Anda di halaman 1dari 11

96 JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018

PENETAPAN KONDISI OPTIMUM PENGUJIAN KADAR


PARASETAMOL DAN KAFEIN DENGAN KROMATOGRAFI CAIR
KINERJA TINGGI

Nofita1, Risna Dayanti1, Tutik1, Supardi1

ABSTRACT
Analgesic and antipyretic drugs circulating in the community generally contain
a mixture of paracetamol and caffeine. This study aims to determine the
optimum conditions of parasemol and caffeine. Methods for analyzing the
optimum conditions of paracetamol and caffeine with HPLC. Measurements
are made with various parameters, such as the comparison of the mobile
phase, flow rate, wavelength, retention time, number of plates, capacity
factors, selectivity factors, coefficient of variation and symmetry. At a flow
rate of 1.0 mL / minute with a concentration of 10% shows that all the
parameters used in the test of the suitability of this system obtained good
results. The results of the study were found to have succeeded in streamlining
the testing time from ± 15 minutes to ± 6 minutes with a flow rate of 1.0 mL
/ minute at a concentration of 10%. The selected method has been tested for
suitability of the system with the results of meeting all criteria for the system
suitability test parameters.

Keywords: paracetamol, caffeine, HPLC, system suitability

ABSTRAK
Obat analgetik dan antipiretik yang beredar dimasyarakat umumnya
mengandung campuran parasetamol dan kafein. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui penetapkan kondisi optimum dari bahan parasemol dan
kafein. Metode untuk melakukan analisis kondisi optimum dari parasetamol
dan kafein dengan KCKT. Pengukuran dilakukan dengan berbagai variasi
parameter, seperti perbandingan fase gerak, laju alir, panjang gelombang,
waktu retensi, jumlah lempeng, faktor kapasitas, faktor selektivitas, koefesien
variasi dan kesimetrisan. Pada laju alir 1,0 mL/menit dengan konsentrasi 10
% menunjukkan bahwa seluruh parameter yang digunakan dalam uji
kesesuain sistem ini diperoleh hasil yang baik. Hasil penelitian diketahui telah
berhasil mengefisienkan waktu pengujian dari ± 15 menit menjadi ±6 menit
dengan laju alir 1,0 mL/menit pada konsentrasi 10 %. Metode terpilih telah di
uji kesesuaian sistem dengan hasil memenuhi seluruh kriterian untuk
parameter uji kesesuaian sistem.

Kata kunci : parasetamol, kafein, KCKT, Kesesuain sistem

PENDAHULUAN penyakit pada manusia atau pada


Obat adalah suatu zat yang hewan.Jenis-jenis obat yang
digunakan untuk diagnosa, digunakan untuk penyembuhan
pengobatan, melunakkan, penyakit pada manusia digolongkan
penyembuhan atau pencegahan pada jenis analgetik, antipiretik,

1. Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Malahayati


JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018 97

antibiotik, antihistamin, dan lain- putih yang biasanya menggumpal,


lain (Kriswanto, 2013). tidak berbau,berasa pahit. Kafein
Di negara tropik termasuk larut dalam air, etanol, kloroform,
Indonesia umumnya banyak sukar larut dalam eter. Kafein
digunakan obat analgetik dan memiliki titik lebur antara 235oC
antipiretik disamping jenis obat dan 237,5oC. Metode yang dapat
lainnya. Jenis obat tersebut banyak digunakan untuk menganalisis
ragam dan bentuk dengan berbagai kombinasi parasetamol dan kafein
nama dagang dan beredar secara yaitu kromatografi cair kinerja
luas di pasar bebas, apotek, rumah tinggi (Depkes RI, 1995).
sakit dan pusat kesehatan Kromatografi cair kinerja
masyarakat. Diantara obat tinggi (KCKT) adalah teknik
analgetik danantipiretik yang pemisahan fisiksuatu campuran zat-
beredar dimasyarakat umumnya zat kimia (analit) yang berdasarkan
mengandung campuran pada perbedaan distribusi masing-
parasetamol dan kafein (Kriswanto, masing komponen campuran yang
2013). terpisah pada fase diam dibawah
Parasetamol adalah obat pengaruh fase gerak. Fase gerak
analgetis dan antipiretis tetapi tidak dapat berupa gas atau zat cair dan
antiradang. Pada umumnya fasediam dapat berupa zat cair atau
dianggap sebagai zat antinyeri yang zat padat. Keunggulan metode ini
paling aman, juga untuk dibanding metode pemisahan
swamedikasi (pengobatan sendiri). lainnya terletak pada ketepatan
Efek samping jarang terjadi, antara analisis dan kepekaan yang tinggi
lain reaksi hipersensitivitas dan serta cocok untuk memisahkan
kelainan darah (Tjay dan Rahardja, senyawa-senyawa yang tidak tahan
2002). Selain parasetamol zat pada pemanasan. (Susanti dan
tambahan untuk obat sakit kepala Dachriyanus, 2017).
adalah kafein. Peneliian sebelumnya oleh
Kafein atau 1,3,7- trimetil Pratiwi (2011) mengenai optimasi
xantin, berbentuk anhidrat atau kondisi pengujian kromatografi cair
hidrat yang mengandung 1 molekul kinerja tinggi pada penetapan kadar
air. Mengandung tidak kurang dari bahan aktif obat sakit kepala.
98,5% dan tidak lebih dari 101,0% Penelitian ini menggunakan 2
C6H10N4O2, dihitung terhadap zat variabel bebas, yaitu konsentrasi
anhidrat. Kafein merupakan serbuk fase gerak asetonitril 10; 15; dan
putih atau bntuk jarum mengkilap 20%,sedangkan laju alirnya yaitu
98 JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018

0,5; 1,0; dan 1,5 mL/menit. dilakukan di UPT Laboratorium


Kondisi optimum diperoleh pada Terpadu dan Sentra Inovasi
konsentrasi asetonitril 15% dan laju Teknologi (LTSIT) Universitas
alir 1,0 mL/menit . Lampung
Penelitian lain oleh Damayanti
dkk (2003), mengenai penetapan Bahan Dan Alat
secara simultan campuran Bahan
parasetamol dan ibu profen dengan Baku Parasetamol 500 mg,
kromatografi cair kinerja tinggi. Baku Kafein, Asetonitril gradien
Penelitian ini menggunakan grade LC, Air distilasi.
perbandingan fase gerak dapar
fosfat : asetonitril yaitu 25:75; Alat
25:75; 30:70; untuk laju alir yaitu Peralatan yang digunakan
0,5; 0,75;1 mL/menit. Kondisi selama penelitian adalah KCKT
optimum diperoleh pada digunakan untuk parameter
konsentrasi 25 :75 dengan laju alir ketangguhan. HPLC Shimadzu LC-
0,5 mL/menit dengan waktu retensi 20 AD, injektor sampel, kolom
parasetamol 4,89 menit. persuit agilentC18 ( 125 x 4mm, 5
Berdasarkan uraian tersebut, µm), Neraca analitik (KERN ABJ-
maka penulis tertarik untuk 120-4NM), Filter holder, membran
melakukan analisiskondisi optimum filter (millipore) 0.2 µm,13 mm,
dari parasetamol dan kafein dengan Ultrasonic, labu takar Iwaki, pipet
KCKT. Pengukuran dilakukan volumetrik, Peralatan kaca lainnya.
dengan berbagai variasi parameter,
seperti perbandingan fase gerak, Populasi dan Sampel
laju alir, panjang gelombang, waktu Sampel yang digunakan
retensi, jumlah lempeng, faktor pada penelitian ini adalah tablet
kapasitas, faktor selektivitas, sakit kepala dengan merk X yang
koefesien variasi dan kesimetrisan didapat dari apotek Rosa di Bandar
dengan tujuan menetapkan kondisi Lampung.
optimum untuk meningkatkan
efisien waktu pengujian. Prosedur Penelitian (Pratiwi,
2011)
METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian ini
Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan untuk memodifikasi
Penelitian dilakukan pada metode pengujian KCKT pada
bulan Juni 2018. Penelitian penetapan kadar parasetamol.
JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018 99

Parameter kondisi KCKT sebelum Tabel 3.


