Anda di halaman 1dari 17

SUSTAINABLE TOURISM

Dibuat Dalam Rangka Memenuhi Tugas


Mata Kuliah: Pariwisata Berkelanjutan
Program studi: Pariwisata
Dosen: DR. Dra Saryani, M.Si.,

Nama Kelompok :
Asiva Thoriq Fauzan Habib (518101027)
Astin Atas Asih (518101028)
Binsar Arif Prakoso Silaen (518101029)

SEKOLAH TINGGI PARIWISATA AMPTA YOGYAKARTA


TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kemudahan, kelancaran, dan berkat karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.

Makalah yang berjudul “Suistinable Tourism”. Dalam penulisan makalah


ini penulis mendapat petunjuk dan bantuan dari berbagai pihak, maka pada
kesempatan ini penulis mengucapkan trima kasih kepada orang tua yang telah
memberi pencerahan dan insprirasi kepada kami, yang telah memberikan arahan
dan motivasi, teman-teman dan sahabat yang telah memberikan dukungan moral,
dosen pariwisata berkelanjutan yang telah membantu penulis dalam menyusun
makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak


kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah yang akan datang. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Akhir kata, penulis sampaikan
trimakasih.

Yogyakarta, 22 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 1

1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 3

2.1 Pengertian Pariwisata Berkelanjutan ............................................................ 3

2.2 Konsep Pariwisata Berkelanjutan ................................................................. 4

BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 5

3.1 Prinsip – Prinsip Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan ......................... 5

Tujuan dilksanakannya pariwisata berkelanjutan sebagai berikut : .................... 8

3.3 Contoh Penerapan Pariwisata Berkelanjutan ............................................... 9

3.4 Contoh Kasus Penyimpangan Pariwisata Berkelanjutan............................. 10

BAB IV PENUTUPAN ....................................................................................... 12

4.1 Kesimpulan ................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... iii

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi sumber daya
alam yang berlimpah. Semua potensi tersebut mempunyai peranan yang
sangat penting bagi pengembangan kepariwisataan, khususnya Pariwisata
berkelanjutan Pengembangan pariwisata berkelanjutan dilakukan dalam
rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan merupakan
usaha secara berencana dan terstruktur. Arah, kebijakan, strategi dan program
pengembangan pariwisata harus dibuat selaras dan sinergi dengan arah
kebijakan pembangunan kepariwisataan secara nasional, agar tidak
menyimpang dari tujuan pembangunan kepariwisataan.
Pembangunan pariwisata perlu direncanakan secara matang dan terpadu
dengan memperhatikan segala sudut pandang serta persepsi yang saling
mempengaruhi. Mulai dari potensi yang dimiliki daerah setempat, adat
istiadat kebiasaan hidup masyarakat sekitar lokasi pariwisata, kepercayaan
yang dianutnya, sampai kepada kebiasaan dan tingkah laku wisatawan yang
direncanakan akan tertarik untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata yang
siap dikembangkan.
Dengan memperhatikan permasalahan tersebut diharapkan akan tercipta
suasana lokasi daerah tujuan wisata yang harmonis, aman, nyaman, bersih,
bebas polusi dan memiliki lingkungan yang terpelihara, sehingga
menyenangkan semua pihak khususnya para wisatawan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa sajakah fak Prinsip – Prinsip Pariwisata Berkelanjutan?
2. Apa sajakah tujuan dan upaya untuk mewujudkan pariwisata
berkelanjutan?
3. Bagaimana contoh penerapan Pariwisata Berkelanjutan?

1
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk megetahui Prinsip – Prinsip Pariwisata Berkelanjutan.
2. Untuk megetahui tujuan dan upaya untuk mewujudkan pariwisata
berkelanjutan.
3. Untuk megetahui contoh penerapan Pariwisata Berkelanjutan.

2
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Pariwisata Berkelanjutan


Pariwisata berkelanjutan sendiri didefinisikan oleh UNWTO sebagai:
"Pariwisata yang memperhitungkan secara penuh dampak ekonomi, sosial
dan lingkungan sekarang dan yang akan datang serta menjawab kebutuhan
pengunjung, industri (pariwisata), lingkungan dan komunitas tuan rumah”.
Artinya, pariwisata berkelanjutan menjadikan masyarakat sebagai aktor
utama usaha pariwisata untuk menggerakkan roda pariwisata daerah serta
menikmati porsi pariwisata yang lebih besar.

