Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM JAMUR

DISUSUN OLEH :
NAMA
NO. ABSEN
KELAS

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga penyusunan Laporan
Praktikum Pengamatan Jamur sudah terwujud. Terima kasih juga kita sampaikan kepada
Bapak/Ibu Guru dan teman-teman yang telah membantu melancarkan pembuatan laporan ini.
Pembuatan laporan merupakan salah satu tugas siswa setelah melaksanakan suatu
kegiatan . Laporan ini dibuat setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran di laboratorium
(praktikum). Banyak hal dan ilmu yang kita peroleh setelah melaksanan kegiatan tersebut. Hal
hal yang kami peroleh itu dapat kami jadikan bahan untuk menyusun laporan ini.
Dibutuhkan kerjasama untuk menyusun laporan ini. Kerjasama juga dibutuhkan dalam
menentukan kelancaran suatu kegiatan. Oleh karena itu kami berusaha bekerjasama dengan
semua pihak demi keberhasilan penyusunan laporan walaupun banyak kendala dalam objek.
Laporan ini tidak mungkin tersusun tanpa KaruniaNya selama pemnyusunan. Tiada
gading yang tak retak, begitulah juga dengan laporan ini yang memerlukan kritik dan saran demi
kesempurnaan laporan dikemudian hari. Semoga laporan dapat bermanfaat dan dapat digunakan
dengan sebaik mungkin sehingga akan menghasilkan hasil yang memuaskan dan sesuai
keinginan.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................................................. 2
C. Manfaat ............................................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 3
A. Pengertian Jamur ................................................................................................................ 3
B. Jamur Pada Nasi ................................................................................................................. 44
C. Jamur Pada Kelapa ............................................................................................................. 5
D. Jamur Pada Roti ................................................................................................................. 5
E. Jamur Pada Tempe ............................................................................................................. 6
F. Proses Terbentuknya Jamur ................................................................................................ 6
BAB III METODOLOGI ........................................................................................................ 8
A. Waktu dan Tempat ............................................................................................................. 8
B. Alat dan Bahan ................................................................................................................... 8
C. Prosedur Kerja .................................................................................................................... 8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................ 9
A. Hasil Pengamatan ............................................................................................................... 9
B. Pembahasan ....................................................................................................................... 10
BAB V PENUTUP ................................................................................................................. 12
A. Kesimpulan ....................................................................................................................... 12
B. Saran .................................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jamur (fungi) banyak kita temukan disekitar kita. Jamur tumbuh subur terutama di
musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembap. Beberapa ahli mikologi membagi
jamur menjadi dua kelompok berdasarkan bentuk tubuhnya, yaitu kapang (mold) dan
khamir(yeast). Kebanyakan jamur masuk dalam kelompok kapang, Tubuh vegetatif kapang
berbentuk filamen panjang bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan
memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat (tempat hidup jamur).
Sedangkan jamur dalam kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat
atau oval. Pengamatan morfologi sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Bahkan
pengamatan morfologi ini lebih penting daripada pengamatan fisiologis. Terdapat beberapa
cara atau metode pengamatan yaitu dengan pembuatan slide cultur atau hanging drop. Untuk
pengamatan morfologi dapat dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis.
Jamur adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal,
eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, berproduksi seksual atau aseksual. Dalam
dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya
berbeda dengan organisme eukariotik lainnya yaitu melalui absorpsi.
Jamur hidup tersebar dan terdapat ditanah, air vegetasi, badan hewan, makanan,
dibangunan, bahkan pada tubuh manusia. Jamur dapat tumbuh dan berkembang pada
kelembaban dan pada suhu yang tinggi. Saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 4.250
sampai 12.000 jenis jamur. Dari jumlah tersebut dalam kehidupan memiliki peran masing-
masing dihabitatnya baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung bagi manusia
Jamur merupakan organisme yang mirip tumbuhan tetapi tidak memiliki klorofil. Dalam
klasifikasi system tiga kingdom, jamur dikelompokkan sendiri terlepas dari kelompok plantae
(tumbuhan) karena jamur tidak berfotosintesis dan dinding selnya bukan dari selulosa
(Yamin, 2013).
Dermatophytosis (Tinea pedis, Athele foot) Merupakan infeksi jamur superfisial yang
kronis mengenai kulit terutama kulit di sela-sela jari kaki. Dalam kondisi berat dapat
bernanah. Penyebabnya adalah Trichophyton sp. Penyakit jamur kulit kaki: adalah penyakit
jamur yang biasanya terjadi pada kulit di antara jari kaki dan di bagian belakang kaki. Tinea
kaki sering menyebabkan gatal-gatal, ruam merah, bersisik, kulit mati, terasa terbakar, lecet
ringan, dan bau apek atau tidak menyenangkan. Lapisan kulit yang kering dapat mengelupas
atau retak, sering gatal pada daerah antara jari-jari kaki.
Berdasarkan tujuan dari dilaksanakannya praktikum melalui beberapa masalah yang
dibahas pada uraiaan diatas yang melatar belakangi praktikum yaitu, Pemeriksaan Jamur.

