Anda di halaman 1dari 52

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada
Pasien dengan Risiko Perilaku Kekerasan” dan diselesaikan dengan baik sebagai tugas mata
kuliah Keperawatan Jiwa II.

Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Untuk itu saran dan kritik demi perbaikan sangat kami harapkan dan semoga makalah
ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca serta perkembangan ilmu keperawatan pada
umumnya.

Jakarta, 26 Agustus 2019

(Kelompok 4)

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................................1
Daftar Isi...................................................................................................................................2

BAB I: Pendahuluan

A. Latar Belakang……………………………………………………………….........3
B. Rumusan Masalah……………………………………………………...……...…..3
C. Tujuan......................................................................................................................4

BAB II: Landasan Teori


A. Pengertian RPK………………………………………………………………......5
B. Rentang Respon Marah…………………………………..…………………........5
C. Pengkajian RPK……………………………………………………………….....6
D. Pohon Masalah………………………………………………………………….13
E. Diagnosa Keperawatan…………………………………………………………
F. Intervensi Keperawatan…………………………………………………....…....
G. Implementasi…………………………………………………………………....

BAB III: Analisis Kasus

A. Kasus…………………………………………………………………………...14
B. Pengkajian Kasus……………………………………………………………....14
C. Analisa Data……………………………………………………………………16
D. Pohon Masalah…………………………………………………………………
E. Intervensi……………………………………………………………………....
F. Implementasi dan Evaluasi.…………………………………………………....

BAB IV: Penutup

Kesimpulan……………………………………...………………………………..…

Daftar Pustaka……………………………………………………………………...………..

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ancaman atau kebutuhan yang tidak terpenuhi mengakibatkan seseorang stress


berat membuat orang marah bahkan kehilangan kontrol kesadaran diri, misalnya:
memaki-maki orang di sekitarnya, membanting–banting barang, menciderai diri sendiri
dan orang lain, bahkan membakar rumah, mobil dan sepeda motor.

Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa ke rumah sakit
jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan
dan“pengawalan” oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi.

Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai
atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku
tersebut (Purba dkk, 2008). Menurut Stuart dan Laraia (1998), perilaku kekerasan dapat
dimanifestasikan secara fisik (mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas tubuh),
psikologis (emosional, marah, mudah tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa
dirinya sangat berkuasa, tidak bermoral). Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda dan
gejala dari gangguan skizofrenia akut yang tidak lebih dari satu persen (Purba dkk,
2008).

Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. WHO (2001)
menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental.
WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan
kesehatan jiwa. Pada masyarakat umum terdapat 0,2– 0,8 % penderita skizofrenia dan
dari 120 juta penduduk di Negara Indonesia terdapat kira-kira 2.400.000 orang anak yang
mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004 dalam Carolina, 2008). Data WHO tahun
2006 mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 persen
mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah penderita
gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang (WHO, 2006). Berdasarkan uraian
latar belakang tersebut, maka kami tertarik untuk menyusun makalah mengenai asuhan
keperawatan pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan risiko perilaku kekerasan?
2. Bagaimana rentang respons perilaku kekerasan?
3. Hal apa saja yang harus dikaji pada pasien dengan risiko perilaku kekerasan?

3
4. Apa saja data-data yang muncul pada kasus pasien dengan risiko perilaku
kekerasan?
5. Apa saja diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus pasien dengan
risiko perilaku kekerasan?
6. Apa saja tindakan keperawatan pada individu dan keluarga yang harus dilakukan
oleh perawat pada kasus risiko perilaku kekerasan?
7. Bagaimana hasil-hasil penelitian asuhan keperawatan pada pasien dengan risiko
perilaku kekerasan?

C. Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui definisi risiko perilaku kekerasan.
2. Agar mahasiswa mengetahui rentang respon perilaku kekerasan.
3. Agar mahasiswa mengetahui hal apa saja yang harus dikaji pada pasien dengan
risiko perilaku kekerasan.
4. Agar mahasiswa mengetahui data-data yang muncul pada kasus pasien dengan
risiko perilaku kekerasan.
5. Agar mahasiswa mengetahui diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada
kasus pasien dengan risiko perilaku kekerasan.
6. Agar mahasiswa mengetahui tindakan keperawatan pada individu dan keluarga
yang harus dilakukan oleh perawat.
7. Agar mahasiswa mengetahui hasil-hasil penelitian asuhan keperawatan pada
8. pasien dengan risiko perilaku kekerasan.

4
BAB II

LANDASAN TEORI

1. Pengertian Risiko Perilaku Kekerasan


Risiko perilaku kekerasan merupakan perilaku seseorang yang menunjukkan
bahwa ia dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain atau lingkungan, baik secara
fisik, emosional seksual, dan verbal (NANDA, 2016). Risiko perilaku kekerasan terbagi
menjadi dua, yaitu risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri (risk for self-directed
violence) dan risiko perilaku kekerasan terhadap orang lain (risk for other-directed
violence). NANDA (2016) menyatakan bahwa risiko perilaku kekerasan terhadap diri
sendiri merupakan perilaku yang rentan di mana seorang individu bisa menunjukkan atau
mendemonstrasikan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri, baik secara fisik,
emosional, maupun seksual. Hal yang sama juga berlaku untuk risiko perilaku kekerasan
terhadap orang lain, hanya saja ditujukan langsung kepada orang lain.
Berbeda dengan risiko perilaku kekerasan, perilaku kekerasan memiliki definisi
sendiri. Perilaku kekerasan didefinisikan sebagai suatu keadaan hilangnya kendali
perilaku seseorang yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Perilaku
kekerasan pada diri sendiri dapat berbentuk melukai diri untuk bunuh diri atau
membiarkan diri dalam bentuk penelantaran diri. Perilaku kekerasan pada orang adalah
tindakan agresif yang ditujukan untuk melukai atau membunuh orang lain. Perilaku
kekerasan pada lingkungan dapat berupa perilaku merusak lingkungan, melempar kaca,
genting, dan semua yang ada di lingkungan. Klien yang dibawa ke rumah sakit jiwa
sebagian besar akibat melakukan kekerasan di rumah. Perawat harus jeli dalanm
melakukan pengkajian untuk menggali penyebab perilaku kekerasan yang dilakukan
selama di rumah .
Pada pasien perilaku kekerasan mengungkapkan rasa kemarahan secara fluktuasi
sepanjang rentang adaptif dan maladaptif. Marah merupakan perasaan jengkel yang
timbul sebagai respons terhadap kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang tidak
dirasakan sebagai ancaman (Stuart & Sundeen; 2005). Marah merupakan emosi yang
memiliki ciri-ciri aktivitas sistem saraf simpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak
suka yang sangat kuat. Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, menghancurkan

5
atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal ini disalurkan
maka akan terjadi perilaku agresif (Purba,dkk:2008).
2. Etiologi
Perilaku kekerasan sering disebabkan oleh karena kurangnya percaya pada orang lain,
perasaan panik reaksi kemarahan, waham sukar berinteraksi dimasa lampau,
perkembangan ego yang lemah serta depresi rasa takut (Towsend, M.C, 1998:150).
Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S.J (1998:315) perilaku kekerasan disebabkan oleh
gangguan konsep diri : harga diri rendah.
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang
dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan
Sundeen,1998:227), menurut Towsend (1998:189) harga diri rendah merupakan evaluasi
diri dari perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif baik langsung langsung
maupun tidak langsung. Pendapat senada diungkapkan Carpenito, L.J (1998:352) bahwa
harga diri rendah merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri yang
negatif mengenai diri atau kemampuan diri.
Menurut Capernito, L.J (1998:352); Keliat,B.A (1994:20); perilaku yang berhubungan
dengan harga diri rendah antara lain:
Data subyektif:
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Rasa bersalah
d. Sikap negatif terhadap diri sendiri
e. Sikap pesimis pada kehidupan
f. Keluhan sakit fisik
g. Menolak kemampuan diri sendiri
h. Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
i. Perasaan cemas dan takut
j. Merasionalisasi penolakan/ menjauh dari umpan balik positif
k. Mengungkapkan kegagalan pribadi
l. Ketidakmampuan menentukan tujuan

6
Data obyektif:

a. Produktivitas menurun
b. Perilaku distruktif pada diri sendiri
c. Menarik diri dari hubungan sosial
d. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
e. Menunjukan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan)

3. Rentang Respons Perilaku Kekerasan


Perilaku kekerasan didefinisikan sebagai bagian dari rentang respons marah yang
paling maladaptif, yaitu amuk. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebaga
respons terhadap ansietas (kebutuhan yang tidak terpenuhi) yang dirasakan sebagai
ancaman(Stuart&Laraia, 2005). Amuk merupakan respons kemarahan yang paling
maladaptif yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan
merupakan bentuk perilaku destruktif yang tidak dapat dikontrol (Yosep, 2009). Hal ini
disertai dengan hilangnya kontrol di mana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain,
atau lingkungan. Berikut ini merupakan beberapa istilah perilaku kekerasan:

 Asertif : Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain.