Prinsip kepariwisataan berkelanjutan menurut WTO dalam Koesnadi (2002:


82) dapat dijabarkan berikut :

a) Sumber daya alam, historis, budaya, dan lain-lain untuk kepariwisataan


dikonservasi untuk pemanfaatan berkesinambungan di masa depan, dan
dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekarang.
b) Pengembangan kepariwisataan direncanakan dan dikelola sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan masalah lingkungan dan sosio kultural yang
serius di wilayah wisata.
c) Kualitas lingkungan yang menyeluruh di wilayah wisata dipelihara dan
ditingkatkan dimana diperlukan.
d) Kepuasan wisatawan yang tinggi dipertahankan sehingga daerah tujuan
wisata akan tetap memiliki daya jual dan popularitasnya.
e) Manfaat dari kepariwisataan tersebar luas di seluruh masyarakat.

Pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa


pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang
sekaligus layak secara ekonomi, adil, secara etika dan sosial masyarakat
(Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1995).

3
2.2 Konsep Pariwisata Berkelanjutan

Konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dimulai dan


mulai berkembang pada awal tahun 1970. Ide dari pengembangan yang
berkelanjutan pertama kali dipublikasikan oleh “International Union For The
Conversation Nature and Natural Resources” (IUCN,1980) dalam “strategi
perlindungan dunia”. Pada tahun 1987, The Brundtland Commission Report
mendefinisikan pengembangan yang berkelanjutan sebagai perkembangan
yang sesuai dengan kebutuhan masa sekarang tanpa mengesampingkan
kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka
sendiri. Pengembangan yang berkelanjutan bukanlah suatu keadaan yang
tetap, tapi sebuah proses perubahan yang dinamis dalam sebuah harmoni
sambil meningkatkan potensi saat ini dan yang akan datang untuk memenuhi
kebutuhan dan aspirasi manusia.
Menurut WTO dalam Sari (2006) menyebutkan bahwa keberlanjutan
pariwisata harus memperhatikan 3 hal pokok (triple bottom line principles),
yaitu:
1) keberlanjutan lingkungan/ekologis (ecological sustainability)
2) keberlanjutan sosial budaya (sosial and culture sustainability)
3) keberlanjutan ekonomi (economic sustainability) bukan saja untuk generasi
yang sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

Selain itu The World Commission on Environment and Development


(WCED), 1987 memberikan batasan bahwa pembangunan berkelanjutan
adalah pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Dengan demikian pemenuhan kebutuhan generasi
sekarang tidak boleh melakukan penghancuran terhadap berbagai sumber
daya, sehingga kesejahteraan generai-generasi yang akan datang tetap
terjamin.

4
BAB III PEMBAHASAN

3.1 Prinsip – Prinsip Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

a. Partisipasi

Masyarakat setempat harus mengawasi atau mengontrol pembangunan


pariwisata dengan ikut terlibat dalam menentukan visi pariwisata,
mengidentifikasi sumber-sumber daya yang akan dipelihara dan
ditingkatkan, serta mengembangkan tujuan-tujuan dan strategi-strategi
untuk pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata. Masyarakat
juga harus berpartisipasi dalam mengimplementasikan strategi-strategi
yang telah disusun sebelumnya.

b. Keikutsertaan Para Pelaku/ Stakeholder Involvement

Para pelaku yang ikut serta dalam pembangunan pariwisata meliputi


kelompok dan institusi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat),
kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi wisata, asosiasi
bisnis dan pihak-pihak lain yang berpengaruh dan berkepentingan
serta yang akan menerima dampak dari kegiatan pariwisata.

c. Kepemilikan Lokal

Pembangunan pariwisata harus menawarkan lapangan pekerjaan yang


berkualitas untuk masyarakat setempat. Fasilitas penunjang
kepariwisataan seperti hotel, restoran, dsb. seharusnya dapat
dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Beberapa
pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan bagi
penduduk setempat serta kemudahan akses untuk para pelaku bisnis/
wirausahawan setempat benar-benar dibutuhkan dalam mewujudkan
kepemilikan lokal. Lebih lanjut, keterkaitan (linkages) antara pelaku-
pelaku bisnis dengan masyarakat lokal harus diupayakan dalam
menunjang kepemilikan lokal tersebut.

