Anda di halaman 1dari 3

ILMU MENYATUKAN DIRI DENGAN

TUHAN
wongalus
Sudah terlalu sering kita bahas di banyak forum, termasuk di blog KWA bahwa untuk mengenal
Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal dirinya. Maksudnya, untuk sampai kepada
pengenalan terhadap Tuhan, haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih
dahulu mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri, dari mana, di mana dan bagaimana ia
dijadikan? Kedua, ia harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula dijadikan oleh
Allah SWT. Kedua perkara di atas menjadi prasyarat kesempurnaan bagi para salik dalam
mengenal Allah.
Kita paham, yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad SAW yang
kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta. Bermula dari
Nur Muhammad inilah maka semua roh termasuk roh manusia diciptakan Allah sedangkan jasad
manusia diciptakan mengikut jasad Nabi Adam as.
Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as adalah
‘nenek moyang jasad’. Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal dari tanah, tanah
berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu sendiri berasal dari Nur
Muhammad. Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan berasal dari Nur Muhammad dan
jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya
di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan
kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad.
Bertemu dan meleburlah roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur
Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka
roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha
Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula
menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ
ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30).
Pengenalan terhadap hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari
pencarian akan makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling
tinggi, dan pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadikan ilmu menjadi sempurna.
Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi
cahaya rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan
menjadi rahmat bagi seluruh alam” dan yang berbentuk Nur.
Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan
berlanjut kepada para imam maupun wali; cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa
(maksum); dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi. Allah telah
menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada
para malaikat dan makhluk lainnya, bahwa: “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”. Oleh itu,
harus dibedakan antara konsep Nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang Nabi) dan Nur
Muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam dimensi fisik dan
realitas.
Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melalui Nur ini
pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada semua nabi, tetapi hanya kepada Ruh Muhammad
saja diberikan universal. Nur Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang
dimilikinya. Ia disebut ruh apabila dikaitkan dengan ketinggiannya. Tidak ada kekuasaan makhluk
yang melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap ruh. Ia disebut al-
Haqq al Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu hakikatnya secara
pasti.
Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena tertinggi) dan al-Aql al-Awal (akal pertama) karena wadah
pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan Tuhanlah yang menuangkan sebagian
pengetahuannya kepada makhluk. Adapun disebut al-Ruh al-Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada
kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh Tuhan), al-Amin (ruh yang jujur) adalah karena ia adalah
perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-Nya. Oleh itu, tajalli al-Haq yang paling
sempurna adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia
bersifat qadim lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya
dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi
penutup (khatamun nabiyyin), Muhammad Saw.
Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan dan
pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu berubah, memudar,
dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha mengungkap hakikat dirinya
agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk mengungkap hakikat dirinya,
manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang hanya dapat dilihat dengan mata hati
yang ada dalam sanubarinya.
Seperangkat pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah. Ilmu ma’rifatullah merupakan
suatu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan mengetahui
Allah.
Ilmu ma‘rifatullah dipilah menjadi dua macam, yaitu ilmu makrifat transeden dan ilmu makrifat
imanen. Tuhan menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut
martabat tidak nyata dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut martabat
martabat nyata, terinderawi. Yakni, martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat
Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Wahidiyyah (ke-’ada’-an asma yang meliputi
hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam
Ajsam (alam benda); dan martabat Alam Insan.
Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan, tetapi melalui
emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat transenden atau martabat tidak nyata dengan
martabat imanen atau martabat nyata secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya
keduanya sama.
Seorang Salik yang telah mengetahui kedua ilmu ma‘rifatullah, ia akan sampai pada tataran
tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau dikenal dengan sebutan
Wahdatul-Wujûd. Hal tersebut dapat dianalogikan dengan air laut dan ombak. Air laut dan ombak
secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air
laut sehingga keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah.
Maqam Nur Muhammad adalah maqam paling tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju
makrifah kepada Allah, tiada lagi maqam atau stasiun paling tinggi sesudah ini. Kesimpulannya,
berbahagialah orang-orang yang dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula
penciptaannya dalam satu harmoni, yakni Nur Muhammad, sebab ia berada pada satu kedudukan
yang tinggi dan terbukanya segala hijab yang membatasinya.
Allah telah menciptakan Nur Muhammad dan Nur itu telah diwarisi melalui generasi nabi-nabi
hingga ia sampai kepada Abdullah bin Abdul Muthalib dan turun kepada Nabi Muhammad Saw.
“sesungguhnya yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah cahaya-ku (Nur Muhammad)”.
Sesungguhnya Allah menciptakan sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu daripada Nur-Nya’. Maka
jadilah Nur tersebut berkeliling dengan Qudrat-Nya sekira-kira yang dihendaki Allah. Padahal
tiada pada waktu itu lagi sesuatu pun; tidak ada lauh mahfuzh, qalam, sorga, neraka, Malaikat,
langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia; tiada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Dari nur inilah kemudian diciptakan-Nya qalam, lauh mahfuzh dan Arsy. Allah kemudian
memerintahkan qalam untuk menulis, dan qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?”
Allah berfirman: “Tulislah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.” Atas perintah itu qalam
berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang indah dan agung Muhammad itu, bahwa dia disebut
bersama Asma-Mu yang Suci, ya Allah.” Allah kemudian berkata, “Wahai qalam, jagalah
kelakuanmu ! Nama ini adalah nama kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku menciptakan arsy, qalam dan
lauh mahfuzh; kamu, juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan
menciptakan apa pun.”
Ketika Allah telah mengatakan kalimat tersebut, qalam itu terbelah dua karena takutnya akan Allah
dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup, sehingga sampai dengan hari ini
ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia
ilahiah yang agung. Maka, jangan seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi
Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contohnya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang
dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.
Berikut salah satu ilmu dalam khasanah budaya nusantara agar kita bisa menuju Nur Muhammad
yang Agung tersebut. Baca, hapal, hayati, resapi dan amalkan dalam hidup sehari-hari:

===WAHAI SEDULURKU ADAM SUFI


BADANKU TIDUR ROHKU TERJAGA
GERAKKAN AKU NUR MUHAMMAD===