Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PENGOLAHAN LIMBAH PETERNAKAN

“Penanganan Limbah pada Industri Peternakan Ayam Broiler”

Oleh :

Kelas B

Kelompok 10

Berta Safhira Yansz 200110170070

Firdha Rizki Aulia 200110170129

Hilman Ismail 200110170165

Dicky Adi Nugroho 200110170214

Adhi Marsa Mahardika 200110170231

Rahmat Permana 200110170240

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2019
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat

dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan Makalah

Pengolahan Limbah Peternakan ini dengan judul Penanganan Limbah pada Industri

Peternakan Ayam Broiler . Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen,

teman-teman, dan social media yang telah memberikan dukungan dalam


menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak

kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang

membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi

kami, pembaca dan teman-teman.

Sumedang, September 2019

Penyusun
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari

kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun pakan.

Limbah peternakan merupakan semua buangan dari usaha peternakan bersifat padat,
cair, dan gas. Total limbah yang dihasilkan tergantung dari spesies ternak, besar

usaha, tipe usaha, dan lantai kandang. Limbah yang paling banyak dihasilkan dan

memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan apabila tidak diolah dengan benar

Usaha peternakan ayam salah satu penyumbang limbah. Dalam kasus

pencemaran lingkungan oleh peternakan ayam, yang menjadi pemicu permasalahan

karena tatalaksana pemeliharaan, perkandangan, dan penanganan limbahnya yang

kurang diperhatikan. Selain itu, pemukiman yang terus berkembang. Untuk itu. perlu

suatu perbaikan sistem pemanfaatan lahan yang sesuai dengan peruntukannya. Dalam

hal ini pemerintah telah membuat kebijakan penggunaan suatu areal atau kawasan

usaha peternakan (KUNAK) agar tidak saling mengganggu antara petemakan dan
pemukiman. Sudah tentu kawasan tersebut juga harus senantiasa memelihara

lingkungannya, antara lain dengan melakukan pengelolaan limbah serta pemantauan

lingkungan secara terus menerus.

Dalam makalah ini akan disajikan menganai jenis-jenis limbah, jumlah serta

komposisi limbah yang dikeluarkan dari suatu usaha peternakan ayam, dampak
2

terhadap lingkungan dan upaya pengelolaannya yang dapat dilakukan, serta upaya

pemantauan lingkungan

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik limbah ayam broiler?

2. Apa dampak dari limbah industri peternakan ayam broiler?

3. Apa manfaat limbah dari industri peternakan ayam broiler?

4. Bagaimana cara penanganan limbah tersebut?


1.3 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana karakteristik limbah ayam broiler

2. Untuk mengetahui dampak dari limbah industri peternakan ayam broiler

3. Untuk mengetahui manfaat limbah dari industri peternakan ayam broiler

4. Untuk mengetahui bagaimana cara penanganan limbah tersebut


3

II
TINJAUAN PUSTAKA

Limbah adalah segala sesuatu benda atau zat yang sudah tidak terpakai lagi

atau sudah tidak ada lagi manfaat yang dapat diperoleh dari benda atau zat tersebut.

Menurut Karmana (2007) Limbah adalah sisa atau sampah suatu proses programsi

yang dapat menjadi bahan pencemaran atau polutan disuatu lingkungan. Banyak

kegiatan manusia yang menghasilkan limbah antara lain kegiatan industri,

transportasi, rumah tangga dan kegiatan lainnya.

Salah satu usaha peternakan yang cukup banyak di Indonesia salah sataunya

adalah usaha peternakan ayam broiler. Skala usahanya pun bertingkat mulai dari

usaha rakyat hingga usaha besar seperti perusahaan. Hal ini tak ayal akan

menimbulkan dampak yang cukup besar bagi lingkungan akibat dari limbah

peternakan ayam broiler mulai dari limbah feces hingga limbah sisa pakan.

Menurut Fauziah (2009) Dampak negatif yang ditimbulkan usaha peternakan

ayam terutama berasal dari kotoran ayani yang dapat menimbulkan gas yang berbau.
Bau yang dikeluarkan berasal dari unsur nitrogen dan sulfida dalam kotoran ayam,

yang selama proses dekomposisi akan terbentuk gas amonia, nitrit, dan gas hidrogen

sulfida. Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat mmyebabkan gangguan

kesehatan ternak dan masyarakat di sekitar peternakan. Amonia dapat mengliambat

pertumbuhan ternak dan pada manusia dapat menyebabkan iritasi mata serta saluran

pernafasan.
4

III
PEMBAHASAN

2.1 Limbah Ayam Broiler

Kotoran ayam merupakan salah satu hasil dari peternakan ayam yang
terkadang masih dikesampingkan, jika dicermati bahwa sektor peternakan merupakan

mata rantai dari program integritas farming. maka pemanfaatan limbah peternakan

seharusnya menjadi sorotan bagi para peternak untuk mewujudkan integritas farming

secara luas, selain itu pengolahan kotoran ayam untuk menjadi pupuk kandang pun

memiliki nilai ekonomis yang tidak dapat dipandang sebelah mata melihat kebutuhan

dari para petani akan pupuk.