 Frustasi: Kegagalan mencapai tujuan karena tidak realitas atau terhambat.
 Pasif : Respons lanjut klien tidak mampu ungkapkan perasaan
 Agresif : Perilaku dekstruksi masih terkontrol.
 Amuk : Perilaku dekstruktif dan tidak terkontrol.

7
4. Pengkajian
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai
seseorang, baik secara fisik maupun pasikologis. Perilaku kekerasan dapat dilakukan secara
verbal yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Perilaku kekerasan mengacu pada dua bentuk, yaitu perilaku kekerasan saat sedang
berlangsung atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan).

A. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2013), masalah perilaku kekerasan dapat disebabkan oleh adanya
faktor predisposisi (faktor yang (melatarbelakangi) munculnya masalah dan faktor
presipitasi (faktor yang memicu adanya masalah).
Di dalam faktor presdisposisi, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya masalah perilaku kekerasan, seperti faktor biologis, psikologis, dan
sosiokultural.

a. Faktor biologis
1) Teori dorongan naluri (Instinctual drive theory)
Teori ini menyatakan bahwa perilaku kekerasan disebabkan oleh suatu
dorongan kebutuhan dasar yang kuat.
2) Teori psikomatik (Psycomatic theory)
Pengalaman marah dapat diakibatkan oleh respons psikologi terhadap stimulus
eksternal maupun internal. Sehingga, sistem limbik memiliki peran sebagai
pusat untuk mengekspresikan maupun menghambat rasa marah.

b. Faktor psikologis
1) Teori agresif frustasi (Frustasion aggresion theory)
Teori ini menerjemahkan perilaku kekerasan terjadi sebagai hasil akumulasi
frustasi. Hal ini dapat terjadi apabila keinginan individu untuk mencapai
sesuatu gagal atau terhambat. Keadaan frustasi dapat mendorong individu

8
untuk berperilaku agresif karena perasaan frustasi akan berkurang melalui
perilaku kekerasan.
2) Teori perilaku (Behaviororal theory)
Kemarahan merupakan bagian dari proses belajar Hal ini dapat dicapai apabila
tersedia fasilitas atau situasi yang mendukung. Reinforcement yang diterima
saat melakukan kekerasan sering menimbulkan kekerasan di dalam maupun di
luar rumah.
3) Teori eksistensi (Existential theory)
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah bertindak sesuai perilaku. Apabila
kebutuhan tersebut tidak dipenuhi melalui perilaku konstruktif, maka individu
akan memenuhi kebutuhannya melalui perilaku destruktif.

B. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi ini berhubungan dengan pengaruh stresor yang mencetuskan
perilaku kekerasan bagi setiap individu. Stresor dapat disebabkan dari laur maupun dari
dalam. Stresor yang berasal dari luar dapat berupa serangan fisik, kehilangan, kematian
dan lain-lain. Stresor yang berasal dari dalam dapat berupa, kehilangan keluarga atau
sahabat yang dicintai, ketakutan terhadap penyakit fisik, penyakit dalam, dan lain-lain.
Selain itu, lingkungan yang kurang kondusif, seperti penuh penghinaan, tindak
kekerasan, dapat memicu perilaku kekerasan.

C. Faktor Risiko
NANDA (2016) menyatakan faktor-faktor risiko dari risiko perilaku kekerasan
terhadap diri sendiri (risk for self- directed violence) dan risiko perilaku kekerasan
terhadap orang lain (risk for other-directed violence)
a. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri (risk for self-directed
violence)
1) Usia 45 tahun
2) Usia 15-19 tahun

9
3) Isyarat tingkah laku (menulis catatan cinta yang sedih, menyatakan pesan
bernada kemarahan kepada orang tertentu yang telah menolak individu
tersebut, dll.)
4) Konflik mengenai orientasi seksual
5) Konflik dalam hubungan interpersonal
6) Pengangguran atau kehilangan pekerjaan (masalah pekerjaan)
7) Terlibat dalam tindakan seksual autoerotik
8) Sumber daya personal yang tidak memadai
9) Status perkawinan (sendiri, menjanda, bercerai)
10) Isu kesehatan mental (depresi, psikosis, gangguan kepribadian,
penyalahgunaan zat)
11) Pekerjaan (profesional, eksekutif, administrator atau pemilik bisnis, dll.)
12) Pola kesulitan dalam keluarga (riwayat bunuh diri, sesuatu yang bersifat
kekerasaan atau konfliktual)
13) Isu kesehatan fisik
14) Gangguan psikologis
15) Isolasi sosial
16) Ide bunuh diri
17) Rencana bunuh diri
18) Riwayat upacara bunuh diri berulang
19) Isyarat verbal (membicarakan kematian, menanyakan tentang dosis
mematikan suatu obat, dll.)
b. Risiko perilaku kekerasan terhadap orang lain (risk for other-directed
violence)
1) Akses atau ketersediaan senjata
2) Alterasi (gangguan) fungsi kognitif
3) Perlakuan kejam terhadap binatang
4) Riwayat kekerasaan masa kecil, baik secara fisik, psikologis, maupun seksual
5) Riwayat penyalahgunaan zat
6) Riwayat menyaksikan kekerasan dalam keluarga
7) Impulsif

10
8) Pelanggaran atau kejahatan kendaraan bermotor (seperti, pelanggaran lalu
lintas, penggunaan kendaan bermotor untuk melampiaskan amarah)
9) Bahasa tubuh negatif (seperti, kekakuan, mengepalkan tinju/pukulan,
hiperaktivitas, dll.)
10) Gangguan neurologis (trauma kepala, gangguan serangan, kejang, dll.)
11) Intoksikasi patologis
12) Riwayat melakukan kekerasan tidak langsung (kencing di lantai, menyobek
objek di dinding, melempar barang, memecahkan kaca, membanting pintu,
dll.)
13) Pola perilaku kekerasaan terhadap orang lain (menendang, memukul,
menggigit, mencakar, upaya perkosaan, memperkosa, pelecehan seksual,
mengencingi orang, dll)
14) Pola ancaman kekerasaan (ancaman secara verbal terhadap objek atau orang
lain, menyumpah serapah, gestur atau catatan mengancam, ancaman seksual,
dll.)
15) Pola perilaku kekerasan antisosial (mencuri, meminjam dengan memaksa,
penolakan terhadap medikasi, dil.)
16) Komplikasi perinatal
17) Komplikasi prenatal
18) Menyalakan api
19) Gangguan psikosis
20) Perilaku bunuh diri

D. Penilaian stressor/ tanda dan gejala


Penilaian stressor melibatkan makna dan pemahaman dampak dari situasi stres bagi
individu lain, itu mencakup kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan respon sosial.
Penilaian adalah evaluasi tentang pentingnya sebuah peristiwa dalam kaitannya dengan
kesejahteraan seseorang. Stressor mengasumsikan makna, intensitas, dan pentingnya
sebagai konsekuensi dari interpretasi yang unik dan makna yang diberikan kepada orang
yang berisiko.
Tanda dan gejala perilaku kekerasan dapat dinilai dari ungkapan pasien dan
didukung dengan hasil observasi
a. Data subjektif

11
1) Ungkapan berupa ancaman
2) Ungkapan kata-kata kasar
3) Ungkapan ingin memukul/melukai
b. Data objektif
1) Wajah memerah dan tegang
2) Pandangan tajam
3) Mengatupkan rahang dengan kuat
4) Mengepalkan tangan
5) Bicara kasar
6) Suara tinggi, menjerit atau berteriak
7) Mondar mandir
8) Melempar atau memukul benda/orang lain

Secara spesifik proses perilaku kekerasan melibatkan respon kognitif, respon afektif,
respon fisiologis/fisik, respon psikomotor/perilaku dan respon sosial (Stuart, 2009)

a. Respon kognitif
Pada individu dengan perilaku agresif atau perilaku kekerasan yang dikaitkan
dengan kondisi biologis ditemukan tanda-tanda:
1) Iritabilitas/mudah marah
2) Hipersensitif terhadap provokasi
3) Mengancam
4) Bicara keras
5) Kebingungan
6) Disorientasi dan gangguan memori
7) Kesulitan kontrol diri
8) Gangguan penilaian (Stuart, 2009).
b. Respon afektif (emosi)
Kekerasan adalah merupakan salah satu dari respon afektif (emosi) marah yang
maladaptif. Seseorang yang marah merasa:
1) Merasa tidak nyaman
2) Merasa tidak berdaya
3) Jengkel
4) Merasa ingin berkelahi
5) Mengamuk
6) Bermusuhan
7) Sakit hati
8) Menyalahkan, menuntut
9) Mudah tersinggung
10) Euphoria yang berlebihan atau tidak tepat
11) Afek labil (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009).
c. Respon fisiologis/fisik
Menurut Stuart (2009), perilaku kekerasan dapat dilihat:

12
1) wajah tegang
2) tidak bisa diam
3) mengepalkan atau memukul tangan
4) rahang mengencang
5) peningkatan pernapasan
6) kadang tiba-tiba seperti kataton.
d. Respon psikomotor/perilaku
Perilaku yang ditampilkan klien perilaku kekerasan yaitu:
1) agitasi motorik berupa bergerak cepat
2) mondar-mandir
3) ketidakmampuan untuk duduk tenang atau diam
4) mengepalkan tangan
5) mengencangkan rahang atau otot wajah
6) kata-kata menekan
7) memerintah
8) suara keras (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009)
e. Respon sosial
Tanda sosial perilaku kekerasan yaitu:
1) kata-kata menekan
2) memerintah
3) suara keras
4) menyalahkan orang lain
5) membicarakan kesalahan orang
6) berkata kasar dan menolak hubungan dengan orang lain
7) mengejek
8) melanggar batas jarak personal saat interaksi
9) kekerasan verbal terhadap orang lain dan lingkungan (Stuart & Laraia, 2005).

E. Sumber Koping

Menurut Stuart dan Laraia, sumber koping dapat berupa aset ekonomi,
kemampuan dan keterampilan, teknik defensif, dukungan sosial, dan motivasi. Hubungan
antar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sangat berperan penting pada saat ini.
Sumber koping lainnya termasuk kesehatan dan energi, dukungan spiritual, keyakinan
positif, keterampilan menyelesaikan masalah dan sosial, sumber daya sosial dan material,
dan kesejahteraan fisik.
Keyakinan spiritual dan melihat diri positif dapat berfungsi sebagai dasar harapan
dan dapat mempertahankan usaha seseorang mengatasi hal yang paling buruk.
Keterampilan pemecahan masalah termasuk kemampuan untuk mencari informasi,
mengidentifikasi masalah, menimbang alternatif, dan melaksanakan rencana tindakan.
Keterampilan sosial memfasilitasi penyelesaian masalah yang melibatkan orang lain,
meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan kerjasama dan dukungan dari orang lain

13
dan memberikan kontrol sosial individu yang lebih besar. Akhirnya, aset materi berupa
barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang. Sumber koping sangat meningkatkan
pilihan seseorang mengatasi di hampir semua situasi stres. Pengetahuan dan kecerdasan
yang lain dalam menghadapi sumber daya yang memungkinkan orang untuk melihat cara
yang berbeda dalam menghadapi stres. Akhirnya, sumber koping juga termasuk kekuatan
ego untuk mengidentifikasi jaringan sosial, stabilitas budaya, orientasi pencegahan
kesehatan dan konstitusional.

F. Mekanisme Koping
Perawat perlu mempelajari mekanisme koping untuk membantu klien
mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif dalam mengekspresikan marahnya.
Secara umum, mekanisme koping yang sering digunakan pada klien marah untuk
melindungi diri antara lain mekanisme pertahanan ego seperti:
a. Sublimasi
Yaitu menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk
suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya
seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti
meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk
mengruangi ketegangan akibat rasa marah.
b. Proyeksi
Yaitu menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak
baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai
perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya
tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
c. Represi
Yaitu mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar.
Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orangtuanya yang tidak disukainya.
Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa
membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga
perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
d. Reaksi formasi
Yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebih-
lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan.
Misalnya seseorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang
tersebut dengan kasar.
e. Displacement
Yaitu melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang
tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu.
Misalnya anak berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari

14
ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan
dengan temannya

G. Pohon Masalah

Risiko mencederai diri sendiri,


orang lain, dan lingkungan
(Effect)

Risiko perilaku kekerasan


(Core problem)

Perilaku kekerasan

15
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TERKAIT KASUS

Kasus Asuhan Keperawatan Pasien dengan Risiko Perilaku Kekerasan

Seorang perempuan berusia 23 tahun dirawat hari ke-3 di RSJ karena tampak kacau, bicara
sendiri, tidak kooperatif dan marah marah. Selama di RSJ klien sering dijenguk oleh anak dan
ibunya. Klien dibawa ke RSJ oleh petugas bandara yang menanganinya saat klien tiba ditanah air
dari kepulangannya sebagai TKW di Arab Saudi. Klien tidak pernah mengalami gangguan jiwa
di masa lalu namun klien pernah mengalami kekerasan oleh suaminya. Perawat melakukan
pengkajian didapat bahwa saat ini klien masih merasa dan kesal dengan suami yang memaksanya
bekerja sebagai TKW sementara waktu itu dia harus terpisah jauh dengan anak-anaknya. Selama
bekerja pun suami klien tidak bisa dihubungi sehingga klien tidak bisa bicara dengan anak dan
ibunya .Saat berbicara nada suara tinggi,cepat, mata memerah, sering mengeluarkan nada
ancaman terhadap suaminya. Menurutnya, apa yang terjadi pada dirinya saat ini disebabkan oleh
suaminya. Selama di ruangan, klien ingin selalu diikuti keinginannya, memerintah teman
sekamar untuk melakukan kegiatan ruangan dan marah jika tidak sesuai dengan perintahnya.
Selama dirawat pasien merasa ingin sembuh agar berkumpul kembali dirumah dan selama
dirawat di RSJ biaya pengobatan klien ditanggung oleh BPJS.

A. Pengkajian
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologis
Teori Psikomatik: Klien pernah mengalami kekerasan oleh suaminya.
b. Faktor Piskologi
Teori Agresif Frustasi: ia harus terpisah jauh dengan anak-anaknya.selama
bekerja pun suami klien sangat sulit untuk dihubungi sehingga klien tidak bisa
bicara dengan anak dan ibunya.

16
2. Faktor Presipitasi
1. Psikologis: Suami yang memaksa bekerja sebagai TKW sementara ia harus
terpisah jauh dengan anak-anaknya.
2. Sosial: Sulit menghubungi suami sehingga klien tidak bisa bicara dengan anak
dan ibunya.

3. Faktor Risiko Perilaku Kekerasan


a. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri (risk for self-directed violence)
1) Konflik dalam hubungan interpersonal
2) Pekerjaan (profesional, eksekutif, administrator atau pemilik bisnis, dll.)
3) Pola kesulitan dalam keluarga (riwayat bunuh diri, sesuatu yang bersifat
kekerasaan atau konfliktual)
4) Gangguan psikologis
b. Risiko perilaku kekerasan terhadap orang lain (risk for other-directed violence)
1) Pola ancaman kekerasaan (ancaman secara verbal terhadap objek atau
orang lain, menyumpah serapah, gestur atau catatan mengancam, ancaman
seksual, dll)
4. Penilaian Stressor :
a. Kognitif : Bicaranya kacau, Sering mengeluarkan nada ancaman terhadap
suaminya.
b. Afektif: Marah-marah
c. Fisiologis : Mata memerah
d. Perilaku : Tidak kooperatif, saat berbicara nada suara tinggi, cepat, bicara sendiri,
sering memerintah teman sekamarnya untuk melakukan kegiatan ruangan.
e. Sosial : Dijauhi oleh teman sekamarnya karena suka memerintah.

5. Sumber koping
a. Sosial support : Anak dan ibunya sering menjenguknya
b. Material : . Selama di rawat di RSJ biaya pengobatan klien ditanggung oleh BPJS
c. Positive beliefs: Pasien merasa ingin sembuh dan ingin berkumpul kembali di
Rumah.

