Anda di halaman 1dari 5

2.

Prinsip Kerja dari Cooling Tower


Sistem Cooling tower merupakan perpindahan panas terjadi melalui kontak
langsung antara air yang mempunyai suhu lebih tinggi dengan udara dan mempunyai
suhu yang lebih rendah. Air akan memberikan panas laten dan panas sensible di udara
sehingga suhu air akan menjadi turun. Udara yang akan digunakan sebagai media
pendingin dialirkan dari bawah ke atas, secara berlawanan dengan arah aliran air,
dengan bantuan tarikan pada kipas melalui lubang aliran udara. Air yang didinginkan
mengalir dari atas melalui pipa suplai utama dan kemudian dipancarkan ke bawah
lewat penghambur sprayfitting dan sistem distribusi air. Proses pendinginan terjadi
dengan pemindahan terhadap panas dari air ke udara selama aliran menuju kolam.
Dalam proses ini air mengalir pada bagian konstruksi khusus honeycomb. Uap panas
ditarik dan dilepas ke udara setelah air mengalami proses penurunan temperatur maka
akan jatuh pada bagian bawah cooling tower (Pratiwi dkk, 2014).
Cooling tower merupakan suatu sistem yang terdapat pada refrigerasi untuk
dapat melepaskan suatu kalor ke udara. Cooling tower dapat bekerja dengan cara
mengontakkan air dengan udara dan menguapkan sebagian dari air. Luas permukaan
air yang besar pada sebagian dapat dibentuk untuk menyemprotkan air lewat nozel
atau memercikan air kebawah dari suatu bagian ke bagian lainnya. Prestasi sebuah
cooling tower basah tergantung dari temperatur bola basah dari udara yang masuk.
Prestasi dari cooling tower biasanya ditunjukkan dalam sebuah hubungan range dan
approach. Range adalah perbedaan temperatur antara temperatur air yang masuk dan
temperatur air yang akan keluar dari sebuah cooling tower. Approach adalah
perbedaan temperatur antara temperatur air yang keluar dari cooling tower dan
temperatur bola basah udara yang masuk cooling tower (Muhsin dan Pratama, 2018).
Cooling tower dapat beroperasi menurut prinsip difusi, dimana adanya
perubahan temperatur dapat mengakibatkan perbedaan besarnya laju perpindahan
massa dan panas yang akan terjadi. Besarnya laju perpindahan massa dan panas
dipengaruhi oleh luas daerah kontak antara fluida panas dengan fluida dingin, waktu
kontak, kecepatan fluida dan temperatur fluida. Sedangkan cooling water adalah air
pendingin yang digunakan untuk mendinginkan peralatan, pendinginan terhadap air
dapat terjadi didalam cooling tower. Cooling tower pada sebagian air akan menguap
ke udara dan kalor sensible akan berpindah dari air panas ke udara yang lebih dingin.
Kedua proses itulah yang mengakibatkan turunnya temperatur air dan untuk menjaga
keseimbangan air, menambahkan air make up water untuk menggantikan air yang
hilang karena penguapan atau terbawa oleh udara (Putra, 2015).