Rancangan komposit pusat (RKP)
modifikasi diberikan pada Tabel
dengan 2 perubahan
1.Modifikasi dilakukan terhadap
komposisi fase gerak dan laju alir, Konsentrasi
Laju alir
sedangkan parameter yang lainnya asetonitril
10 %
dibuat tetap.
0,5 15 %
Tabel 1. 20 %
Parameter kondisi KCKT sebelum 10 %
modifikasi 1,0 15 %
20 %
Parameter Sebelum Optimasi 10 %
Kolom Pesrsuit agilent C18 1,5 15 %
(125 x 4mm, 5 µm) 20 %
Detektor PDA (Photo diode
array), 270 nm
Laju alir 1.0 mL/menit Metode tersebut digunakan
Loop injektor 20 µL
Pelarut dan Asetonitril : Air (10 : untuk mengamati pengaruh
fase gerak 90)
konsentrasi fase gerak dan laju alir
terhadap waktu retensi dan resolusi
Rancangan Percobaan
dari 2 zat aktif, yaitu parasetamol
Metode untuk menentukan
dan kafein.
kondisi optimum penetapan kadar
parasetamol dan kafein dengan 2
Pembuatan Fase Gerak standar
faktor sebagai perubah bebas, yaitu
Mencampurkan pelarut
konsentrasi fase gerak (%v/v) dan
asetonitril:air (sesuai nisbah yang
laju alir (mL/menit). Respons yang
diinginkan, yaitu asetonitril 10, 15,
diamati adalah waktu retensi
dan 20%). Konsentrasi 10 %
(menit) dan resolusi. Percobaan
dipipet 5 mL asetonitril tambahkan
dirancang dalam bentuk RKP dan
aquadest 50 mL. Konsentrasi 15 %
level terkode disajikan pada Tabel 2
dipipet 7,5 mL asetonitril
dan 3.
tambahkan aquadest 50 mL.
Tabel 2.
Perlakuan terkode penetapan kadar Konsentrasi 20 % dipipet 10 mL
parasetamol dan kafein
asetonitril tambahkan aquadest 50
Perlakuan mL
Perlakuan
terkode
Fase gerak
(%) 10 15 20 Pembuatan larutan standar
asetonitril Pembuatan standar,
Laju alir
(mL/menit) 0,5 1,0 1,5 sebanyak 500 mg standar
parasetamol dan 30mg kafein
ditimbang saksama, dilarutkan
100 JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018

dalam fase gerak dengan komposisi Larutan B dilakukan pengenceran


terpilih hingga 50 mL (A). Labu 50 kali. Campuran dihomogenkan
takar 10 mL disiapkan kemudian dan disaring dengan Filter holder
dipipet 1,0 mL, larutan A ,membran filter (millipore) 0.2
dimasukkan ke dalam labu tersebut µm,13 mm.
dan ditera dengan pelarut. Dipipet
1,0 mL lagi ke dalam labu takar 10 Uji Kesesuaian Sistem
mL, diperoleh larutan parasetamol Larutan standar parasetamol
100 ppm dan kafein 6 ppm. konsentrasi 100 ppm dan standar
Campuran dihomogenkan dan kafein 6 ppm diinjeksikan sejumlah
disaring dengan Filter holder, 20 µL melalui injector ke dalam
membran filter (millipore) 0.2 KCKT, digunakan kecepatan alir
µm,13 mm. hasil optimasi dan detektor PDA
diatur pada λ 270nm. Diperoleh
Pembuatan Fase Gerak sampel kromatogram untuk tiap injeksi
Mencampurkan pelarut yang akan digunakan untuk
asetonitril:air (sesuai nisbah yang menentukan kadar penyuntikan
diinginkan, yaitu asetonitril 10, 15, larutan baku, yang dinyatakan
dan 20%). Konsentrasi 10 % dalam waktu retensi, luas puncak,
dipipet 10 mL asetonitril tambahkan tinggi puncak, faktor kapasitas,
aquadest 100 mL, Konsentrasi 15 % selektivitas, efisien kolom, resolusi.
dipipet 15 mL asetonitril tambahkan
aquadest 100 mL, Konsentrasi 20 % Analisis Data (Susanti dan
dipipet 20 mL asetonitril tambahkan Dachriyanusus, 2017)
aquadest 100 mL Waktu Retensi
Waktu retensi analit
Pembuatan larutan sampel dikurangi dengan waktu retensi
Sebanyak 20 buah tablet pelarut pengelusi atau pelarut
ditimbang dan ditentukan nilai rata- pengelusi campur disebut sebagai
rata bobotnya kemudian digerus waktu retensi terkoreksi yang
hingga halus dan tercampur dinyatakan sebagai tR’.
homogen. Ditimbang setara bobot 1 Rumus : tR’= tR - tM
tablet (digunakan bobot rata-rata Waktu retensi yang
20 tablet) kemudian dimasukkan ke dinyatakan dalam satuan (menit)
dalam labu takar 100 mL dan memberikan arti yang sangat
dilarutkan dengan fase gerak penting dalam analisa kualitatif
komposisi terpilih (larutan B). dengan KCKT.
JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018 101

Faktor Kapasitas / faktor Rumus : JSPT = H = HETP = L


retensi N
Faktor kapasitas k’ L : panjang kolom (nm)
dinyatakan sebagai berikut: N : jumlah pelat teori
Rumus : k' = (tR – to)
To Resolusi
tR – to : waktu retensi Daya pisah R antara dua puncak
to : waktu retensi fase gerak dapat diukur secarakuantitatif
sebagai berikut :
Selektivitas (α) Rumus : R = (tR2 – tR1)
Selektivitas (α) merupakan 0,5 (W2 + W1)
nilai retensi relatif tiap komponen tR : waktu retensi komponen
oleh fase diam. W : lebar alas puncak
Rumus : α = k2
k1 Faktor Simetri
Sehingga : α = t2 – to Faktor simetri atau tailing factor
t1 – t yaitu terjadinya pengekoran pada
kromatoggram sehingga bentuk
Efisiensi kolom kromatogram menjadi tidak
Terdapat dua cara yang simetris.
paling lazim digunakan dalam Rumus : Tf = bc
memngukur efisiensi kolom ac
kromatografi yaitu jumlah pelat bc : selisih antara waktu retensi
teori (N) dan jarak setara pelat teori dan waktu yang menunjukkan akhir
(JSPT). puncak
ac : selisih antara waktu yang
Jumlah Pelat Teori (N) menunjukkan akhir puncak dan
Jumlah pelat teori digunakan untuk awal puncak.
mengetahui keefisienan kolom.
2
Rumus : N = 16 tR HASIL DAN PEMBAHASAN
W Penetapan kondisi optimum
tR : waktu retensi analit pengujian kadar parasetamol dan
W : lebar pada dasar puncak kafein dengan kromatografi cair
kinerja tinggi dilakukan dengan
Jarak Setara Pelat Teori (JSPT) mengubah konsentrasi fase gerak
Harga H berkaitan dengan jumlah dan laju alir untuk menentukan
pelat teori menurut persamaan : kondisi optimum dan efisien waktu
102 JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018

pengujian. Modifikasi dalam polar akan terelusi lebih dulu


penelitian ini menggunakan fase sehingga memiliki waktu retensi
diam dalam kolom ialah persuit yang lebih singkat dibandingkan
agilent C18 yang bersifat non polar, dengan kafein. Pemilihan fase gerak
sehingga yang digunakan fase ini didasari dari sifat sampel yang
gerak yang bersifat polar ialah bersifat polar. Laju alir ialah 1.0
asetonitril : air (10:90). mL/menit serta menggunakan
Parasetamol yang sifatnya lebih detektor PDA 270 nm.

