Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam Yang Berwatak Tajrid Dan Tajdid


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kemuhammadiyahan
Dosen pengampu : Muhammad. S.Pd.I

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

ANISYA RIZKY KARTIKA ( NIM 1911102411146 )

MOHD. IBDARUL FAJAR ( NIM 1911102411149 )

ERNA ANGGUN SAPUTRI ( NIM 1911102411153 )

IMRIANI ( NIM 1911102411185 )

AYU CITA LARASARI ( NIM 1911102411190 )

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN KELAS ALIH JENJANG


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,

karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang

“Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam Yang Berwatak Tajrid Dan Tajdid”. Meskipun

masih banyak kekurangan didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan memberi

tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka

menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai kemuhammadiyahan sebagai gerakan

islam yang berwatak tajrid dan tajdid dan beberapa hal yang bersangkutan dengan materi

tersebut. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan

dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya kritik, saran, dan usulan

demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada

sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Samarinda, 25 September 2019

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1


A. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 2
D. Sistematika Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ...................................................................................................... 3
A. Pengertian Tajdid Dan Tajrid.......................................................................................... 3
B. Model Tajrid Dan Tajdid Muhammadiyah ..................................................................... 5
C. Model Gerakan Keagamaan Muhammadiyah ................................................................ 6
D. Makna Gerakan Keagamaan Muhammadiyah ................................................................ 7
E. Gerakan Tajdid Pada 100 Tahun Kedua Muhammadiyah .............................................. 8
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 11
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 11
B. Saran ............................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 12

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah semakin maju dan berkembang
pesat pelan tapi pasti mempengaruhi pola pikir dan perilaku kehidupan hingga jauh dari nilai-
nilai keislaman dan Kemuhammadiyahan. Akibatnya, tidak mengetahui sejarah, ajaran dan
perkembangan Muhammadiyah. Mereka seakan-akan menikmati kemajuan teknologi sampai
pada akhirnya lupa sejarah perjuangan dan ajaran Muhammadiyah dari awal kemunculannya
sampai sekarang.
Kemuhammadiyahan merupakan mata kuliah yang dipelajari di setiap perguruan
tinggi Muhammadiyah. Dari Kemuhammadiyahan ini diharapkan setiap Mahasiswa dapat
mengetahui ajaran organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf
nahi munkar. Gerakan dakwah yang dilakukan Muhammadiyah tidak hanya dengan
menyampaikan ceramah di masjid atau mushalla, namun Muhammadiyah melakukan
pembaharuan dari aspek gerakannya yaitu dengan dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan)
nyata yang mampu menembus dan menyelesaikan problem permasalahan yang sedang
dihadapi umat, baikberkaitan dengan masalah akidah, ibadah, akhlak dan muamalah.
Muhammadiyah terus mengembangkan sayapnya demi kemajuan Islam, yakni dengan
melakukan dakwah dalam bidang sosial, ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan dan
perberdayaan terhadap kaum perempuan yang memiliki peranan yang strategis dalam
kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan uraian tersebut, betapa
pentingnya pembahasan kemuhammadiyahan dalam menerapkan nilai-nilai keteladan yang
dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dan pemahaman keislaman Muhammadiyah dalam
masalah akidah, ibadah, akhlak dan Muamalah duniawiyah.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Jelaskan pengertian Tajrid dan Tajdid?
2. Jelaskan model Tajrid dan Tajdid Muhammadiyah?
3. Jelaskan model gerakan keagamaan Muhammadiyah?
4. Jelaskan makna gerakan keagamaan Muhammadiyah?
5. Jelaskan gerakan Tajdid pada 100 tahun kedua Muhammadiyah?