5
d. Penggunaan Sumber Daya yang Berkelanjutan

Pembangunan pariwisata harus dapat menggunakan sumber daya


dengan berkelanjutan yang artinya kegiatan-kegiatannya harus
menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui
(irreversible) secara berlebihan. Hal ini juga didukung dengan
keterkaitan lokal dalam tahap perencanaan, pembangunan dan
pelaksanaan sehingga pembagian keuntungan yang adil dapat
diwujudkan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pariwisata harus
menjamin bahwa sumber daya alam dan buatan dapat dipelihara dan
diperbaiki dengan menggunakan kriteria-kriteria dan standar-standar
internasional.

e. Mewadahi Tujuan-tujuan Masyarakat

Tujuan-tujuan masyarakat hendaknya dapat diwadahi dalam kegiatan


pariwisata agar kondisi yang harmonis antara pengunjung/wisatawan,
tempat dan masyarakat setempat dapat terwujud. Misalnya, kerja sama
dalam wisata budaya atau cultural tourism partnership dapat dilakukan
mulai dari tahap perencanaan, manajemen, sampai pada pemasaran.

f. Daya Dukung

Daya dukung atau kapasitas lahan yang harus dipertimbangkan


meliputi daya dukung fisik, alami, sosial dan budaya. Pembangunan
dan pengembangan harus sesuai dan serasi dengan batas-batas lokal
dan lingkungan. Rencana dan pengoperasiannya seharusnya
dievaluasi secara reguler sehingga dapat ditentukan
penyesuaian/perbaikan yang dibutuhkan. Skala dan tipe fasilitas
wisata harus mencerminkan batas penggunaan yang dapat ditoleransi
(limits of acceptable use).

g. Monitor dan Evaluasi

6
Kegiatan monitor dan evaluasi pembangunan pariwisata berkelanjutan
mencakup penyusunan pedoman, evaluasi dampak kegiatan wisata
serta pengembangan indikator-indikator dan batasan-batasan untuk
mengukur dampak pariwisata. Pedoman atau alat-alat bantu yang
dikembangkan tersebut harus meliputi skala nasional, regional dan
lokal.

h. Akuntabilitas

Perencanaan pariwisata harus memberi perhatian yang besar pada


kesempatan mendapatkan pekerjaan, pendapatan dan perbaikan
kesehatan masyarakat lokal yang tercermin dalam kebijakan-
kebijakan pembangunan. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya
alam seperti tanah, air, dan udara harus menjamin akuntabilitas serta
memastikan bahwa sumber-sumber yang ada tidak dieksploitasi
secara berlebihan.

i. Pelatihan

Pembangunan pariwisata berkelanjutan membutuhkan pelaksanaan


program-program pendidikan dan pelatihan untuk membekali
pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan bisnis,
vocational dan profesional. Pelatihan sebaiknya meliputi topik tentang
pariwisata berkelanjutan, manajemen perhotelan, serta topik-topik lain
yang relevan.

j. Promosi

Pembangunan pariwisata berkelanjutan juga meliputi promosi


penggunaan lahan dan kegiatan yang memperkuat karakter landscape,
sense of place, dan identitas masyarakat setempat. Kegiatan-kegiatan
dan penggunaan lahan tersebut seharusnya bertujuan untuk
mewujudkan pengalaman wisata yang berkualitas yang memberikan
kepuasan bagi pengunjung.