1
Mengetahui jenis jamur, perbedaan karateristik jamur atau kalsifikasi dari setiap jamur dan
mengetahui mekanisme terbentuknya jamur.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum Pemeriksaan Jamur, yaitu:
1. Untuk mengetahui jenis jamur
2. Untuk mengetahui perbedaaan karateristik jamur pada masing-masing sampel
3. Untuk mekanisme terbentuknya jamur

C. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum Pengamatan Jamur yaitu:
1. Manfaat Umum
Manfaat praktikum Pengamatam Jamur secara umum yaitu dapat mengetahui
macam-macam bentuk jamur, jenis dan karateristiknya, mengerti mekanisme
terbentuknya. Sehingga mengetahui jamur mana yang baik dan jamur mana yang tidak
baik untuk manusia. Jamur mana yang bisa di komsumsi dan jamur mana yang tidak bisa
dikomsumsi. Seperti contohnya jamur yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-
hari yaitu tempe dan jamur yang tidak bisah di komsumsi yaitu seperti jamur pada nasi,
kelapa, dan roti.
2. Manfaat Bagi Kesehatan Masyarakat
Manfaat praktikum Pengamatam Jamur untuk kesehatan masyarakat yaitu kita
bisa mengetahui proses perkembangan jamur awal mula jamur berasal sehingga
membantu kita menekan jamur agar tidak mengganggu pada kesehatan manusia
sementara untuk jamur yang bermanfaat bagi tubuh manusia memberikan khasiat seperti
contohnya tempe memiliki banyak kandungan vitamin sehingga membuat tubuh manusia
memiliki sistem kekebalaan tubuh agar terhindar dari berbagai macam penyakit.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Jamur
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau
regnum. Fungi umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan
organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan dan reproduksinya.
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Tubuh jamur tersusun atas komponen dasar
yang disebut hifa. Hifa merupakan pembentuk jaringan yang disebut
miselium. Miselium yang menyusun jalinan-jalinan semua menjadi tubuh.
Bentuk hifa menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini
menyelubungi membran plasma dan sitoplasma. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding
melintang atau septa. Septa umumnya mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati
ribosom, mitokondria dan kadang kala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi
adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa sinostik. Struktur hifa sinostik dihasilkan oleh
pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma (Aqsha,
2013).
Sebagian besar tubuh fungi terdiri dari atas benang-benang yang disebut hifa, yang
saling berhubungan menjalin semacam jala yaitu miselium. Miselium dapat dibedakan atas
miselium vegetatif yang berfungsi meresap menyerap nutrisi dari lingkungan , dan miselium
fertile yang berfungsi dalam reproduksi. Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah
mempunyai ciri khas yaitu berupa benang tunggal atau bercabang-cabang yang disebut hifa.
Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi
yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel
tunggal dan tidak berfilamen (Medhy, 2013).
Jamur dibagi menjadi 2 yaitu khamir (Yeast) dan kapang (Mold). Khamir adalah
bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan. Khamir mempunyai sel yang lebih
besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang
terbesar.khamir sangat beragam ukurannya, berkisar antara 1-5 μm lebarnya dan panjangnya
dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya berbentuk telur, tetapi beberapa ada yang memanjang atau
berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun sekalipun dalam biakan
murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk.Sel- sel individu, tergantung
kepada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ
penggerak lainnya. Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian
miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan
beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan
sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 μm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma
bersama (Coyne, 2009).