1
2

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian Tajrid dan Tajdid
2. Menjelaskan model Tajrid dan Tajdid Muhammadiyah
3. Menjelaskan model gerakan keagamaan Muhammadiyah
4. Menjelaskan makna gerakan keagamaan Muhammadiyah
5. Menjelaskan gerakan Tajdid pada 100 tahun kedua Muhammadiyah

D. Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan Makalah ini, yaitu :
Bab I Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penulisan
serta sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan teori terdiri dari penjelasan pengertian tajdid dan tajrid, model tajrid dan
tajdid muhammadiyah, model gerakan keagamaan muhammadiyah, makna gerakan
keagamaan muhammadiyah, gerakan tajdid pada 100 tahun kedua muhammadiyah.
Bab III Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Tajdid Dan Tajrid


1. Pengertian Tajrid
Tajrid secara bahasa berasal dari kata “JarradaYujarridu-Tajridan” yang bermakna
asli, murni (tidak ada tambahan dan pengurangan). Tajrid bisa berarti sesuatu yang
terkelupas seperti kulit terkelupas dari pohonnya hingga menjadi bersih, melepaskan
pakaian, dan semisalnya hingga tidak berpakaian, melepaskan rambut dari kulitnya dan
sebagainya. Abdurrahman Hasan Habannakah al-Mairani, al-Balaghah alArabiyyahUsusuha wa
Ulumuha wa Fununuha (Damsyiq: Dar al-Qalam, 1996), juz 1, 792. Tajrid dalam bahasa
Indonesia berarti pemurnian sekalipun dimaksudkan adalah memurnikan hal-hal yang
bersifat khusus. Istilah ini dipopulerkan oleh Din Syamsuddin dalam bukunya
“Muhammadiyah untuk Semua”. Dikatakan bahwa Muhammadiyah berada antara tajrid
dan tajdid. Dalam ibadah kita harus tajrid, hanya ikut kepada Nabi Muhammad SAW dan
tidak ada pembaharuan, sedangkan dalam muamalah kita harus tajdid, yakni melakukan
modernisasi dan pembaharuan.
Islam berkemajuan yang dimaksud oleh Muhammadiyah adalah Islam yang tidak
sekadar muncul dalam nilai ibadah semata, tetapi menjadi penyeimbang antara pemurnian
dan kemajuan. Misalnya, sholat harus dilakukan dengan penghayatan dan pemaknaan
sekalipun singkat. Karena itu, Muhammadiyah menghendaki agar ada keseimbangan
antara pemurnian (yang bersifat) dengan kemajuan (muamalah). Sedangkan secara istilah
adalah seorang mutakallim mencabut ucapannya dari perkara yang memiliki satu sifat atau
lebih dengan perkara yang lainyang memiliki satu sifat atau beberapa sifat berdasarkan
cara yang mubalaghah (yang jelas, dan benar) Abdurrahman Hasan Habannakah al-Mairani,
al-Balaghah alArabiyyahUsusuha wa Ulumuha wa Fununuha.., hlm. 792.. Dengan kata lain,
bahwa tajrid adalah mengembalikan dan memurnikan segala sesuatu yang berkaitan
dengan masalah akidah dan ibadah kepada ajaran yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-
Sunnah al-Maqbulah.
2. Pengertian Tajdid
Tajdid berasal dari bahasa arab yakni JaddadaYujaddidu-Tajdidan yang bermakna
memperbaharui sesuatu sehingga menjadi baru Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Qadir al-

3
4

Razi, Mulkhtar alShihah (Kairo: Dar al-Hadis, 2008), hlm.


