Anda di halaman 1dari 21

TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS II

PEMERIKSAAN CAIRAN VAGINA

OLEH :

1. NI MADE ANDRIYANI WIASA (


2. NI MADE ARIK PUSPARANI (16C11810)
3. KADE ASMELA TWOMARHENSA (
4. NI LUH HENI NURYANI (16C11830)
5. FITRI RAHAYU
6. I PUTU PAHANG REFORANSA PUTRA (16C11847)
7. MADE BUDI SETIAWAN ( 16C11853)
8. NI PUTU YUMI MASYUNIATI (16C11879)

PRODI ILMU KEPERAWATAN


INSITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
2019
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Keputihan atau yang disebut juga dengan istilah white discharge


atau vaginal discharge atau flour albus. Keputihan yang terjadi pada wanita
bersifat normal dan abnormal. Keputihan normal terjadi sesuai dengan
proses menstruasi. Gejala keputihan yang normal adalah tidak berbau,
jernih, tidak gatal, dan tidak perih. Keputihan abnormal terjadi akibat infeksi
dari berbagai mikroorganisme antara lain jamur, bakteri dan parasit.
Keputihan yang abnormal ditandai dengan jumlah yang keluar banyak,
berwarna putih seperti susu basi, kuning, atau kehijauan, gatal, perih, dan
disertai bau amis atau busuk. Wanita yang mengalami keputihan tidak
normal merupakan indikasi dari berbagai penyakit seperti vaginitis,
kandidiosis, Human Papilloma Virus (HPV), gonore, dan trikomoniasis
yang merupakan salah satu gejala dari Penyakit Menular Seksual (PMS)
terutama pada wanita yang pernah berganti pasangan seksual atau pasangan
seksualnya berganti seksual.

Pada penelitian secara retrospektif dekstriptif di Poliklinik Kulit dan


Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D Kandou tahun 2009 – 2011. Pada penelitian
tersebut mengambil data seluruh kasus baru dengan keluhan duh tubuh
vagina, diagnosis vaginal bacterial didapatkan sebanyak 61,07 %, kandiasis
vulvovaginal sebanyak 33,59% dan triokomoniasis 5,34 %. Berdasarkan
data jumlah kunjungan pasien baru pada tahun 2014 dengan keluhan duh
tubuh vagina di divisi Infeksi Menular Seksual Poliklinik Kulit dan Kelamin
RSCM sebanyak 103 kasus dengan pemeriksaan laboratorium didapatkan
kandidosis vulvovaginalis 23,3%, infeksi genetalia non spesifik (IGNS)
16,5%, vaginosis bakterial 15,5%, kandidosis vaginalis 1,9%, trikomoniasis
1,9%, gonore 2,9%, dan duh tubuh fasiologis 27,2%.

Menurut data Globacan tahun 2012 perkiraan 528.000 kasus baru


dan sekitar 266.000 kematian akibat kanker serviks uteri. Hampir sembilan
dari sepuluh (87%) kematian kanker serviks uteri terjadi didaerah yang
kurang berkembang. Di Bali, angka kejadian kanker serviks uteri mencapai
43 orang per 100 ribu penduduk, atau sekitar 0,89% dan 3,9 juta penduduk
Bali dan sebanyak 533 ribu Wanita usia subur (WUS) termasuk masuk
kelompok berisiko sedangkan kasus kanker serviks di Kota Denpasar pada
tahun 2009 sebanyak 703 orang. Kanker serviks uteri termasuk merupakan
penyakit kanker paling umum kedua yang biasa diderita perempuan berusia
20 – 55 tahun.

Berdasarkan data diatas, maka untuk mengurangi atau mencegah


meningkatnya penderita penyakit kanker serviks dan bakteri vaginosis dapat
dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan cairan vagina. Yang mana
pemeriksaan cairan vagina dapat menurunkan resiko wanita terkena kanker
serviks dan bakteri vaginosis di Indonesia.

2. Tujuan
a) Tujuan Umum
Tujuan pembuatan makalah pemeriksaan cairan vagina ini adalah
untuk mengetahui lebih jauh mengenai pemeriksaan cairan vagina.
b) Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada makalah pemeriksaan cairan vagina adalah :
1) Untuk mengetahui pengertian cairan vagina
2) Untuk mengetahui tujuan dari pemeriksaan cairan vagina
3) Untuk mengetahui jenis-jenis cairan vagina
4) Untuk mengetahui cara pemeriksaan cairan vagina
3. Manfaat
a) Manfaan Teoritis
Manfaat dari penulisan makalah ini, dapat dijadikan acuan dalam
pembelajaran keperawatan maternitas khususnya pada pemeriksaan
cairan vagina.
b) Manfaan Praktis
1) Bagi Insitusi
Manfaat penulisan makalah ini bagi ITEKES Bali adalah
sebagai sarana dalam penambahan ilmu di perpustakaan
terutama di bidang keperawatan maternitas yang berfokus
2) Bagi Mahasiswa
Manfaat dari penulisan makalah ini, diharapkan dapat
dijadikan acuan pembelajaran dan pengembangan
pengetahuan dalam keperawatan maternitas khususnya
dalam pemeriksaan cairan vagina.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Duh Tubuh Vagina


