Anda di halaman 1dari 10

TEORI LOKASI

1.1 Latar Belakang

Landasan dari teori lokasi adalah ruang. Tanpa ruang maka tidak mungkin ada lokasi. Dalam
studi tentang wilayah, yang dimaksud dengan ruang adalah permukaan bumi baik yang ada
diatasnya maupun yang ada dibawahnya sepanjang manusia awam masih bisa
menjangkaunya. Lokasi menggambarkan posisi pada ruang tersebut (dapat ditentukan bujur
dan lintangnya). Studi tentang lokasi adalah melihat kedekatan atau jauhnya satu kegiatan
dengan kegiatan lain dan apa dampaknya atas kegiatan masing-masing karena lokasi yang
berdekatan (berjauhan) tersebut.

Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegitan ekonomi, atau ilmu
yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang langka, serta hubungannya
dengan atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain baik
ekonomi maupun social. Dalam mempelajari lokasi berbagai kegitan, ahli ekonomi regional
atau geografi terlebih dahulu membuat asumsi bahwa ruang yang dianalisis adalah datar dan
kondisinya disemua arah adalah sama. Salah satu unsur ruang adalah jarak. Jarak
menciptakan ‘gangguan’ ketika manusia berhubungan atau berpegian dari satu tempat ke
tempat lainnya. Salah satu hal yang banyak dibahas dalam teori lokasi adalah pengaruh jarak
terhadap intensitas orang bepergian dari satu lokasi kelokasi lainnya.
Walaupun teori yang menyangkut pola lokasi ini tidak berkembang tetapi telah ada sejak awal
abad ke-19. Secara empiris dapat diamati bahwa pusat-pusat pengadaan dan pelayanan
barang dan jasa yang umumnya adalah perkotaan (central places), terdapat tingkat
penyelidikan pelayanan yang berbeda-beda. Pelayanan masing-masing kota untuk tingkat yang
berbeda bersifat tumpang tindih, sedangkan untuk yang sentingkat walaupun tumpang tindih
tetapi tidak begitu besar. Keadaan ini bersifat universal dan dicoba dijelaskan oleh beberapa
ahli ekonomi atau geografi yang dirintis oleh Walter Christaller. Ahli ekonomi Von Thunen
melihat perbedaan penggunaan lahan dari sudut perbedaan jarak ke pasar yang tercermin
dalam sewa tanah. Weber secara khusus menganalisis lokasi industri. Ketiga tokoh diatas
dianggap pelopor atau pencipta landaan dalam hal teori lokasi. Tokoh yang muncul belakangan
pada umumnya memperdalam atau memodifikasi salah satu teori atau menggabung
pandangan dari tiga tokoh yang disebutkan di atas.

Pengertian Teori Lokasi

Teori lokasi adalah suatu teori yang dikembangkan untuk melihat dan memperhitungkan pola
lokasional kegiatan ekonomi termasuk industri dengan cara yang konsisten dan logis, dan untuk
melihat dan memperhitungkan bagaimana daerah-daerah kegiatan ekonomi itu saling
berhubungan (interrelated).1[1]
Sejarah Teori Lokasi

A. Sejarah Teori Lokasi Von Thunen

Menurut Von Thunen guna lahan kota dipengaruhi oleh biaya produksi, biaya transportasi dan daya
tahan hasil komoditi. Sehingga berpengaruh terhadap munculnya pasar lahan yang kompetitif. Pada
model Von Thunen hubungan antara transportasi dan lokasi aktivitas terletak pada biaya transportasi dan
biaya sewa lahan. Guna lahan akan menentukan nilai lahan, melalui kompetisi antara pemakai lahan.
Karenanya nilai lahan akan mendistribusikan guna lahan menurut kemampuan untuk membayar sewa
lahan, sehingga akan menimbulkan pasar lahan yang kompetitif. Faktor lain yang menentukan tinggi
rendahnya nilai lahan adalah jarak terhadap pusat kota. Melalui adanya nilai lahan maka terbentuk zona-
zona pemakaian lahan seperti lahan untuk kegiatan industri, kegiatan komersil, serta lahan untuk
kegiatan pemerintahan. Selain memiliki pengaruh terhadap zona lahan, teori Von Thunen juga
berpengaruh terhadap struktur keruangan kota. Perkembangan kota yang didasarkan terhadap
penggunaan lahan kota memunculkan elemen-elemen baru dalam struktur keruangan kota.2[2]

Teori lokasi ini pertama kali dikembangkan oleh Von Thunen pada tahun 1850. Sebagai seorang ekonom
bangsa Jerman, Von Thunen mengembangkan suatu teori lokasi yang berorientasi kepada wilayah
lokasi. Teori lokasi bertolak dari pengambilan keputusan ekonomi yang berdasarkan pada penyebaran
komoditas pertanian ke wilayah hinterland (wilayah belakang) yang bersifat homogeny akibat adanya
ketergantungan jarak dari lokasi aktivitas ekonomi ke suatu pusat aktivitas ekonomi, sosial, maupun
politik. Jauh dekatnya jarak tempuh antara wilayah produksi atau bahan baku dengan pusat distribusinya
di pasar akan membentuk lingkar lokasi yang menjadi wilayah dimana lokasi tersebut merupakan pusat
aktivitas utama yang disebut dengan kota.

Teori lokasi Von Thunen yang berorientasi kepada daerah lokasi baru mulai berkembang pada waktu
Isard menguraikan teori lokasi industri pertanian. Melalui teorinya ini, maka isard menyalur fungsi sewa
tanah yang dapat dikembalikan ke lingkaran Von Thunen. Dalam bentuk yang baru ini, maka manfaat
teori Von Thunen mangkin tampak terutama bagi landasan teori penggunaan tanah modern.

B. Sejarah Teori Lokasi Wlater Christaller

Menurut Christaller, tidak semua kota dapat menjadi pusat pelayanan. Dan pusat pelayanan
harus mampu menyediakan barang dan jasa bagi penduduk di daerah dan kawasan sekitarnya.
Christaller menyatakan bahwa dua buah pusat permukiman yang memiliki jumlah penduduk
sama tidak selalu menjadi pusat pelayanan yang sama penting. Istilah kepusatan (centrality)
digunakan untuk menggambarkan bahwa besarnya jumlah penduduk dan pentingnya peran
sebagai tempat terpusat (central place).

Pada teori Christaller menyebutkan sistem keruangan yang optimum berbentuk heksagonal
dengan pusat kegiatan terdapat di tengah pola. Namun Christaller juga menyebutkan bahwa
dalam struktur keruangan kota terdapat hirarki, dimana tempat dengan hirarki yang teratas
mampu memenuhi kebutuhan tempat di hirarki bawahnya. Semakin tinggi jumlah hirarki kota
maka jumlah kota semakin tinggi, begitupun sebaliknya.
Tokoh-Tokoh dalam Teori Lokasi

Berikut adalah beberapa tokoh dengan pandangannya mengenai teori lokasi3[3]:

Von Thunen (1826)

Mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar
perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi). Menurut Von Thunen tingkat sewa lahan
adalah paling mahal di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar. Von
Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva
permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi,
masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa
lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan
kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan
berupa diagram cincin. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di
pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.

Weber (1909)

Menganalisis tentang lokasi kegiatan industri. Menurut teori Weber pemilihan lokasi industri
didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri
tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya
harus minimum. Tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum
adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Menurut Weber ada tiga faktor
yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan
aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan
baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh
lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi
bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM), sedangkan biaya tenaga
kerja sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lokasi industri dijelaskan Weber
dengan menggunakan sebuah kurva tertutup (closed curve) berupa lingkaran yang dinamakan
isodapan (isodapane).

Christaller (1933)

Menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam
satu wilayah. Model Christaller ini merupakan suatu sistem geometri, di mana angka 3 yang
diterapkan secara arbiter memiliki peran yang sangat berarti dan model ini disebut sistem K = 3.
Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan
jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold.

August Losch
Teori Lokasi dari August Losch melihat persoalan dari sisi permintaan (pasar), berbeda dengan
Weber yang melihat persoalan dari sisi penawaran (produksi). Losch mengatakan bahwa lokasi
penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh
dari tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk
mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi
produksi berada di pasar atau di dekat pasar.

