Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sifat hakiki seorang manusia adalah bahwa selain sebagai makhluk individu
sekaligus sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu merupakan
satu kesatuan antara aspek jasmani (fisik) dan rohani (psikologis) yang tidak dapat
dipisahkan. Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya..
Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendirinya
disebut sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial tentunya manusia dituntut
untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi
kebutuhannya. Menjalani kehidupan sosial dalam masyrakat, seorang individu akan
dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda warna dengannya salah
satunya adalah perbedaan agama.
Sosialisasi adalah suatu proses belajar mengajar atau penanaman nilai,
kebiasaan, dan aturan dalam bertingkah laku di masyarakat dari satu generasi ke
generasi lain. Sosialiasasi sebagai proses belajar seorang individu merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi bagaimana keberlangsungan proses kehidupan
masyarakat, baik dengan keluarga, teman sebaya, sekolah maupun media massa.
Sosialisasi merupakan cara belajar atau suatu proses akomodasi dan yang dipelajari
adalah nilai-nilai, norma-norma, ide-ide atau gagasan, pola-pola tingkah laku dan
adat istiadat serta keseluruhannya iu diwujudkan dalam kepribadiannya.
Keseluruhannya yang dimkasud adalah segala aspek dari proses kehidupan manusia
yang berhubungan erat dengan proses sosialisasi.
Remaja adalah generasi penerus bangsa dan negara, dimana sosok remaja
diharapkan dapat melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya. Sebagai generasi
muda dituntut untuk lebih berpartisipasi dalam membangun bangsa dan negara.
Suatu bangsa pastinya memiliki harapan yang besar agar pada masa yang akan
datang remaja dpat menjadikan bangsa Indonesia ini bangsa yang lebih maju.
Salah satu organisasi yang dapat diguankan sebagai tempat untuk
mengembangkan sikap demokratis adalah melalui organisasi kepemudaan karang
taruna. Karang taruna adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang berada disetiap

1
2

dukuh atau desa. Karang taruna merupakan wadah terdekat bagi para remaja untuk
mengembangkan potensi dalam dirinya. Karang taruna adalah organisasi
kepemudaan yang dalam keanggotaanya tidak berdasarkan pada sebuah latar
belakang tertentu dimana keanggotaan karang taruna tidak berdasarkan tingginya
pendidikan seseorang.
Sosialisasi melalui isu-isu kontroversial dimedia massa dapat
membangkitkan kemampuan berpikir seseorang. Sosialisasi isu-isu kontroversial
memiliki keuntungan yaitu melalui pendapat yang berbeda orang dapat pendapat
baru yang lebih baik. Disini terjadi proses analogis, sintesis dalam berpikir. Dengan
begitu daya berpikir seseorang lebih terlatih karena seseorang belajar bagaimana
mengemukakan pendapat yang benar. Belajar menghargai pendapat orang lain,
belajar mempertahankan pendapat yang diyakini kebenarannya, dan menghargai
pndapat oranglain yang berbeda pendapat dengannya.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, hal ini
mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian. Dipandang cukup penting untuk
melakukan penelitian tentang “Model Sosialisasi Pengembangan Sikap Demokratis
melalui Isu-isu Kontroversial di Media Massa Kolaborasi Strategi Phisycal Self
Assesment pada Karang Taruna Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen
Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen Tahun 2019”.

B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan
jawabannya melalui pengumpulan data (Sugiyono, 2010:55). Berdasarkan latar
belakang permasalahan di atas maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai
berikut: “Apakah model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Phisycal Self Assesment dapat mengembangkan sikap
demokratis pada karang taruna Kuwung Sari Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan
Sragen Kabupaten Sragen Tahun 2019?”.

C. Tujuan Penelitian
3

Setiap penelitian tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan penelitian
merupakan upaya pokok yang akan dikerjakan di dalam pemecahan masalah.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
a. Untuk mengembangkan sikap demokratis pemuda karang taruna
b. Untuk meningkatkan pemahaman melalui isu-isu kontroversial di
media massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment
2. Tujuan Khusus
Untuk mengembangkan sikap demokratis melalui isu-isu Kontroversial di
Media Massa kolaborasi strategi Phisycal Self Assesment pada Karang Taruna
Kuwung Sari Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen
Tahun 2019.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Untuk mendapatkan teori baru terkait model sosialisasi
pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu di media massa kolaborasi
strategi Physical Self Assesment.
b. Untuk menambah wawasan dan pemahaman peneliti mengenai
manfaat model sosialisasi mengenai isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Assesment
c. Untuk hasil kajian ini dapat disajikan sebagai dasar untuk kegiatan
penelitian berikutnya yang sejenis.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi pemuda karang taruna:
1) Untuk meningkatkan sikap demokratis
2) Untuk memperoleh pengalaman langsung yang menyenangkan
sehingga akan tercapai tujuan belajar sesuai dengan harapan.
3) Memotivasi pemuda untuk lebih aktif mengikuti karang taruna
4) Memotivasi pemuda untuk dapat mengembangkan sikap demokratis
pada masyarakat
b. Manfaat bagi peneliti
1) Untuk meningkatkan semangat peneliti untuk memberikan
sosialisasi dengan mnerapkan berbagai materi dan strategi
2) Untuk mengembangkan kreativitas peneliti dalam menyampaikan
sosialisasi khususnya terkait pengembangan sikap demokratsi melalui
4

