Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

SNAKE BITE

A. DEFINISI
Gigitan ular atau snake bite adalah gigitan ular yang dapat
disebabkan oleh ular berbisa atau tidak berbisa. Gigitan ular yang berbisa
mempunyai akibat yang beragam mulai dari luka yang sederhana sampai
dengan ancamannya dan menyebabkan kematian (BT&TLS, 2008). Gigitan
ular adalah suatu keadan yang disebabkan oleh gigitan ular berbisa. Bisa ular
adalah kumpulan dari terutama protein yang mempunyai efek fisiologik yang
luas atau bervariasi. Yang mempengaruhi sistem multiorgan, terutama
neurologik, kardiovaskuler, dan sistem pernapasan (Suzanne Smaltzer dan
Brenda G. Bare, 2007). Gigitan ular merupakan salah satu kasus gawat darurat yang
terkait lingkungan, pekerjaan dan musim dan cukup banyak terjadi di berbagai belahan
dunia khususnya di daerah pedesaan. Pekerja di bidang pertanian dan anak-anak
merupakan golongan yang serin tergigit (Warrell 2010).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa snake bite
adalah gigitan ular yang dapat disebabkan oleh ular berbisa atau tidak berbisa
yang yang terkait di lingkungan, pekerjaan dan musim dan cukup banyak terjadi di
berbagai belahan dunia khususnya di daerah pedesaan.

