Anda di halaman 1dari 5

Bab II

TINJAUAN PUSTAKA

Hiperlipidemia merupakan keadaan yang terjadi akibat kadar kolesterol dan/atau trigli
serida meningkat melebihi batas normal (Price & Wilson, 2006). Parameter yang digun
akan untuk mendiagnosis adanya hiperlipidemia salah satunya adalah trigliserida, yait
u lemak darah yang dibawa oleh serum lipoprotein. Trigliserida dipakai dalam tubuh t
erutama untuk menyediakan energi bagi berbagai proses metabolik, suatu fungsi yan
g hampir sama dengan fungsi karbohidrat. Trigliserida adalah penyebab utama penya
kit-penyakit arteri dan bila terjadi peningkatan konsentrasi trigliserida maka terjadi pe
ningkatan very low density lipoprotein (VLDL), yang menyebabkan hiperlipoproteinem
ia (Kee, 1997).

Hiperlipidemia adalah peningkatan kosentrasi setiap fraksi lipid


dalam plasma, meliputi hipertrigliseridemia, hiperkolesterolemia dll. Disebut pula hipe
rlipemia, lipemia, atau lipidemia. Lipid utama dalam plasma tidak bersikurlasi dalam b
entuk bebas. Asam lemak bebas (secara bervariasi dinamai FFA/free fatty acid, UFA at
au NEFA) terikat oleh albumin sedangkan kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid diangk
ut dalam 4 bentuk kompleks lipoprotein. Kilomikron merupakan kompleks lipoprotein
yang sangat besar, dibentuk dalam mukosa usus selama absorbsi produk pencernaan
lemak kemudian memasuki sirkulasi melalui duktus limpatikus. Setelah itu banyak parti
kel kilomikron dalam darah sehingga plasma mempunyai penampilan seperti susu (lip
emia). Lipoprotein lipase yang terletak pada permukaan endotel kapiler akan member
sihkan kilomikron dari sirkulasi. Enzim ini akan mengkatalisis pemecahan trigliserida d
alam kilomikron kebentuk FFA atau gliserol yang kemudian memasuki sel adipose dan
direesterifikasi, bila terjadi kegagalan proses tersebut maka akan terjadi peningkatan
kadar lipid plasma (Ganong, 1995)

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jenis jamur pangan dari kelompok
Basidiomycota. Jamur ini dapat ditemui di alam bebas sepanjang tahun. Jamur tiram
merupakan salah satu jenis jamur kayu yang tumbuh di permukaan batang pohon ya
ng sudah lapuk atau pada batang pohon yang sudah ditebang. Nama jamur tiram dia
mbil dari bentuk tudungnya yang melengkung, lonjong, dan membulat menyerupai k
erang atau cangkang tiram dengan bagian tepi yang bergelombang (Alex, 2011). Jenis
jamur ini banyak diminati karena cita rasanya yang lezat dan bisa dibuat menjadi ber
bagai macam olahan masakan.
Prospek jamur yang bagus dan minat masyarakat yang semakin meningkat dalam me
ngkonsumsi jamur, membuat banyaknya pembudidaya jamur di Indonesia. Para peng
usaha jamur memanfaatkan berbagai macam media tanam untuk budidaya jamur, su
bstrat yang dibuat seperti habitat alaminya. Media yang umum dipakai untuk membia
kkan jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu yang merupakan limbah dari penggergaj
ian kayu (Agromedia, 2009).

Jamur tiram memiliki rasa yang enak dan gizi yang tinggi. Kandungan protein nabati
mencapai 10 – 30 %, yang lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan dengan protein di d
alam asparagus, kol dan kentang; empat kali lipat dibandingkan dengan tomat dan w
ortel; serta enam kali lipat dibandingkan dengan jeruk. Selain itu mengandung 35-58
mg vitamin C dan 4,7-4,9 mg vitamin B, per 100 gram berat kering. Kandungan lainny
a yaitu garam mineral, zat besi (Fe), fosfor (P), kalium (K), natrium (Na), dan kalsium (C
a) (Alex, 2011).

Menurut Alex (2011), jamur tiram putih termasuk jamur pangan karena aman dan tida
k beracun sehingga dapat dikonsumsi. Selain aman, jamur tiram merupakan salah sat
u bahan makanan yang bernutrisi. Komposisi dan kandungan nutrisi lainnya adalah
karbohidrat, lemak, thiamin, riboflavin, niacin, dan kalsium. Kalori yang terkandung pa
da jamur tiram ini adalah 100kj/100g dengan 72% lemak tak jenuh. Serat jamur sangat
baik untuk pencernaan, kandungan seratnya mencapai 7,4-24,6% sehingga cocok un
tuk para pelaku diet.

Budidaya jamur biasanya menggunakan media serbuk gergaji. Selain serbuk gergaji a
da beberapa media yang dapat digunakan untuk budidaya jamur tiram, antara lain su
bstrat kayu, ampas tebu atau sekam. Pembiakan
1 jamur tiram biasanya menggunakan baglog, yang didalamnya sudah terdapat media
dan nutrisi yang mendukung pertumbuhan jamur. Baglog dapat dibuat sendiri yang t
erdiri dari bahan serbuk kayu, kantong plastik, cincin paralon atau bambu berdiamete
r 3cm , dedak halus, tepung jagung, air dan gips atau kapur (CaCO3) (Chazali dan Put
ri, 2010).