Sedangkan secara istilah ada beberapa kalangan yang mendefinisikan sebagai
berikut:
a. Syamsul Anwar, Tajdid dibagi menjadi dua pengertian, yaitu: Syamsul Anwar, Manhaj
Tarjih dan Metode Penetapan Hukum dalam Tarjih Muhammadiyah, Makalah disampaikan
pada Acara Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Nasional Tanggal 26 Safar 1433 H / 20 Januari
2012 di Universitas Muhammadiyah Magelang, hlm. 2-3.
1) Tajdid dalam bidang akidah dan ibadah adalah pemurnian, maksudnya
mengembalikan akidah dan ibadah kepada kemurniannya sesuai dengan Sunnah
Nabi SAW. Tajdid dalam ibadah berarti menggali tuntunannya sedemikian rupa
dari sunnah Nabi SAW untuk menemukan bentuk yang paling sesuai atau paling
mendekati sunnah beliau dengan tidak mengurangi adanya tanawwu’ dalam
masalah ibadah, sepanjang memang mempunyai landasannya yang jelas dalam
sunnah. Misalnya, variasi bacaan do’a iftitah dalam sholat yang menunjukkan
bahwa Nabi SAW sendiri melakukan secara bervariasi. Varian ibadah yang tidak
didukung oleh sunnah menurut Tarjih tidak dapat dipandang praktik ibadah yang
bisa diamalkan. Sedangkan tajdid dalam bidang akidah adalah pemurnian, berarti
melakukan pengkajian untuk membebaskan akidah dari unsur-unsur khurafat dan
takhayul.
2) Tajdid dalam bidang muamalat duniawiyah adalah mendinamisasikan kehidupan
masyarakat dengan semangat kreatif sesuai tuntutan zaman. Maksudnya
mendinamisasikan kehidupan masyarakat sesuai dengan capaian kebudayaan yang
dicapai manusia di bawah semangat dan ruh al-Quran dan sunnah. Bahkan dalam
aspek ini beberapa norma di masa lalu dapat berubah bila ada keperluaan dan
tuntutan untuk berubah. Misalnya, pada zaman dahulu untuk menentukan
masuknya bulan kamariah baru, khususnya Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah,
digunakan rukyat sesuai dengan hadis-hadis rukyat di mana Nabi SAW
memerintahkan untuk melakukan rukyat. Namun pada zaman sekarang rukyat
tidak lagi digunakan melainkan dengan metode hisab, sebagaimana dipraktekkan
oleh Muhammadiyah. Contoh lain, di masa lalu perempuan tidak boleh menjadi
pemimpin karena hadis Abu Bakrah yang melarangnya, maka di zaman sekarang
terjadi perubahan ijtihad hukum di mana perempuan boleh menjadi pemimpin
sebagaimana ditegaskan dalam Putusan Tarjih tentang Adab al-Mar’ah fi al-Islam.
5

b. Din Syamsuddin, Tajdid adalah penafsiran, pengamalan dan perwujudan ajaran Islam,
dan dalam arti pemurnian berarti pemeliharan matan ajaran Islam yang bersumber
kepada al-Qur’an dan sunnah al-Shahihah (al-Maqbulah). Untuk melaksanakan dari
kedua pengertian tersebut, diperlukan aktualisasi akal pikiran yang cerdas dan fitri,
serta akal budi yang bersih yang dijiwai oleh ajaran Islam.
c. Haedar Nashir, Tajdid adalah memperbaharui alam pikiran sesuai zaman modern,
melembagakan pendidikan Islam modern dan bahkan melawan misi zending dengan
langkah-langkah yang modern sehingga disebut sebagai gerakan Islam modernis.

B. Model Tajrid Dan Tajdid Muhammadiyah


Ada beberapa model atau karakteristik tajrid dan tajdid Muhammadiyah adalah
sebagai berikut:
1. Konkrit dan produktif, yaitu melalui amal usaha yang didirikan, hasilnya konkrit dapat
dirasakan dan dimanfaatkan oleh umat Islam, bangsa Indonesia dan umat manusia di
seluruh dunia. Suburnya amal salih di lingkungan aktivis Muhammadiyah ditujukan pada
komunitas Muhammadiyah, bangsa dan kepada seluruh umat manusia di dunia dalam
rangka rahmatan lil Alamin.
2. Tajdid Muhammadiyah bersifat terbuka. Keterbukaan adalah Muhammadiyah mampu
mengantisipasi perubahan dan kemajuan di sekitarnya dengan amal usahanya yang dapat
dimasuki dan dimanfaatkan oleh siapa pun, seperti sekolah-sekolah, kampus, lembaga
ekonomi, dan usaha atau jasa.
3. Tajdid sangat fungsional dan selaras dengan cita-cita Muhammadiyah untuk
menghadirkan Islam sebagai agama yang berkemajuan, dan juga berkebajikan yang
senantiasa hadir sebagai pemecah problem yang dihadapi umat, seperti masalah kesehatan,
pendidikan dan sosial ekonomi.
Dengan demikian tajdid dalam bidang muamalah berbasis pada upaya dinamisasi,
kolaborasi, berbasis pada perubahan menuju capaian prestasi yang berkualitas. Suatu saat
nanti apa yang diusahakan Muhammadiyah hendaknya tampil menjadi pusat-pusat
keunggulan, seperti sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, lembagalembaga ekonomi.
Sementara itu, tajdid dalam bidang akidah dan ibadah mahdhah bukan bermakna dinamisasi,
tetapi tajdid berwajah tajrid, yaitu purifikasi atau pemurnian ajaran Islam. Artinya, masalah
akidah dan ibadah mahdhah hanya mencukupkan pada apa yang ada dalam al-Qur’an dan
hadis Nabi SAW.
6

