Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting.
Khususnya di negara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah tersebut
adalah antimikroba antara lain antibakteri/antibiotik, antijamur, antivirus, antiprotozoal. Antibiotik
merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan beberapa akibat yaitu terjadinya
resistensi kuman atau bakteri (Dewi, 2018).
Kesalahpahaman masyarakat dalam penggunaan antibiotik berpotensi dapat menyebabkan
pengobatan menjadi tidak tepat, dimana orang – orang percaya antibiotik sebagai “obat yang luar
biasa” atau “obat kuat” yang mampu mencegah dan menyembuhkan setiap gejala maupun
penyakit. Pengetahuan dan keyakinan merupakan faktor yang berhubungan dapat mempengaruhi
perilaku penggunaan antibiotik tiap individu (Syahputra, 2018).
Contoh penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah saat antibiotik memang diperlukan,
tetapi dipakai secara tidak tepat. Misalnya, kita menghentikan pemakaian antibiotik saat merasa
penyakit sudah membaik tanpa menghabiskannya sesuai anjuran dokter. Bisa juga kita membeli
antibiotik sendiri tanpa resep dokter (over the counter/otc), meminum antibiotik dengan dosis
yang tidak tepat, menyimpan antibiotik untuk persediaan bila sakit, atau memakai resep orang lain
untuk membeli antibiotik tanpa konsultasi dengan dokter (Meilani et al.,2019).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 menyampaikan berdasarkan survet
global mengenai resisten antimikroba menunjukkan bahwa resisten tidak lagi menjadi prediksi
untuk masa depan namun itu terjadi sekarang. WHO menyampaikan kini dunia sedang menuju
Era-Pasca-Antibiotik, resisten antibiotik dapat menyebabkan biaya kesehatan lebih tinggi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


No.2406/MENKES/PER/XII/2011 tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik dinyatakan
bahwa intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan
dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resisten bakteri terhadap antibiotik.
Selain memberi dampak terhadap mortalitas dan mobilitas, juga memberikan dampak negatif
terhadap ekonomi social yang sangat tinggi. Fenomena yang terjadi dimasyarakat saat ini menjadi
sorotan hangat mengenai antibiotik. Namun, pada kenyataannya antibiotik seringkali digunakan
tanpa resep dokter. Banyak dampak dan efek yang diberikan jika menggunakan antibiotik secara
bebas atau tanpa melalui resep dokter, salah satunya adalah terjadi resisten terhadap antibiotik.
Suatu kemampuan bakteri dalam menetralisir dan melemahkan daya kerja antibiotik disebut
dengan resisten. Pada awalnya kejadian resisten terjadi di tingkat rumah sakit, lambat laun juga di
lingkungan masyarakat, khususnya Streptococcus pneumonia (SP), Staphylococcus aureus, dan
Escherichia coli. Salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan antibiotik adalah tingkat
pengetahuan individu itu sendiri mengenai antibiotik.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.08 Tahun 2015 tentang
Program Pengendalian Resisten Antimikroba di Rumah Sakit menyebutkan Resisten antimikroba
adalah kemampuan mikroba untuk bertahan hidup terhadap efek antimikroba sehingga tidak
efektif dalam penggunaannya.
Berdasarkan RISKESDAS pada tahun 2013 oleh badan Penelitian dan pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan persentase sebesar 86,1%
rumah tangga yang menyimpan antibiotik tanpa resep dokter. Dimana rumah tangga yang
mendapatkan antibiotik sumber utamanya adalah dari apotek dan toko obat atau warung dengan
persentase 27,2%. Berdasarkan tempat tinggal, persentase rumah tangga yang memperoleh obat di
apotek lebih tinggi diperkotaan, akan tetapi sebaliknya persentase rumah tangga yang memperoleh
obat di toko obat atau warung lebih tinggi dipedesaan.
Masyarakat dapat dengan mudah memperoleh antibiotik tanpa harus dengan resep dokter,
dengan membeli ditoko obat atau warung. Antibiotik juga sering digunakan sebagai obat untuk
mengobati sakit yang seharusnya tidak memerlukan antibiotik. Dari latar belakang diatas maka
dalam upaya peningkatan taraf kesehatan masyarakat peneliti bekeinginan untuk melakukan
penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Masyarakat Kelurahan Kereng Bangkirai Terhadap
Penggunaan Antibiotik”.