Anda di halaman 1dari 25

PT.

PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA TIMUR


AREA GRESIK

LAPORAN PELAKSANAAN
ON THE JOB TRAINING (OJT)

APLIKASI PETA POHON HEBAT SEBAGAI SISTEM PENGAWASAN JARINGAN


UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN PT.PLN (PERSERO) AREA GRESIK

DISUSUN OLEH :

ARUNG VIVA DEMOKRASA


1712/S1D3K/60/S1-ELE/00112

PROGRAM PRAJABATAN S1/D3 ANGKATAN 60


PT.PLN (PERSERO) PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATHIAN
TAHUN 2018
LAPORAN PELAKSANAAN

ON THE JOB TRAINING (OJT)

PROGRAM PRAJABATAN S1/D3 ANGKATAN 60

DISUSUN OLEH :

NAMA : ARUNG VIVA DEMOKRASA


NO TEST : 1712/S1D3K/60/S1-ELE/00112
PROYEKSI JABATAN : ASSISTANT ENGINEER
PEMELIHARAAN DISTRIBUSI
BIDANG : DISTRIBUSI

JUDUL : APLIKASI PETA POHON HEBAT SEBAGAI SISTEM


PENGAWASAN JARINGAN UNTUK MENINGKATKAN
KEANDALAN PT.PLN (PERSERO) AREA GRESIK

PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA TIMUR


AREA GRESIK
TAHUN 2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS AKHIR ON JOB TRAINING (OJT)

Judul : APLIKASI PETA POHON HEBAT SEBAGAI PENGAWASAN


JARINGAN UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN DI PT.
PLN AREA GRESIK

Nama : ARUNG VIVA DEMOKRASA

No Test : 1712/S1D3K/60/S1-ELE/00112

Bidang : DISTRIBUSI

Menyutujui, Gresik, 9 Agustus 2018

Mentor II Siswa OJT

IWAN SUWARGANA ARUNG VIVA DEMOKRASA

Mengetahui

Mentor I

PAULTJE MENGUNDAP
BAB I PROSES BISNIS

1.1 PT.PLN (Persero) Area Gresik

PT.PLN Area Gresik memiliki 4 Rayon, yaitu Rayon Giri, Rayon Benjeng , Rayon
Sidayu dan Rayon Pulau Bawean. Jumlah Pelanggan 303.552 pelanggan (56% reguler,
44% LPB), Daya Tersambung 932 MVA Pendapatan Rp 196 M/bln Penjualan rata-rata
178 Twh/bln. Luas wilayah Kab. Gresik 970 km2 (termasuk pulau Bawean)

Disuplai 7 Gardu Induk antara lain GI Altaprima, GI Paciran, GI Cerme, GI


Manyar, GI SegoroMadu, GI Paciran dan GI Lamongan. Memiliki 3 pelanggan TT
mencapai 55,4 MVA.

Gambar 1.1 Wilayah Area Gresik


AREA RAYON RAYON RAYON RAYON
APRIL 2018 SATUAN
GRESIK GIRI SIDAYU BENJENG BAWEAN

Penyulang Buah 86 67 9 7 3

JTM kms 1128 415 298 313 101

JTR kms 1425 438 345 467 174

Trafo Buah 1989 1130 342 427 90

Gardist Set 1707 910 308 399 90

Gambar 1.2 Aset Kelistrikan Area Gresik

Sistem ketenagalistrikan di wilayah PLN area Gresik melalui jaringan 150 kV dan
70 kV . Subsitem Krian-Gresik 150kV dari GI PLTU ke Segoromadu - Petrokimia –
Altaprima menuju Surabaya Barat. Subsistem Krian 3-4 dari Surabayabarat ke Cerme –
Manyar , Subsistem Ngimbang melalui Babat – Lamongan – Paciran dan sistem 70kV dari
GI Segoromadu ke Barata dan Semen Gresik.

