Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ULUMUL QUR’AN

I’JAZ DAN MUKJIZAT AL QUR’AN


DOSEN PENGAMPU : Muh. Lutfi Hakim, S. Sy., M.H.

Disusun Oleh :

1. Al Khoridatul Anisah. (19.12.00033)


2. Suwati Yuli Krisdayanti. (19.12.00230)

INSTITUT PESANTREN MATHALI’UL FALAH

PRODI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

TAHUN 2019/2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 2
BAB I................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 3
A. LATAR BELAKANG ................................................................................................... 3
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................. 3
C. TUJUAN ................................................................................................................... 3
BAB II................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 4
A. Pengertian I’jaz dan Mu’jizat .................................................................................. 4
B. Sejarah IlmuI’jaz dan tujuan I’jaz Al-Qur’an. ....................................................... 6
C. Tujuan I’jaz Al-Qur’an. .......................................................................................... 6
D. Macam-macam Mu’jizat. ........................................................................................ 7
E. Aspek-Aspek Kemu’jizatan Al-Qur’an. ................................................................. 7
BAB III ............................................................................................................................. 11
PENUTUP ........................................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 12

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan
sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah


berpartisipasi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih
jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran
yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik
lagi.

Pati, 20 September 2019

Penyusun

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Salah satu objek penting lainnya dalam kajian ulumul qur’an


adalah perbincangan mengenai mu’jizat, terutama mu’jizat Al-Qur’an.
Karena dengan perantara mu’jizat, Allah mengingatkan manusia, bahwa
para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan bantuan
dari langit. Mu’jizat yang telah diberikan kepada para Nabi mempunyai
fungsi sama yaitu untuk memainkan peranannya dan mengatasi
kepandaian kaum disamping membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu
berada di atas segala-galanya.

Sebelum adanya Al-qur’an, masyarakat Arab sangat menyukai karya-


karya sastra Arab dan syair- syair dalam bahasa Arab. Namun setelah Al-
Qur’an ada, para penulis mengakui bahwa Al-qur’an dapat mengungguli
karya sastra yang pernah ada.

Atas dasar inilah, Al-qur’an dipandang dan di yakini mejadi sebuah


mu’jizat terbesar yang pernah ada.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian I’jaz dan Mu’jizat Al-Qur’an?


2. Bagimana tujuan dan sejarah I’jaz Qur’an?
3. Apa saja macam-macam Mu’jizat Al-Qur’an?
4. Apa saja aspek-aspek kemu’jizatan Al-Qur’an?

C. TUJUAN

1. Mengetahui pengertian I’jaz dan Mu’jizat Al- Qur’an.


2. Mengetahui tujuan dan sejarah I’jaz Qur’an.
3. Mengetahui macam-macam Mu’jizat Al-Qu’an.
4. Mengetahui aspek-aspek Kemu’jizatan Al-Qur’an.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian I’jaz dan Mu’jizat

Kata i’jaz merupakan bagian yang tak terlepaskan dari seorang Rasul
yang diutus Allah kepada umatnya untuk menyampaikan risalah. I’jaz
merupakan kemampuan untuk menundukkan manusia sehingga secara serta-
merta menjadikan seorang manusia mempercayai akan kebenaran dari ajaran
atau risalah yang dibawa oleh seorang Rasul. Kemampuan I’jaz ini kemudian
menjadi bagian dari seorang Rasul yang dapat disebut juga dengan mu’jizat.

I’jaz yang berarti meninggalkan atau mendahului, sedangkan meurut Quraish


Shihab berasal dari Bahasa Arab A’jaza yang berarti “ melemahkan atau
menjadikan tidak mampu “, sedangkan “ta’” marbutah pada kata “mu”jizat”
menunjukkan makna mubalaghoh1.