C. Model Gerakan Keagamaan Muhammadiyah


Terdapat tiga model gerakan yang mewujud menjadi modal gerakan yaitu
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar
ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
Pada dasarnya, Muhamadiyah telah menggagas mengenai penguatan basis gerakan,
sejak awal berdirinya. Bahkan dalam Muktamar pada tahun 1970-an telah diputuskan untuk
menggalang jama’ah dan dakwah jamaah (GJDJ). Hanya saja, gagasan tersebut belum ter-
implementasi secara maksimal dalam aktivistas gerakan organisasi. Kesadaran yang sama
muncul pada Muktamar ke 46 Yogyakarta dengan adanya program revitalisasi cabang dan
ranting serta pembentukan Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), sebagai
respons atas kondisi global dan tantangan yang dihadapi.
Kesadaran untuk memperhatikan masyarakat di akar rumput merupakan kelanjutan
dari spirit perubahan formasi sosial dengan terlibat dalam penguatan kesadaran sosial, politik,
ekonomi dan ideologi, kini terkooptasi oleh kecenderungan kapitalistik, birokrasi, politisasi
yang berlangsung secara massif pasca Orde Baru. Dan terakhir, beberapa dekade yang lalu,
telah dirumuskan pembinaan Jamaah, keluarga sakinah, dan qaryah thoyyibah untuk
memperkuat basis gerakan.
Gerakan keagamaan Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari pendirinya yakni KH.
Ahmad Dahlan. Sesuai dengan sikap dan pendiriannya, KH. Ahmad Dahlan lebih suka
mewujudkan gagasan dan pokok pikirannya melalui tindakan nyata atau gerakan
pembicaraan dan tulisan. Pada awal perjalanannya, Muhammadiyah sangat miskin dengan
rumusan formal mengenai apa yang menjadi gagasan dan pokkok-pokok pikiran yang ingin
diperjuangkan dan diwujudkan. Rumusan formal hanya ditemukan dalam Anggaran Dasar
atau statuta Muhammadiyah. Oleh karenanya, tindakan atau model gerakan keagamaan yang
dilakukan KH. Ahmad Dahlan adalah sebagai berikut:
1. Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah melalui gerakan pemurnian dalam bidang akidah
dan ibadah mahdhah. Dalam bidang muamalah duniawi, Muhammadiyah melakukan
reinterpretasi akan al-Quran dan sunnah untuk menyelaraskan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
2. Melakukan gerakan dakwah dan tajdid yang bersifat pencerahan. Pencerahan (tanwir)
diwujudkan dalam gerakan pembaharuan pemahaman keagamaan, reformasi dengan
sistem pendidikan Islam. Pengembangan pranata pelayanan sosial dan pemberdayaan
masyarakat berbasis penolong kesengsaraan umum, memajukan peranan perempuan
muslim (Aisyiyah) di ranah publik, pengorganisasian zakat dan haji, merintis taman
7

pustaka dan publikasi, tabligh (penyampaian) yang mencerdaskan, dan mengembangkan


amaliah islami yang memajukan kehidupan. Di Indonesia, Muhammadiyah telah berkiprah
untuk pergerakan kebangkitan bangsa, meletakkan fondasi negara yang berlandaskan
Pancasila dan UUD 1945, menegakkan Negara Repubrik Indonesia agar tetap berada
dalam koridor konstitusi dan cita-cita kemerdekaan, melakukan kerja - kerja
kemasyarakatan dan usaha - usah modernisasi sosial untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Muhammadiyah menjadi pilar penting kekuatan masyarakat madani (civil society)
dan memplopori lahir era baru Indonesia dengan demkratis, menghargai hak asasi
manusia, dan berwawasan kemajemukan.
3. Membentuk dan memberdayakan organisasi otonom Muhammadiyah sebagai salah satu
aset sumber daya manusia dalam rangka bahu membahu demi tercapainya tujuan
Muhammadiyah.
4. Mengkaji kembali model dan semangat yang dilakukan oleh generasi awal
Muhammadiyah.

