Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI 2

TITRASI BEBAS AIR

Disusun oleh :

Kelompok 5D

1. Tika Aliyya Nur Azizah (3311171138)


2. Diamona Ayu Lestari (3311171146)
3. Sultan Shalahudin Jamal (3311171152)
4. Vina Sulastri (3311171160)
5. Inggit Dwi Novianti (3311171168)
6. Nadira Cantika (3311171179)

Asisten Praktikum : Dadan Surya Saputra, S.Si., M.Si., Apt

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI

2019
BAB I

Pendahuluan

1.1 Prinsip Percobaan


Berdasarkan reaksi basa lemah dengan asam kuat dalam pelarut organic
1.2 Tujuan Percobaan
1. Menentukan normalitas larutan baku sekunder HClO4 dengan titrasi bebas air
2. Melakukan metode analisis (akurasi) penentuan kadar klorfeniramin maleat secara
titrasi bebas air.
3. Menentukan kadar klorfeniramini maleat dengan titrasi bebas air.
BAB II

2.1 Tinjauan Pustaka

Titrasi Bebas Air (TBA) merupakan prosedur titrimetri yang paling umum untuk
diuji-uji farmakope. Metode ini mempunyai keuntungan karena dapat menentukan kadar
senyawa yang memiliki sifat keasaman dan kebasaan yang sangat lemah. Pelarut yang
digunakan yaitu pelarut organik yang dapat melarutkan analit-analit organik. Pada titrasi
asam lemah dan basa lemah dalam pelarut bukan air, pengaruh pelarut terhadap tetapan
ionisasi, tetapan disosiasi dan ketetapan keasaman atau kebasaan senyawa yang ditentukan
sangat diperhatikan. Terutama pengaruh dielektrik pada pelarut pada reaksi protolisis
senyawa yang terjadi dalam larutan bukan air.

Titrasi bebas air yaitu titrasi tidak menggunakan air sebagai pelarut. Tetapi
menggunakan pelarut organik seperti eter, alkohol atau pelarut-pelarut organik lainnya karena
senyawa tidak dapat larut dalam air, disamping itu kurang reaktif dalam air yang contohnya
garam-garam amina, dimana garam-garam ini dirombak terlebih dahulu menjadi basa yang
bebas larut dalam air, sari dengan pelarut organik lain dan direaksikan dengan asam baku
berlebih, yang kemudian pelarutnya diuapkan dan barulah kelebihan asam ditentukan
kembali dengan basa baku sedangkan senyawa-senyawa organik yang mengandung nitrogen
ditentukan dengan metode Kjeldahl, dimana senyawa-senyawa yang berupa garam natrium
diasamkan terlebih dahulu, kemudian senyawa yang tidak larut air dengan pelarut lain,
pelarut diupkan dan sisa dikeringkan dan ditimbang ( Underwood,1993:168)
Titrasi titrimetri dalam lingkungan bebas air,pelarut mengambil peranan penting
untuk reaksi stoikiometri, dimana pelarut dapat mengambil bagian dalam reaksi.
Pada pelarut asam lemah dan basa lemah dalam lingkungan bebas air diperhatikan pengaruh
pelarut bukan air terhadap tetapan ionisasi, tetapan dissoisiasi, tetapan asam basa senyawa
yang hendak di titrasi . Pengaruh konstanta dialektrik pada reaksi protolisis pada pelarut
bukan air(wunas, 1986:98).

Pelarut yang digunakan dalam titrasi lingkungan bebas air dapat menjadi dua golongan yaitu:
1. Pelarut protolitis
Pelarut protolitis disebut pelarut inert, proton-proton tidak menerima.
2. Pelarut Amfiprotolitis
Pelarut amfiprotolitis menerima proton yang bersifat sebagai basa atau asam salah satu
pelarut dengan golongan ini paling penting.
Asam perklorat adalah asam yang paling kuat diantara asam-asam yang umum
didalamlarutan asetat dan medium titrasi yang biasanya digunakan untuk menghilangkan
air dari asam perklorat. Basa lemah bersaing sangat efektif dengan asam asetatuntuk
proton. Violet Kristal(basa yang sangat lemah ) digunakan sebagai indicator pada jenis
titrasi bebas air. (underwood,2002:62)
Keuntungan titrasi bebas air yaitu:
1. Senyawa-senyawa yang tidak dapat larut dalam air dapat menggunakan pelarut
organic yang sesuai untuk zat tersebut.
2. Karena pelarut organic kurang mengalami ionisasi dibandingkan dengan air.
3. Ketepatan dan ketelitian dapat disamakan dengan titrasi asam basa biasa.
4. Pulveres dan tablet-tablet dapat dititrasi tanpa pengocokan terlebih dahulu.
Zat-zat dapat ditentukankadar secara titrasi bebas air:

1. Amin-amin aromatis/alifatis
Pelarut yang dipilih asam asetat glasial dan titer asam perklorat
2. Antihistamin
Pelarut, titer dan indicator yang digunakan sama seperti alkaloid garam halida harus
diikat dengan larutan Hg-asetat6%.
3. Antibiotik
Pelarut, titer dan indicator yang digunakan sama seperti alkaloid garam halida harus
diikat dengan larutan Hg-asetat6%.
4. Golongan sulfonamide
Sulfonamide bersifat asam lemah yang digunakan pelarut n-butilamin atau DMF, titer
natrium metilat, dan indicator thymol nlue. Untuk sulfonamide bersifat basa lemah
seperti sulfaguanin digunakan pelarut asam asetat glasial, titer asam perklorat, dan
indicator Kristal violet.
Titrasi bebas air untuk air yang bersifat asam lemah atau basa lemah. Namun,
dalam lingkungan air, air dapat bersaing dengan asam-asam atau basa-basa yang
sangat lemah dalam menerima dan memberi proton.
1. Titrasi bebas air basa lemah
Asam asetat yaitu penerima proton yang sangat lemah sehingga tidak dapat
bersaing secara efektif dengan basa-basa lemah dalam menerima proton. Hanya
asam kuat yang mampu memprotonasi asam asetat.
2. Titrasi bebas air asam-asam lemah
Pelarut yang digunakan yaitu pelarut-pelarut yang tidakdapat bersaing secara kuat
dengan asam lemah dalam hal memberikan proton, alcohol ataupun dengan
pelarut-pelarut aprotic. Pelarut aprotic yaitu pelarut yang dapat menurunkan
ionisasi asam-asam dan basa-basa. Pelarut ini adalah pelarut yang nonpolar
contohnya benzene, karbon tetraklorida, dan hidrokarbon alifatik (Ibnu Gholib,
1999: 213)
BAB III

3.1 Monografi Sampel

1. Sinonim : Asam asetat glasial, asam cuka


Rumus Molekul : CH3COOH
Struktur Molekul :

BM : 60,05
Kelarutan : Cairan jernih, tidak berwarna, berbau khas, tajam, tidak diencerkan
dalam air, rasa asam.
Persyaratan : disimpan dalam wadah tertutup rapat
2. Sinonim : Asam perklorat HClO4
Rumus Molekul : HClO4
Struktur Molekul :

BM : 100,5
Kelarutan : bercampur dengan air
Persyaratan : Mengandung HClO4 antara 70,0% dan 73,0%
3. Sinonim : Asam asetat anhidrida
Rumus Molekul : H2SO4
Struktur Molekul :

BM : 102,09
Kelarutan : dapat bercampur dengan air, etanol 95%
Persyaratan :
4. Sinonim : Indikator Kristal violet
Rumus Molekul : C25H30ClN3
Struktur Molekul :
BM : 480
Kelarutan : Sukar larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol 95%. Larutan
berwarna lembayung tua
Persyaratan : Larutkan 100 mg kristal violet P dalam 10 mL asam asetat glasial
5. Sinonim : Chlorpheniramin maleas, CTM, Klorfenon
Rumus Molekul : C16H19ClN2
Struktur Molekul :

BM : 390,87
Kelarutan : Mudah larut dalam air, larut dalam air dan kloroform; sukar larut
dalam eter dan dalam benzen
Persyaratan : CTM mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari
100,5%
BAB IV

Reaksi Kimia

1. Reaksi kimia pembakuan KHP dan HClO4

HClO4 + C8H5KO4 → ClO4- + C8H6O4 + K+

2. Reaksi kimia CTM dengan HClO4

HClO4 + C16H19ClN2 → ClO4 + C16H20N2 + Cl


BAB V
PROSEDUR PERCOBAAN
5.1 Prosedur Percobaan
5.1.1 Pembakuan larutan HClO4 0.1 N dengan larutan baku kalium hydrogen
phthalate 0.1 N

Timbang Kalium hydrogen


phthalate (KHP)sebanyak
250 mg

Larutkan dalam 15 mL
asam asetat glasial

Tambahkan 5 tetes
asam asetat anhidrida

Tambahkan 2 tetes
indicator kristal violet

Titrasi dengan HClO4 0.1 N


hingga terjadi perubahan
warna ungu ke biru

Hitung normalitas
HClO4 sebenarnya
5.1.2 Validasi Metode Analisis Klorfeniramina maleat