Tipe – Tipe Cooling Tower


1) Recirculation Type
Open type yaitu dimana sebagian air setelah mengalami pemanasan yang akan
diuapkan untuk proses pendinginannya kembali. Pada sistem pendinganan pada jenis
ini air tidak langsung dibuang, melainkan digunakan kembali setelah proses
pendinginan melalui cooling tower. Kebutuhan make-up water juga akan berkurang
jika dibandingkan dengan sistem sekali pakai. Maka tipe pendinginan ini memiliki
keuntungan dan kerugian.Keuntungannya yaitu kebutuhan make-up water berkurang,
jumlah bahan kimia yang dibuang berkurang, dan kontrol terhadap bahan kimia yang
digunakan lebih mudah. Kerugiannya yaitu modal awal besar, membutuhkan biaya
operasional, dan perbedaan antara suhu panas dan dingin besar (wiyono dkk, 2017).
Close type adalah tipe pendinginan kembalinya airnya tanpa penguapan. Tipe
pendingin ini biasanya dipakai untuk internal engine combustion sistem. Pada sistem
pendingin jenis ini air dalam jumlah tertentu tersirkulasi dalam rangkaian tertutup.
Make-up yang digunakan hanyalah sejumlah air yang hilang dari kebocoran sistem.
Pendinginan biasanya dilakukan dengan menggunakan perpindahan panas pada Heat
Exchanger, dimana Heat Exchanger memiliki berbagai jenis sesuai dengan
kebutuhan dan begitupun dengan fungsinya yang sangat banyak. Keuntungannya
yaitu bahan kimia yang diperlukan untuk pengolahannya hanya sedikit, mengurangi
jumlah air make-up, dapat mengurangi air make-up yang berkualitas tinggi secara
ekonomis, oleh sebab itu mengurangi kecenderungan pembentukan kerak, dan lebih
tahan terhadap pertumbuhan mikrobiologi. Kerugiannya yaitu ekonomis hanya bagi
sistem pendingin kecil, memerlukan sistem air pendingin lainnya, dan memerlukan
modal awal untuk memasang Heat Exchanger lain (Aprianti dkk, 2018).
2) Once Through Type
Sirkulasi air yang digunakan hanya satu kali proses saja. Pada sistem
pendingin jenis ini, air hanya dapat dialirkan ke dalam sistem pertukaran panas heat
exchanger dan kemudian langsung dibuang. Keuntungannya yaitu modal awal
operasinya sangat rendah, biaya operasional rendah, dan perbedaan suhu antara air
panas dan air dingin juga rendah. Kerugiannya yaitu membuang panas langsung ke
lingkungan, serta sukar mengendalikan pemakaian bahan kimia, dan pembuangan
limbah bahan kimia ke lingkungan tidak terkontrol (Budiyono dan Sugianto, 2012).
3) Evaporasi Cooling Tower atau Wet Cooling Tower
Transfer panas dari hot water menjadi cold water menggunakan suatu proses
transfer panas lewat evaporasi. Tiga perbedaan mendasar pada sebuah desain
evaporative cooling tower yaitu Atmospheric Cooling Tower , Natural Draft Cooling
Tower , dan Mechanical Draft Cooling Tower. Mechanical Draft Cooling Tower
terbagi menjadi empat, yaitu Forced Draft, Counter Current Induced Draft, Cross
Flow Induced Draft, dan Hyperbolic Tower (Budiyono dan Sugianto, 2012).
4) Wet – Dry Cooling Tower
Gabungan dari dua tipe dasar diatas dengan dua proses pendinginan yang
digunakan secara pararel atau terpisah. Pembagian cooling tower secara garis besar
diatas, cooling tower dapat dibagi Berdasarkan arah aliran udara masuk yaitu Cross
flow, udara mengalir secara horizontal, melewati jatuhnya air, dan Counter current
flow, udara mengalir secara vertikal, melawan jatuhnya air. Berdasarkan cara
pemakaian alat bantu seperti fan atau blower yaitu Induced draft, alat bantu berada di
bagian puncak tower, dan Force draft, alat bantu berada di bagian bawah tower.
Berdasarkan kondisi aliran udara bebas tanpa alat bantu yaitu Atmospheric Cooling
tower atmospheric (udara pada kondisi atmospheric mengalir bebas tanpa memakai
penutup tower) tidak dilengkapi dengan mechanical fan untuk mengalirkan udara ke
tower, udara diperoleh dari aliran induksi alami oleh tekanan. Udara pada kondisi ini
mengalir bebas tanpa memakai penutup tower (Sentana dan Hadinata, 2005).
Pada cooling tower sebagian air menguap ke udara dan kalor sensibel
berpindah dari air panas ke udara yang lebih dingin, dan Natural draft, udara
mengalir dalam udara pendingin dari tower namun kondisi udara belum tentu
atmospheric. Berdasarkan bentuknya yang termasuk tipe ini yaitu Rectilinier, dan
Round Mechanical Draft. Berdasarkan perpindahan panas yaitu Evaporatif , Dry
Tower, Plumeabatement, dan Water Conservation (Budiyono dan Sugianto, 2012).
Aprianti, T., Priyantama, E. D., dan Tanuwijaya, F. I. 2018. Menghitung
Efisiensi Dan Losses Cooling Tower Unit Refinery PT Wilmar Nabati Indonesia
Pelintung. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 3(24): 57-59.
Budiyono, dan Sugianto. 2012. Revitalisasi Sistem Pendingin Evaporator Tipe
Cooling Water. Jurnal Pusat Teknologi Limbah Radioaktif. Vol. 1(1): 7-16.
Muhsin, A., dan Pratama, Z. 2018. Analisis Efektivitas Mesin Cooling Tower
Menggunakan Range And Approach. Jurnal Opsi. Vol. 11(2): 119-124.
Pratiwi, N. P., Nugroho, G., dan Hamidah, N. L. 2014. Analisa Cooling
Tower Induced Draft Tipe LBC W-300 Terhadap Pengaruh Temperatur
Lingkungan. Jurnal Teknik Pomits. Vol. 7(7): 1-6.
Putra, R. S. 2015. Analisa Perhitungan Beban Cooling Tower Pada Fluida Di
Mesin Injeksi Plastik. Jurnal Teknik Mesin. Vol. 4(2): 56-62.
Sentana, A., dan Hadinata, T. A. Sistem Operasi Dan Analisis Menara
Pendingin Cooling Tower PLTP. Kamojang. Jurnal Infomatek. Vol. 7(2): 105-114.
Wiyono, S., Erwin, Nugraha, K., dan Ferdiansyah, F. 2017. Rancang Bangun
Sistem Cooling Water Recirculating Tank Untuk Mesin Biomassa Model TG30-1.
Jurnal Teknik Mesin Unitra. Vol. 3(2): 52-58.