D. Makna Gerakan Keagamaan Muhammadiyah


Secara harfiah ada perbedaan antara kata “gerak, “gerakan”, maupun “pergerakan”.
Gerak adalah perubahan sesuatu materi dari tempat yang satu ke tempat lainnya, gerakan
adalah perbuatan atau keadaan bergerak, sedangkan pergerakan adalah usaha atau kegiatan.
Pergerakan identik dengan kegiatan dalam ranah sosial. Dengan demikian, kata gerakan atau
pergerakan mengandung arti, unsur, dan esensi yang dinamis tidak statis.
Muhammadiyah merupakan organisasi pergerakan. Kader muhammadiyah di tuntut
untuk selalu bergerak dalam menyebar syariat islam yang terinspirasi dari surat Al-Imran ayat
104. Muhammadiyah bukanlah gerakan sosial-keagamaan yang biasa. Tetapi sebagai gerakan
Islam, pergerakan organisasi terkait erat dengan perkembangan agama Islam di Nusantara.
Tidak hanya bergerak, karena setiap dakwah yang disampaikan dan disebarkan harus
berdasarkan bingkai petunjuk ajaran agama Islam. Islam tidak terbangun sebagai asas formal
(teks), tetapi menjiwai, melandasi, mendasari, mengkerangkai, memengaruhi, menggerakan
dan menjadi pusat orientasi dan tujuan. Tidak sekadar meng-Islam KTP, menjadikannya
slogan dan simbolik belaka, tetapi menjadikannya jalan dan ruh kehidupan.
Inilah Islam yang modern, Islam yang melintasi batas-batas kaku tradisional dan
budaya, Islam yang senantiasa melangkah maju ke depan. Sebagaimana semangat dasar
gerakan Muhammadiyah dalam menyebarkan panji-panji agama Islam dan menghadapi
pergolakan arah global dunia.
8

Oleh karena itu, aktor-aktor gerakan dakwah wajib masuk dalam lingkaran organisasi
agar dapat terorganisir dan memiliki power yang kuat. Sehingga, kelelahan dan keteteran
dalam menyebarkan nilai-nilai keIslaman dapat teratasi sejak dini dan secara organisatoris.
Dalam hal ini, para pendahulu Muhammadiyah memaknainya dengan kaidah fiqhiyah “ma
layatim al-wajib Illa bihi da huma wajib.” Artinya: organisasi menjadi wajib adanya, karena
keniscayaan dakwah memerlukan perangkat-perangkat organisasi
Di sisi lain, Muhammadiyah bertujuan untuk mencetak ummat terbaik atau ummat
yang unggul. Sebagaimana pokok pikiran keenam Anggaran Dasar Muhammadiyah.
Disebutkan bahwa: “organisasi adalah satu-satunya alat atau cara perjuangan yang sebaik -
baiknya.” Ciri-cirinya adalah:
1. Muhammadiyah adalah subjek atau pemimpin, dan masyarakat semuanya adalah objek
atau yang dipimpinnya
2. Lincah (dinamis), maju (progresif), selalu dimuka dan militant
3. Revolusioner
4. Mempunyai pemimpin yang kuat, cakap, tegas dan berwibawa, dan
5. Mempunyai organisasi yang susunannya lengkap dan selalu tepat atau up to date (PP
Muhammadiyah, Manhaj Gerakan Muhammadiyah, 2000; 19-30).

E. Gerakan Tajdid Pada 100 Tahun Kedua Muhammadiyah


Gerakan pemikiran Muhammadiyah abad ke-2 adalah berkomitmen kuat untuk
melakukan gerakan pencerahan. Gerakan Pencerahan merupakan praksis Islam yang
berkemajuan untuk: Membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Tujuan
Gerakan pencerahan dihadirkan adalah untuk memberikan jawaban terhadap problem -
problem kemanusiaan sepertikemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan -
persoalan lainnya yang bercorak struktural dan kultural. Selain itu, gerakan pencerahan
bertujuan untuk menjawab:
1. Kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan
ekologis, dan bentukbentuk.
2. Kejahatan kemanusiaan.
3. Berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi.
4. Memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan.
5. Menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan
6. Membangun pranata sosial yang utama.
9