Timbang baku pembanding 175 mg,


250 mg, dan 325 mg sebanyak 3 kali

Dilarutkan dalam 10 mL
asam asetat glasial

Tambahkan 5 tetes
asam asetat anhidrida

Tambahkan 2 tetes
indikatir kristal violet

Titrasi dengan HClO4 0.1 N


hingga terjadi perubahan
warna ungu ke biru

Hitung berat klorfeniramina


maleat yang diperoleh
dalam setiap larutan

Hitung akurasi (%R) dan


presisi (%RSD)
5.1.3 Penetapan Kemurnian Klorfeniramina maleat

Timbang Klorfeniramina
maleat sebanyak 250 mg

Larutkan dalam 10 mL
asam asetat glasial

Tambahkan 2 tetes
indicator kristal violet

Titrasi dengan larutan HClO4


0.1 N hingga terjadi perubahan
warna dari ungu ke biru hijau

Hitung % kemurnian
Klorfeniramina maleat
BAB 6

HASIL PERCOBAAN

6.1 Hasil Pembakuan Asam Perklorat (HClO4)


Berat KHP yang Volume HClO4 N HClO4 hasil
Titrasi
ditimbang (mg) terpakai pembakuan
1 209.9 10.7 0.0960
2 217.6 8.7 0.1224
Rata-rata normalitas HClO4 hasil pembakuan 0.1092

6.2 Hasil Validasi Metode Analisis


Variasi Pengukuran Berat yang Volume Berat hasil %R
berat (mg) ditimbang HClO4 analisis
(mg) terpakai
1 174.8 25 533.5 305.2
175 2 175.2 25 533.5 304.5
3 175.4 24.5 522.8 298.1
1 250 7 149.4 54.75
250 2 257.9 7.2 153.6 59.57
3 248.4 7 149.3 60.14
1 327.3 25 533.5 163
325 2 327.3 24.9 531.4 162.4
3 325.7 25.15 536.7 164.8
% R rata-rata 174.7
SD 106.2
% RSD 26.2
6.3 Hasil Penetapan Kemurnian
Titrasi Berat sampel Volume Berat hasil % kemurnian
yang HClO4 analisis
ditimbang(mg) terpakai
1 251.5 16 341.44 135.76
2 255.3 15.3 326.502 127.89
3 255.8 15.1 322.234 125.97
% kemurnian rata-rata 129.87
BAB VII

PEMBAHASAN

Titrasi bebas adalah suatu titrasi yang tidak menggunakan air sebagai pelarut tetapi
digunakan pelarut organik. Dengan pelarut organik tertentu, kekuatan asam atau basa lemah
dapat diperbesar, sehingga dapat memungkinkan untuk dapat dititrasi dengan hasil yang
memuaskan . Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau basa lemah seperti halnya asam-asam
organik atau alkaloida. Alkaloida sukar larut dalam air seperti garam-garam amina dimana
garam-garam di rombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Pelarut yang bisa
digunakan adalah berupa senyawa organik yng bersifat asam atau basa lemah, dimana warna
molekulnya berbeda dengan warna bentuk ionnya.

Pada percobaan kali ini dilakukan 3 prosedur percobaan yaitu :

a) Pembakuan larutan HClO4 0.1 N dengan larutan baku kalium hydrogen phthalate 0,1
N
b) Validasi Metode Analisis Kloferiamina maleat
c) Penetapan Kemurnian Kloferiamina maleat

Pertama dilakukan Pembakuan larutan HClO4 0.1 N dengan larutan baku kalium
hydrogen phthalate 0,1 N, 200 mg kalium hydrogen phthalate dilarutkan 15mL asetat glasial,
lalu ditambahkan 5 tetes asam asetat anhindrida. Tambahkan 2 tetes indikator kristal violet.
Kemudian di titrasi dengan larutan HClO4 0,1 sehingga terjadi perubahan warna dari ungu ke
biru hijau. Reaksi yang terjadi pada percobaan adalah sebagai berikut :

Dari hasil perhitungan yang didapat rata-rata normalitas HClO4 adalah 0,1093 N.