17
6. Mekanisme koping
Displacemen (pemindahan) :klien merasa apa yang terjadi pada dirinya saat ini
disebabkan oleh suaminya ia merasa marah dan kesal terhadap suaminya. Selama
diruangan klien ingin selalu diikuti keinginannya,memerintah teman sekamar untuk
melakukan kegiatan ruangan dan marah jika tidak sesuai dengan perintahnya.
7. Pohon masalah

Risiko menciderai diri


sendiri,orang lain, dan lingkungan
(Effect)

Risiko perilaku kekerasan


(Core problem)

ANALISA DATA

1. Ds : Resiko Perilaku
kekerasan
 Klien mengatakan tidak pernah mengalami
gangguan jiwa di masa lalu, namun klien pernah
mengalami kekerasan oleh suaminya
 Klien mengatakan masih merasa marah dan kesal
dengan suami yang memaksanya bekerja sebagai
TKW sementara ia harus terpisah jauh oleh anak-
anaknya.
 Klien mengatakan apa yang terjadi pada dirinya
sendiri pada saat ini disebabkan oleh suaminya.
Do :

18
 Klien terlihat kacau, bicara sendiri, tidak
kooperatif, dan marah-marah
 Klien terlihat Saat berbicara nada bicara
tinggi, cepat, mata memerah, sering
mengeluarkan nada ancaman terhadap
suaminya.
 Klien tertlihat ingin selalu diikuti
keiinginannya, memerintah teman sekamar
untuk melakukan kegiatan ruangan dan marah
jika tidak sesuai dengan perintahnya.

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

Nama Klien : …………………… DX Medis : …………………..

No CM : …………………… Ruangan : …………………..

No Dx Perencanaan

Dx Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

Perilaku TUM: …………..


Kekerasan …………………. 1. Bina hubungan saling
percaya dengan:
…………………. 1. Setelah … X pertemuan klien
a. Beri salam setiap
menunjukkan tanda-tanda
berinteraksi.
percaya kepada perawat:

19
o Wajah cerah, tersenyum b. Perkenalkan nama,
o Mau berkenalan nama panggilan
TUK: o Ada kontak mata perawat dan tujuan
o Bersedia menceritakan perawat
1. Klien dapat peraan berinteraksi
membina c. Tanyakan dan
hubungan panggil nama
saling percaya kesukaan klien
d. Tunjukkan sikap
empati, jujur dan
menepati janji
setiap kali
berinteraksi
e. Tanyakan perasaan
klien dan masalah
yang dihadapi klien
f. Buat kontrak
interaksi yang jelas
g. Dengarkan dengan
penuh perhatian
ungkapan perasaan
klien.

2. Klien dapat 2. Setelah … X pertemuan klien 2. Bantu klien


menceritakan penyebab perilaku mengungkapkan
mengidentifikasi
kekerasan yang dilakukannya: perasaan marahnya:
penyebab perilaku a. Motivasi klien untuk
Menceritakan penyebab perasaan menceritakan
kekerasan yang
penyebab rasa kesal
dilakukannya jengkel/kesal baik dari diri sendiri atau jengkelnya
maupun lingkungannya b. Dengarkan tanpa
menyela atau
memberi penilaian
setiap ungkapan
perasaan klien

3. Klien dapat 3. Setelah … X pertemuan klien 3. Bantu klien


mengidentifikasi menceritakan tanda-tanda saat mengungkapkan tanda-
terjadi perilaku kekerasan tanda perilaku
tanda-tanda
kekerasan yang
perilaku kekerasan o Tanda fisik : mata merah,
dialaminya:
tangan mengepal, ekspresi
tegang, dan lain-lain. a. Motivasi klien
o Tanda emosional : perasaan menceritakan
marah, jengkel, bicara kasar. kondisi fisik (tanda-
o Tanda sosial : bermusuhan tanda fisik) saat

20
yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan
perilaku kekerasan. terjadi
b. Motivasi klien
menceritakan
kondisi emosinya
(tanda-tanda
emosional) saat
terjadi perilaku
kekerasan
c. Motivasi klien
menceritakan
kondisi hubungan
dengan orang lain
(tanda-tanda sosial)
saat terjadi perilaku
kekerasan

4. Klien dapat 4. Setelah … X pertemuan klien 4. Diskusikan dengan klien


mengidentifikasi menjelaskan: perilaku kekerasan yang
dilakukannya selama ini:
jenis perilaku o Jenis-jenis ekspresi
kemarahan yang selama ini a. Motivasi klien
kekerasan yang
telah dilakukannya menceritakan jenis-
pernah o Perasaannya saat jenis tindak
melakukan kekerasan kekerasan yang
dilakukannya
selama ini pernah
dilakukannya.
b. Motivasi klien
menceritakan
perasaan klien
setelah tindak
kekerasan tersebut
terjadi
c. Diskusikan apakah
dengan tindak
kekerasan yang
dilakukannya
masalah yang
dialami teratasi.

21
5. Klien dapat 5. Setelah … X pertemuan klien 5. Diskusikan dengan klien
mengidentifikasi menjelaskan akibat tindak akibat negatif (kerugian)
kekerasan yang dilakukannya cara yang dilakukan
akibat perilaku
pada:
kekerasan o Diri sendiri : luka, dijauhi
teman, dll a. Diri sendiri
o Orang lain/keluarga : luka, b. Orang lain/keluarga
tersinggung, ketakutan, dll Lingkungan
o Lingkungan : barang atau
benda rusak dll

6. Klien dapat 6. Setelah … X pertemuan klien : 6. Diskusikan dengan klien:


mengidentifikasi o Menjelaskan cara-cara sehat a. Apakah klien mau
cara konstruktif mengungkapkan marah mempelajari cara
baru
dalam mengungkapkan
mengungkapkan marah yang sehat
b. Jelaskan berbagai
kemarahan alternatif pilihan
untuk
mengungkapkan
marah selain
perilaku kekerasan
yang diketahui
klien.
c. Jelaskan cara-cara
sehat untuk
mengungkapkan
marah:
1) Cara fisik: nafas
dalam, pukul
bantal atau
kasur, olah raga.
2) Verbal:
mengungkapkan
bahwa dirinya
sedang kesal
kepada orang
lain.
3) Sosial: latihan
asertif dengan
orang lain.
4) Spiritual:
sembahyang/do
a, zikir, meditasi,
dsb sesuai

22
keyakinan
agamanya
masing-masing

7. Klien dapat 7. Setelah … X pertemuan klien 7. 1. Diskusikan cara yang


mendemonstras memperagakan cara mengontrol mungkin dipilih dan
ikan cara perilaku kekerasan: anjurkan klien
mengontrol memilih cara yang
perilaku o Fisik: tarik nafas dalam, mungkin untuk
memukul bantal/kasur
kekerasan mengungkapkan
o Verbal: mengungkapkan
perasaan kesal/jengkel pada kemarahan.
orang lain tanpa menyakiti
o Spiritual: zikir/doa, meditasi 7.2. Latih klien
sesuai agamanya memperagakan cara
yang dipilih:

a. Peragakan cara
melaksanakan cara
yang dipilih.
b. Jelaskan manfaat
cara tersebut
c. Anjurkan klien
menirukan
peragaan yang
sudah dilakukan.
d. Beri penguatan
pada klien, perbaiki
cara yang masih
belum sempurna
7.3. Anjurkan klien
menggunakan cara
yang sudah dilatih
saat marah/jengkel

8. Klien mendapat 8. Setelah … X pertemuan keluarga: 8.1. Diskusikan pentingnya


dukungan peran serta keluarga
keluarga untuk o Menjelaskan cara merawat sebagai pendukung
klien dengan perilaku
mengontrol klien untuk mengatasi
kekerasan
perilaku o Mengungkapkan rasa puas perilaku kekerasan.
kekerasan dalam merawat klien
8.2. Diskusikan potensi
keluarga untuk
membantu klien
mengatasi perilaku

23
kekerasan

8.3. Jelaskan pengertian,


penyebab, akibat dan
cara merawat klien
perilaku kekerasan
yang dapat
dilaksanakan oleh
keluarga.

8.4. Peragakan cara


merawat klien
(menangani perilaku
kekerasan)

8.5. Beri kesempatan


keluarga untuk
memperagakan ulang

8.6. Beri pujian kepada


keluarga setelah
peragaan

8.7. Tanyakan perasaan


keluarga setelah
mencoba cara yang
dilatihkan

9. Klien 9.1. Setelah ...X pertemuan klien 9.1. Jelaskan manfaat


menggunakan menjelaskan: menggunakan obat
obat sesuai secara teratur dan
program yang o Manfaat minum obat kerugian jika tidak
o Kerugian tidak minum obat
telah ditetapkan menggunakan obat
o Nama obat
o Bentuk dan warna obat
9.2. Jelaskan kepada klien:
o Dosis yang diberikan
kepadanya a. Jenis obat (nama,
o Waktu pemakaian warna dan bentuk
o Cara pemakaian obat)
o Efek yang dirasakan b. Dosis yang tepat
9.2. Setelah … X pertemuan klien untuk klien
menggunakan obat sesuai c. Waktu pemakaian
program d. Cara pemakaian
e. Efek yang akan
dirasakan klien

24
9.3. Anjurkan klien:

a. Minta dan
menggunakan obat
tepat waktu
b. Lapor ke
perawat/dokter jika
mengalami efek
yang tidak biasa
c. Beri pujian
terhadap
kedisiplinan klien
menggunakan obat
.