Duh tubuh vagina atau flour albus atau dikenal dengan istilah
keputihan atau leukorrhea atau vaginal discharge adalah cairan yang keluar
dari alat genetal yang tidak berupa darah. Duh tubuh vagina dapat
merupakan suatu keadaan yang normal atau fisiologis atau sebagai tanda
dari adanya suatu penyakit atau patologis. Infeksi yang sering berhubungan
dengan keluhan duh tubuh vagina adalah kandidosis vulvovagina,
trikomoniasis, vaginosis bacterial, gonore dan klamidiosis.
Duh tubuh vagina normal berwarna bening samapai keputihan, tidak berbau
dan tidak menimbulkan keluhan. Duh tubuh vagina patologis berwarna
kekuningan atau kehijauan atau ke abu-abuan, berbau amis atau busuk,
jumlahnya banyak dan menimbulkan keluhan seperti gatal, kemerahan,
edema, rasa terbakar pada daerah vulva, nyeri pada saat berhubungan
seksual ( disparenia ) atau nyeri saat berkemih ( dysuria ).
Kementrian Kesehatan RI merekomendasikan menegemen
pemeriksaan duh tubuh vagina yang ditujukan bagi semua dokter pada
tingkat pelayanan kesehatan dengan alur pendekatan syndrome, alur
pemeriksaan dengan speculum, dan alur dengan pemeriksaan inspekulo dan
mikroskop. Diagnosis duh tubuh vagina dengan pendekatan syndrome dan
pemeriksaan dengan speculum sering digunakan apabila tidak terdapat
sarana pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan sederhana.
2. Pengertian Kanker Serviks
Kanker leher rahim atau yang disebut juga sebagai kanker serviks
merupakan suatu penyakit yang di sebabkan oleh Human Papilloma virus
onkogenik, mempunyai persentase yang cukup tinggi dalam menyebabkan
kanker serviks sebanyak 99,7% (Tilong, 2012). Kanker leher rahim
(Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di leher rahim/serviks
(bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker
serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun . Kanker leher
rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada
organ 13 reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim
yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang sanggama (vagina)
(Diananda, 2009).
3. Pengertian Pap Smear
Pap smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk
melihat adanya perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio.
Untuk mengetahui adanya tanda-tanda awal keganasan serviks (prakanker)
yang ditandai dengan adanya perubahan pada lapisan epitel serviks
(displasia) (Rasjidi, 2008). Tes papanikolau atau Pap Smear adalah metode
skrining ginekologi. Dilakukan pertama kali oleh Georgis Papanikolaou
untuk menemukan proses-proses premalignant atau prakeganasan dan
malignancy atau keganasan di ekstoserviks atau leher rahim bagian luar, dan
infeksi dalam endoserviks atau leher rahim bagian dalam endometrium.
Skrining secara teratur dapat mencegah sebagian besar kasus kanker
serviks. Tes pap dapat mendeteksi perubahan awal sel leher rahim
(displasia) sebelum berubah menjadi kanker. Pap Smear juga dapat
mendeteksi sebagian besar kanker serviks pada tahap awal (Emellia, et all,
2010).
a) Manfaat Pemeriksaan Pap Smear
Menurut Lestadi (2009) Pap Smear memiliki manfaat sebagai
berikut :
1) Evaluasi sitohormonal Penilaian hormonal pada seorang
wanita dapat dievaluasi melalui pemeriksaan sitologi apusan
pap smear yang bahan pemeriksaannya adalah secret vagina
yang berasal dari dinding lateral vagina seperti bagian atas.
a. Menentukan status hormonal seorang wanita, menentukan
adanya penyakit gangguan hormonal, menentukan
ada/tidaknya ovulasi pada kasus infertilitas 6.
b. Menentukan maturitas suatu kehamilan, apakah masih
dalam masih dalam masa evolusi, mendekati aterem, atau
sudah postmature.
c. Menilai ada/tidaknya stimulasi esterogen pada wanita
yang telah dilakukan ooforektomi atau mereka yang
mendapat terapi estrogen per oral.
2) Mendiagnosis peradangan Peradangan pada vagina dan
serviks pada umumnya dapat didiagnosis dengan
pemeriksaan sitologi apusan pap. Baik peradangan akut
maupun kronis, sebagian besar akan memberi gambaran
perubahan sel yang khas pada sediaan apusan pap sesuai
dengan organisme yang tidak menimbulkan reaksi yang khas
pada sediaan apusan pap.
3) Identifikasi organisme penyebab peradangan Dalam vagina
ditemukan beberapa macam organisme/kuman yang
sebagian merupakan flora normal vagina yang bermanfaat
bagi organ tersebut (mis, bakteri doderlein). Pada umumnya
organisme penyebab peradangan pada vagina dan serviks,
sulit diidentifikasi dengan pulasan pap, tetapi beberapa
macam infeksi oleh kuman tertentu menimbulkan perubahan
yang ada pada sel tersebut, dapat diperkirakan organisme
penyebabnya. Organisme kuman Gradnerella vaginalis
dikatakan memberi gambaran yang khas dengan adanya clue
cell. Infeksi Chlamydia menunjukan adanya sel metaplastik
yang bervakuolisasi, dan infeksi HPV menunjukkan adanya
sel metaplastik yang bervakuolisasi, dan infeksi HPV
menunjukan adanya sel koilosit. Organisme parasit yang
mudah dikenal dengan pulasan pap, adalah Trichomonas,
candida, Leptothrix, Actinomyces, oxyuris, dan amoeba.
4) Mendiagnosa kelainan prakanker (displansia) serviks dan
kanker serviks dini atau lanjut (karsinoma insitu/invasif).
Manfaat sitologi apusan pap yang paling banyak dikenal dan
digunakan adalah sebagai pemeriksaan untuk mendiagnosis
lesi prakanker (displasia) atau kanker (karsinoma) serviks.
Dengan kemajuan penelitian mutakhir di bidang sitologi
apusan pap, Sitologi ginekologik yang semula dinyatakan
hanya sebagai alat skrining deteksi kanker mulut rahim, kini
telah diakui sebagai alat skrining deteksi kanker mulut
rahim, kini telah diakui sebagai alat diagnostik prakanker
dan kanker serviks yang ampuh dengan ketepatan diagnostik
yang tinggi. Walaupun ketepatan diagnostik sitologi
ginekologik apusan pap sangat tinggi, yaitu 96%, tetapi
diagnostic sitologi tidak dapat menggantikan diagnostic
histopatologik sebagai alat pemasti diagnosis. Hal itu berarti
setiap diagnostic sitologi kanker serviks harus dikonfirmasi
dengan pemeriksaan histopatologi jaringan biopsy serviks,
sebelum dilakukan tidakan berikutnya.