B. ANATOMI FISIOLOGI

Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh


bagian tubuh, membungkus daging dan organ-organ yang ada di
dalamnya.Luas kulit pada manusia rata-rata 2 meter persegi dengan berat 10
kg jika ditimbang dengan lemaknya atau 4 kg jika tanpa lemak atau beratnya
sekitar 16 % dari berat badan seseorang. Kulit memiliki fungsi melindungi
bagian tubuh dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi
perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti
pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan
sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh,
produksi sebum dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk
melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet matahari.Kulit terdiri dari tiga
lapisan, yaitu : epidermis (kulit ari), dermis (kulit jangat atau korium) dan
lapisan subkutan. Sebagai gambaran, penampang lintang dan visualisasi
struktur lapisan kulit tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :
1. Epidermis (kulit ari)
Epidermis merupakan bagian kulit paling luar yang paling
menarik untuk diperhatikan dalam perawatan kulit, karena kosmetik
dipakai pada bagian epidermis. Ketebalan epidermis berbeda-beda pada
berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran 1 milimeter misalnya
pada telapak tangan dan telapak kaki, dan yang paling tipis berukuran 0,05
milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi dan perut. Sel-sel
epidermis disebut keratinosit.Tidak ada terdapat pembuluh darah pada
epidermis.Epidermis melekat erat pada dermis karena secara fungsional
epidermis memperoleh zat-zat makanan dan cairan antar sel dari plasma
yang merembes melalui dinding-dinding kapiler dermis ke dalam
epidermis. Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu :
a. Lapisan tanduk (stratum corneum) merupakan lapisan epidermis yang
paling atas, dan menutupi semua lapisan epiderma lebih ke dalam.
Lapisan tanduk terdiri atas beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki
inti, tidak mengalami proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat
sedikit mengandung air.Pada telapak tangan dan telapak kaki jumlah
baris keratinosit jauh lebih banyak, karena di bagian ini lapisan tanduk
jauh lebih tebal.Lapisan tanduk ini sebagian besar terdiri atas keratin
yaitu sejenis protein yang tidak larut dalam air dan sangat resisten
terhadap bahan-bahan kimia. Lapisan ini dikenal dengan lapisan
horny, terdiri dari milyaran sel pipih yang mudah terlepas dan
digantikan oleh sel yang baru setiap 4 minggu, karena usia setiap sel
biasanya hanya 28 hari. Pada saat terlepas, kondisi kulit akan terasa
sedikit kasar sampai muncul lapisan baru.Proses pembaruan lapisan
tanduk, terus berlangsung sepanjang hidup, menjadikan kulit ari
memiliki self repairing capacity atau kemampuan memperbaiki diri.
Bertambahnya usia dapat menyebabkan proses keratinisasi berjalan
lebih lambat. Ketika usia mencapai sekitar 60 tahunan, proses
keratinisasi, membutuhkan waktu sekitar 45 – 50 hari, akibatnya
lapisan tanduk yang sudah menjadi lebih kasar, lebih kering, lebih
tebal, timbul bercak-bercak putih karena melanosit lambat bekerja dan
penyebaran melanin tidak lagi merata serta tidak lagi cepat digantikan
oleh lapisan tanduk baru.Daya elastisitas kulit pada lapisan ini sangat
kecil, dan lapisan ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya
penguapan air dari lapis-lapis kulit lebih dalam sehingga mampu
memelihara tonus dan turgor kulit, tetapi lapisan tanduk memiliki
daya serap air yang cukup besar.
b. Lapisan bening (stratum lucidum) disebut juga lapisan barrier,
terletak tepat di bawah lapisan tanduk, dan dianggap
sebagaipenyambung lapisan tanduk dengan lapisan
berbutir.Lapisanbening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih yang
kecil-kecil, tipisdan bersifat translusen sehingga dapat dilewati sinar
(tembuscahaya).Lapisan ini sangat tampak jelas pada telapak tangan
dantelapak kaki. Proses keratinisasi bermula dari lapisan bening.
c. Lapisan berbutir (stratum granulosum) tersusun oleh sel-sel
keratinosit berbentukkumparan yang mengandung butir-butir di dalam
protoplasmanya, berbutir kasa dan berinti mengkerut. Lapisan ini
tampak paling jelas pada kulit telapak tangan dan telapak kaki.
d. Lapisan bertaju (stratum spinosum) disebut juga lapisan malphigi
terdiri atas sel-sel yang saling berhubungan dengan
perantaraanjembatan-jembatan protoplasma berbentuk kubus. Jika sel-
sellapisan saling berlepasan, maka seakan-akan selnya bertaju.Setiap
sel berisi filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabutprotein. Sel-
sel pada lapisan taju normal, tersusun menjadibeberapa baris.Bentuk
sel berkisar antara bulat ke bersudut banyak (polygonal), dan makin
ke arah permukaan kulit makin besar ukurannya.Di antara sel-sel taju
terdapat celah antar sel halus yang berguna untuk peredaran cairan
jaringan ekstraseluler dan pengantaran butir-butir melanin.Sel-sel di
bagian lapis taju yang lebih dalam, banyak yang berada dalam salah
satu tahap mitosis. Kesatuankesatuan lapisan taju mempunyai susunan
kimiawi yang khas; inti inti sel dalam bagian basal lapis taju
mengandung kolesterol, asam amino dan glutation
e. Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale) merupakan
lapisan terbawahepidermis, dibentuk oleh satu baris sel torak (silinder)
dengan kedudukan tegak lurus terhadap permukaan dermis. Alas sel-
sel torak ini bergerigi dan bersatu dengan lamina basalis di bawahnya.
Lamina basalis yaitu struktur halus yang membatasi epidermis dengan
dermis. Pengaruh lamina basalis cukup besar terhadap pengaturan
metabolisme demo-epidermal dan fungsi-fungsi vital kulit. Di dalam
lapisan ini sel-sel epidermis bertambah banyak melalui mitosis dan
sel-sel tadi bergeser ke lapisan-lapisan lebih atas, akhirnya menjadi sel
tanduk. Di dalam lapisan benih terdapat pula sel-sel bening (clear
cells, melanoblas atau melanosit) pembuat pigmen melanin kulit.
2. Dermis
Kulit jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa,
tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar
palit atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening,
dan otot penegak rambut (muskulus arektor pili). Sel-sel umbi rambut
yang berada di dasar kandung rambut, terus-menerus membelah dalam
membentuk batang rambut. Kelenjar palit yang menempel di saluran
kandung rambut, menghasilkan minyak yang mencapai permukaan kulit
melalui muara kandung rambut. Kulit jangat sering disebut kulit
sebenarnya dan 95 % kulit jangat membentuk ketebalan kulit. Ketebalan
rata-rata kulit jangat diperkirakan antara 1 – 2 mm dan yang paling tipis
terdapat di kelopak mata serta yang paling tebal terdapat di telapak tangan
dan telapak kaki. Susunan dasar kulit jangat dibentuk oleh serat-serat,
matriksinterfibrilar yang menyerupai selai dan sel-sel.
Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam kulit jangat,
memungkinkan membedakan berbagai rangsangan dari luar.
Masingmasing saraf perasa memiliki fungsi tertentu, seperti saraf dengan
fungsi mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas, dan dingin. Saraf
perasa juga memungkinkan segera bereaksi terhadap hal-hal yang dapat
merugikan diri kita. Jika kita mendadak menjadi sangat takut atau sangat
tegang, otot penegak rambut yang menempel di kandung rambut, akan
mengerut dan menjadikan bulu roma atau bulu kuduk berdiri. Kelenjar
palit yan menempel di kandung rambut memproduksi minyak untuk
melumasi permukaan kulit dan batang rambut. Sekresi minyaknya
dikeluarkan melalui muara kandung rambut. Kelenjar keringat
menghasilkan cairan keringat yang dikeluarkan ke permukaan kulit
melalui pori-pori kulit. Di permukaan kulit, minyak dan keringat
membentuk lapisan pelindung yang disebut acid mantel atau sawar asam
dengan nilai pH sekitar 5,5. sawar asam merupakan penghalang alami
yang efektif dalam menangkal berkembang biaknya jamur, bakteri dan
berbagai jasad renik lainnya di permukaan kulit. Keberadaan dan
keseimbangan nilai pH, perlu terus-menerus dipertahankan dan dijaga agar
jangan sampai menghilang oleh pemakaian kosmetika.
Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastic
yang dapat membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan
serat protein ini yang disebut kolagen. Serat-serat kolagen ini disebut juga
jaringan penunjang, karena fungsinya dalam membentuk jaringan-jaringan
kulit yang menjaga kekeringan dan kelenturan kulit. Berkurangnya protein
akan menyebabkan kulit menjadi kurang elastis dan mudah mengendur
hingga timbul kerutan. Faktor lain yang menyebabkan kulit berkerut yaitu
faktor usia atau kekurangan gizi. Dari fungsi ini tampak bahwa kolagen
mempunyai peran penting bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Perlu
diperhatikan bahwa luka yang terjadi di kulit jangat dapat menimbulkan
cacat permanen, hal ini disebabkan kulit jangat tidak memiliki kemampuan
memperbaiki diri sendiri seperti yang dimiliki kulit ari. Di dalam lapisan
kulit jangat terdapat dua macam kelenjar yaitu kelenjar keringat dan
kelenjar palit.
a. Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar) dan duet
yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada permukaan kulit
membentuk pori-pori keringat. Semua bagian tubuh dilengkapi dengan
kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat dipermukaan telapak
tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak. Kelenjar keringat
mengatur suhu badan dan membantu membuang sisa-sisa pencernaan
dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang oleh panas, latihan
jasmani, emosi dan obat-obat tertentu. Ada dua jenis kelenjar keringat
yaitu :
1) Kelenjar keringat ekrin, kelenjar keringat ini mensekresi cairan
jernih, yaitu keringat yang mengandung 95 – 97 persen air dan
mengandung beberapa mineral, seperti garam, sodium klorida,
granula minyak, glusida dan sampingan dari metabolism seluler.
Kelenjar keringat ini terdapat di seluruh kulit, mulai dari telapak
tangan dan telapak kaki sampai ke kulit kepala. Jumlahnya di
seluruh badan sekitar dua juta dan menghasilkan 14 liter keringat
dalam waktu 24 jam pada orang dewasa.Bentuk kelenjar keringat
ekrin langsing, bergulung-gulung dan salurannya bermuara
langsung pada permukaan kulit yang tidak ada rambutnya.
2) Kelenjar keringat apokrin, yang hanya terdapat di daerah ketiak,
puting susu, pusar, daerah kelamin dan daerah sekitar dubur
(anogenital) menghasilkan cairan yang agak kental, berwarna
keputih-putihan serta berbau khas pada setiap orang. Sel kelenjar
ini mudah rusak dan sifatnya alkali sehingga dapat menimbulkan
bau. Muaranya berdekatan dengan muara kelenjar sebasea pada
saluran folikel rambut. Kelenjar keringat apokrin jumlahnya tidak
terlalu banyak dan hanya sedikit cairan yang disekresikan dari
kelenjar ini. Kelenjar apokrin mulai aktif setelah usia akil baligh
dan aktivitas kelenjar ini dipengaruhi oleh hormon.
b. Kelenjar palit (sebasea) kelenjar palit terletak pada bagian atas kulit
jangat berdekatan dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-
gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel).
Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan
menjaga kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk sebum atau
urap kulit. Terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki, kelenjar
palit terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian muka.Pada
umumnya, satu batang rambut hanya mempunyai satu kelenjar palit
atau kelenjar sebasea yang bermuara pada saluran folikel rambut. Pada
kulit kepala, kelenjar palit atau kelenjar sebasea menghasilkan
minyak untuk melumasi rambut dan kulit kepala. Pada kebotakan
orang dewasa, ditemukan bahwa kelenjar palit atau kelenjar sebasea
membesar sedangkan folikel rambut mengecil. Pada kulit badan
termasuk pada bagian wajah, jika produksi minyak dari kelenjar palit
atau kelenjar sebasea berlebihan, maka kulit akan lebih berminyak
sehingga memudahkan timbulnya jerawat.
3. Lapisan Subkutan / jaringan penyambung
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh
darah dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit.
Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan
kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau
penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam, membentuk
kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan dan kedalaman
jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah
pantat dan paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia menjadi tua,
kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh
yang sebelumnya berisi banyak lemak, lemaknya berkurang sehingga kulit
akan mengendur serta makin kehilangan kontur. Sel lemak ini dipisahkan
oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan terdalam banyak mengandung sel
limposit yang menghasilkan banyak lemak. Disebut juga panikulus
adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Sel lemak berfungsi
juga sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan
tulang. Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan
panas.Sebagai bantalan terhadap trauma. Tempat penumpukan energi.
4. Vaskularisasi Kulit
Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus
terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara
dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini
memperdarahi papilla dermis, tiap papilla dermis punya satu arteri asenden
dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi
mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis. Vaskularisasi
dikulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus superfisialis dan pleksus
profunda.

