Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

(MATA KULIAH KEGAWATDARURATAN)


ASUHAN KEPERAWATAN
KEGAWATDARURATAN PADA TRAUMA ABDOMEN
Dosen : Janes Jainurakhma, M.Kep

KELOMPOK 2 :
1. Amalia Fitriani (1520044)
2. M. Hari Rudi (1520060)
3. Melati Budiarti (1520062)
4. Nanang Eko P (1520064)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN
TAHUN 2018

i
KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Warahmatullah Wabarakatuh


Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah, SWT, karena berkat
rahmat dan karuniaNYA kami dapat menyelesaikan Makalah ini yang berkenaan
dengan makalah Gawat Darurat tentang “Kegawatdaruratan Trauma Abdomen”.
Penyusunan makalah ini merupakan salah satu metode pembelajaran pada
mata kuliah Gawat Darurat di Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes
Kepanjen. Pada kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan masukan, dorongan dan bimbingan
kepada kami dalam menyusun makalah ini baik dari segi moril dan materil.
Ucapan terimakasih tersebut ditujukan kepada:
1. Janes Jainurakhma,M.Kep selaku dosen pengajar mata kuliah
Kegawatdaruratan.
2. Rekan-rekan progam S1 4B Progam Studi Ilmu Keperawatan.
Kamipun menyadari bahwa susunan pembuatan makalah ini belum
mencapai hasil yang sempurna. Oleh karena itu, kritikan dan saran sangat
diharapkan yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata Kami mengucapkan selamat membaca dan semoga makalah ini
dapat membantu pembaca dalam mengetahui tentang Kegawatdaruratan Trauma
Abdomen.
Waalaikumsalam Wr.Wb

Kepanjen, 5 Oktober 2018

Penulis

ii
iii
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ...................................................................................................... I
KATA PENGANTAR ............................................................................... II
DAFTAR ISI .............................................................................................. III

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Trauma Abdomen ....................................................... 3
2.2 Jenis Trauma Abdomen................................................................. 3
2.3 Etiologi Trauma Abdomen ............................................................ 4
2.4 Patofisiologi Trauma Abdomen .................................................... 4
2.5 Manifestasi Klinis ......................................................................... 6
2.6 Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Trauma Abdomen ................ 7
2.7 Prosedur Diagnostik ...................................................................... 9
2.8 Teori Asuhan Keperawatan ........................................................... 12
2.9 Peran Perawat ................................................................................ 16
BAB III STUDI KASUS ............................................................................ 20
BAB IV PEMBAHASAN........................................................................... 22
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .................................................................................... 25
5.2 Saran ............................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 26
LAMPIRAN ............................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pertolongan penderita gawat darurat dapat terjadi dimana saja baik di
dalam rumah sakit maupun diluar rumah sakit, dalam penanganannya
melibatkan tenaga medis maupun non medis termasuk masyarakat awam.
Pada pertolongan pertama yang cepat dan tepat akan menyebabkan
pasien/korban dapat tetap bertahan hidup untuk mendapatkan pertolongan
yang lebih lanjut (Musliha, 2010).
Kegawatdaruratan kejadian yang tidak diduga atau terjadi secara
tiba-tiba, seringkali merupakan kejadian yang berbahaya (Dorlan, 2011).
Kepala divisi hubungan masyarakat (kadiv Humas) menyatakan, sebanyak
1.547 jiwa meninggal dunia akibat korban kecelakaan lalu lintas di seluruh
Indonesia sejak awal Januari 2012. Angka kecelakaan lalu lintas cukup
tinggi dan menonjol, datanya selama satu setengah bulan ada 9.884 kasus,
meninggal dunia 1.547 jiwa, luka berat 2.562 jiwa dan luka ringan 7.564
jiwa. Salah satu kematian akibat kecelakaan adalah diakibatkan trauma
abdomen. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematia 75% trauma
tumbul abdomen, trauma abdomen merupakan penyebab terbanyak
kehilangan nyawa yang bersifat tragis, trauma abdomen yang tidak di
ketahui masih tetap menjadi momok sebagai penyebab kematian yang
seharusnya bisa dicegah. (Depkes RI, 2012).
Oleh karena hal tersebut di atas akan mengakibatkan kerusakan dan
menimbulkan robekan organ-organ dalam rongga abdomen atau
mengakibatkan penumpukan darah dalam rongga abdomen yeng berakibat
kematian. Dalam kasus ini “waktu adalah nyawa” dimana dibutuhkan suatu
penanganan yang professional yaitu cepat, tepat, cermat dan akurat baik
tempat kejadian (pre hospital), transportasi sampai tindakan definitive di
rumash sakit (Kurniati, et al., 2018).
1.2 RUMUSAN MASALAH

