Anda di halaman 1dari 12

Kajian Karakteristik dan Contoh Implementasi Teori Perencanaan

Generasi Pertama : Perencanaan Rasionalistik-Komprehensif

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Teori Perencanaan (TKP 509)

Dosen Pengampu:
Dr. Ir. Hadi Wahyono, MA.
Ir. Agung Sugiri, MPSt.
Muhammad Mukti Ali, S.E., M.Si., M.T

Disusun oleh:

I Gusti Agung Made Andika Wiratmaja 21040116120033

DEPARTEMEN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2019
Daftar Isi

Daftar Isi ..................................................................................................................................... i


I. Latar Belakang .................................................................................................................... 1
II. Tujuan ................................................................................................................................. 2
III. Karakteristik Teori Perencanaan Generasi Pertama ........................................................... 2
IV. Implementasi di Indonesia .................................................................................................. 6
V. Kesimpulan ......................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 10

Daftar Gambar

Gambar 1. Siklus Perencanaan Komprehensif........................................................................... 6


Gambar 2. Tata Cara Penyusunan RTRW Provinsi ................................................................... 8

i
I. Latar Belakang
Perencanaan merupakan suatu proses yang berkelanjutan dalam memanfaatkan
sumber daya yang ada guna mewujudkan tujuan-tujuan tertentu di masa yang akan
datang (Conyer & Hill, 1984 dalam Pontoh & Kustiawan, 2009). Pada hakikatnya
perencanaan sendiri memiliki peran penting dalam penentuan pilihan-pilihan tertentu
terkait dengan pembuatan strategi dan kegiatan untuk masa depan demi menciptakan
keadaan dan kondisi yang lebih baik. Upaya-upaya tersebut memerlukan data masa lalu
dan terbaru yang valid serta analisis kondisi yang terkini.Hal tersebut dapat berguna
dalam kesinambungan hubungan dan keterkaitan antara kondisi masa lalu, kini dan
masa depan (Myers & Kitsue, 2000 dalam Priyani, 2007)
Pada kaitannya dengan wilayah dan kota, perencanaan didefinisikan sebagai suatu
proses untuk menentukan tindakan yang tepat dalam pengambilan keputusan tentang
masa depan (Pontoh & Kustiawan, 2009). Terdapat 2 (dua) unsur penting dalam
perencanaan, yaitu hal yang ingin dicapai dan cara mencapainya. Kedua unsur tersebut
dimuat dalam berbagai tata nama seperti tujuan, sasaran, strategi, visi, misi, dan
sebagainya. Adapun akar perencanaan menurut Healey (1997) dalam Priyani (2007)
yaitu ada pada konsep perencanaan ekonomi, fisik (sarana dan prasarana) dan
administrasi Pengenalan teori perencanaan sendiri telah berkembang pada saat adanya
perencanaan kota dalam konsep Garden City, City Beautiful, dan Public Health Reforms
(Campbell dan Fainstein, 1996 dalam Saraswati, 2006)
Pada dasarnya perencanaan didasari oleh 3 teori (Planning Theory) : teori dalam
perencanaan (theory in planning), teori tentang perencanaan (theory of planning), teori
untuk perencanaan (theory for planning). Pertama, theory in planning lebih menkankan
pada substansi dalam perencanaan yang meliputi bidang keiilmuan lain. Kedua, theory
of planning lebih menekankan pada prosedur atau tahapan dalam melakukan
perencanaan. Ketiga, theory of planning merupakan peran perencanaan terhadap
masyarakat yang terdampak ( Hendler,1995 dalam Priyani, 2007).
Teori yang menjadi perhatian utama ialah teori untuk perencanaan (teori proses
perencanaan). Teori proses perencanaan sendiri saat ini terbagi menjadi tiga generasi,
yang terdiri dari generasi pertama, generasi kedua, dan generasi ketiga. Ketiga generasi
tersebut memiliki cara pendekatan dan karakteristik serta kelebihan dan kekurangan
yang berbeda. Pada kajian ini lebih membahas mengenai teori proses perencanaan
generasi pertama mengenai rational comprehensive planning.
Teori Rational comprehensive planningatau yang biasa disingkat RCP telah
memberikan pengaruh untuk perencanaan sejak tahun 1960-an dalam beberapa
perencanaan kota (Beauregard, 1987 dalam Fainstein, 2000). Model RCP merupakan
pendekatan ilmiah secara rasional dalam perencanaan yang ada sehingga menghasilkan
analisis secara dalam yang mencakup semua faktor yang mempengaruhi perencaan dan
alternatif dalam memecahkan masalah yang ada. Model perencanaan RCP sendiri pada
negara-negara berkembang mendasar pada prencanaan top-down (Dodero, 2010), serta
lebih mengutamakan prinsip-prinsip barat dan ide masyarakat cenderung diabaikan
(Escobar,1992 dalam Dodero, 2010)
Indonesia merupakan salah satu negara yang menerapkan model perencanaan
RCP dalam merumuskan perencanaan, khusunya pada perencanaan tata ruang. Terdapat

