Anda di halaman 1dari 41

ANALISIS HIDROKUINON DALAM KRIM PEMUTIH

MENGGUNAKAN METODE KLT

WAHYUNI

16.096

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

MAKASSAR

2019

1
ANALISIS HIDROKUINON DALAM KRIM PEMUTIH
MENGGUNAKAN METODE KLT

KARYA TULIS ILMIAH

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Mencapai Gelar Ahdi Madya Farmasi (Amd. Farm)

WAHYUNI
16096

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


MAKASSAR
2019

2
LEMBAR PENGESAHAN

3
KARYA TULIS ILMIAH

ANALISIS HIDROKUINON DALAM KRIM PEMUTIH

MENGGUNAKAN METODE KLT

Diajukan dan disusun oleh :

WAHYUNI
16096
Karya Tulis Ilmiah ini telah dipertahankan dihadapan Tim
Penguji pada hari sabtu Tanggal 27 Juli 2019
Tim Penguji

Ketua :

Sekretaris :

Anggota :

1.

2.

3.

4.

4
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Wahyuni

Nim : 16096

Dengan ini menyatakan bahwa data-data yang terdapat dalam


karya tulis yang berjudul :

ANALISIS HIDROKUINON DALAM KRIM PEMUTIH


MENGGUNAKAN METODE KLT

Adalah MURNI hasil penelitian yang telah saya lakukan.


Bilamana dikemudian hari terbukti bahwa data tersebut
merupakan hal jiplakan/plagiat dari karya tulis orang lain maka
sesuai dengan kode etik ilmiah, saya menyatakan bersedia
untuk diberikan sanksi seberat-beratnya termasuk
PECOPOTAN/PEMBATALAN gelar akademik saya oleh pihak
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR.

Demikian surat pernyataan ini agar dapat dipergunakan


sebagaimana mestinya.

Makassar, 22 Juli 2019

Yang Membuat Pernyataan

Wahyuni

5
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Sebagai sivitas Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar, saya


yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Wahyuni

Nim : 16096

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk


memberikan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar
Hak Bebas Royalti Noneksklusif atas Karya Tulis Ilmiah saya
yang berjudul :

ANALISIS HIDROKUINON DALAM KRIM PEMUTIH


MENGGUNAKAN METODE KLT

Dengan ini Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar berhak


menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam
bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan
sebagai pemilik Hak Cipta dengan sepengetahuan pembimbing
materi dan teknis saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya .


Dibuat di : Makassar
Pada Tanggal : 22 Juli 2019
Yang membuat pernyataan
(Wahyuni)

6
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Rabbil’Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas

limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan KTI dengan

judul “ANALISIS HIDROKUINON DALAM KRIM PEMUTIH

MENGGUNAKAN METODE KLT” dapat terselesaikan dengan baik

dimana karya tulis ilmiah ini sebagai salah satu syarat guna memperoleh

gelar Ahli Madya di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar.

Rasa bangga dan terimakasih penulis ucapkan kepada : Ibu Imrawati,

S.Si., M.Si., Apt selaku pembimbing utama dan Ibu Dra. Johar, Apt selaku

pembimbing pertama atas saran, semangat serta pengalaman berharga

yang penulis belum dapatkan sebelumnya.

Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada : Ketua Yayasan

Sekolah Tinggi Ilmui Farmasi Makassar, Bapak Drs. H. Sahibuddin A

Gani, Apt, Direktur …… Bapak dan Ibu dosen serta seluruh staf Sekolah

Tinggi Ilmu Farmasi Makassar atas curahan ilmu pengetahuan dan segala

bantuan yang diberikan kepada penulis selama menimba ilmu hingga

selesainya Karya Tulis Ilmiah ini. Terkhusus ucapan terimakasih penulis

sampaikan kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah melahirkan

ananda ke dunia ini, yang telah memberikan do’a, semangat dan bantuan

dalam segala hal sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis

Ilmiah ini.

7
Kepada orang-orang yang melatarbelakangi sebagian perjalananku

di Farmasi yang selalu membantu dalam hal apapun. Angkatan D3

Farmasi 2016 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih

atas semua bantuan dan kebersamaannya dalam suka dan duka.

Penulis menyadari sepenuh hati bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih

banyak terdapat kekurangan sehingga masukan dan kritikan yang

membangun penulis harapkan demi sempurnanya Karya Tulis Ilmiah ini.

Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada

umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

Makassar, Juli 2019

Penulis

8
ABSTRAK

Judul : Analisis kandungan hidrokuinon dalam krim pemutih


menggunakan metode KLT

( Dibimbing oleh : Imrawati dan Johar )


Telah dilakukan pengujian analisis kandungan hidrokuinon pada krim
pemutih A, B, C, D dan E untuk membuktikan ada tidaknya kandungan
hidrokuinon dalam krim pemutih tersebut dengan menggunakan metode
kromatografi lapis tipis (KLT) yang menunjukkan nilai Rf sampel tidak
sebanding dengan baku hidrokuinon yaitu 0,12. Pada sampel dari pasar X
yaitu A = 0,52, B = 0,52, C = 0,52, D = 0,4, E = 0,52. Dan sampel dari
pasar Y yaitu A = 0,50, B = 0, C = 0,49, D = 0,47, E = 0,45. Hasil
penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kelima sampel krim
pemutih A, B, C, D dan E dari pasar X dan Y tidak teridentifikasi adanya
hidrokuinon dengan menggunakan metode KLT.

Kata kunci : Hidrokuinon, krim pemutih, kromatografi lapis tipis.

9
ABSTRACK

Title : Analysis Of Hydroquinone On Whitening Creams Using The


KLT Method

(Supervisid by : Imrawati, Johar )


Analysis testing of hydroquinone content in whitening cream A, B, C, D
and E has been carried out to prove the presence or absence of
hydroquinone in the whitening cream using the Thin Layer Cromatography
(TLC) method which shows the sample Rf value is not proportional to the
hydroquinone standard that is 0,12. Sample from the market X that is A =
0,52, B = 0,52, C = 0,52, D = 0,4, E = 0,52. And sample from the market Y
that is A = 0,50, B = 0, C = 0,49, D = 0,47, E = 0,45. The result obtained
showed that the five bleach cream samples A, B, C, D dan E from the X
and Y markets were not identified with hydroquinone using the KLT
method.

Keywords : Hydroquinone, whitening cream, Thin Layer


Cromatography

10
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Kosmetika sudah dikenal orang sejak zaman dahulu kala. Di Mesir

3500 tahun sebelum Masehi telah digunakan berbagai bahan alami baik

yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan, hewan maupun bahan lain

misalnya tanah liat, lumpur, dan arang. Penggunaan susu, akar, daun,

kulit pohon, rempah, minyak bumi, madu dan lainnya sudah menjadi hal

yang biasa dalam kehidupan masyarakat saat ini (Ningsih, 2009).

Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat modern

adalah untuk kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make-

up, meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit

dan rambut dari kerusakan sinar ultra violet, polusi dan faktor lingkungan

yang lain, mencegah penuaan, dan secara umum membantu seseorang

lebih menikmati dan menghargai hidup (Tranggono, 2007).

Suatu produk kosmetik yang tidak memiliki nomor registrasi,

kemungkinan memiliki kandungan zat-zat yang tidak diizinkan

pemakaiannya atau memiliki kadar yang melebihi ketentuan, sehingga

dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Bahkan ada juga

produsen yang mencantumkan nomor registrasi pada produk

kosmetiknya, walaupun nomor tersebut bukan nomor resmi dari BPOM.

Hal yang perlu diperhatikan adalah berkaitan dengan kandungan bahan-

3
bahan pemutih berbahaya seperti hidrokuinon dan merkuri yang terdapat

pada produk kosmetik. (BPOM RI, 2007)

Sediaan kosmetika jenis pemutih, pewarna bibir atau perona wajah

serta kosmetika yang berperan untuk keindahan kulit wajah lainnya

banyak sekali beredar di pasaran. Perkembangan selanjutnya suatu

sediaan kosmetika akan ditambahkan suatu zat ikutan atau tambahan

yang akan menambah nilai artistik dan daya jual produknya, seperti

penambahan bahan pemutih (Widana, 2007).

Hidrokuinon saat ini masih banyak digunakan sebagian produsen

pemutih. Hidrokuinon termasuk golongan obat keras yang hanya dapat

digunakan berdasarkan resep dokter. (Ningsih, 2009).