C. ETIOLOGI
Terdapat 3 famili ular yang berbisa, yaitu Elapidae, Hidrophidae,
dan Viperidae. Bisa ular dapat menyebabkan perubahan lokal, seperti edema
dan pendarahan. Banyak bisa yang menimbulkan perubahan lokal, tetapi tetap
dilokasi pada anggota badan yang tergigit. Sedangkan beberapa bisa Elapidae
tidak terdapat lagi dilokasi gigitan dalam waktu 8 jam. Daya toksik bisa ular
yang telah diketahui ada beberapa macam :
1. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic)
Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang
menyerang dan merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan
jalan menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah merah),
sehingga sel darah menjadi hancur dan larut (hemolysin) dan keluar
menembus pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan timbulnya
perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulut, hidung, tenggorokan,
dan lain-lain.
2. Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic)
Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel
saraf sekitar luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf
tersebut mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak
kebiru-biruan dan hitam (nekrotis). Penyebaran dan peracunan
selanjutnya mempengaruhi susunan saraf pusat dengan jalan
melumpuhkan susunan saraf pusat, seperti saraf pernafasan dan jantung.
Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh limfe.
3. Bisa ular yang bersifat Myotoksin
Mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan
maemotoksin. Myoglobulinuria yang menyebabkan kerusakan ginjal
dan hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel otot.
4. Bisa ular yang bersifat kardiotoksin
Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot
jantung.
5. Bisa ular yang bersifat cytotoksin
Dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat
terganggunya kardiovaskuler.
6. Bisa ular yang bersifat cytolitik
Zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan
pada tempat gigitan.
7. Enzim-enzim
Termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada penyebaran bisa.

D. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala yang umum ditemukan pada pasien bekas gigitan
ular adalah :
1. Tanda-tanda bekas taring, laserasi
2. Bengkak dan kemerahan, kadang-kadang bulae atau vasikular
3. Sakit kepala, mual, muntah
4. Rasa sakit pada otot-otot, dinding perut
5. Demam
6. Keringat dingin
Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada
semua gigitan ular. Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan,
ekimosis (kulit kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah
kulit). Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular
berbisa, yaitu terjadi oedem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan
5P: pain (nyeri), pallor (muka pucat), paresthesia (mati rasa), paralysis
(kelumpuhan otot), pulselesness (denyutan). Tanda dan gejala khusus pada
gigitan family ular :
1. Gigitan Elapidae
Misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular
cabai, coral snakes, mambas, kraits), cirinya:
a. Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang
berdenyut, kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
b. Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
c. 15 menit setelah digigit ular muncul gejala sistemik. 10 jam
muncul paralisis urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan,
sehingga sukar bicara, susah menelan, otot lemas, kelopak mata
menurun, sakit kepala, kulit dingin, muntah, pandangan kabur, mati
rasa di sekitar mulut dan kematian dapat terjadi dalam 24 jam.
2. Gigitan Viperidae/Crotalidae
Misal pada ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
a. Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam
berupa bengkak di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota
badan.
b. Gejala sistemik muncul setelah 50 menit atau setelah beberapa jam.
c. Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan
lutut dalam waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
3. Gigitan Hydropiidae
Misalnya, ular laut, cirinya:
a. Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan
muntah.
b. Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan
nyeri menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot,
mioglobulinuria yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini
penting untuk diagnosis), ginjal rusak, henti jantung.
4. Gigitan Crotalidae
Misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
a. Gejala lokal ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan,
ekimosis, nyeri di daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya
pemberian polivalen crotalidae antivenin.
b. Anemia, hipotensi, trombositopeni.
Tanda dan gejala lain gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam
beberapa kategori:
1. Efek lokal, digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra
menimbulkan rasa sakit dan perlunakan di daerah gigitan. Luka dapat
membengkak hebat dan dapat berdarah dan melepuh. Beberapa bisa ular
kobra juga dapat mematikan jaringan sekitar sisi gigitan luka.
2. Perdarahan, gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid Australia
dapat menyebabkan perdarahan organ internal, seperti otak atau organ-
organ abdomen. Korban dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah
spontan dari mulut atau luka yang lama. Perdarahan yang tak terkontrol
dapat menyebabkan syok atau bahkan kematian.
3. Efek sistem saraf, bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung
pada sistem saraf. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama
secara cepat menghentikan otot-otot pernafasan, berakibat kematian
sebelum mendapat perawatan. Awalnya, korban dapat menderita masalah
visual, kesulitan bicara dan bernafas, dan kesemutan.
4. Kematian otot, bisa dari russell’s viper (Daboia russelli), ular laut, dan
beberapa elapid Australia dapat secara langsung menyebabkan kematian
otot di beberapa area tubuh. Debris dari sel otot yang mati dapat
menyumbat ginjal, yang mencoba menyaring protein. Hal ini dapat
menyebabkan gagal ginjal.
5. Mata, semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai
mata korban, menghasilkan sakit dan kerusakan, bahkan kebutaan
sementara pada mata.