b) Memantau hasil terapi


1) Memantau hasil terapi hormonal, misalnya pada kasus
infertilitas atau gangguan endokrin. Memantau hasil terapi
radiasi pada kasus kanker serviks yang telah diobati dengan
radiasi.
2) Memantau adanya kekambuhan pada kasus kanker yang
telah dioperasi.
3) Memantau hasil terapi lesi prakanker atau kanker serviks
yang telah diobati dengan elektrokuater, kriosurgeri, atau
konisasi

c) Umur Yang Sesuai Untuk Melakukan Pap Smear


Skrining pada wanita yang sudah melakukan seksual aktif,
deteksi dini adanya keganasan pada servik, pemantauan setelah
tindakan pembedahan, radio terapi, atau kemoterapi kanker serviks
(Rasjidi, 2008). Departemen kesehatan menganjurkan bahwa semua
wanita yang berusia 20-26 tahun harus melakukan Pap Smear paling
tidak setiap lima tahun. The British Medical Associaton Family
Health Encyclopedia menganjurkan bahwa seorang wanita harus
melakukan Pap Smear dalam waktu 6 bulan setelah pertama kali
melakukan hubungan seksual, dengan Pap Smear kedua 6-12 bulan
setelah Pap Smear pertama (karena suatu perubahan kecil dapat
menghilangkan suatu abnormalitas dalam suatu Pap Smear) dan
hasil yang diberikan adalah normal pada selang waktu (interval) 3
tahun selama hidupnya. Ahli-ahli di maries topes internasional
menganjurkan agar kita melakukan Pap Smear setiap tahun.
d) Klasifikasi Pemeriksaan Pap Smear
Menurut Rasjidi (2008) pengklasifikasian pap smear yaitu :
1) Klasifikasi Papaniculou
a. Grade I tak ada sel abnormal atau atipik.
b. Grade II ada sitologi atipik tapi tak ada bukti adanya
keganasan.
c. Grade III ada perubahan sitologi yang jelas tapi tak
dapat disimpulkan ada keganasan
d. Grade IV curiga ada keganasan
e. Keganasan
e) Bahan Pemeriksaan Sitologi Pap Smear
Bahan pemeriksan apusan Pap Smear terdiri atas secret
vaginal, secret serviks (eksoserviks), secret endoserviks, secret
endometrium, secret forniks posterior (Lestadi, 2009).
f) Alat Pemeriksaan Pap smear
Menurut Lestadi (2009) Dalam membuat pemeriksaan Pap Smear
diperlukan alat sebagai berikut:
1) Kaca objek
2) Bahan fiksasi basah berupa cairan fiksasi alcohol 95% dalam
tabung atau bahan fiksasi kering berupa cytotrep, dryfix, atau
hair spray.
3) Pensil gelas atau pensil intan (diamond pencil).
4) Spatula Ayre dari kayu model standar atau model modifikasi.
5) Lidi kapas, ecouvillon rigide atau cytobrush.
6) Sapu endometrium (balai endomatre).
7) Spekulum vagina cocor bebek (speculum cusco)
g) Syarat Pengambilan Bahan sitologi Pap smear
Menurut Lestadi (2009) Ada beberapa syarat yang harus
dipenuhi sebelum melakukan pengambilan bahan pemeriksaan Pap
Smear yaitu:
1) Sekret vaginal harus berasal dari dinding lateral vagina seperti
bagian atas.
2) Pengambilan secret harus dilaksanakan pada keadaan vagina
normal tanpa infeksi dan tanda pengobatan local, paling
sedikit dalam waktu 48 jam terakhir.
3) Untuk penilaian hormonal siklus menstruasi pada infertilitas,
pengambilan secret harus dilaksanakan pada hari siklus
tertentu, sesuai dengan fase-fase pada siklus haid. Sediaan
vaginal biasanya harus diambil pada hari siklus ke-8, 14,19,
dan 22 atau hari siklus ke-8, 15 dan 22.
h) Prosedur Pap Smear dilakukan dengan prosedur :
1) Pemeriksa akan menjelaskan prosedur yang akan dilakukan.
Tidur telentang dengan kedua kaki berada pada penyangga kaki
di kiri dan kanan tempat tidur.
2) Pemeriksa akan memeriksa memeriksa apakah ada
pembengkakan, luka, inflamasi, atau gangguan lain pada alat
kelamin bagian luar.
3) Memasukan instrumen metal atau plastic yang disebut
spekulum ke dalam vagina. Tujuannya agar mulut rahim dapat
leluasa terlihat.
4) Dengan swab atau spatula kayu, atau semacam sikat, operator
mengambil sel pada seluruh saluran mulut rahim, pada puncak
mulut rahim, dan pada daerah peralihan mulut rahim dan
vagina.
5) Operator akan meletakan sel-sel tersebut pada kaca obyek yang
kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk di periksa.
6) Spekulum kemudian dilepaskan.
7) Operator biasanya akan melanjutkan memeriksa ovarium,
uterus, vagina, tuba fallopi, dan rectal (anus) dengan tangannya
Pemeriksaan Pap Smear tidak membutuhkan pembiusan, baik
bius lokal maupun bius umum. Jika pada Pap Smear ditemukan
gambaran sel yang tidak normal maka akan dilakukan biopsi
(pengambilan sedikit jaringan mulut rahim) untuk pemeriksaan
mikroskop lebih lanjut. Pemeriksaan biopsi berguna untuk
menginformasikan hasil pemeriksaan Pap Smear.
i) Faktor – Faktor yang mempengaruhi hasil pap smear
1) Terdekteksinya ada tidaknya bakteri lactobacilli dinilai bukan
merupakan adanya gangguan pada system pertahanan vagina,
karena dapat disebabkan oleh berbagai alasan termasuk
vaginosis aerobic, vaginosis bakteri, trikomonas, candidiasis,
pengaruh hormonal setelah meneopuse dan masa post partum.
(Baptista et al ,2016).
2) Ketepatan pembacaan hasil pemeriksaan pap smear tergantung
pada cara pengambilan sampel oleh tenaga medis. Yang mana
dipengaruhi oleh pengambilan volume sampel, dan beban
kerja tenaga medis dalam pengumpulan sampel menentukan
reproduktivitas pap smear. (Baena,2016)
3) Tingkat akreditasi rumah sakit dapat mempengaruhi
profesionalisme dari tenaga kesehatan pada pemeriksaan pap
smear. Tenaga medis yang bekerja di rumah sakit yang
terakreditasi cenderung lebih memahami pemeriksaan pap
smear di bandingkan dengan tenaga media yang bekerja di
rumah sakit yang tidak teakreditasi. Hal ini terjadi karena
rumah sakit terakreditasi mementingkat proyek kesehatan
yang berorientasi untuk mengintgrasikan promosi kesehatan
dan Pendidikan, pencegahan penyakit dan rehabilitasi dalam
perawatan kuratif. Untuk mencegah terjadinya stress pada
perawat, rumah sakit harus meningkatkan tingkat pengetahuan
tenaga medis. (Yuan Su, 2016)