3
Ciri-ciri jamur organisme yang termasuk dalam kelompok jamur, anggotanya
mempunyai ciri-ciri umum yaitu uniseluler atau bersel satu atau multi seluler (benang-
benang halus), tubuhnya tersusun atas hifa (jalinan benang- 117 benang halus), eukariotik
(mempunyai membran inti), tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, yaitu
secara saprofit, parasit dan simbiosis, dinding selnya tersusun atas zat kitin, cadangan
makanan tersimpan dalam bentuk glikogen dan protein, pencernannya berlangsung secara
ekstraseluler, dimana makanan sebelum diserap disederhanakan terlebih dahulu oleh enzim
ekstraseluler yang dikeluarkan dari hifa jamur, memiliki keturunan yang bersifat haploid
lebih singkat, reproduksi jamur uniseluler dilakukan secara aseksual dengan membentuk
spora. Jamur multiseluler secara aseksual dengan cara memutuskan benang hifa
(fragmentasi), zoospore, endospora,dan konidia. Sedangkan secara seksual melalui peleburan
inti jantan dan inti betina sehingga dihasilkan spora askus atau basidium (Ita, 2013).

B. Jamur pada Nasi


1. Nama Jamur (Aspergillus sp)
Adalah suatu jamur ayng termasuk dalam kelas ascomytes yang dapat ditemukan dimana-
mana di alam ini. Apergillus tumbuh sebagai saprofit pada tumbuh-tumbuhan yang membusuk
dan terdapat pula pada tanah, debu organik, makanan dan merupakan kontaminan yang lazim
ditemukan di rumah sakit dan laboratorium. Aspergillus tumbuh berkoloni pada makanan.
Koloninya berwarna abu-abu, coklat dan kehijauaan. Distribusinya luas, dapat tumbuh didaerah
beriklim dingin maupun tropis. Reproduksi secara vegetatif dengan konidia yang diseberkan oleh
angin (Ita, 2013).
2. Klasifikasi Jamur
Klasifikasi jamur pada nasi menurut ita, (2013), yaitu:
a. Kingdom : Fungi
b. Divisi : Eumycates
c. Kelas : Euscomycetes
d. Ordo : Eurotiales
e. Famili : Aspergisacea
f. Genus : Aspergillus
g. Sepesies : Arpesgllus sp
3. Ciri-ciri Jamur pada Nasi, yaitu:
Ciri-ciri jamur ini yaitu dapat membentuk filamen-filamen panjang bercabang, dan dalam
perkembangbiakan miselia dan kondiospora. Apergillus berkkembang biakan dengan
pementukan hifa atau tunas dan menghasilkan konidiofora pembentuk spora (Hilda, 2011).

4
C. Jamur pada kelapa
1. Nama Jamur (Aspergillus niger)
Aspergillus niger adalah salah satu spesies yang paling umum dan mudah diidentifikasi
dari genus Aspergillus, family Monilaceae, ordo Monolilales dan kelas Imperfecti (Riandari,
Henny, 2009)
2. Klasifikasi Jamur
Kalsifikasi Jamur pada Kelapa menurut Hedrianti, (2010) yaitu:
a. Kingdom : Fungi
b. Filum : Ascomycota
c. Subfilum : Pezizomycotina
d. Kelas : Eurotiomycetes
e. Ordo : Eurotiales
f. Famili : Trichocomaceace
g. Genus : Aspergillus
h. Sepesies : Aspergillus niger
3. Ciri-ciri Jamur pada Kelapa
Adalah dapat tumbuh dengan cepat, diantaranya digunakan secara komersial
dalam produksi asam sitrat, asam glukonat dan pembuatan berapa enzim seperti amylase
pektikinase amiloglukosidase dan selulase (Riandari dan Henny, 2009)