E. PATOFISIOLOGI
Bisa ular yang masuk ke dalam tubuh, menimbulkan daya toksin.
Toksik tersebut menyebar melalui peredaran darah yang dapat mengganggu
berbagai system. Seperti, sistem neurogist, sistem kardiovaskuler, sistem
pernapasan. Pada gangguan sistem neurologis, toksik tersebut dapat mengenai
saraf yang berhubungan dengan sistem pernapasan yang dapat mengakibatkan
oedem pada saluran pernapasan, sehingga menimbulkan kesulitan untuk
bernapas. Pada sistem kardiovaskuler, toksik mengganggu kerja pembuluh
darah yang dapat mengakibatkan hipotensi. Sedangkan pada sistem
pernapasan dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan terjadi koagulopati
hebat yang dapat mengakibatkan gagal napas.

F. PATHWAY
Terlampir
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG/DIAGNOSTIK
Adapun pemeriksaan penunjang gigitan ular antara lain :
1. Pemeriksaan laboratorium dasar
2. Pemeriksaaan kimia darah
3. Hitung sel darah lengkap
4. Penentuan golongan darah dan uji silang
5. Waktu protrombin
6. Waktu tromboplastin parsial
7. Hitung trombosit
8. Urinalisis
9. Penentuan kadar gula darah,
10. BUN
11. Elektrolit.
12. Untuk gigitan yang hebat, lakukan pemeriksaan fibrinogen, fragilitas sel
darah merah, waktu pembekuan, dan waktu retraksi bekuan

H. PENATALAKSANAAN
1. Prinsip penanganan pada korban gigitan ular:
a. Menghalangi penyerapan dan penyebaran bisa ular.
b. Menetralkan bisa.
c. Mengobati komplikasi
2. Pertolongan pertama :
Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah pergi
segera cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban. Selanjutnya
lakukan prinsip RIGT, yaitu:
a. Reassure: Yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan
korban, kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga
racun akan lebih cepat menyebar ke tubuh. Terkadang pasien
pingsan/panik karena kaget.
b. Immobilisation: Jangan menggerakan korban, perintahkan korban
untuk tidak berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit
pertolongan medis tidak datang, lakukan tehnik balut tekan
(pressure-immoblisation) pada daerah sekitar gigitan (tangan atau
kaki) lihat prosedur pressure immobilization (balut tekan).
c. Get: Bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
d. Tell the Doctor: Informasikan ke dokter tanda dan gejala yang
munculada korban.
3. Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan):
a. Balut tekan pada kaki:
1) Istirahatkan (immobilisasikan) Korban.
2) Keringkan sekitar luka gigitan.
3) Gunakan pembalut elastis.
4) Jaga luka lebih rendah dari jantung.
5) Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal jari
kaki naik ke atas.
6) Biarkan jari kaki jangan dibalut.
7) Jangan melepas celana atau baju korban.
8) Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan
sampai menghambat aliran darah (dapat dilihat dengan warna jari
kaki yang tetap pink).
9) Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.
b. Balut tekan pada tangan:
1) Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak dibalut).
2) Balut siku & lengan dengan posisi ditekuk 90 derajat.
3) Lanjutkan balutan ke lengan sampai pangkal lengan.
4) Pasang papan sebagai fiksasi.
5) Gunakan mitela untuk menggendong tangan (Foruniverse,
Nursing 2010).
4. Penatalaksanaan selanjutnya
5. ABU 2 flacon dalam NaCl diberikan per drip dalam waktu 30 –
40 menit.
6. Heparin 20.000 unit per 24 jam.
7. Monitor diathese hemorhagi setelah 2 jam, bila tidak membaik,
tambah 2 flacon ABU lagi. ABU maksimal diberikan 300 cc (1
flacon = 10 cc).
8. Bila ada tanda - tanda laryngospasme, bronchospasme, urtikaria
atau hipotensi berikan adrenalin 0,5 mg IM, hidrokortisone 100
mg IV.
9. Kalau perlu dilakukan hemodialise.
10. Bila diathese hemorhagi membaik, transfusi komponen.
11. Observasi pasien minimal 1 x 24 jam
Catatan:Jika terjadisyokanafilaktik karena ABU, ABU harus
dimasukkan secara cepat sambil diberi adrenalin..
12. Pemberian ABU
ASUHAN KEPERAWATAN
SNAKE BITE

