Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN

PERTANIAN ORGANIK

Oleh:

Gusti Agung Anintiya Nofianti

NPM: 1603010299

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HINDU INDONESIA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh
pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan
pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan Back
to Nature telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan
kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi
pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang
dikenal dengan pertanian organik.
Pertanian organik (PO) juga tunduk pada prinsip diatas, pada hukum alam. Segala yang
ada di alam adalah berguna dan memiliki fungsi, saling melengkapi, melayani dan menghidupi
untuk semua. Dalam alam ada keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Maka, PO pun
menghargai keragaman hayati dan keseimbangan ekologi. Berjuta tahun alam membuktikan
prinsipnya, tak ada eksploitasi selain optimalisasi pemanfaatan. Demikian halnya PO, tidak
untuk memaksimalkan hasil, tidak berlebih; tetapi cukup untuk semua makhluk dan
berkesinambungan. Inilah filosofi mendasar PO.
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan
alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah
menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan
produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah
melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus
beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional
attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini
menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar
matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian
organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh
karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai
ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Tujuan
1. Mengatahui cara kerja dalam system pertanian organik
2. Mengatahui alat-alat yang digunakan dalam system pertanian organik
3. Bisa melihat secara langsung bentuk lahan pertanian organik
BAB II
PENDAHULUAN

Sejarah Pertanian Organik

Sejarah pertanian merupakan bagian dari sejarah kebudayaan manusia. adanya


pertanian ketika manusia bisa menjaga ketersediaan bahan makanan bagi manusia
tersebut. Segala sesuatu yang diusakan dalam menciptakan dan mengembangkan
pertanian itu disebut dengan kebudayaan agraris.

Menurut beberapa literatur bahwa yang pertama kali mengenalkan sistem


pertanian organik adalah Sir Albert Howard. seorang ahli pertanian berkebangsaan
Inggris, dia banyak mempelajari ilmu pertanian di India, semenjak jadi konsultan
pertanian di negara tersebut. Apa yang ia dapatkan dalam belajar pertanian di negri barat
ia padukan dengan sistem pertanian tradisional di India. Diantara yang ia perhatikan
adalah kesinambungan pertanian tradisional yang menekankan pada aspek kesehatan dan
kesuburan dengan kelestarian lingkungan dan kesehatan tanaman.

Dalam perjalanannya dia mengembangkan pertanian organik dan menghasilkan


teknik-teknik pertanian organik yang dijadikan jurnal pertanian organik dan
dikembangkan di berbagai negara. Selain itu, Howard membuat beberapa buku tentang
pertanian organik, diantaranya Warisan Pertanian, Produk Limbah Pertanian, Bertani
dan Berkebun untuk Kesehatan atau Penyakit, Tanah dan Kesehatan Sebuah Studi
Pertanian Organik. Buku-buku tersebut yang terus menjadikan pertanian semakin
berkembang di dunia.

Namun setelah ada program Swasembada Pangan pada era orde baru yang
menyatakan Revolusi Hijau menekankan petani untuk bisa memaksimalkan hasil
pertanian dengan cara-cara modern yang melibatkan bahan-bahan kimia maka pertanian
organik menjadi menghilang, kebiasaan-kebiasaan petani mandiri yang tidak tergantung
pada produk kimia menjadi bergantung dan kecanduan, Sehingga pertanian organik mulai
ditinggalkan dan melahirkan pertanian modern yang nampaknya tidak memperhatikan
aspek kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan.

Seiring terus berkembang kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kelestarian


lingkungan yang diakibatkan oleh pupuk dan pestisida kimia maka masyarakat indonesia
saat ini mulai kembali pada sistem pertanian organik atau mungkin sekarang dikenal
dengan pertanian berkelanjutan yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Pertanian Organik

Indonesia memulai revolusi hijau pada tahun 1970 dengan pengunaan bibit unggul
padi seperti IR, PB. Cisadane, Raja lele, dan lain-lain. Pada masa ini dalam
pembudidayaan tanaman masyarakat Indonesia banyak menggunakan bahan kimia,
seperti pupuk kimia dan pestisida kimia secara berlebihan dengan tujuan agar hasil
produksi tanaman meningkat. Namun setelah sekian lama banyak ditemukan efek negatif
dari penggunaan bahan-bahan kimia tadi, diantarannya adalah:

Pencemaran lingkungan (tanah, air, dan udara)

Berkurangnya keanekaragaman hayati

Munculnya hama dan penyakit baru

Gangguan pada kesehatan manusia

Dari efek negatif yang timbul ini pada tahun 2003 pemerintah mulai mencanangkan
sistem pertanian organik.

