Anda di halaman 1dari 36

BAB III

SISTEM EKSITASI

A. Generator Sinkron

Gambar 42 Konstruksi Generator Sinkron

Generator sinkron (sering disebut alternator) adalah mesin listrik yang

digunakan untuk mengubah energi mekanik (gerak) menjadi energi listrik dengan

perantara induksi medan magnet. Perubahan energi ini terjadi karena adanya

pergerakan realtif antara medan magnet dengan kumparan generator. Pergerakan

relatif adalah terjadinya perubahan medan magnet pada kumparan jangkar (tempat

terbangkitnya tegangan pada generator) karena pergerakan medan magnet

terhadap kumparan jangkar atau sebaliknya. Alternator ini disebut generator

sinkron karena kecepatan perputaran medan magnet yang terjadi sama dengan
kecepatan perputaran rotor generator. Alternator ini menghasilkan energi listrik

bolak balik dan biasa diproduksi untuk menghasilkan listrik AC 1-fasa atau 3-fasa

Generator sinkron dibagi menjadi dua jenis, yaitu generator sinkron 1 fasa dan 3

fasa.

1. Konstruksi Generator Sinkron

Secara umum konstruksi generator sinkron terdiri atas:

a. Rotor

Gambar 43 Kontruksi Rotor Generator Sinkron

Rotor adalah bagian generator yang berputar. Rotor menghasilkan medan

magnet yang selanjutnya menginduksi stator. Medan magnet dihasilkan

dengan cara menginjeksi rotor dengan arus eksitasi. Antara rotor dan stator

dipisahkan oleh celah udara (air gap). Rotor terdiri dari dua bagian umum,

yaitu : inti kutub dan kumparan medan.

Pada bagian inti kutub terdapat poros dan inti rotor yang memiliki fungsi

sebagai jalan atau jalur fluks magnet yang dibangkitkan oleh kumparan
medan. Pada kumparan medan ini juga terdapat dua bagian, yaitu bagian

penghantar sebagai jalur untuk arus pemacuan dan bagian yang diisolasi.

Isolasi pada bagian ini harus benar-benar baik dalam hal kekuatan mekanis,

ketahanan akan suhu yang tinggi dan ketahanan terhadap gaya sentrifugal

yang besar.

Konstruksi rotor untuk generator yang memiliki nilai putaran relatif

tinggi biasanya menggunakan konstruksi rotor dengan kutub silindris atau

cylinderica poles dan jumlah kutubnya relatif sedikit (2, 4, 6). Konstruksi ini

dirancang tahan terhadap gaya-gaya yang lebih besar akibat putaran yang

tinggi.

Untuk putaran generator yang relatif rendah atau sedang (kurang dari

1000 rpm), dipakai konstruksi rotor dengan kutub menonjol atau salient pole

dengan jumlah kutub-kutub yang relatif banyak.

b. Stator

Gambar 44 Kontruksi Stator Generator Sinkron


Stator adalah bagian generator yang diam. Stator adalah tempat

menghasilkan tegangan bolak-balik hasil induksi medan magnet dari rotor.

Stator terdiri dari inti stator dan kumparan. Bagian yang diam (stator) terdiri

dari beberapa bagian, yaitu:

 Inti stator.

Bentuk dari inti stator ini berupa cincin laminasi-laminasi yang diikat

serapat mungkin untuk menghindari rugi-rugi arus eddy (eddy current

losses). Pada inti ini terdapat slot-slot untuk menempatkan konduktor dan

untuk mengatur arah medan magnetnya.

 Lilitan stator.

Bagian stator terdiri dari beberapa batang konduktor yang terdapat di

dalam slot-slot dan ujung-ujung kumparan. Masing-masing slot

dihubungkan dalam hubungan segitiga atau hubungan bintang untuk

mendapatkan tegangan induksi. Hubungan segitiga biasa digunakan

dalam trafo atau motor, sedangkan hubungan bintang selalu digunakan di

generator, juga digunakan pada motor atau trafo.

Gambar 45 Lilitan Stator


 Alur stator.

Merupakan bagian stator yang berperan sebagai tempat belitan stator

ditempatkan.

 Rumah stator.

Bagian dari stator yang umumnya terbuat dari besi tuang yang berbentuk

silinder. Bagian belakang dari rumah stator ini biasanya memiliki sirip-

sirip sebagai alat bantu dalam proses pendinginan.

c. Casing

Casing adalah bagian generator yang terbuat dari baja ringan yang

dirancang untuk menopang inti stator dan kumparan-kumparannya. Pada

umumnya generator di PLTU didinginkan dengan hidrogen yang bertekanan.

Oleh karena itu casing harus dirancang mampu menahan tekanan dan ledakan

hidrogen yang mungkin terjadi. Besarnya tekanan ledak diperkirakan dua kali

tekanan hidrogen.

d. Eksiter

Eksiter atau biasa disebut sistem penguatan adalah suatu perangkat yang

memberikan arus penguat kepada kumparan medan generator sinkron. Arus

penguat berupa arus searah (DC).