Gambar 1.3 Subsistem Krian - Gresik


Diluar sistem tersebut, wilayah Area Gresik memiliki wilayah Pulau Bawean
dengan luas 197,42 m2. Dilayani oleh Rayon pulau bawean memiliki sstem pembangkitan,
disuplai 3 PLTD antara lain PLTD milik PLN, PLTD Sewa dan PJB dengan beban pucak
mencapai 5,2 MW dengan sistem jaringan 20 kV

Gambar 1.4 PLTD Pulau Bawean

1.2 Bidang Jaringan Area Gresik


Jaringan dibawah Asisten Manajer Jaringan memiliki peran penting dalam menjaga
jaringan sebagai media untuk menyambungkan daya listrik hingga pelanggan. Mulai
dari pengoperasian hingga pemeliharaan jaringan 20 kV untuk menhindari trip dan
menjaga aset peralatan. Dengan ruang pekerjaan yang cukup kompleks bidang jaringan
terbagi atas 4 Sub bidang antara lain Supervisor, Spv Operasi Distribusi , Spv
Pemeliharaan Distribusi dan Spv K3L.

1.2.1 Sub Bidang Pemeliharaan Distribusi


a. Merencanakan penyusunan Program Rencana Kerja (PRK).
b. Merencanakan dan mengevaluasi kegiatan pemeliharaan jaringan distribusi
sesuai SOP dan anggaran yang ditetapkan.
c. Merencanakan kebutuhan material operasi dan pem eliharaan untuk
meningkatkan
keandalan dan keamanan jaringan distribusi termasuk PRK.
d. Melaksanakan koordinasi dengan Rayon dan bagian terkait dalam pelaksanaan
pemeliharaan jaringan distribusi.
e. Menyiapkan peralatan kerja untuk operasi dan pemeliharaan jaringan distribusi.

1.2.2. Sub Bidang Operasi Distribusi


a. Menyusun Program Rencana Kerja (PRK) Operasi.
b. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan Operasi Jaringan Distribusi sesuai
SOP.
c. Melaksanakan pemuktahiran data aset distribusi secara berkala.
d. Melakukan pengendalian pengoprasian jaringan distribusi.
e. Mengendalikan dan memonitoring pelaksanaan operasional pelayanan teknik.
f. Mengkoordinasikan dengan Area, Rayon dan Instasi terkait dalam rangka
operasi jaringan distribusi.
g. Mengevaluasi kinerja operasi.

1.2.3. Sub Bidang PDKB


a. Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pekerjaan PDKB.
b. Mengendalikan peleksanaan pekerjaan PDKB sesuai dengan SOP.
c. Mengusulkan Surat Perintah Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (SP2B) dan
Surat Penunjukan Pengawas Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (SP3B)
kepada Kepala Operasi.
d. Melaksanakan inventarisasi dan mengusulkan peremajaan peralatan PDKB.
e. Memonitor masa berlaku dan mengusulkan sertifikat/ brevet personil PDKB.
f. Mengusulkan revisi SOP untuk mengajukan SOP baru ke komisi PDKB.
g. Melaporkan penyelesain pekerjaan kepada Kepala Operasi.
1.2.4. Sub Bidang K3L
a. Mengantisipasi, mengidentifikasi, dan mengevaluasi kondisi dan tindakan
berbahaya.
b. Membuat desain, metode, prosedur dan program pengendalian bahaya.
c. Menerapkan, mengelola, dan memberikan saran kepada pihak lain guna
mengendalikan bahaya.
d. Mengukur, mengaudit, dan mengevaluasi efektifitas program pengendalian
bahaya.
e. Memastikan kelengkapan aturan keselamatan berupa dokumen K3, prosedur
kerja, instruksi kerja serta kualitas alat kerja dan alat pelindung diri yang sesuai
dengan standard keamanan tinggi.

1.3 Struktur organisasi


Struktur organisasi merupakan gambaran secara sistematis tentang
hubungan kerjasama antara orang-orang yang terdapat dalam suatu badan, dalam
rangka usaha untuk mencapai suatu tujuan. Adapun fungsi struktur organisasi
antara lain: Untuk mempertegas kedudukan, Untuk mempertegas wewenang
masing-masing bagian dan tanggung jawabnya, Untuk mengetahui jabatan yang
ada serta tingkatan atau jenjang kepegawaian.Berikut ini merupakan struktur
organisasi pada PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur dan Area Gresik

Gambar 1.5 Struktur organisasi Distribusi Jawa Timur


BAB II. LAPORAN AKHIR OJT

2.1 Pendahuluan

2.1.1 Aktifitas OJT

Aktifitas OJT selama 6 bulan banyak melakukan kegiatan sesuai dengan KUK
proyeksi jabatan pemeliharaan distribusi, inspeksi jaringan sesuai dengan ROW
maupun konstruksi fisik, melakukan pengawasan pekerjaan rabas oleh vendor,
melakukan pengawasan rabas oleh yantek. Dalam beberapa kesempatan pengecekan
material untuk persiapan antisipasi material gangguan di gudang area. Mengikuti
penanganan gangguan hingga penormalan. Uprating kabel dari A3C menjadi A3CS
dengan menyesuaikan lingkungan penyulang yang dilewati.