Pelaku yang dilemahkan dinamai Mu’jiz, dan bila kemampuannya mampu


melemahkan yang lain dinamai mu’jizat. Mu’jizat dalam kamus besar
bahasa indonesia diartikan sebagai kejadian/ pristiwa yang sukar di
jangkau oleh akal manusia, seperti pristiwa ketika dengan seizin Allah
nabi Musa dapat membelah laut dengan tongkatnya.

Dengan demikian, I’jaz dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas


tentang aspek-aspek kemu’jizatan Al-qur’an. Mu’jizat adalah suatu yang
luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui nabi dan para rasul-Nya
sebagai bukti atas kenabiannya dan kerasulannya.

Unsur- unsur yang terdapat pada mu’jizat adalah sebagai berikut:

1. Hal atau pristiwa yang luar biasa.


Kejadian yang sering terjadi sehari-hari di sekitar kita,
walaupun menakjubkan tidak dinamai mu’jizat. Karena hal
tersebut merupakan hal yang biasa. Yang dimaksud dengan
luar biasa adalah sesuatu yang berada di luar nalar jangkauan
sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukum
hukumnya.

2. Terjadi atau dipaparkan seseorang yang mengaku sebagai


nabi.

1
M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an,(Bandung: Mizan,1998),hlm.23.

4
Tidak dipungkiri sesuatu yang luar biasa dapat terjadi pada diri
siapapun. Namun apabila bukan dari seseorang yang mengaku
nabi, ia tidak dinamai mu’jizat. Boleh jadi yang terjadi dalam
diri seseorang yang kelak bakal menjadi nabi. Inipun tidak
dinamai mu’jizat, tetapi irhash. Keluarbiasaan yang terjadi
pada seseorang yang taat dan dicintai Allah pun tidak dapat
disebut mu’jizat, tetapi karamah atau kekeramatan, yang
bahkan tidak mustahil terjadi pada seseorang yang durhaka
kepada-Nya. Kekeramatan yang terakhir ini dinamai ihanah
(penghinaan) atau istidraj (“rangsangan” untuk lebih durhaka
lagi).

3. Mengadung tantangan terhadap yang meragukan


kenabiannya.
Tentu saja tantangan ini harus bebarengan dengan
pengakuannya sebagai nabi, bukan sebelum atau sesudahnya.
Di sisi lain, tantangan tersebut harus pula merupakan sesuatu
yang sejalan dengan ucapan sang nabi. Kalau misalnya dia
berkata, “Batu ini dapat berbicara,” tetapi ketika batu tersebut
berbicara, dikatakannya bahwa “Sang penantang berbohong,”
keluarbiasaan ini bukanlah suatu mu’jizat, melainkan ihanah
atau istidraj. 2

4. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.


Apabila yang ditantang berhasil melakukan hal yang serupa, ini
berarti bahwa pengaakuan sang penantang tidak terbukti. Perlu
digaris bawahi disini bahwa kandungan tantangan harus benar-
benar dipahami oleh yang ditantang. Biasanya aspek-aspek
kemu”jizatan masing-masing nabi adalah hal-hal yang sesuai
dengan bidang keahlian umatnya. Semisal seperti mu’jizat nabi
Musa a.s, yakni beralihnya tongkat menjadi ular yang
dihadapkan kepada masyarakat yang amat mengandalkan sihir.
Mu’jizat yang begitu jelas ini benar-benar membungkam para
ahli sihir yang ditantang oleh nabi Musa a.s.3

2
M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an,(Bandung: Mizan,1998), hlm.26.
3
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an,(Bandung, CV Pustaka Setia, 2010), hlm.185

5
B. Sejarah IlmuI’jaz dan tujuan I’jaz Al-Qur’an.

Menurut Dr. Subhi As-Shalih dalam kitab Mabahist fi Ulum Al-Qur’an


bahwa orang yang pertama kali membicarakan tentang I’jaz Al-Qur’an ialah
Imam Al-Jaid (w. 225 H) dalam kitab Nuzmu Al-Qur’an. Hal ini seperti
diisyaratkan dalam kitab yang lain, Al-hayawan. Beliau mengatakan, bahwa
“kitab tersebut terkumpul ayat Al-Qur’an untuk mengetahui antara I’jaz dan
penghapusan dan diantara penambahan, keutamaan dan isti’arat. Apabila kamu
membaca ayat Al-Qur’an maka akan nampak ke I’jzasannya.

Kemudian dilanjutkan oleh Muhammad ibn Zaid al-Wasity (w. 603 H)


dalam kitab I’jaz Al-Qur’an yang banyak mengutip isi kitab al-jahid akan tetapi
kitab ini tidak sampai kepada kita. Kemudian Abdu al-Qohir al-jurjani dalam
kitab Dalailu al-I’jaz. Dilanjutkan oleh imam ar-Rumany (w.384 H) dalam kitab
al-I’jaz yang isinya mengupas segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’an. Lalu disusul
oleh al-Qadi Abu Bakar al-Baqilany (w.403 H) dalam kitab I’jaz Al-Qur’an yang
membahas tentang segi-segi kebalaghahan Al-Qur’an dan kemu’jizatan.4

C. Tujuan I’jaz Al-Qur’an.

Sebagaimana pengertian dari mu’jizat tadi bahwa mu’jizat yaitu untuk


melemahkan. Namun selain melemahkan, mu’jizat memiliki tujuan lain, yaitu
sebagai berikut5:

a) Membuktikan bahwa nabi Muhammad adalah seorang nabi dan


rasul yang menerima mu’jizat Al-Qur’an.
b) Kitab Al-Qur’an merupakan wahyu Allah dan bukan produk
manusia.
c) Menunnjukkan kelemahan mutu sastra dan balaghah bahasa
manusia, terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa
Arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab seperti Al-
Qur’an.
d) Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa umat
manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan
kesombongannya.

4
https://www.academia.edu/2435482/IJAZ_AL-QURAN. Diakses pada hari Senin, 23 September
2019 pada jam 14.54 WIB.
5
Abdul jalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000), hlm. 270.

6
D. Macam-macam Mu’jizat.

Mu’jizat terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Mu’jizat Hissy/indriawi adalah Mu’jizat yang dapat dicapai


oleh panca indera. Mu’jizat ini biasanya diperlihatkan kepada
manusia biasa, yaitu manusia yang tidak bisa mempergunakan
kecerdasan pikirannya, pandangan mata hatinya dan rendah
budi perasaannya. Contoh: Nabi Ibrahim yang tidak terbakar
dalam api dan perahu Nabi Nuh. Kesemuanya bersifat inderawi
sekaligus terbatas pada lokasi tempat nabi berada dan berakhir
dengan wafat masing-masing nabi.
2. Mu’jizat Maknawi yaitu mu’jizat yang tidak mungkin dicapai
oleh kekuatan indera semata melainkan dapat dicapai dengan
kekuatan akal pikiran. Mu’jizat ini tidak dapat dipahami
kecuali oleh orang yang memiliki akal saht dan berbudi luhur.
Seperti mu’jizat Al-Qur’an kepada nabi Muhammad. Oleh
karena itu, mu’jizat ini tidak dibatasi oleh suatu tempat dan
waktu karena Al-Qur’an dapat dijangkau oleh setiap orang
yang dapat menggunakanya akalnya dimanapun berada.

Perbedaan ini disebabkan karena para nabi sebelum nabi Muhammad


ditugaskan untuk masyarakat pada masa tertentu. Oleh karena itu mu’jizat
mereka hanya berlaku untuk masyarakat dan masa tersebut, tidak untuk
setelah mereka. Berbeda dengan nabi Muhammad yang diutus untuk
seluruh umat manusia hingga akhir zaman, sehinnga bukti kebenaran
ajarannya harus selalu siap dipaparkan kepada setiap orang yang ragu
dimanapun berada.6

E. Aspek-Aspek Kemu’jizatan Al-Qur’an.

Al-Qur’an memiliki I’jaz yang sangat luar biasa dari segala segi baik dari
sistematika susunan dalam mushaf, gaya bahasa, penempatan satu kata
dalam kalimat serta makna yang dikandung dalamnya. Adapun aspek-
aspek kemu’jizatan Al-Qur’an, sebagai berikut:

6
M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an,(Bandung: Mizan,1998), hlm 39

7
1. Al-Qur’an mengandung berita yang ghoib yang tidak ada
seseorangpun mampu menandinginya.7 Adapun berita-berita ghoib
itu, sebagai berikut:
a) Keghaiban masa lampau, seperti kisah Nabi Musa a.s, kisah
Fir’aun, ashabul al-Kahfi, dan kaum Ad dan Tsamud.8
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 67
kisah nabi Musa a.s dan kisah Fir’aun dalam surah al-Qasos
ayat 4.
Al-Baqarah ayat 67:
Artinya: dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada
kaumnya: “sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyembelih seekor sapi betina,” mereka berkata: “Apakah
kamu hendak menjadikan kami buah ejekan ?”Musa
menjawab: “ Aku berlindung kepada Allah agar tidak
menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.”9
Al-Qashos ayat 4:
Artinya: Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-
wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya
berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka
dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka,
sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat
kerusakan.10
b) Keghaiban masa yang akan datang, seperti kisah
kemenangan Rowami setelah kemenanganya, kasus al-
Walid bi al-Mughiroh dan kasus Abu Jahal. Sebagaimana
fir’man Allah surat Ar-rum ayat 1-5 tentang kemenangan
Romawi dan kekalahannya.
c) Keghaiban masa sekarang, terbukanya niat busuk orang
munafik dimasa Rasullah SAW. Seperti firman Allah pada
surah al-Baqarah ayat 204.
2. Pemberitahuan tentang kondisi nabi sebagai orang yang ummi, nabi
yang tidak bisa membaca dan menulis. Begitu pula pemberitahuan
mengenai kondisi beliau yang sama sekali tidak tahu kitab-kitab
terhadulu baik tentang kisah, berita, maupun riwayat mereka.
Dalam keaadaan seperti itu, tiba-tiba menyampaikan kepada beliau

7
https://www.academia.edu/2435482/IJAZ_AL-QURAN. Diakses pada hari Senin, 23 September
2019 pada jam 14.54 WIB.
8
M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an,( Bandung: Mizan,1998) hlm.196.
9
Al-Qur’an, surah ke-2, ayat 67.
10
Al-Qur’an, surah ke-28, ayat 4.

8
ringkasan peristiwa yang pernah terjadi, yakni persoalan besar dan
sejarah yang sangat penting dimulai sejak Allah menciptakan
Adam a.s yang mencakup permulaan penciptaannya, persoalan
yang dihadapinya hingga perbuatan yang mengakibatkannya di usir
dari surga, kemudian diterangkan secara ringkas persoalan anak-
anaknya, kodisi dan pertaubatannya. Begitu pula dengan kisah
Ibrahim a.s, dan nabi-nabi yang tertulis dalam Al-Qur’an. Beliau
tidak mungkin memperoleh pengetahuan seperti itu jika bukan
melalui wahyu.11
3. Mengandung unsur balaghah yang sangat tinggi. Sebagaimana kita
ketahui, bahwa orang Arab pandai dalam berbahasa Arab, sastra
serta membuat syiir-syiir ataupun puisi. Namun ketika mereka
dihadapkan kepada Al-Qur’an mereka tiada bandingannya.
Struktur yang mengandung mukjizat diantaranya ada yang
bertumpu pada bentuk global, yakni struktur al-Qur’an dilihat dari
berbagai aspek dan penjelasan modelnya yang berada diluar
struktur kalimat yang bisa digunakan oleh orang Arab. Al-Qur’an
memiliki gaya bahasa yang istimewa, sangat berbeda dengan gaya
bahasa percakapan yang dilakukan seperti biasanya. Hal itu karena
cara-cara yang digunakan kalimat yang indahstrukturnya terbagi
menjai mantra-mantra syair dengan berbagai perbedaannya, aneka
kalimat berirama tak bersajak, kalimat berirama dan bersajak, serta
kalimat bebas. Meelalui cara-cara ini, ketepatan dan manfaat
diusahakan, begitu pula dengan pemahaman makna yang
dikemukakan dengan indah, gaya bahasa yang tertib dan lembut.