1
beberapa contoh penerapan model RCP dalam perencanaan tata ruang di Indonesia
antara lain Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM), Master Plan, dan Rencana Strategis. Contoh beberapa perencanaan
tersebut memerlukan ketersediaan data dan analisis mendalam dari semua faktor yang
terlibat. Selain itu, produk-produk rencana tersbut memiliki jangka waktu yang panjang
dan dapat dijadikan dasar perumusan kebiijakan rencana lainnya. Oleh karena itu kajian
ini sangat penting, mengingat sebagai calon perencana diperlukan pemahaman terkait
model-model perencanaan yang dikaitkan dengan teori dalam melakukan kegiatan
perencanaan.

II. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini terdiri dari dua hal yaitu melakukan kajian terhadap
perencanaan generasi pertama (Rational Comprehensive Planning) dan memberikan
contoh implementasi perencanaan rasionalistik komprehensif tersebut di Indonesia.

III. Karakteristik Teori Perencanaan Generasi Pertama


Perencanaan Rasional Komprehensif atau Rational Comprehensive Planning
(RCP) merupakan pendekatan yang rasional atau logis dan teratur serta fokus terhadap
prosedur perencanaan yang universal. Hipotesis dan tindakan dibuat berdasarkan fakta
yang relevan serta penggabungan dari isu-isu yang ada. Hal tersebut didukung oleh
pendapat (Becker,2000 dalam Priyani, 2007) bahwa perencanaan adalah suatu cara
“rasional” untuk mempersiapkan masa depan. Perencanaan sendiri terdiri dari tujuan
dan sasaran yang dirancang dengan alternatif cara yang rasional guna memecahkan
masalah yang ada. Maka dari itu, rasionalitas dijadikan dasar aliran dalam perencanaan
rasional komprehensif.
Perencanaan komprehensif memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari berbagai
aspek dan elemen perencanaan sehingga dapat menghasilkan alternatif rencana yang
beragam untuk mencapai tujuan dan sasaran berdasarkan potensi dan kendala yang
dimiliki. Tujuan Perencanaan Rasional Komprehensif adalah untuk membangun
perencanaan yang strategis dan kontingensi, menetapkan ketentuan-ketentuan, standar,
prosedur petunjuk pelaksanaan serta evaluasi, pelaporan dan langkah taktis untuk
menopang organisasi. Terdapat beberapa dasar dan ciri utama pendekatan perencanaan
rasional komprehensif (Schönwandt, 2008), yaitu:
1. Didasarkan pada kebijakan-kebijakan dengan skala yang lebih umum dalam
merumuskan tujuan yang ingin dicapai sebagai satu kesatuan.
2. Memiliki tujuan dan sasaran yang lengkap, komprehensif dan terpadu.
3. Memiliki data dan analisis yang lengkap dan mendalam guna peramalan suatu
rencana.
4. Memiliki jangka waktu perencanaan yang panjang.

Rittel (1972) dalam Schönwandt (2008) menjabarkan beberapa tahapan dalam


model perencanaan rational comprehensive planning antara lain; (1) analisis kondisi
eksisting; (2) merumuskan tujuan; (3) merumuskan rencana aksi untuk mencapai tujuan
dan; (4) evaluasi hasil rencana. Perencanaan komprehensif merupakan salah satu
perencanaan yang berlandaskan pada kebijakan umum dalam merumuskan berbagai

2
alternatif strategi yang sesuai dengan tujuan perencanaan. Kebijakan umum yang
digunakan tersebut harus sesuai dengan konteks perencanaan, karena perencanan
merupakan kesatuan sistem dari berbagai aspek, baik fisik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Bermula dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan komprehensif
bersifat mendalam. Artinya setiap kebijakan yang akan diambil akan disesuaikan
dengan kondisi wilayah perencanaan. Menurut (Hudson, et.al, 2007) keunggulan
perencanaan komprehensif di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan komprehensif sesuai jika digunakan untuk menyelesaikan
perencanaan jangka panjang yang bersifat umum.
2. Perencana memiliki kemampuan perencanaan dalam hal rasionalitas dan
kemampuan teknis.
3. Dapat dilakukan dalam kelompok perencana karena rasionalitas perencana
dianggap sama.
4. Pertimbangan dalam perencanaan merupakan integrasi dari berbagai aspek yang
ada, baik aspek ekonomi, sosial budaya, serta aspek fisik.