Gambar 46 Eksiter Generator

2. Prinsip Kerja Generator Sinkron

Menurut hukum Faraday, apabila kumparan berputar didalam magnet atau

sebaliknya maka pada ujung-ujung kumparan tersebut akan timbul gaya gerak

listrik (tegangan), pengaruh medan magnet pada kumparan akan membangkitkan

arus listrik didalam kumparan tersebut, arus yang dibangkitkan ini disebut arus

induksi, arus induksi dapat dihasilkan dengan menggerakkan magnet pada

kumparan yang tetap atau menggerakkan kumparan pada magnet yang tetap.

Gambar 47 Prinsip Gaya Gerak Listrik


Besarmya tegangan yang diinduksikan pada kumparan tergantung pada:

1. Kuat medan magnet

2. Banyaknya lilitan

3. Kecepatan putar

𝒅∅
E=-N 𝒅𝒕

∅=B.A

𝑵
B = 4 π 10-7 I
𝑳

Dimana : E = GGL Induksi (volt)

N = Banyaknya lilitan

∅ = Besar perubahan garis gaya (weber)

B = Kuat medan (tesla)

I = Kuat arus (Ampere)

L = Panjang lilitan (meter)

Catatan : Tanda minus menunjukan bahwa tegangan yang dibangkitkan

berlawanan arah dengan yang membangkitkan.

Prinsip kerja generator sinkron tiga fasa pada dasarnya sama dengan

generator sinkron satu fasa, akan tetapi pada generator sinkron tiga fasa memiliki

tiga lilitan yang sama dan tiga tegangan outputnya berbeda fasa 120° pada

masing-masing fasa.
Gambar 48 Prinsip Kerja Generator

Pada Gambar diatas menunjukkan sebuah gulungan penghantar diputar di

dalam media medan magnet pada satu putaran (360°), menghasilkan GGL induksi

arus bolak-balik satu periode. Gelombang arus bolak-balik tersebut biasa disebut

gelombang Sinusoida, sehingga apabila penghantar tersebut diputar oleh turbin

dengan putaran 3000 rpm atau sama dengan putaran tiap detik 50 putaran, maka

gelombang arus bolak-balik yang dihasilkan adalah juga sebanyak 50 periode atau

dikatakan dengan frekuensi 50 Hz.

Besar tegangan generator (GGL) bergantung pada:

A. Kecepatan putaran (N)

B. Jumlah kawat pada kumparan yang memotong fluk (Z)

C. Banyaknya fluk magnet yang dibangkitkan oleh medan magnet (f)


3. Jumlah Kutub Generator Sinkron

Jumlah kutub generator sinkron didesain tergantung dari kecepatan rotor dan

frekuensi dari GGL terbangkit yang dikehendaki. Hubungan tersebut dapat

ditentukan dengan persamaan:

120 x f = n x p

Dimana : f = frekuensi tegangan (Hz)

p = jumlah kutub pada rotor

n = kecepatan rotor (rpm)

4. Celah Udara Generator Sinkron

B. Sistem Eksitasi

Sistem eksitasi adalah pemberian arus searah pada belitan medan yang

terdapat pada rotor. Sesuai dengan prinsip elektromagnet yaitu apabila suatu

konduktor yang berupa kumparan yang dialiri listrik arus searah maka kumparan

tersebut akan menjadi magnet sehingga akan menghasilkan fluks-fluks magnet.

Apabila kumparan medan yang telah diberi arus eksitasi diputar dengan kecepatan

tertentu, maka kumparan jangkar yang terdapat pada stator akan terinduksi oleh

fluks-fluks magnet yang dihasilkan oleh kumparan medan sehingga akan

dihasilkan tegangan listrik bolak-balik. Besarnya tegangan yang dihasilkan

tergantung kepada besarnya arus eksitasi dan putara yang diberikan pada rotor.
Semakin besar arus eksitasi dan putaran, maka akan semakin besar tegangan yang

akan dihasilkan oleh sebuah generator.

Gambar 50 Rangkaian Sistem Eksitasi dengan Sikat

C. Fungsi Sistem Eksitasi

Sistem eksitasi pada PLTU mempunyai beberapa fungsi. Fungsi tersebut

antara lain:

a. Mengatur tegangan keluaran generator agar tetap konstan (stabil).

b. Mengatur besarnya daya reaktif.

c. Mempertinggi kapasitas daya pemuatan (charging capacity) saluran

transmisi tanpa beban dengan mengendalikan eksitasi.

d. Menekan kenaikan tegangan pada pelepasan beban (load rejection).

Karena mempunyai fungsi seperti di atas maka sistem eksitasi harus

mempunyai sifat antara lain :

 Mudah dikendalikan.

 Dapat mengendalikan dengan stabil/ sifat pengendalian stabil.