Serbuk gergaji kayu merupakan salah satu media tanam yang digunakan untuk menu
mbuhkan miselium jamur. Serbuk gergaji kayu banyak digunakan sebagai media bibit
jamur tiram karena risiko kontaminasinya rendah. Namun, nutrisi yang terdapat pada
serbuk gergaji kayu lebih rendah daripada media jagung. Karena itu, serbuk gergaji ka
yu harus ditambahkan dengan konsentrat dan berbagai bahan lain umnya digunakan
sebagai media jamur tiram mengandung selulosa (49,40 %), hemiselulosa (24,59%), li
gnin (26,8 %), abu (0,60 %), silika (0,20) (Astuti, dkk., 2013).

Dari kandungan kayu tersebut ada yang berguna dan membantu pertumbuhan jamur
, tetapi ada pula yang menghambat. Kandungan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan
jamur antara lain karbohidrat, lignin, dan serat, sedangkan faktor yang menghambat a
ntara lain adanya getah dan zat ekstraktif (zat pengawet alami yang terdapat pada ka
yu). Oleh karena itu serbuk kayu yang digunakan untuk budidaya jamur sebaiknya ber
asal dari jenis kayu yang tidak banyak mengandung zat pengawet alami, tidak busuk
dan tidak ditumbuhi oleh jamur atau kapang lain. Serbuk kayu yang baik adalah serbu
k yang berasal dari kayu keras dan tidak banyak mengandung minyak ataupun getah.
Namun demikian serbuk kayu yang banyak mengandung minyak maupun getah dapa
t pula digunakan sebagai media dengan cara merendamnya lebih lama sebelum pros
es lebih lanjut (Maulana, 2011).

Jamur tiram telah banyak dibudidayakan di Indonesia melalui berbagai media tanam (
substrat). Bukan tanpa alasan jika banyak orang yang memilih membudidayakan jamu
r tiram dibandingkan dengan jamur lainnya. Hal ini disebabkan keistimewaan jamur tir
am yang merupakan jenis jamur yang paling mudah dibudidayakan karena memiliki k
emampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan (Suharjo, 2015).

Manfaat jamur tiram pada kesehatan, yaitu untuk mencegah berbagai macam penyaki
t, diantaranya mencegah diabetes melitus dan penyempitan pembuluh darah, menuru
nkan kolesterol darah, menambah vitalitas dan daya tahan tubuh, mencegah penyakit
tumor dan kanker, gondok, influenza, serta memperlancar buang air besar. Selain itu,
jamur tiram dapat menghentikan perdarahan dan mempercepat pengeringan luka (S
uharjo, 2015).

Kandungan nutrisi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) lebih tinggi daripada jamur
lainnya, dimana berat kering yang dimiliki jamur tiram putih setiap 100 gram adalah 12
8 kalori, protein 27 %, lemak 1,6 %, karbohidrat 58 % (Suharjo, 2015), kalsium 51 mg, z
at besi 6,7 mg, vitamin B 0,1 mg. Nutrisi lengkap yang diperlukan oleh jamur tiram ant
ara lain karbohidrat (selulosa, hemiselulosa dan lignin), protein (urea), lemak, mineral
kalsium karbonat (CaCO3) dan kalsium sulfat (CaSO4) dan vitamin (Astuti, dkk., 2013).
Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical U
niversitas Chulangkorn, jamur tiram mengandung : protein, air, kalori, karbohidrat, da
n sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C. Jamur t
iram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan
protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur i
ni memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan pr
otein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%.Ko
mposisi dan kandungan nutrisi setiap 100 gram jamur tiram adalah 367 kalori, 10,5-30,
4 persen protein, 56,6 persen karbohidrat, 1,7-2,2 persen lemak, 0.20 mg thiamin, 4.7-
4.9 mg riboflavin, 77,2 mg niacin, dan 314.0 mg kalsium. Kalori yang dikandung jamur
ini adalah 100 kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Serat jamur sangat baik
untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4- 24,6 %.

Kandungan gizi jamur tiram menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Per
tanian. Protein rata-rata 3.5 – 4 % dari berat basah. Berarti dua kali lipat lebih tinggi di
bandingkan asparagus dan kubis. Jika dihitung berat kering. Kandungan proteinnya 10
,5-30,4%.Sedangkan beras hanya 7.3%, gandum 13.2%, kedelai 39.1%, dan susu sapi 2
5.2%. Jamur tiram juga mengandung 9 macam asam amino yaitu lisin, metionin, tripto
fan, threonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. Hasil studi di Massachuse
tt University menyimpulkan bahwa riboflavin, asam Nicotinat,Pantothenat, dan biotin (
Vitamin B) masih terpelihara dengan baik meskipun jamur telah dimasak.
Hasil penelitian dari Beta Glucan Health Center menyebutkan bahwa jamur tiram(Pleu
rotus ostreatus) mengandung senyawa Pleuran (di Jepang, jamur tiram disebut Hirata
kesebagai jamur obat), mengandung protein (19-30 persen), karbohidrat (50-60 perse
n), asamamino, vit B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (Niacin), B5 (asam panthotenat), B7
(biotin), Vit Cdan mineral Calsium, Besi, Mg, Fosfor, K, P, S, Zn. Dapat juga sebagai ant
itumor,menurunkan kolesterol, dan antioksidan. 72% Lemak dalam jamur tiram adala
h asam lemak tidak jenuh sehingga aman dikonsumsi baik yang menderita kelebihan
kolesterol (hiperkolesterol) maupun gangguan metabolisme lipid lainnya. 28% asam l
emak jenuh serta adanya semacam polisakarida kitin di dalam jamur tiram diduga me
nimbulkan rasa enak. Jamur tiram juga mengandung vitamin penting, terutama vitami
n B, C dan D. vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (erg
osterol), dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium, Fosfo
r, Natrium, Kalsium, dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah : Zn, Fe, Mn, Mo,
Co, Pb Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kad
ar K mencapai 45%. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jarum tiram kan
dungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari.