Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

RESPIRASI

“Pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi pada kecambah kacang hijau

(Vignia radiata L.)”

Disusun Oleh :

Rana Yumna Nabila

17030204004

PBU 2017

S1 PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
A. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi kecambah kacang hijau
(Vignia radiata L.)?
B. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi kecambah kacang
hijau (Vignia radiata L.)?
C. Hipotesis
HA = Suhu berpengaruh terhadap kecepatan respirasi kecambah kacang hijau
(Vignia radiata L.)
HO = Suhu berpengaruh terhadap kecepatan respirasi kecambah kacang hijau
(Vignia radiata L.)
D. Kajian pustaka
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas tanaman
kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi rakyat indonesia, kecambahnya dikenal
sebagai tauge. Kecambah/ tauge juga termasuk jenis sayuran yang dijadikan bahan
pangan oleh masyarakat dengan diolah menjadi berbagai macam makannan. Tanaman
ini mengandung zat-zat gizi, antara lain yaitu amilum, protein, besi, belerang, kalsium,
minyak lemak, mangan, magnesium, niasin, vitamin (B1, A, dan E). Manfaat lain dari
tanaman ini adalah dapat melancarkan buang air besar dan juga dapat digunakan
sebagai obat (Atman, 2007)
Kecambah kacang hijau mengandung vitamin E yang tidak ditemukan pada
kacang tanah dan kedelai. Bahkan nilai gizi kecambah kacang hijau lebih baik daripada
nilai gizi biji kacang hijau. Hal ini disebabkan kecambah telah mengalami proses
perombakan makromolekul menjadi mikromolekul. Selain itu dengan proses
perkecambahan terjadi pembentuk senyawa tokoferol (vitamin E) (Purwono dan
Hartono, 2005).

Respirasi atau oksidasi glukosa merupakan proses pembentukan energi yang


utama untuk kebanyakan sel. Pada waktu glukosa dipecah dalam suatu rangkaian reaksi
enzimatis, beberapa energi dibebaskan dan diubah menjadi bentuk ikatan phosphate
bertenaga tinggi (ATP) dan sebagian lagi hilang sebagai panas. Proses keseluruhan dari
repirasi merupakan reaksi oksidasi reduksi, yaitu senyawa dioksidasi menjadi CO2
sedangkan O2 yang diserap direduksi membentuk H2O. Pati, fruktan, sukrosa, atau gula
lainnya, lemak, asam organik, protein dapat bertindak sebagai substrat respirasi
(Yuliani, 2017).
Tumbuhan melakukan respirasi untuk menghasilkan energi yang digunakan
dalam melakukan proses fotosintesis. Tumbuhan yang telah mengalami pasca panen
akan tetap mengalami proses respirasi dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan saat
masih tertanam dipohonnya. Respirasi yang dilakukan oleh buah akan menghasilkan
panas yang mana sangat penting dalam menghitung kebutuhan refrigerasi dan ventilasi
selama penyimpanan. Laju perusakan komoditas biasanya berbanding lurus dengan laju
respirasinya. Respirasi adalah suatu proses metabolisme dengan cara menggunakan
oksigen dalam pembakaran senyawa makromolekul seperti karbohidrat, protein dan
lemak yang akan menghasilkan CO2, air dan sejumlah besar elektron-elektron.
Beberapasenyawa penting yang dapat digunakan untuk mengukur proses respirasi ini
adalah glukosa, ATP, CO2 dan O2 (Winarno, 2004).
Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan. Proses
transport gas-gas dalam tumbuhan secara keseluruhan berlangsung secara difusi.
Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan
jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian
juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk
ke dalam ruang antar sel. Hal ini karena membran plasma dan protoplasma sel
tumbuhan sangat permeabel bagi kedua gas tersebut. Setelah mengambil O2 dari udara,
O2 kemudian digunakan dalam proses respirasi dengan beberapa tahapan, diantaranya
yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus krebs, dan transpor elektron (Yasa,
2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan respirasi menurut Yuliani (2017):
a. Temperatur/suhu
Proses respirasi merupakan deretan reaksi kimia, sehingga peka terhadap
perubahan temperatur. Pada 0ºC kecepatan respirasi sangat rendah. Kenaikan
temperatur sampai 35ºC atau 45ºC akan mencapai maksimum, kemudia turun lagi
pada temperatur yang lebih tinggi. Perlakuan temperatur berkaitan dengan lamanya
perlakuan, artinya pada 25-30ºC mula-mula kecepatan respirasi naik, tetapi apabila
berlangsung lama akan menurun. Umumnya semakin tinggi temperatur, penurunan
kecepatan repirasi semakin cepat.
b. Oksigen
Oksigen berfungsi sebagai terminal penerima elektron pada daur Krebs, maka
bila konsentrasinya rendah, respirasi aerob dan anaerob dapat berlangsung
bersamaan. Apabila oksigen kadarnya dinaikkan maka respirasi aerob akan berjalan
lebih cepat dan respirasi anaerob terhambat.
c. Karbondioksida
Kadar karbondioksida yang tinggi akan menghambat respirasi. Selain cara
langsung berpengaruh terhadap reaksinya, mungkin CO2 juga berperan tidak
langsung misalnya pada daun kadar CO2 yang tinggi akan menyebabkan stomata
menutup, sehingga difusi CO2 keluar terhambat dan kadar CO2 dalam jaringan naik.
d. Kadar garam anorganik dalam medium
Jaringan atau tumbuhan yang dipindahkan dari air, air ke larutan garam akan
menunjukkan kenaikan respirasi. Respirasi di atas normal semacam ini disebut
respirasi.
e. Rangsangan mekanik
Daun yang digoyang-goyang menunjukkan kenaikan respirasi. Kalau hal itu
dilakukan berulang-ulang reaksinya menurun. Kenaikan respirasi ini mungkin
disebabkan efek pemompaan.
f. Luka
Terjadinya luka di suatu bagian menyebabkan respirasi ditempat tersebut naik.
Umumnya perlakuan menyebabkan terbentuknya meristem luka yang
menghasilkan kalus. Mungkin kenaikan respirasi pada luka disebabkan oleh
bertambahnya substrat atau lebih besarnya difusi O2 yang masuk jaringan luka.
E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : Suhu
2. Variabel kontrol : Massa kecambah kacang hijau (Vigna radiata L.),
umur kecambah, volume larutan
NaOH, volume BaCl2, volume Phenolftalin (PP)
3. Variabel respon : Kecepatan respirasi

F. Definisi Operasional Variabel


1. Variabel manipulasi
Dalam praktikum ini, variabel manipulasinya adalah suhu. Suhu adalah besaran
fisika yang menyatakan derajat panas suatu zat. Suhu yang digunakan adalah suhu
ruang (30ºC) dan suhu dalam inkubator (37ºC).
2. Variabel Kontrol
Massa kecambah yang digunakan adalah 5 gram dan dibungkus , umur
kecambah yaitu 2 hari , volume larutan NaOH sebanyak 30 ml, volume BaCl2
yaitu sebesar 2,5 ml dan Phenolftalin (PP) ditambahkan sebanyak 2 tetes
3. Variabel respon
Dalam praktikum ini, variabel respon adalah kecepatan respirasi. Kecepatan
respirasi adalah proses perombakan zat organik (katabolisme atau disamilasi), yang
mana energi yang telah tersimpan digunakan kembali untuk melakukan proses-
proses kehidupan pada tumbuhan itu sendiri. Hal ini dapat ditinjau dari volume HCl
yang digunakan untuk titrasi, volume CO2 yang dihasilkan.

G. Alat dan Bahan


1. kecambah kacang hijau (Vigna radiata L.) (20 gram)
2. Larutan NaOH 0,5 M (30 mL)
3. Larutan BaCl2 0,5 N (15 mL)
4. Larutan Phenolftalin (12 tetes)
5. Erlenmeyer 250 mL (6 buah)
6. Kain kasa (4 lembar)
7. Benang wol (40 cm)
8. Plastik ¼ kg (4 buah)
9. Spet 5mL (1 buah)
10. Pipet tetes (2 buah)
H. Rancangan Percobaan
Berikut merupakan rancangan percobaan pengaruh suhu terhadap laju respirasi
kecambah:
Mengisi 6 tabung erlenmeyer
dengan 30 mL larutan NaOH

Memasukkan kecambah yang sudah dibungkus


kasa dan memasukkan 3 tabung erlenmeyer
kedalam inkubator, dan 3 lainnya pada suhu
ruang

Menyiapkan kecambah kacang hijau berumur


2 hari, dan menimbang 5 g sebanyak 4 kali

Mengambi 5mL larutan NaOH. Menambahkan


2,5mL larutan BaCl2 dan menetesi dengan 2
tetes PP sehingga larutan berubah warna
menjadi merah muda atau ungu, mentitrasi
dengan HCl 0,5M hingga warna merah muda
tepat hilang

Hasil

I. Langkah Kerja
Berikut merupakan langkah kerja percobaan pengaruh suhu terhadap laju respirasi
kecambah:
a. Menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan
b. Menyiapkan 6 buah enlemmeyer, kemudian mengisi masing-masing dengan
30mL NaOH 0,5M.
c. Menimbang 5 gr kecambah kacang hijau yang disediakan, kemudian
membungkus dengan kain kasa dan mengikat dengan benang wol. Masing-
masing 2 sampel untuk suhu ruang dan inkubator.
d. Memasukkan kedalam enlenmeyer dan menggantungkan bungkusan kecambah
tersebut diatas larutan NaOH dengn bantuan talinya, kemudian menutup rapat-
rapat botol dengan plastik.
e. Menyimpan 2 botol berisi kecambah dan 1 botol tanpa kecambah (kontrol)
masing-masing didalam ruang dengan suhu ruangan dan yang lain di dalam
inkubator 37ºC. Menunggu hingga 24 jam.
f. Mengambi 5mL larutan NaOH dalam botol, kemudian memasukkan pada botol
enlenmeyer. Menambahkan 2,5mL larutan BaCl2 dan menetesi dengan 2 tetes
PP sehingga larutan berubah warna menjadi merah muda, kemudian mentitrasi
dengan HCl 0,5M hingga warna merah muda tepat hilang.
J. Rancangan Tabel Pengamatan

Berikut adalah hasil percobaan yang disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.

Tabel 1 Kecepatan respirasi kecambah kacang hijau

Suhu Erlenmeyer V.HCl (ml) V.CO2 terikat CO2(ml) Laju


(ml) hasil respirasi
respirasi
(ml/jam)

Suhu K 2,2 16,8


ruang
(300C) A 1,4 21,6 0,6 0,025

B
2,8 13,2
Suhu K 2,2 16,8
Inkubator
(370C) A 2 18 1,2 0,05

B 2 18

0.06

0.05 0.05
Laju Respirasi (ml/jam)

0.04

0.03
0.025
0.02

0.01

0
30°C 37°C
Suhu

Grafik 1. Laju respirasi kecambah kacang hijau () pada masing-masing


perbedaan suhu
K. Rencana Analisis Data

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil berdasarkan


tabel 1 bahwa kecambah kacang hijau (Vignia radiata L.) pada suhu ruang (30ºC)
memiliki volume CO2 hasil respirasi sebesar 0,6 ml dan memiliki kecepatan respirasi
sebesar 0,025 ml/jam. Sedangkan pada kecambah kacang hijau (Vignia radiata L.) pada
inkubator dengan suhu 37º memiliki volume CO2 sebesar 1,2 ml dan memiliki
kecepatan respirasi sebesar 0,05 ml/jam.
Terlihat pada grafik yang telah disajikan, kecepatan respirasi kecambah kacang
hijau (Vignia radiata L.) pada inkubator dengan suhu 37ºC lebih cepat yaitu sebesar
0,05 ml/jam daripada kecepatan respirasi kecambah kacang hijau (Vignia radiata L.)
pada suhu ruang (30ºC) yaitu sebesar 0,025 ml/jam.

L. Hasil Analisis Data


Berdasarkan hasil data dan analisis data, dapat diketahui bahwa perbedaan suhu
dapat mempengaruhi kecepatan respirasi pada suatu kecambah. Suhu merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi laju respirasi. Proses respirasi
merupakan deretan reaksi kimia, sehingga peka terhadap perubahan temperatur.
Pada 0ºC kecepatan respirasi sangat rendah. Kenaikan temperatur sampai 35ºC atau
45ºC akan mencapai maksimum, kemudian turun lagi pada temperatur yang lebih
tinggi. Perlakuan temperatur berkaitan dengan lamanya perlakuan, artinya pada 25-
30ºC mula-mula kecepatan respirasi naik, tetapi apabila berlangsung lama akan
menurun. Umumnya semakin tinggi temperatur, penurunan kecepatan repirasi
semakin cepat. Maka dari itu, laju respirasi pada inkubator dengan suhu 37º lebih
tinggi yaitu sebesar 0,05 ml/jam daripada kecepatan respirasi kecambah kacang
hijau (Vignia radiata L.) pada suhu ruang 30ºC yaitu sebesar 0,025 (Yuliani, 2017).
Adapun beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi kecepatan respirasi
menurut Yuliani (2017):
a. Temperatur/suhu
Proses respirasi merupakan deretan reaksi kimia, sehingga peka terhadap
perubahan temperatur. Pada 0ºC kecepatan respirasi sangat rendah. Kenaikan
temperatur sampai 35ºC atau 45ºC akan mencapai maksimum, kemudia turun lagi
pada temperatur yang lebih tinggi. Perlakuan temperatur berkaitan dengan lamanya
perlakuan, artinya pada 25-30ºC mula-mula kecepatan respirasi naik, tetapi apabila
berlangsung lama akan menurun. Umumnya semakin tinggi temperatur, penurunan
kecepatan repirasi semakin cepat.
b. Oksigen
Oksigen berfungsi sebagai terminal penerima elektron pada daur Krebs, maka
bila konsentrasinya rendah, respirasi aerob dan anaerob dapat berlangsung
bersamaan. Apabila oksigen kadarnya dinaikkan maka respirasi aerob akan berjalan
lebih cepat dan respirasi anaerob terhambat.
c. Karbondioksida
Kadar karbondioksida yang tinggi akan menghambat respirasi. Selain cara
langsung berpengaruh terhadap reaksinya, mungkin CO2 juga berperan tidak
langsung misalnya pada daun kadar CO2 yang tinggi akan menyebabkan stomata
menutup, sehingga difusi CO2 keluar terhambat dan kadar CO2 dalam jaringan naik.
d. Kadar garam anorganik dalam medium
Jaringan atau tumbuhan yang dipindahkan dari air, air ke larutan garam akan
menunjukkan kenaikan respirasi. Respirasi di atas normal semacam ini disebut
respirasi.
e. Rangsangan mekanik
Daun yang digoyang-goyang menunjukkan kenaikan respirasi. Kalau hal itu
dilakukan berulang-ulang reaksinya menurun. Kenaikan respirasi ini mungkin
disebabkan efek pemompaan.
f. Luka
Terjadinya luka di suatu bagian menyebabkan respirasi ditempat tersebut naik.
Umumnya perlakuan menyebabkan terbentuknya meristem luka yang
menghasilkan kalus. Mungkin kenaikan respirasi pada luka disebabkan oleh
bertambahnya substrat atau lebih besarnya difusi O2 yang masuk jaringan luka.

Suhu pada inkubator 37º memiliki keadaan suhu yang stabil. Pada suhu dengan
keadaan konstan, maka kerja enzim akan lebih optimal tanpa mengalami kerusakan.
Proses respirasi dikaitkan dengan kerja enzim. Apabila enzim tidak mengalami
kerusakan, maka enzim dapat mempercepat pengubahan glukosa menjadi CO2.
Sehingga CO2 yang dilepaskan dari respirasi kecambah akan lebih besar. Pada suhu
inkubator, volume CO2 akan lebih banyak diikat oleh NaOH sehingga kadar gas CO2
yang dibebaskan juga besar. Volume CO2 pada inkubator 37ºC yaitu 1,2 ml. Pada suhu
ruang 30ºC rata-rata volume CO2 yang dibebaskan dari hasil respirasi kecambah lebih
rendah daripada suhu pada inkubator 37º, yaitu sebesar 0,6 ml. Pada suhu yang rendah,
kerja enzim tidak optimal yang mengakibatkn reaksi pengubahan glukosa menjadi CO2
lebih lambat. Sehingga volume CO2 yang dilepaskan lebih sedikit (Salisbury dan Ross,
1995).

Anonim (2017) Larutan NaOH dalam percobaan berfungsi sebagai pengikat


CO2 yang dilepaskan oleh kecambah, kemudian mengubahnya menjadi
karbondioksida terlarut yaitu membentuk natrium bikarbonat .Persamaan reaksinya
sebagai berikut :
2NaOH + CO2→ Na2CO3+ H2O
(Eldza,2017)
Larutan BaCl2 percobaan berfungsi dalam mengendapkan CO2 yang telah diikat oleh
NaOH. Penambahan BaCl2 menyebabkan perubahan warna larutan yang awalnya
tidak berwarna menjadi putih. Persamaan reaksinya dapat dituliskansebagai berikut :
aCl2+ Na2CO3→BaCO3 + 2 NaCl
(Eldza,2017)
Selanjutnya ditetesi dengan fenolftalin (PP) sehingga berubah menjadi warna
merah muda atau ungu. Penambahan indikator PP (fenolftalin) berfungsi dalam
mempermudah proses titrasi, karena warna merah muda atau ungu tersebut akan
hilang apabila larutan berada pada pH netral. Warna dapat kembali bening
menunjukkan bahwa larutan basa telah bereaksi sempurna dengan
asam sehinggalarutan menjadi netral. Persamaan reaksinya sebagai berikut :BaCl2 +
HCl BaCl + HCl2.
(Eldza,2017)

M. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa


Suhu berpengaruh terhadap kecepatan respirasi kecambah kacang hijau
(Vignia radiata L.). Semakin tinggi suhu maka semakin besar laju respirasi kecambah
dengan hasil tercepat yaitu kecambah kacang hijau (Vignia radiata L.) pada inkubator
dengan suhu 37º memiliki kecepatan respirasi sebesar 0,05 ml/jam.
N. Daftar pustaka

Anonim, 2017. Manfaat Soda Api tau NaOH.

https://nzhflvr.wordpress.com/2017/01/14/manfaat-soda-api-atau-naoh/.
Diakses tanggal 24 Maret 2019.

Atman. 2007. Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vignia radiata L.) di Lahan Sawah.
Jurnal Ilmiah Tambua. 4 (1) : 89-95.

Eldza. 2017.Respirasi. https://www.academia.edu/19029097/RESPIRASI. Diakses 24


Maret 2019

Purwono dan Hartono, R. 2005. Kacang Hijau Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta:
Kanisius.

Salisbury, Frank and Ross, Cleon. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung: Penerbit
ITB

Winarno F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Yuliani. 2017. Metabolisme Tumbuhan. Surabaya: Unesa University Press.

Yasa, I Komang Jaya Santika. 2009. Respirasi Dipengaruhi oleh Beberapa Faktor.
www.idonbiu.com diambil tanggal 11 maret 2019.
O. Lampiran

Tabel 1. Gambar percobaan pengaruh suhu terhadap kecepatan respirasi kecambah


kacang hijau (Vignia radiata L.)

Gambar Keterangan

Kecambah kacang hijau yang berumur 2


hari direndam di dalam air selama 24 jam

Menimbang kecambah kacang hijau


sebanyak 5 gram

Membungkus 5 gram kecambah kacang


hijau dengan kain kasa dan mengikatnya
dengan seutas tali
Pengisian erlenmeyer dengan NaOH

Peletakkan kecambah kacang hijau dalam


erlenmeyer yang berisi NaOH

Kecambah kacang hijau yang siap


disimpan selama 24 jam (2 erlenmeyer
ditaruh di inkubator 2 erlenmeyer di suhu
ruang, dan erlenmeyer yang hanya berisi
NaOH ditaruh di inkubator dan suhu
ruang).

5 mL larutan NaOH (penyimpanan 24


jam) yang sudah ditambahkan BaCl2
sebanyak 2,5 mL

Pemberian 2 tetes larutan indikator pp


sehingga larutan berwarna ungu

Proses titrasi dengan pemberian HCl 0,5 N


sampai warna ungu tepat hilang
Proses akhir titrasi sehingga yang awalnya
warna larutan merah menjadi tidak
berwarna. Larutan dalam 3 perlakuan ini
siap untuk dihitung kecepatan respirasinya

Anda mungkin juga menyukai