Tabel 4.
Rancangan Komposit Pusat dan Respon Percobaan

Waktu Waktu Waktu Waktu


Laju konsentrasi
retensi retensi Resolusi retensi retensi Resolusi
alir asetonotril
P1 K1 p2 K2
10% 6,007 11,051 3,555 5,766 10,546 3,463
0,5 15% 5,671 10,351 3,506 5,671 10,337 3,496
20% 5,734 10,508 3,571 5,802 10,547 3,200
10% 3,523 6,416 2,300 3,444 6,579 2,330
1,0 15% 3,372 6,610 2,057 3,398 6,234 2,520
20% 3,425 6,356 2,909 3,406 6,445 1,971
10% 2,210 4,058 1,374 2,180 3,912 1,288
1,5 15% 2,169 3,907 1,273 2,177 3,907 1,258
20% 2,158 3,900 1,320 2,168 3,920 1,153

Keterangan :
P1 : Standar parasetamol
K1 : Standar kafein
P2 : Sampel parasetamol
K2 : Sampel kafein

Perubahan konsentrasi fase resolusinya justru semakin besar.


gerak dan laju alir berpengaruh Menurut Andrade (2008), laju alir
terhadap perubahan waktu retansi yang lebih tinggi dari 1,0 mL/menit
parasetamol dan kafein serta dapat menyebabkan tekanan
resolusi dapat dilihat pada tabel dalam kolom meningkat sehingga
4.1. Laju alir 1,5 mL/menit, waktu mempercepat kerusakan kolom.
retensi yang diperoleh semakin Oleh karena itu, dilakukan
singkat tapi resolusinya justru pemilihan komposisi lain yang
semakin kecil,sedangkan di laju alir masih mendekati kondisi optimum
0,5 mL/menit, waktu retensi yang yaitu pada laju alir 1,0 dan 1,5
diperoleh semakin lama tapi mL/menit.
JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018 103

8 kolom. Semakin cepat laju

Waktu Retensi
6 alir,waktu retensi akan semakin
4 pendek. Laju alir 0,5 mL/menit
tR P1
2 memiliki waktu retensi lebih lama
tR K1
0 (2 kali) dari waktu retensi pada
0% 10% 20% 30% laju alir 1,0 mL/menit. Jika dilihat
Konsentrasi Asetonitril
dari resolusinya laju alir 0,5
Gambar 1. kurva waktu retensi mL/menit dan 1,0 mL/menit dapat
standar pada laju alir 1,0 mL/menit
dikatan memiliki resolusi yang baik
(>1,5) dan tidak berbeda jauh.
Oleh karena itu, laju alir 1,0
8
mL/menit dapat dikatakan
Waktu Retensi

6
merupakan laju alir yang lebih
4
tR P2 tepat untuk digunakan.
2
tR K2 Pengukuran kondisi
0 optimum dengan melakukan
0% 10% 20% 30%
berbagai parameter seperti
Konsentrasi Asetonitril
perbandingan fase gerak, laju alir,
Gambar 2. Kurva waktu retensi
panjang gelombang, waktu retensi,
sampel pada laju alir 1,0 mL/menit
jumlah lempeng, faktor kapasitas,
Laju alir mempengaruhi faktor selektivitas, koefisien variasi
kecepatan fase gerak melewati dan kesimetrisan. (Tabel 4.2 )

Tabel 5.
Uji Kesesuaian Sistem

Laju Konse
tR (menit) R K’ α N JSPT TF
alir nttrasi
P1 : 3,523 5,573 57,354 2,179 0,838
K1 : 6,416 2,133 11,885 1,964 373,551 0,335 0,683
10 %
P2 : 3,444 5,046 172,459 0,725 0,819
K2 : 6,579 2,000 10,093 2,070 420,519 0,297 0,751

P1 : 3,372 5,573 57,354 2,179 0,838


2,057 2,133
K1 : 6,610 11,885 373,551 0,335 0,683
1,0 15 %
P2 : 3,398 5,046 172,459 0,725 0,819
2,520 2,000
K2 : 6,234 10,093 420,519 0,297 0,751

P1 : 3,425 5,450 209,286 0,597 0,820


2.909 2,013
K1 : 6,356 10,970 566,689 0,221 0,661
20 %
P2 : 3,406 5,588 55,790 2,241 0,881
1,971 2,052
K2 : 6,445 11,466 418,624 0,299 0,643
104 JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018