isu-isu kontroversial di media massa kolaborasi strategi Physical Self


Assesment.
3) Untuk mengetahui manfaat pentingnya berorganisasi.
c. Manfaat bagi pembaca:
1) Menyebarkan informasi serta pembelajaran dalam model sosialisasi
2) Memberi masukan dalam pengembangan sikap demokratis
3) Menambah informasi mengenai pengembangan sikap demokratsi
melalui isu-isu kontroversial di media massa kolaborasi strategi
Physical Self Assesment.
4) Menambah wawasan serta pengalaman berorganisasi.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KAJIAN TEORI
Kajian teori merupakan komponen penting didalam penelitian yang
digunakan untuk mengetahui penjelasan secara logika teori mengenai variable-
variabel yang akan diteliti. Menurut Sugiyono (2010:55), teori adalah seperangkat
konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena
secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat
berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Kajian teori mengkaji
mengenai teori-teori atau konsep yang digunakan dalam suatu penelitian. Berikut
paparan kajian teoritis sebagaimana uraian berikut ini agar dapat dipahami secara
mendalam.
1. Kajian mengenai Model Sosialisasi
a. Pengertian model. Menurut Meyer WJ sebagaimana dikutip Trianto
(2011:21), secara kaffah Model di maknai sebagai suatu objek atau konsep yang
digunakan untuk mempresentasikan suatu hal. Suatu yang nyata dan dikonversa
untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif. Model dalam psikologi kognitif
berarti sebuah penjelasan melalui suatu proses. Model menyangkut seluruh
kegiatan yang dilakukan mulai dari awal sampai akhir. Menurut McLeod
sebagaimana dikutip Mulyatiningsih (2012:162), model diklasifikasikan menjadi
empat yaitu: physical models, narrativemodels, graphicalmodels, and
mathematical models. Jadi, model adalah pola yang menjelaskan sebuah proses
untuk mempresentasikan atau menampilkan suatu hal.
b. Pengertian sosialisasi. Menurut pendapat Soedjono Dirdjosisworo
sebagaimana dikutip Widyawati (2008:39). bahwa sosialisasi mengandung tiga
pengertian, yaitu:
1. Proses sosialisasi adalah proses belajar, yaitu suatu proses akomodasi
dengan dimana individu menahan, mengubah implus-inplus dalam dirinya dan
mengambil alih cara hidup atau kebudayaan masyarakat.
2. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan sikap,
ide-ide, pola-pola tingkah laku, dan ukuran tingkah laku di dalam masyarakat
di mana ia hidup.

5
6

3. Semua sikap dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi


itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri
pribadinya.
Menurut Sitorus (1997) menyatakan bahwa sosialisasi adalah suatu proses
di mana seseorang mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan
nilai norma, aturan dan kebiasaan yang berlaku untuk berkermbang sebagai
anggota masyarakat dan sebagai individu. Meskipun sosialisasi berbeda-beda
dalam berbagai lembaga, kelompok maupun masyarakat, namun sosialisasi itu
sendiri memiliki banyak kesamaan.
Jadi, kesimpulan sosialisasi di atas dapat diartikan sebagai sebuah proses
seumur hidup bagaimana seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang
meliputi cara-cara hidup, nilai-nilai dan peduli sosial yang terdapat dalam
masyarakat agar dapat diterima oleh masyarakat
c. Tujuan pokok sosialisasi. Menurut Sitorus (1997) tujuan pokok sosialisasi
yaitu:
1) Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi
kehidupan kelak di masyarakat
2) Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan
kemampuannya
3) Pengambilan fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan
mawas diri yang tepat.
4) Bertingkah laku selaras dengan tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada
pada lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya
d. Bentuk-bentuk sosialisasi. Menurut Hanif (2015), bentuk-bentuk
sosialisasi antara lain:
1) Sosialisasi Primer, merupakan bentuk sosialisasi yang pertama kali diterima
oleh individu pada lingkungan di sekitar keluarga. Sosialisasi ini individu belum
mengetahui sosialisasi yang amat luas ayaknya orang dewasa Individu hanya
diperkenalkan sosialisasinya dengan anggota keluarganya saja, belum secara
luas
2) Sosialisasi sekunder, merupakan bentuk sosialisasi yang bertujuan
memperkenalkan individu kepada lingkungan di luar keluarga Seperti
lingkungan kerja media massa, sekolah. lingkungan bermain dan sebagainya
3) Sosialisasi Represif, merupakan suatu bentuk sosialisasi yang mengarah
kepada hukum (punishment) dan pemberian susu hadiah (road)
7

4) Sosialisasi Partisipatoris, merupakan bentuk sosialisasi yang mengutamakan


pada partisipasi seorang anak Pada bentuk ini, sosialisasi yang terjadi alalah
memberikan suatu imbalan yang baik kepada seorang anaknya
5) Sosialisasi Formal merupakan bentuk sosialisasi yang terjadi pada lembaga
yang dibentuk oleh pemerintah dan masyarakat seperti lembaga pendidikan
sekolah
6) Sosialisasi Informal, merupakan bentuk sosialisasi yang mengarah kepada
sikap kekeluargaan. Individu saling berinteraksi dalam pergaulan-pergi yang
sifatnya mempererat kekeluargaan seperti sesama anggota kelompok suatu
perkumpulan atau komunitas.
2. Kajian mengenai pengembangan sikap demokratis
a. Pengertian pengembangan. Menurut Sugiyono (2013:407),
pengembangan merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan suatu
hasil produk tertentu, serta menguji keefektifan produk tersebut.
b. Pengertian sikap. Sebagaimana kita ketahui bahwa orang didalam
berhubungan dengan orang lain tidak hanya berbuat begitu saja, tetapi juga
menyadari perbuatan yang dilakukan dan menyadari pula situasi yang ada sangkut
pautnya dengan perbuatan itu. Kesadaran ini tidak hanya mengenai tingkah laku
yang sudah terjadi, tetapi juga tingkah laku yang mungkin akan terjadi. Kesadaran
individu yang menetukan perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin
akan terjadi itulah yang dinamakan sikap.
c. Pengertian demokrasi. Demokrasi sebagai suatu sistem telah dijadikan
alternatif dalam berbagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara diberbagai
negara. Hampir semua negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asas
kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk
menyelenggarakan negara sebagai organisasi tertingginya. Karena itu diperlukan
pengetahuan dan pemahaman yang benar pada warga masyarakat tentang
demokrasi.
Menurut Abdillah sebagaimana dikutip Winarno (2002:4), secara etimologis
demokrasi berasal dari bahasa Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat dan
kratos artinya kekuasaan. Secara literal demokrasi berarti kekuasaan (dari) rakyat.
Demokrasi adalah sebuah bentuk pemerintahan rakyat dimana rakyat berkuasa
sekaligus diperintah.
8