1
2

Rumusan masalah makalah ini ialah “ Bagaimanakah Asuhan Keperawatan


Kegawatdaruratan dari trauma tumpul abdomen ?”
1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui lebih lanjut tentang asuhan keperawatan trauma
abdomen yang dimungkinkan karena trauma benda tumpul.
1.3.2 Tujuan Khusus
Makalah ini disusun dengan tujuan khusus sebagai berikut ?
1.3.2.1 Mahasiswa mampu memahami tentang pengertian trauma abdomen.
1.3.2.2 Mahasiswa mampu memahami tentang jenis trauma abdomen
1.3.2.3 Mahasiswa mampu memahami tentang etiologi trauma abdomen
1.3.2.4 Mahasiswa mampu memahami tentang patofisiologi trauma
abdomen
1.3.2.5 Mahasiswa mampu memahami tentang manifestasi klinis trauma
abdomen
1.3.2.6 Mahasiswa mampu memahami tentang penatalaksanaan kegawat
daruratan pada trauma abdomen meliputi primary survey dan secondary
survey
1.3.2.7 Mahasiswa mampu memahami tentang pemeriksaan diagnostic
trauma abdomen
1.3.2.8 Mahasiswa mampu memahami tentang asuhan keperawatan trauma
abdomen
1.3.2.9 Mahasiswa mampu memahami tentang peran perawat pada kegawat
daruratan trauma abdomen
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN TRAUMA ABDOMEN


Trauma secara umum didefinisikan sebagai kecederaan yang tidak
disengaja, kasus pembunuhan, dan kasus bunuh diri. (Panacea, 2014).
Trauma adalah cedera fisik dan psiskis, kekerasan yang mengakibatkan
cedera (Sjamsuhidayat, 1997 dalam Musliha, 2010).
Trauma abdomen adalah pukulan/benturan langsung pada rongga
abdomen yang mengakibatkan cidera tekanan/tindasan pada isi rongga
abdomen, terutama organ padat (hati, pancreas, ginjal, limpa) atau berongga
(lambung, usus halus, usus besar, pembuluh-pembuluh abdominal) dan
mengakibatkan rupture abdomen. (Nugroho, et al., 2016). Trauma abdomen
adalah terjadinya atau kerusakan pada organ abdomen yang dapat
menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolism,
kelainan imunologi dan gangguan faal berbagai organ.

2.2 JENIS TRAUMA ABDOMEN


Menurut Musliha (2010) trauma pada dinding abdomen terdiri dari :
2.2.1 Kontusio dinding abdomen
Disebabkan trauma non-penetrasi. Kontusio dinding abdomen tidak
terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi eksimosis atau
penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darah dapat menyerupai
tumor.
2.2.2 Laserasi
Jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga
abdomen harus dieksplorasi. Atau terjadi karena trauma penetrasi.
Trauma abdomen pada isi abdomen terdiri dari :
2.2.3 Perforasi organ visceral intraperitonium
Cedera pada isi abdomen mungkin disertai oleh bukti adanya
cedera pada dinding abdomen.
2.2.4 Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen

3
4

Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan diagnostic


ahli bedah.
2.2.5 Cedera thorak abdomen
Setiap luka pada thorak yang mungkin menembus sayap kiri
diafragma, atau sayap kanan dan hati harus dieksplorasi.

2.3 ETIOLOGI TRAUMA ABDOMEN


Kecelakan lalu lintas, penganiayaan, kecelakan olaraga dan terjatuh
dari ketinggian.
Menurut Musliha (2010) penyebab trauma abdomen adalah ,sebagai
berikut:
1. Penyebab trauma penetrasi
 Luka akibat terkena tembakan
 Luka akibat tikaman benda tajam
 Luka akibat tusukan
2. Penyebab trauma non –penetrasi
 Terkena kompresi atau tekanan dari luar tubuh
 Hancur (tertabrak mobil )
 Terjepit sabuk pengaman karna terlalu menekan perut
 Cindera akseleksi /deserasi karena kecelakan oleh raga

2.4 PATOFISIOLONGI TRAUMA ABDOMEN


Jika terjadi trauma penetrasi atau non-penetrasi kemungkinan terjadi
perdarahan intra abdomen yang serius, pasien akan memperlihatkan tanda-
tanda iritasi yang disertai penurunan hitung sel darah merah yang akhirnya
gambaran klasik syokm hemoragik. Bila suatu organ visceral mengalami
perforasi, maka tanda-tanda perforasi, tanda-tanda iritasi peritoneum cepat
tampak. Tanda-tanda dalam trauma abdomen tersebut meliputi nyeri tekan,
nyeri spontan, nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah
terjadi peritonitis umum. Bila syok telah lanjut pasien akan mengalami
takikardi dan peningkatan suhu tubuh, juga terdapat leukositosis. Biasnya
tanda-tanda peritonitis mungkin belum tampak. Pada fase awal perforasi
5

kecil hanya tanda-tnada tidak khas yang muncul. Bila terdapat kecurigaan
bahwa masuk rongga abdomen, maka operasi harus dilakukan
(Sjamsuhidayat, 1997 dalam Musliha 2010).
Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia
(akibat kecelakaan lalulintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan
terjatuh dari ketinggian) maka beratnya trauma merupakan hasil dari
interaksi antara faktor-faktor fisik dari kekuatan tersebut dengan jaringan
tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan dengan kemampuan objek
statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh, pada tempat benturan karena
terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan
menimbulkan distruksi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan
yang menghentikan tubuh juga penting trauma juga tergantung pada
elastisitas dan viskonsitas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan
jaringan untuk kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskonsitas adalah
kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan.
Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut.
Beratnya trauma yang tergantung pada beberapa jauh gaya yang ada akan
dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus
dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap
permukaan benturan. (Nugroho, et al., 2016).
Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang
disebabkan beberapa mekanisme:
 Meningkatkan tekanan intraksi abdominal yang mendadak dan
hebat oleh gaya tekanan dari luar seperti benturan setiar atau sabuk
pengaman yang letaknya tidak benar dapat mengakibatkan
terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
 Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior
dan vertebrae atau struktur tulang dinding thoraks
Terjadi gaya akselerasi–deselerasi secara mendadak dapat
menyebabkan gaya robek pada dan organ dan pendikel vaskuler.
6

Trauma
(kecelakan )

Penetrasi & non –penetrasi

Terjadi perforasi lapisan abdomen


(kontusio, laserasi, jejas, hematom)

Menekan saraf peritonitis

Terjadi perdarahan jar.lunak dan rongga abdomen nyeri

Montilitas usus

Disfungsi usus resiko infeksi

Refluks usus output cairan berlebih

Gangguan cairan nutrisi kurang dari


dan elektrolit kebutuhan tubuh

kelemahan

mobilitas fisik

2.5 MANIFESTASI KLINIS


Kasus trauma abdomen ini bisa menimbulkan manifestasi klinis, meliputi :
nyeri tekan diatas daerah abdomen, distensi abdomen, demam, anoresia, mual dan
muntah, takikardi, peningkatan suhu tubuh, nyeri spontan.
Menurut Nugroho, dkk (2016) pada trauma non-penetrasi (tumpul) biasanya
terjadi adanya :
7

 Jelas atau ruftur dibagian dalam abdomen


 Terjadi perdarahan intra abdominal.
 Apabila trauma terkena usus, mortilisasi usus terganggu sehingga fungsi
usus tidak normal dan biasanya akan mengakibatkan peritontis dengan
gejala mual, muntah, dan BAB hitam (melena).
 Kemungkinan bukti klinis tidak tampak sampai beberapa jam setelah
trauma.
 Cedera seriusdapat terjadi walaupun tak terlihat tanda kontusio pada
dinding abdomen
Pada trauma penetrasi biasanya terdapat :
 Terdapat luka robekan pada abdomen.
 Luka tusuk sampai menusuk abdomen.
 Penanganan yang kurang tepat biasanya memperbanyak pendarahan/
memperparah keadaan.
 Biasanya organ yang terkena penetrasi bisa keluar dari dalam abdomen
Tanda dan gejala trauma abdomen yaitu: (Nugroho, et al., 2016).
1. Nyeri
Nyeri dapat terjadi mulai dari nyeri sedang sampai yang berat. Nyeri dapat
timbul dibagian yang luka atau tersebar. Terdapat nyeri saat ditekan dan
nyeri lepas.
2. Darah dan cairan
Adanya penumpukan darah atau cairan dirongga peritonium yang
disebabkan oleh iritasi.

2.6 PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN TRAUMA ABDO-


MEN
Menurut Musliha (2011) penilaian awal yang dilakukan adalah
ABC jika ada indikasi, jika korban tidak berespon, maka segera buka dan
bersihkan.
2.6.1 Primary Survey
a. Airway
8

Membuka jalan nafas menggunakan teknik head tilt chin lift atau
mengadakan kepala dan mengangkat dagu, periksa adakah benda
asing yang mengakibatkan tertutupnya jalan nafas. Muntahan,
makanan, darah atau benda asing lainnya. (Dewi, 2013)
b. Breathing
Memeriksa pernapasan dengan cara ‘lihat, dengar, rasakan’,
selanjutnya pemeriksaan status repirasi klien. Control jalan nafas
pada penderita trauma abdomen yang airway terganggu karena faktor
mekanik, ada gangguan ventilasi atau ada gangguan kesadaran,
dicapai dengan intubasu endotrakeal. Setiap penderita trauma
diberikan okesigen. Bila tanpa intubasi, sebaiknya diberikan dengan
face mask. Pemakaian pulse oximetry baik untuk menilai saturasi
oksigen yang adekuat. (Kurniati, et al., 2018)
c. Circulation
Jika pernafasan pasien cepat dan tidak adekuat, maka berikan
bantuan pernafasan. Resusitasi pasien dengan trauma abdomen
penetrasi dimulai segera setelah tiba. Cairan harus diberikan dengan
cepat, NaCl atau Ringer Laktat dapat digunakan untuk resusitasi
kristaloid. (Kurniati, et al., 2018)
d. Disability
Dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Yang
dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.
(Kurniati, et al., 2018)
e. Exposure
Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya dengan cara
menggunting untuk memeriksa dan evaluasi penderita. Paparan
lengkap dan visualisasi head-to-toe pasien adalah wajib pada pasien
dengan trauma abdomen penetrasi. (Dewi, 2013)
2.6.2 Secondary Survey
a. Pemeriksaan kepala
 Kelainan kulit kepala dan bola mata
 Telinga bagian luar dan membrane timpani
9

 Cedera jaringan lunak periorbital


b. Pemeriksaan leher
 Luka tembur leher
 Enfisima subkutan
 Deviasi trachea
 Vena leher yang mengembang
c. Pemeriksaan neurologis
 Penilaian fungsi otak dengan GCS
 Penilaian fungsi medulla spinalis dengan aktivitas motoric
 Penilaian rasa raba/sensasi dan reflex
d. Pemeriksaan dada
 Clavicular dan semua tulang iga
 Suara napas dan jantung
 Pemantauan ECG
e. Pemeriksaan rongga perut
 Luka tembus abdomen memerlukan eksplorasi bedah
 Pasangkan pipa nasogastric pada pasien trauma tumpul
abdomen kecuali bila ada trauma wajah
 Periksa dubur
 Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus
externus
f. Pelvis dan ekstrimitas
 Cari adanya fraktur
 Cari denyut nadi perifer pada daerah trauma
 Cari luka, memar dan cedera lain