D. Jamur pada Roti


1. Nama Jamur (Rhizopus stolonifer)
Merupakan salah satu dari jenis jamur zygomycotina. Nama jamur pada roti
yaituRhizopus stolonifer. Jamur ini terbentuk pada roti yang sudah terbungkus dengan baik
dalam jangka waktu selama satu minggu dan apabila mengkonsumsi jamur ini dapat
mengakibatkan keracunan dan muntah-muntah (Soeratman, 2008).
2. Klasifikasi Jamur
Kalsifikasi Jamur pada Roti menurut Windy Hedrianti, (2010), yaitu:
a. Kingdom : Fungi
b. Divisi : Zygomycota
c. Kelas : Zygomycetes
d. Ordo : Mucorales
e. Family : Mucoracae
f. Genus : Rhizopus
g. Sepesies : Rhizopus Stolonifer

5
3. Ciri-ciri Jamur pada Roti
Ciri-cirinya terdapat (hifa yang mencuat ke udara dan mengandung banyak inti sel, di
bagian ujungnya terbentuk sporangium (sebagai penghasil spora), serta terdapat stolon (hifa
yang berdiameter lebih besar daripada rhizoid dan (Cikho, 2010).

E. Jamur pada Tempe


1. Nama Jamur (Rhizopus oligosporus)
Rizopus oligosporus merupakan kapang dari filum Zygomycota yang banyak
menghasilkan enzim protease. R. oligosporus banyak ditemui di tanah, buah, dan sayuran yang
membusuk, serta roti yang sudah lama. R. oligosporus termasuk dalam Zygomycota yang sering
dimanfaatkan dalam pembuatan tempe dari proses fermentasi kacang kedelai, karena R.
oligosporus yang menghasilkan enzim fitase yang memecah fitat membuat
komponen makro pada kedelai dipecah menjadi komponen mikro sehingga tempe lebih mudah
dicerna dan zat gizinya lebih mudah terserap tubuh. Fungi ini juga dapat memfermentasi substrat
lain, memproduksienzim, dan mengolah limbah. Salah satu enzim yang diproduksi tersebut
adalah dari golonganprotease.
2. Klasifikasi Jamur
Kalsifikasi Jamur pada Tempe menurut Windy Hedrianti, (2010), yaitu:
a. Kingdom : Fungi
b. Divisi : Zygomycota
c. Kelas : Zygomycetes
d. Ordo : Mucoraves
e. Family : Mucoracae
f. Genus : Rhizopus
g. Sepesies : Rhizopus Ory-zae
3. Adapun devenisi dan ciri-ciri Jamur pada Tempe, yaitu
R. oligosporus mempunyai koloni abu-abu kecoklatan dengan tinggi 1 mm atau
lebih. Sporangiofor tunggal atau dalam kelompok dengan dinding halus atau agak sedikit
kasar, dengan panjang lebih dari 1000 mikro meter dan diameter 10-18 mikro
meter.Sporangia globosa yang pada saat masak berwarna hitam kecoklatan, dengan
diameter 100-180 mikro meter. Klamidospora banyak, tunggal atau rantaian pendek,
tidak berwarna, dengan berisi granula, terbentuk pada hifa, sporangiofor dan sporangia.

F. Proses Terbentuknya Jamur


Perkembang biakan jamur berawal dari spora mikroskopis yang terbawa angin. Jamur
akan tumbuh dan berkembang subur saat spora hinggap di area dengan suhu atau kelembapan
yang sesuai. Selanjutnya sel-sel yang serupa dengan benang (hifa) akan terbentuk dan
bergerombol hingga tampak gumpalan kusut seperti kapas (miselium). Terkadang jamur juga

