastra Indonesia di SD, melatih keterampilan merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi pembelajaran, serta mengembangkan sikap positif, rasa tanggung jawab, dan
santun berbahasa. Dengan demikian, dengan buku ini diharapkan dapat menambah wawasan
pembaca, mahasiswa, guru, dosen, dan pemerhati pembelajaran dalam upaya meningkatkan
keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra Indonesia di SD. Suguhan buku ini sangat cocok
untuk memcnuhi kebutuhan matakuliah wajib untuk jurusan PGSD/PGMI dalam pendidikan di
Indonesia.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Setelah dipaparkan kelebihan dan kekurangan buku, maka dapat saya simpulakan bahwa :
. Buku ini berbicara tentang teori dan aplikasi keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra
Indonesia di SD. Pokok bahasan dalam buku ini meliputi: teori dan aplikasi mengenai
keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, keterampilan menulis,
dan apresiasi sastra di SD. Misi dan tujuan utamanya adalah untuk memberikan wawasan
pengetahuan yang mendasari keterampilan menyajikan bahasa dan apresiasi sastra Indonesia di
SD, melatih keterampilan merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran, serta
mengembangkan sikap positif, rasa tanggung jawab, dan santun berbahasa. Dengan demikian,
dengan buku ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca, mahasiswa, guru, dosen, dan
pemerhati pembelajaran dalam upaya meningkatkan keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra
Indonesia di SD. Suguhan buku ini sangat cocok untuk memcnuhi kebutuhan matakuliah wajib
untuk jurusan PGSD/PGMI dalam pendidikan di Indonesia.

B. SARAN
Setelah pengkritisi menguraikan kelebihan,kelemahan buku. Maka pengkritisi
menyarankan Semoga riview ini membantu Guru-guru maupun calon Guru untuk menjadi guru
yang professional dan berhasil dalam melakukan pengelolaan kelas. Karena keberhasilan dalam
proses belajar mengajar merupakan keberhasilan pula dalam pengelolaan kelas.
DAFTAR PUSTAKA

Taufina. (2016). Mozaik Keterampilan Berbahasa Di Sekolah Dasar. Bandung. CV.Angkasa.