2.7 PROSEDUR DIAGNOSTIK


2.6.1 TES LABORATORIUM
Menurut Kurniati, dkk pada tahun 2018 dalam bukunya
menerangkan tes laboraturium pada trauma abdomen sebagai berikut:
a. Menghitung darah lengkap dan pemeriksaan metabolic dan kimia
lengkap
10

b. Hemtokrit dan hemoglobin serial


c. Jenis dan crossmatch
d. Laktat serum dan gangguan bassa
e. Koagulasi dan waktu perdarahan
f. Tes fungsi hati, amilase, dan lipase
g. Urinalisis
h. Test kehamilan pada semua perempuan usia produktif
i. Skrening tingkat alcohol dan toksikologi bila memungkinkan
j. Pemeriksaan darah samar isi lambung dan feses
2.6.2 FOCUSED ASSESSMENT WITH SONOGRAPHY FOR
TRAUMA
Pemriksaan pengkajian trauma fokus pada sonografi (FAST)
merupakan pemeriksaan yang cepat, ultrasound disamping tempat tidur
untuk empat sampai enam area spesifik abdomen (pericardial, perisplenik,
dan pelvis). Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi cairan bebas
di intraperitoneal atau pericardial pada kasus trauma. Pemeriksaan FAST
sangat sensitive dan dapat mendeteksi volume carian 100-200 mL. sebagai
tambahan, pemeriksaan ini tidak invansive, dapat dilakukan bersamaan
dengan resusitasi, dan memerlukan waktu kurang dari 5 menit. Sayangnya,
pemeriksaan FAST tidak dapat mengkaji area retroperitoneum atau
colorectal secara adekuat dan tidak terlalu sensitive untuk mengevaluasi
organ solid dan kerusakan visceral. Indikasi pemeriksaan FAST meliputi
(Kurniati, et al., 2018):
a. Ditemukan trauma abdomen penetrasi atau tumpul
b. Setiap pasien dengan mekanisme cedera resiko tinggi trauma tumpul
Pemeriksaan diagnostic tambahan yang mungkin diperlukan jika
pemeriksaan FAST memberikan hasil negative :
2.6.3 COMPUTED TOMOGRAPHY ABDOMEN
CT abdomen adalah pemeriksaan yang cepat dan akurat untuk
mengevaluasi banyak kejadian trauma intra abdominal dengan sensitivitas
yang tinggi untuk mendeteksi lesi pada organ solid, cedera vascular, dan
pendarahan intraperitoneal. Sebagai tambahan, dengan adanya tren ke depan
11

manajemen non operative pada trauma abdomen. CT scan serial menjadi


pemeriksaan yang sangat baik untuk melakukan evaluasi struktur intra
abdomen.
Indikasi CT abdomen meliputi (Kurniati, et al., 2018):
a. Pasien dengan trauma abdomen berat atau temuan fisik yang
mendukung.
b. Pasien dengan hemodinamik stabil dengan temuan fisik yang
mendukung
c. Pasien dengan mekanismen injuri resiko tinggi trauma abdomen
CT abdomen dibatasi penggunaannya pada pasien dengan
hemodinamik tidak stabil karena menyita waktu, termasuk penggunaan
media kotras, dan memerlukan pemindahan pasien ke tempat scan.
2.6.4 DIAGNOSTIC PERITONEAL LAVAGE
Salah satu pemeriksaan yang paling umum, diagnostic peritoneal
lavage (DPL) menjadi pemeriksaan yang paling banyak menggantikan CT
scan untuk mengkaji trauma abdomen. Pemeriksaan ini dilakukan di tempat
di mana pasien yang mengalami trauma abdomen tumpul dengan
hemodinamik tidak stabil dan pasien dengan risiko terjadi komplikasi ketika
dipindahkan ke ruang scanner. Sama seperti pemeriksaan FAST, DPL tidak
dapat mengakses retroperitoneum. DPL tidak diindikasikan untuk cedera
penetrasi; luka pada kondisi tersebut membutuhkan pembeddahan
eksplorasi. (Kurniati, et al., 2018)
Indikasi dari pemeriksaan DPL meliputi :
a. Pengkajian cepat pada pasien multitrauma yang membutuhkan
pembedahan segera karena cedera kepala berat atau cedera dada
yang masih mempunyai kemungkinan trauma abdomen. DPL dapat
dilakukan dengan cepat di unit gawatdarurat atau kamr operasi
selama intervensi lain dilakukan
b. Temuan trauma tumpul abdomen pada pasien dengan hemodinamik
tidak stabil dengan hasil pemeriksaan FAST yang masih samar
c. Pasien dengan hemodinamik stabil yang tidak memungkinkan
mendapat tanda-tanda trauma tumpul abdomen dari pemeriksaan CT
12

scan tidak tersedia. Termasuk pasien tidak sadar atau keracunan atau
pasien dengan kecurigaan cedera tulang belakang.