Prosedur selanjutnya yaitu Validasi Metode Analisis Kloferiamina maleat. Digunakan


pembanding Kloferiamina maleat dengan variasi berat berbeda yaitu, 175mg , 250 mg, 325
mg secara triplo. Setiap pembanding dilarutkan 10 mL asetat glasial, lalu ditambahkan 5 tetes
asam asetat anhindrida. Tambahkan 2 tetes indikator kristal violet. Kemudian di titrasi
dengan larutan HClO4 0,1 sehingga terjadi perubahan warna dari ungu ke biru hijau. Dihitung
pula berat Kloferiamina maleat dalam setiap larutan. Dan didapatkan hasil akurasi (%R)
dengan rata rata sebesar 175,91% . Dan didapatkan pula presisi (%RSD) sebesar 26,0902%.
Jika dilihat dari hasil yang didapat , hasil tersebut tidak sesuai dengan literatur yang
seharusnya persyaratan %R tidak kurang dari 98% dan tidak leih dari 102,0% dan %RSD
tidak lebih dari 2%. Perbedaan angka yang begitu besar ini dapat disebabkan oleh tidak
sempurnanya proses titrasi dikarenakan kalium biftalat yang digunakan pada pembakuan
HClO4 sudah terkominasi zat lain . Selain itu, dapat juga disebabkan karena lingkungan
pentiter dan pelarut atau pereaksi yang ternyata masih berair. Pereaksi pada percobaan masih
mengandung air dapat disebabkan karena bahan asam asetat glasial yang telah disimpan dapat
menyerap air (bersifat higroskopis) dari udara, dikarenakan kondisi penyimpanan yang tidak
sesuai.

Prosedur selanjutnya yaitu Penetapan Kemurnian Kloferiamina maleat. Digunakan


250 mg sampel, dilarutkan 10 mL asetat glasial, lalu ditambahkan 5 tetes asam asetat
anhindrida. Tambahkan 2 tetes indikator kristal violet. Kemudian di titrasi dengan larutan
HClO4 0,1 sehingga terjadi perubahan warna dari ungu ke biru hijau. Lalu dihitung
%kemurnian dari Kloferiamina maleat sebesar 129,68%. Jika dilihat dari hasil yang didapat ,
hasil tersebut tidak sesuai dengan literatur yang seharusnya persyaratan zat aktif
Kloferiamina maleat berada dalam rentang 98.0%-100,5%. Perbedaan angka yang begitu
besar ini dapat disebabkan oleh tidak sempurnanya proses titrasi dikarenakan kalium biftalat
yang digunakan pada pembakuan HClO4 sudah terkominasi zat lain . Selain itu, dapat juga
disebabkan karena lingkungan pentiter dan pelarut atau pereaksi yang ternyata masih berair.
Pereaksi pada percobaan masih mengandung air dapat disebabkan karena bahan asam asetat
glasial yang telah disimpan dapat menyerap air (bersifat higroskopis) dari udara, dikarenakan
kondisi penyimpanan yang tidak sesuai.

Hal serupa juga dapat ditemukan dalam proses pembuatan dan pembakuan asam
perklorat 0,1 N dengan menggunakan pelarut asam asetat glasial. Asam asetat glasial yang
tidak murni (masih mengandung air) akan menyebabkan asam perklorat yang dibuat juga
mengandung air. Asam asetat glasial yang telah mengandung air, akan menyebabkan hasil
akhir indikator yang dibuat juga mengandung air. Pereaksi yang masih mengandung air,
mengakibatkan fungsi pereaksi untuk meningkatkan kebasaan senyawa dan menentukan
kadar senyawa tidak dapar berjalan dengan baik. Bila titrasi berlangsung dengan pelarut yang
masih mengandung air, maka akan mempengaruhi tingkat kebasaan senyawa dalam pelarut
menjadi lebih rendah dari seharusnya (bila ditambahkan pelarut bebas air). Selain itu, kadar
senyawa organik yang ditentukan juga akan berkurang dari kadar seharusnya karena tidak
semua senyawa dapat bereaksi, masih terdapat kandungan air yang akan mempengaruhi
reaksi. Semua pereaksi yang dibuat mengandung air sehingga pada titrasi bebas air, jumlah
kelebihan air dari peniter, pelarut tersebut akan mempengaruhi titik akhir titrasi, perubahan
warna dapat terjadi di luar titik akhir titrasi seharusnya, titrasi menjadi tidak presisi dan
akurat.
BAB VIII

KESIMPULAN

1. Metode dinyatakan tidak valid karena nilai %R tidak berada dalam rentang 98,0% -
102,0% dan RSD lebih dari 2%.
2. Zat aktif tidak memenuhi persyaratan kemurnian karena tidak berada dalam rentang
98,07% - 100,5%.
DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Gholib G, Rahman., Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar :Yogyakarta. 1999

Underwood, A.L, Day, RA., Analisa Kimia Kuantitatif Edisi VI, Erlangga :

Jakarta, 2002.
Underwood, A.L, Day, RA., Analisa Kimia Kuantitatif Edisi V, Erlangga :

Jakarta, 1993.
Wunas, J., Said S., Analisa Kimia Farmasi Kuantatif, UNHAS : Makassar, 1986.