 Mempunyai respon/tanggapan yang cepat.


e. Tegangan yang dikeluarkan harus sama dengan tegangan yang

diinginkan.

D. Jenis Sistem Eksitasi

Sistem eksitasi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu sistem eksitasi dengan

menggunakan sikat dan sistem eksitasi tanpa sikat. Sistem eksitasi dengan

menggunakan sikat terdiri dari sistem eksitasi statik dan dinamik.

1. Sistem Eksitasi Statik

Sistem eksitasi statik adalah sistem eksitasi generator dengan menggunakan

peralatan eksitasi yang tidak bergerak, yang berarti bahwa peralatan eksitasi tidak

ikut berputar bersama rotor generator sinkron. Sistem eksitasi ini disebut juga self

eksitation merupakan sistem eksitasi yang tidak memerlukan generator tambahan

sebagai sumber eksitasi generator sinkron dan sebagai gantinya sumber eksitasi

berasal dari keluaran generator sinkron itu sendiri yang disearahkan terlebih

dahulu dengan menggunakan rectifier.

Awalnya pada rotor ada sedikit magnet yang tersisa, magnet yang sisa ini

akan menimbulkan tegangan pada stator, tegangan ini kemudian masuk ke dalam

penyearah dan dimasukkan kembali ke rotor, akibatnya medan magnet yang

dihasilkan semakin besar dan tegangan AC naik demikian seterusnya sampai

dicapai tegangan nominal dari generator AC tersebut. Biasanya penyearah itu

mempunyai pengatur sehingga tegangan generator dapat diatur konstan

menggunakan AVR.
Gambar 51 Sistem Eksitasi Statik

Keuntungan sistem eksitasi dengan menggunakan sikat (brush eksitation)

adalah desainnya tidak rumit karena tidak menggunakan eksternal power.

Kerugian sistem eksitasi dengan menggunakan sikat (brush eksitation), antara

lain adalah:

a. Perlu perawatan dan pemeliharaan pada sikat arang (routine cleaning dan

penggantian arang).

b. Dapat menimbulkan sparking (percikan api)

c. Arus yang dapat dialirkan oleh sikat relatif kecil. Generator kapasitas

besar tidak bisa mengalirkan arus eksitasi dengan sikat dan slip ring.

d. Terdapat electrical loss yang disebabkan oleh arang.


2. Sistem Eksitasi Dinamik

Gambar 52 Sistem Eksitasi Dinamik

Sistem eksitasi dinamik adalah sistem eksitasi generator tersebut disuplai dari

eksiter yang merupakan mesin bergerak. Sebagai eksiternya menggunakan

generator DC atau dapat juga menggunakan generator AC yang kemudian

disearahkan menggunakan rectifier. Slip ring digunakan untuk menyalurkan arus

dari generator penguat pertama ke medan penguat generator penguat kedua.

Prinsip kerja Generator penguat pertama disebut pilot eksiter dan generator

penguat kedua disebut main eksiter (penguat utama). Main eksiter adalah

generator arus bolak-balik dengan kutub pada statornya. Rotor menghasilkan arus

bolak-balik disearahkan dengan dioda yang berputar pada poros main eksiter (satu

poros dengan generator utama). Arus searah yang dihasilkan oleh dioda berputar

menjadi arus penguat generator utama. Pilot eksiter pada generator arus bolak-

balik dengan rotor berupa kutub magnet permanen yang berputar menginduksi

pada lilitan stator. Tegangan bolak-balik disearahkan oleh penyearah dioda dan

menghasilkan arus searah yang dialirkan ke kutub-kutub magnet y ang ada pada
stator main eksiter. Besar arus searah yang mengalir ke kutub main eksiter diatur

oleh pengatur tegangan otomatis (automatic voltage regulator/AVR).

Besarnya arus berpengaruh pada besarnya arus yang dihasilkan main eksiter,

maka besarnya arus main eksiter juga mempengaruhi besarnya tegangan yang

dihasilkan oleh generator utama.

Pada sistem Eksitasi tanpa sikat, permasalahan timbul jika terjadi hubung

singkat atau gangguan hubung tanah di rotor dan jika ada sekering lebur dari

dioda berputar yang putus, hal ini harus dapat dideteksi. Gangguan pada rotor

yang berputar dapat menimbulkan distorsi medan magnet pada generator utama

dan dapat menimbulkan vibrasi (getaran) berlebihan pada unit pembangkit.