Apabila dibandingkan antara berbagai macam pupuk kandang, kotoran ayam

mempunyai nilai hara yang tertinggi karena bagian cair tercampur dengan bagian

padat. Pupuk kandang kotoran ayam mengandung N tiga kali Iebih banyak dari

pupuk kandang lainnya (Hardjowigeno,1995).

Kotoran ayam lebih cepat mengalami kematangan. Hal ini disebabkan

perbandingan karbon dan nitrogen (C/N) sudah cukup rendah sejak masih dalam

bentuk kotoran sehingga tidak diperlukan waktu yang terlalu lama untuk melakukan

proses penguraian (dekomposisi). Selain itu, pengambilan kotoran ternak ayam

biasanya dilakukan dua minggu setelah ayam dipanen atau diafkir sehingga kotoran

telah mengalami proses penyimpanan di dalam kandang yang cukup lama. Dengan
5

demikian, kotoran yang diambil dari kandang biasanya telah matang sehingga siap

digunakan. Jika akan disimpan terlebih dahulu, sebaiknya pupuk dimasukkan ke

dalam karung dan disimpan di tempat beratap.

2.1 Karakteristik Kotoran Ayam Broiler

Tinja pada peternakan ayam broiler dikeluarkan sebagai hasil dalam dua

bentuk.

1. Bentuk pertama berupa tinja biasanya bercampur dengan bahan liter. Bentuk ini
banyak dihasilkan oleh peternakan komersial di Indonesia dan dipergunakan untuk

pupuk tanaman sayur. Jarang sekali tinja digunakan untuk bahan makanan unggas

karena tinja yang bercampur dengan bahan liter kadar seratnya terlalu tinggi,

sedangkan unggas tidak dapat memakan bahan pakan yang mengandung serat

kasar terlalu tinggi.

2. Bentuk kedua adalah tinja murni. Tinja ini biasanya dihasilkan oleh peternak ayam

broiler yang mempergunakan lantai sistem cages/baterai sehingga tinja mudah

ditampung di bawah bagian lantai. Tinja murni dikeringkan dahulu kemudian

digiling halus dan dapat dipergunakan sebagai bahan makanan unggas atau bahan

pakan ayam broiler dengan jumlah penggunaan maksimal 5%. Penggunaan tinja
murni sebagai bahan makanan unggas memang masih belum populer di Indonesia

karena banyak pihak yang masih khawatir karena tinja kelak dimakan ayam,

sedangkan daging ayam dimakan manusia sehingga ada yang menganggap tinja

tidak wajar untuk digunakan sebagai pakan ayam. Di samping itu, kandungan gizi

dan kemungkinan residu obat-obatan terlarang bagi manusia nantinya ikut

termakan kembali oleh ayam.


6

2.3 Dampak Limbah Pemotongan Ayam

Dalam proses produksi Rumah Pemotongan Ayam dihasilkan limbah cair

yang berasal dari darah ayam, proses pencelupan, pencucian ayam dan peralatan

produksi. Limbah cair mengandung (Biological Oxygen Demand) BOD, (Chemical

Oxyge Demand) COD, (Total Suspended Solid) TSS, minyak dan lemak yang tinggi,

dengan komposisi berupa zat organik. Pembuangan air limbah (Efluen) yang
mengandung nutrien yang tinggi ke perairan akan menimbulkan eutrofikasi dan

mengancam ekosistem aquatik. Untuk mencegah hal itu maka diperlukan cara agar

komposisi padatan organik tersuspensi dapat dikurangi. (Moses Laksono, 2010)

2.4 Pengelolaan/Penanganan Limbah

Opsi dari manajemen penanganan limbah yang dapat dilaksanakan di industri

pangan antara lain adalah :

1. Pencegahan terbentuknya limbah yang berlimpah dengan cara

mempraktekkan teknologi proses yang lebih efisien

2. Pelaksanaan proses daur ulang limbah yang dihasilkan atau memanfaatkan

limbah sebagai bahan baku industri lainnya, dan


3. Perbaikan kualitas limbah yang dihasilkan melalui proses pengolahan limbah

yang sistematis (Winiati P. Rahayu, 2008).

2.4.1 Proses Separasi

Proses separasi adalah proses dimana sebelum limbah cair bekas cucian ayam

diolah, limbah cair tersebut dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan

seperti bulu-bulu halus dan lemak. Agar padatan kecil terpisah dari larutan, airbekas
7

cucian diaduk dengan mesin yang memompa udara, sehingga menghasilkan

gelembung-gelembung.