d. Pengertian sikap demokratis. Berdasarkan pengertian sikap dan demokrasi


seperti tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap demokrasi yaitu suatu
bentuk keyakinan, perasaan, dan kesiapan untuk merespon penyelenggaraan
negara pemerintahan baik bersifat positif (mendukung) maupun negatif (tidak
mendukung) yang diwujudkan dalam tindakan.
e. Unsur-unsur demokrasi. Menurut winarno (2002:5), menyebutkan unsur-
unsur demokrasi yaitu:
1) Keterlibatan rakyat dalam pengambilan keputusan politik
2) Tingkat persamaan ha kantar manusia.
3) Tingkat kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki warga negara.
4) Sistem perwakilan dan sistem pemilihan ketentuan mayoritas.
f. Nilai-nilai demokrasi. Menurut Zamroni (2001:32), nilai-nilai demokrasi
meliputi: a) toleransi, b) kebebasan mengemukakan pendapat, c) menghormati
perbedaan pendapat, d) memahami keanekaragaman dalam masyarakat e) terbuka
dan komunikasi f) menjunjung nilai dan martabat manusia, g) percaya diri, h) tidak
menggantungkan pada orang lain, i) saling menghargai, j) mampu mengekang diri,
k) kebersamaan, l) keseimbangan.
Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa indikator sikap
demokratis yang sesuai dengan penelitian ini meliputi:
a) Kebebasan mengemukakan pendapat
b) Menghormati perbedaan pendapat
c) Memahami keanekaragaman dalam masyarakat
d) Menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan
e) Saling menghargai
3. Kajian mengenai Isu-isu Kontroversial di Media Massa.
a. Pengertian isu-isu kontroversial. Menurut Muessig sebagaimana dikutip
Kokom (2010), isu-isu kontroversial adalah sesuatu yang mudah diterima oleh
seseorang atau kelompok, tetapi juga mudah ditolak oleh seseorang atau kelompok
lain.
b. Pengertian media massa. Menurut Putra (2011:2), Media massa adalah
alat atau sarana yang melembaga dan digunakan untuk menyebarkan pesan kepada
khalayak yang bersifat massal, seperti televisi, radio, film, dan surat kabar.
4. Kajian mengenai strategi Physical Self Assesment.
a. Pengertian strategi. Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu
garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-
pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk
9

mencapai tujuan yang telah digariskan (Djamarah, 2010;5). Berdasarkan uraian di atas
disimpulkan bahwa strategi adalah perencanaan atau cara yang digunakan untuk
mencapai suatu tujuan.
b. Pengertian strategi Physical Self Assesment. Menurut Silberman (2001),
Physical Self Assesment merupakan metode pembelajaran siswa mampu berbagi
sikap tentang sebuah mata pelajaran melalui peniliain diri, metode ini
memungkinkan guru untuk mengukur perasaan dan keyakinan siswa, dan berfungsi
sebagai papan loncat bagi diskusi kelas. Pendapat lain Physical Self Assesment yaitu
strategi pembelajaran guna untuk mengukur tingkat kepahaman siswa atas materi
pelajaran yang diberikan atau mengukur sejauh mana hasil belajar yang telah
dicapai oleh siswa.
c. Kelebihan strategi Physical Self Assesment. Kelebihan dari Physical Self
Assesment sebagaimana dikutip oleh Haris (2012) yaitu:
1) Dapat menghindarkan siswa dari lupa akan bahan pelajaran
2) Semua peserta didik dapar berpartisipasi dalam pembelajaran
3) Peserta didik dapat menilai kemapuan dirinya sendiri
4) Setiap peserta didik dapat mengukur pengetahuan yang dimiliki serta materi
yang dikuasai.
5) Metode ini dapat mengembangkan cara berfikir peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas, jika kelemahan Physical Self Assesment
diaplikasikan pada lingkungan sosial, maka kelemahan tersebut adalah:
1) Subjek penelitian dapat berpartisipasi secara penuh.
2) Subjek penelitian dapat menilai kemampuan diri sendiri.
3) Dapat mengembangkan cara berfikir ilmiah.
d. Kelemahan strategi Physical Self Assesment. Kelemahan Physical Self
Assesment sebagaimana dikutip oleh Haris (2012) yaitu:
1) Karena peserta didik harus berpindah-pindah dari tempat keadaan kelas
menjadi tidak terkendali.
2) Hanya peserta didik yang menonjol saja yang aktif dalam menyampaikan
pendapatnya.
3) Peserta yang mempunyai kemampuan sedang kebawah enggan
menyampaikan pendapat.
Berdasarkan uraian di atas, jika kelemahan Physical Self Assesment
diaplikasikan pada lingkungan sosial, maka kelemahanya tersebut adalah:
1) Ketidak efisien keadaan ruangan dan suasan karena berpindah–pindah
tempat.
10

2) Hanya diperuntukkan pada seseorang yang memiliki kemampuan kritis saja.


e. Langkah-langkah strategi Physical Self Assesment. Menurut Zaini
(2002:69), langkah-langkah strategi Physical Self Assesment adalah sebagai berikut:
1) Buatlah beberapa pernyataan yang akan dipakai untuk menilai mahasiswa.
Contohnya adalah: “Saya telah paham tentang teori ekonomi mikro”.
2) Atur ruangan sedemikian rupa atau pinggirkan kursi dan meja, kalau ada
kemudian minta mahasiswa untuk berdiri dibelakang kelas
3) Tulislah angka 1 sampai 5 pada sepotong kertas, usahakan ukurannya cukup
besar untuk skala penilaian.
4) Tempelkan angka-angka tersebut pada tempat yang terpisah di dalam kelas.
Jelaskan bahwa arti angka 1 sampai 5 itu adalah sebagai berikut ini:
1= sangat tidak setuju
2= tidak setuju
3= tidak yakin
4= setuju
5= sangat setuju
5) Setiap pernyataan dibacakan mahasiswa diminta untuk berkumpul di sekitar.
6) Angka yang menurut mereka sesuai kondisi mereka. Anjurkan mahasiswa
untuk menilai mereka sendiri.
7) Setelah semua mahasiswa memutuskan pilihan masing-masing tanyakan
mengapa mereka memilih angka tersebut.
8) Setelah semua mendengarkan beberapa pendapat dari mereka, beri
kesempatan ajaklah mahasiswa untuk berpindah sekiranya mereka
menghendaki.
5. Kajian mengenai Penerapan model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial
di media massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment.
a. Pengertian kolaborasi. Menurut Jonathan sebagaimana dikutip
Khoiriyah (2012), “kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi
beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga atau pihak-pihak yang terlibat
secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat serta manfaat”.
b. Pengertian model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial di media
massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment. Berdasarkan kajian teori
sebagaimana dipaparkan di atas isu-isu kontroversial yang sedang terjadi dan menyebar
luas di media massa seperti televisi, radio, film, surat kabar. Tujuan kolaborasi ini agar
peserta dapat menumbuh kembangkan dan melatih kemampuan berpikir kritis.
Kolaborasi isu-isu kontroversial di media massa dengan strategi Physical Self
11