4. Pemeriksaan Cairan Vagina

Menurut Kementrian Kesehatan RI 2015 cara yang harus dilakukan


dalam pemeriksaan cairan vagina antara lain :

a) Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan oleh tenaga medis ataupun
paramedis, bertujuan untuk :
1) Menentukan faktor resiko pasien.
2) Membantu menegakan diagnosis sebelum dilakukan
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lainnya.
3) Membantu mengidentifikasi pasangan seksual pasien
Sikap yang perlu diperhatikan saat melakukan anamnesis pada
pasien :
1) Sikap sopan dan menghargai pasien yang tengah dihadapi.
2) Menciptakan suasana yang menjamin privacy dan kerahasiaan,
sehingga sebaiknya dilakukan dalam ruang tertutup dan tidak
terganggu oleh keluar masuk petugas.
3) Dengan penuh perhatian mendengarkan dan menyimak
perkataan pasien, jangan sambal menulis saat pasien berbicara
dan jangan memutuskan pembicaraannya.
4) Gunakan keterampilan verbal anda dengan memulai rangkaian
anamnesis menggunakan pertanyaan terbuka, dan mengakhiri
dengan pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka memungkinkan
pasien untuk memberikan jawaban lebih Panjang sehingga
dapat memberikan gambaran yang lebih jelas sedangkan
pertanyaan tertutup adalah salah satu bentuk pertanyaan yang
mengharapkan jawaban singkat, seiring dengan perkataan “ya”
atau “tidak” yang biasanya digunakan untuk lebih memastikan
hal yang dianggap belum jelas.
5) Gunakan keterampilan verbal secara lebih mendalam, misalnya
dengan memfasilitasi, mengarahkan, memeriksa, dan
menyimpulkan sambal menunjukan empati, meyakinkan dan
kemitraan.
6) Rangkaian pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada pasien.
Informasi yang perlu ditanyakan pada pasien :
1) Keluhan utama
2) Keluhan tambahan
3) Riwayat perjalanan penyakit
4) Siapa yang pernah menjadi pasangan seksual pasien
5) Kapan kontak seksual dilakukan
6) Jenis kelamin pasangan seksual
7) Cara melakukan hubungan seksual (genito-genital,
orogenital,anogenital)
8) Penggunaan kondom (tidak pernah, jarang, sering, selalu)
9) Riwayat dan pemberian pengobatan sebelumnya (dokter/
bukan dokter atau sendiri)
10) Hubungan keluhan dengan keadaan lainnya – menjelang atau
sesudah haid. : kelelahan fisik atau psikis, penyakit; diabeter,
tumor, keganasan, dll; penggunaan obat : antibiotika,
kortikosteroid, kontrasepsi.
11) Riwayat IMS sebelumnya dan pengobatannya.
12) Hari terakhir haid.
13) Nyeri perut bagian bawah.
14) Cara kontrasepsi yang digunakan dan mulai kapan
b) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik terutama dilakukan pada genetalia dan
sekitarnya, yang dilakukan di ruang periksa dengan lampu yang
cukup terang. Lampu sorot tambahan di perlukan untuk pemeriksaan
pasien perempuan dengan speculum. Pada pemeriksaan terhadap
pasien perempuan, pemeriksaan didampingi oleh paramedic
perempuan. Beri penjelasan lebih dahulu kepada pasien mengenai
tindakan yang akan dilakukan:
1) Pada saat melakukan pemeriksaan fisik genetalia dan
sekitarnya, pemeriksa harus selalu menggunakan sarung tangan.
Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan.
2) Pasien harus membuka pakaian dalamnya agar dapat dilakukan
pemeriksaan genetalia (pada keadaan tertentu, kadang-kadang
pasien harus membuka seluruh pakaiannya secara bertahap).
Pemeriksaan pada pasien perempuan :
Pasien perempuan diperiksa dengan berbaring pada meja
ginekologi dalam posisi litotomi
a. Pemeriksa duduk dengan nyaman sambal melakukan
inspeksi dan palpasi monspubis, labia, dan perinium.
b. Pemeriksa daerah genetalia luar dengan memisahkan kedua
labia, perhatikan adakah kemerahan, pembengkakakn, luka
atau lecet, masa atau duhtubuh.
3) Lakukan inspeksi dan palpasi daerah genetalia, perinium, anus
dan sekitarnya.
4) Jangan lupa memeriksa daerah inguinal untuk mengetahui
pembesaran kelenjar getah bening setempat (regional)
5) Bilamana tersedia fasilitas laboratorium, sekaligus dilakukan
pengambilan bahan pemeriksaan.
c) Pemeriksaan Spesimen
Pasien perempuan dengan status sudah menikah dilakukan
pemeriksaan dengan speculum serta pengambilan specimen.
1) Beri penjelasan lebuh dulu mengenai pemeriksaan yang akan
dilakukan agra pasien tidak merasa takut.
2) Bersihkan terlebih dahulu dengan kain kasa yang telah
dibasahi larutan Nacl.
3) Setiap pengambilan bahan harus menggunakan speculum
steril (sesuai dengan ukuran speculum dengan riwayat
kelahiran pervagin), swab atau sengkeli steril.
4) Masukan daun speculum steril dalam keadaan tertutup
dengan posisi tegak/vertical kedalam vagina, dan setelah
seluruhnya masuk, kemudian berputar pelan-pelan sampai
daun speculum dalam posisi datar/ horizontal. Buka
speculum dan dengan bantuan lampu sorot vagina cari servik.
Kunci speculum pada posisi itu sehingga servik terviksari.
5) Setelah itu dapat dimulai pemeriksaan servik, vagina dan
pengambilan specimen:
a. Dari servik : bersihkan daerah endoservik dengan
kasa steril, kemudian ambil specimen duhtubuh
servik dengan sengkelit atau swab steril untuk
pembuatan sediaan hapus, dengan swab yang lain
dibuat sediaan biakan.
b. Dari forniks posterior : dengan sengkelit atau swab
steril untuk pembuatan sediaan basah dan larutan tes
amin.
c. Dari dinding vagina : dengan kapas lidi atau sengkelit
steril untuk sediaan hapus.
d. Dari uretra : dengan sengkelit steril untuk sediaan
hapus.
6) Cara melepaskan speculum : kunci speculum dilepaskan,
sehingga speculum dalam posisi tertutup, putar speculum 90◦
sehingga daun speculum dalam posisi tegak, dan keluarkan
speculum perlahan-lahan.

