Anda di halaman 1dari 13

Bab II Landasan Teori

2.1. Teori Dasar


Difusi merupakan suatu fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari,
seperti lantai yang basah dalam kurun waktu tertentu akan kembali kering. Difusi merupakan
salah satu peristiwa perpindahan massa. Massa akan berpindah dari suatu keadaan yang
memiliki konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Perpindahan massa yang terjadi dapat
berlangsung dalam fasa gas maupun dalam fasa cair. Peristiwa difusi akan terus berlangsung
hingga tercapainya kondisi kesetimbangan antara dua keadaan dimana sebelumnya terdapat
perbedaan besarnya konsentrasi suatu komponen pada masing-masing keadaan. Oleh karena
itu proses difusi akan dapat berlangsung secara kontinyu apabila dipertahankan perbedaan
(gradien) konsentrasinya antara kedua keadaan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengalirkan fluida yang merupakan tempat akan berdifusinya suatu molekul.
Difusi molekular dapat didefinisikan sebagai perpindahan atau pergerakan suatu molekul
melewati suatu fluida dengan pergerakan yang acak. Kita dapat membayangkan suatu molekul
yang bergerak lurus dan kemudian akan bergerak dengan acak akibat tabrakan dengan molekul
yang lain. Karena pergerakan melekul berlangsung dalam gerakan acak, maka pergerakan
molekul sering disebut sebagai Random-Walk Process.

Gambar 1.1. Gerakan acak pada proses difusi

Pada gambar.1 diilustrasikan bahwa proses difusi molekular berlangsung dalam arah
yang acak. Molekul A akan berdifusi melalui molekul B dari bagian bawah ke bagian atas. Hal
ini disebabkan karena molekul A lebih terkonsentrasi pada bagian bawah dibandingkan pada
bagian atas maka molekul A akan nerdifusi ke bagian atas molekul B.

Sebagai contoh lain adalah tinta biru yang diteteskan dalam air bening. Tinta akan
berdifusi perlahan-lahan ke seluruh bagian air hingga diperoleh kondisi kesetimbangan (tidak
adanya gradien konsentrasi). Untuk menaikkan laju difusi dapat dilakukan pengadukan,
sehingga kondisi kesetimbanga dapat lebih cepat dicapai.
Difusi tidak terbatas hanya pada perpindahan lapisan stagnan (diam) zat padat atau zat
cair saja. Difusi juga terjadi dalam fase fluida pencampuran fisika dan pusaran Eddy aliran
turbulen, sama seperti aliran kalor dalam fluida dapat terjadi karena konveksi. Peristiwa ini
disebut difusi pusaran (Eddy diffusion).

Pada fluida yang mengandung banyak komponen yang akan berdifusi dalam keadaan
diam berlaku hukum Frick untuk campuran antara hukum A dan B,yaitu :
dx A
J*AZ = -cDAB (1)
dz
Keterangan :
J*AZ = flux molar komponen A pada arah sumbu z untuk arah molekular (kgmolA/s.m2)
DAB = difusi molekular molekul A melalui B (m2/s)
z = jarak difusi (m)

c = konsentrasi A dan B (kgmol/m3)


xA = fraksi mol dari A dari campuran A dan B.
Jika c adalah konstan, karena cA = cxA maka :
cdxA = d(cxA) = dcA (2)
Substitusikan persamaan (1) ke persamaan (2) menghasilkan persamaan difusi untuk
konsentrasi yang konstan :
dc A
J*AZ = -DAB (3)
dz
Persamaan (3) umumnya digunakan dalam berbagai aplikasi proses difusi molekular.
Apabila nilai c bervariasi, maka yang digunakan dalam persamaan (3) adalah nilai konsentrasi
rata-ratanya.
Untuk aliran massa yang turbulen dengan konsentrasi yang konstan berlaku persamaan
:
dc A
J*AZ = -(DAB + εM) (4)
dz
Dimana εM difusivitas massa turbulen ataudengan satuan m2/s.

2.1.1. Difusi Molekular Gas


Pada gambar.2 dua gas A dan B pada tekanan total P dalam dua buah tangki yang
dihubungkan oleh pipa dimana difusi molekular dalam keadaan steady state terjadi.
Gambar 1.2. Equimolar counterdiffusion untuk gas A dan B