Assesment bermaksud untuk mengembangkan sikap demokratis dalam proses


sosialisasi.
c. Kelebihan model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Assesment. Berdasarkan kajian teori sebagaimana
dipaparkan di atas kelebihan dari model sosialiasi melalui isu-isu kontroversial di media
massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment yaitu semua peserta didik
berpartisipasi dalam proses pembelajaran ini sehingga dapat menilai kemampuannya
sendiri, mampu mengembangkan cara berfikir. Adanya pembelajaran berbasis isu-isu
kontroversial di media massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment
menjadikan peserta didik dapat menumbuh kembangkan dan melatih kemampuan
berpikir kritis.
d. Kelemahan model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Assesment. Berdasarkan kajian teori sebagaimana
dipaparkan di atas kelemahan dari pembelajaran berbasis isu-isu kontroversial di media
massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment. Untuk isu-isu kontroversial di
media massa apabila pemikiran peserta tidak sependapat dengan kelompoknya akan
menimbulkan pertentangan sehingga akan menghambat pembelajaran. Untuk strategi
Physical Self Assesment, pada saat pembelajaran hanya peserta didik yang menonjol
saja yang aktif dalam menyampaikan pendapatnya sedangkan peserta lain yang
mempunyai kemampuan sedang kebawah enggan menyampaikan pendapat.
e. Langkah-langkah model sosialiasi melalui isu-isu kontroversial di media
massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment. Penerapan model sosialiasi
pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Assesment adalah sebagai berikut:
1. Peneliti menampilkan isu-isu kontroversial di media massa di awal pertemuan.
2. Siswa berkelompok memilih salah satu kasus untuk dikaji.
3. Buatlah beberapa pernyataan yang akan dipakai untuk menilai siswa.
Contohnya adalah: “Saya telah paham tentang teori ekonomi mikro”.
4. Atur ruangan sedemikian rupa atau pinggirkan kursi dan meja, kalau ada
kemudian minta mahasiswa untuk berdiri dibelakang kelas
5. Tulislah angka 1 sampai 5 pada sepotong kertas, usahakan ukurannya cukup
besar untuk skala penilaian.
6. Tempelkan angka-angka tersebut pada tempat yang terpisah di dalam kelas.
Jelaskan bahwa arti angka 1 sampai 5 itu adalah sebagai berikut ini:
1= sangat tidak setuju
12

2= tidak setuju
3= tidak yakin
4= setuju
5= sangat setuju
7. Angka yang menurut mereka sesuai kondisi mereka. Anjurkan siswa untuk
menilai mereka sendiri.
8. Setelah semua siswa memutuskan pilihan masing-masing tanyakan mengapa
mereka memilih angka tersebut.
9. Setelah semua mendengarkan beberapa pendapat dari mereka, beri
kesempatan ajaklah siswa untuk berpindah sekiranya mereka menghendaki.
6. Kajian mengenai Karang Taruna.
a. Pengertian karang taruna. Karang Taruna adalah adalah organisasi
kepemudaan di Indonesia, merupakan wadah pengembangan generasi muda yang
tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dan, oleh dan untuk
masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa atau Kelurahan atau
komunitas sosial sederajat. Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna
merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya
mengembangkan kegiatan ekonomis produktif dengan pemberdayaan semua potensi
yang tersedia di lingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam
yang telah ada. Menurut peraturan menteri sosial Republik Indonesia nomor 77
MUK/2010, karang taruna merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan
yang diakui keberdaannya dalam penyelenggaraan Kesejahteraan sosial Organisasi
karang taruna memiliki tujuan dan cita-cita agar Pemuda-pemudi di lingkungan desa
mampu menghadapi perkembangan zaman. Pemuda-pemudi yang ikut dalam
organisasi karang taruna dapat dijadikan wadah Untuk mengembangkan kreativitas
dan bersosialisasi dengan masyarakat. Menurut PERMENDAGRI nomor 5 tahun
2007 tentang pedoman penataan lembaga Kemasyarakatan, karang Taruna adalah:
Lembaga Kemsayarakatan merupakan wadah pengembangan generasi muda yang
tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial
dari oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa
kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak dibidang usaha
kesejahteraan sosial yang secara fungsional dibina dan dikembangkan oleh
departemen sosial.
Berdasarkan pendapat diatas disimpulkan bahwa karang taruna merupakan
organisasi sosial kemasyarakatan yang diakui keberadaannya dalam penyelenggaraan
13

kesejahteraan sosial. Keberadaan karang taruna mempunyai peran untuk memajukan


desa Karang taruna mempunyai andil besar terhadap generasi penerus, karena setiap
anggra harus siap menghadapi berbagai persoalan.
b. Tujuan karang taruna. Menurut peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia
nomor 77/HU/2010 pasal 3, menjelaskan bahwa tujuan karang taruna adalah:
1) Pertumbuhan dan perkembangan setiap anggota masyarakat yang
berkualitas, terampil, cerdas inovatif, berkarakter serta memiliki kesadaran
dan tanggung jawab sosial dalam mencegah, menangkal, menanggulangi dan
mengantisipasi berbagai masalah kesejahteraan sosial khususnya generasi
muda.
2) Kualitas kesejahteraan sosial setiap anggota masyarakat terutama
generasi muda di dea/kelurahan secara terpadu, terarah, menyeluruh, serta
berkelanjutan
3) Pengembangan usaha menuju kemandirian setiap anggota masyarakat
terutama generasi muda
4) Pengembangan kemitraan yang menjamin peningkatan kemampuan
dan generasi muda secara terarah dan berkesinambungan
7. Keterkaitan Model Sosialisasi Pengembangan Sikap demokratis melalui Isu-isu
Kontroversial di Media Massa Kolaborasi Strategi Physical Self Assesment.
Model sosialisasi pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu kontroversial
di media massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment merupakan pembelajaran
yang perlu diterapkan oleh guru sebagai upaya mengembangkan sikap demokratis.
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas mengenai proses sosialisasi melalui isu-isu
kontroversial di media massa kolaborasi strategi Physical Self Assesment, sikap
demokratis dan proses sosialisasi merupakan variabel-variabel yang memiliki keterkaitan.
Kolaborasi antara kedua pembelajaran ini dapat mengembangkan sikap demokratis dalam
proses sosialisasi di karang taruna, peserta akan melatih kemampuan berpikir kritis, dan
fokus pada proses belajar jika dapat dilakukan dengan baik dan benar.