Pada pasien perempuan berstatus belum menikah tidak


dilakukan pemeriksaan dengan speculum, karena akan merusak
selaput daranya sehingga bahan memeriksaan hanya diambil dengan
sengkelit steril dari vagina dan uretra. Untuk pasien perempuan yang
belum menikah namun sudah aktif berhubungan seksual, diperlukan
informkonsen sebelum melakukan pemeriksaan dengan speculum.
Namun bila pasien menolak dengan pemeriksaan speculum, pasien
ditangani menggunakan bagan alur tanpa speculum.
5. Pemeriksaan Cairan Vagina untuk Bakteri Vagonisis
a) Pemeriksaan preparat basah

Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan


NaCl 0,9% pada sekret vagina diatas objek glass kemudian ditutupi
dengan coverslip. Dan dilakukan pemeriksaan mikroskopik
menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat clue cells,
yang merupakan sel epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri
(terutama Gardnerella vaginalis). Pemeriksaan preparat basah
mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas 98% untuk mendeteksi
bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda bakterial vaginosis.

Cara pemeriksaannya :

Pemeriksaan preparat basah dilakukan dengan meneteskan


satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9% pada sekret vagina diatas objek
glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Dan dilakukan
pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali)
untuk melihat clue cells, yang merupakan sel epitel vagina yang
diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella
vaginalis).Pemeriksaan preparat basah mempunyai sensitifitas 60%
dan spesifitas 98% untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells
adalah penanda bakterial vaginosis, > 20% pada preparat basah atau
pewarnaan Gram.

Kriteria diagnosis vaginosis bakterial berdasarkan pewarnan Gram :

1) Derajat 1: normal, di dominasi oleh Lactobacillus


2) Derajat 2: intermediate, jumlah Lactobacillus berkurang
3) Derajat 3: abnormal, tidak ditemukan Lactobacillus atau hanya
ditemukan beberapa kuman tersebut, disertai dengan
bertambahnya jumlah Gardnerella vaginalis atau lainnya.
Jenis – Jenis Pemeriksaan preparat basah :
1) Whiff test
Whiff test dinyatakan positif bila bau amis atau bau
amin terdeteksi dengan penambahan satu tetes KOH 10-
20% pada sekret vagina. Bau sebagai akibat pelepasan amin
dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob. Whiff test
positif menunjukkan bakterial vaginosis.
2) Tes lakmus untuk Ph
Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral
vagina. Warna kertas dibandingkan dengan warna standar.
pH vagina normal 3,8 - 4,2. Pada 80 90% bakterial vaginosis
ditemukan pH > 4,5.
3) Pewarnaan gram sekret vagina
Pewarnaan gram sekret vagina dari bakterial
vaginosis tidak ditemukan Lactobacillus sebaliknya
ditemukan pertumbuhan berlebihan dari Gardnerella
vaginalis dan atau Mobilincus sp. dan bakteri anaerob
ainnya.
4) Kultur vagina
Kultur merupakan salah satu pemeriksaan
mikrokospik, yang diperlukan dalam pemeriksaan kultur
terhadap secret vagina dengan menggunakan medium yang
sesuai beberapa medium kultur yang sering digunakan
seperti medium diamons, trichosel dan inpouch. Kultur
merupakan metode yang direkomendasikan sebagai goal
standar dalam diagnosis trikomoniasis karena hasil dari tes
ini mudah di interpretasikan dan di inkubasi pada suhu 37
derajat celcius dan hanya memerlukan sekitar 300 – 500
trikomonas/ml. diperlukan waktu 2-7 hari untuk mendeteksi
penyakit vaginalis. Kontamidasi dengan bakteri merupakan
masalah utama dalam pemeriksaan menggunakan kultur.
Untuk meningkatkan kemampuan metode kultur dalam
mendiagnosis trikomoniasis. (Sari,2017)