Sistem pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang berusaha untuk
mengembalikan segala jenis bahan organik kedalam tanah baik pada bentuk residu
maupun olahan limbah tanaman dan ternak yang bertujuan untuk menyediakan hara bagi
tanaman. Sasaran utama dari sistem pertanian organik adalah untuk mengembalikan
kesuburan dan produktifitas tanah.

Adapun visi dan misi pertanian organic adalah:

Visi

Visi Organik adalah mengembangkan budidaya pertanian dengan basis pertanian


organik, Energi Hijau, dan pola penghematan secara menyeluruh.

Misi

Misi pertanian Organik adalah menerapkan dan mengembangkan teknik


budidaya organik berbiaya murah, membangun mekanisme komunikasi, dan kondisi
ekonomi,sosial masyarakat petani Indonesia.

Tujuan Sistem Pertanian Organik :

1. Menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi.


2. Membudidayakan tanaman secara alami.
3. Mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologi dan ekosistem pertanian.
4. Memelihara dan meningkatkan kesuburan tanahdalam jangka panjang.
5. Menghindarkan segala bentuk cemaran akibat dari penerapan teknik pertanian.
6. Meningkatkan usaha konservasi tanah dan air serta mengurangi masalah erosi
akibat dari pengolahan tanah yang intensif.
7. Meningkatkan peluang pasar produk organik baik domestik maupun global.

Prinsip dalam Sistem Pertanian Organik :

1. Prinsip ekologi

Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan.

2. Prinsip kesehatan

Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah,


tanaman, hewan, manusia, dan bumi sebagai satu kesatuan.

3. Prinsip perlindungan

Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk
melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta
lingkungan hidup.

4. Prinsip keadilan

Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan


terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.

Kendala dan Solusi dalam Sistem Pertanian Organik :

1. Kendala

Adanya hama transmigran dari kebun non-organik yang menyebabkan


menurunnya produksi.

Tanah sudah banyak mengandung residu.

Tanah untuk sistem pertanian organik sebaiknya tanah yang masih perawan atau
asli, sementara banyak penelitian yang menyatakan bahwa tanah pertanian di
Indonesia sudah jenuh Fosfat.

Pasar terbatas karena hasil produk organik hanya di konsumsi oleh kalangan
tertentu saja.

Kesulitan menggantungkan pasokan dari alam, contohnya pupuk yang harus


mengerahkan suplai kotoran ternak dalam jumlah besar dan kontinu.
Sulitnya meninggalkan kebiasaan petani yang bergantung pada pupuk dan
pestisida kimia.

2. Solusi

Sosialisasi pada masyarakat mengenai pertanian yang ramah lingkungan.

Menggalakkan konsumsi produk hasil pertanian organik.

Diperlukan kajian lebih banyak untuk mendapatkan SAPROTAN (Sarana


Produksi Pertanian) organik yang terbaik.

Hasil dari program system pertanian organic saat ini yaitu banyaknya petani
memakai teknik system pertanian organic ini dan telah banyak produk-produk
pertanian di pasaran hasil dari pertanian organic, hanya saja harga jualnya lumayan
mahal dibandingkan produk dengan menggunakan system pertanian kimia karena
memiliki mutu yang bagus dan baik untuk kesehatan apabila dikonsumsi.

BAB III

PEMBAHASAN

Pengertian Pertanian Organik

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-


bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian
organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang
aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya
hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan
bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes),
kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling
attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian
organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar
matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi
pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per
tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan
pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan
ekspor.

Penyediaan pupuk organik

Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan


pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik
sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi
tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut
kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang
dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl.

Teknologi pendukung

Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah
teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar
seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan
pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat
menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang
Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan
pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat
diperlukan, terutama pada pembudidayaan pertanian organik di musim hujan.

Pemasaran
Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan
kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk
pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar
internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar
international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan
sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan
sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar
produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih
memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing
melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyataannya banyak yang masih
mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida.

Rencana Strategis Kementrian Pertanian


Era industrialisasi ini, pertanian masih merupakan sektor yang berperan penting
bagi perekonomian bangsa Indonesia. Berdasarkan PDB pertanian tahun 2007,
pertumbuhan sektor pertanian pasca krisis mencapai 4,62%, dan berdasarkan neraca
perdagangan, kinerja pertanian setiap tahunnya selalu meningkat. Tercatat hingga 2007,
pertanian mencapai nilai US$ 8,2 milyar1. Melihat potensi yang demikian besarnya,
berbagai program pembangunan pertanian digalakkan sebagai upaya pemenuhan
kebutuhan hidup manusia.

Pembangunan di sektor pertanian masih dititik beratkan pada peningkatan


produksi dan produktivitas tanaman pangan. Berbagai program pembangunan pertanian
digalakkan melalui kegiatan penyuluhan pertanian (RKPP, 2008). Namun, upaya
pembangunan pertanian melalui peningkatan pemanfaatan potensi alam dewasa ini telah
menimbulkan masalah baru bagi kelestarian alam dan struktur komposisi tanah (Sutanto,
2002). Inovasi pertanian organik menjadi salah satu alternatif dalam menjawab kegagalan
dari penerapan sistem pertanian konvensional pada umumnya.

Upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia melalui peningkatan pemanfaatan


potensi alam dewasa ini telah menimbulkan masalah baru bagi kelestarian alam dan
struktur komposisi tanah (Sutanto, 2002). Hal ini didukung dengan peningkatan jumlah
penduduk sehingga turut mempengaruhi upaya peningkatan produktivitas pertanian.
Sektor pertanian menjadi tumpuan harapan bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi
nasional terutama di pedesaan di masa yang akan datang.

Perubahan iklim dan kebutuhan akan keberlanjutan energi yang menjadi tantangan
dalam produktivitas agrosistem dan persediaan bahan pangan. Oleh sebab itu, pertanian
organik menjadi sangat penting untuk menjamin generasi yang akan datang dengan
prinsip kesehatan, keadilan, lingkungan baik untuk harmonisasi kehidupan yang
menghargai keberadaan manusia dan bumi (IFOAM 2008).

Pertanian organik merupakan salah satu bagian dari pendekatan pertanian


berkelanjutan. Pertanian organik memiliki ciri khas dalam hukum dan sertifikasi,
larangan penggunaan bahan sintetik, serta pemeliharaan produktivitas tanah, sehingga
sangat aman bagi kesehatan sekaligus merupakan teknologi pertanian yang ramah
lingkungan (IFOAM, 2008). Selain itu, pertanian organik juga bernilai tinggi secara
ekonomi, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mengacu pada hal tersebut diatas, maka Pemerintah Kota Bogor sejak November
2002 memfokuskan program peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan
agribisnis melalui pembangunan budidaya pertanian organik, yang merupakan kebijakan
Pemkot Bogor berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pertanian setempat pada
2001-20052. Meskipun demikian, pertanian organic belum dapat diterapkan sepenuhnya
dalam aktivitas pertanian masyarakat. Adapun upaya untuk menerapkan sistem pertanian
organik agar dapat diterima dan dapat membudaya dalam lingkungan dan aktivitas
pertanian masyarakat pada umumnya, sangat memerlukan upaya pemberdayaan dan
partisipasi dari seluruh elemen terutama komunitas tani yang merupakan aktor dalam
melaksanakan aktivitas pertanian. Namun, upaya untuk mewujudkan pemberdayaan dan
partisipasi tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Terdapat banyak faktor yang harus
diperhatikan, tidak hanya faktor internal dari masyarakatnya, tetapi juga faktor eksternal
masyarakat.

Selain itu, kesiapan institusi dalam mempersiapkan program juga mempengaruhi


upaya pemberdayaan tersebut seperti upaya penyadaran masyarakat terhadapprogram
meliputi proses inisiasi, dan sosialisasi hingga aplikasi pelaksanaan program.

Sistem Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian
Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang
memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah
lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal
dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan
pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi
kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-
lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini
diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk
pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia
karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak
disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik
dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih
mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low
External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi
penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida,
varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional
sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan
pihak-pihak lain yang terkait.

Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri,
seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat
penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya
harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian


organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman
rempah dan obat, serta peternakan. Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010
mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya
ke pasar internasional.

Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

No Kategori Komoditi
1 Tanaman Pangan Padi
2 Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho
putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo.
Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
3 Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan
kopi.
4 Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu- temuan
lainnya.
5 Peternakan Susu, telur dan daging

Lahan
Pada dasarnya semua lahan dapat dikembangkan menjadi lahan PO. Yang terbaik adalah
lahan pertanian yang berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah
mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida).
Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional
(menggunakan pupuk dan pestisida kimia), lebih dahulu perlu dilakukan konversi lahan.
Konversi lahan adalah upaya yang bertujuan untuk meminimalkan kandungan sisa-sisa bahan
kimia yang terdapat dalam tanah dan memulihkan unsur fauna dan mikroorganisme tanah.
Lamanya konversi tergantung dari intensitas pemakaian input kimiawi dan jenis tanaman
sebelumnya (sayuran, padi atau tanaman keras).
Masa konversi dapat diperpanjang/diperpendek tergantung pada sejarah lahan tersebut. Bila
masa konversi telah lewat, lahan tersebut merupakan lahan organik. Bila kurang dari itu, maka
lahan tersebut masih merupakan lahan konversi menuju organik.
Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya PO adalah benih yang tidak mendapatkan perlakuan
rekayasa genetika. Petani sebaiknya menggunakan benih lokal, atau benih hibrida yang telah
beradaptasi dengan alam sekitar.
Keunggulan menggunakan benih lokal adalah mudah memperolehnya dan murah harganya,
bahkan petani bisa membenihkan sendiri. Selain itu, benih lokal memiliki asal usul yang jelas
dan sesuai dengan kondisi alam sekitar. Dengan memakai benih sendiri, petani juga tidak
tergantung pada pihak luar.
Persiapan tanam
Lahan yang digunakan untuk produksi PO sedapat mungkin dijaga kestabilannya tanpa harus
mengacaukan, yaitu berpedoman pada metode sedikit olah tanah (minimum tillage).
Tanam
Prinsip yang diterapkan dalam praktek penanaman PO selalu mencerminkan adanya
tumpangsari agar tercipta keanekaragaman tanaman (varietas). Perencanaan dan teknik
penanaman perlu disesuaikan dengan sifat tanaman, prinsip-prinsip pergiliran tanaman dan
kondisi cuaca setempat.
Pemeliharaan Tanaman
Setiap tanaman memiliki sifat karakteristik tertentu, maka pemeliharaan tanaman ditentukan
oleh sifat karakteristik tersebut. Dengan mengenali karakteristik tanaman petani dapat dengan
mudah melakukan pemeliharaan yang sesuai, sehingga tujuan pemeliharaan tercapai yaitu
“kebahagiaan tanaman itu sendiri”.
Pemupukan
Secara teori, lahan PO akan semakin subur karena proses-proses yang diterapkan
berpedoman pada pemeliharaan tanah. Tetapi realitanya, petani seringkali kurang memahami hal
ini sehingga tanah selalu lebih banyak kehilangan unsur hara —melalui erosi, penguapan, dsb—
dibandingkan dengan hara yang diberikan/ditambahkan. Maka prinsip pemupukan ditentukan
oleh kepekaan kita dalam mengamati/menilai kapan tanaman kekurangan makanan.
Pengendalian HPT/OPT
PO berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme yang ada
(termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan tersebut. Dengan kata
lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang diperlukan adalah mengendalikan
hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah berlebihan.
Pola tumpangsari, pergiliran tanaman, pemulsaan, rekayasa teknik menanam, dan manajemen
kebun menjadi pilihan metode pengendalian HPT karena sesuai dengan prinsip keseimbangan.
Penggunaan pestisida alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi
ketidakseimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar
pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada.
Panen
Setiap langkah dalam proses produksi akan dinilai dari hasil panenan. Prinsip dalam panen
adalah menjaga standar mutu dengan memanen tepat waktu sesuai kematangan. Cara pemanenan
juga perlu berhati-hati sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau kehilangan hasil yang lebih
besar.
Pasca Panen
Kegiatan pasca panen harus mampu menekan kerusakan hasil seminimal mungkin. Metode
pengolahan yang dilakukan tidak boleh mengubah sama sekali komposisi bahan aslinya.
Karenanya proses seleksi, pencucian, pengepakan, penyimpanan dan pengangkutan produk
organik perlu berhati-hati agar kondisi tetap segar dan sehat ketika berada di tangan pembeli.
Dalam PO, kegiatan pasca panen menghindari pemakaian bahan pengawet atau perlakuan
kimiawi lainnya dan seminimal mungkin melakukan proses pengolahan.
Dalam PO berlaku standar yang berfungsi sebagai pedoman bagi petani dan pelaku lain
dalam menjalankan usahanya di bidang ini. Standar ini berisi prinsip-prinsip mendasar PO dan
hal-hal umum yang sebaiknya dilakukan dan dihindari dalam bertani organik. Sebagai contoh,
pemerintah telah menerbitkan SNI (Standar Nasional Indonesia) 01-6729-2002 tentang Sistem
Pangan Organik yang dapat menjadi acuan bagi para pelaku terkait pengembangan PO. Standar
ini mengacu pada standar internasional yakni Codex CAC/GL 32/1999, dan cukup selaras
dengan standar dasar IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movement).
BIOCert sendiri tengah mengembangkan standar PO yang selaras dengan pedoman di atas dan
sesuai dengan visi dan misi BIOCert.