Pada September 2008 semua kosmetik yang tidak memenuhi

ketentuan ditarik dari peredaran dan dimusnahkan. Dalam peraturan

tersebut dinyatakan bahwa hidrokuinon sebagai bahan kosmetik hanya

boleh digunakan untuk bahan pengoksidasi warna pada pewarna rambut

dengan ketentuan kadar maksimum sebesar 0,3 %. (BPOM, 2008)

Hidrokuinon boleh digunakan pada sediaan untuk kuku artifisial dan

tidak boleh melebihi 0,02 % (BPOM, 2015).

Bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat

menyebabkan iritasi kulit, kulit kemerahan, rasa terbakar, kelainan ginjal,

kanker darah dan kanker hati. Pemakaian yang berlebih dapat

menyebabkan iritasi kulit, namun jika dihentikan seketika akan berefek

lebih buruk. (BPOM RI, 2007).

4
Krim yang mengandung hidrokuinon akan terakumulasi dalam kulit

dan dapat menyebabkan mutasi dan kerusakan DNA, sehingga

kemungkinan pada pemakaian jangka panjang bersifat karsinogenik

(BPOM RI, 2008).

Sediaan kosmetika berbentuk krim yang mengandung hidrokuinon

banyak digunakan untuk menghilangkan bercak-bercak hitam pada wajah.

Saat ini hidrokuinon masih digunakan sebagian produsen pemutih karena

hidrokuinon mampu mengelupas kulit bagian luar dan menghambat

pembentukan melanin yang membuat kulit tampak hitam. (Astuti, dkk,

2016).

I.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah uraian di atas adalah apakah di dalam

sediaan kosmetik terdapat zat hidrokuinon?

I.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah sediaan kosmetik tersebut mengandung

hidrokuinon atau tidak.

2. Identifikasi hidrokuinon dengan metode KLT.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Untuk kegunaan teoritis/akademis sebagai sumber rujukan bagi

penelitian lainnya tentang analisis kualitatif hidrokuinon.

2. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai bahaya

dan efek samping kosmetik yang mengandung hidrokuinon.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian Kosmetik

Di Indonesia, sejarah tentang kosmetologi telah dimulai jauh

sebelum zaman penjajahan Belanda, namun tidak ada catatan yang jelas

mengenai hal tersebut yang dapat dijadikan pegangan. Pengetahuan

tentang kosmetika tradisional memang sebagian besar diperoleh secara

turun-temurun dari orang tua ke generasi penerusnya, tidak hanya terjadi

dikalangan pusat pemerintahan saat itu yakni keraton, tetapi juga

dikalangan rakyat biasa yang berkaca pada kecantikan para putri.

Masyarakat penjajah kemudian mulai membawa dan memperkenalkan

kosmetika Barat ke Indonesia (Wasitaatmadja,1997).

Kosmetik merupakan bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk

digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir

dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk

membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau

memperbaiki bau badan atau melindungi dan memelihara tubuh pada

kondisi baik. (BPOM, 2012).

Definisi kosmetika dalam peraturan menteri kesehatan RI No.

445/MENKES/PERMENKES/1998 Tentang Bahan, Zat Warna,

Substratum, Zat Pengawet dan Tabir Surya pada Kosmetik adalah

6
sebagai berikut : Kosmetika adalah sediaan atau paduan bahan yang siap

untuk digunakan pada bagian luar badan ( epidermis, rambut, kuku, bibir,

dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk

membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan,

melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan,

tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu

penyakit ( Rostamailis et al., 2008).

Komposisi utama dari kosmetik adalah bahan dasar yang

berkhasiat, bahan aktif ditambah bahan tambahan lain seperti : bahan

pewarna, dan bahan pewangi. Pada pencampuran tersebut harus

memenuhi kaidah pembuatan kosmetik ditinjau dari berbagai segi

teknologi pembuatan kosmetik termasuk farmakologi, farmasi, kimia teknik

dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).

II.1.1 Penggolongan Kosmetik dapat digolongkan berdasarkan

kegunaan bagi kulit :

1. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetic)

a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), misalnya sabun,

susu pembersih wajah dan penyegar kulit (freshner)

b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer), misalnya

mouisterizer cream, night cream

c. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen

foundation, sun block cream/lotion

d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling),

7
misalnya scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang

berfungsi sebagai pengampelas (abrasiver)

2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)

Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit

sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik. Dalam kosmetik

riasan, peran zat pewarna dan zat pewangi sangat besar (Iswari, 2007).

II.2 Uraian Krim

Krim merupakan suatu sediaan berbentuk setengah padat

mengandung satu atau lebih bahan kosmetik terlarut atau terdispersi

dalam bahan dasar yang sesuai, berupa emulsi kental mengandung tidak

kurang 60 % air ditujukan untuk pemakaian luar (Anief, 2000).

Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung

satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar

yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan

setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi

sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini

batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi

minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol

berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih

ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim juga dapat

digunakan untuk pemberiaan obat secara vaginal (Departemen Kesehatan

RI,1995).

8
Krim pemutih adalah salah satu jenis kosmetik yang merupakan

campuran bahan kimia dan atau bahan lainnya dengan khasiat bisa

memucatkan noda hitam (coklat) pada kulit. Tujuan penggunaannya

dalam jangka waktu lama agar dapat menghilangkan atau mengurangi

hiperpigmentasi pada kulit. Tetapi penggunaan yang terus-menerus justru

akan menimbulkan pigmentasi dengan efek permanen (Citra, 2007).

Pemutih wajah adalah produk yang mengandung bahan aktif yang

dapat menekan atau menghambat melanin yang sudah terbentuk

sehingga akan memberikan warna kulit yang lebih putih. Bahan pemutih

yang sering ditambahkan salah satunya adalah hidrokuinon (Dian, 2016).

II.3Uraian Hidrokuinon

Gambar 1. Hidrokuinon ( Departemen Kesehatan RI, 1995)

Hidrokuinon atau p-dihidroksibenzen memiliki nama IUPAC yaitu 1,4-

benzenediol, yang memiliki rumus molekul C6H6O2 dengan berat molekul

110,1 g/mol( Departemen KesehatanRI, 1995).

Pemerian : Berbentuk jarum halus, putih, mudah menjadi gelap jika

terpapar cahaya dan udara. Hidrokuinon mudah larut dalam air, dalam

metanol, dan dalam eter (Departemen Kesehatan RI , 1995).

Sinonim : Alpha-hydroquinone; Hydroquinol;Quinol Benzoquinol;

9
1,4-Benzenediol1,4-Dihydroxybenzene; p-

Dihydroxybenzene; p-Hydroxyphenol; p-

Dioxobenzene; 1,4-Dihydroxybenzene;

Dihydroquinone; Pyrogentistic acid; Quinnone; Aida;

Tecquinol; Tenox HQ; Tequinol. (BPOM, 2011)

BM : 110,11 (DepKes, 1995)

Golongan : Kuinon (BPOM, 2011)

Kelarutan : Mudah larut dalam air, alkohol dan eter (DepKes,

1995)

Stabilitas : Stabil pada tekanan dan suhu normal stabil, tidak

menyatu dengan oksidator kuat, basa kuat, O2, Fe.

Sensitif terhadap cahaya dan udara (BPOM, 2011)

Efek samping : Efek samping hidrokuinon dapat menimbulkan

dermatitis kontak dalam bentuk bercak warna putih pada

wajah atau sebaliknya. Menimbulkan reaksi

hiperpigmentasi. Gejala awal dapat berupa iritasi

kulit ringan, panas, menyebabkan luka bakar, merah,

menyengat, aritmia, gatal, atau hitam pada wajah

akibat kerusakan sel melanosit (BPOM RI, 2011).

Hidrokuinon merupakan salah satu senyawa golongan fenol. Fenol

merupakan senyawa yang mudah dioksidasi. Fenol yang dibiarkan di

udara terbuka cepat berubah warna karena pembentukan hasil-hasil

oksidasi. Hidrokuinon (1,4- dihidroksibenzena), reaksinya mudah

10
dikendalikan dan menghasilkan 1,4-benzokuinon sering dinamakan kuinon

( Hart,1983).

Gambar 2. Kuinon (Hart, 1983)

Hidrokuinon termasuk golongan obat keras yang hanya dapat

digunakan berdasarkan resep dokter (Badan Pengawas Obat dan

Makanan, 2009). Hidrokuinon berkhasiat sebagai agen pencerah kulit

yang telah dilakukan penelitian terhadap dua studi yaitu terhadap hewan

dan manusia. Secara klinis hidrokuinon telah diaplikasikan kedalam

sediaan topikal untuk pengobatan hipermelanosis (Wester et al., 1999).

Sel pembentuk pigmen kulit (melanosit) terletak di lapisan basal

epidermis. Jumlah melanosit serta jumlah dan besarnya melanin yang

terbentuk menentukan warna kulit (Wasitaatmadja, 1997).

