Anda di halaman 1dari 10

FARMAKOKINETIK KLINIK

(ABSORPSI ORAL)

KelompokV :
Marselina 5417221087

Kelas :A
Dosen : Drs. AgusPurwanggana, M. Si,Apt.

UNIVERSITAS PANCASILA
PROGRAM MAGISTER ILMU KEFARMASIAN
JAKARTA
2018
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB III. PEMBAHASAN

BAB IV. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Nb:

BAB III. PEMBAHASAN masukkancontohsoalsajaya…..


BAB I
PENDAHULUAN

Pola pengontrolan kualitas dan pemakaian klinik obat dipengaruhi oleh suatu
disiplin ilmu yang mempelajari nasib obat dalam tubuh. Disiplin ilmu tersebut dikenal
dengan nama farmakokinetika (pharmacon (Yunani) berarti obat atau racun dan
kinetics berarti bergerak). Jadi farmakokinetika adalah ilmu yang mempelajari
kinetika obat, dalam hal ini berarti kinetika obat dalam tubuh. Proses-proses yang
akan menentukan kinetika obat dalam tubuh meliputi proses absorpsi, distribusi,
metabolisme, dan ekskresi. Untuk memahami kinetika obat dalam tubuh tidak cukup
hanya dengan menentukan dan mengetahui perkembangan kadar ataujumlah senyawa
asalnya saja, tetapi juga meliputi metabolitnya.
Pada pemberian obat secara ekstravaskular (oral, rektal,dan lain-lain), obat
akan masuk ke dalam sistem peredaran darah secara perlahan melalui suatu proses
absorpsi sampai mencapai konsentrasi puncaknya, kemudian akan menurun. Setelah
obat masuk dalam sirkulasi sistemik, obat akan didistribusikan, lalu sebagian akan
terikat dengan protein plasma dan sebagian dalam bentuk bebas. Obat bebas
selanjutnya didistribusikan sampai di tempat kerjanya dan akan menimbulkan efek.
Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi obat diekskresikan dari dalam tubuh
melalui organ-organ ekskresi terutama ginjal. Seluruh proses yang meliputi absorpsi,
distribusi, metabolisme dan ekskresid isebut proses farmakokinetik.
Obat-obat yang kinetiknya diterangkan dengan model 1 kompartemen terbuka
dengan proses absorpsi dan eliminasi mengikuti orde-pertama setelah pemberian
ekstravaskuler jumlahnya cukup banyak, misalnya bentuk sediaan oral (maka obat
harus melewati dinding usus dan lambung) dan asumsi lain ; obat diabsorbsi secara
sempurna, kecepatan absorbsi jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan eliminasi,
distribusi ke kompartemen jaringan dan ke seluruh tubuh menjadi secara cepat.
Parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara matematis
dari model yang berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh atau metabolitnya
dalam darah, urin atau cairan hayati lainnya. Parameter farmakokinetika suatu obat ini
dapat digunakan untuk memperoleh gambaran dan mempelajari suatu kinetika
absorpsi, distribusi dan eliminasi di dalamtubuh.
Parameter farmakokinetika diantaranya adalah tetapan laju absorbsi (Ka),
tetapan laju distribusi (α), tetapan laju eliminasi (β), waktu paruh distribusi (T ½ α),
waktu paruh eliminasi(T ½ β), area under curve (AUC), volume distribusi (Vd),
fraksi obat terabsorbsi atau bioavailabilita sabsolut (F), waktu maksimal (t-max) dan
konsentrasi plasma maksimum (Cp max).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Farmakokinetika Absorpsi Obat

Absorpsi obat sistemik dari saluran cerna atau berbagai site ekstravaskuler lain
bergantung pada (1) sifat fisika kimia obat, (2) bentuk sediaan yang digunakan, (3)
anatomi dan fisiologi dari site absorpsi. Dalam farmakokinetika, keseluruhan laju
absorpsi mengikuti order kesatu, kecuali apabila anggapan absorpsi order nol
memperbaiki model secara bermakna atau teruji dengan percobaan.