Keterangan :
P1 : Standar parasetamol tF : Faktor simetri
K1 : Standar kafein N : jumlah pelat teori
P2 : Sampel parasetamol JSPT : jarak setara pelat teori
K2 : Sampel kafein R : Resolusi
tR : Waktu retensi
K’ : Faktor kapasitas/
faktor retensi
α : Selektivitas

Resolusi pada kondisi dengan panjang kolom dan


optimum menunjukkan pemisahan kecepatan alir fase geraknya.
dua puncak parasetamol dan Faktor kapasitas dapat
kafein. Pada laju alir 1,0 mL/menit memberikan gambaran dimana
dengan konsentrasi asetonitril 10 puncak – puncak analit terelusi
%, 15 % dan 20 % resolusi yang secara relatif terhadap puncak fase
didapat ideal, karena syarat dari geraknya (Susanti dan
resolusi ialah R>1,5 dimana dua Dachriyanusus, 2017).
puncak terpisah secara sempurna. Laju alir 1,0 mL/menit
Bila pada suatu analisis diperoleh R dengan ketiga konsentrasi
<1,5 maka untuk meningkatkan asetonitril menunjukkan harga K’
harga R oleh fase diam dapat yang baik. Karena harga K’ yang
dilakukan dengan menggunakan baik berkisar antara 2 sampai 10.
kolom yang lebih panjang sehingga Bila harga k’ kecil berarti analit
menambah jumlah plat teoritis ditahan sedikit oleh kolom dan
(Susanti dan Dachriyanusus, terelusi dekat dengan puncak fase
2017). gerak, Ini menghasilkan pemisahan
Faktor kapasitas merupakan yang kurang bagus. Harga k’ yang
ciri khas suatu analit pada kondisi besar (misalnya 20-30 menit)
tertentu, yaitu pada komposisi fase menunjukkan pemisahan yang baik
gerak, suhu dan jenis kolom tetapi menyebabkan waktu analisis
(panjang kolom, diameter kolom terlalu lama (Susanti dan
dan ketebalan lapisan film tertentu. Dachriyanusus, 2017).
Meskipun suatu puncak Selektivitas adalah
kromatogram dapat diidentifikasi kemampuan fase diam untuk
melalui waktu retensinya namum memisahkan 2 komponen
akan lebih baik bila diidentifikasi (komponen 1 dan komponen 2),
dengan menggunakn faktor dimana komponen 2 sangat
kapasitas, karena harga waktu tertahan dibandingkan komponen 1
retensi dapat berubah-ubah sesuai ditentukan oleh partisi atau rasio
JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018 105

relatifnya, sehingga tergantung KCKT umumnya meningkat dengan


pada faktor kapasitasnya pada fase semakin kecilnya ukuran partiket
diam tertentu. Selektivitas yang ada di dalam kolom (Susanti
merupakan nilai retensi relatif tiap dan Dachriyanusus, 2017).
komponen oleh fase diam (Susanti Jarak setara pelat teori
dan Dachriyanusus, 2017). (JSPT) adalah panjang kolom
Laju alir 1,0 mL/menit kromatogram (mm) yang
dengan ketiga konsentrasi diperlukan sampai terjadinya satu
asetonitril menunjukkan nilai α kali keseimbangan distribusi
yang baik, karena lebih besar dari dinamis molekul analit dalam fase
1. Selektivitas untuk pasangan gerak dan fase diam. Harga JSPT
puncak yang bersebelahan pada ketiga konsentrasi asetonitril
merupakan fungsi jenis fase diam menunjukkan pada laju alir 1,0
yang digunakan, fase gerak dan mL/menit dengan konsentrasi 10
suhu kolom, dan harus dioptimasi %,karena untuk kromatografi cair
terutama untuk komponen yang berkecepatan tinggi mempunyai
paling sukar terpisak selama elusi tinggi pelat dalam rentang 0,01
(Susanti dan Dachriyanusus, sampai 1,0 mm (Susanti dan
2017). Dachriyanusus, 2017).
Jumlah pelat teori (N) adalah Faktor simetri atau tailing
banyaknya distribusi keseimbangan factor yaitu terjadinya pengekoran
dinamis yang terjadi didalam suatu pada kromatogram sehingga
kolom. Jumlah pelat teori bentuk kromatogram menjadi tidak
digunakan untuk mengetahui simetris. Kesimetrisan pada kondisi
koefisienan kolom. Persamaan ini optimum pada laju alir 1,0
membandingkan lebar puncak mL/menit dengan konsentrasi 10
dengan lamanya komponen berada %. kromatogram yang
dalam kolom, Jadi kolom yang memberikan harga TF= 1 berarti
efisien mencegah pelebaran pita kromatogram tersebut benar –
dan atau menghasilkan puncak benar simetris. Harga TF > 1
yang sempit (Susanti dan berarti kromatogram tersebut
Dachriyanusus, 2017). mengekor (tailing),makin besar
Proses pemisahan diharapkan harga TF makin tidak efisien kolom
untuk menghasilkan harga N yang yang dipakai. Bila harga TF < 1
sebesar -besarnya. Harga N paling berarti kromatogram mengandung
besar ditunjukkan pada konsentrasi (fronting). Jadi harga TF dapat
asetonitril 20 %.Efisiensi kolom digunakan sebagai pedoman untuk
106 JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 1 No 2, Agustus 2018