Hidrokuinon telah disarankan sebagai obat yang aktif dalam

kosmetik pemutih. Bahan ini tidak hanya menghambat pembentukan

melanin yang baru, namun juga menghancurkan melanin yang sudah

berkembang dan oleh karena itu hidrokuinon efektif sebagai agen

pemutih. Di sisi lain penggunaan hidrokuinon sering menimbulkan alergi

sehingga harus ditangani dengan perawatan khusus ( Astuti, 2011).

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, hidrokuinon

dapat menyebabkan toksisitas akut dan kronik. Hidrokuinon juga

11
dilaporkan dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (nephropathy),

proliferasi sel, dan berpotensi sebagai karsinogenik dan teratogenik

(Astuti, 2011)

II.4 Eluen Yang Digunakan

II.4.1 Toluen

Toluen merupakan golongan Hidrokarbon aromatik dengan Sinonim

/nama dagang Toluol, Tolu-Sol; Methylbenzene; Methacide;

Phenylmetana; Methylbenzol.

a. Deskripsi

Cairan tidak berwarna, berbau manis, pedas seperti benzen; berat

molekul 92, 14; titik didih 231,1ºF (110,6ºC); titik lebur -139ºF (-95ºC );

tekanan uap 28,4 mmHg pada25ºC; kerapatan uap 3,1 (udara = 1);

kekentalan 0,59 cps pada 20ºC; berat jenis 0,866 (air = 1).

Kelarutan : larut dalam dietil eter, etanol, benzen, kloroform, asam asetat

glasial, karbon disulfida dan aseton; praktis tidak larut dalam air

dingin; kelarutan dalam air: 0,561 g/L pada suhu 250C.

II.4.2 Asam Asetat Glasial

Asam asetat merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna, dan

memiliki bau asam yang menusuk. Asam asetat dapat larut dalam air,

alkohol, lemak, dan gliserol. Selain itu asam jenis ini juga dikenal sebagai

pelarut yang baik untuk bahan organik (Marshall, et al., 2000).

Nama asam asetat berasal dari kata Latin asetum, “vinegar”. Asam

12
asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik

yang merupakan asam karboksilat yang paling penting di perdagangan,

industri, dan laboraturium dan dikenal sebagai pemberi rasa asam dan

aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus CH3-COOH,

CH3COOH, atau CH3CO2H. Bentuk murni dari asam asetat ialah asam

asetat glasial. Asam asetat glasial mempunyai ciri-ciri tidak berwarna,

mudah terbakar (titik beku 17°C dan titik didih 118°C) dengan bau pedas

menggigit, dapat bercampur dengan air dan banyak pelarut organik.

Dalam bentuk cair atau uap, asam asetat glasial sangat korosif terhadap

kulit dan jaringan lain (Fessenden dkk, 1997).

Asam asetat adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air

dan etanol. Asam asetat bercampur dengan mudah dengan pelarut polar

atau nonpolar lainnya seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan

dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan

secara luas dalam industri kimia dan laboratorium (Hart et al, 2003: 309;

Fessenden 1997).

II.5 Kromatografi LapisTipis

Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan

Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar,

selain kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda dengan

kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di

dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan

yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung

13
oleh lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik. Meskipun

demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka

dari kromatografi kolom (Gandjar dan Rohman,2007).

Cara pemisahan dengan adsorpsi pada lapisan tipis adsorben yang

dikenal dengan kromatografi lapis tipis (thin layer chromatography atau

TLC) telah meluas penggunannya dan diakui merupakan cara pemisahan

yang baik, khususnya untuk kegunaan analisis kualitatif. Kini TLC dapat

digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion organik,

kompleks senyawa-senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa-

senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawa-senyawa

organik sintetik (Adnan,1997).

Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap

berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. Semakin kecil

ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran

fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan

resolusinya (Gandjar dan Rohman, 2007).

Berikut adalah petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak

1. Fase gerak harus memiliki kemurnian yang sangat tinggi karena KLT

merupakan teknik yang sensitif.

2. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika

gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute

yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang

bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar

14
seperti metil benzen akan meningkatkan harga Rf secara signifikan.

3. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran

pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol

dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat atau

ammonia masing-masing akan meningkatkan solut-solut yang bersifat

basa dan asam (Gandjar dan Rohman,2007).

Retardation factor (Rf) merupakan parameter karakteristik KLT. Harga

Rf didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal

dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal (Roth, 1994). Angka Rf

berjangka antara 0,00 sampai 1,00 dan hanya dapat ditentukan dua

desimal (Stahl,1985).

Rf =
(Dean, 1995)

15
BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian

eksperimental berskala laboratorium.

III.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2019 di

Laboratorium Kimia Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar.

III.3 Prosedur Penelitian

III.3.1 Sampel Penelitian

Adapun sampel yang digunakan yaitu krim yang beredar di pasar X

dan Y dan sering digunakan oleh masyarakat di Makassar serta tidak

memiliki nomor registrasi, diantaranya krim pemutih (A, B, C, D, dan E).

III.3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu beaker glass,

kaca arloji, neraca analitik, pipet tetes, spatula, labu ukur 25 mL, plat KLT,

chamber, mikropipet, erlenmeyer, gelas ukur, lampu uv, batang pengaduk.

Adapaun bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu etanol 95%,

hidrokuinon murni, beberapa krim pemutih (A, B, C, D, dan E) dari pasar X

dan Y, fase gerak (toluene, asam asetat glasial), aquadest, HCl 4 N,

Na2SO4.

16
III.4 Prosedur Kerja

III.4.1 Preparasi Sampel

III.4.1.1 Pembuatan Larutan Uji

Ditimbang sebanyak 1,25 g sampel krim pemutih (A, B, C, D, E)

dan dimasukkan ke dalam beaker glass secara terpisah. Ditambahkan 3

tetes HCl 4 N. Ditambahkan 5 mL etanol kemudian dipanaskan sambil

diaduk . Dimasukkan kedalam labu ukur 25 mL, dan ditambahkan etanol

sampai garis tanda. Dihomogenkan, kemudian disaring melalui natrium

sulfat yang telah diletakkan di kertas saring.

III.4.1.2 Pembuatan Larutan Baku

Ditimbang sebanyak ±25 mg hidrokuinon. Dimasukkan kedalam

labu ukur 25 mL. Ditambahkan 0,25 mL HCl 4 N. Ditambahkan etanol

sampai garis tanda, kemudian dihomogenkan.

III.4.1.3 Analisis Kualitatif menggunakan metode KLT

Diatas plat KLT ditotolkan larutan A dan B dengan volume

penotolan masing-masing sebanyak 25 mikroliter dengan menggunakan

pipa kapiler dengan jarak 2 cm dari batas bawah. Kemudian plat KLT

dimasukkan kedalam chamber yang berisi fase gerak yaitu Toluen : Asam

Asetat Glasial. Kemudian dibiarkan fase gerak naik keatas. Kemudian plat

KLT diangkat dan dikeringkan. Untuk mengetahui lokasi dari noda dapat

dilihat dengan menggunakan cahaya ultraviolet pada panjang gelombang

254 nm. Kemudian diukur harga Rf nya (Ningsih, 2009).

17
18
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. Hasil

Tabel 1. Hasil analisis KLT sampel krim pemutih dari pasar X

JARAK
NILAI
METODE SAMPEL RAMBAT PASAR X
RF
NODA
BAKU BERCAK
HIDROKUINON 1,8 0,12 GELAP
A 7,8 0,52 (-)
KROMATOGRAFI
B 7,8 0,52 (-)
LAPIS TIPIS ( KLT )
C 7,9 0,52 (-)
D 6 0,4 (-)
E 7,8 0,52 (-)

Tabel 2. Hasil analisis KLT sampel krim pemutih dari pasar Y

JARAK
NILAI
METODE SAMPEL RAMBAT PASAR Y
RF
NODA
BAKU BERCAK
HIDROKUINON 1,8 0,12 GELAP
A 7,6 0,50 (-)
KROMATOGRAFI
B 0 0 (-)
LAPIS TIPIS ( KLT )
C 7,4 0,49 (-)
D 7,1 0,47 (-)
E 6,8 0,45 (-)

IV. Pembahasan

Hidrokuinon merupakan senyawa kimia berupa Kristal putih

berbentuk jarum, tidak berbau, memiliki struktur kimia C6H6O2 dengan

nama kimia 1,4 benzendiol dan mengalami oksidasi terhadap cahaya dan

udara. Senyawa ini digunakan sebagai bahan pemutih dan pencegahan

19
pigmentasi yang bekerja menghambat enzim tirosinase yang berperan

dalam penggelapan kulit (Ibrahim et al., 2004).

Pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah krim pemutih yang

beredar di pasar tradisional yang ada di Makassar. Untuk mengetahui

apakah beberapa krim pemutih yang beredar dibeberapa pasar yang ada

di kota Makassar mengandung bahan pemutih yang tidak boleh digunakan

dalam krim pemutih yaitu hidrokuinon atau tidak maka dilakukan analisis

kualitatif menggunakan metode KLT pada sampel krim merk A, B, C, D,

dan E yang beredar di pasar X dan Y di Makassar.

Pengujian secara kualitatif adalah pengujian yang bertujuan untuk

melihat ada atau tidaknya kandungan hidrokuinon pada sampel krim merk

A, B, C, D, dan E yang beredar pada dua lokasi berbeda. Dilakukan

pengambilan sampel di pasar yang ada dikota Makassar. Pada pengujian

kualitatif dengan menggunakan metode KLT ini digunakan pelarut asam

asetat glasial : toluene dengan perbandingan 20 : 80.

Dilakukan pengujian menggunakan metode KLT. Didapatkan nilai

Rf bercak hidrokuinon = 0,12. Sampel krim pemutih dari pasar X

diantaranya, sampel A = 0,52, B = 0,52, C = 0,52, D = 0,4, E = 0,52. Nila

Rf bercak sampel A, B, C, D dan E tidak sebanding dengan nilai Rf bercak

baku hidrokuinon ( tabel 1.). Nilai Rf sampel krim pemutih dari pasar Y,

yaitu A = 0,50, B = 0, C = 0,49, D = 0,47, E = 0,45. Nilai Rf bercak sampel

A, B, C, D dan E tidak sebanding dengan nilai Rf bercak baku hidrokuinon

20
(tabel 2.). Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel dari pasar X dan Y

tidak mengandung hidrokuinon.

21
BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah krim

pemutih A, B, C, D, dan E yang beredar di pasar X dan Y di Makassar

tidak mengandung hidrokuinon.

V.2 Saran

Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan

menggunakan metode pengujian yang lain. Dan sebaiknya konsumen

menggunakan krim pemutih yang telah teregistrasi oleh BPOM.

22
DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M., 1997, Tekhnik Kromatografi untuk Analasis Bahan Makanan,


Penerbit Andi, Yogyakarta.

Anief, M, 2000, Farmasetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Astuti, Dian Wuri, dkk, 2016, Identifikasi Hidrokuinon Pada Krim Pemutih
Wajah Yang Dijual Di Minimarket Wilayah Minomartani Yogyakarta,
Program Studi D3 Analis Kesehatan STIKES Guna Bangsa,
Yogyakarta.
Astuti, Arum Ika Yuni Astuti, 2011, Penetapan kadar Hidrokuinon Dalam
Sediaan Krim Malam Pemutih Di Klinik Kecantikan Purwokerto,
Universitas Muhammadiyah, Purwekorto.

Badan POM RI. 2007, Kenalilah Kosmetik anda Sebelum


Menggunakannya, In: Info POM, Vol VIII No.4. Edisi Juli 2007.
Jakarta.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2008, Bahan Berbahaya Dalam


Kosmetik, Naturoks, 3 (6), 4-7.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOMRI).


2009, Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011 tentang Penetapan
Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia.Badan POM RI. 2015. Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 18
Tentang Persyaratan Tekhnis Bahan Kosmetika.

Badan Pengawas Obat Dan Makanan. 2011, Hidrokuinon, Sentra


Informasi Keracunan Nasional, Jakarta.

Citra, M.D., 2007, Hati-hati pakai


pemutih,http://cybermed.cbn.net.id/cbprt/health news. Di akses
pada tanggal 18 Desember 2013, Yogyakarta. Dean, J., 1995,
Analytical Chemistry Handbook,Mc Graw-Hill Inc., USA, pp.4.98,
4.113.

Departemen Kesehatan RI. 1995, Farmakope Indonesia : Edisi


Keempat,Direktorat Jendral Pengawasan Obat Dan Makanan : Depkes
RI.Dian, Lailul. 2016, Penetapan Kadar Hidrokuinon pada Krim
Pemutih Wajah A dan B dengan Metode Kolorimetri. Fakultas
Farmasi, Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri, Indonesia.

23
Fessenden, R. J. & Fessenden, J. S., 1997,Dasar-Dasar Kimia Organik.
Binarupa Aksara hal 399-404, Jakarta.

Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007,Kimia Farmasi Analisis. Pustaka


Pelajar. Hal. 419, 425, Yogyakarta.
Hart, H., Craine, L., dan Hart, D. J. 2003,Kimia Organik Edisi II,Erlangga,
Hal 309-314Jakarta.

Hart, Harold.1983,Kimia Organik, diterjemahkan oleh Suminar Achmadi,


Erlangga,Jakarta.

Ibrahim Slamet, dkk. 2004,Penetapan Kecermatan dan Keseksamaan


Metode Kalorimetrimenggunakan Pereaksi Floroglusin Untuk
Penetapan Kadar Hidroquinon Dalam Krim Pemucat, ITB,
Bandung.

Marshal, D. L., L. N. Cotton, F. A. Bal’a.2000,Acetic Acid. Di dalam :


Naidu, A. S. (Eds.).. Natrual Food Antimicrobial Systems. CRC
Press. New York.

Ningsih, Ayu Utami. 2009, Identifikasi Hidrokuinon Dalam Krim Pemutih


Selebritis Night Cream Dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis,
Program Studi Diploma III Kimia Analisis Fakultas Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Rostamailis, dkk. 2008. Tata Kecantikan Rambut Jilid 1, PT Rineka Cipta,


Jakarta.

Sentra Informasi Keracunan Nasional (SiKerNas) Pusat Informasi Obat


dan Makanan, Badan POM RI Tahun 2012

Stahl, Egon. 1985, Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi,


Penerbit ITB, Bandung.

Jellinek, J. and Stephan, D. R., 1970, Formulation and Function of


Cosmetics, translated by G.L., Fenton, John Wiley and Sons Inc.,
USA, pp 322-326.

Tranggono, Retno Iswari dan Fatma. 2007,Buku Pegangan Ilmu


Pengetahuan Kosmetik, Gramedia Pustaka, Jakarta..

Wasitaatmadja SM., 1997, Penuntun Ilmu Kosmetika Medik, Universitas


Indonesia, Jakarta.

24
Widana N. 2007, Analisis Bahan Pewarna Berbahaya pada Sediaan
Kosmetika di Wilayah Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, J
Penelitian Pengembangan Sains Humaniora, 1(1), 26-36

LAMPIRAN
Lampiran 1.
PEMBUATAN LARUTAN PEMBUATAN LARUTAN
UJI BAKU
PREPARASI SAMPEL

ANALISIS KUALITATIF MENGGUNAKAN


METODE KLT

25
PEMBUATAN LARUTAN UJI

SAMPEL 1.25 g (A,B,C,D, E)

DIMASUKKAN KE DALAM BEAKER GLASS

+ 3 TETES HCl 4 N

+ 5 mL ETANOL LALU DI PANASKAN

DIMASUKKAN KE DALAM LABU UKUR 25 mL

+ ETANOL SAMPAI
GARIS TANDA

DIHOMOGENKAN

DISARING MELALUI NATRIUM


SULFAT

26
PEMBUATAN LARUTAN BAKU

DI TIMBANG ± 25 mg HIDROKUINON

DIMASUKKAN KE DALAM LABU UKUR 25 mL

+ 0.25 mL HCL 4 N

+ ETANOL SAMPAI GARIS TANDA

DI HOMOGENKAN

ANALISIS KUALITATIF MENGGUNAKAN METODE KLT

27
DI TOTOLKAN LARUTAN SAMPEL DAN LARUTAN BAKU PADA
PLAT KLT DENGAN JARAK 2 cm DARI BATAS BAWAH

PLAT KLT DIMASUKKAN KE DALAM CHAMBER


YANG BERISI FASE GERAK

DI BIARKAN ELUEN NAIK KE ATAS


HINGGA TANDA BATAS

DILIHAT PADA LAMPU ULTRAVIOLET


254 NM

DI HITUNG NILAI Rf

28
29
LAMPIRAN 2.

sampel krim pemutih setelah ditimbang

Setelah sampel dipreparasi

Bercak noda dilihat pada lampu UV254

30
LAMPIRAN 3.
Chamber

Mikropipet skala 5-50 mikroliter

Lampu UV254

31
sampel krim pemutih setelah ditimbang Setelah sampel dipreparasi

Bercak noda dilihat pada lampu UV254

32
33