2.8 TEORI ASUHAN KEPERAWATAN


2.8.1 PENGKAJIAN
Dasar pemeriksaan fisik ‘head to toe’ harus dilakukan dengan
singkat tetapi menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki.
Jika injury penetrasi mungkin hanya terbatas pada abdomen,
trauma tumpul abdomen jarang merupakan kejadia tunggal. Trauma kepala
dan dada, dan injury yang mengancam jiwa lainnya, biasanya menjadi
penyulit dalam pengkajian dan perawatan.
Melakukan pemeriksaan fisik secara cermat dengan prosedur
diagnostic ketika mengkaji pasien, khususnya individu yang tidak sadar,
terintoksikasi, dengan penurunan tingkat kesadaran, atau mempunyai
riwayat cedera kepala. Korban yang secara bersamaan mempunyai cedera
tulang belakang akan mengalami penurunan sensasi yang akn berpengaruh
pada pemeriksaan abdomen. Tidak adanya temuan klinis tidak
mengesampingkan kemungkinan adanya cedera abdomen, khususnya pada
pasien hamil atau mempunyai deficit neurologis yang bersamaan.
Inspeksi abdomen untuk melihat :
a. Luka penetrasi yang nyata
b. Ekimosis dan abrasi
c. Memar pada panggul
d. Distensi
e. Perdarahan restum
f. Pembengkakan testis
g. Tanda balance, Cullen, atau Grey-Turner.
Auskultasi suara usus di semua kuadran
a. Cek adanya bruit, dimana mengindkasikan fistula arteri
vena akibat trauma
b. Auskultasi harus dilakukan lebih dahulu sebelum perkusi
dan palpasi
13

Perkusi diatas abdomen dan area costa vertebra untuk :


a. Timpani mengindikasikan udara di abdomen sebagai akibat
dari perforasi usus
b. Dullness berhubungan dengan darah, cairan, atau massa
solid di abdomen.
Palpasi area terakhir yang paling nyeri untuk meminimalkan nyeri
yang terdistraksi di bagian lain dari abdomen palpasi untuk
mengetahui :
a. Nyeri tekan
b. Kekakuan
c. Nyeri lepas
d. Melindungi bagian abdomen tanpa disadari merupakan
tanda paling nyata dari iritasi peritoneal
e. Instabilitas pelvis
2.8.1.1 Primary Survey
1. Airway
Tidak ada obstruksi jalan nafas
2. Breathing
Ada dispneu, penggunaan otot bantu nafas dan nafas cuping hidung
3. Circulation
Hipertensi, perdarahan, tanda Cullen, tanda grey-turner, tanda
coopernail, tanda balance, takikardi, diaphoresis.
4. Disability
Nyeri, penurunan kesadaran, tanda kehr.
5. Exposure
2.8.1.2 Secondary Survey
Pengkajian data dasar menurut Doenges (2000), dalam buku
Musliha 2010, adalah:
1. Aktivitas/istirrahat
Data Subyektif : pusing, sakit kepala, nyeri mulas
Data obyektif : perubahan kesadaran, masalah dalam
keseimbangan cedera (trauma)
14

2. Sirkulasi
Data Obyektif : kecepatanan (bradipneu, takhipneu), pola napas
(hipoventilasi, hiperventilasi,dll)
3. Integritas ego
Data Subyektif : perubahan tingkah laku/kepribadian (tenang atau
dramatis)
Data Obyektif : cemas, bingung, depresi
4. Eliminasi
Data Subyektif : inkontinensia kandung kemih/usus atau
mengalami gangguan fungsi.
5. Makanan dan cairan
Data subyektif : mual, muntah, dan mengalami perubahan selera
makan.
Data Obyektif : mengalami distensi abdomen
6. Neurosensory
Data Subyektif : kehilangan kesadaran sementara, vertigo
Data Obyektif : perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan
status mental, kesulitan dalam menentukan posisi tubuh
7. Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif : sakit pada abdomen dengan intensitas dan lokasi
yang berbeda, biasanya lama
Data Obyektif : wajah meringis, gelisah, merintih
8. Pernafasan
Data Obyektif : perubahan pola nafas
9. Keamanan
Data Subyektik : trauma baru/trauma karena kecelakaan
Data Obyektif : dislokasi gangguan kognitif, gangguan rentang
gerak
2.8.2 DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan
2. Nyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka
penetrasi abdomen
15

3. Resiko infeksi berhubungan dengan timdakan pembedahan, tidak


adekuatnya pertahanan tubuh
4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status
kesehatan
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik
2.8.3 INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurut Kurniati, dkk pada tahun 2018 dalam bukunya
menerangkan intervensi keperawatan pada trauma abdomen sebagai berikut:
1. Pertimbangkan kemungkinan trauma thorax atau trauma spinal yang
terjadi bersamaan didasarkan pada pola nafas yang tidak normal.
Sebagai contoh pennfasan abdomen dapat dibungkan dengan cedera
tulang belakang.
2. Berikan oksigen tambahan
3. Bantu ventilasi dengan bag-mask atau ventilator mekanik
4. Kaji status secara frekuen (HR, warna kulit dan temperatur, pulsasi,
capillary refill, tekanan darah), karena pasien dengan trauma
abdomen dapat kehilangan darah dalam volume besar
5. Pasang 2 vena kateter intravena ukuran besar. Pemasangan kateter
sentral (melalui jugularis, subclavia, atau femur) mungkin diperlukan
untuk memasukkan cairan dalam volume besar dan untuk memonitor
tekanan vena sentral.
6. Infus cairan kristaloid (Ringer lactate, normal saline). Hangatkan
cairan IV untuk mencegah hipetermi asidosis
7. Karena pemberian bolus cairan berpotensi untuk memindahkan
bekuan yang baru terbentuk, peran cairan dalam resusitasi trauma
abdomen masih kontroversial. Dalam hal ini direkomendasikan
pendekatan yang cermat dalam penggantian cairan. Titrasi cairan
intravena sampai tekanan darah sistolik 90 mmHg untuk memelihara
perfusi organ vital
8. Lakukan transfusi packet red blood cells, fresh frozen plasma, dan
platelet sesuai kebutuhan. Monitor kalsium serum dan lakukan
16