melihat efisien kolom kromatografi dengan kromatografi cair kinerja


(Susanti dan Dachriyanusus, tinggi perlu dilakukan uji validasi.
2017).
Diamati dari hasil yang DAFTAR PUSTAKA
diperoleh pada berbagai parameter Andrade A, Dievart P, Dagaut P.
2009. Improve optimization
kondisi optimum, perbedaan
of polycylic aromatic
konsentrasi asetonitril tidak hydrocarbon (PAHs) mixtures
resolution in reversed phase
memberikan perbedaan yang
high using factorial design
berarti. Oleh karena itu,untuk and responsse surface
methodology. France: CNRS-
memberikan kondisi analisis
ICARE IC, Avenua de la
parasetamol dan kafein yang Recherche Scientifique
Depkes RI. 1995. Farmakope
optimum dipilih laju alir 1,0
Indonesia Edisi IV.
mL/menit dengan konsentrasi 10 Departemen Kesehatan RI.
Jakarta
%.
Damayanti S., Ibrahim S., Firman
K., Daryono H., Tjahjono.
2003. Simutaneous
KESIMPULAN
Determination Of Parasetamol
Penetapan kondisi optimum and Ibuprofen Mixtures By
High Perfomonce Liquid
pengujian kadar parasetamol dan
Chromatography. Indonesian
kafein dengan kromatografi cair Journal Of Chemistry. Hayati
3: 9-13
kinerja tinggi dapat disimpulkan
Kriswanto. 2013. Pengembangan
bahwa : dan Uji Validasi Metode
Analisa Kadar Parasetamol
Telah berhasil
dan Kafein dengan
mengefisienkan waktu pengujian Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi [Skripsi]. Jurusan
dari ± 15 menit menjadi ±6 menit
Pendidikan Kimia Fakultas
dengan laju alir 1,0 mL/menit pada Pendidikan Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam
konsentrasi 10 %. Metode terpilih
Universitas Pendidikan
telah di uji kesesuaian sistem Indonesia
Pratiwi EH. 2011. Optimasi Kondisi
dengan hasil memenuhi seluruh
Pengujian Kromatografi Cair
kriterian untuk parameter uji Kinerja Tinggi Pada
Penetapan Kadar Bahan Aktif
kesesuaian sistem.
Obat Sakit Kepala [Skripsi].
Institut Pertanian Bogor, Hlm
1-7
Saran
Susanti M., Dachriyanus. 2017.
Penetapan kondisi optimum Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi. Penerbit Andalas
pengujian kadar parasetamol dan
University Pess: padang
kafein dengan laju alir 1,0 Tjay HT., Rahardja K. 2007. Obat-
Obat Penting. Elex Media
mL/menit pada konsentrasi 10 %
Komputindo