7
3.2 Tujuan dan Upaya Untuk Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan
Tujuan dilksanakannya pariwisata berkelanjutan sebagai berikut :
o Untuk menyamakan persepsi para pengembang pariwisata
berkelanjutan
o Sebagai acuan dalam memanfaatkan potensi kawasan secara
pariwisata berkelanjutan
o Untuk membawa pengalaman positif bagi masyarakat setempat &
wisatawan
o Menggali potensi pariwisata untuk meningkatkan perekonomian
daerah/lokal
o Merangsang pembangunan ekonomi melalui pengelolaan usaha
pariwisata & meningkatkan pendapatan
o Membangun masyarakat yang sejahtera & mandiri

Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pariwisata yang


berkelanjutan adalah sebagai berikut :

Diri Sendiri
 Tidak membuang sampah di tempat pariwisata
 Menjaga kelestarian pariwisata
 Menanam pohon bakau untuk mencegah terjadinya abrasi
Masyarakat
 Tidak melakukan eksploitasi alam yang berlebihan dan melakukan
reboisasi
 Tidak membuang sampah sembarangan
 Berpartisipasi dalam pengendalian pembangunan
 Melakukan pemantauan terhadap kegiatan pariwisata yang
berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan alam
& sosbud
 Menggunakan produk ramah lingkungan

8
Pemerintah
 Membuat kebijakan pelanggaran terhadap eksploitasi alam yang
berlebihan
 Membangun sarana pembuangan secara maksimal
 Gencar mempromosikan dalam upaya mengenalkan pariwisata
lestari
 Membangun suaka margasatwa dan cagar alam

3.3 Contoh Penerapan Pariwisata Berkelanjutan


Sustainable di Indonesia sudah berjalan cukup lama dan diaplikasikan
oleh banyak stekeholder pariwisata. Kementrian pariwisata misalnya yang
telah membuat trobosan program pendampingan destinasi melalui
sustainable tourism observatori (STO). Hal ini berkaitan dengan peraturan
mentri no 14 tahun 2016 yang membahas tentang penerapan sustainable
tourism for development di Indonesia. Himgga saat ini ada dua daerah tujuan
wisata (DTW) yang paling sukses menerapkan konsep pariwisata
berkelanjutan dan dapat dijadikan percontohan yaitu desa wisata pulesari dan
desa wisata Pancoh yang berada di wono kerto, kabupaten sleman
yogyakarta. Contoh lainnya adalah jaringan ekowisata desa (JED) Bali yang
berada di empat desa yakni desa sibetan, plaga, nusa, dan tenganan yang
sudah menerapkan konsep sejak tahun 2000 demi mempertahankan budaya
danmelestarikan lingkungan alam.

Di beberapa daerah pariwisata, terbukti menjadi jurus pamungkas dalam


membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Contoh di
depan mata, Desa Nglanggeran di Yogyakarta pada awal tahun ini meraih
ASEAN Community Based Tourism Award. Penghargaan ini tidak lepas dari
keberhasilan Ngglanggeran membangun destinasi pariwisata yang
berkelanjutan. Pengelolaan yang mengikutsertakan masyarakat. Konsep
ekonomi pariwisata yang kontribusinya sejalan terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Ngganggeran sendiri juga sukses menyelaraskan

9
sektor pariwisata dan konservasi lingkungan. Contoh lainnya adalah Desa
Panglipuran di Bali yang terkenal dengan Desa Adat Tebersih di Dunia. Desa
Panglipuran berhasil menerapkan falsafah Tri Hita Karana dengan menjaga
harmoni sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan
Tuhan. Berkat kerja keras masyarakat desa, destinasi wisata ini banyak
dikunjungi wisatawan nusantara maupun wisatawan asing, dengan tetap
menjaga kelestarian lingkungan.

3.4 Contoh Kasus Penyimpangan Pariwisata Berkelanjutan

a. Pantai Kuta Bali


Sebagai salah satu pusat wisata di Indonesia, Bali kerap dipenuhi
jutaan wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Aktivitas wisata yang
masif tidak dapat dipungkiri lagi. Alhasil, beberapa spot wisata ikut
terkena dampaknya, termasuk Pantai Kuta. Beberapa waktu lalu, pantai
paling populer di Bali ini sempat menjadi perbincangan masyarakat
internasional karena dipenuhi sampah-sampah plastik, kaleng, potongan
kayu, dan kertas yang tersebar di bibir pantai. Dengan banyaknya sampah-
sampah di pantai, tentunya hal tersebut dapat mempengaruhi ekosistem
yang berdampak pada kerusakan lingkungan wisata.
b. Reklamasi Pulau Buatan
Reklamasi dapat mempengaruhi ekosistem dan lingkungan bagi
lingkungan sekitar. Reklamasi Teluk Serangan Bali merupakan salah satu
contoh dari dampak buruk akibat dilakukannya reklamasi. Ditinjau dari
sumber pada berita daring CNN News, Reklamasi Teluk Serangan disebut
telah menghancurkan populasi penyu, bakau, dan terumbu karang. Selain
Teluk Serangan, reklamasi di wilayah Kapuk, Jakarta juga memberikan
masalah ekologis pasca reklamasi. Ditinjau dari sumber berita daring
Geotimes, warga Pantai Indah Kapuk mengeluhkan kualitas air yang keruh
dan berbau. Hal tersebut diakibatkan oleh air laut Teluk Jakarta yang
tercemar berat masuk ke dalam tanah (intrusi) dan mencemari air tanah di