Pemeriksaan kultur pada candida albihans , Media


kultur yang di pakai untuk biakan C albi chans adalah
sabauraud dextrose agar / SDA dengan atau tanpa anti biotik,
di temukan oleh Raymond Saburaud ( 1864-1938). Seorang
ahli dermatologi berkebangsaan perancis. Pemeriksaan
kultur di lakukan dengan mengambil sampel cairan atau
kerokan sampel pada tempat infeksi kmudian di periksan
secara berurutan menggunakan sabouraud’S dextrose broth
kemudia sabauraud’s dextrose agar plate. Pemeriksaan
kultur darah sangat berguna untuk enokarditis kandidiatis
dan sepsis kultur sering tidak memberikan hasil yang positif
pada bentuk penyakit desiminata lainnya. Sabauraud’s
dextrose broth/ SDB berguna untuk membedakan C .
albichans dengan sepesies jamur seperti cryptococus,
hasenula, malaesezzia. Pemeriksaan ini juga berguna untuk
mendeteksi jamjur kontaminan untuk produk parmasi.
Pembuatan SDB dapat di tempat dalam tabung atau plate dan
diinkubasi pada suhu 37C selama 24 – 48 jam, setelah 3 hari
tampak koloni c albi chans sebesar kepala jarum pentul, 1-2
hari kemudian koloni dapat di lihat dengan jelas koloni c.
albichans berwarna putih kekuningan, menimbul di atas
permukaan media, mepunyai permukaan yang pada
permulaan halus dan licin dan dapat agar dapat keriput
dengan bau ragi yang khas. Pertumbuhan pada SDB baru
dapat di lihat setelah 4-6 minggu, sblum di laporkan sebagai
hasil negative. Jamur di murnikan dengan mengambil koloni
yang terpisah, kemudian di tanam seujung jarum biakan pada
media yang baru untk selanjutnya di lakukan identifikasi
jamur. Sabouraud’s dextrose agar plate / SDA plate
direkomendasi untuk sample untuk bahan klinis yang berasal
dari kuku dan kulit. Media ini selektif unyk fungi dan yeast
melihat pertumbuhan dan identifikasi C.albichans yang
mempunyai PH asam / PH 5,6. Penambahan antibiotika
membuat media ini lebih selektif yng bertujuan untuk
menekan bakteri yang tumbuh bersama jamur di dalam bhan
klinis. Pertumbuhan pada SDA plate terlihat jamur yang
menunjukan tipikal kumpulan mikroorganisme yang tampak
seperti krim yang putuh dan licin di sertai bau khas /yeast
odour. (Mutiawati,2016)