Perencanaan komprehensif memiliki beberapa perbedaan dengan teori. Perencanaan


komprehensif memiliki beberapa perbedaan dengan teori perencanaan lain, terutama
perencanaan strategis. Perbedaan mendasar antara kedua teori tersebut yaitu dalam
jangka waktu perencanaan dan konteks perencanaan. Perencanaan strategis merupakan
perencanaan jangka pendek (5-10 tahun). Selain itu, perencanaan strategis
menggunakan metode analisis SWOT untuk menentukan potensi dan masalah yang ada
di suatu wilayah. Hal tersebut berbeda dengan perencanaan komprehensif yang
menganalisis setiap aspek yang ada di wilayah perencanaan.
Sementara itu, perencanaan komprehensif juga memiliki kekurangan, kritik yang
terbesar dalam perencanaan komprehensif ada beberapa poin (Hudson, et.al, 2007),yaitu
:
1. Membutuhkan validasi data
Validitas data sangat penting, karena tingkat kebenaran dari data menentukan
keseluruhan rencana. Oleh karena itu, waktu, kecermatan, dan ketelitian dibutuhkan
untuk memilih informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan.
2. Utopis
Pendekatan teoritik sangat ditekankan dalam penerapan perencanaan komprehensif.
Oleh karena itu, hasil analisis terkadang tidak sesuai dengan kenyataan aktual.
Pendekatan yang teoritis menyebabkan prediksi dan analisis standarnya menjadi
tinggi sehingga bisa dikatakan utopis atau non implementability.
3. Waktu dan biaya yang dibutuhkan relatif besar
Data yang dibutuhkan dalam perencanaan komprehensif harus akurat, maka dari itu
diperlukan survei yang rinci terhadap berbagai aspek yang terkait seperti informasi
fisik geografis, data sosial peneududukan, dan data sosial ekonomi. Oleh karena
survei yang terinci, maka waktu dan biaya yang dibutuhkan besar.
4. Bersifat homogen
Sifat dari perencanaan komprehensif adalah homogen, sementara masyarakat yang
berada di wilayah perencanaan bersifat heterogen.

3
5. Kurang memperhatikan sumber daya
Perencanaann komprehensif mengasumsikan sumber daya dapat dicari dan
diusahakan, sehingga sumber daya yang tersedia kurang diperhitungkan dalam
perencanaannya.
6. Peran masyarakat yang terbatas
Keputusan yang dibuat berasal dari ahli atau perencana, sehingga peran masyarakat
sangat terbatas, yaitu hanya sebatas public hearing.

Apabila dibandingkan dengan perencanaan strategis, perencanaan komprehensif


relatif bersifat statis terhadap perkembangan penduduk dan wilayah perencanaan. Hal
tersebut disebabkan karena dalam perencanaan komprehensif lebih menitikberatkan
pada aspek teoritis, sedangkan dalam perencanaan strategis memperhatikan aspek
perkembangan wilayah dan penduduk, salah satunya dengan metode analisis SWOT
sebagai pertimbangan dalam menentukan potensi dan permasalahan serta alternatif
solusi yang sesuai.
Perencanaan komprehensif memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari berbagai
aspek dan elemen perencanaan sehingga dapat menghasilkan alternatif rencana yang
beragam untuk mencapai tujuan dan sasaran berdasarkan potensi dan kendala yang
dimiliki suatu wilayah. Pihak yang terlibat dalam sebuah perencanaan komprehensif
cenderung lebih banyak sehingga program-program yang disusun dapat dievaluasi
secara menyeluruh. Perencanaan komprehensif dapat digambarkan dengan siklus
seperti yang dijelaskan pada Larz (1995) dalam Pontoh & Kustiawan (2009):
1. Pendefinisian Masalah
Tahapan awal dalam sebuah proses perencanaan yaitu mengidentifikasi masalah.
Mengidentifikasi masalah merupakan serangkaian tindakan melihat, mengamati,
menganalisis suatu fenomena di masyarakat sekitar yang terjadi karena adanya
kesenjangan antara apa yang ada dengan apa yang diinginkan. Terdapat sedikitnya
empat hal yang harus diperhatikan dalam tahap pendefinisian masalah, yaitu latar
belakang persoalan, identifikasi persoalan, pembatasan persoalan, dan perumusan
persoalan.
2. Perumusan Tujuan dan Sasaran
Tahapan perumusan tujuan dalam perencanaan diarahkan untuk menghasilkan
suatu pernyataan yang bersifat kualitatif berkenaan dengan pencapaian yang
diinginkan dari hasil perencanaan atau keputusan sehingga dapat menjadi pedoman
penentuan tindakan. Sedangkan untuk sasaran dalam perencanaan diharapkan
menghasilkan suatu pernyataan spesifik yang menyangkut pencapaian tujuan
perencanaan.
3. Pengumpulan
Tahapan pengumpulan data sangat penting bagi proses perencanaan karena suatu
proses pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh
informasi yang memadai. Dalam perencanaan, data atau informasi diperlukan untuk
tiga tujuan utama, yaitu:
a) Identifikasi permasalahan dan perkembangan eksisting, sebagai dasar bagi
perumusan kebijakan/rencana.