B. Kajian Penelitian yang Relevan


Kajian penelitian yang relevan merupakan uraian sistematis mengenai hasil
penelitian yang dikemukakan oleh seseorang yang melakukan penelitian terdahulu
serta ada kaitannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Hasil penelitian
Arumsari (2017) membuktikan bahwa model sosialisasi nilai-nilai peduli social
dalam kehidupan bermasyarakat dengan menggunakan strategi Physical Self
Assesment kombinasi Answer Gallery sebelum uji coba yaitu 102,13 atau 72,95%
14

pada karang taruna desa pakis kelurahan boto kecamatan wonosari kabupaten klaten
tahun 2016. Peningkatan dalam percobaan uji model 1 meningkat menjadi 122,07
atau 87,19% dan setelah itu dilanjutkan pada percobaan uji coba yang ke 2 yaitu
132,93 atau 94,95%. Berdasarkan data hasil penelitian dari uji coba 1 ke uji coba 2
meningkat 7,76%.
Penelitian yang dilakukan oleh Embriyanti (2017) tentang pengembangan sikap
demokratis dan tanggung jawab melalui model modifikasi strategi pembelajaran
True or False dan Debate Active dalam mata pelajaran PKn pada siswa kelas X 2
TKR di SMK Pancasila Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal tersebut terbukti
skor rata-rata sikap demokratis pada uji coba model 1 yaitu 35,95 atau 69,13%,
setelah dilakukan uji coba ke 2 skor rata-rata sikap demokratis meningkat 37,18 atau
71,5%, kemudian skor rata-rat tanggung jawab pada uji coba model 1 yaitu 20,18
atau 72,07% setelah dilakukan uji coba model 2 skor rata-rata tanggung jawab
meningkat menjadi 21,27 atau 75,96%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa ada pengembangan yang cukup signifikan maka model modifikasi strategi
pembelajaran True or False dan Debate Active mampu mengembangkan sikap
demokratis dan tanggung jawab pada siswa kelas X 2 TKR di SMK Pancasila
Surakarta Tahun Pelajaran 2016/2017.

C. Kerangka Berpikir
Kerangka pemikiran atau disebut sebagai kerangka berpikir diformulasikan
dalam bentuk anggapan dasar. Menurut Sugiyono (2017:91), kerangka berpikir
merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai
factor yang telah diindetifikasikan sebagai masalah penting. Berdasarkan pemaparan
di atas peneliti mengajukan kerangka pemikiran sebagaimana berikut:
15

Isu-isu
kontroversial di
media massa Indikator sikap demokrasi :
a) Kebebasan mengemukakan pendapat
kolaborasi
b) Menghormati perbedaan pendapat
strategi Physical c) Memahami keanekaragaman dalam
Self Assesment masyarakat
d) Menjunjung tinggi nilai dan martabat
Pengembangan
kemanusiaan
sikap demokratis e) Saling menghargai
masih rendah

Sosialisasi
Pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu
kontroversial di media massa kolaborasi strategi
Prestest
Physical Self Assesment
(sebelum
diberi Pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu
Posttest
(setelah diberi kontroversial di media massa pada Karang Taruna
perlakuan) Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen
Kulon Kecamatan
Pengembangan sikap demokratis Sragen
melalui isu-isu KabupatendiSragen
kontroversial media
tinggi
massa pada Karang Taruna Kuwung Sari Kalurahan Sragen Kulon
Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen tinggi
Ada peningkatan sikap demokratis pada Karang Taruna Kuwung Sari
Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen anatar
sebelum (pretest) dan setelah diberi perlakuan (posttest) model sosialisasi
melalui isu-isu kontroversial di Media Massa Kolaborasi Strategi Physical
Self Assesment atau ada perbedaan
Gambar nilai rata-rata antara
1.Kerangka (pretest) dan (posttest)
Berpikir

D. Hipotesis
Menurut Sugiyono (2017:96) hipotesis merupakan jawaban sementara masalah
penelitian yang telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan
sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori relevan, belum
didasarkan pada fakta-fakta empiris diperoleh melalui pengumpulan data. Hipotesis
adalah suatu jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti
16

melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2010:110). Hipotesis yang diajukan


penelitian ini adalah sebagai berikut:
H0 = Tidak ada peningkatan pengembangan sikap demokratis pada karang taruna
Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten
Sragen setelah dilaksanakan model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial di media
massa kolaborasi strategi Physical Self Asessment atau niali rata-rata antara (Pretest)
dan (Posttest) sama.
Ha = Tidak ada peningkatan pengembangan sikap demokratis pada karang taruna
Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten
Sragen setelah dilaksanakan model sosialisasi melalui isu-isu kontroversial di media
massa kolaborasi strategi Physical Self Asessment atau niali rata-rata antara (Pretest)
dan (Posttest) berbeda.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Menurut Sugiyono (2017:7), jenis-jenis penelitian secara umum dapat
dikelompokkan berdasarkan bidang. tujuan, metode, tingkat eksplanasi (level of
explanation) dan waktu. Terkait bidang, tujuan, metode, tingkat eksplanasi (level of
explanation) dan waktu. Menurut Sugiyono (2017:6) menyatakan:
a. Berdasarkan bidangnya, penelitian dibedakan menjadi akademis,
profesional dan institusional.
b. Berdasarkan segi tujuanya, penelitian dibedakan menjadi murni dan
terapan.
c. Berdasarkan metodenya, penelitian dibedakan menjadi penelitian
survey, ex post facto, eksperimen, naturalistik, policy research, evaluation
research action research, sejarah, dan research and Development (R&D).
d. Berdasarkan tingkat eksplanasi (level of explanation), penelitian
dibedakan menjadi deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
e. Berdasarkan waktu, penelitian dapat dibedakan menjadi cross
sectional dan longitudinal.