penggantian jika diperlukan karena pemberian tranfusi darah dalam


jumlah besar dapat menyebabkan hypokalemia.
9. Identifikasi mekanisme cedera (seperti tabrakan kecepatan tinggi,
penggunaan sabuk, jaturh dari ketinggian, jenis dan ukuran senjata,
waktu terjadinya cedera, perkiraan jumlah darah yang hilang, dll)
dan penanganan prehospital (oksigen, cairan IV, medikasi nyeri dan
tanda-tanda vital). Riwayat hipotensi prehospital merupakan
predictor signifikan adanya cedera intra abdominal.
10. Pertahankan control tulang leher dan log roll pada pasien untuk
melihat adanya luka dan tanda-tanda injuri pada abdomen posterior
11. Pertimbangkan pemasangan selang nasogastrik dan orogastrik untuk
dekompresi lambung dan kateter urine tetap untuk melakukan
monitor output
12. Tutup luka terbuka pada abdomen dengan menggunakan balutan
dengan saline steril. Jangan biarkan viscera terbuka menjadi kering
13. Stabilisasi, tetapi jangan mencabut, objek yang menancap di
abdomen
14. Trend kedepan adalah manajemen non operatif pada pasien dengan
cedera organ solid
2.8.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-
aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan klien. Agar
implementasi/pelaksanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu
mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon
pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumen-
tasikan pelaksanaan perawatan.
2.9 PERAN PERAWAT
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari:
1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Caring yang dilakukan pada ruang IGD meliputi Sembilan tema
yaitu:
 niat menolong dari hati
17

 komunikasi sebagai kunci kepercayaan


 penjelasan berkaitan segala hal tentang pasien agar keluarga
siap
 dukungan spiritual dan semangat untuk kesembuhan pasien
 peduli mendengar keluh kesah pasien dan keluarga
 mengalami perubahan emosi
 cepat merespon dan memilah kondisi pasien
 upaya maksimal perawat melakukan tindakan terbaik
 mementingkan kehadiran keluarga agar bisa memberikam
semangat pasien
(Januar F, et al., 2017)
2. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan
khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan &
melindungi hak-hak pasien meliputi :
 Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
 Hak atas informasi tentang penyakitnya
 Hak atas privacy
 Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
 Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan
yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien
setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Sebagai coordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta
mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga
pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan
kebutuhan klien.
18

5. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan
yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya
mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan.
6. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah
sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
7. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang
sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawata
Menurut jurnal yang ditulis oleh (Sander, 2013) menerangkan bahwa
peran perawat yaitu :
 Evaluasi terhadap saluran pernafasan dan tulang vertebra.
Dengan memperhatikan adanya sumbatan pada saluran pernafasan
kebawah dan mencakup larynx, serta benda asing yang harus dikeluarkan
dan adanya kemungkinan fraktura vertebra cervicalis, sehingga dilakukan
hiperekstensi kepala dan leher pasien untuk mempertahankan saluran
pernafasan atau untuk memasukkan pipa endotracheal atau cara sederhana
dengan satu metode dengan mengangkat dagu. Bila tindakan ini gagal
untuk menghilangkan obstruksi, maka pipa endotracheal dipasang melalui
hidung untuk mencegah hiperekstensi leher pada fraktur vertebrae
cervicalis. Bila intubasi trachea nasal tidak berhasil, maka diindikasikan
krikotiroidotomi bedah dengan membuat insisi kulit vertikal atau
transversa yang meluas melalui ligamentum cricothyroidea yang diikuti
pemasangan pipa trakeostomi kecil.
 Pertukaran udara : Perhatian selanjutnya pada tercukupinya pertukaran
udara, pemberian oksigenasi yang adekuat.
 Sirkulasi : Nadi dipalpasi dan dinilai kecepatan dan irama. Dilakukan
pemeriksaan terhadap tensi atau pengukuran untuk mengetahui adanya
tanda-tanda syok yang perlu segera dilakukan tranfusi darah dan terapi
19

cairan yang seimbang diberikan secara cepat untuk mengatasi syok


hipovolemik.
 Pemasangan pipa lambung (NGT) untuk mencegah muntah dan aspirasi
dan pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kencing dan
menilai jumlah urin yang keluar
BAB III
STUDI KASUS