8. Penatalaksanaan medis

Psikofarmakologi

a. Antipsychotic (berkenaan dengan saraf)


Obat antipsikotik bekerja dengan memengaruhi neurotransmitter dopamin dan
serotonin di dalam otak, sehingga obat ini dapat membantu meringankan gejala
skizofrenia. Obat antipsikotik ini akan membuat penderita lebih tenang dan mengurangi
imajinasi.
Antipsikotik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu antipsikotik generasi pertama dan
generasi kedua.
Obat antipsikotik generasi pertama memiliki efek samping yang memengaruhi saraf
(neurologis), seperti kejang otot, kedutan, serta gemetar. Meski obat antipsikotik kedua
sering diresepkan karena minim efek samping, antipsikotik generasi pertama umumnya
lebih murah. Terutama pada versi generik, yang dapat menjadi pertimbangan penting
untuk pengobatan jangka panjang namun memiliki efek samping seperti gemetar, kedutan
dan kejang otot. Beberapa obat skizofrenia antipsikotik generasi pertama meliputi:
 Chlorpromazine
 Fluphenazine
 Haloperidol
 Perphenazine

25
Antipsikotik generasi kedua umumnya lebih sering diresepkan dokter karena
memiliki risiko efek samping yang lebih rendah daripadai antipsikotik generasi pertama.
Obat skizofrenia antipsikotik generasi kedua meliputi:
 Aripiprazole (Abilify)
 Asenapine (Saphris)
 Brexpiprazole (Rexulti)
 Cariprazine (Vraylar)
 Clozapine (Clozaril)
 Iloperidone (Fanapt)
 Lurasidone (Latuda)
 Olanzapine (Zyprexa)
 Paliperidone (Invega)
 Quetiapine (Seroquel)
 Risperidone (Risperdal)
 Ziprasidone (Geodon)

b. Anti-anxiety drugs ( obat untuk mengurangi rasa cemas)


Anti-anxiety agents adalah antidepresan terhadap sistem saraf pusat/ central
nervous system (CNS) dengan sedative-hypnotic properties. Obat obatan ini dapat
mengendalikan agitasi yang akut. Benzodiazepin seperti Lorazepam dan Clonazepam,
sering digunakan dalam kegawatdaruratan psikiatri untuk menenangkan perlawanan
klien. Tapi obat ini direkomendasikan untuk dalam waktu lama karena dapat
menyebabkan kebingungan dan ketergantungan Juga bisa memperburuk gejala depresi.
Selanjutnya pada beberapa klien yang mengalami efek dari Benzodiazepin dapat
mengakibatkan peningkatan perilaku agresif .
c. Antidepresan (obat untuk mengurangi depresi)
Penggunaan obat ini mampu mengontrol impulsif dan perilaku agresif klien yang
berkaitan dengan perubahaan mood. Amitripline dan Trazodone efektif untuk
menghilangkan agresifitas yang berhubungan dengan cedera kepala dan gangguan mental
organik (Keliat, dkk : 2005)

26
STRATEGI PELAKSAAN

Perilaku Pasien Keluarga


Kekerasan
SP I SP I
1. Mengidentifikasi penyebab PK 1. Mendiskusikan masalah yang
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala PK dirasakan keluarga dalam merawat
3. Mengidentifikasi PK yang dilakukan pasien
4. Mengidentifikasi akibat PK 2. Menjelaskan pengertian PK, tanda
5. Menyebutkan cara mengontrol PK dan gejala, serta proses terjadinya
6. Membantu pasien mempraktekkan latihan cara PK
mengontrol fisik I 3. Menjelaskan cara merawat pasien
7. Menganjurkan pasien memasukkan dalam dengan PK
kegiatan harian

SP II
SP II
1. Membantu keluarga membuat
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien jadual aktivitas di rumah termasuk
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan cara fisik minum obat (discharge planning)
II 2. Menjelaskan follow up pasien
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal setelah pulang
kegiatan harian

SP II
SP III
1. Melatih keluarga mempraktekkan
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien cara merawat pasien dengan PK
2. Melatih keluarga melakukan cara
2. Menjelaskan cara mengontrol PK dengan minum
merawat langsung kepada pasien
obat
PK
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian

SP IV

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien


2. Melatih pasien mengontrol PK dengan cara
verbal
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian

27
SP V

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien


2. Melatih pasien mengontrol PK dengan cara
spiritual
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian

Terapi Aktivitas Kelompok

Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain,
saling bergantung dan memiliki norma yang sama (Stuart & Laraia, 2001).

Anggota kelompok mungkin dating dari berbagai latar belakang yang harus
ditanganisesuai dengan keadaan-keadaannya, seperti agresif,ketakutan, kebencian,
berkompetitif,memiliki kesamaan,memiliki ketidaksamaan,kesukaan, dan ketertarikan yang sama
(Yalom, 1995 dalam Stuart & Laraia, 2001).

TUJUAN DAN FUNGSI KELOMPOK

Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta
mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. Kekuatan kelompok ada pada konstribusi
dari setiap anggota dan pemimpin dalam mencapai tujuannya.

Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama
lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Kelompok merupakan laboratorium tempat
mencoba dan mengembangkan perilaku yang adaptif.

28
KOMPONEN KELOMPOK

Kelompok terdiri dari delapan aspek,sebagai berikut (Stuart & Laraia, 2001)

1) Struktur Kelompok

Struktur kelompok menjelaskan batasan,komunikasi,proses pengambilan keputusan dan


hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu
pengaturan pola perilaku serta interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya
pemimpin dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil
secara bersama.

2) Besar Kelompok

Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar
antara 5-12 orang. Jumlah anggota kelompok kecil menurut Stuart dan Laraia (2001)
adalah 7-10 orang, menurut Lancester (1980) adalah 10-12 orang, sedangkan menurut
Rawlins, Williams, dan Beck (1993) adalah 5-10 orang.
3) Lamanya Sesi

Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit bagi kelompok yang baru (fungsi
kelompok yang masih rendah) dan 60-120 menit bagi kelompok yang sudah kohesif
(fungsi kelompok yang tinggi) (Stuart & Laraia, 2001). Biasanya dimulai dengan
pemanasan berupa orientasi, kemudian tahap kerja, dan finishing berupa terminasi.
Banyaknya sesi bergantung pada tujuan kelompok, dapat satu/dua kali per minggu; atau
dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.

4) Komunikasi

Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan
menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik
untuk memberi kesadaran kepada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi.
Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik
interpersonal,tingkat kompetisi dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta
melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan.

5) Peran Kelompok

29
Pemimpin perlu mengobservasi peran yang terjadi dalam kelompok. Ada tiga peran dan
fungsi kelompok yang ditampilkan anggota kelompok dalam kerja kelompok ( Beme &
Sheats, 1948 dalam stuart & laraia, 2001), yaitu maintance roles, yaitu peran serta aktif
dalam mempertahankan proses kelompok dan fungsi kelompok. Task roles, yaitu focus
pada penyelesaian tugas. Individual roles, yaitu peran yang ditampilkan anggota
kelompok secara khas (self-centered) dan kemungkinan terjadinya distraksi pada
kelompok.

6) Kekuatan Kelompok

Kekuatan (power) adalah kemampuan anggota kelompok dalam memengaruhi jalannya


kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan anggota kelompok yang bervariasi,
diperlukan kekuatan anggota kelompok yang bervariasi, diperlukan kajian siapa yang
paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok.

7) Norma Kelompok

Norma adalah standar perilaku yang ada dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku
kelompok pada masa yang akan dating dibuat berdasarkan pengalaman masa lalu dan saat
ini. Pemahaman tentang norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok. Kesesuaian perilaku anggota
kelompok dengan norma kelompok, penting dalam menerima anggota kelompok.
Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma dianggap pemberontak dan ditolak oleh
anggota kelompok lain.

8) Kekohesifan

Kekohesifan adalah kekuatan anggota kelompok bekerja sama dalam mencapai tujuan.
Hal ini memengaruhi anggota kelompok untuk tetap bertahan dalam kelompok. Apa yang
membuat anggota kelompok tertarik dan puas terhadap kelompok perlu diidentifikasikan
agar keberlangsungan (continuity) kehidupan kelompok dapat dipertahankan.