Selain mengikuti bidang pemeliharaan, dalam beberapa kesempatan siswa OJT


bergabung dalam subbidang operasi distribusi dalam pekerjaan Setting relay pada
pengoperasian kubikel pelanggan TM , setting LBSM (Load break switch-Motorized)
dan setting pengoperasian Recloser. Pelaksanaan OJT di Rayon beberapa kali di
Rayon Giri, yang merupakan Rayon dengan jumlah pelanggan terbesar di Area Gresik.
Mengikuti yantek dalam pemeliharaan, penggatian PHBTR, Pemeliharaan Gardu
Terpadu dan Pengawasan Rabas. Mempersiapkan pengoperasian penghantar baru
dengan DC Tes untuk memeriksa Arus bocor pada kabel XLPE maupun MVTIC, dan
mempersiapkan penyulang baru dari sisi kubikel GI maupun aksesoris JTMnya.

Diluar bidang Jaringan, siswa OJT ikut belajar di bidang Transaksi Energi (tranel)
dalam wiring meter pelanggan TM diatas 197kVa. Dalam kesempatan tersebut siswa
ikut membantu memastikan pemasangan panel dan kabel wiring meter terpasang baik.
Bidang perencanaan mengikuti Survey laporan pelanggan PFK maupun persiapan
tambah daya dari bawah 197kVA ke atas 197kVa sehingga membutuhkan persiapan
untuk Gardu Pelanggan , Trafo Pelanggan dan Kubikel. Dalam prosesnya beberapakali
bersamaan dengan pengoperasian pelanggan baru atau tambah daya yang bersama-
sama dengan bidang konstruksi sebagai pengawas konstruksi Gardu pelanggan dan
bidang Pelayanan Pelanggan dan Administrasi (PPADM) sebagai ujung tombak
pelayanan pelanggan.
2.1.2 Isue Strategis

Pohon disekitar jaringan merupakan salah satu penyumbang besar penyebab


gangguan jaringan , mengakibatkan gangguan antar fasa maupun fasa ketanah.
Inspeksi dan eksekusi rabas hampir menjadi pekerjaan rutin dengan dieksekusi oleh
yantek maupun tim rabas melalui vendor atau pihak ketiga. Tapi dalam praktiknya
selalu ada miss sehingga masih ada trip gangguan akibat pohon yang menyebabkan
trip.
Metode pembersihan sampah jaringan banyak dilakukan dengan beberapa metode
seperti pembersihan per penyulang dari penyulang dengan prioritas kelas 1. Prioritasa
disesuaikan dengan panjang jaringan, jumlah pelanggan, tipe pelanggan dan kWh jual
dari masing-masing penyulang.

2.2. Pembahasan

2.2.1 Permasalahan

Dalam beberapa bulan terakhir mulai diberlakukan sistem monitoring


menggunakan ASIIK PRO dimana manajemen rabas atau temuan dapat diinput oleh
beberapa pihak terkait yang kedepannya akan diluaskan hingga keseluruh pegawai,
sehingga pengawasa terhadap jaringan dapat dilakukan semua pihak dan informasi
dapat diterima oleh PIC Rayon yang bertanggung jawab seperti SPV Teknik atau Staff
Pemeliharaan Distribusi. Dalam prakteknya AASIK masih memiliki kendala atas
manajemen yang kurang maksimal terhadap pelaksanaannya, inspeksi yang kurrang
valid atau oper tugas yang belum maksimal.