Keuntungan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless eksitation),

antara lain adalah:

a. Energi yang diperlukan untuk Eksitasi diperoleh dari poros utama (main

shaft), sehingga keandalannya tinggi.

b. Biaya perawatan berkurang karena pada sistem Eksitasi tanpa sikat

(brushless eksitation) tidak terdapat sikat, komutator dan slip ring.

c. Pada sistem Eksitasi tanpa sikat (brushless eksitation) tidak terjadi

kerusakan isolasi karena melekatnya debu karbon pada farnish akibat

sikat arang.

d. Mengurangi kerusakan (trouble) akibat udara buruk (bad atmosfere)

sebab semua peralatan ditempatkan pada ruang tertutup.

e. Selama operasi tidak diperlukan pengganti sikat, sehingga meningkatkan

keandalan operasi dapat berlangsung terus pada waktu yang lama.


f. Pemutus medan generator (generator field breaker), field generator dan

bus eksiter atau kabel tidak diperlukan lagi.

g. Biaya pondasi berkurang, sebab aluran udara dan bus eksiter atau kabel

tidak memerlukan pondasi.

Kerugian sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless eksitation)

adalah desainnya rumit karena menggunakan Permanent Magnet Generator.

E. Struktur Sistem Ekstasi

Sistem eksitasi pada PLTU Lontar tersusun oleh komponen sebagai berikut:

a. Suplai tenaga eksitasi : Transformator Eksitasi (TE)

b. Suplai tenaga startup : Motor Control Centre (MCC)

c. Komponen Kontrol : Automatic Voltage Regulator (AVR)

d. Komponen tenaga : Penyearah Tenaga Jembatan (SCR)

e. Medan sesaat (de-eksitasi) : Lemari Pemutus Medan (FCB)

f. Proteksi tegangan lebih : Lemari Proteksi (PRC)

1. Rangkaian Utama

Tegangan terminal generator dan daya reaktif diubah oleh arus eksitasi yang

disuplai oleh penyearah. AVR mengontrol keluaran penyearah.

a. Transformator Eksitasi
Dalam sistem eksitasi tipe GES-3320, transformator eksitasi adalah sumber

tenaga eksitasi, dan mengisolasi peralatan eksitasi dari terminal generator secara

elektrik. Sisi tegangan tinggi dihubungkan dengan terminal generator dan sisi

tegangan rendah dihubungkan dengan sisi AC penyearah pada lemari AC input.

Kapasitas dan rasio transformasi ditentukan menurut karakteristik eksitasi

generator, agar dapat memenuhi operasi generator yang disyaratkan. Pada PLTU

Lontar digunakan transformator eksitasi dengan spesifikasi sebagai berikut:

Standard : GB109411 IEC6--/6-11

Type : ZSCB9-3600/20

Rated Power : 3600 kVA

High Voltage : 20 kV High Current : 103.9 A

Low Voltage : 900 V Low Current : 2309.4 A

Frequency : 50 Hz Temperature Rise : 100 K

Gambar 56 Transformator Eksitasi Unit 2 PLTU Lontar

b. Automatic Voltage Regulator (AVR)


AVR (Automatic Voltage Regulator) berfungsi untuk menjaga agar tegangan

generator tetap konstan dan akan tetap mengeluarkan tegangan yang selalu stabil

tidak terpengaruh pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah. Prinsip kerja

dari AVR adalah mengatur arus penguatan (excitation) pada generator eksiter.

Apabila tegangan output generator di bawah tegangan nominal tegangan

generator, maka AVR akan memperbesar arus penguatan (excitation) pada

generator eksiter. Dan juga sebaliknya apabila tegangan output generator melebihi

tegangan nominal generator, maka AVR akan mengurangi arus penguatan

(excitation) pada generator eksiter. Dengan demikian apabila terjadi perubahan

beban, tegangan output generator akan dapat distabilkan oleh AVR secara

otomatis.

PLTU Lontar menggunakan AVR tipe GES-3320 yang terletak di bagian

dalam AVR Cubicle. AVR tipe GES-3320 merupakan jenis AVR dengan channel

ganda struktur bertingkat. Ada dua set hardware terpisah yang bekerja secara

paralel dan menjadi warm standby satu sama lain. Kedua channel dapat

mendiagnosis sendiri dan mendiagnosis satu sama lain, menindak lanjuti,

berkomunikasi, dan berpindah satu sama lain. Biasanya AVR akan mengkalkulasi

sinyal-sinyal berikut:

 Tegangan terminal Generator (UG)

 Arus terminal Generator (IG)

 Tegangan Sistem (USYS)

 Arus Medan (If)

 Tegangan Sinkron (USYCH)


Lemari panel AVR dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 60 AVR PLTU Lontar

 Sifat – Sifat AVR

a. Mudah dikendalikan.

b. Dapat mengendalikan dengan stabil.

c. Mempunyai respon / tanggapan yang cepat.

d. Tegangan yang dikendalikan harus sama dengan tegangan yang

diinginkan dan diperoleh dari AVR.


 Bagian-Bagian AVR

Gambar 53 Diagram AVR

a. Potensial Divider and Rectifier

Potensial Divider and Rectifier berfungsi menerima sinyal tegangan ac

keluaran generator utama sedangkan Rectifier berfungsi mengubah

sinyaltegangan ac menjadi tegangan dc untukdikuatkan pada Amplifier.

b. Phase Rectifier

Phase Rectifier berfungsi memonitor arus keluaran generator utama,

yang merupakan penyearah tiga fasa yang mengubah sinyal ac menjadi

sinyal dc.

c. Amplifier

Amplifier berfungsi membandingkan tegangan keluaran generator utama

dengan tegangan referensi dan selisihnya (error) akan dikuatkan ke error


detector untukmemberikan sinyal control untuk power control device.