4
b) Identifikasi dan evaluasi alternatif kebijaksanaan/rencana.
c) Sebagai umpan balik, untuk siklus proses perencanaan berikutnya.
4. Analisis Data
Tahapan analisis data pada dasarnya merupakan pendekatan, metode, prosedur,
atau teknik yang dilakukan untuk menelusuri kondisi historis dan kondisi sekarang
dari wilayah perencanaan sehingga dapat merumuskan kebijakan yang akan
digunakan pada masa yang akan datang. Kegiatan analisis mencakup:
a) Analisis data dasar bertujuan untuk mendeskripsikan dan menilai kondisi
masa lalu secara historis dengan masa sekarang sehingga persoalan yang telah
atau akan dirumuskan didukung oleh data dan informasi yang relevan.
b) Analisis prakiraan dilakukan berdasarkan kecenderungan historis jika
dianggap tidak ada intervensi. Oleh karena itu, data yang bersifat time series
sangat dianjurkan untuk memudahkan proses analisis data. Selain itu, analisis
ini lebih dimaksudkan pada tujuan prediktif, yaitu memperkirakan perubahan
yang akan terjadi.
c) Analisis penyusunan skenario di masa datang, dimana analisis ini biasanya
sudah memasukkan adanya alternatif yang akan terjadi atau yang diinginkan
terjadi, selain kecenderungan yang ada.

Sumber: Larz (Pontoh dan Kustiawan, 2009)

5
Gambar 1. Siklus Perencanaan Komprehensif

5. Identifikasi dan evaluasi


Pada tahapan ini diharapkan dapat memperoleh alternatif tindakan yang mungkin
digunakan untuk memecahkan masalah. Pada tahapan ini dikemukakan berbagai
macam alternatif yang bervariasi dan kombinasi antara alternatif utamanya,
identifikasi alternatif tersebut adalah No-action alternative, alternative yang
didasarkan pada kebijakan yang ada dan alternatif baru. Sedangkan untuk evaluasi
alternatif yaitu proses menganalisis sejumlah alternatif untuk menunjukkan
keunggulan dan kelemahan secara komparatif serta meletakannya dalam kerangka
logis.
6. Implementasi
Tahapan implementasi merupakan suatu proses penerjemahan atau perwujudan
tujuan dan sasaran ke dalam bentuk program atau proyek spesifik. Dalam konteks
ini, implementasi biasanya dianggap sebagai bagian dari tahap akhir siklus proses
perencanaan. Terkait dengan hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
dan sasaran spesifik yang telah dirumuskan dan diungkapkan dalambentuk rencana.
7. Pemantauan dan Evaluasi
Tahapan pemantauan dan evaluasi merupakan dua tahap terakhir dari proses
perencanaan sebelum memulai siklus perencanaan yang baru. Kegiatan evaluasi
sering dikaitkan dengan kegiatan revisi atau peninjauan kembali. Aktivitas
pemantauan atau monitoring berkaitan dengan pengumpulan data dan informasi
tentang hal-hal yang terjadi secara aktual selama proses pelaksanaan rencana dalam
rangka menemukenali bagaimana berbagai masukan dalam pelaksanaan rencana
dapat dimanfaatkan.