Berdasarkan teori di atas, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
eksperimen yang berjenis Pre-eksperimental. Menurut Sugiyono (2017: 40)
eksperimen merupakan jenis metode penelitian kuantitatif. Menurut Darmadi
(2014:115). Penelitian eksperimen merupakan metode yang dapat menguji hipotesis
hubungan sebab/akibat. Menurut Sugiyono (2017:109), Pre-eksperimental
merupakan metode riset yang menggunakan langkah-langkah dasar penelitian
eksperimen, namun tidak ada kelas control sebagai pembanding.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan One Group Pretest Posttest Design.
Prosedur dalam desain penelitian ini, terdapat pretest sebelum perlakuan diberikan
dengan demikian hasil tersebut bisa diketahui lebih akurat karena dapat
membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan (Sugiyono, 2017:110-
111). Menurut Darmadi (2014:237) One Group Protest Posttest merupakan desain
dengan melibatkan satu kelompok yang diberi pretest (O), suatu treatment (X) dan
posstest (O) Keberhasilan Treatment ditentukan dengan membandingkan nilai pretest

17
18

dengan posttest. Adapun desain penelitian One Group Pretest Posttest Design
sebagaimana tabel berikut:

O1 X O2
Gambar 2. Pre-experimental One Group Pretest Posttest Design.
Keterangan:
01: Nilai Pretest (sebelum diberi perlakuan)
O2: Nilai Posttest (setelah diberi perlakuan)
X : Perlakuan
Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penelitian ini
sebagaimana dipaparkan dalam bagan berikut

Pretest Perlakuan Posttest O1 : O2 t-test


O1 X O2

Gambar 3. Langkah-langkah Penelitian


Keterangan:
O1 = Pretest
X = Perlakuan atau Treatment
O2 = Posttest
O:O = Perbandingan pretest dengan posttest
t-test = Proses analisis data menggunakan rumus t-test
Berdasarkan langkah-langkah penelitian di atas terdapat penjelasan
sebagaimana pernyataan berikut:
a. Pretest. Pretest merupakan tahap awal yang dilakukan untuk mengetahui
seberapa tinggi sikap demokratis. Pretest dalam penelitian ini dilakukan dengan
membagikan angket supaya diisi oleh peserta. Penelitian ini menggunakan angket
dengan skala Likert. Menurut Sugiyono (2017:134) skala Likert digunakan untuk
mengukur sikap pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok tentang fenomena
sosial. Angket tersebut kemudian dibagikan kepada anggota karang taruna. Hasil
angket ini dijadikan pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya.

b. Treatment. Treatment merupakan tahap kedua dalam penelitian ini


perlakuan yang diberikan yaitu sosialisasi mengenai isu-isu kontroversial di media
massa dengan kolaborasi strategi yang biasa dilakukan di sekolah. Strategi yang
digunakan yaitu Physical Self Asessment. Pelaksanaan pada tahap dua ini diawali
19

dengan menjelaskan dan memberi arahan terkait strategi yang akan digunakan
kepada karang taruna Kuwungsari Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen
Kabupaten Sragen. Peneliti pada tahap ini menampilkan isu-isu kontroversial di
media massa serta melaksanakan strategi yang sudah direncanakan.
c. Posttest. Posttest dilakukan setelah selesainya pelaksanaan sosialisasi
pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Asessment. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui
perubahan yang dialami oleh pemuda karang taruna setelah diberikan perlakuan
menggunakan model strategi Physical Self Asessment. Posttest dalam penelitian ini
sama seperti pada tahap awal (pretest) yaitu menggunakan angket dengan skala likert
d. Perbandingan pretest dengan posttest. Perbandingan pretest dengan
posttest dilaksanakan setelah observasi selesai. Tahap ini diawali dengan mengolah
data dari masing-masing angket dan membandingkanya.
e. Proses analisis data mengunakan rumus t-test. Proses analisis data
menggunakan rumus t-test dilakukan untuk menganalisis data sebagai langkah
terakhir yang ditempuh peneliti setelah melakukan observasi. Langkah selanjutnya
yaitu menganalisis data tersebut menggunakan Paired Sample T-test. Paired Sample
T-test merupakan uji beda dua sampel berpasangan yang digunakan untuk
mengetahui nilai rata-rata sebelum (pretest) dan sesudah adanya perlakuan (posttest).

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat penelitian ini yaitu Kuwung Sari Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan
Sragen Kabupaten Sragen Tahap-tahap dalam pelaksanaan kegiatan ini dimulai dari
persiapan sampai penulisan laporan penelitian. Waktu penelitian secara keseluruhan
semua dilakukan kurang lebih empat bulan,yaitu Maret sampai dengan Juni 2019.
Rincian tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan, sebagaimana tabel berikut.

Tabel 1. Perincian Kegiata Penelitian

Bulan Pelaksanaan Penelitian Tahun 2019-2020


No Nama Kegiatan Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap Persiapan x x x x
a. Penyusunan Proposal x x x x
20

b. Mengurus Perijinan x x
c. Menyusun Instrumen x x
2. Tahap Pelaksanaan x x x x x
a. Prasiklus x
b. Uji coba 1 x x
c. Uji coba 2 x x
3. Tahap Penyelesaian x x x x x
a. Penyelesaian x x

Kerangka Laporan
b. Penulisan Laporan x x
c. Revisi dan Editing x x

Laporan
d. Penyerahan Laporan x

C. Populasi, Sampel dan Sampling


1. Populasi
Menurut Sugiyono (2017: 117), populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas objek/subjek dengan kualitas dan karakteristik tertentu yang telah
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari serta ditarik kesimpulannya. Populasi ini
berarti bukan hanya orang tetapi juga objek dan benda-benda alam lainnya
(Sugiyono, 2017: 117). Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada
objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimilki
oleh subjek objek itu (Sugiyono, 2017: 117). Menurut Darmawan (2016: 138)
populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan diteliti. Populasi dalam
penelitian ini yaitu Karang Taruna Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen
Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen yang berjumlah 40 orang.

2. Sampel
Menurut Sugiyono (2017: 118), sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel diambil dari populasi arus
betul-betul representative (mewakili). Sampel dalam penelitian ini adalah sub karang
taruna yaitu perkumpulan pemuda karang taruna Kuwung Sari RT 05 RW 20
21

Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen yang berjumlah 20


orang.
3. Sampling
Menurut Sugiyono (2017: 118), sampling adalah teknik pengambilan sampel.
Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cluster Sampling yang
termasuk probability sampling, karena sampel yang digunakan hanya sebatas sub
pemuda yang didasari oleh tempat atau area yaitu perkumpulan karang taruna
Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten
Sragen.