30
PERKEMBANGAN KELOMPOK

Kelompok sama dengan individu, memiliki kapasitas untuk bertumbuh dan berkembang.
Pemimpin akan mengembangkan kelompok melalui empat fase, yaitu: Fase pra-kelompok; fase
awal kelompok; fase kerja kelompok; fase terminasi kelompok.

1) Fase pra-kelompok
Fase pra-kelompok adalah saat sebelum individu klien dipertemukan dalam kelompok.
Hal penting yang harus diperhatikan ketika memulai kelompok adalah menetapkan tujuan
dari kelompok. Tujuan kelompok merupakan perubahan perilaku masing-masing anggota
kelompok yang ditetapkan sebagai hasil terapi aktivitas kelompok. Ketercapaian tujuan
sangat dipengaruhi oleh perilaku pimpinan dan pelaksanaan kegiatan kelompok untuk
mencapai tujuan tersebut. Untuk itu perlu disusun proposal atau panduan pelaksanaan
kegiatan kelompok.

2) Fase Awal Kelompok


Fase ini ditandai dengan ansietas pada masing-masing anggota karena masuk dalam
kelompok baru, dan mendapat peran yang baru. Yalom (1995) dalam Stuart dan Laraia
(2001) membagi fase ini menjadi tiga fase, yaitu orientasi,konflik,dan kohesif. Sementara
itu, Tukman (1965) dalam Stuart dan Laraia (2001) juga membaginya dalam tiga fase,
yaitu forming, storming, dan norming.

a. Tahap Orientasi
Tahap ini adalah tahap memulai pembentukan kelompok, klien dipertemukan
dalam satu kelompok, disebut juga sebagai fase forming. Pada tahap ini
pemimpin kelompok lebih aktif dalam memberi pengarahan. Pemimpin
kelompok mengorientasikan anggota pada tugas utama dan melakukan
kontrak yang terdiri dari tujuan,kerahasiaan,waktu
pertemuan,struktur,keajujuran, aturan komunikasi (misalnya hanya satu orang
yang berbicara pada satu waktu), norma perilaku,rasa memiliki,dan kohesif
antara anggota kelompok diupayakan terbentuk pada fase orientasi.

b. Tahap Konflik
Tahap konflik disebut juga fase storming yang ditandai dengan munculnya
konflik antar anggota kelompok, masing-masing memikirkan siapa yang lebih

31
dominan dan yang akan memimpin kelompok. Ciri khas masing-masing
anggota masih kental ditampilkan. Peran dependen dan dan independen terjadi
pada tahap ini, sebagian ingin pemimpin yang memutuskan dan sebagian
ingin pemimpin lebih mengarahkan, atau sebaliknya anggota ingin berperan
sebagai pemimpin.

c. Tahap Kohesif
Tahap ini disebut juga fase norming karena konflik berlalu dan anggota
kelompok telah merasa menyatu. Perasaan positif akan semakin sering
diungkapkan. Pada tahap ini, anggota kelompok merasa bebas membuka diri
tentang informasi dan lebih intim satu sama lain. Pemimpin tetap berupaya
memberdayakan kemampuan anggota kelompok dalam melakukan
penyelesaian masalah.

3) Fase Kerja Kelompok


Pada fase ini, kelompok sudah menjadi tim. Walaupun mereka bekerja keras, tetapi
menyenangkan bagi anggota dan pemimpin kelompok. Kelompok menjadi stabil dan
realistis.
4) Fase Terminasi
Terminasi dapat sementara (temporal) atau akhir. Terminasi sementara adalah terminasi
yang dilakukan untuk mengakhiri satu sesi TAK, yaitu ketika ada sesi TAK berikutnya
yang akan dilaksanakan. Terminasi akhir adalah terminasi di sesi terakhir TAK ketika
TAK tidak dilanjutkan lagi karena alasan lain, misalnya karena anggota kelompok atau
pemimpin kelompok keluar dari kelompok.
Pada fase terminasi terapis (leader) melakukan evaluasi. Evaluasi umumnya difokuskan
pada jumlah pencapaian (perubahan perilaku) baik kelompok mau pun individu.

JENIS TERAPI KELOMPOK

Terapi Kelompok

Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu
tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tententu. Fokus terapi kelompok adalah
meningkatkan kesadaran diri (self-awereness), meningkatkan hubungan interpersonal, membuat
perubahan, atau ketiga-tiganya.

32
Kelompok Terapeutik

Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik kritis,


memfasilitasi tumbuh kembang, atau meningkatkan penyesuaian sosial, (misalnya, kelompok
wanita hamil yang akan menjadi ibu, individu yang kehilangan, dan penyakit terminal). Banyak
kelompok terapeutik yang dikembangkan menjadi self-hel-group. Tujuan dari kelompok ini
adalah sebagai berikut:

1. Mencegah masalah kesehatan


2. Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
3. Meningkatkan kualitas kelompok. Antara anggota kelompok saling membantu dalam
menyelesaikan masalah.

Terapi Aktivitas Kelompok

Terapi Aktivitas Kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu, stimulasi persepsi,
stimulasi sensori,orientasi realita, dan sosialisasi. Terapi ini sering dipakai sebagai terapi
tambahan.

Tabel 1-2 Tujuan, tipe, dan aktivitas dari terapi aktivitas kelompok

Tujuan Tipe Aktivitas


Mengembangkan stimulasi Bibliotherapy Menggunakan artikel, buku,
persepsi sajak, puisi untuk merangsang
berpikir dan mengembangkan
hubungan dengan orang lain.
Mengembangkan stimulasi Musik, seni, menari Menyediakan kegiatan
sensori Relaksasi mengekspresikan perasaan.
Belajar Teknik relaksasi nafas
dalam, relaksasi otot, dan
imajinasi.
Mengembangkan orientasi Kelompok orientasi realitas, Fokus pada orientasi waktu,
realitas kelompok validasi tempat, dan orang; benar dan
salah; bantu memenuhi
kebutuhan.
Mengembangkan sosialisasi Kelompok remotivasi Mengorientasikan diri dan
Kelompok mengingatkan regresi pada klien menarik
realitas dalam berinteraksi
atau sosialisasi
Fokus pada mengingat.

33
Mengembangkan stimulasi Musik, seni, menari Menyediakan kegiatan
sensori Relaksasi mengekspresikan perasaan.
Belajar Teknik relaksasi nafas
dalam, relaksasi otot, dan
imajinasi.

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi
kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas kelompok realita,
dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi.

1. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif/Persepsi

TAK Stimulasi Persepsi dilaksanakan dengan melatih klien mempersiapkan


stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien
dievaluasi dan di tingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini, diharapkan respons klien
terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif.

Aktivitas yang dilaksanakan berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang


diadakan antara lain: membaca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara tv
(merupakan stimulus yang disediakan); stimulus dari pengalaman masa lalu yang
menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptif atau destruktif, misalnya
kemarahan,kebencian,putus hubungan,pandangan negative pada orang lain, dan
halusinasi.

2. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensoris

TAK stimulasi sensori adalah TAK yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus
pada sensoris klien. Tahap berikutnya adalah mengobservasi reaksi sensoris klien
terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara nonverbal (ekspresi
wajah, gerakan tubuh).

3. Terapi Aktivitas kelompok orientasi Realitas

Dalam TAK Orientasi Realitas klien diorientasikan pada kenyataan yang ada di
sekitar klien, yaitu diri sendiri, orang lain yang ada di sekeliling klien atau orang yang
dekat dengan klien, dan lingkungan yang pernah mempunyai hubungan dengan klien.

4. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi

TAK sosialisasi dilaksanakan dengan membantu klien melakukan sosialisasi


dengan individu yang ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara

34
bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok,dan massa. Aktivitas dapat berupa
latihan sosialisasi dalam kelompok.