Dibutuhkan data lebih daripada data temuan inspeksi yang dapat dicegah,
mengingat panjang penyulang dan jumlah penyulang yang tidak memungkinkan dapat
di inspeksi menyeluruh dalam kurun waktu kurang dari waktu tumbuh pohon. Data
jumlah pohon dan waktu tumbuh dan pekerjaan rabas terakhir menjadi dibutuhkan
sehingga inspeksi dapat lebih efektif menuju titik atau ada reminder ketika
pertumbuhan pohon mungkin sudah mendekati jaringan
2.2.2 Langkah Perbaikan

2.2.2.1 Peta Hebat

Dalam prosesnya PT.PLN (Persero) Area Gresik Bidang Jaringan melalui sub
bidang Pemeliharaan Distribusi mengembangkan sebuah tools untuk sistem
manajemen rabas yang baru dengan fokus memonitoring pohon dari tiap-tiap
penyulang. Dengan terkoneksi dengan Google Maps sebagai media untuk titik pohon
dan menggunakan Google Street View yang dapat diberi tanda titik pohon untuk dapat
memberikan tampilan titik pohon secara visual dengan tampilan 360 derajat. Data awal
yang diperlukan adalah indikator terhadap pohon yaitu hijau aman berarti pohon masih
diluar jarak aman, Kuning hati-hati berarti pohon dalam jarak mulai mendekati jarak
aman, merah bahaya berarti pohon dalam jangkauan dekat atau hamper menyentuh
jaringan sehingga harus segera dirabas.

Peta Hebat dapat diakses melalui http://pln.petahebat.com , dengan mengisi data


rata-rata pohon tiap gawang atau 2 Tiang JTM, dan sampling jenis pohon terbanyak.
Dari data pohon di countdown menggunakan hitungan waktu tumbuh sesuai jenis
pohon. Saat mendekati habisnya waktu mundur akan memunculkan reminder atau
pengingat untuk segera dilakukan eksekusi rabas untuk menghindari terjadinya
gangguan.

Gambar 2.1 Tampilan Jaringan pada Peta Hebat


2.2.2.2 Fitur Peta Hebat

Peta Hebat memberikan titik pohon sepanjang penyulang dengan


diintegrasikan menggunakan Google Maps disesuaikan dari tiap tiap penyulang dan
Gardu Induk. Disesuaikan dengan pilihan berupa peta maupun foto satelit. Tampilan
virtual ini menjadi kelebihan Peta Hebat sehingga memudahkan pengawasan titik
pohon dan penyulang yang menjadi sasaran.

Gambar 2.2 Peta Titik Pohon Gardu Induk Peta foto satelit

Gambar 2.3 Tampilan Titik pohon pada Google Street View


2.2.2.3 Sistem Kerja Peta Hebat

Dalam proses pengembanganya Peta hebat memiliki 2 pilihan sistem login,


Area dan Rayon. Sistem rayon sebagai inspector dan pelapor keadaan pohon, Waktu
terkahir rabas dan penambahan pohon melalui Input – Data Pohon. Opsi EIS adalah
detail jenis pohon, jumlah pohon dan nomor gawang. Tiap titik gawang mewakili
satu gawang atau 2 tiang JTM, diwakili satu pohon paling banyak sebagai penamaan,
lokasi sesuai nama jalan dan location map terdekat, tanggal pemangkasan dan
tanggal perkiraan pohon menyentuh ke jaringan.

Gambar 2.4 Tampilan detail pohon

Untuk pengawasan pelaksanaan rabas pohon dilakukan update pohon sesuai


dengan tanggal dan titik pohon hingga WO untuk pekerjaan selanjutnya. Sistem
terintegrasi antara tampilan Rayon dan Area sesuai scope pekerjaan.

Step 1 – Update Eksekusi Pohon

Update pekerjaan eksekusi meliputi tanggal pelaksanaan, Rabas/Pengamanan,


Pelaksana pekerjaan dan foto terakhir sebagai eviden.
Gambar 2.5 Tampilan Update data pohon

Step 2 – Data sudah diperbarui / updated

Setelah pekerjaan eksekusi terakhir titik pohon pada peta akan berubah berhwarna
hijau dan detail reminder berubah.

Gambar 2.6 Titik pohon telah diperbarui

Step 4 – Pembuatan Work Order

Melalui akun Area, pembuatan Work order atau Perintah kerja dengan disesuaikan
dengan kontrak vendor pelaksana, panjang Kms pekerjaan, waktu tanggal awal dan
akhir pekerjaan dari rencana pekerjaannya.
Gambar 2.7 Pembuatan Work Order melalui Akun Area

Step 5 – Pemilihan titik pohon untuk di eksekusi

Tahapan berikutnya adalah pemilihan titik pohon untuk dieksekusi dalam Wordk
Order yang akan dibuat. Data disesuaikan dengan titik pohon yang sudah berwarna
merah atau reminder pohon yang bahaya mendekati jaringan.

Gambar 2.8 Data pohon yang wajib dieksekusi berdasarkan indikator warna
Step 6 – Daftar Work Order

Dari input data pembuatan Work Order perintah sebelumnya ditransformasi ke .PDF
dengan template Work Order terbaru. Sehingga dapat langsung diunduh dan siap
divalidasi.

Gambar 2.9 Daftar Work Order yang telah dibuat

Gambar 2.10 Work Order yang telah siap validasi


2.2.2.4 Perhitungan Biaya Akibat Gangguan

Disubbab ini siswa OJT mencoba kerugian akibat gagal menjual daya listrik
dengan asumsi dari Penyulang Industri dari Gardu Induk Segoromadu. Dari data Peta
hebat dapat mengetahui jumlah pohon pada Penyulang Industri.

DATA POHON PENYULANG INDUSTRI


Jenis Pohon Jumlah Jenis Pohon Jumlah
Ambar 1 Ketapang 9
Asem Londo 5 Lamtoro 13
Bambu 52 Mahoni 41
Belimbing 1 Mangga 125
Beringin 30 Mawar 5
Bintaro 36 Mojopahit 6
Bintoro 3 Nangka 13
Cemara 49 Palem 47
Cemoro Glodok 74 Pepaya 1
Cerme 1 Pete 2
Dara 1 Pisang 170
Flamboyan 3 Pohon 5
Imbo 19 Randu 1
Jambu 6 Sawo 1
Jambu Air 18 Sengon 60
Jaranan 35 Sono 155
Jati 74 Srikaya 2
Kelapa 1 Sukun 2
Kelor 1 Trembesi 10
Kenanga 1 Turi 33
Keres 36 Waru 2
Total pohon 1.150
Total pohon target 879
Tabel 2.1 Data pohon Penyulang Industri

Dari data pohon penyulang industri diatas. Beberapa jenis pohon yang masa
tumbuhnya panjang dan tidak berpotensi mendekati jaringan diberi warna merah.
Pengamanannya disrahkan ke tim pengamanan rabas oleh yantek untuk menekan biaya
dan eksekusinya lebih cepat. Dengan biaya rupiah per pohon Rp 40.800,- dikalikan
dengan jumlah pohon penyulang 879 , maka dengan rata-rata waktu tumbuh pohon 90
hari atau 4 kali dalam setahun. Maka asumsi biaya Rabas-rabas Pohon atau R2P
mencapai Rp 143.452.800,- tahun.
Perhitungan efisiensi terhadap biaya penggunaan sistem ini. Dengan mengambil
sample penyulang industri dan menggunakan data Gangguan peyulang , Nilai beban ,
kWh jual, untuk dianalisa kerugian akibat gagal menyalurkan tenaga listrik.

Penyulang Industri penyulang dengan jumlah kWh yang tinggi mencapai


3.298.240 dari data bulan juni 2018. Dengan panjang penyulang mencapai 14,868 kms.
Dengan diangggap rata perbulan dengan nilai tersebut, penjualan kWh dalam setahun
mencapai 39.578.880. Apabila diasumsikan rata-rata Tarif Dasar Listrik Rp1.300,-
maka pendapatan rupiah per tahun mencapai RP 51.452.544.000,-

Tabel 2.2 Laporan Gangguan Penyulang Industri Januari-Juli

Dari laporan Gangguan Tegangan Menengah semester 1 tahun 2018, penyulang


industri akibat gangguan pohon dan gangguan belum ditemukan sudah mencapai 12 kali
gangguan dan sample pemakaian kWh pada bulan juni 3.398.240 kWh. Jika di asumsikan
rata-rata TDL pelanggan Rp 1.300,- tiap terjadi gangguan membutuhkan waktu 1 jam
sampai beban masuk sepenuhnya.

Maka,

kWh jual/ bulan : 3.298.240


kWh /Jam : 4.581
Kali gangguan Jan-Jul : 12 kali
TDL pelanggan : Rp 1.300,- / kWh

Jika terjadi gangguan 1 jam, kerugian akibat gagal menyalurkan listrik.