D. Definisi Operasional Variabel


1. Variabel Bebas (X)
Menurut Sugiyono (2017-61), variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi penyebab berubah atau munculnya variabel
dependen (terikat). Variabel bebas (X) dalam penelitian ini yaitu model sosialisasi
pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Asessment. Model sosialisasi melalui isu-isu
kontroversial di media massa dengan strategi Physical Self Asessment adalah suatu
gambaran yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran pada lingkungan
pengajaran tertentu dengan menggabungkan dua metode berbeda sehingga terjalin
kerjasama menuju keberhasilan bersama.
2. Variabel Terikat (Y)
Menurut Sugiyono (2017:61). variabel terikat merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat
(Y) dalam penelitian ini yaitu pemahaman pemuda karang taruna terkait sikap
demokratis melalui isu-isu kontroversial di media massa. Adapun indikator yang
digunakan dalam mengukur pengembangan sikap demokratis yaitu:
1) Kebebasan mengemukakan pendapat
2) Menghormati perbedaan pendapat
3) Memahami keanekaragaman dalam masyarakat
4) Menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan
5) Saling menghargai
22

E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen


Penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
penelitian, karena tujuan utamanya untuk mendapatkan data (Sugiyono, 2017: 308).
Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
metode kuesioner atau angket. dan observasi. Penjelasan masing-masing metode
tersebut sehagaimana uraian berikut:
a. Angket atau kuesioner. Menurut Sugiyono (2017: 200). "angket merupakan
teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pertanyaan atau pemyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Menurut
Darmawan (2016: 160), teknik pengumpulan data dengan angket memerlukan kisi-
kisi atau pedoman untuk menyusun alat pengukurnya. Menurut
Darmawan(2016:160-161) angket atau kuesioner dibagi menjadi beberapa jenis
sebagaimana pernyataan berikut
1) Kuesioner tertutup, alam Kuesioner ini ugas responden adalah
memilih Satu atau lebih kemungkinan-kemungkinan jawaban yang
telahdisediakan.
2) Kuesioner terbuka dalam kuesioner ini terdapat pertanyaan-
pertanyaan bebas yang memberi kebebasan pada responden untuk
menjawabnya.
3) Kuesioner campuran, dalam kuesioner ini merupakan gabungan dari
angket tertutup dan terbuka, karena pada pilihan jawaban disediakan
tempat untuk menulis jawaban yang berbeda

Angket sebagai instrumen digunakan untuk mengukur nilai variabel yang


diteliti. Instrumen penelitian digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan
menghasilkan data kuantitatif yang akurat. Data kuantitatif yang akurat harus
menggunakan skala (Sugiyono, 2017: 133). Menurut Sugiyono (2017: 134-141),
skala yang dapat digunakan untuk mengukur terdiri dari skala likert, guttman,
semantic differential, dan rating scale. Adapun penjelasan skala tersebut
sebagaimana berikut.
23

1) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap.pendapat, dan


persepsi seseorang atau kelompok tentang fenomena sosial.
2) Skala Guttman digunakan untuk mendapatkan jawaban yang
tegas dengan jawaban yalidak, benar/salah dan lain-lain. sehinga
memperoleh data interval atau dua alternative.
3) Semantic Differential digunakan untuk mengukur sikap,
namun bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi
tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban "dan af positifnya"
terletak di kanan dan sangat negatifnya" dibo gian kini garis atau
sebaliknya.
4) Rating Scale digunakan untuk mencari data mentah. karena
hanya memperoleh angka, dan kemudian ditafsirkan dalam pengertian
kualitatif.
Berdasarkan teori diatas, penelitian ini menggunakan angket tertutup karena
tugas responden hanya memilih satu jawaban dari kemungkinan jawaban yang
diberikan. Angket penelitian ini digunakan untuk mengukur pengembangan sikap
demokratis. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala Likert.
b. Observasi. Menurut Sutrisno Hadi sebagaimana dikutip Sugiyono
(2017:203), observasi merupakan suatu proses yang kompleks, dan tersusun
dariberbagai proses biologis maupun psikologis. Observasi dilakukan untuk
mengetahui kegiatan siswa mengenai kesungguhan belajar. mempersiapkan,
memperhatikan, dan menanggapi penjelasan dari guru selama proses pembelajaran.
Menurut Sugiyono (2017: 204-205), berdasarkan pelaksanaan pengumpulan
data observasi dapat dibedakan menjadi berperan serta dan non partisipan,
selanjutnya dari segi instrumen terdiri dari terstruktur dan tidak terstruktur. Observasi
berperan serta dimana peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang diteliti
sambil melakukan pengamatan,. dan ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh
sumber data serta merasakan suka dukanya (Sugiyono, 2017: 204). Penelitian ini
menggunakan observasi terstruktur. Metode observasi dalam penelitian ini digunakan
untuk mengamati pelaksanaan model sosialisasi pengembangan sikap demokratis
melalui isu-isu kontroversial di media massa kolaborasi strategi Physical Self
24

Assesment pada karang taruna Kuwung Sari Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan
Sragen Kabupaten Sragen.

2.Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2017: 133), instrument penelitian digunakan untuk
mengukur nilai variabel yang diteliti dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif
yang akurat maka harus mempunyai skala. Menurut Sugiyono (2017: 134), macam
macam skala pengukuran dapat berupa skala nominal, skala ordinal, skala interval
dan skala rasio. Menurut Sugiyono (2017: 134) ada empat jenis skala yang
digunakan untuk mengukur data interval atau rasio yaitu Likert, Guttman, Semantic,
Diferensial, dan Rating Scale. Berdasarkan pemaparan diatas pengumpulan data
dalam penelitian ini menggunakan metode angket dan observasi. Adapun alat-alat
perlengkapan yang menunjang jalannya pelaksanaan model sosialisasi
pengembangan sikap demokratis melalui isu-isu kontroversial di media massa
kolaborasi strategi Physical Self Assesment pada karang taruna Kuwung Sari
Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen terdiri dari angket
kuesioner.

F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen


1. Uji Validitas Instrumen
Uji validitas dilakukan melalui angket yang diujikan sebagai Try Out pada
perkumpulan pemuda karang taruna di luar sampel. Sampel yang diambil yaitu
perkumpulan pemuda Desa Ringin Anom. Uji Try Out diberikan pada perkumpulan
karang taruna Kuwung Sari Kalurahan Sragen Kulon Kecamatan Sragen Kabupaten
Sragen yang berjumlah 20 orang. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrument (Arikunto, 2010: 211).
Tinggi rendahnya instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak
menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud (Arikunto, 2010: 211-
212). Uji validitas untuk mengukur item atau butir dalam penelitian ini adalah
25

dengan rumus korelasi product moment dari Pearson. Menurut Arikunto (2010: 213)
rumus korelasi product moment terdiri dari dua macam yaitu sebagai berikut:
1) Korelasi product moment dengan simpangan menggunakan rumus.
∑ xy
r xy =
√(∑ x 2)(∑ y 2 )
Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y dan variabel yang

dikorelasikan x= X dan y=Y-Y

∑xy = jumlah perkalian x dan y

x2 = kuadrat x

y2 =kuadrat y

2). Korelasi product moment dengan angka kasar, menggunakan rumus.