Selain itu bagi orab Arab tidak mungkin memiliki falsafah kalimat
yang demikian halus, faidah yang luar biasa, keselarasan dengan
balaghah, penggunaan istilah yang samar dan mahir yang demikian
panjang dan mencukupi. Orang-orang bijak dikalangan mereka
biasanya hanya mampu membuat kata-kata yang bergam dan sedikit
lafalnya, sedangkan Al-Qur’an mengkolerasikan semuanya dan tetap
terjaga falsafahnya.12

4. Al-Qur’an mengandung bermacam-macam ilmu pengetahuan dan


hikmah yang sangat mendalam. Pada hakikatnya, Al-Qur’an
merupakan mukjizat dengan segala makna yang dibawakan dan
dikandung oleh lafal-lafalnya, yaitu:

11
Issa J. Boullata, Al-Qur’an Yang Menakjubkan, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm.116.
12
Issa J. Boulatta, Al-Qur’an Yang Menakjubkan , (Jakarta: Lentera Hati,2008),hlm.118.

9
a) Mukjizat dalam lafal dan keindahan susunan kalimat
(uslub). Maksudnya yaitu huruf dari Al-Qur’an merupakan
I’jaz dalam susunan kata (kalimat) dan susunan kata
merupakan I’jaz dalam jumlah dan jumlah dalam Al-
Qur’an merupakan mukjizat dalam surah.
b) Mukjizat dalam bayan (penjelasan) dan nazam. Seorang
pembaca akan menemukan gambaran hidup bagi
kehidupan, alam dan manusia. Maknanya menyingkap tabir
hakikat kemanusiaan dan pesan alam
c) Mukjizat dalam tasyri dan pemeliharaannya terhadap hak-
hak asasi manusia. 13

13
https://www.academia.edu/2435482/IJAZ_AL-QURAN. Diakses pada hari Senin, 23 September
2019 pada jam 14.54 WIB.

10
BAB III
PENUTUP
Itulah sedikit pembahasan tentang I’jaz dan Mukjizat Al-Qur’an.
Penyusun dapat menyimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang
diberikan nabi Muhammad, yang kaya akan keindahan bahasa, baik dari segi
I’jaz, balaghah tasybih, isti’arah, dan mencakup segala ilmu pengetahuan yang
tiada bandingannya. Sepintar-pintarnya manusia, ia tidak akan mampu
menandingi Al-Qur’an. Oleh sebab itu, Al-Qur’an hingga saat ini masih tetap
terpelihara dan terjaga keasliannya.

Demikian yang dapat kami tulis. Mohom maaf atas segala kesalahan
kepada seluruh pihak. Penyusun berharap kritik serta saran guna memperbaiki
makalah selanjutnya. Terima kasih dan semoga bermanfaat. Amin.

11
DAFTAR PUSTAKA

AL-Qur’an al-Karim.

Anwar, Rosihon, Ulum Al-Qur’an, Bandung: CV Putaka Setia,2010.

Boullata, Issa J., AL-Qur’an Yang Menakjubkan, Jakarta: Lentera Hati,


2008.

https://www.academia.edu/2434582/IJAZ_AL-QURAN.

Jalal, Abdul, Ulumul Qur’an,Surabaya: Dunia Ilmu, 2000.

Shihab, M.Quraish, Mukjizat Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1998.

12