Putaran pengaduk menjaga agar konsentrasi pada setiap tangki adalah homogen/uniform.
Tekanan parsial pA1 > pA2 dan pB2 > pB1. Molekul A akan berdifusi ke tangki sebelah kanan dan
molekul B akan berdifusi ke tangki sebalah kiri. Karena tekanan total P konstan, maka junlah
total molekul A yang berdifusi ke tangki sebelah kanan harus sama dengan jumlah molekul B
yang berdifusi ka tangki sebelah kiri. Jika hal ini tidak berlangsung maka tekanan total tidak
akan konstan. Hal ini berarti :
J*AZ = -J*BZ (5)
Dimana subscript z menunjukkan arah difusi molekular.
Hukum fick molekul b untuk konsentrasi yang konstan :
dc B
J*B = -DBA (6)
dz
Karena P = pA + pB = konstan, maka :
c = cA + cB (7)
Dengan mendiferensialkan kedua sisi,
dcA = -dcB (8)
mensubstitusi persamaan (8) ke (6) diperoleh :
dc A dc A
J*AZ = -DAB = -J*B = - (-) DAB (9)
dz dz
Mensubstitusi persamaan (8) ke (9) didapat,
DAB = DBA (10)
Persamaan tersebut menunjukkan pada campuran biner gas A dan gas B koefisien difusi D AB
untuk A berdifusi melalui B akan sama dengan DBA, koefisien difusi B melalui A.
Kasus khusus dimana molekul A berdifusi melalui bagian stagnan, molekul B tidak
berdifusi
Peristiwa berdifusinya molekul A melalui molekul B yang tidak berdifusi sering terjadi.
Pada keadaan ini terdapat daerah batas yang tidak memungkinkan molekul B berdifusi ke
dalam daerah yang lebih banyak molekul B.
Sebagai contoh adalah berdifusinya aseton (A) yang terdapat pada bagian bawah pipa
kapiler menuju bagian atas dimana terdapat molekul udara (B) yang mengalir pada bagian atas.
Dapat diilustrasikan pada gambar 3.

Gambar 1.3. difusi komponen A melalui komponen B yang tidak bergerak : (a) difusi aseton ke udara, (b)
ammonia diabsorb oleh air.

Molekul udara (B) tidak dapat berdifusi ke daerah yang mayoritas aseton, hal ini
disebabkan oleh karena adanya daerah batas 1 dimana udara tidak dapat larut dalam aseton.
Pada titik 2 tekanan parsial pA= 0, karena tidak sebanding dengan volume udara yang melalui
titik tersebut.

Contoh lainnya adalah seperti ditunjukkan pada gambar dimana terjadi absorbsi uap NH3
(A) yang berada dalam udara menuju air. Permukaan air bersifat imepermebel terhadap uadara
(B), karena udara hanya sedikit larut dalam air. Karena komponen B tidak dapat berdifusi,
maka NB = 0.

Untuk menurunkan persamaan difusi komponen A melalui komponen B yang tidak dapat
berdifusi dapat disubstitusi dengan persamaan umum :
dx A c
NA = -cDAB + A (NA + NB), untuk NB = 0, maka :
dz c
dx A c
NA = -cDAB + A (NA + 0) (11)
dz c
Karena tekanan total p adalah konstan, dengan mensubstitusi persamaan c=P/RT, pA=xAP,
cA/c=pA/P ke persamaan (11) diperoleh :
D AB dp A P
NA = + A NA (12)
RT d z P

Dengan menyusun ulang persamaan tersebut untuk kemudian diintegrasikan :

 P  D dp A
NA = 1  A  = - AB (13)
 P RT d z
z2 PA1
D AB dPA
NA  dz =
z1 RT  1 p
PA 2 A /P
(14)

DAB P P  PA2
NA = ln (15)
RT ( z 2  z1 ) P  PA1
Persamaan (15) merupakan persamaan akhir yang dapat digunakan untuk menghitung flux A.
karena P = pA1 + pB2 = pA2 + pB2, maka pB1 = P – pA1 dan pB2 = P – pA2. Persamaan tersebut juga
sering dituliskan dalam bentuk lain, nilai log mean inert B dapat didefinisikan sebagai berikut
:
PB 2  PB1 PA2  PA1
PBM =  (16)
ln( PB 2 / PB1 ) ln[( P  PA2 ) /( P  PA1 )]
Dengan mensubstitusikan dengan persamaan sebelumnya diperoleh :
D AB P
NA = ( PA1  PA2 ) (17)
RT ( z 2  z1 ) PBM

 Koefisien Difusi Gas

Salah satu metode penentuan koefisien difusi gas adalah dengan menggunakan tabung
kapiler yang diisi dengan cairan A murni dengan di atas bibir tabung dialirkan gas B horizontal.
Laju transfer massa diberikan oleh persamaan :
D AB PT ( PA1  PA2 )
NA = (18)
RTLPBM
Akibat penguapan maka cairan dalam tabung akan berkurang. Laju pengurangan cairan
dalam tabung adalah sama dengan flux NA dikalikan dengan luas area penampang tabung,
A dL
NAA = A (19)
BM A dt
Gabungan persamaan (18) dan (19) menghasilkan :
A M DAB PT
= ( PA1  PA2 ) (20)
BM A dt R.T .L.PBM

