Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN IMUNOLOGI

IMUNISASI

Oleh:

Gusti Agung Anintiya Nofianti

NPM: 1603010299

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HINDU INDONESIA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen.
Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein racunnya.
Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka sebagai reaksinya
tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti yang dibuat tubuh
disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut antioksidan. Berhasil tidaknya
tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu bergantung kepada jumlah zat anti yang
dibentuk.
Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang
kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh tubuh.
Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin
terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk
mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah
pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh
anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti
bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari
ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan
terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang mungkin
akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar. Akan tetapi,
setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang, sehingga
imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan perangsangan kembali
oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat suntikan/imunisasi ulangan.

B. Rumusan Masalah

a. Apa saja definisi dari imunisasi?


b. Reaksi apa saja yang akan timbul?
c. Apa saja jenis vaksin?
d. Perbedaan imunisasi aktif dan pasif?
e. Penyakit apa saja yang harus dicega dengan vaksin?
f. Bagaimana cara pemberian imunisasi?
g. Apa saja efek samping dari imunisasi?
C. Tujuan
a. Untuk mengetahui apa saja definisi dari imunisasi.
b. Untuk mengetahui reaksiapa saja pada imunisasi.
c. Untuk mengetahui apa saja jenis imunisasi.
d. Untuk mengetahui perbedaan imunisasi akti dan pasif.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi

Imunisasi adalah memberikan vaksin yang mengandung kuman yang sudah


dilemahkan, caranya bisa diteteskan melalui mulut seperti imunisasi polio dan bisa
juga melalui injeksi. Vaksin yang masuk dalam tubuh bayi itu akan merangsang
tubuh memproduksi antibodi. "Antibodi itu akan melawan bibit penyakit yang masuk
dalam tubuh," ujarnya.
Imunisasi merupakan salah satu usaha memberikan kekebalan bayi dan anak dengan
cara vaksin ke dalam tubuh. Tujuan imunisasi sendiri adalah agar tubuh terlindung
dari beberapa penyakit berbahaya. Jikapun bayi dan anak sakit, dapat menghindarkan
dari perkembangan penyakit yang menyebabkan cacat atau meninggal dunia.
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit.
Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi
melindungi terhadap penyakit.Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat,
tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-
kanak.
Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin
jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin
maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang
ditemukan.

B. Reaksi aantigen-antibodi

Dalam bidang imunologi kuman atau racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen.
Secara khusus antigen tersebut merupakan bagian protein kuman atau protein
racunnya. Bila antigen untuk pertama kali masuk ke dalam tubuh manusia, maka
sebagai reaksinya tubuh akan membentuk zat anti. Bila antigen itu kuman, zat anti
yang dibuat tubuh disebut antibodi. Zat anti terhadap racun kuman disebut
antioksidan. Berhasil tidaknya tubuh memusnahkan antigen atau kuman itu
bergantung kepada jumlah zat anti yang dibentuk.
Pada umumnya tubuh anak tidak akan mampu melawan antigen yang kuat. Antigen
yang kuat ialah jenis kuman ganas. Virulen yang baru untuk pertama kali dikenal oleh
tubuh. Karena itu anak anda akan menjadi sakit bila terjangkit kuman ganas.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin
terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk
mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah
pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody,
tubuh anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman;
berarti bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar
dari ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan.
Dengan dasar reaksi antigen antibodi ini tubuh anak memberikan reaksi perlawanan
terhadap benda-benda asing dari luar (kuman, virus, racun, bahan kimia) yang
mungkin akan merusak tubuh. Dengan demikian anak terhindar dari ancaman luar.
Akan tetapi, setelah beberapa bulan/tahun, jumlah zat anti dalam tubuh akan
berkurang, sehingga imunitas tubuh pun menurun. Agar tubuh tetap kebal diperlukan
perangsangan kembali oleh antigen, artinya anak terseut harus mendapat
suntikan/imunisasi ulangan
Sebagai ringkasan mengenai pengertian dasar Imunologi ialah:

1) Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun kuman) memasuki tubuh,
maka tubuh akan berusaha untuk menolaknya. Tubuh membuat zat anti yang berupa
antibodi atau antitoksin
2) Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen, berlangsung lambat dan lemah,
sehingga tidak cukup banyak antibodi terbentuk.
3) Pada reaksi atau respons yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah lebih
mengenal jenis antigen tersebut. Tubuh sudah lebih pandai membuat zat anti,
sehingga dalam waktu yang lebih singkat akan dibentuk zat anti cukup banyak.
4) Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk
mempertahankan agar tubuh tetap kebal, perlu diberikan antigen/ suntikan/imunisasi
ulang. Ini merupakan rangsangan bagi tubuh untuk membuat zat anti kembali.
Di manakah zat anti tersebut dibentuk tubuhyaitu pada tempat-tempat yang strategis
terdapat alat tubuh yang dapat memproduksi zat anti. Tempat itu adalah hati, limpa ,
kelenjar timus dan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening misalnya, tersebar
luas di seluruh jaringan tubuh, seperti di sekitar rongga hidung dan mulut, leher,
ketiak, selangkangan, rongga perut. “Amandel” atau tonil merupakan kelenjar getah
bening yang terdapat pada rongga mulut sebelah dalam. Berbagai alat tubuh yang
disebutkan tadi merupakan pusat jaringan terbentuknya kekebalan pada manusia.
Kerusakan pada alat ini akan menyebabkan seringnya anak terserang berbagai jenis
infeksi: lazimnya dikatakan “daya tahan tubuh anak merendah”.

C. Jenis vaksin
Ada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak,dapat
dilakukan dengan pemberian imunisasi. Diantara penyakit berbahaya tersebut
termasuk penyakit cacar, tbc, difteri, tetanus, batuk rejan, poliomielitis, kolera, tifus,
para tifus campak, hepatitis B dan demam kuning terhadap penyakit tersebut telah
dapat dibuat vaksinnya dalam jumlah besar, sehingga harganya terjangkau oleh
masyarakat luas. Di negara yang sudah berkembang beberapa vaksin khusus telah
pula diproduksi, misalnya terhadap penyakit radang otak, penyakit gondok, campak
Jerman (rubela) dan sebagainya. Bahkan beberapa vaksin yang sangat khusus dapat
pula dibuat, tetapi harganya akan sangat mahal karena penggunaan yang terbatas.
Untuk kepentingan masyarakat luas, di beberapa negara sedang dijajagi kemungkinan
pembuatan vaksin berbahaya dan merugikan, misalnya vaksin terhadap malaria dan
demam berdarah.
Karena penyakit tersebut di atas sangat berbahaya, pemberian imunisasi dengan cara
penyuntikan kuman/antigen murni akan menyebabkan anak anda benar-benar menjadi
sakit. Maka untuk itu diperlukan pembuatan suatu jenis vaksin dari kuman yang telah
dilemahkan atau dimatikan terlebih dahulu, sehingga tidak membahayakan dan tidak
akan menimbulkan penyakit. Bahkan sebaliknya, kuman penyakit yang sudah
dilemahkan itu merupakan rangsangan bagi tubuh anak untuk membuat zat anti
terhadap penyakit tersebut. Akibat suntikan imunisasi dengan jenis kuman tersebut
reaksi tubuh anak pun hanya berupa demam ringan yang biasanya berlangsung
selama 1-2 hari.