Ramp generator dan level detector berfungsi mengontrol

periodekonduksi dari power control device untukmenjaga tegangan

nominal.

Gambar 54 Rangkaian Amplifier

Aliran arus dari D11, D12, dan R34 adalah rangkaian penguat utama atau

penguatan tingkat terendah. Keluaran dari comparative amplifier dan

keluaran dari over eksitation limiter (OEL) adalah tegangan negative dan

dari tegangan negative kemudian pada masukan OP201. Ketika over

eksitation limiter (OEL) atau minimum eksitation limiter (MEL) tidak

operasi maka keluaran dari comparative amplifier dikuatkan oleh OP201

dan OP301 masukan dari OP301 dijumlahkan dengan keluaran dari

dumping circuit. OP401 adalah Amplifier untuk balance meter hubungan

antara tegangan masuk dan tegangan keluaran dari OP201 dan OP401

diperlihatkan pada bagan berikut.

d. Power Supply

Power supply berfungsi untuk menyediakan daya untuk rangkaian AVR.

e. Circuit Breaker
Circuit Breaker berfungsi memutus daya pada AVR dan generator eksiter

jika terjadi gangguan tegangan lebih atau gangguan eksitasi lebih.

f. Over Eksitation Detector

Over Eksitation Detector berfungsi memonitor tegangan eksitasi yang

disuplai pada eksiter. Tegangan eksitasi maksimum dibatasi atau

disetting pada level 70 Volt +/- 5%. Jika terjadi kenaikan tegangan

eksitasi melebihi nilai settingan maka over eksitation detector

memberikan sinyal untuk membuka eksitation circuit breaker.

c. Over Voltage Detector

Over Voltage Detector berfungssi memonitor tegangan pada terminal

keluaran generator utama dan memberikan sinyal untuk membuka circuit

breaker (eksitation ciercuit breaker) untuk memutuskan daya pada eksiter

dan AVR pada saat terjaditegangan lebih pada generator utama. Alat

proteksi tegangan lebih disetting pada level 437 +/- 5%. Terminal AVR

dihubungkan pada kumparan stator generator utama.

H. Penyearah Tenaga (SCR)

Penyearah tenaga merubah suplai tegangan AC yang berasal dari transformer

exitasi menjadi suplai tegangan DC pada rangkaian medan generator. Berdasarkan

besaran arus medannya, beberapa jembatan rectifier dioperasikan secara paralel

umumnya untuk membagi arus medan. Jika terjadi fault pada bagian-bagian

jembatan rectifier maka jembatan rectifier masih dapat menyuplai arus medan

pada generator secara stabil. Parameter dari generator dan tipe dari tyristor
menentukan nomor jembatan paralelnya dan output arus medan tiap bridge-

nya.Pada dasarnya jika sebuah jembatan rectifier mengalami gangguan/kerusakan

maka peralatan exitasi masi tetap bisa beroperasi dengan baik begitu pula dengan

keluaran generatornya. Rectifier dikontrol oleh AVR untuk mengatur arus medan,

dan mengatur tegangan generator serta daya reaktifnya.

Penyearah tenaga mengubah suplai tenaga AC yang disalurkan oleh

transformator eksitasi ke suplai tenaga DC dan menyalurkannya ke rangkaian

medan magnet generator. Sesuai dengan nilai arus medan, beberapa penyearah

jembatan beroperasi secara paralel untuk membagi arus medan secara bersama.

Ketika suatu lengan tertentu ada gangguan pada bagian – bagian penyearah

jembatan, maka penyearah jembatan masih dapat menyediakan arus medan yang

stabil untuk generator. Parameter generator dan tipe SCR menentukan jumlah

jembatan paralel dan arus keluaran tiap jembatan. Secara umum, ketika satu

jembatan keluar dari operasi (mengalami gangguan/ kerusakan), maka

perlengkapan eksitasi masih dapat memenuhi keluaran nominal generator.