Setelah air diaduk dengan gelembung, maka lemak dan padatan kecil akan

naik, dan padatan tersebut disebut dengan sludge. Kemudian limbah masuk kedalam

mesin scrapper, yaitu mesin pemisah sludge dengan cairan. Setelah sludge terpisah,

sludge dan darah ditampung di tanki penampungan sementara, kemudian sludge dan

darahdi sedot ke dalam mobil tanki limbah berijin dan dibuang


2.4.2 Sistem Aerasi

Setelah melalui proses separasi, dimana cairan telah dipisahkan dari sludge

dan darah, selanjutnya air masuk kedalam kolam yang dibuat di lahan kosong dekat

pabrik, dan telah dipasang alat pengaduk dan disebut sebagai kolam aerasi. Air yang

telah masuk dalam kolam aerasi diberi bakteri pengurai kemudian diaduk dengan

mesin pengaduk selama kurang lebih lima belas menit, hal tersebut dilakukan agar

bakteri tesebar merata ke dalam air. Setelah proses pengadukan selesai, air di alirkan

ke kolam pengendapan, lalu di uji dan di analisa setiap bulan di laboraturium. Apabila

lolos uji, air tersebut dibuang dengan cara dialirkan ke tanah.

Pemanfaatan limbah yang ada untuk dijual kembali seperti cakar ayam, hati dan
ampela, bulu, serta menjadi buruh kasar pada proses pengolahan limbah, yang dapat

menambah pendapatan masyarakat disekitar peternakan.

1. Limbah Cakar Ayam

Limbah cakar ayam yang dihasilkan adalah kurang lebih 2.000 kg per hari. Penjualan

cakar ayam tersebut kepada masyarakat sekitar dengan harga yang cukup murah,

sehingga dapat dijual kembali. Sebagian besar masyarakat yang membeli adalah
8

pedagang lokal. Limbah cakar dikemas dalam kemasan pack 5 kg, dengan harga Rp

30.000,00 per pack.

2. Limbah Hati dan Ampela

Limbah hati dan ampela ayam yang dihasilkan tiap harinya kurang lebih sebanyak

3.750 kg per hari. Sama hal nya dengan limbah cakar ayam, hati dan ampela juga

dijual kepada pedagang lokal sekitar dengan harga Rp 25.000,00 per pack (5 kg).

3. Limbah Bulu Ayam


Selain limbah cakar ayam dan hati ampela, limbah padat lain yang dihasilkan adalah

limbah bulu ayam. Limbah bulu ayam yang telah dipisahkan dari proses pencabutan

dan pencucian ayam dihasilkan sebanyak kurang lebih 8.400 kg per hari. Limbah

bulu tersebut dijual pada masyarakat sekitar maupun diluar lokasi. Biasanya limbah

bulu tersebut dijadikan bahan untuk membuat kemoceng.

Selain dampak negatif yang diterima masyarakat, ada pula dampak positif dari proses

pengolahan limbah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu berupa limbah

padat yang dapat dijual kembali seperti bulu, cakar ayam, hati dan ampela, serta

dengan adanya proses pengolahan limbah tersebut, membuka lapangan pekerjaan

bagi masyarakat sekitar dengan menjadi buruh kasar untuk menambah pendapatan
mereka.
9

IV
KESIMPULAN

1. Karakteristik limbah ayam broiler bentuk pertama berupa tinja biasanya


bercampur dengan bahan liter yang banyak dihasilkan oleh peternakan
komersial di Indonesia dan dipergunakan untuk pupuk tanaman sayur. Bentuk
kedua adalah tinja murni. Tinja ini biasanya dihasilkan oleh peternak ayam
broiler yang mempergunakan lantai sistem cages/baterai sehingga tinja mudah
ditampung di bawah bagian lantai.
2. Pembuangan air limbah (Efluen) yang mengandung nutrien yang tinggi ke
perairan akan menimbulkan eutrofikasi dan mengancam ekosistem aquatik.
3. Manfaat limbah ternak ayam broiler adalah bisa dimanfaatkan sebagai pupuk
kandang dan biogas.
4. Pengelolaan limbah ayam broiler bisa dilakukan dengan proses separasi dan
sistem aerasi.
10

DAFTAR PUSTAKA

Fauziah. 2009. Upaya Pengelolaan Lingkungan Usaha Peternakan Ayam.


https://uwityangyoyo.wordpress.com/tag/kotoran-ayam/ (Diakses pada tanggal 3
September 2019 pukul 20.13)

Hardjowigeno,S. 1995. llmu Tanah. Mediatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Moses Laksono S. dan Mera Kariana. 2010. “Peningkatan Produktivitas dan Kinerja
Lingkungan dengan Pendekatan Green Productivity Pada Rumah Pemotongan
Ayam”. Jurnal Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya

Susilo, Agus. 2010. Dampak usaha Peternakan Ayam broiler.


https://uwityangyoyo.wordpress.com/2010/09/28/dampak-usaha-peternakan-ayam-
broiler/ (Diakses pada tanggal 3 September 2019 pukul 16.47)

Winiati P. Rahayu. 2008. “Penanganan Limbah Industri Pangan”.


http://www.foodreview.biz/login/preview.php?view&id=33362 (Diakses pada
tanggal 3 September 2019 pukul 17.50).