Dengan mengintegrasikan diperoleh :

A L t
D AB PT PBM
BM A L0 R.T .L.PBM ( PA1  PA2 ) to
LdL = dt (21)

2 BM A D AB PT ( PA1  PA2 )
L2 – L02 = t (22)
 A R.T .PBM
Karena gas B terus mengalir, maka konsentrasi gas A di bibir tabung selalu sama dengan nol
atau pA2 = 0.
Plot antara L2-L02 terhadap t akan memberikan slope S.
2 BM A D AB PT ( PA1 )
S= (23)
 A R.T .PBM
 A R.T .PBM 2BM A DAB PT ( PA1 )
DAB = (24)
2BM A DAB p
Dimana,  A = densitas cairan A

PB 2  PB1
PBM =
ln( PB 2 / PB1 )
PA1 = tekanan uap cairan A pada keadaan 1
DAB = koefisien difusi A dalam B
BMA = berat molokul A
P1 = tekanan total
T = temperature absolute

Persamaan gas ssecara semi empiris dapat dapat dituliskan melalui persamaan fuller sebagai
berikut :
1.00 x10 7 T 1.75 .(1 / M A  1 / M B ) 0.5
DAB = (25)
P  v A  3   v B  3 
1 1 2

 
Tabel 1.1. Difusifitas untuk berbagai jenis gas
Temperatur Difusifitas
Sistem
0C 0F (cm2/s)
Udara-NH3 0 273 0.198
0 273 0.220
Udara-H20 25 298 0.260
42 315 0.288
3 276 0.142
Udara-CO2
44 317 0.177
Udara-H2 0 273 0.611
Udara-C2H5OH 25 298 0.135
Udara-n-heksana 21 294 0.080
Udara-benzene 25 298 0.0962
Udara-toluena 25.9 298.9 0.086
0 273 0.0703
Udara-n-butanol
25.9 298.9 0.087
H2-CH4 25 298 0.726
25 298 0.784
H2-N2
85 358 1.052
H2-benzena 38.1 311.1 0.404

2.1.2. Difusi Molekular pada Cairan


Difusi yang terjadi pada suatu larutan sangat penting dalam proses industri, khususnya
pada proses separasi misalnya ekstraksi cair-cair, absorpsi gas dan distilasi. Difusi cairan juga
terjadi di alam misalnya berdifusinya garam pada air laut.
Laju difusi molekular untuk cairan lebih kecil apabila dibandingkan terhadap laju difusi
molekul gas. Hal ini disebabkan jarak antara molekul dalam fasa liquid lebih rapat apabila
dibandingkan dalam fasa gas. Umumnya koefisien difusi untuk gas lebih besar hingga 105 kali
koefisien difusi cairan. Namun flux pada gas tidak berbeda jauh dari flux dalam liquid yaitu
100 kali lebih cepat, hal itu disebabkan karena konsentrasi liquid lebih besar daripada
konsentrasi dalam fasa gas.

 Persamaan difusi untuk cairan


Jarak molekul dalam cairan lebih rapat daripada dalam fasa gas, maka densitas dan
hambatan difusi pada cairan akan lebih besar. Hal ini juga menyebabkan gaya interaksi antar
molekul sangat penting dalam difusi cairan. Perbedaan antara difusi cairan dan difusi gas
adalah bahwa pada difusi cairan difusifitas sering bergantung pada konsentrasi daripada
komponen yang berdifusi.
Equimolar counterdiffusion, dimulai dengan persamaan umum fick kita dapat
mensubstitusi untuk NA = NB pada keadaan steady state,

DAB (C A1  C A2 ) D AB C AV ( x A1  c A2 )
NA   (26)
z 2  z1 z 2  z1
Dimana, NA adalah flux komponen A dalam kgmol.A/s.m2, DAB adalah difusifitas A
melalui B dalam m2/s, cA1 merupakan konsentrasi komponen A dalam kgmol/m3 pada keadaan
1, dan xA1 fraksi mol komponen A dalam keadaan 1, dan cAV disefinisikan sebagai :
 1  
  2 
 
 1
M M2 
CAV =   (27)
 M  av 2
Dimana cAV merupakan konsentrasi rata-rata total dari A+B dalam kgmol/m3, M1
merupakan berat molekul rata-rata larutan pada keadaan 1 dalam kg masssa/ kgmol, dan ρ1
merupakan densitas rata-rata pada keadaan 1.