IV. Implementasi di Indonesia


Adapun contoh implementasi dari teori perencanaan generasi pertama (Teori
Rational Compehensive Planning) yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi. RTRW
Provinsi sendiri dikategorikan kedalam contoh implementasi perencanaan rasional
komprehensif dikarenakan RTRW Provinsi didasari pada kajian awal rencana
sebelumnya, membutuhkan data yang valid dan rinci guna analisis semua faktor yang
berpengaruh dan pemikiran bahwa rencana tata ruang dapat dimanfaatkan guna
mengatasi persoalan yang ada secara menyeluruh. RTRW Provinsi. Penyusunan RTRW
provinsi sendiri memiliki proses dan penyusunan yang diatur dalam Peraturan Menteri
Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 1
Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi,
Kabupaten dan Kota.
Rencana Tata Ruang dalam hal ini mengambil contoh RTRW Provinsi Bali, yang
dimana penyusunan RTRW Provinsi Bali didasari pada pada perencanaan dapat
dimanfaatkan guna mengatasi permasalahan yang ada. Isu yang berkembang pada
perencanaan Provinsi Bali ialah pada perkembangan pariwisata. Pariwisata membawa
dampak yang positif, namun disisi lain telah menimbulkan berbagai masalah

6
pembangunan, yang berimplikasi langsung terhadap daya dukung ruang, seperti:
meningkatnya kebutuhan terhadap lahan, baik untuk permukiman maupun kegiatan
kepariwisataan; meningkat dan pesatnya alih fungsi lahan pertanian; berkurangnya
tutupan vegetasi wilayah; meningkatnya keterpusatan lalu lintas yang mengakibatkan
kemacetan lalu lintas; meningkatnya jumlah lahan kritis; menurunnya tingkat pelayanan
sarana dan prasarana wilayah; masalah sosialkependudukan dan lapangan kerja; serta
memudarnya nilai-nilai budaya sebagai penanda jati diri masyarakat dan daerah Bali.
Permasalahan tersebut, yang juga merupakan isu-isu penataan ruang, merupakan
tantangan berat bagi daerah Bali terutama terkait dengan upaya pencapaian Visi
pembangunan Bali sebagaimana yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Bali Tahun 2005-2025, yaitu Bali Dwipa
Jaya Berlandaskan Tri Hita Karana. Jika tidak ditangani segera, masalah tersebut akan
menurunkan kualitas lingkungan, nilai budaya, dan daya tarik daerah Bali. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut dibutuhkan upayaupaya pencegahan agar tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan, baik fisik maupun
sosial-budaya. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah melakukan kegiatan
penataan ruang yang mencakup proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
Penyusunan RTRWP Bali ini secara teknis mengacu pad ketentuan Undang-
Undang Nomor 26 Tahun 2007, yang selanjutnya diintegrasikan dengan nilai-nilai
kearifan lokal Bali yang terkait denga penataan ruang. Terdapat empat pola pikir
secara komprehensif dam rational sebagai landasan dalam menyusunan produk
RTRWP Bali berjangka 20 tahun yang dimulai pada 2009-2029 ini, yaitu:
1. Mendudukkan pembangunan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional,
sehingga rencana pembangunan daerah disusun untuk mensinkronkan dan
memadukan pembangunan daerah dengan tujuan pembangunan nasional, termasuk
implementasi programnya terkait penataan ruang.
2. Mendudukkan Bali sebagai satu kesatuan wilayah pengembangan ekosistem Pulau
Kecil yang harus terintegrasi dalam satu kesatuan perencanaan, dimana
perencanaan wilayah kabupaten/kota mengacu kepada perencanaan Provinsi, baik
dalam hal pemanfaatan sumber daya alam, pemerataan pengembangan wilayah
sesuai daya dukung, daya tampung, daya saing yang telah dimiliki, penerapan nilai
kearifan lokal, maupun dalam memaksimalkan pemanfaatan peluang pembangunan
dan meminimalkan resiko. Dalam pola pikir ini, Bali sebagai satu kesatuan wilayah
provinsi dan sebuah pulau kecil dikelola berdasar prinsip satu pulau, satu
perencanaan, dan satu pengelolaan (one island, one plan, one management).
3. Mendudukan Bali sebagai sebuah wilayah yang memiliki nilai strategis nasional
dan internasional, yang keunikan alam dan budayanya harus dipelihara secara
berkelanjutan melalui keterpaduan pengembangan wilayah yang terintegrasi baik
fisik dan spiritual (sekala-niskala) dalam bingkai Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).
4. Mendudukan Bali sebagai sebuah pulau kecil yang rentan terhadap pengaruh dan
dampak perubahan iklim dan rawan bencana.