D.M. Smith

Memperkenalkan teori lokasi memaksimumkan laba dengan menjelaskan konsep average cost
(biaya rata-rata) dan average revenue (penerimaan rata-rata) yang terkait dengan lokasi.
Dengan asumsi jumlah produksi adalah sama maka dapat dibuat kurva biaya rata-rata (per unit
produksi) yang bervariasi dengan lokasi. Selisih antara average revenue dikurangi average cost
adalah tertinggi maka itulah lokasi yang memberikan keuntungan maksimal.

Mc Grone (1969)

Berpendapat bahwa teori lokasi dengan tujuan memaksimumkan keuntungan sulit ditangani
dalam keadaan ketidakpastian yang tinggi dan dalam analisis dinamik. Ketidaksempurnaan
pengetahuan dan ketidakpastian biaya dan pendapatan di masa depan pada tiap lokasi, biaya
relokasi yang tinggi, preferensi personal, dan pertimbangan lain membuat model maksimisasi
keuntungan lokasi sulit dioperasikan.

Isard (1956)

Menurut Isard, masalah lokasi merupakan penyeimbangan antara biaya dengan pendapatan
yang dihadapkan pada suatu situasi ketidakpastian yang berbeda-beda. Isard (1956)
menekankan pada faktor-faktor jarak, aksesibilitas, dan keuntungan aglomerasi sebagai hal
yang utama dalam pengambilan keputusan lokasi.

Richardson (1969)

Mengemukakan bahwa aktivitas ekonomi atau perusahaan cenderung untuk berlokasi pada
pusat kegiatan sebagai usaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam keputusan yang diambil
guna meminimumkan resiko. Dalam hal ini, baik kenyamanan (amenity) maupun keuntungan
aglomerasi merupakan faktor penentu lokasi yang penting, yang menjadi daya tarik lokasi
karena aglomerasi bagaimanapun juga menghasilkan konsentrasi industri dan aktivitas lainnya.

Teori Lokasi menurut Von Thunen dan Wlater Christaller

Teori Lokasi Von Thunen

Johan Heinrich Von Thunen (1783-1850) adalah seorang warga negara Jerman uang
merupakan ahli ekonomi pertanian yang mengeluarkan teorinya dalam buku “Der Isolirte Staat”.
Von Thunen mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatan di sekitar tempat tinggalnya.
Menurutnya pertanian merupakan komoditi yang cukup besar di perkotaan. Dalam teori ini ia
memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan pasar, pola tersebut termasuk
variabel keawetan, berat, dan harga dari berbagai komoditas pertanian. Ia menggambarkan
bahwa jenis penggunaan tanah yang ada di suatu daerah dipengaruhi perbedaan ongkos
transportasi tiap komoditas ke pasar terdekat.
Melalui teorinya, Von Thunen menciptakan bagaimana cara berfikir efektif yang didasarkan atas
penelitian dengan menambahkan unsur-unsur baru sehingga didapatkan hasil yang mendekati
konkret. Von Thunen berpendapat bahwa suatu pola produksi pertanian berhubungan dengan
pola tata guna lahan di wilayah sekitar pusat pasar atau kota. Ia mengeluarkan asumsi-asumsi
sebagai berikut 4[4] :
1) Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan dengan daerah
pedalamanya yang merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang
merupakan komoditi pertanian (Isolated Stated).
2) Daerah perkotaan hanya menjual kelebihan produksi daerah pedalaman, tidak menerima
penjualan hasil pertanian dari daerah lain (Single Market).
3) Daerah pedalaman hanya menjual kelebihan produksinya ke perkotaan, tidak ke daerah lain
(Single Destination).
4) Daerah pedalaman atau kota mempunyai ciri yang sama (homogen) dengan kondisi geografis
kota itu sendiri dan cocok untuk tanaman dan peternakan dataran menengah.
5) Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum
dan mampu untuk menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang
terdapat di daerah perkotaan (Maximum Oriented).
6) Pada waktu itu hanya ada angkutan berupa gerobak yang dihela oleh kuda (One Moda
Transportation).
7) Biaya transportasi berbanding lurus dengan jarak yang ditempuh. Semua biaya transportasi
ditanggung oleh petani. Petani mengangkut semua hasil dalam bentuk segar. (Equidistant).