6
dapat tampak seperti kotoran atau noda, contohnya jamur yang tumbuh di sela-sela lantai
kamar mandi.
Penemuan jamur dimulai Setelah perang, Flemming secara aktif mencari agen anti-
bakteri setelah menyaksikan banyak kematian pada prajurit saat perang, akibat luka yang
terinfeksi. Sementara, penggunaan antiseptik malah membunuh sistem pertahanan tubuh
pasien, lebih efektif dibanding membunuh bakteri. Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan
di The Lancet selama perang Dunia I, Fleming menceritakan penelitiannya.
Diamenjelaskan,mengapa antiseptik lebih berbahaya bagi tentara di banding infeksi. Tahun
1928, Fleming menyelidiki sifat sifat stahylococci. Dia memiliki laboratorium yang sering
kali berantakan, tidak terawat. Pada 3 September 1928, setelah berlibur, Fleming kembali ke
laboratorium.Sebelum meninggalkan laboratorium dia melakukan kultur staphylococci di
sebuah bangku di sudut laboratorium. Saat kembali, Fleming melihat satu kultur bakteri telah
terkontaminasi dengan jamur. Koloni staphylococci yang mengelilinginya, sudah
dihancurkan, sementara koloni yang jauh dari jamur tetap normal.

7
BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya Praktikum Pengamatan Jamur, yaitu:
Hari/Tanggal : Sabtu, 19 November 2016
Waktu : 13:00 WITA – Selesai
Tempat : Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Tadulako

B. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada Praktikum Pemeriksaan Jamur, yaitu:
1. Alat
a) Mikroskop
b) Pipet tetes
c) Kaca objek (Object glass)
d) Kaca penutup (Deck glass)
e) Jarum preparat (Ose needle)
2. Bahan
a) Air suling (aquadest)
b) Tempe umur 5 hari (yang sudah berwarna hitam)
c) Kelapa yang sudah bulukan
d) Roti yang berjamur
e) Nasi yang berumur 4 hari
f) Tissue

C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada Praktikum Pengamatan Jamur, yaitu:
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mengambil sampel dengan menggunakan jarum ose neddle dan tempatkan di atas
permukaan kaca objek.
3. Menetesi sampel dengan air menggunakan pipet tetes.
4. Menutup preparat dengan menggunakan kaca penutup.
5. Mengamati semua bahan yang telah dibuat dengan menggunakan mikroskop.
6. Memotret hasil pengamatan.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Gambar
NO Sampel Keterangan
Hasil Literatur