7
RTRWP Bali sendiri memiliki tahapan-tahapan atau tata cara penyusunan RTRW
yang diadopsi dalam proses perencanaan rasional komprehensif. Adapun tata cara
penyusunan RTRW Provinsi yang mengacu pada lampiran Permen ATR/BPN no. 1
Tahun 2018 yaitu ; (1) Persiapan; (2) pengumpulan data dan informasi; (3) pengolahan
dan analisis data; (4) penyusunan konsep RTRW Provinsi dan; (5) penyusunan dan
pembahasan raperda tentang RTRWP. Pelaku perencanaan pada penyusunan RTRWP
Bali lebih ke arah Top-down, peran masyarakat dilibatkan hanya sebatas penjaringan
aspirasi tapi kurang berpengaruh dalam penyusunan RTRW.

Sumber: Permen ATR/BPN no. 1 Tahun 2018


Gambar 2. Tata Cara Penyusunan RTRW Provinsi

Materi muatan Peraturan Daerah tentang RTRWP Bali 2009- 2029, didasarkan
atas ketentuan dalam Pasal 23 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, dan karena itu sekurangkurangnya harus memuat:
1. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah provinsi;
2. Rencana struktur ruang wilayah provinsi yang meliputi sistem perkotaan dalam
wilayahnya yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah
pelayanannya dan sistem jaringan prasarana wilayah provinsi;
3. Rencana pola ruang wilayah provinsi yang meliputi kawasan lindung dan kawasan
budidaya yang memiliki nilai strategis provinsi;
4. Penetapan kawasan strategis provinsi;
5. Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi program utama
jangka menengah lima tahunan; dan
6. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi
arahan peraturan zonasi sistem provinsi, arahan perizinan, arahan insentif dan
disinsentif, serta arahan sanksi.

8
V. Kesimpulan
Model perencanaan generasi pertama (rasional komprehessif) dalam contoh
penerapannya RTRW Provinsi Bali dapat disimpulkan bahwa model perencanaan
rasional komprehensif memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada RTRWP Bali, terdapat
kelebihan berupa kelengkapan aspek yang dibahas lengkap di dalam produk rencana
dapat dikatakan lengkap, perencanaan tidak hanya didasarkan pada pengetahuan saja
namun juga dikomparasikan dengan teori dan pengalaman agar dihasilkan kebenaran
rasional, cocok dengan model rencana tata ruang wilayah yang berorientasi jangka
panjang, dan perencanaan ini juga menghasilkan solusi yang dapat dikatakan terbaik
karena dikeluarkan melalui serangkaian pengujian alternatif dan konsekuensinya
masing-masing. Sedangkan, kekurangnnya dapat dilihat pada peran masyarakat yang
minim. Hal tersebut dilihat pada tahap penyusunan RTRW, dimana masyarakat hanya
dilibatkan sebatas pemberi informasi dan kurang dalam hal ikut dalam penyusunan
RTRW.

9
Daftar Pustaka
Dodero, A. L. (2010). An Analysis of the Rational Comprehensive Model in Selected Cities
in Developing Countries. Revista Observatorio Calasanz, 1(3), 171–181.
Fainstein, S. S. (2000). Urban Affairs Review, 35, 451–478.
https://doi.org/10.1177/107808740003500401
Hudson, B. M., Galloway, T. D., Kaufman, J. L., Hudson, B. M., & Kaufman, J. L. (2007).
Comparison of Current Planning Theories : Counterparts and Contradictions. JAPA, 37–
41. https://doi.org/10.1080/01944367908976980
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ Kepala Badan Pertanahan Nasional
(BPN) Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota.
Pontoh, N. K., & Kustiawan, I. (2009). Pengantar Perencanaan Perkotaan. Bandung: ITB
Bandung.
Priyani, R. (2007). Pluralitas dalam teori perencanaan. Jurnal Perencanaan Wilayah Dan
Kota, 18(3), 23–37.
Saraswati. (2006). Kearifan Budaya Lokal dalam Prespektif Perencanaan. Jurnal PWK
Unisba, 6(2).
Schönwandt, W. L. (2008). Planning In Crisis ? Theoretical Orientations for Architecture
and Planning. Ashgate Publishing Company.

10