12 kali x 1jam x kWh tidak tersalur/jam x TDL
= 12 kali x 1jam x 4.581/jam x Rp 1.300,-
= Rp 71.463.600 ,-
Dengan menggunakan sistem manajemen rabas yang sama, berarti dalam satu
tahun mengalami kerugian akibat gagal melakukan penjulan mencapai 142 juta rupiah dan
143 juta rupiah untuk biaya R2P.

Untuk pengenalan sistem dan aplikasi ini, tidak dapat langsung diaplikasikan dan
efektif. Mengingat pertumbuhan pohon yang tidak terkontrol, tanaman baru dan
pengawasan data masih belum valid. Setidaknya pengaplikasian peta pohon HEBAT
bertahap dari tiap-tiap penyulang agar lebih efektif, mengingat jumlah penyulang yang
banyak dan kms penyulang yang berbeda-beda, setidaknya membutuhkan 3 bulan atau
satu kali masa tumbuh pohon untuk sejumlah penyulang .

Aapabila semua rayon dapat melaksanakan pengawalan aplikasi ini secara massif
dapat di targetkan dalam kurun 6 bulan sudah dapat berdampak pada keandalan akibat
pohon dan dapat menekan setidaknya 50% nilai kerugian akibat gagal menjual daya listrik.

2.3 Penutup

2.3.1 Kesimpulan

Dari pemaparan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan OJT, dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut

1. Pelaksanaan On Job Training (OJT) angkatan 60 selama 6 bulan terhitung


mulai bulan maret-Agustus 2018 di PT.PLN (Perseeo) Distribusi Jawa Timur
Area Gresik. Dengan Proyeksi jabatan Assistant Engineer Pemeliharaan
Distribusi.

2. Realisasi Workplan OJT terkendala KUK yang tidak tersedia di Unit OJT
PT.PLN (Perseeo) Distribusi Jawa Timur Area Gresik.

3. Realisasi Workplan OJT tidak dapat ontime sesuai workplan karena rencana
pekerjaan di unit tidak sama dengan target waktu KUK.

4. Peta pohon HEBAT masih butuh pengembangan di sisi programming aplikasi


sebelum dapat di aplikasikan. Tim pengembang masih kekurangan SDM ahli
dibidang programming.
5. Peta pohon HEBAT dapat mepermudah pengawasan jaringan terhadap
gangguan pohon lebih efektif daripada tim inspeksi.

6. Tim pengembang membutuhkan kordinasi lebih dengan tim DIJ (Data Induk
Jaringan) untuk data update perluasan jaringan.

2.3.2 Saran

Saran-saran yang dapat disampaikan dari uraian diatas,

1. Peta pohon HEBAT membutuhkan ahli programming untuk dapat


mengimplementasikan ide pengembangan ke device yang lebih mudah
seperti aplikasi android , iOS dan sebagainya..
2. Update data pohon riil wajib di pastikan secara massif agar data pada Peta
Pohon HEBAT benar-benar riil.
3. Dikarenakan saat ini sudah ada aplikasi Inspeksi terpadu ASIIK Pro , Peta
pohon HEBAT diharapkan dapat berkolaborasi untuk menjadi satu aplikasi
terpadu untuk kepentingan korporat bersama-sama.
BAB III
PEMAPARAN WORKPLAN