Tempe Terdapat
1. umur 5 jamurRhizopus oryzae
hari

Kelapa tua Terdapat


yang jamurAspergillusniger
2.
sudah
bulukan

Terdapat
Roti
3. jamurRhizopus
berjamur
stolongifer

Terdapat
4. Nasi basi jamurAspergillus sp

9
B. Pembahasan
Fungi (jamur) adalah organisme eukariotik yang bersel tunggal atau banyak dengan
tidak memiliki klorofil. Sel jamur memiliki dinding yang tersusun atas kitin. Karena sifat-
sifatnya tersebut dalam klasifikasi makhluk hidup, Jamur dipisahkan dalam kingdom nya
tesendiri,ia tidak termasuk dalam kindom protista, monera, maupun plantae. Karena tidak
berklorofil, jamur temasuk ke dalam makhluk hidup heterotof (memperoleh makanan dari
organisme lainnya), dalam hal ini jamur hidup dengan jalan menguraikan bahan-bahan
organik yang ada di lingkungannya. Umumnya jamur hidup secara saprofit (hidup dengan
menguai sampah oganik seperti bankai menjadi bahan anoganik). Ada juga jamur yang hidup
secara parasit (memperoleh bahan organik dari inangnya), adapula yang hidup dengan
simbiosis mutualisme (yaitu hidup dengan organisme lain agar sama-sama mendapatkan
untung).
Fungsi dari alat dan bahan yang digunakan pada praktikum pemangamatan jamur,
digunakan kaca objek dan kaca penutup dipakai untuk membantu mengamati objek lalu di
tetesi dengan aquadest berfungsi sebagai penjelas untuk mengamati obejek, memperhalus
pengamatan objek, dan jarum preparat digunakan untuk mengambil objek yang akan diamati
karena dalam mengambil objek atau bahan yang di amati harus seteipis mungkin agar lebih
mempermudah dalam pengamatan dimana bahan-bahan yang digunakan sebagai objek
praktikan adalah. Jamur pada nasi, jamur pada kelapa, jamur pada roti dan jamur pada
tempe.
Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, Lalu mengambil sampel dengan
menggunakan jarum ose neddle dan tempatkan di atas permukaan kaca objek, jika
mengambil objek usahakan agar mengambil objek kemudian dengan setipis mungkin agar
memudahkan dalam pengamatan jamur. Menetesi sampel dengan aquadest menggunakan
pipet tetes sampai tidak terjadi gelembung agar lebih mudah dalam melihat objek, lebih jelas
dan lebih halus. Menutup preparat dengan menggunakan kaca penutup. Dan tempatkan di
atas meja preparat. Amati semua bahan yang telah diletakkan dimikroskop. Dimana yang
pertama yaitu mengamati Jamur pada Nasi, Jamur pada kelapa, Jamur pada Roti dan Jamur
pada Tempe dengan semuanya menggunakan perbesaran 4 kali. Serta terakhir memotret hasil
pengamatan dengan baik.
Langkah pertama mengambil nasi yang sudah di siapkan dan terdapat jamur di
dalamnya. Pada pengamatan nasi dengan menggunakan perbesaran 10 kali terdapat
jamurAspergillus oryzae, pada jamur ini terlihat struktur dasarnya berwarna putih dengan
lapisan konidiospora tebal berwarna coklat gelap sampai hitam. Hal ini sesuai dengan
literatur menurut Chiko (2010), bahwa jamur Aspergillus oryzae memiliki konidium-
konidiumberwarna (hitam, coklat, kuning tua, hijau) yang memberi warna tertentu pada
jamur. Jamur ini dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi. Jamur ini
menyebabkandiare atau muntah-muntah, demam, kram perut, dan gejala pencernaan lainnya.

10
Pada percobaan kedua yaitu mengambil sample kelapa yang sudah disapkan
dan terdapat jamur didalamnya. Pada pengamatan kelapa dengan menggunakan perbesaran
10kali terdapat jamur Aspergillus sp, pada jamur ini terlihat hifa bersepta dan miselium
bercabang. Hal ini sesuai dengan literatur menurut Muhammad
(2010), bahwa Aspergillus spmempunyai hifa bersepta dan miselium bercabang, sedangkan
hifa yang muncul diatas permukaan merupakan hifa fertil, koloninya berkelompok,
konidofora bersepta ataunonsepta yang muncul dari sel kaki, pada ujung hifa muncul sebuah
gelembung.
Pada percobaan ketiga yaitu dengan dengan mengambil sampe roti yang sudah
tersedia dan ada jamur didalamnya. Pada pengamatan roti menggunakan perbesaran 10 kali
terdapat jamur Rhizopus stolonifer dengan warna hitam keabu-abuan dan memiliki hifa
pendek bercabang-cabang. Hal ini sesuai dengan literatur menurut Chiko (2010), bahwa
jamur Rhizopus stolonifer memiliki warna kehijauan dan hitam serta memiliki hifa pendek
bercabang cabang yang berfungsi sebagai akar (rizoid) untuk melekatkan diri serta menyerap
zat-zat yang diperlukan dari substrat.
Pada percobaan terakhir yaitu tempe tidak ditemukan adanya jamur disebabkan
gagalnya praktikum karena bahan dari semua praktikan gagal atau tidak terdapat jamur justru
yang terdapat di dalam tempe yang sudah di diamkan selama 5 hari adalah bakteri sehingga
wujud dari tempe tersebut basah dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap, sehingga jadi
pelajaran untuk praktikan dalam melakukan fermentasi tem untuk menghasilkan amur agar
supaya diletakan ditempat yang terbuka atau ruang yang mempunyai udara, usahakan selalu
tetap kering agar mencegah bakteri tidak masuk didalam temped an menghalangi
pertumbuhan jamur sebaiknya simpan didadalam wadah seperti tuperware dan biarkan
terbuka sedikit sehinggan tidak membuat jamur mati dan menjadikan bakteri yang justru
tumbuh didalamnya.