N ∑ xy – (∑ x )(∑ y )
r xy=
√( N ∑ x2 – (∑ x)2 ( N ∑ y 2 – (∑ y )2))

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y

x = skor tiap faktor

y = skor seluruh faktor

N = jumlah subjek

Berdasarkan rumus diatas penelitian ini menggunakan korelasi product


moment dengan angka kasar, karena relatif lebih mudah dan menghindari angka
pecahan. Selanjutnya mengenai perhitungan korelasinya berdasarkan ketentuan
bahwa jika rxy ≥ r tabel pada taraf signifikan 5% berarti item (butir soal) valid dan
26

sebaliknya apabila rxy < r tabel 5 herarti item (butir soal) tersebut tidak valid
sekaligus tidak memenuhi persyaratan
2. Uji Reliabilitas Instrumen
Uji Reliabilitas dilakukan melalui angket yang diujikan sebagai Try Out pada
perkumpulan pemuda karang taruna di luar sampel. Sampel yang diambil yaitu
perkumpulan pemuda Desa Ringin Anom sedangkan uji Try Out diberikan pada
perkumpulan pemuda Kuwung Sari RT 05 RW 20 Kalurahan Sragen Kulon
Kecamatan Sragen Kabupaten Sragen yang berjumlah 20 orang. Uji reliabilitas
menyatakan bahwa instrumen yang digunakan beberapa kali untuk mengukur objek
yang sama akan menghasilkan data yang sama. Pengujian reliabilitas kuesioner pada
penelitian ini penulis menggunakan rumus Spearman Brown. Adapun rumus
reliabilitas Spearman Brown adalah sebagai berikut:
2rb
r 1=
1+ rb
Keterangan :
r1= Reliabilitas internal seluruh instrument
rb=Korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua
Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha
Cronbach. Rumus Alpha Cronbach digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen
yang skomya bukan 1 dan 0, melainkan instrumen yang berbentuk angket dan skala
bertingkat (rating scale) (Arikunto, 2010: 239) Langkah awal dalam uji reliabilitas
menggunkan rumus Alpha yaitu terlebih dahulu melakukan perhitungan varians tiap
butir soal tergantung jumlah bulir pertanyaan yang ada Adapun rumus koefisien
reliabilitas Alpha Cronbach adalah sebagai berikut:
∑σ 2
r 11= ( k
)(
(k −1)
1− 2bt
σ )
Keterangan:
R11 = Reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
27

∑ σ b2 =Jumlah varians butir


2t
σ = varians total
2
( x)
∑ Xi2
N
σ t 2=
N
Keterangan:
σ t 2 = Varian butir ke-n
∑ X i = Jumlah skor jawaban subjek untuk butir pertanyaan

G. Analisis Data

Menurut Sugiyono (2017: 207). "analisis data merupakan kegiatan yang


dilakukan setelah data dari seluruh responden atau sumber lain terkumpul". Terkait
dengan analisis, Nasution sebagimana dikutip Sugiyono (2017: 334) menyatakan:
Melakukan analisis adalah pekerjaan yang sulit, memerlukan kera keras
Analisis memerlukan daya kreatif serta kemampuan intelektual yang tinggi.
Tidak ada cara tertentu yang dapat diikuti untuk mengadakan analisis,
sehingga setiap peneliti harus mencari sendiri metode yang dirasakan cocok
dengan sifat penelitiannya. Bahan yang sama bisa diklasifikasikan lain oleh
peneliti yang berbeda.

1. Analisis Deskripif Data


Berdasarkan penjelasan diatas an alisis deskriptif dilakukan dengan
menggunakan SPSS versi 16.0 for windows. Menurut Nugriyanto dkk sebagaimana
dikutip oleh Zaman (2018:32), langkah-langkah yang dilakukan dalam menggunakan
SPPS versi 16.0 for windows yaitu: ambil menu Analyze, klik (1) pilih Descriptive
statistic, pilih Frequencies, klik (2) jika dalam kotak dialog sebelah kiri terdapat
sejumlah nama variabel, pilih nama yang dibutuhkan klik panah ke kanan (3) pilih
klik Statistics (bawah) dan muncul kotak dialog yang menawarkan penghitungan
berbagai statistic deskriptif pilih yang dikehendaki kemudian klik Continue (4), klik
Ok computer langsung bekerja dan menampilkan hasil perhitungan.

2. Uji Prasyarat Analisis Data


28

Berdasarkan dengan persyaratan analisis sebelum tahap pengujian hipotesis,


maka terlebih dahulu harus melakukan uji normalitas. Uji normalitas data di maksud
untuk mengetahui apakah variabel-variabel dalam penelitian mempunyai sebaran
distribusi normal atau tidak Uji normalitas data juga akan menentukan langkah yang
harus ditempuh selanjutnya yaitu analisis statistik yang digunakan (parametrik/non-
parametrik). Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Shapiro Wilk
dengan bantuan program atau aplikasi SPSS versi 16.0 for windows. Menurut Kadir
sebagaimana dikutip Zaman (2018:33) adapun langkah-langkah untuk menguji
normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk menggunakan SPSS
adalah sebagai berikut:
a. Buka file yang ingin diuji normalitas datanya
b. Pada menu SPSS. Analyse- Despel Sur - Wik Explore
c. Masukkan file pada kotak Dependent List, kemudian pilih mau klik
Plots
d. Pada Descriptive secara otomatis sudah terceklist, selanjutnya
lepaskan kembali ceklist tersebut
e. Pada Boxplots, klik None, selanjutnya klik Normality Plots with Tests
lalu klik Continue dan Ok.

3. Pengujian hipotesis
Menurut Nurgiyamoro dik sebagaimana dikuti Zaman (2018:33-34),
pengujian signifikansi perbedaan hasil pengukuran serta terha dap subjek sampel
berpasangan abu berhubu
ngan di gunakan rumus t-test sebagai berikut:

2 2
N ∑ D −(∑ D ¿ )
¿
¿ N−1
¿
¿
√¿
∑D
t=
¿

∑D
D=
N
29

∑X
X́ =
N

Keterangan:

t = thitung

∑D = Jumlah selisih hasil angket Pretest dan Posstest

∑D2 = Jumlah selisih hasil angket Pretest dan Posstest yang telah dikuadratkan

N= Responden