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua,
pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien biasanya mengeluh sesak nafas dan terasa panas disertai nyeri
disekitar tubuh yang digigit.
b. Riwayat penyakit sekarang
Bagian ekstremitas digigit ular terasa panas disertai sesak nafas.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik bagian ekstremitas klien
ditemukan bekas gigitan luka yang sudah membengkak, dimana
pembengkakan tersebut sudah mengalami perubahan warna.
e. Riwayat penyakit dahulu
Apa pasien pernah di rumah sakit sebelumnya atau tidak.
f. Riwayat kesehatan keluarga
Di dalam keluarga apa ada yang pernah mengalami hal yang sama
seperti dirinya atau memiliki penyakit keturunan.
g. Pengkajian Pola Fungsional Gordon
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adanya perubahan kesehatan karena gigitan ular yang membuat
pasien merasa cemas.
2) Pola nutrisi dan metabolik
Biasanya pasien mengeluh tidak nafsu makan, mual dan muntah
disertai penurunan berat badan.
3) Pola aktifitas dan latihan
Pasien biasanya mengalami kelemahan fisik untuk beraktivitas.
4) Pola tidur dan istirahat
Pola tidur pasien biasanya terganggu karena merasa cemas dan
rasa nyeri di daerah gigitan ular.
5) Pola eliminasi
Pasien yang mengalami gigitan ular biasanya mengeluh diare.
6) Pola reproduksi dan seksual
Biasanya tidak ada gangguan pada sistem reproduksinya.
7) Pola kognitif dan perseptual
Pengkajian kognitif pada pasien snake bite yaitu pasien merasa
nyeri di daerah yang terkena gigitan dan adanya pembengkakan.
8) Pola persepsi dan konsep diri
Pasien biasanya merasa cemas dan takut karena keadaannya yang
memerlukan pemulihan karena gigitan ular dan cemas masalah
pekerjaan.
9) Pola koping dan toleransi
Biasanya pasien merasa cemas karena bagian tubuhnya yang
digigit ular mengalami pembengkakan.
10) Pola Hubungan dan Peran
Kesulitanmenentukankondisi,misaltak mampubekerja,
mempertahankan fungsiperan biasanyadalam bekerja.
11) Pola nilai dan kepercayaan
Pola ini menjelaskan tentang bagaimana cara klien melakukan
ibadah.
h. Pemeriksaan fisik
Integumen : rasa nyeri di daerah gigitan, kemerahan, memar, kulit
teraba hangat dan bengkak.
Pernafasan : takipnea dengan penurunan kedalaman pernafasan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
3. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme.
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kurang
pengetahuan mengenai proses penyakit.
5. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi
6. Resiko infeksi
C. INTERVENSI
No Diagnosa NOC NIC
1 Ketidakefektifan pola nafas 1. Respiratory status : Airway Management
Definisi: inspirasi dan atau ventilation 1. Buka jalan nafas, gunakan
ekspirasi yang tidak memberi 2. Respiratory status : teknik chin lift atau jaw
ventilasi airway patency thrust bila perlu
Batasan karakteristik : 3. Vital sign status 2. Posisikan pasien untuk
 Perubahan kedalaman Kriteria hasil : memaksimalkan ventilasi
pernafasan 1. Mendemostrasikan 3. Identifikasi pasien
 Perubahan ekskursi dada batuk efektif dan perlunya pemasangan alat
 Mengambil posisi tiga titik suara nafas yang jalan nafas buatan

 Bradipneu bersih, tidak ada 4. Pasang mayo bila perlu

 Penurunan tekanan ekspirasi sianosis dan 5. Lakukan fisioterapi dada

 Penurunan ventilasi semenit dyspnea (mampu jika perlu


mengeluarkan 6. Keluarkan secret dengan
 Penurunan kapasitas vital
sputum, mampu batuk atau suction
 Dipneu
bernafas dengan 7. Auskultasi suara nafas,
 Peningkatan diameter
mudah, tidak ada catat adanya suara
anterior-posterior
pursed lips) tambahan
 Pernafasan cuping hidung
2. Menunjukkan jalan 8. Lakukan suction pada
 Ortopneu
nafas yang paten mayo
 Fase ekspirasi memanjang
(klien tidak merasa 9. Berikan bronkodilator bila
 Pernafasan bibir
tercekik, irama perlu
 Takipneu
nafas, frekuensi 10. Berikan pelembab udara
 Penggunaan otot aksesorius
pernafasan dalam kassa basah Nacl lembab
untuk bernafas
rentang normal, 11. Atur intake untuk cairan
Factor yang berhubungan :
tidak ada suara mengoptimalkan
 Ansietas
nafas abnormal) keseimbangan
 Posisi tubuh
3. Tanda-tanda vital 12. Monitor respirasi dan
 Deformitas dinding tulang dalam rentang status O2
 Keletihan normal ( tekanan Oxygen Therapy
 Hiperventilasi darah, nadi, 1. Bersihkan mulut, hidung
 Sindrom hipoventilasi pernafasan) dan secret trakea
 Gangguan musculoskeletal 2. Pertahankan jalan nafas
 Kerusakan neurologis yang paten
 Imaturitas neurologis 3. Atur peralatan
 Disfungsi neuromuscular oksigenasiMonitor aliran
 Obesitas oksigen
 Nyeri 4. Pertahankan posisi pasien