5) TV in POUCH
Dikembangkan metode terbaru yaitu metode sampul
plastic (TV in POUCH). Metode ini adalah melakukan
pemeriksaan langsung dari biakan yang terbuat dari plastik
lunak yang tahan terhadap oksigen dan terdiri dari 2 ruangan
yang berbentuk V yang dihubungkan dengan lubang yang
meruncing. Ruang atas merupakan ruangan tempat sampel
yang di duga mengandung parasit. Dan pengamatan secara
langsung dapat dilakukan dengan kedua ruangan tersebut
menggunakan mikroskop. TV in POUCH harus disimpan
pada suhu kamar 18 – 28 derajat celcius selama 48 jam.
Sensitifitas 82,4 %. (Sari,2017)
6) Uji H2O2
Pemberian setetes H2O2 (hidrogen peroksida) pada
sekret vagina diatas gelas objek akan segera membentuk
gelembung busa ( foaming bubbles) karena adanya sel darah
putih yang karakteristik untuk trikomoniasis atau pada
vaginitis deskuamatif, sedangkan pada vaginosis bakterialis
atau kandidiasis vulvovaginal tidak bereaksi.
7) Indentifikasi candida albitcans dengan germ tube
Germinating plastospores/ germ tube terlihat bentuk bulat
lonjong seperti tabung memanjang dari yeast cells (
Reynolds- braude the nominon) pada serum manusi yang
kedalamnya diinkubasi pada suhu 37oC selama 2 sampai 3
jam. Germ tube terbentuk dalam dua jam setelah 2 jam
inkubasi. Bagian ujung yang menempel pada yeast cells
terlihat adanya pengerutan atau pengeciln ( tidak ada
konstriksi). (Mutiawati,2016)
8) Pemeriksaan aktivitas pospolifase candida albicans
Pemeriksaan yang masih baru dan sudah mulai dilakukan
pada tahap penelitian adalah pemeriksaan aktivitas
fostpolipase (pz value). Pemeriksaan ini mengukur enzim
hidrolitik yang disekresi pada infeksi yang disebabkan oleh
c. albicans, dan juga dapat di ukur aktivitasnya adalah
proteinase. Kedua enzim ini menyebabkan destruksi
membrane ekstraseluler dan berperan pada proses infeksi C.
albicans ketika terjadi infasi melalui mukosa membrane sel
epitel. Sampel yang dipakai pada pemeriksaan ini adalah
strain c.albicans dari isolate yang sudah diketahui, kemudian
ditanam pada media agar yang mengandung SDA.
(Mutiawati,2016)
9) Pemeriksaan Serologi dan Biologi Molekuler pada Candida
Albicans
Pemeriksaan serologi terhadap candida albicans dapat
menggunakan metode imunofluoresen/fluorescent antibody
test yang sudah banyak tersedia dalam bentuk rapid test.
Hasil pemeriksaan harus sejalan dengan keadaan klinis
penderita, ini disebabkan karena tingginya kolonisasi.
Pemeriksaan candida albicans dengan metode serologis
sangat berguna untuk candidiasis sistemik. Pemeriksaan
biologi molekuler untuk c. albicans dilakukan dengan
polymerase cainsreaktion/ PCR , restriction pragment length
polymorphism/ RFLP, peptid nucleic acid fluourestcence in
situ hybridzaetion/ PNA fish dan sodium dosecyl surfehte-
poliacrylamide gel electropohoresis/SDS PAGE.
Pemeriksaan biologi mokuler untuk candida albicans sangat