3.1. KRITERIA UNJUK KERJA

Kriteria Unjuk Kerja (KUK) sesuai dengan proyeksi jabatn adlaah Pemeliharaan
Distribusi. Terbagi atas 3 elemen Gardu Distribusi, JTR dan JTM. Tiap-tiap elemen
terdapat poin Kuk mengenai pemeliharaan, pemasnagan dan pemeliharaan. Siswa OJT
diharapkan memahami pelaksanaan pekerjaan sesuai SOP pelaksanaan dari perencanaan
pekerjaan disesuaikan dengan kebutuhan, mempersiapkan disesuaikan dengan kebutuhan
pekerjaan, pelaksanaan wajib sesuai dengan perencanaan dan merujuk pada hal yang
disiapkan hingga evaluasi berupa memeriksa hasil dan berita acara pekerjaan.
Dengan konsistensi untuk tetap sesuai dengan SOP yang telah dibuat maka proses
bisnis yang baik akan tercipta sehingga memudahkan dalam proses analisa dan evaluasi
setiap kegiatan pemeliharaan. Adapun jenis-jenis pekerjaan pemeliharaan dengan merujuk
pada elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja (KUK) Pemeliharan Distribusi adalah
sebagai berikut :
1. Pemeliharaan Gardu Distribusi
a. Pemasangan Kubikel Tegangan Menengah
b. Pemeliharaan Instalasi Gardu Tiang
c. Pemeliharaan Transformator Distribusi
d. Penggantian Minyak Trafo Distribusi
e. Penggantian Kubikel TM Gardu Induk
f. Pemeliharaan PHB TR
g. Pengukuran Beban dan Tegangan JTR
h. Pemeliharaan Relai Proteksi
i. Pemeliharaan Sistem Pembumian
1. Pemeliharaan Jaringan Tegangan Rendah
a. Pemeliharaan Tiang SUTR
b. Pemeliharaan SKTR
c. Manuver Beban
d. Pemeliharaan Terminasi dan Konektor
e. Pemeliharaan Sistem Pembumian
2. Pemeliharaan Jaringan Tegangan Menengah
a. Perbaikan tiang dan travers SUTM
b. Pemeliharaan Arrester
c. Penggantian SKTM
d. Penyambungan Kabel SKTM
e. Pemeliharaan Instalasi Penyulang Tegangan Menengah
f. Pemeliharaan SSO dan PBO
g. Pemeliharaan AVR dan CVR
h. Pemeliharaan Instalasi GFD
i. Pemeliharaan SACO dan ACO
j. Penggantian PMT dan PMS Gardu Induk
k. Pemeliharaan Sistem Pembumian

3.2. REALISASI WORKPLAN


Workplanmerupakan media pendukung yang digunakan untuk membantu proses
penyusunan rencana kerja, pengelolaan implementasi, pelaporan dan evaluasi. Untuk
workplanOn the Job Training (OJT) Prajabatan PLN angkatan 60 disusun pertanggal 8
Maret 2018 dengan realisasi pada bulan ke-2 minggu ke-3 (April 2018) sejak awal
pelaksanaan OJT hingga bulan ke-6 minggu ke-4 (Agustus 2018).
Penyusunan workplan untuk proyeksi jabatan bidang “pemeliharaan distribusi”
terbagi dalam 3 kompetensi utama, yaitu:
1. Pemeliharaan Gardu Distribusi
2. Pemelliharaan Jaringan Tegangan Rendah
3. Pemeliharaan Jaringan Tegangan Menengah
Untuk masing-masing kompetensi utama tersebut tersusun berdasarkan 5 elemen
kompetensi, antara lain:
a. Merencanakan Pemeliharaan
b. Mempersiapkan Pemeliharaan
c. Melaksanakan Pemeliharaan
d. Membandingkan Hasil Pekerjaan
e. Membuat Laporan Pekerjaan
Adapun gambaran realiasi workplan dalam pemenuhan Kriteria Unjuk Kerja
(KUK) yang telah dilaksanakan selama 6 bulan pelaksanaan OJT (periode Maret-Agustus
2018) dapat ditunjukan pada tabelpencapaian di bawah ini.
3.2.1. Pemeliharaan Gardu Distribusi
Gardu distribusi merupakan item di jaringan tegangan menengah yang
memiliki banyak peralatan dan aksesoris yang perlu dilakukan pemeliharaan.
Pekerjaan tersebut meliputi inspeksi dan pemeliharaan padakubikel line tap connector,
cut out, arrester dan kawat pembumian, jumperan, kabel incoming, kabel outgoing, LV
panel, pembumian, dan trafo. Adapun dalam realiasi workplan dicapai dengan
keterlibatan dalam kegiatan Hardudu (Pemeliharaan Gardu Terpadu) maupun kegiatan
pemeliharaan terjadwal lainnya di masing-masing rayon serta studi pusaka dan
literature terkait teori ataupum standar pemeliharaan.

3.2.2. Pemeliharaan Jaringan Tegangan Rendah


Pemeliharaan Jaringan tegangan rendah terdiri atas kegiatan inspeksi dan
pemeliharaan pada saluran udara tegangan rendah (SUTR), saluran kabel tegangan
rendah (SKTR), dan saluran kabel udara tegangan rendah (SKUTR). Perlu dijadikan
perhatian terkait material dan aksesoris pada JTR seperti kawat penghantar/kabel,
tiang, isolator, cross arm (traverse), joint dan jumper, pole bracket dan
perlengkapannya, suspension atau strain clamp, pembumian serta material lainnya
yang merujuk pada standar konstruksi JTR untuk penerapan di wilayah Distribusi Jawa
Timur.
Dalam upaya pemenuhan KUK bagian Jaringan Tegangan Rendah
dilaksanakan berdasarkan perencanaan pemeliharaan sesuai dengan SPK serta kegiatan
penanganan gangguan pada saluran pelanggan yang masuk ke APKT (Aplikasi
Pengaduan dan Keluhan Terpadu) yang menjadi ranah kerja Pelayanan Teknik di
rayon terkait.

3.2.3. Pemeliharaan Jaringan Tegangan Menengah


Jaringan tegangan menengah menjadi objek vital dalam pencapaian kinerja di
masing-masing area termasuk Area Gresik, sehingga proses bisnis di bagian jaringan
difokuskan pada upaya peningkatan keandalan jaringan (penyulang) serta menjaga
kontinyuitas penyaluran tenaga listrik. Upaya peningkatan keandalan jaringan meliputi
kegiatan inspeksi (Inspeksi visual, inspeksi tier 1 dan tier 2) serta pemeliharaan dengan
berfokus pada kesempurnaan disetiap bidang antara lain sempurna material, sempurna
konstruksi, sempurna ROW jaringan, sempurna pemeliharaan tuntas dan sempurna
proteksi.

3.2.4. Pemenuhan Kriteria Unjuk Kerja (KUK)


Pemenuhan KUK dapat digambarkan dalam prosentase workplan dan action
plan seperti ditunjukkan pada gambar 3.1 Total KUK yang harus dipenuhi untuk
proyeksi jabatan Engineer Pemeliharaan Distribusi adalah 72 KUK dengan rincian :
Pemeliharaan Distribusi (24 KUK), Pemeliharaan Jaringan Tegangan Rendah (21
KUK), dan Pemeliharaan Jaringan Tegangan Menengah (26 KUK).

PROSENTASE REALISASI WORKPLAN

26.4%

Tepat waktu (62) 0.0%

Terlambat (2)
73.6%
Tidak tercapai (0)

Gambar 3.1. Chart prosentase pemenuhan KUK

Kendala yang menyebabkan adanya ketidaksesuaian antara workplan dan


action plan adalah sebagai berikut :
1. Ketidaksediaan beberapa kegiatan yang merujuk pada KUK untuk ruang lingkup
pekerjaan di unit penempatan OJT.
2. Pekerjaan di bagian pemeliharaan distribusi dilakasanakan berdasarkan kondisi
aset dilapangan khususnya untuk pekerjaan pemeliharaan yang bersifat korektif,
sehingga dalam upaya pemenuhan KUK terjadi sedikit pergeseran waktu yang juga
mempengaruhi realisasi workplan.
3. Ketidaksesuaian tanggal antara webmonitoring dengan penanggalan kalender
khususnya dalam pendefinisian bulan ke- dan minggu ke-, misalnya : target
realisasi KUK berdasarkan web monitoring adalah bulan ke 6 minggu ke-1 yang
apabila diartikan ke penanggalan kalender yaitu bulan agustus sedangkan evidence
diinput pada akhir bulan juli sehingga terjadi kesalahan dalam proses input
evidence KUK.
4. Hitungan waktu untuk 1 minggu pada sistem webmonitoring merupakan hitungan
hari kerja yaitu senin-jumat sehingga terjadi kesalahan/keterlambatan apabila
berkas evidence di upload pada hari sabtu dan minggu di minggu yang sama.
Mengingat jenis pekerjaan yang menuntut untuk terjun langsung di lapangan
dengan berbagai jenis pekerjaan baik yang melibatkan pihak ketiga maupun pihak
PLN sendiri dalam upaya peningkatan kesiapan kerja pasca OJT, serta ruang
lingkup atau daerah kerja pada unit OJT yang cukup luas, maka seharusnya hari
sabtu dan minggu menjadi waktu yang cukup potensial dalam proses kelengkapan
berkas evidence di web monitoring.