TAK Stimulasi Persepsi: Prilaku Pekerasan

Sesi 1 : Mencegah Prilaku Kekerasan Fisik

A. Tujuan
1. Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat di lakukan
2. Klien dapat menyebutkan menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah prilaku
kekerasan
3. Klien dapat mendemontrasikan dua kegiatan fisik yang dapat di lakukan

B. Setting
1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran dan saling berhadapan
2. Ruangan yang nyaman dan tenang
3. waktu dan tempat

C. Alat
1. Papan tulis/flipchart/whiteboar
2. Kapur & buku catatan
3. Kasur/bantal/ gendang
4. Jadwal kegiatan klien

D. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/stimulasi

E. Langkah kegiatan

35
1) Persiapan
a. Mengingat kontrak dengan klien yang telah ikut sesin 1
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2) Orientasi
a. Salam terapeutik
o Salam dan terapis kepada klien
o Klien dan terapis (pakai papan nama)
b. Evaluasi validasi
o Menayakan perasaan klien saat ini
o Menayakan masalah yang di rasakan, apakah ada kejadian prilaku keekrasan:
penyebab tanda dan gejala prilaku kekerasan serta akibatnya
c. Kontrak
o Menjelaskan tujuan kegiatan , yaitu cara fisik untuk mencegah prilaku kekerasan
o Menjelaskan aturan main berikut:
 Jika ada yang ingin meninggalkan kelompok harus minta izin kepada
terapis
 Lama kegiatan 45 menit
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
d. Tahap kerja
o Mediskusikan kegiatan fisik yang biasa di lakukan oleh klien :
o Tanyakan kegiatan : rumah tangga, harian, dan olah raga yang biasa di lakukan
klien.
o Tuliskan di papan tulis
o Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat di gunakan untuk menyalurkan kemarahan
secara sehat : tarik nafas dalam, menjemur memukul bantal, menyikat kamar
mandi, main bola, senam, memukul bantal pasir tinju dan memukul gendang.
Tanyakan perasaan tiap klien saat terpapar oleh penyebab ( tanda dan gejala)
o Membantu klien memilih 2 kegiatan yang dapat di lakukan
o Bersama klien mempraktikkan 2 kegiatan yang di pilih

36
o Terapis mempraktikkan
o Klien melakukan demontrasi
o Menayakan perasaan klien setelah mempraktekkan cara menyalurkan kemarahan.
o Memberika pujian pada peran serta klien.
o Upayakan semua klien berperan aktif
e. Tahap terminasi
1. Evaluasi
 Terapis menayakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
 Menyakan ulang cara baru yang sehat mencegah prilaku keekrasan
2. Tindak lanjut
 Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah di pelajari jika stimulus
penyebab prilaku kekerasan.
 Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah di pelajari
 Memasukkan pada jadwal kegiatan perawat.
3. Kontrak yang akan datang
 Menyepakati belajar cara yang baru yang sehat untuk mencegah prilaku
kekerasan
 Menyepakati kontrak waktu dan tempat TAK berikutnya

Evaluasi dan Dokumentasi


Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK betlangsung , khususnya pada tahap kerja. Aspek yang di
evaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimualsi persepsi
prilaku kekerasan Sesi 2, kemampuan yang diharapkan adalah kemampuan mencegah prilaku
keekrasan secara fisik.

37
SESI TAK 2 : Stimulasi Persepsi Prilaku Kekerasan

Kemampuan mencegah prilaku kekerasan fisik

No Nama Klien Mempraktekkan cara fisik Mempraktekkan cara fisik yang


yang pertama kedua

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Petunjuk:

 Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolon nama klien
 Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan mengetahui penyebab prilaku
keekrasan, tanda dan gejala yang di rasakan, prilaku kekerasan yang di lakukan dan
akibat prilaku kekerasan. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien tidak mampu

Dokumentasi

Dokumentasi kemampuan yang di miliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap
klien : contoh klien mengikuti sesi 2, TAK stimulasi persepsi prilaku kekerasan . klien mampu
mempraktekkan tarik nafas dalam , terapi belum mampu mempraktikkan pukul kasur atau bantal.
Anjurkan klien untuk mempraktekkan di ruang rawat ( buat jadwal kegiatan).

38
SESI TAK 3 : Mencegah perilaku kekerasan Sosial

A. Tujuan

1. Klien dapat mengungkapkan keinginan dan permintaan tanpa memaksa


2. Klien dapat mengungkapkan penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan

B. Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang

C. Alat
1. Papan tulis/flipchart/whiteboard dan alat tulis
2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien
·
D. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran / simulasi
·

F. Langkah kegiatan

1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi 2
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien
2. Klien dan terapis pakai papan nama
b. Evaluasi /Validasi
1. Menanyakan perasaan klien saat ini
2. Menanyakan apakah ada penyebab marah,tanda dan gejala marah, serta
perilaku kekerasan
3. Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
sudah dilakukan

39
c. Kontrak
1. Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku
kekerasan
2. Menjelaskan aturan main berikut:
o Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
o Lama kegiatan 45 menit.
o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
o Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari orang
lain.
o Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.
o Terapis mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan yaitu,”
Saya perlu/ingin/minta...., yang akan saya gunakan untuk....”.
o Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin
c.
o Ulangi d sampai semua klien mencoba.
o Memberikan pujian pada peran serta klien.
o Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan rasa sakit hati pada
orang lain, yaitu,”Saya tidak dapt melakukan...”atau”Saya tidak menerima
dikatakan .....”atau” Saya kesal dikatakan seperti...”.
o Memilih dua orang klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada poin
d.
o Ulangi h sampai semua klien mencoba.
o Memberikan pujian pada peran serta klien.

4. Tahap terminasi

a. Evaluasi
 Terapis menanyakan perasaan klien setelah melakukan TAK.
 Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari.
 Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.

b. Tindak lanjut
 Menganjurkan klien menggunakn kegiatan fisik dan interaksi sosial yang
asertif, jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
 Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif
secara teratur.
 Memasukkan interaksi sosial yang asertif pada jadwal kegiatan harian
pasien.

40
c. Kontrak yang akan datang
 Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu kegiatan ibadah.
 Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi

Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses Tak berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi perilaku kekerasan sesi 3, kemampuan klien yang diharapkan adalah mencegah
perilaku kekerasan secara sosial.

Stimulasi persepsi perilaku kekerasan


Kemampuan mencegah perilaku kekerasan social

Memperagakan Memperagakan Mamperagakan cara


No Nama Klien cara meminta cara menolak mengungkapkan
tanpa paksa yang baik kekerasan yang baik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan
perilaku kekerasan secara social : meminta tanpa paksa, menolak dengan baik,
mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri tanda (√) jika klien mampu dan
tanda (х) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti Sesi 3 TAK stimulasi persepsi perilaku

41
kekerasan. Klien mampu memperagakan cara meminta tanpa paksa, menolak dengan baik dan
mengungkapkan kekerasan. Anjurkan klien mempraktikkan di ruang rawat (buat jadwal).

SESI TAK : Mencegah Perilaku Kekerasan spiritual

A. Tujuan
1. Klien dapat melakukan kegiatan ibadah secara teratur.

B. Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.
C. Alat
1. Papan tulis/ flipchart/whiteboard dan alat tulis
2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien

D. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab
3. Bermain peran/ stimulasi

E. Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi.
b. Menyiapkan alat dan tempat.

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada klien
o Klien dan terapis pakai papan nama

b. Evaluasi/ validasi
o Menanyakan perasaan klien saat ini.
o Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah,
serta perilaku kekerasan.
o Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk
mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.

c. Kontrak
o Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah
perilaku kekerasan

42
o Menjelaskan aturan main berikut:
 Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus meminta
izin kepada terapis.
 Lama kegiatan 45 menit.
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja
a. Menanyakan agama dan kepercayaan masing-masing klien.
b. Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing-masing
klien.
c. Menuliskan kegiatan ibadah masing-masing klien.
d. Meminta klien untuk memilih satu kegiatan ibadah.
e. Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih.
f. Memberikan pujian pada penampilan klien.
4. Tahap terminasi

a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari.
3. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.

b. Tindak lanjut
1. Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial yang
asertif, dan kegiatan ibadah jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi.
2. Menganjurkan klien melatih kegiatan fisik, interaksi sosial yang asertif,
dan kegiatan ibadah secara teratur.
3. Memasukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan harian klien.

c. Kontrak yang akan datang


1. Menyepakati untuk balajar cara baru yang lain, yaitu minum obat
teratur.
2. Menyepakati waktu dan tempat pertemuan berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi


Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi
perilaku kekerasan Sesi 4, kemampuan klien yang diharapkan adalah perilaku 2 kegiatan ibadah
untuk mencegah kekerasan. Formulir evaluasi sebagai berikut.

43
Stimulasi persepsi perilaku kekerasan
Kemampuan mencegah perilaku kekerasan spiritual

Mempraktikkan kegiatan Mempraktikkan kegiatan


No Nama klien
ibadah pertama ibadah kedua
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan
perilaku kekerasan secara social : meminta tanpa paksa, menolak dengan baik,
mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri tanda (√) jika klien mampu dan
tanda (х) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan
tiap klien. Contoh : klien mengikuti Sesi 4, TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien
mampu memperagakan dua cara ibadah. Anjurkan klien melakukannya secara teratur di ruangan
(buat jadwal).