D. Imunisasi aktif dan pasif


Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis imunisasi :a. Imunisasi pasif (passive
immunization)Imunisasi pasif ini adalah “Immunoglobulin” jenis imunisasi ini dapat
mencegah penyakitcampak (measles pada anak-anak). b. Imunisasi aktif (active
immunization)Imunisasi yang diberikan pada anak adalah :1. BCG, untuk mencegah
penyakit TBC2. DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, pertusis dan
tetanus3. Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis4. Campak, untuk mencegah
penyakit campak (measles)5. Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis B
Perbedaan yang penting antara jenis imunisasi aktif dan imunisasi pasif ialah:
a. Untuk memperoleh kekebalan yang cukup, jumlah zat anti dalam tubuh harus
meningkat; pada imunisasi aktif diperlukan waktu yang agak lebih lama untuk
membuat zat anti itu dibandingkan dengan imunisasi pasif.
b. Kekebalan yang terdapat pada imunisasi aktif bertahan lama (bertahun-tahun),
sedangkan pada imunisasi pasif hanya berlangsung untuk 1 – 2 bulan.
• Imunisasi aktif: tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama
bertahun-tahun.
• Imunisasi pasif: tubuh anak tidak membuat sendiri zat anti. Si anak mendapatnya
dari luar tubuh dengan cara penyuntikan bahan/serum yang telah mengandung zat
anti.
• Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.
Kadang-kadang imunisasi aktif dan pasif diberikan dalam waktu yang bersamaan,
misalnya pada penyakit tetanus. Bila seorang anak terluka dan diduga akan terinfeksi
kuman tetanus, maka ia memerlukan pertolongan sementara yang harus cepat
dilakukan. Saat itu belum pernah mendapat imunisasi tetanus, karena itu ia diberi
imunisasi pasif dengan penyuntikan serum anti tetanus. Untuk memperoleh kekebalan
yang langgeng, saat itu juga sebaiknya mulai diberikan imunisasi aktif berupa
penyuntikan toksoid tetanus. Kekebalan pasif yang diperoleh dengan penyuntikan
serum anti tetanus hanya berlangsung selama 1 – 2 bulan.
Secara alamiah imunisasi aktif mungkin terjadi, sehingga tanpa disadari sebenarnya
tubuh si anak telah menjadi kebal. Keadaan demikian pada umumnya hanya terjadi
pada penyakit yang tergolong ringan, tetapi jarang sekali pada penyakit yang berat.
Misalnya penyakit tifus, yang pada anak tidak tergolong penyakit berat. Tanpa
disadari seorang anak dapat menjadi kebal terhadap penyakit tifus secara alamiah.
Mungkin ia telah mendapat kuman tifus tersebut dalam jumlah yang sangat sedikit,
misalnya dari makanan yang kurang bersih, jajan dan sebagainya. Akan tetapi
kekebalan yang diperoleh secara alamiah ini sukar diramalkan, karena seandainya
jumlah kuman tifus yang masuk dalam tubuh itu cukup banyak, maka penting pula
untuk diperhatikan bahwa jaminan imunisasi terhadap tertundanya anjak dari suatu
penyakit, tidaklah mutlak 100%. Dengan demikian mungkin saja anak anda terjangkit
difteria, meskipun ia telah mendapat imunisasi difteria. Akan tetapi penyakit difteria
yang diderita oleh anak anda yang telah mendapat imunisasi akan berlangsung sangat
ringan dan tidak membahayakan jiwanya. Namun demikian tetap dianjurkan:
“Meskipun bayi/anak anda telah mendapat imunisasi, hindarkanlah ia dari hubungan
dengan anak lain yang sedang sakit”.

E. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

a.TBC
Untuk mencegah timbulnya tuberkolosis (TBC) dapat dilakukan imunisasi BCG.
Imunisasi BCGadalah singkatan dari Basillus Calmatto Guenin. Nama ini diambil
dari nama penemu kumanyaitu Calmotto dan Guenin yang digunakan tersebut sejak
tahun 1920 dibiakkan sampai 230 kaliselama 13 tahunDi Negara yang telah maju,
imunisasi BCG diberikan kepada mereka yang mempunyai resikokontak dengan
penderita TBC dan uji tuberkulinya masih negative, misalnya dokter,
mahasiswakedokteran, dan perawat. Uji tuberculin adalah suatu tes (uji) untuk
mengetahui apakahseseorang telah memiliki zat anti terhadap penyakit TBC atau
belum.Di Indonesia pemberian imunisasi BCG tidak hanya terbatas pada mereka
yang memiliki resikotinggi mengingat tingginya kemungkinan infeksi kuman TBC.
Imunisasi BCG diberikan padasemua bayi baru lahir sampai usia kurang dari dua
bulan.
Penyuntikan biasanya dilakukandibagian atas lengan kanan (region deltoid) dengan
dosis 0,05 ml reaksi yang mungkin timbulsetelah penyuntikan adalah :Kemerah-
merahan disekitar suntikan, dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah
suntikan,dan terjadi pembengkakan di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di
daerah ketiak).Bila terjadi hal tersebut di atas yang penting adalah menjaga
kebersihan terutama daerah sekitar luka dan segera bawa ke dokter.