Model farmakokinetika kompartemen satu untuk absorpsi obat order nol dan
eliminasiobat order kesatu.

DGIk0 DB VD k

Ketika obat pada site absorpsi makin berkurang, laju absorpsi obat mendekati nol,
atau dDGI/dt = 0. Kurva kadar plasma-waktu (sekarang fase eliminasi) kemudian
hanya menyatakan eliminasi obat dari tubuh, biasanya suatu proses order kesatu.

𝑑𝐷𝐵
𝑑𝑡
= -kDB

B. Model Absorpsi Order Nol

Absorpsi obat order nol dari site pemberian kedalam plasma biasanya terjadi bila
obat diabsorpsi dengan suatu proses yang dapat jenuh atau digunakan suatu sistem
penghantaran pelepasan terkendali order nol.
Laju eliminasi order kesatu pada setiap waktu sama dengan DBk. Laju masukan obat
adalah k0. Oleh karena itu, perubahan per satuan waktu dalam tubuh dapat dinyatakan
sebagai.

𝑑𝐷𝐵
= K0 - kDB
𝑑𝑡

Integrasi persamaan ini dengan substitusi VDCP u ntuk DB menghasilkan.


𝑘0
Cp = (1 – e-kt)
𝑉𝐷𝑘

Laju absorpsi obat adalah tetap sampai jumlah obat dalam usus, DGI, habis.Waktu
untuk absorpsi sempurna sama dengan DGI/K0. Setelah waktu ini, obat tidak tersedia
lagi untuk diabsorpsi dari dinding usus, dan integrasi persamaan tidak lagi
berlaku.Akhirnya konsentrasi obat dalam plasma akan menurun menurut suatu proses
laju eliminasi order kesatu.

C. Model Absorpsi Order Kesatu

Absorpsi biasanya dianggap merupakan proses order kesatu. Model menganggap


suatu masukan melintasi dinding usus order kesatu dan eliminasi dari tubuh juga order
kesatu. Model ini menerapkana bsorpsi oral obat dalam larutan atau bentuk sediaan
melarut dengan cepat (pelepasan segera) seperti tablet, kapsul, dan supositoria. Di
samping itu obat-obat yang diberikan dengan injeksi aqueous im dan subkutan dengan
menggunakan proses order kesatu. Laju hilangnya obat dari saluran cerna
digambarkan oleh.
𝑑𝐷𝐺𝐼
= -kaDGIF
𝑑𝑡

Integrasi persamaan diferensial:


𝑑𝐷𝐺𝐼
= D0e-kat
𝑑𝑡

Kurva kadar plasma waktu untuk suatu obat yang diberikan dalam dosis oral tunggal.
Konsentrasi plasma maksimum setelah pendosisan oral adalah Cmaks dan waktu yang
diperlukan untuk mencapai konsentrasi maksimum adalah tmaks. tmaks tidak tergantung
dosis dan bergantung pada tetapan laju untuk absorpsi (ka) dan eliminasi (k). Pada
Cmaks, disebut konsentrasi puncak, laju absorpsi obat sama dengan laju eliminasi obat.
Oleh karenaitu, laju perubahan konsentrasi samadengan nol. PadaCmaks, laju
perubahan konsentrasi dapat diperoleh dengan mendiferensiasi.

-ke-kt + kae-kat = 0 atauke-kt = kae-kat

ln k – kt = lnka–kat
𝑘𝑎
ln 𝑘𝑎−ln 𝑘 ln( )
𝑘
tmaks = =
𝑘𝑎−𝑘 𝑘𝑎−𝑘

𝑘𝑎
2,3 log( )
𝑘
tmaks = 𝑘2−𝑘

𝑘𝑎
2,3 log( )
𝑘
Sebagaimana terlihat dalam persamaan tmaks = , waktu untuk
𝑘2−𝑘
mencapai konsentrasi obat maksimum, tmaks, hanya tergantung pada tetapan laju ka dan
𝑘𝑎
2,3 log( )
𝑘
k. Untuk menghitung Cmaks dan harga tmaks, ditentukan oleh persamaan tmaks = 𝑘2−𝑘
𝐹𝑘𝑎𝐷0 -kt
dan kemudian disubstitusikan ke dalam persamaan Cp = (e - e-kat ),
𝑉𝐷(𝑘𝑎−𝑘)
pemecahan untuk Cmaks. Persamaan ini menunjukkan Cmaks berbanding langsung
dengan dosis obat yang diberikan (D0) dan fraksi terabsorbsi (F). Perhitungan tmaks dan
Cmaks biasanya perlu dilakukan, karena pengukuran langsung konsentrasi obat
maskimum tidak memungkinkan sehubungan dengan waktu pengambilan cuplikan
serum yang tidak tepat.

Tetapan laju eliminasi orde kesatu dapat ditentukan dari fase eliminasi kurva
kadar plasma-waktu. Pada jarak selanjutnya, ketika absorbs obat telah sempurna,
𝐹𝑘𝑎𝐷0
yakni e-kat=0. Persamaan Cp = 𝑉𝐷(𝑘𝑎−𝑘) (e-kt - e-kat ) menurun, menjadi ;
𝑭𝒌𝒂𝑫𝟎
Cp = 𝑽𝑫(𝒌𝒂−𝒌) e-kt .

Dengan memakai logaritma natural dari pernyataan ini;


𝑭𝒌𝒂𝑫𝟎
ln Cp = ln 𝑽𝑫(𝒌𝒂−𝒌) - kt.

Substitusi logaritma biasa member ;


𝑭𝒌𝟐𝑫𝟎 𝒌𝒕
ln log Cp = log 𝑽𝑫(𝒌𝒂−𝒌) - 𝟐,𝟑.

Dengan persamaan ini, dibuat grafik log Cp versus waktu, akan menghasilkan suatu
garis lurus dengan slop –k/2,3 (Gb 166 7,6 a)

Dengan pendekatan yang sama, data ekskresi obat lewat urine juga dapat
digunakan untuk perhitungan tetapan laju eliminasi orde ke satu. Laju ekskresi obat
setelah dosis oral tunggal diberikan oleh ;
𝒅𝑫𝒖 𝑭𝒌𝒂𝒌𝒆𝑫𝒐
= – (e-kt - e-kat)
𝒅𝒕 𝑲𝒂−𝒌

dDu/dt = laju ekskresi obat lewat urin, ke = tetapan ekskresi renal orde kesatu dan F =
fraksi dosis obat terabsorbsi.

Suatu grafik yang dibuat dengan menggambar dDu/dt versus waktu akan
menghasilkan suatu kurva identik dengan kurva plasma – waktu (gbr 167, 7,7 B).
𝑑𝐷𝑢 𝐹𝑘𝑎𝑘𝑒𝐷𝑜
Setelah absorbsi obat semputna, e-kat mendekati nol dan persamaan = –
𝑑𝑡 𝐾𝑎−𝑘
-kt -kat
(e - e ) menjadi;
𝒅𝑫𝒖 𝑭𝒌𝒂𝒌𝒆𝑫𝒐
= – e-kt
𝒅𝒕 𝑲𝒂−𝒌

Dengan memakai logaritma natural pada kedua sisi persamaan ini dan dengan
𝑑𝐷𝑢 𝐹𝑘𝑎𝑘𝑒𝐷𝑜
mensubstitusikan dalam logaritma biasa, persamaan = – e-kt menjadi
𝑑𝑡 𝐾𝑎−𝑘

𝒅𝑫𝒖 𝑭𝒌𝒂𝒌𝒆𝑫𝒐 𝒌𝒕
log = 𝒍𝒐𝒈 – 𝟐,𝟑
𝒅𝒕 𝑲𝒂−𝒌

𝑑𝐷𝑢
Bila log digambarkan terhadap waktu diperoleh garis lurus dengan
𝑑𝑡
𝑑𝐷𝑢
slop –k/2,3 (Gbr 166 gbr 7-6B). Oleh karena laju reaksi obat melalui urine, tidak
𝑑𝑡
dapat ditentukan secara langsung pada titik waktu, maka laju reaksi ekskresi rata-rata
obat melalui urine yang didapat dan harga ini digambar terhadap titik tengah waktu
pengumpulan untuk tiap sampel urine