11
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Pemeriksaan Jmaur, yaitu:
1. Ada 4 jenis-jenis jamur yang diamati yaitu jamur Rhizopus orizae, Aspergillusniger,
Rhizopus stolonifer dan Aspergillus sp.
2. Karateristik perbedaan yang mencolok pada masing-masing jamur yaitu, pada jamur nasi
berwarna keuning atau orange, pada jamur kelapa berwarna hijau atau abu-abu, pada
jamur roti berwarna hijau, sementara pada jamur tempe warnanya tidak diketahui sebab
dalam praktikum ini semua kelompok gagal dalam mendapatkan hasilnya.
3. Poses mekanisme terbentuknya jamur berawal dari spora mikroskopis yang terbawa
angin. Jamur akan tumbuh dan berkembang subur saat spora hinggap di area dengan suhu
atau kelembapan yang sesuai. Selanjutnya sel-sel yang serupa dengan benang (hifa) akan
terbentuk dan bergerombol hingga tampak gumpalan kusut seperti kapas (miselium).
Terkadang jamur juga dapat tampak seperti kotoran atau noda, contohnya jamur yang
tumbuh di sela-sela lantai kamar mandi.

B. Saran
Adapun saran untuk praktikum yaitu agar alat yang digunakan lebih diperbarui lebih
di tingkatkan, agar praktikan bisah mengamati jamur dengan baik. Sangat tidak efektif jika
yang berfungsi hanya satu mikroskop itu berarti hanya satu praktikan yang melakukan
pengamatan membuat tujuan praktikum tidak berjalan baik yaitu hanya orang mengamati
objek yang tau tentang praktikum itu serta listrik juga lebih di perbaiki karena sangat
mengganggu jalannya praktikum membuat pengambilan data juga terbengkalai menyebabkan
beberapa kesalahan yang tidak sesuai lagi dengan literatur.
Adapun saran untuk asisten agar kiranya selalu mendampingi praktikan jika terjadi
kesalahan pada percobaan asisten bisah memberitahukan sebab ilmu asisten sangat
diperlukan dalam praktikum ini, karena pengalaman-pengalaman dari asisten yang bisah
menambah ilmu untuk praktikan. Praktikanpun mampu melakukan percobaan sesuai dengan
literatur yang ada. Berhubung juga pada praktikum pengamatan jamur terjadi masalah akibat
sesuatu dan lain hal menyebabkan praktikum sedikit terganggu karena padanya praktikan
yang berada di ruangan. Asisten diharapkan mengatur pratikum yang dilakukan agar supaya
semua praktium bisa melakukan percobaan dengan baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Chiko, Deni, 2010, ‘Jamur’, Jurnal jamur roti, vol. 2, no. 2, hh. 26-28

Dharma, 2011. ‘Teori jamur’, Jurnal percobaan jamur, vol. 2, no. 1, hh 20-21
Ita, 2010, Biologi,. Grasindo, Jakarta.
Hedriati, windy, 2010, ‘Klasifikasi jamur’, Jurnal ilmiah jamur, vol. 2, no. 1,hh 20-23
Hilda, Ayuni, 2011, Laporan jamur, Erlangga, Jakarta..

Gandjar, 2000, Biologi, Universitas Indonesia, Depok.

Riandari, Heny. 2009. Penelitian jamur mikroskopik, Tiga Serangkai, Jakarta.

Soetrisno, Taksonomi Spermatophyta Untuk Farmasi edisis I. Fakultas Farmasi Universitas


Pancasila, Jakarta.

Subandi,2009.Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung , Bandung.


.
Coyne, Mark S. Soil., 2009, Microbiology: An Exploratory Approach, Delmar Publisher,
USA. Gandjar, 2009, Mikrobiologi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Pengantar Mikrobiologi, Tarsito, Bandung. Yamin, 2013, Laporan Mikrobiologi Laporan


praktikum mikrobiolog-umum_23.html), Diakses pada 24 Desember 2013.

13

Anda mungkin juga menyukai