b. Difteri, Pertusis dan Tetanus


Penderita difteri, pertusis, dan tetanus ini bila tidak segera mendapat pertolongan
yang memadaimaka berakibat fatal. Imunisasi DPT dimaksudkan untuk mencegah
ketiga penyakit tersebut diatas. Imunisasi dasar diberikan tiga kali, pertama kali
bersama dengan BCG dan polio, kemudian berturut-turut dua kali dengan jarak
masing-masing 4 minggu (1 bulan). Imunisasi ulangan dapatdilakukan 1 tahun setelah
imunisasi ketiga dan pada saat usia masuk sekolah dasar (5-6 tahun).Imunisasi
selanjutnya dianjurkan tiap lima tahun dengan imunisasi DT (tanpa pertusis).

c.Poliomyelitis
Penderita poliomyelitis apabila terhindar dari kematian banyak yang menderita
kecacatansehingga imunisasi sebagai usaha pencegahan sangat dianjurkan.Imunisasi
polio di Indonesia dilakukan dengan cara meneteskan vaksin sabin sebanyak 2 tetes
dimulut. Pertama kali diberikan bersama BCG dan DPT pertama pada usia dua bulan.
Kemudiandiulang dengan jarak 4 minggu sebanyak 4 kali. Imunisasi ulangan
dilakukan satu tahun, setelahimunisasi dasar ke-4 dan saat masuk SD (6-7 tahun).
Imunisasi tambahan dapat diberikan apabilaada resiko kontak dengan virus ganas.

d.HepatitisB
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksin hepatitis B yang dipakai untuk
program pemerintah di Indonesia adalah vaksin buatan Korean Green Cross yang
dibuat dari plasmadarah penderita hepatitis B. Adapula vaksin yang dibuat secara
sintetis. Vaksin ini dibuat dari selragi, misalnya H-B Vak II yang dikembangkan oleh
MSD (Merck Sharp dan Dohme). Adapuncara pemakaiannya (vaksin dari Koerean
Green Cross) sebagai berikut :1.Imunisasi dasar dilakukan tiga kali. Dua kali pertama
untuk merangsang tubuhmenghasilkan zat anti dan yang ketiga untuk meningkatkan
jumlah zat anti yang sudahada2.Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah untuk bayi
baru lahir (0 – 11 bulan) dengan satukali suntikan dosis 0,5 ml satu bulan kemudian
mendapat satu kali lagi. Setelah itu,imunisasi ketiga diberikan pada saat bayi berusia
6 bulan, mengenai waktu pemberiansuntikan yang ketiga ada beberapa pendapat.
Untuk pelaksanaan program diberikan 1 bulan setelah suntikan kedua. Hal ini semata-
mata untuk kemudahan dalam pelaksanaan,tetapi kekebalan yang didapat tidaklah
berbeda. Imunisasi hepatitis B ulangan dilakukansetiap 5 tahun sekali.

e.Campak
Pencegahan penyakit campak dapat dilakukan melalui imunisasi. Imunisasi campak
dilakukanketika bayi berumur sekitar 9 bulan. Imunisasi campak hanya dilakukan
satu kali dankekebalannya bisa berlangsung seumur hidup. Imunisasi campak bisa
diberikan sendiri atau bersama dalam imunisasi MMR (Sudarmanto, 1997 : 22).