 Keletihan otot 5. Observasi adanya tanda-

pernafasancedera medulla tanda hipoventilasi

spinalis 6. Monitor adanya


kecemasan pasien
terhadap oksigenasi
Vital sign monitoring
1. Monitor TD, Nadi, Suhu,
dan RR
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
5. Monitor TD, Nadi, Suhu,
dan RR sebelum, selama,
dan setelah aktivitas
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor frekuensi dan
irama pernafasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola pernafasan
abnormal
10. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
11. Monitor sianosis perifer
12. Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
13. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2 Nyeri Akut 1. Pain level Pain management
Definisi : Pengalaman sensori 2. Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri
dan emosional yang tidak 3. Comfort level secara komprehensif
menyenangkan yang muncul Kriteria Hasil: termasuk lokasi,
akibat kerusakan jaringan yang 1. Mampu mengontrol karakteristik, durasi,
aktual atau potensial atau nyeri (tahu frekuensi, kualitas dan
digambarkan dalam hal penyebab nyeri, factor presipitasi
kerusakan sedemikian rupa mampu 2. Observasi reaksi nonverbal
(International Association for the menggunakan dari ketidaknyamanan
study of pain) : awitan yang tiba teknik 3. Gunakan teknik komunikasi
– tiba atau lambat dari intensitas nonfarmakologinun terapiutik untuk mengetahui
ringan hingga berat dengan akhir tuk mengurangi pengalaman nyeri pasien
yang dapat di antisipasi atau nyeri, mencari 4. Kaji kultur yang
diprediksi dan berlangsung <6 bantuan) mempengaruhi respon nyeri
bulan 2. Melaporkan bahwa 5. Evaluasi pengalaman nyeri
Batasan Karakteristik : nyeri berkurang masa lampau
1. Perubahan selera makan dengan 6. Evaluasi bersama pasien
2. Perubahan tekanan darah menggunakan dan tim kesehatan lain
3. Perubahan frekuensi jantung manajemen nyeri. tentang ketidakefektifan
4. Perubahan frekuensi 3. Mampu mengenali control nyeri masa lampau
pernafasan nyeri (skala, 7. Bantu pasien dan keluarga
5. Laporan isyarat intensitas, frekuensi untuk mencari dan
6. Diaforesis dan tanda nyeri) menemukan dukungan
7. Perilaku distraksi (misal 4. Menyatakan rasa 8. Control lingkungan yang
berjalan mondar mandir nyaman setelah dapat mempengaruhi nyeri
mencari orang lain, aktivitas nyeri berkurang. seperti suhu ruangan,
yang berulang) pencahayaan dan
8. Mengekspresikan perilaku kebisingan
(misal gelisah, merengek, 9. Kurangi factor presipitasi
menangis) nyeri
9. Masker wajah (misal mata 10. Pilih dan lakukan
kurang bercahaya, tampak penanganan nyeri
kacau, gerakan mata (farmakologi,
berpencar atau tetap pada nonfarmakologi dan
satu fokus meringis interpersonal)
10. Sikap melindungi area nyeri 11. Kaji tipe dan sumber nyeri
11. Focus menyempit (mis., untuk menentukan
gangguan persepsi nyeri, intervensi
hambatan proses berfikir, 12. Ajarkan tentang teknik
penurunan interaksi dengan nonfarmakologi
orang dan lingkungan) 13. Berikan analgetik untuk
12. Indikasi nyeri yang dapat mengurangi nyeri
diamati 14. Evaluasi keefektipan
13. Perubahan posisi untuk control nyeri
menghindari nyeri 15. Tingkatkan istirahat
14. Sikap tubuh melindungi 16. Kolaborasi dengan dokter
15. Dilatasi pupil jika ada keluhan dan
16. Melaporkan nyeri secara tindakan nyeri tidak
verbal berhasil
17. Gangguan tidur 17. Monitora penerimaan
Faktor yang berhubungan: pasien tentang menejemen
Agen cidera (mis., biologis, zat nyeri
kimia, fisik, psikologis Analgesic Administration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum
pemberianobat
2. Cek intruksi dokter tentangj
jenis obat, dosis, dan
frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih analgesic yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesic ketika
pemberian lebih dari Satu
5. Tentukan pilihan analgesic
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
6. Tentukan analgesic pilihan,
rute pemberian, dan dosis
optimal
7. Pilih rute pemberian secara
IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
8. Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesic pertama kali
9. Berikan analgesic tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesic, tanda dan gejala
3 Hipertermi Thermoregulation Fever treatment
Definisi : Peningkatan suhu Kriteria Hasil : 1. Monitor suhu sesering
tubuh di atas kisaran normal 1. Suhu tubuh dalam mungkin
Batasan Karakteristik : rentang normal (36,5 2. Monitor IWL
1. Konvulsi – 37,5) 3. Monitor warna dan suhu
2. Kulit kemerahan 2. Nadi dan RR dalam kulit
3. Peningkatan suhu tubuh rentang normal( 4. Monitor tekanan darah, nadi
diatas kisaran normal dewasa, nadi : 60 – RR
4. Kejang 100x/menit, respirasi 5. Monitor penurunan tingkat
5. Takikardi : 12 – 20x/ menit, kesadaran
6. Takipnea anak – anak nadi : 70 6. Monitor WBC, Hb, dan Hct
7. Kulit terasa hangat – 120x/menit, 7. Monitor intake dan output
Faktor – faktor yang respirasi 18 – 30x/ 8. Berikan anti piretik
berhubungan menit). 9. Berikan pengobatan untuk
1. Anastesia 3. Tidak ada perubahan mengatasi penyebab demam
2. Penurunan respirasi warna kulitdan tidak 10. Selimuti pasien
3. Dehidrasi ada pusing 11. Lakukan tapid sponge
4. Pemajanan lingkungan yang 12. Kolaborasi pemberian
panas cairan intravena
5. Penyakit 13. Kompres pasien pada
6. Pemakaian pakaian yang lipatan paha dan aksila
tidak sesuai dengan suhu 14. Tingkatkan sirkulasi udara
lingkungan 15. Berikan pengobatan untuk
7. Peningkatan laju metabolism mencegah terjadinya
8. Medikasi menggigil
9. Trauma Temperature regulation
10. Aktivitas berlebihan 1. Monitor suhu minimal tiap
2 jam
2. Rencanakan monitoring
suhu secara kontinyu
3. Monitor TD, nadi, dan RR
4. Monitor warna dan suhu
kulit
5. Monitor tanda – tanda
hipertermi dan hiportermi
6. Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk
mencegah hilangannya
kehangatan tubuh
8. Ajarkan kepada pasien cara
mencegah keletihan akibat
panas
9. Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek
negatif dai kedinginan
10. Beritahukan tentang
indikasi terjadinya keletihan
dan penanganan emergency
yang di perlukan
11. Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan
yang di perlukan
12. Berikan anti piretik jika
perlu
Vital sign Monitoring
1. Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau
berdiri
4. Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan
setelah aktivitan
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola pernapasan
abnormal
10. Monitor suhu ,warna, dan
kelembaban kulit
11. Monitor sianosis perifer
12. Monitoring adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar ,bradikardi,
peningkatan sistolik)
13. Identifikasi penyebab dari
perubahan
4 Ketidakefektifan Perfusi 1. Circulation status Peripheral Sensation
Jaringan Perifer 2. Tissue Perfusion : Management (Manajemen
Definisi : penurunan sirkulasi cerebral sensasi perifer)
darah ke perifer yang dapat Kriteria Hasil : 1. Monitor adanya daerah
mengganggu kesehatan Mendemonstrasikan tertentu yang hanya peka
Batasan Karakteristik: status sirkulasi yang terhadap panas/ dingin/
1. Tidak ada nadi ditandai dengan : tajam/ tumpul
2. Perubahan fungsi motorik 1. Tekanan sistole dan 2. Monitor adanya paratese
3. Perubahan karakteristik kulit diastole dalam 3. Instruksikan keluarga untuk
(warna, elastisitas, rambut, rentang yang mengobservasi kulit jika
kelembaban, kuku, sensasi, diharapkan ada lesi atau laserasi
suhu) 2. Tidak ada ortostatik 4. Gunakan sarung tangan
4. Indek ankle – brakhial < hipertensi untuk proteksi
0,90 3. Tidak ada tanda – 5. Batasi gerakan pada kepala,
5. Perubahan tekanan darah tanda peningkatan leher dan punggung
diekstremitas intrakranial (tidak 6. Monitor kemampuan BAB