Kasus menurut jurnal dari Limas, P I dan Hanafi, B. 2014 dengan judul
“Perbandingan Pemberian Packed Red Cell dan Fresh Frozen Plasma dengan
Stored Whole Blood terhadap Prothrombin Time pada Pasien Trauma
Tumpul Abdomen”.
Pemberian darah dalam transfuse pada kasus trauma seringkali tidak
beraturan. Pada masa lalu, darah diberikan dalam bentuk whole blood. Saat ini
telah ditinggalkan karena pemberian komponen darah dalam bentuk Packed Red
Cell (PRC) lebih menguntungkan. Penggunaan komponen darah berupa Fresh
Frozen Plasma (FFP) dalam penanganan trauma saat ini dianjurkan untuk
menanggulangi keadaan koagulopati. Perbandingan Packed Red Cell (PRC)
dengan FFP diharapkan mendekati ratio 1:1. Penggunaan rasio yang saat ini
disepakatidi RS Hasan Sadikin adalah 3:1. Di masa lalu, resusitasi darah pada
pasien trauma tidak menggunakan komponen darah, melainkan darah di simpan
secara utuh yang dikenal sebagai Whole Blood (WB). Penggunaan WB tidak
dianjurkan lagi karena plasma dalam penyimpanan demikian tidak memiliki
fungsi koagulasi sehingga merupakan pemborosan. Penggunaan terbaik
merupakan Penggunaan terbaik merupakan Fresh Whole Blood, namun dalam
dunia sipil, mobilisan donor seringkali sulit dilakukan dalam hal jumlah dan
waktu. Walaupun beberapa penelitian menunjukkan tidak adanya perbaikan dalam
hal mortalitas jangka panjang, namun penggunaan komponen darah FFP tetap
diperlukan untuk menanggulangi koagulopati. Beberapa penelitian menunjukkan
adanya pengaruh pemberian FFP terhadap Prothrombin Time (PT) pada pasien
yang telah mengalami pemanjangan PT baik karena medikamentosa (iatrogenic)
maupun karena adanya kelainan system hemostasis. Peneliti lain menyatakan
tudak adanya perubahan bermakna pemberian FFP terhadap perbaikan PT bilaman
INR tidak melebihi 1,5. Pinkerton menyatakan bahwa dibutuhkan pemberian FFP
dalam jumlah 15-20 ml per kgBB untuk didapatkan hasil yang bermakna.
Beberapa keracunan yang ditemukan adalah bahwa penggunaan komponen
darah ideal berupa rasio 1:1 hingga 3:1 tidak dijumpai dalam kenyataannya.

20
21

Penanganan trauma di masa lalu adalah dengan pemberian WB secara eksklusif


tanpa disertai pemberian FFP.
BAB IV
PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan Limas dan Hanafi (2014) bahwa
penggunaan FFP dalam penanganan trauma tumpu abdomen masih tidak merata
pada seluruh kasus. Walaupun banyak penelitian yang menunjukkan bahwa
penggunaan FFP tidak mempengaruhi hasil akhir berupa mortalitas, namun
penggunaan FFP dapat mengurangi penggunaan darah. Penggunaan WB dalam
penanganan trauma masih dilakukan dengan pemikiran bahwa WB mengandung
komponen plasma. Namun banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa
setelah penyimpanan lebih dari 24 jam, komponen pembekuan darah sudah tidak
aktif dan tidak mempengaruhi proses hemostasis. Dalam penelitian ini,
perbandingan antara PRC dan WB dilakukan karena di masa lalu, transfuse
terutama menggunakan WB. Penggunaan WB memiliki kemungkinan terjadinya
hemodilusi dari faktor-faktor pembekuan sehingga akan meningkatkan INR.
Peningkatan INR pada penggunaan WB mungkin dapat merupakan alasan
mengapa pada penelitian ini didapatkan suatu perbedaan hasil yang bermakna
pada kedua kelompok. Kemungkinan lain yang dapat membuat rancu adalah
resusitasi agresif di masa lalu menggunakan kristaloid sehingga menimbulkan
hemodilusi. Pemberian FFP dalam perbandingan 3:1 atau lebih memberikan
perbaikan dalam nilai INR secara signifikan. Pemberian dengan rasio FFP : PRC
yang lebih besar seperti yang dianjurkan mungkin dapat memberikan perbaikan
nilai INR yang lebih baik lagi (Limas & Hanafi, 2014)
Menurut teori PRC mengandung Hb yang sama dengan whole blood.
Perbedaan keduanya terletak pada jumlah plasma, yang lebih sedizkit pada PRC.
Akibatnya, kadar Ht PRC lebih tinggi daripada whole blood yaitu 70%
berbanding 40%. Indikasi whole blood adalah pasien yang mengalami pendarahan
aktif dan kehilangan darah >25% daripada darah total. Whole blood juga
meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen (oxygen carryng capacity) dan
ekspansi volume darah intravaskuler. Transfusi saat unti whole blood atau PRC
pada pasien dewasa berat badan 70 kg yang tidak mengalami pendarahan dapat
meningkatkan Ht 3% atau Hb 1 g/dl.