Manfaat Pertanian Organik


Pertanian organik mempunyai beberapa manfaat, diantaranya :
Kesehatan
Sistem pertanian organik akan menghasilkan produksi pertanian yang sehat, menurut
beberapa data dari beberapa literature hasil produksi pertanian organik terdapat kandungan
vitamin C, kalium dan beta karoten yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian biasa.
Selain itu, dari segi hasil produksi juga akan lebih meningkat hingga 75 persen.
Lingkungan
Dengan menggunakan sistem pertanian juga akan menjaga kesehatan lingkungan,
keseimbangan ekosistem dan kesuburan tanah karena pertanian organik tanpa mengguna
menggunakan bahan kimia sintetis yang diketahui dapat mengakibatkan polusi dan berdampak
buruk pada kesehatan tanaman juga kesuburan tanah.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia


Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5
juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah
diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang
digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik.
Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar
adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan
yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan
pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu
sekitar 2 tahun.
Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang
diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti
Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi
oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.
Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada
masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif
harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada
awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia,
3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.
Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu
sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7
juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih
relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar. Sayuran, kopi dan teh mendominasi
pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.
Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

No Wilayah Areal Tanam Juta ha


1 Australia dan Oceania 7,70
2 Eropa 4,20
3 Amerika Latin 3,70
4 Amerika Utara 1,30
5 Asia 0,09
6 Afrika 0,06
Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.
Prinsip pertanian organik pada dasarnya adalah berteman akrab dengan alam, tidak
mencemari dan merusak lingkungan hidup. Alasan utama penggunaan bahan kimia adalah untuk
menyuburkan tanah dan memberantas hama serta penyakit. Padahal, melalui sistem pertanian
organik, dua masalah itu dapat diatasi. Untuk menyuburkan tanah, petani bisa memanfaatkan
tanaman famili leguminosae, seperti kacang-kacangan, selain pupuk kandang tentunya. Tanaman
jenis ini mempunyai bintil-bintil akar yang mampu menambat nitrogen yang dapat diserap oleh
tanaman. Sementara sebagai pengganti pestisida, petani dapat menggunakan antara lain nimba,
tembakau, brotowali, awar-awar, gadung, kelor, mindi, ketepeng kebo, mengkudu, mahoni, tuba
teprosia, papaya, johar, buah lerak, sirsak, srikaya, dan jarak kepya. Pestisida alami ini dapat
dengan mudah dibuat, tidak mencemari udara, tidak berbahaya, dan tidak meracuni konsumen
karena 100% bersifat bio-degradable. Terlebih lagi, tanaman-tanaman ini mudah diperoleh dan
dibudidayakan
Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional
walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih
banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2)
teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos,
tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.
Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk
memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran
dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera
dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah
Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.
Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan
baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini.
Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat
relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar
petani.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Pertanian organik merupakan metode pertanian yang tidak menggunakan pupuk sintetis
dan pestisida. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau
dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga
sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud. Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran
lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Aplikasi pupuk
organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik)
dapat menghemat biaya pemupukan. Pada zaman sekarang masih banyak petani,khususnya
petani di Indonesia yang menggunakan pupuk kimia dan pestisida yang dapat mengganggu
kesehatan tubuh manusia serta pencemaran pada lingkungan hidup kita. Adanya logam-logam
berat yang terkandung di dalam pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan
makan sayur yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena sayuran
banyak disemprot pestisida kimia berlebih.

Saran
Dalam upaya penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga
dikurangi secara perlahan. pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk
lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan
penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna
mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman
lingkungan dapat diterapkan. Dan dalam penulisan makalah ini masih banyak memiliki
kekurangan, oleh dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk
kesempurnaan pembuatan makalah kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://agriculturestiper.blogspot.com/2013/04/paper-usaha-tani-sistem-pertanian.html
http://felixmekogadho.blogspot.com/2012/03/makalah-pertanian-organik.html
http://jurnalorganik.blogspot.com/2013/05/sejarah-pertanian-organik.html
http://kalampa.blogspot.com/2011/06/makalah-pertanian-organik.html
http://netblog-mointi.blogspot.com/2013/05/pertanian-organik-dan-pertanian.html
http://wahyubertani.blogspot.com/