Teori Lokasi Wlater Christaller

Teori Christaller (1933) menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota, dan
distribusinya di dalam satu wilayah. Menurut Christaller, pusat-pusat pelayanan cenderung
tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu
akan terlihat dengan jelas di wilayah yang mempunyai dua syarat. Pertama, topografi yang
seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat pengaruh dari lereng dan
pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur pengangkutan. Kedua, kehidupan ekonomi
yang homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-
padian, kayu atau batu bara.

Pengaruh Teori Lokasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Dewasa ini, perkembangan sektor industri di Indonesia menyebabkan terjadinya percepatan


munculnya bangunan industri, penambahan devisa negara, serta mengurangi jumlah
pengangguran. Namun hal tersebut jika tidak diimbangi dengan kebijakan-kebijakan yang kuat,
analisa lokasi khususnya lokasi industri yang tepat, maka keberadaan kawasan industri
disamping memberikan dampak positif juga akan mempengaruhi potensi, kondisi, dan mutu
sumber daya alam dan lingkungan sekitar (Anonim, 1993). Keberadaan sektor industri tersebut
tidak terlepas dari pemilihan lokasi yang didasarkan pada teori lokasi yang telah berkembang
mulai dari teori klasik, neo-klasik, sampai dengan teori lokasi modern.
Berikut pemaparan dari beberapa ahli tentang Teori Pusat Pertumbuhan:

a) Teori pusat pertumbuhan dikemukakan oleh Boudeville. Menurut Boudeville (ahli ekonomi
Prancis), pusat pertumbuhan adalah sekumpulan fenomena geografis dari semua kegiatan
yang ada di permukaan Bumi. Suatu kota atau wilayah kota yang mempunyai industri populasi
yang kompleks, dapat dikatakan sebagai pusat pertumbuhan. Industri populasi merupakan
industri yang mempunyai pengaruh yang besar (baik langsung maupun tidak langsung)
terhadap kegiatan lainnya.

b) Teori tempat sentral dikemukakan oleh Walter Christaller (1933), seorang ahli geografi dari
Jerman. Teori ini didasarkan pada lokasi dan pola persebaran permukiman dalam ruang. Dalam
suatu ruang kadang ditemukan persebaran pola permukiman desa dan kota yang berbeda
ukuran luasnya. Teori pusat pertumbuhan dari Christaller ini diperkuat oleh pendapat August
Losch (1945) seorang ahli ekonomi Jerman.

Keduanya berkesimpulan, bahwa cara yang baik untuk menyediakan pelayanan berdasarkan
aspek keruangan dengan menempatkan aktivitas yang dimaksud pada hirarki permukiman yang
luasnya meningkat dan lokasinya ada pada simpul-simpul jaringan heksagonal. Lokasi ini
terdapat pada tempat sentral yang memungkinkan partisipasi manusia dengan jumlah
maksimum, baik mereka yang terlibat dalam aktivitas pelayanan maupun yang menjadi
konsumen dari barang-barang yang dihasilkannya.

2.7 Kelebihan dan Kekurangan Teori Lokasi Von Thunen dan Wlater Christaller

Pada dasarnya teori pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Demikian
dengan teori lokasi juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang akan dijabarkan dalam bentuk
tabel sebagai berikut :
Teori Lokasi Kelebihan Kekurangan
1. Von Thunen a) Menjadi acuan penting dalama) Kemajuan transportasi dapat
pengembangan Wilayah terutama dalam menghemat banyak waktu dan
menentukan berbagai kegiatan biaya.
perekonomian. b) Ada beberapa daerah yang tidak
hanya memiliki 1 merket center
b) Dapat menentukan berbagai Kawasan (
saja, tetapi juga 2 market center.
Zoning ) c) Adanya berbagai bentuk
pengawetan, sehingga mencegah
resiko busuk pada pengiriman jarak
jauh.
d) Kondisi topografis setiap daerah
berbeda-beda, sehingga hasil
pertanian yang akan dihasilkanpun
akan berbeda.
e) Negara industri mampu membentuk
kelompok produksi sehingga tidak
terpengaruh pada kota.
f) Antara produksi dan konsumsi telah
terbentuk usaha bersama
menyangkut pemasarannya.
2. Wlater Christaller a) Salah satu hal banyak dibahas dalam teori a) Jangkauan suatu barang dan jasa
lokasi adalah pengaruh jarak terhadap tidak titentukan lagi oleh biaya dan
intensitas orang bepergian dari satu lokasi waktu.
ke lokasi lainnya. Analisis ini dapat b) Dengan kemajuan teknologi yang
dikembangkan untuk melihat suatu lokasi semakin canggih, konsumen tidak
yang memiliki daya tarik terhadap batas selalu memilih tempat pusat yang
wilayah pengaruhnya, dimana orang masih paling dekat. Hal ini bisa
ingin mendatangi pusat yang memiliki daya disebabkan oleh daya tarik atau
tarik tersebut. Hal ini terkait dengan fasilitas sarana dan prasarana
besarnya daya tarik pada pusat tersebut dan tempat pusat yang lebih jauh
jarak antara lokasi dengan pusat tersebut. tersebut lebih besar dibandingkan
dengan tempat pusat yang
b) Terkait dengan lokasi maka salah satu faktor terdekat.
yang menentukan apakah suatu lokasi
menarik untuk dikunjungi atau tidak adalah
tingkat aksesibilitas. Tingkat aksesibilitas
adalah tingkat kemudahan untuk mencapai
suatu lokasi ditinjau dari lokasi lain di
sekitarnya