22
23

Pemberian PRC perlu diikuti dengan kristaloid atau koloid. Tidak semua
kristaloid dapat digunakan. Ringer Laktat, misalnya, mengandung kalsium
sehingga dapat mengakibatkan pembekuan darah (clotting). Cairan kristaloid
dengan osmoralitas rendah juga tidak dihindari karena sel darah merah akan
membengkak lalu mengalami lisis. Cairan yang direkomendasikan adalah
dekstrosa 5% dalam salin 0,4%, dekstrosa dalam salin 0,9%, dan normosol-R
dengan pH 7,4.
Saat hendak digunkan, PRC perlu dihangatkan terlebih dahulu hingga
sama dengan suhu tubuh (37°C). Bila tidak dihangatkan, Efek hipotermia disertai
dengan rendahnya kadar 3,3-DPG akan mengakibatkan kurva disosiasi Hb-
oksigen mengarah ke kiri. Keadaan itu menandakan bahwa tekanan parsial
oksigen (PO2) dalam darah rendah meskipun saturasi oksigen tinggi. PO2 yang
rendah akan menyulitkan difusi oksigen dari darah ke jaringan sehingga terjadi
hipoksia jaringan.
FFP mengandung semua protein plasma (faktor pembekuan), terutama
faktor V dan VII, yang akan menurun jumlahnya seiring dengan lamanya
penyimpanan. Setiap unit FFP biasanya dapat menaikan masing-masing kadar
faktor pembekuan sebesar 2-3% pada orang dewasa. Dosis inisial adalah 10-15
ml/kg. Sama dengan PRC, saat hendah dibeikan pada pasien, perlu dihangatkan
hingga sama dengan suhu tubuh.
Dari penjelasan di atas, kelompok menganalisa bahwa pemberian darah
lebih baik menggunakan transfuse darah FFP dan PRC dengan perbandingan 3:1
karena menurut kelompok pemberian PRC jauh lebih aman daripada WB. PRC
berfungsi untuk mengurangi penularan penyakit dan mengurangi reaksi
imunologis, sehingga pasien sangat jarang mengalami reaksi transfuse (Fuadda, et
al., 2016). Dalam penggunaan FFP dan PRC sebaiknya diberikan bersamaan
dengan cairan kristaloid namun tidak semua ciran kristaloid dapat digunakan.
Sebaiknya menggunakan cairan seperti Ringer Laktat karena mengandung
kalsium yang dapat membekukan darah sehingga sel darah merah tidak
mengalami lisis. Pemberian tranfusi darah sebaiknya juga diberikan ketika FFP
dan PRC sama dengan suhu tubuh manusia untuk mencegah hipotermi yang akan
24

menyebabkan PO2 dalam darah rendah, PO2 yang rendah akan menyulitkan difusi
oksigen dari darah ke jaringan sehingga terjadi hipoksia jaringan.
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Trauma abdomen adalah pukulan/benturan langsung pada rongga abdomen
yang mengakibatkan cidera tekanan/tindasan pada isi rongga abdomen, terutama
organ padat (hati, pancreas, ginjal, limpa) atau berongga (lambung, usus halus,
usus besar, pembuluh-pembuluh abdominal) dan mengakibatkan rupture
abdomen. (Nugroho,dkk. 2016). Trauma abdomen dapat dibagi menjadi dua jenis
yaitu trauma penetrasi dan trauma non penetrasi.
Trauma yang didapatkan dari benturan maupun tusukan dapat
mengakibatkan terjadi trauma penetrasi maupun non penetrasi yang akhirnya akan
mengakibatkan terjadinya perforasi pada lapisan abdomen yang akan menekan
saraf peritonitis dan jika terlalu keras akan mengakibatkan perdarahan jaringan
lunak dan rongga abdomen yang akan menimbulkan rasa nyeri.
5.2 SARAN
Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya perawat dapat
mengerti dan memahami tentang trauma abdomen. Diharapkan pada perawat agar
lebih selektif dalam memberikan tranfusi darah pada pasien kegawatdaruratan
trauma abdomen khususnya dan intensif daalam mengontrol proses transfuse
darah, sehingga adanya reaksi tranfusi dapat segera dicegah.

25
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, K., 2013. Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Salemba


Medika.

Fuadda, R., Sulung, N. & Juwita, L. V., 2016. Perbedaan Reaksi Pemberian
Transfusi Dara Whoole Blood (WB) dan Packed Red Cell (PRC) Pada
Pasien Sectio Caesare. Jurnal Human Care, 1(3).

Januar F, M., Ratnawati, R. & Lestari, R., 2017. Fenomenologi : Pengalaman


Caring Perawat Pada Pasien Trauma Dengan Kondisi Kritis (P1) Di IGD
RSUD Tarakan-Kalimantan Utara. Jurnal Ilmu Keperawatan, 5(1), pp. 42-
56.

Kurniati, A., Trsyanti, Y. & Ikaristi, S., 2018. Keperawatan Gawat Darurat dan
Bencana Sheehy. 1nd ed. Singapore: Elsevier.

Limas, P. I. & Hanafi, B., 2014. Perbandingan Pemberian Packed Red Cell dan
Fresh Frozen Plasma dengan Stored Whole Blood Terhadap Prothrombin
Time Pada Pasien Trauma Tumpul Abdomen. Ebers Papyrus, 21(1), pp.
46-51.

Musliha, 2010. Keperawatan Gawat Darurat Plus Contoh Askep Dengan NANDA
NIC NOC. 1nd ed. Yogyakarta: Nuha Medika.

Nugroho, T., Putri, B. T. & Putri, D. K., 2016. Teori Asuhan Keperawatan Gawat
Darurat. 1nd ed. Yogyakarta: Nuha Medika.

Panacea, T. B. M., 2014. Basic Life Support : Bukuk Panduan. 13nd ed. Jakarta:
EGC.

Salim, Carolina. 2015. Sistem Penilaian Trauma. CDK-232, 42(9), pp. 702-709.

Sander, M. A., 2013. Kasus Serial Ruptur Lien Akibat Trauma Abdomen:
Bagaimana Pendekatan Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Jurnal
Keperawatan, 4(1), pp. 18-28.

26
27

L
A
M
P
I
R
A
N

Anda mungkin juga menyukai