6. Waktu pengisian kapiler >3 lebih dari 15 7. Kolaborasi pemberian
detik mmHg) analgetik
7. Klaudikasi Mendemonstrasikan 8. Monitor adanya
8. Warna tidak kembali ke kemampuan kognitif tromboplebitis
tungkai saat tungkai yang ditandai dengan 9. Diskusikan mengenai
diturunkan : penyebab perubahan sensasi
9. Kelambatan penyembuhan 1. Berkomunikasi
luka perifer dengan jelas dan
10. Penurunan nadi sesuai dengan
11. Edema kemampuan
12. Nyeri ektremitas 2. Menunjukkan
13. Bruit femoral perhatian,
14. Pemendekan jarak total yang konsentrasi dan
ditempuh dalam uji berjalan orientasi
6 menit 3. Memproses
15. Pemendekan jarak bebas informasi
nyeri yang ditempuh dalam 4. Membuat
uji berjalan 6 menit keputusan dengan
16. Perestesia benar
17. Warna kulit pucat saat Menunjukkan fungsi
elevasi sensori motori cranial
Faktor yang Berhubungan : yang utuh : tingkat
1. Kurang pengetahuan tentang kesadaran membaik,
faktor pemberat ( misal tidak ada gerakan –
merokok, gaya hidup gerakan involunter.
monoton, trauma, obesitas,
asupan garam, imobilitas)
2. Kurang pengetahuan tentang
proses penyakit (misal
diabetes, hiperlipidemia)
3. Diabetes mellitus
4. Hipertensi
5. Gaya hidup monoton
6. merokok
5 Ansietas 1. Anxiety self-control Anxiety Reduction
Definisi : perasaan tidak nyaman 2. Anxiety level (penurunan kecemasan)
atau kekhawatiran yang samar 3. Coping 1. Gunakan pendekatan yang
disertai respon autonom (sumber Kriteria Hasil : menyenangkan
sering kali tidak spesifik atau 1. Klien mampu 2. Nyatakan dengan jelas
tidak diketahui oleh individu) ; mengidentifikasi harapan terhadap perilaku
perasaan takut yang disebabkan dan pasien
oleh antispasi terhadap bahaya. mengungkapkan 3. Jelaskan semua prosedur
Hal ini merupakan isyarat gejala cemas dan apa yang dirasakan
kewaspadaan yang 2. Mengidentifikasi, selama prosedur
memperingatkan individu akan mengungkapkan 4. Pahami perspektif pasien
adanya bahaya dan kemampuan dan menunjukan terhadap situasi stress
individu untuk bertindak teknik untuk 5. Temani pasien untuk
menghadapi ancaman. mengontrol cemas memberikan keamanan dan
Batasan Karakteristik: 3. Vital sign dalam mengurangi takut
1. Perilaku batas normal 6. Dorong keluarga untuk
a. Penurunan produktivitas 4. Postur tubuh, menemani anak
b. Gerakan yang ireleven ekspresi wajah, 7. Lakukan back / neck rub
c. Gelisah bahasa tubuh dan 8. Dengarkan dengan penuh
d. Melihat sepintas tingkat aktivitas perhatian
e. Insomnia menunjukan 9. Identifikasi tingkat
f. Kontak mata yang buruk berkurangnya kecemasan
g. Mengekspresikan kecemasan 10. Bantu pasien mengenal
kekhawatiran karena situasi yang menimbulkan
perubahan dalam kecemasan
peristiwa hidup 11. Dorong pasien untuk
h. Agitasi mengungkapkan perasaan,
i. Mengintai ketakutan, persepsi
j. Tampak waspada 12. Instruksikan pasien
2. Affektif menggunakan teknik
a. Gelisah, distress relaksasi
b. Kesedihan yang 13. Berikan obat untuk
mendalam mengurangi kecemasan
c. Ketakutan
d. Perasaan tidak adekuat
e. Berfokus pada diri sendiri
f. Peningkatan kewaspadaan
g. Iritabilitas
h. Gugup senang berlebihan
i. Rasa nyeri yang
mengakibatkan
ketidakberdayaan
j. Peningkatan rasa
ketidakberdayan yang
persisten
k. Bingung, menyesal
l. Ragu/tidak percaya diri
m. Khawatir
3. Fisiologis
a. Wajah tegang, tremor
tangan
b. Peningkatan keringat
c. Peningkatan ketegangan
d. Gemetar, tremo
e. Suara bergetar
4. Simpatik
a. Anoreksia
b. Eksitasi kadiovaskuler
c. Diare, mulut kering
d. Wajah merah
e. Jantung berdebar debar
f. Peningkatan tekanan
darah
g. Peningkatan denyut nadi
h. Peningkatan reflek
i. Peningkatan frekuensi
pernapasan, pupil melebar
j. Kesulitan bernapas
k. Vasokontriksi supervisial
l. Lemah, kedutan pada otot
5. Parasimpatik
a. Nyeri abdomen
b. Penurunan tekanan darah
c. Penurunan denyut jantung
d. Diare, mual, vertigo
e. Lebih, gangguan tidur
f. Kesemuta pada
ekstremitans
g. Sering berkemih
h. Anyang – anyangan
i. Dorongan segera
berkemih
6. Kognitif :
a. Menyadari kegiatan
fisiologis
b. Bloking, fikiran, konfusi
c. Penurunan lapang
persepsi
d. Kesullitan berkonsentrasi
e. Penurunan kemampuan
belajar
f. Penurunan kemampuan
memcahkan masalah
g. Ketakukan terhadap
komsekuensi yang tidak
spesifik
h. Lupa, gangguan perhatian
i. Khawatir, melamun
j. Cenderung menyalahkan
orang lain
Faktor yang berhubungan :
1. Perubahan dalam (status
ekonom, ligkungan, status
kesehatan, pola interaksi,
fungsi peran, status peran)
2. Pemajanan toksin
3. Terkait keluarga
4. Herediter
5. Infeksi / kontaminasi
interpersonal
6. Penularan penyakit
interpersonal
7. Krisis maturasi, krisis
situasional
8. Stress, ancaman kematian
9. Penyalahgunaan zat
10. Ancaman pada (status
ekonom, ligkungan, status
kesehatan, pola interaksi,
fungsi peran, status peran,
konsep diri)
11. Konflik tidak disadari
mengenai tujuan penting
hidup
12. Konflik tida disadari
mengenai nilai yang
esensial/penting
13. Kebutuhan yang tidak
dipenuhi
6 Resiko Infeksi 1. Immune status Infection Control (Kontrol
Definisi : Mengalami 2. Knowledge : Infeksi)
peningkatan risiko terserang infection control 1. Bersihkan lingkungan
organism patogenik 3. Risk control setelah dipakai pasien lain
Faktor-Faktor Risiko : Kriteria Hasil : 2. Pertahankan teknik isolasi
1. Penyakit kronis 1. Klien bebas dari 3. Batasi pengunjung bila
a. Diabetes mellitus tanda dan gejala perlu
b. Obesitas infeksi 4. Intruksikan pada
2. Pengetahuan yang tidak 2. Mendeskripsikan pengunjung untuk mencuci
cukup untuk menghindari proses penularan tangan saat berkunjung dan
3. Menghindari pemanjanan penyakit, faktor setelah berkunjung
pathogen yang meninggalkan pasien
4. Pertahanan tubuh primer mempengaruhi 5. Gunakan sabun anti
yang tidak adekuat penularan serta mikrobia untuk cuci tangan
a. Gangguan peristalsis penatalaksanaannya 6. Cuci tangan setiap sebelum
b. Kerusakan integritas 3. Menunjukkan dan sesudah tindakan
kulit (pemasangan kemampuan untuk keperawatan
kateter intavena, mencegah 7. Gunakan baju, sarung
prosedur invasif) timbulnya infeksi tangan sebagai alat
c. Perubahan sekresi pH 4. Jumlah leukosit pelindung
d. Penurunan kerja siliaris dalam batas normal 8. Pertahankan lingkungan
e. Pecah ketuban dini 5. Menunjukkan aseptic selama pemasangan
f. Pecah ketuban lama perilaku hidup alat
g. Merokok sehat 9. Ganti letak IV perifer dan
h. Stasis cairan tubuh line central dan dressing
i. Trauma jaringan sesuai dengan petunjuk
(mis.,trauma destruksi umum
jaringan) 10. Gunakan kateter intermiten
5. Ketidakadekuatan untuk menurunkan infeksi
pertahanan sekunder kandung kencing
a. Penurunan hemoglobin 11. Tingkatkan intake nutrisi
b. Imunosupresi 12. Berikan terapi antibiotic
(mis.,imunitas di dapat bila perlu
tidak adekuat, agens Infection Protection (Proteksi
farmaseutika termasuk terhadap infeksi)
imunosupresan, steroid, 1. Monitor tanda dan gejala
antibodi monoclonal, infeksi sistemik dan lokal
imunomudulator) 2. Monitor hitung granulosit,
c. Supresi respon inflamasi WBC
6. Vaksinasi tidak adekuat 3. Monitor kerentanan
7. Pemajanan terhadap terhadap infeksi
pathogen lingkungan 4. Batasi pengunjung
meningkat 5. Pertahankan teknik aspesis
8. Wabah pada pasien yang berisiko
9. Prosedur invasif 6. Pertahankan teknik isolasi
10. Malnutrisi k/p
7. Berikan perawatan kulit
pada area epidema
8. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
9. Inspeksi kondisi luka /
insisi bedah
10. Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
11. Dorong masukkan cairan
12. Dorong istirahat
13. Instruksikan pasien untuk
minum antibiotic sesuai
resep
14. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
15. Ajarkan cara menghindari
infeksi
16. Laporkan kecurigaan
infeksi
17. Laporkan kultur positif