3.1 Kesimpulan

Lokasi usaha adalah pemacu biaya yang begitu signifikan, lokasi usaha sepenuhnya memiliki kekuatan
untuk membuat atau menghancurkan strategi bisnis sebuah usaha. Disaat pemilik usaha telah
memutuskan lokasi usahanya dan beroperasi di satu lokasi tertentu, banyak biaya akan menjadi tetap
dan sulit untuk dikurangi. Pemilihan lokasi usaha mempertimbangkan antara strategi pemasaran jasa dan
preferensi pemilik.

Kedekatan dengan pasar memungkinkan sebuah organisasi memberikan pelayanan yang lebih baik
kepada pelanggan, dan sering menghemat biaya pengiriman. Dari kedua keuntungan tersebut,
memberikan layanan yang lebih baik biasanya adalah lebih penting. Usaha-usaha yang bergerak
dibidang jasa harus lebih mendekatkan diri dengan semua pelanggan mereka sehingga mereka bisa
dekat dengan pasar mereka.
3.2 Saran

Teori tata guna lahan Von Thunen tidak dapat sepenuhnya diterapkan saat ini. Di zaman modern seperti
sekarang, jasa angkutan telah menjamur dan berlomba-lomba menawarkan harga murah. Masalah biaya
angkut dirasa sudah tidak membebani pelaku produksi yang berasal dari daerah desa. Akan tetapi,
perbedaan sewa lahan tetap tinggi di wilayah kota. Oleh Karena itu pemerintah harus lebih
memperhadikan kondisi masyarakan ataupun wilayah Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurachmat, Idris dan Maryani, E.1997. Geografi Ekonomi. Institut Kerguruan dan Ilmu
Pendidikan Bandung.
Djojodipuro, Marsudi. 1992. Teori Lokasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Hadi, Ridha. 2010. “Dasar-dasar Teori Von Thunen,” dalam blogspot. http://ridha-
planologi.blogspot.com. Diunduh Jumat, 7 September 2012.
Wahyuningsih, Menik. 2012. “Pola dan Faktor Penentu Nilai Lahan Perkotaan di Kota
Surakarta,” dalam eprintsundip. http://eprints.undip.ac.id/4088/1/Naskah_TA.pdf. Diunduh
Jumat, 7 September 2012.
http://www.geografiana.com/faq (diakses tanggal 21 November 2009)
Saraswati, Ratna. 2006. Teori, Konsep, Metode dan Teknik Analisis Dasar Geografi Ekonomi .
http://www.undip.ac.id (diakses tanggal 21 November 2009)
Prof. Dr. Ir. Rudi Wibisono, M.S. 2004. Konsep, Teori & Landasan ANALISIS WILAYAH,
Malang: Bayumedia Publishing
Philip Sarre (1977): Section II: SPATIAL ANALISYSIS Area Pattern Unit 15-17, The Open
University Press, Great Britain
Drs. Rahardjo Adisasmita, M.Ec (19--): TEORI-TEORI LOKASI & PENGEMBANGAN
WILAYAH, Universitas Muslim Indonesia, Ujung Pandang