Penyearah dikontrol oleh AVR. AVR mengatur keluarannya untuk mengubah

arus eksitasi dan dengan demikian mengatur tegangan terminal generator dan daya

reaktif generator. Pada penyearah tenaga didalamnya termasuk komponen berikut:

a. Penyearah tenaga jembatan

b. Penguat pulsa dan deteksi

c. Rangkaian proteksi RC

d. Sistem kipas pendingin paksa

e. Modul komunikasi serial


f. Pemantauan dan indikasi

Berikut rangkaian penyearah tenaga yang digunakan pada PLTU Lontar:

Gambar 57 Rangkaian Penyearah Tenaga PLTU Lontar

Prinsip kerja penyearah tenaga pada sistem eksitasi PLTU Lontar yaitu,

elemen V1 sampai dengan V6 adalah SCR. Tidak banyak elemen secara seri atau

secara paralel agar supaya mengurangi gangguan. Rangkaian proteksi RC yang

dihubungkan pada kedua sisi dari tiap SCR dapat menyerap tegangan lebih

komutasi dan tegangan puncak. Sebuah fuse kecepatan tinggi dihubungkan

dengan tiap SCR secara seri agar seupaya melindungi elemen SCR. Tiga tranduser

(T51-T53) ditempatkan pada sisi tenaga AC yang digunakan untuk mendeteksi

keadaan konduksi dari SCR. Lemari panel penyearah tenaga dapat dilihat pada

gambar berikut:
Gambar 58 Penyearah Tenaga (SCR) PLTU Lontar

Sinyal masukan dalam unit adalah dari amplifying and detecting pulse.

Pencahayaan diode dan indikator uji terletak di bagian interface yang terletak di

pintu lemari penyearahan, sehingga status operasi penyearah jembatan dapat

dipantau dengan mudah. Indikator sinyal penyearahan pada pintu lemari

penyearah ditampilkan sebagai berikut:

Gambar 59 Indikator Sinyal Penyearah Tenaga PLTU Lontar

Tabel 6 Keterangan pada Indikator Sinyal Penyearahan


I. Gambaran Umum GES-3320

GES-3320 merupakan sistem eksitasi generator yang regulator-nya termasuk

jenis Integreted Pesonal Computer (IPC) yang banyak digunakan pada komputer

kontrol industri. Dalam kebanyakan proyek, sistem eksitasi ini menggunakan

eksitasi sumber tegangan dengan penyearah terkontrol shunt. Shunt merupakan

rangkaian yang terkoneksi secara paralel. Dalam rangkaian eksitasi PLTU Lontar,

AVR menerima data parameter generator dari dua peralatan transformator yang

berfungsi sebagai sensor, yaitu transformator tegangan (PT) dan arus (CT), serta

mendapat sumber tegangan dari transformator eksitasi (TE).


Gambar 55 Skematik eksiter menggunakan penyearah terkontrol shunt

Cara pengaturan sistem eksitasi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1. Pengaturan sendiri, artinya AVR mendapat perintah dari tegangan dan arus

generator utama melalui trafo tegangan dan trafo arus, kemudian AVR

menaikan dan menurunkan arus penguat, sesuai dengan perintah yang

diterima oleh trafo tegangan dan trafo arus.

2. Pengaturan kombinasi dimana selain pengaturan sendiri maka dapat dibantu

oleh operator tampa melapas hubungan diatas.

3. Pengaturan manual, artinya arus penguat hanya diatur oleh operator. Dimana

rangkain pengaturan sendiri dilepas atau dipindah keposisi manual.

J. Pengaruh Perubahan Beban pada Generator Sinkron Saat Kondisi

Beroperasi Sendiri

Penambahan beban merupakan penambahan daya nyata maupun daya reaktif

yang diambil dari generator. Saat beban bertambah, maka arus menuju beban yang

keluar dari generator juga bertambah. Saat beban bertambah, maka akan terjadi
perubahan nilai pada tegangan terminal generator yang bergantung pada sifat

beban lagging atau leading.

Untuk menjaga tegangan terminal tidak turun dan tetap pada 22.8 kV dapat

dilakukan dengan langkah berikut:

1. Dengan menurunkan tahanan medan (Rf) generator akan menaikkan arus

medan (If).

2. Peningkatan arus medan (If) akan mengakibatkan peningkatan fluks.

3. Peningkatan fluks ( ) akan mengakibatkan peningkatan tegangan jangkar

(Ea).

4. Peningkatan Ea akan mengakibatkan peningkatan tegangan fasa dan tegangan

terminal VT.

Proses tersebut dapat juga dibalik untuk menurunkan tegangan terminal.

Prinsip ini yang digunakan oleh AVR untuk mengatur sistem eksitasi generator

dengan sikat dengan mengatur tahanan medan (Rf) yang diatur dengan AVR.

K. Sumber Tenaga Sistem Eksitasi PLTU Lontar

Terdapat beberapa sumber tenaga yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem

eksitasi PLTU Lontar:

1. DC Control Power Supply

Digunakan pada rangkaian control dari peralatan exitasi dan merupakan input

dari terminal AVR cubicle. Besarnya 220 VDC atau 110 VDC.

2. Power Supply AVR


Agar menjamin keandalan dari AVR, maka komputer dari AVR menggunakan

2 buah rangkaian power suplai. Satu power suplai dari suplai DC eksternal

dan lainnya dari suplai AV eksternal. Keduanya merupakan input power dari

AVR cubicle.

3. Fan Power Supply

Disuplai dari AVR cubicle berupa 2 buah rangkaian 220 V.

4. Illumination Power Supply

Berasal dari 220V power suplai station dan input dari AVR cubicle. Sebagai

illumination (penerangan) dan heater.

5. Field Breaker Closing Power Supply

Berasal dari FBC cubicle besarnya 220 VDC/110 VDC

6. Field Flashing Supply

Merupakan input dari FBC cubicle, menyuplai energi medan untuk rangkaian

medan generator. Jika AC Flashing digunakan maka digunakan 380 V dari

sistem suplai power station. Jika DC flashing yang digunakan maka dari 220

VDC/ 110 VDC sistem power station.

7. Pentanahan

Ketika peralatan eksitasi bekerja, kehandalan peralatan eksitasi harus

dipastikan, sehingga dapat megurangi kerusakan pada peralatan sistem

eksitasi, terutama akibat adanya hubung singkat. Hal ini dapat dilakukan

dengan mentanahkan peralatan eksitasi ke bagian badan lemari atau terminal

tanah yang sudah disediakan.


 Sistem Proteksi Eksitasi PLTU Lontar

Gambar 64 Proteksi Eksitasi PLTU Lontar

L. Proteksi Terhadap Tegangan Lebih

Proteksi tegangan lebih mencegah kerusakan pada dioda penyearah yang

diakibatkanoleh tegangan lebih, seperti surja hubung (switching surge) yang

berasal dari luar generator. Peralatan proteksi yangdigunakan untuk mencegah

keadaan tersebut adalah Surge Suppressors. Surge Suppressors dihubungkan

dengan tiap-tiap elemen diode, ketika surja tegangan tinggi datang, maka arus

listrikbertambah besar ratusa kali dalam sesaatsehingga energy surja tersebut

harusdisalurkan ke tanah.Surge Suppressors berada dalam keadaan membuang

energy pada saat terjadi tegangan tinggi. Rangkaian Surge Suppressors dapat

dilihat pada gambar berikut:


Gambar 65 Rangkaian Surge Suppressors

 Proteksi Terhadap Arus Lebih

Proteksi arus lebih mencegah elemendiode break down, karena gangguan

hubung singkat pada medan atau arus surja yangbesar. Peralatan proteksi yang

digunakan antara lain fuse berkecepatan tinggi, seperti pada gambar berikut:

Gambar 66 Rangkaian fuse pada diode penyearah

 Field Circuit Breaker (FCB)

Field Circuit Breaker (FCB) terletak diantara kumparan medan dan

penyearah. Keluaran dari penyearah mengalir ke kumparan medan generator

dengan FCB sebagai proteksi. FCB ini juga dilengkapi dengan discharging
contact yang terhubung dengan field discharging resistor. Field discharging

resistor berfungsi untuk melindungi rotor dari arus medan balik pada saat terjadi

kerusakan pada sistem eksitasi atau pada saat generator berhenti beroperasi (de-

eksitasi). Lemari FCB dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 67 Field Breaker PLTU Lontar

Jika terjadi gangguan pada sistem eksitasi, maka FCB akan membuka dan

secara otomatis discharging contact akan menutup, sehingga arus medan yang

masih tersimpan pada rotor dapat segera diperkecil dengan mengalirkan ke field

discharging resistor agar menjamin generator tetap aman. Rangkaian field

breaker dapat dilhat pada gambar berikut:

Gambar 68 Rangkaian Field Breaker


 Eksitation Loss Module

Kehilangan eksitasi dalam kondisiparallel dapat menyebabkan gangguan

seperti hilangnya sinkronisasi sistem.Eksitation Loss Module berfungsi

memonitor keluaran AVR dan memberikansinyal kepada rele jika terjadi

gangguanberupa tanda alarm. Alat ini bekerjaberdasarkan karakteristik arus

(rectifierripple) pada belitan medan eksiter.

Gambar 69 Rangkaian Extitation Loss Module

M. Perintah Kontrol

Bagian ini merupakan perintah jarak jauh dari Central Control Room (CCR)

untuk mengaktifkan maupun menonaktifkan sistem eksitasi.

Berikut perintah kontrol yang diberikan oleh Central Control Room (CCR):

1. Eksitasi On
Ketika perintah Eksitasi On diterima, sistem eksitasi akan berusaha menaikan

arus medan secara otomatis, sampai titik yang diisyaratkan. Regulator akan

melaksanakan langkah berikut secara berurutan:

a. Menghidupkan kipas pendingin dalam lemari penyearah

b. Memancarkan pulsa pemicuan

c. Menghidupkan rangkaian medan sesaat (field flashing)

d. Menaikan secara otomatis tegangan ke titik preset

2. Eksitasi Off

Ketika perintah Eksitasi Off diterima, regulator akan melaksanakan program

pelepasan medan. Pelepasan balik akan digunakan untuk kondisi normal. Pemutus

medan ditambah resistor pelepasan akan melepas (membuang) energi yang

tersimpan di dalam kumparan medan.