berguna karena dapat memberikan hasil yang lebih cepat
pada pemeriksaan dengan biakan. (Mutiawati,2016)
A. PENUTUP
1. Kesimpulan
Pemeriksaan Cairan Vagina, Menurut Kementrian
Kesehatan RI 2015 cara yang harus dilakukan dalam pemeriksaan
cairan vagina antara lain: Anamnesis, pada anamnesis ini bertujuan
untuk menentukan faktor resiko pasien, Pemeriksaan Fisik, yang di
fokuskan pada pemeriksaan fisik dilakukan pada genetalia dan
sekitarnya, yang dilakukan di ruang periksa dengan lampu yang
cukup terang. Pemeriksaan Spesimen, cara pemeriksaan specimen
yaitu Masukan daun speculum steril dalam keadaan tertutup dengan
posisi tegak/vertical kedalam vagina, dan setelah seluruhnya masuk,
kemudian berputar pelan-pelan sampai daun speculum dalam posisi
datar/ horizontal.

Pemeriksaan Cairan Vagina untuk Bakteri Vagonisis dengan


menggunakan Pemeriksaan preparat basah. Pemeriksaan preparat
basah dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl
0,9% pada sekret vagina diatas objek glass kemudian ditutupi
dengan coverslip. Jenis – Jenis Pemeriksaan preparat basah: Whiff
test, Tes lakmus untuk Ph, Pewarnaan gram sekret vagina, Kultur
vagina, TV in POUCH, Uji H2O2, Indentifikasi candida albitcans
dengan germ tube, Pemeriksaan aktivitas pospolifase candida
albicans, dan Pemeriksaan Serologi dan Biologi Molekuler pada
Candida Albicans.

2. Saran
Adapun saran yang dapat dikemukakan oleh penulis untuk
pembaca yaitu sebaiknya pembaca yang ingin menulis mengenai
pemeriksaan cairan vagina agar mengemukakkan teori – teori
terbaru mengenai pemeriksaan cairan vagina.
DAFTAR PUSTAKA

Baptista, P.V, et al. (2016). Bacterial vaginosis, aerobic vaginitis, vaginal


inflammation and major pap smear abnormalities. Springer.657-664. DOI :
10.1007//s10096-016-2584-1

Diananda, N. (2009). Kanker servik : sebuah peringatan buat wanita. In :


Diananda,R. mengenal seluk beluk kanker. Yogjakarta: Katahari. 43-60.

Kementrian Kesehatan RI,Pedoman nasional penanganan infeksi menular seksual,


Direktorat Jenderal Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
Kementrian Kesehatan RI. Jakarta. 2015.

Lestadi, L.(2009). Sitologi Pap Smear.Jakarta : ECG

Mutiawati,V.K. (2016). Pemeriksaan mikrobiologi pada candida albicans. Jurnal


Kedokteran Syiah Kuala. 16. (1). 53-63.

Moeri YE, Suling PL,Pandeleke HEJ. (2013). Profil duh tubuh vagina di poliklinik
kulit dan kelamin RSUP Prof. Dr.R.D.Kandou Manado tahun 2009-
2011.Jurnal E-Biomedik:1(1). 670-5

Rasjidi, Imam. (2008). Manual Prakanker Servik. Jakarta : Sagung Seto.

Sari, M.P. (2017). Metode diagnostic trikomoniasis vagina. Universitas Kristen


Krida Wacana.23. (63). 57-61

Tilong, A.S. (2012). Bebas dari ancaman kanker servik. Yogjakarta : Flash book.

Yuan Su, S. et al. (2016). Association between pap smear screening and job stress
in Taiwanese nurses. Elsevier. 119-124.