Gbr 177
Untuk memperoleh eksresi kumulatif obat dalam urine, persamaan
𝑑𝐷𝑢 𝐹𝑘𝑎𝑘𝑒𝐷𝑜
= – (e-kt - e-kat) harus dintegrasikan ;
𝑑𝑡 𝐾𝑎−𝑘

𝑭𝒌𝒂𝒌𝒆𝑫𝒐 𝐞−𝐤𝐚𝐭 𝐞−𝐤𝐭 𝑭𝒌𝒆𝑫𝒐


Du = –( - )+
𝑲𝒂−𝒌 𝑲𝒂 𝒌 𝒌

Gambar dari Du versus waktu akan member kurva ekskresi lewat urine yang
digambarkan dlam gambar 168. Bila semua obat telah diekskresika pada t = ∞.
𝐹𝑘𝑎𝑘𝑒𝐷𝑜 e−kat e−kt 𝐹𝑘𝑒𝐷𝑜
Persamaan Du = –( - )+ menjadi ;
𝐾𝑎−𝑘 𝐾𝑎 𝑘 𝑘

𝑭𝒌𝒆𝑫𝒐
Du∞ = 𝒌

Du∞ adalah jumlah obat aktif atau induk yang terekskresi

PENENTUAN TETAPAN LAJU ABSORBSI DARI DATA ABSORBSI ORAL

Metode Residual (kita ambil 1 metode ini saja yaa)


𝐹𝑘𝑎𝐷0
Dengan menganggap k2 >> k dalam persamaan Cp = (e-kt - e-kat ) harga
𝑉𝐷(𝑘𝑎−𝑘)
eksponensial kedua akan menjadi kecil tidak bermakna terhadap waktu
(yakni e-kat =0). . Oleh karena itu dapat dihilangkan. Pada keadaan tersebut, absorbsi
𝐹𝑘𝑎𝐷0
obat telah sempurna. Persamaan Cp = 𝑉𝐷(𝑘𝑎−𝑘) (e-kt - e-kat ) menjadi ;

𝑭𝒌𝒂𝑫𝟎
Cp = 𝑽𝑫(𝒌𝒂−𝒌) e-kt.

Persamaan ini juga dapat diperoleh intersep sumbu y gbr 169 7,9
𝑭𝒌𝒂𝑫𝟎
=A
𝑽𝑫(𝒌𝒂−𝒌)

𝐹𝑘𝑎𝐷0
A adalah suatu tetapan. Jadi persamaan Cp = 𝑉𝐷(𝑘𝑎−𝑘) e-kt menjadi ;

Cp=Ae-kt.

Persamaan ini menyatakan eliminasi obat orde kesatu, akan menghasilkan suatu
gambaran linier pada kertas semi log dengan slop = -k/2,3. Harga ka dapat diperoelh
dengan metode residual atau teknik feathring.

Harga ka diperoleh dengan menggunakan prosedur berikut;

1. Gambarkan pada kurva semilogaritmik kadar obat di dalam plasma fase


terminal terhadap waktu
2. Angka arah garis yang terbentuk adalah k/2,303
3. Buat ekstrapolasi dari persamaan garis linier tersebut pada 3 titik fase absorbs,
misalnya A’, B’, C’
4. Pada 3 titik yang sama terdapat 3 kadar obat actual hasil analisa cuplikan,
yakni kadar A, B, C
5. Selisih antara kadar A’, B’ C’ dengan kadar A, B, C merupakan kadar residual
yaitu ∆1, ∆2, dan ∆3
6. Gambar harga residual ∆1, ∆2, dan ∆3 tersebut pada kertas semilogaritmik
terhadap waktu. Angka arah dari kura linier yang diperoleh besarnya adalah
ka/2,303