SESI TAK 5: Mencegah Perilaku Kekerasan Dengan Patuh Mengonsumsi Obat

A. Tujuan

1. Klien dapat menyebutkan keuntungan patuh minum obat


2. Klien dapat menyebutkan akibat/ kerugian tidak patuh minum obat
3. Klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat

B. Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.

44
C. Alat
1. Papan tulis/ flipchart/whiteboard dan alat tulis
2. Buku catatan dan pulpen
3. Jadwal kegiatan klien
4. Beberapa contoh obat

D. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan tanya jawab

E. Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah ikut sesi.
b. menyiapkan alat dan tempat

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
o Salam dari terapis kepada klien
o Klien dan terapis pakai papan nama

b. Evaluasi/ validasi
o Menanyakan perasaan klien saat ini.
o Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah,
serta perilaku kekerasan.
o Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk
mencegah perilaku kekerasan sudah dilakukan.

c. Kontrak
o Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu petuh minum obat untuk mencegah
perilaku kekerasan
o Menjelaskan aturan main berikut:
 Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok, harus
meminta izin kepada terapis.
 Lama kegiatan 45 menit.
 Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap kerja

45
o Mendiskusikan macam obat yang dimakan klien : nama dan warna
(upayakan tiap klien menyampaikan).
o Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien.
o Tuliskan di whiteboard hasil a dan b.
o Menjelaskan lima benar minum obat, yaitu benar obat, benar waktu minum
obat, benar orang yang minum obat, benar cara minum obat, benar dosis
obat.
o Minta klien menyebutkan lima benar cara minum obat secara bergiliran.
o Berikan pujian pada klien yang benar.
o Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat(catat diwhiteboard).
o Mendiskusikan perasaan klien setelah teratur minum obat (catat
di whiteboard).
o Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yaitu salah satu cara mencegah
perilaku kekerasan/ kambuh.
o Menjelaskan akibat/ kerugian jika tidak patuh minum obat, yaitu kejadian
perilaku kekerasan/ kambuh.
o Minta klien menyebutkaa kembali keuntungan patuh minum obat dan
kerugian tidak patuh minum obat.
o Memberikan pujian setiap kali klien benar.
o

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari.
3. Memberikan pujian dan penghargaan atas jawaban yang benar.

b. Tindak lanjut
1.Menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik, interaksi sosial asertif
kegiatan ibadah, dan patuh minum obat untuk mencegah perilaku kekerasan.
2.Memasukkan minum obat pada jadwal kegiatan harian klien.

c. Kontrak yang akan datang


Mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku kekerasan dan disepakati jika
klien perlu TAK yang lain.

Evaluasi dan Dokumentasi


Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi
persepsi perilaku kekerasan sesi 5, kemampuan yang diharapkan adalah mengetahui lima benar

46
cara minum obat, keuntungan minum obat, dan akibat tidak patuh minum obat. Formulir evaluasi
sebagai berikut.

Stimulasi persepsi perilaku kekerasan


Kemampuan mencegah perilaku kekerasan
dengan patuh minum obat

Menyebutkan Menyabutkan Menyebutkan


No Nama klien lima benar keuntungan minum akibat tidak patuh
minum obat obat minum obat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk tiap klien, beri penilaian akan kemampuan mempraktikkan pencegahan
perilaku kekerasan secara sosial: meminta tanpa paksa, menolak dengan baik,
mengungkapkan kekesalan dengan baik. Beri tanda (√) jika klien mampu dan
tanda (х) jika klien tidak mampu.

Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien pada catatan proses keperawatan tiap klien.
Contoh : klien mengikuti Sesi 5, TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan. Klien mampu
menyebutkan keuntungan minum obat, belum dapat menyebutkan keuntungan minum obat dan
akibat tidak minum obat. Anjurkan klien mempraktikkan lima benar cara minum obat, bantu
klien merasakan keuntungan minum obat, dan akibat tidak minum obat.

47
ANALISIS JURNAL

JURNAL 1

Judul : Penurunan Perilaku Kekerasan pada Klien Skizoprenia dengan Assertiveness


Training (AT)
Penulis : Dyah wahyuningsih, Budi anna keliat, Sutanto Priyo Hastono
Tahun : 2016

Latar Belakang :

Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku agresi atau kekerasan yang
ditunjukkan secara verbal, fisik atau keduanya kepada suatu objek, orang atau diri sendiri yang
mengarah pada potensial untuk destruktif atau secara aktif menyebabkan kesakitan, bahaya dan
penderitaan (Djatmiko, 2008; Bernstein & Saladino , 2007).

Strategi preventif untuk mencegah terjadi perilaku kekerasan berupa peningkatan


kesadaran diri perawat, edukasi klien, dan Assertiveness Training (Stuart & Laraia, 2005).
Assertiveness Training adalah salah satu terapi spesialis melatih kemampuan komunikasi
interpersonal dalam berbagai situasi (Stuart & Laraia, 2005).

Penelitian oleh Vinick (1983), menyatakan bahwa pemberian assertiveness training


berpengaruh menurunkan perilaku agresif, sehingga perilaku asertif meningkat. Terapi generalis
yang dilakukan menggunakan pendekatan Nursing Intervention Criteria (NIC), namun belum
dilakukan secara optimal. Setelah fase krisis terlewati dilakukan Terapi Aktifitas Kelompok
(TAK). Terapi spesialis belum diterap- kan, termasuk terapi asertif (komunikasi personal dengan
perawat ruang psikiatri).

48
Tujuan :

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan perilaku kekerasan pada klien
skizoprenia sebelum dan sesudah diberikan per lakuan berupa Assertiveness Training.

Metode Penelitian :

Desain penelitian ini kuasi eksperimen pre post tes with control group. Sampel sebesar
72, diambil secara random sampling. Perilaku kekerasan meliputi respon perilaku, sosial dan
fisik diukur melalui observasi, serta kognitif dengan kuesioner. Perbedaan perilaku kekerasan
dianalisis dengan t test.

Hasil Penelitian :

Hasil penelitian menunjukkan perilaku kekerasan pada respon perilaku, kognitif, sosial
dan fisik pada kelompok yang mendapatkan Assertiveness Training dan terapi generalis menurun
secara bermakna (p= 0,00, α= 0,05). Assertiveness Training terbukti menurunkan perilaku
kekerasan klien Skizoprenia.

JURNAL 2

Judul Penelitian: Studi Fenomenologi : Strategi Pelaksanaan Yang Efektif untuk Mengontrol
Perilaku Kekerasan Menurut Pasien di Ruang Rawat Inap Laki-Laki

Penulis : Sujarwo, Livana PH


Tahun : 2018

Latar Belakang :

Salah satu gangguan jiwa yang menjadi penyebab penderita dibawa ke rumah sakit
adalah perilaku kekerasan. Peilaku kekerasan (PK) adalah suatu bentuk perilaku agresi atau
kekerasan yang ditunjukkan secara verbal, fisik, atau keduanyakepada suatu subyek, orang atau
diri sendiri yang mengarah pada potensial untuk destruktif atau secara aktif menyebabkan
kesakitan, bahaya, dan penderitaan (Bernstein & Saladino, 2007).

Masalah yang sering muncul pada klien gangguan jiwa khususnya dengan kasus perilaku
kekerasan salah satunya adalah tindakan marah. Tindakan yang dilakukan perawat dalam
mengurangi resiko perilaku kekerasan salah satunya adalah dengan menggunakan strategi
pelaksanaan (SP). SP merupakan pendekatan yang bersifat membina hubungan saling percaya
antara klien dengan perawat, dan dampak apabila tidak diberikan SP akan membahayakan diri
sendiri maupun lingkungannya.

49
Tujuan :

Metode Penelitian :

Hasil Penelitian :

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Risiko perilaku kekerasan merupakan perilaku seseorang yang menunjukkan


bahwa ia dapat membahayakanVdiri sendiri atau orang lain atau lingkungan, baik secara
fisik, emosional seksual, dan. Risiko perilaku kekerasan terbagi menjadi dua, yaitu risiko
perilaku kekerasan terhadap diri sendiri (risk for self-directed violence) dan risiko
perilaku kekerasan terhadap orang lain (risk for other-directed violence). Perilaku
kekerasan mengacu pada dua bentuk, yaitu perilaku kekerasan saat sedang berlangsung
atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan).

Perilaku kekerasan didefinisikan sebagai bagian dari rentang respons marah yang
paling maladaptif, yaitu amuk. Amuk merupakan respons kemarahan yang paling
maladaptif yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan
merupakan bentuk perilaku destruktif yang tidak dapat dikontrol .

50
51
52