D. EVALUASI
Adapun sasaran evaluasi pada pasien snake bite sebagai berikut :
1. Pola nafas pasien kembali efektif, dengan kriteria hasil :
a. Mendemostrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak
ada sianosis dan dyspnea (mampu mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
c. Tanda-tanda vital dalam rentang normal ( tekanan darah, nadi,
pernafasan).
2. Nyeri dapat berkurang, dengan kriteria hasil :
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik nonfarmakologinuntuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri.
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
3. Suhu tubuh dalam batas normal, dengan kriteria hasil :
a. Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5)
b. Nadi dan RR dalam rentang normal( dewasa, nadi : 60 – 100x/menit,
respirasi : 12 – 20x/ menit, anak – anak nadi : 70 – 120x/menit,
respirasi 18 – 30x/ menit).
c. Tidak ada perubahan warna kulitdan tidak ada pusing
4. Perfusi jaringan perifer kembali efektif, dengan kriteria hasil :
a. Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan :
1) Tekanan sistole dan diastole dalam rentang yang diharapkan
2) Tidak ada ortostatik hipertensi
3) Tidak ada tanda – tanda peningkatan intrakranial (tidak lebih
dari 15 mmHg)
b. Mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan :
1) Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan
2) Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi
3) Memproses informasi
4) Membuat keputusan dengan benar
c. Menunjukkan fungsi sensori motori cranial yang utuh : tingkat
kesadaran membaik, tidak ada gerakan – gerakan involunter.
5. Ansietas dapat teratasi, dengan kriteria hasil :
a. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
b. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk
mengontrol cemas
c. Vital sign dalam batas normal
d. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukan berkurangnya kecemasan
6. Resiko infeksi tidak terjadi, dengan kriteria hasil :
a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
b. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
c. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
d. Jumlah leukosit dalam batas normal
e. Menunjukkan perilaku hidup sehat
DAFTAR PUSTAKA

Hafid, Abdul, dkk. 2008. Bab 2 : Luka, Trauma, Syok, Bencana. Buku Ajar Ilmu
Bedah, Edisi Revisi. EGC : Jakarta.
NANDA. (2007). Diagnosa Nanda ( NIC dan NOC ). Jakarta: Perima Medika.
Nugroho, Taufan. (2011). Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah,
Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah (Ed.8, Vol. 1,2). Alih bahasa oleh Agung.
Warrell, David A. 2010. Guidelines for the management of snake-bites. WHO
Regional Office for South-East Asia.