F.Cara pemberian
- BCG (Bacillus Calmatte Guerin)
Dosis pemberian 1 kali pada usia 0-1 bulan.
Setelah penyuntikan imunisasi ini, akan timbul bebjolan putih pada lengan bekas
suntikan yang akan membentuk luka serta reaksi panas. Jangan dipecahkan.

- DPT + Hb (Kombo)
Dosis pemberian 3 kali pada usia 2-11 bulan.
Anak akan mengalami panas dan nyeri pada tempat yang diimunisasi. Beri obat
penurun panas ¼ tablet dan jangan membungkus bayi dengan selimut tebal.

- Polio
Dosis pemberian 4 kali melalui tetes mulut (2 tetes) pada usia 0-11 bulan
Setelah imunisasi, tidak ada efek samping. Jika anak menderita kelumpuhan setelah
imunisasi polio, kemungkinan sebelum di vaksin sudah terkena virus polio.

- Campak
Dosis pemberian 1 kali pada usia 9 bulan.
Setelah 1 minggu imunisasi, terkadang bayi akan panas dan muncul kemerahan.
Cukup beri ¼ tablet penurun panas.

F. Efeksampingdan penataklasanaan

- BCG
Pembengkakan kelenjar regional menjadi pecah; ulkus, luka dibiarkan (tidak perlu
diinsisiataupun kompres).

-DPT
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi DPT adalah sebagai berikut:1. Demam
ringan berikan kompres dan anti piretik,2. Rasa sakit di daerah suntikan (1-2) hari
kapan perlu berikan analgetik,3. Jarang demam tinggi atau kejang,4. Penanganan
kejang positif, berikan anti convulsan.
- Polio
Efek samping imunisasi polio adalah sebagai berikut :1. Sangat jarang; bila terjadi
kelumpuhan ekstremitas segera konsul,2. Diare,3. Dehidrasi (tergantung derajat diare,
biasanya hanya diare ringan).

- Hepatitis B
Tidak ada efek sampingnya.

-Campak
Efek samping dan penatalaksanaan imunisasi campak adalah sebagai berikut :1.
Demam ringan berikan kompres dan obat antipiretik,2. Nampak sedikit bercak merah
pada pipi dan bawah telinga pada hari 7-8 setelah penyuntikantidak berbahaya
lakukan observasi.(Dick. George, 1992 : 37)
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.


Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit.
Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi
melindungi terhadap penyakit.Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi
juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.
Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin
jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin
maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang
ditemukan.
Jadi pada dasarnya reaksi pertama tubuh anak untuk membentuk antibodi/antitoksin
terhadap antigen, tidaklah terlalu kuat. Tubuh belum mempunyai “pengalaman” untuk
mengatasinya. Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan berikutnya, tubuh anak sudah
pandai membuat zat anti yang cukup tinggi. Dengan cara reaksi antigen-anibody, tubuh
anak dengan kekuatan zat antinya dapat menghancurkan antigen atau kuman; berarti
bahwa anak telah menjadi kebal (imun) terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian ini, yang terpenting ialah bahwa dengan imunisasi, anak anda terhindar dari
ancaman penyakit yang ganas tanpa bantuan pengobatan

B. Saran

Jika dalam penuilisan makalah ini terdapat kekuarangn dan kesalahan, kami mohon
maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar
kami dapat membuat makalah yang lebih baik di kemudian hari.
Daftar Pustaka

http://kuliahiskandar.blogspot.com/2012/05/makalah-imunisasi.html , diakses
tanggal 1 Juli 2018
http://www.bing.com/search?q=makalah+lengkap+imunisasi&src=IE-
SearchBox&FORM=IE8SRC, diakses tanggal 1 Juli 2018
https://tugasgurusekolah.blogspot.com/2014/07/makalah-imunisasi.html, diakases
tanggal 1 Juli 2018