 Koefisien Difusi Cairan


Pada penentuan koefisien difusi cairan digunakan sel difusi. Sel difusi tersebut terdiri
atas N pipa kapiler yang panjangnya 5 mm dan diameternya 1 mm. Untuk satu pipa kapiler
proses difusi dapat digambarkan pada alat :

Gambar 1.4. Percobaan difusi cairan


Transfer nilai difusi :
dc A c A1  c A2
JA =  D  (28)
dL L
Jumlah mol yang telah berdifusi selama selang waktu dt melalui N pipa kapiler adalah:
 D. .d 2  c A1  c A2 
VtangkiX.dcA =    dt.N (29)
4  L 

dc A   .d 2  c A1  c A2 
Vtangki = N (30)
dt 4  L 
Jika k = CM.CA, dan dianggap CA2<<CA1 maka:
4.Vtan gki L dk
D= (31)
 .d 2 .C M .C A dt
Keterangan :
Vtangki = volume tangki
L = panjang pipa kapiler
N = jumlah pipa kapiler
D = diameter pipa kapiler
CA = konsentrasi/molaritas A
CM = perubahan konduktifitas per mol
K = konduktifitas dan tangki

Tabel 1.2. Koefisien Difusi Cairan (Geankopolis)


Temperatur Difusifitas
Solute Solvent 0
C 0
F (Cm2/S)
NH3 Air 12 285 1.64
15 288 1.77
O2 Air 18 291 1.98
25 298 2.41
CO2 Air 25 298 2
H2 Air 25 298 4.8
Metil Alkohol Air 15 288 1.26
Air 10 283 0.84
Etil Alkohol
25 298 1.24
9.7 282.7 0.769
Air
Acetic Acid 25 298 1.26
Benzena 25 298 2.09
Urea Etanol 12 285 0.54
Air Etanol 25 298 1.13
Air 25 298 1.87
KCL Etilen
25 298 0.119
Glikol
2.2. Prosedur Penelitian serta Alat dan Bahan

2.2.1. Koefisien Difusi Gas


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
 Pipa kapiler berbentuk T  berfungsi sebagai tempat aseton dan wadah proses difusi.
 Water bath dengan heater  digunakan untuk menaikkan temperatur dari aseton saat
pipa dicelupkan.
 Thermometer  digunakan untuk mengukur temperatur water bath.
 Thermostat  digunakan untuk menjaga agar temperatur water bath agar tetap.
 Pompa  digunakan untuk mengalirkan udara secara horisontal pada pipa kapiler.
 Alat ukur  digunakan untuk mengukur perubahan ketinggian dari aseton.
 Aseton  digunakan sebagai zat yang berdifusi.
Mengisi kapiler n 35 mm dengan cairan aseton murni.

Merendam tabung kapiler dalam wadah waterbath, dan


memasang termometernya pada waterbath.

Mengatur jarak mikroskop dengan tangki (20-30 mm)


dan mengatur lensa agar miniskus terlihat terbalik.

Mengatur sliding vernier scale pada skala tertentu.

Menyalakan pompa udara, kemudian mencatat level.


cairan.

Menyalakan temperatur kontroler dan mengatur pada


temperatur 50 0C, lalu menunggu hingga temperatur
mencapai steady state.

Mengulangi percobaan
untuk suhu aseton 60 0C.

Mencatat waktu (t) dan level cairan setiap interval


waktu 4 menit.

2.2.2. Koefisien Difusi Cair


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
 Sel difusi
Berfungsi sebagai tampat larutan KCl dimana terdapat membran semipermeabel pada
salah satu ujungnya untuk melewatkan larutan KCl tersebut.
 Water bath
Berfungsi sebagai tempat deionizad water.
 Konduktometer
Digunakan untuk mengukur konduktansi dari larutan selama percobaan.
 Pengaduk
Digunakan untuk mengaduk deionized water sehingga ion-ion K+ dan Cl- akan teraduk
dan terdispersi sempurna.
 Larutan KCL
Digunakan sebagai zat yang terionkan yang selanjutnya akan berdifusi.

Mengisi sel difusi dengan larutan KCl 1 M.

Membersihkan cairan yang berlebih pada luar sel difusi.

Menempatkan sel difusi ke dalam tangki,


lalu atur kedudukan sel horizontal sedikit di
bawah garis tangki.

Mengisi tangki dengan aquades.


Mengulangi untuk
konsentrasi KCl 2M.
Memasang konduktometer.

Menyalakan pengaduk dengan kecepatan


sedang agar konsentrasi merata.

Mencatat konduktivitas setiap interval 3


menit dalam waktu 60 menit.
2.3.Aplikasi Difusi Gas-Gas dan Difusi Cair-Cair di Teknik Kimia
Difusi merupakan dasar yang penting dalam banyak disiplin ilmu seperti fisika, kimia,
dan biologi. Beberapa contoh aplikasi difusi diantaranya:
 Sintering untuk menghasilkan bahan dapat (bubuk metal, produksi keramik)
 Desain reaktor kimia
 Desain katalis dalam industri kimia
 Baja yang dapat didifusikan (contohnya dengan karbon atau nitrogen) untuk
memodifikasi sifatnya
 Doping selama produksi dari semikonduktor