10
dalamnya. Berdasarkan pernyataan dari ahli tata kota Universitas Trisakti,
Bapak Nirwono Yoga, bahwa fenomena intrusi air laut terjadi karena
rusaknya pohon mangrove yang berfungsi sebagai penyaring agar air laut
tidak masuk mencemari air tanah. Dari kedua kasus reklamasi tersebut
dapat disimpulkan bahwa reklamasi dapat memberikan dampak ekologis
lingkungan dan dapat berdampak juga terhadap berlangsungnya ekosistem
dan lingkungan di sekitarnya.

11
BAB IV PENUTUPAN

4.1 Kesimpulan
Dari penjelasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa pariwisata
berkelanjutan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pariwisata yang
memperhitungkan penuh dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan
masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan
masyarakat setempat. Untuk mewujudkan pengembangan pariwisata
berkelanjutan terdapat prisip-prinsip yang harus diperhatikan seperi
partisipasi masyarakat, keikutsertaan steakholder, daya dukung kapasitas
lahan yang harus dikembangkan dan sebagainya.

Tujuan dilksanakannya pariwisata berkelanjutan adalah Menggali potensi


pariwisata untuk meningkatkan perekonomian daerah/lokal, merangsang
pembangunan ekonomi melalui pengelolaan usaha pariwisata dan
meningkatkan pendapatan, membangun masyarakat yang sejahtera dan
mandiri. Upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pariwisata yang
berkelanjutan dengan menjaga kelestarian pariwisata, berpartisipasi dalam
pengendalian pembangunan, gencar mempromosikan dalam upaya
mengenalkan pariwisata lestari kesegmen yang lebih luas.

12
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. tt. “Pengembangan Pariwisata Yang Berkelanjutan Melalui Ekowisata”


https://www.researchgate.net/publication/327538432_PENGEMBANGAN_PARI
WISATA_YANG_BERKELANJUTAN_MELALUI_EKOWISATA/ (diakses 20
september 2019).

Anonim. 2014. “Konsep Pariwisata Berkelanjutan”.


https://aprilianedysutomo.wordpress.com/2014/11/08/konsep-pariwisata-
berkelanjutan/ (diakses 20 september 2019)

Anonim. 2019. “Pariwisata Berkelanjutan”.


https://www.pariwisatasumut.net/2019/03/pariwisata-berkelanjutan.html/ (diakses
20 september 2019)

Anonim. tt. “Definisi Pariwisata Indikator Perkembangan Objek dan Daya


Tarik”.
https://www.hestanto.web.id/definisi-pariwisata-indikator-perkembangan-objek-
dan-daya-tarik/ (diakses 20 september 2019)

Kusumadewi, Anggi. 2016. “Melongok Pulau Serangan, Proyek Reklamasi


Pertama Di Bali”.
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160414140354-20-123957/melongok-
pulau-serangan-proyek-reklamasi-pertama-di-bali (diakses 20 september 2019)

Panghegar, Fariz. 2016. “Reklamasi Teluk Jakarta: Belajar Dari Reklamasi


Kapuk”.
https://geotimes.co.id/kolom/belajar-dari-pengalaman-reklamasi-kapuk/ (diakses 20
september 2019)

iii
Andhika Fikri, Dimas. 2018. “3 Obyek Wisata di Indonesia yang Rusak Karena
Terlalu Banyak Turis.”
https://lifestyle.okezone.com/read/2018/12/06/406/1987666/3-obyek-wisata-di-
indonesia-yang-rusak-karena-terlalu-banyak-turis (diakses 20 september 2019)

iv