3. Pengoperasin Field Breaker

Termasuk dalam perintah Field Breaker ON dan Field Breaker Trip.

4. Penyetelan Mode Pengaturan

AVR dapat bekerja dalam 4 mode pengaturan, yaitu mode tegangan terminal

konstan (auto mode), mode arus medan konstan (manual mode), mode daya reaktif

konstan, dan mode faktor daya konstan. Keadaan normal (default setting) adalah

mode tegangan terminal konstan (auto mode).


Secara prinsip, empat mode pengaturan dapat mengalami perubahan selama

operasi. Ketika mode regulasi diubah, tegangan terminal dan daya reaktif tidak

berfluktuasi dengan jelas. Tapi kasus berikut merupakan perkecualian:

a. Ketika suatu gangguan terjadi dibawah mode tegangan terminal konstan,

mode pengaturan akan berubah ke mode arus medan konstan. Sebelum

gangguna di-reset, perubahan dari mode arus medan konstan ketiga mode

lainnya tidak diperbolehkan.

b. Ketika generator beroperasi dalam kondisi tidak berbeban, perubahan

dari mode tegangan terminal konstan atau mode arus medan konstan ke

mode daya reaktif konstan atau mode faktor daya konstan tidak

diperbolehkan. Selama pemutus generator utama menutup (on line),

perubahan ini tidak diperbolehkan.

Catatan: mode arus medan konstan (manual mode) hanya mengatur arus

medan, dan dibawah mode ini sebagian besar fungsi pembatas tidak aktif. Oleh

karena itu, ketika pengaturan disetel ke mode arus medan konstan (manual mode),

operator seharusnya memantau mesin dengan teliti.

5. Set Point Rise/ Set Point Lower

Perintah Set Point Raise atau Set Point Lower dapat menaikkan atau

menurunkan nilai set point. Pada Mode tegangan terminal konstan (Auto) perintah

raise/lower akan merubah besar tegangan terminal generator. Jika Generator

dalam kondisi tak berbeban akan merubah set point tegangan terminal, jika dalam
kondisi berbeban akan merubah daya reaktif. Namun jika limit function aktif

maka raise dan lower tidak akan berfungsi.

Perintah set point rise atau set point lower dapat menaikan atau menurunkan

nilai titik kerja. Dibawah mode tegangan terminal konstan, perintah set point rise

atau set point lower akan mengubah nilai titik kerja dari tegangan terminal

generator. Dibawah kondisi generator tidak berbeban, operasi ini akan mengubah

tegangan terminal. Dibawah kondisi generator berbeban, operasi ini akan

mengubah daya reaktif. Ketika suatu fungsi pembatas aktif, perintah set point

riseatau set point lower tidak akan efektif.

Dibawah mode daya reaktif konstan dan mode faktor daya konstan, perintah

set point riseatau set point lower akan mengubah daya reaktif dan faktor daya.

Dibawah mode arus medan konstan, perintah set point rise atau set point lower

akan mengubah nilai titik kerja arus medan. Dibawah kondisi generator tidak

berbeban, operasi ini akan mengubah tegangan terminal. Dibawah kondisi

generator berbeban, operasi ini akan mengubah daya reaktif.

Catatan : mode arus medan konstan konstan (manual mode) hanya mengatur

arus medan, dan dibawah mode ini sebagian besar fungsi pembatas tidak aktif. Itu

tidak aman untuk bekerja dibawah manual mode untuk waktu yang lama. Ketika

nilai titik kerja mencapai maksimum atau minimum, perintah set point rise atau

set point lower tidak akan efektif.


 Sistem Monitoring Eksitasi Generator PLTU Lontar Unit #2

Gambar Sistem Monitoring Eksitasi Generator PLTU Lontar Unit #2

Gambar di atas merupakan program untuk memantau keadaan sistem eksitasi

pada generator. Dari program di atas dapat dilihat terdapat beberapa informasi

yaitu : tegangan keluaran generator, tegangan medan, arus tiap fasa, arus medan,

frekuensi, daya reaktif dan aktif, parameter V/Hz.

Data – data yang diperoleh pada saat itu adalah tegangan generator sebesar

20,46 kV, arus generator sebesar 6,5 kA, generator reactive power 91.6 MVAR,

tegangan medan 3,82 V, arus medan 225,1 A, frekuensi 50 Hz, dan Parameter

V/Hz 1,022.

Untuk pengaturan tegangan keluaran generator, pada umumnya variable yang

diubah-ubah adalah pada bagian faktor dayanya. Dengan menurunkan nilai faktor

daya, maka daya reaktif yang dihasilkan generator juga akan semakin besar. AVR

secara otomatis akan mengatur besarnya tegangan dan arus eksitasi yang akan

diberikan pada kumparan medan(rotor) sampai daya reaktifnya sesuai dengan

faktor daya yang diatur. Namun, besarnya tegangan medan ini selalu berubah-

ubah karena sistem generator ini terhubung dengan beban ( On Load ).