Gerakan pencerahan Muhammadiyah terus bergerak dalam mengemban misi dakwah


dan tajdid untuk menghadirkan Islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap moderat,
membangun perdamaian, menghargai kemajemukkan, menghormati harkat dan martabat
kemanusiaan baik laki - laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa,
menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Muhammadiyah
dalam hal melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi
(penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan
aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta
memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Muhammadiyah mengembangkan pendidikan sebagai strategi dan ruang kebudayaan bagi
pengembangan potensi dan akal-budi manusia secara utuh. Sementara pembinaan keagamaan
semakin dikembangkan pada pengayaan nilai-nilai aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalat -
dunyawiyah yang membangun keshalehan individu dan sosial yang melahirkan tatanan sosial
baru yang lebih relijius dan humanistik.
Gerakan pencerahan Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad
sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan
seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam
pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan
permusuhan.
Muhammadiyah 100 tahun kedua, diharapkan mampu melangkah dengan pandangan
dan strategi yang lebih tepat sasaran dan mencapai keberhasilan dalam mewujudkan visi dan
tujuannya, baik tujuan jangka menengah dan jangka panjang, maupun tujuan ideal yakni
terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Untuk mencapai tujuan yang ideal ini, diperlukan transformasi baru dalam aktualisasi
gerakannya di berbagai bidang kehidupan. Disinilah pentingnya aktualisasi ideologi
medernisme - reformasi Islam dalam gerakan dakwah dan tajdid gelombang kedua yang
diperlukan Muhammadiyah. Melalui potensi dan modal sebagai gerakan pencerahan,
Muhammadiyah diharapkan terus berkiprah untuk pencerahan dan kemajuan bangsa, serta
mampu menjadikan gerakan Islam kosmopolitan yang membawa Islam sebagai rahmat bagi
seluruh alam.
Selain transformasi dalam aktualisasi gerakan, juga transformasi di bidang pemikiran,
pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan usaha-usaha lain yang bersifat unggul dan terobosan,
Muhammadiyah dituntut untuk terus berkiprah dengan inovatif. Dengan demikian
10

transformasi dakwah dan tajdid, yakni melakukan perubahan-perubahan pandangan dan


strategi dakwah dan tajdid lebih mendasar sebagai alternatif.
Sejumlah tawaran bagi Muhammadiyah dalam melakukan reorientasi terhadap
gerakan tajdid yang diperankannya. Jalaluddin Rahmat pernah menawarkan formulasi Tauhid
Sosial sebagaimana gagasan Dr. M. Amien Rais sebagai blueprint (cetak biru) tajdid
Muhammadiyah jilid dua. Ahmad Syafii Maarif menawarkan Muhammadiyah sebagai
gerakan ilmu untuk melangkah ke depan di tengah pergulatan pemikiran Islam dan tantangan
besar yang demikian kompleks saat ini.
Nurcholish Madjid secara isyarat memberikan catatan agar gerakan-gerakan Islam
modernis seperti Muhammadiyah memperkaya khazanah keilmuan dan pemikiran agar
“kunci” metodologis yang selama ini kuat dimiliki dilengkapi dengan kekayaan materi
pemikiran baik yang bersifat pemikiran Islam klasik maupun kontemporer.
Tawaran-tawaran pemikiran tersebut berangkat dari penilaian bahwa gerakan Islam
modern seperti Muhammadiyah selama ini cenderung terlalu ad-hoc, kaya amal tetapi kering
pemikiran, dan kehilangan daya transformasionalnya di tengah perubahan dan perkembangan
zaman yang sarat kompleksitas masalah dan tantangan sebagaimana kritik kaum
noemodernisme terhadap modernisme.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, M. Syamsul Anwar juga memberikan tawaran
bahwa kini tajdid Muhammadiyah memerlukan pengembangan dari paradigma tajdid juz’i-
‘alami (pembaruan praksis amaliah) ke tajdid usuli-nazari (pembaruan pemikiran yang lebih
mendasar).Dalam konteks ini secara sistemik tentu saja keseluruhan pengembangan
pemikiran tajdid itu berada dalam bingkai dan legalitas organisasi, bukan bersifat
perseorangan kecuali untuk wacana dan pengembangan wawasan pemikiran.
Tajdid Muhammadiyah bersifat jama’iy atau kolektif, tetapi tentu saja memerlukan
etos ijtihad dan sistem yang lebih dinamis agar tidak mengalami kelambanan dan tidak
terperangkap pada posisi statis. Sedangkan berbagai variasi dan pengembangan wacana
pemikiran sebaiknya diberi ruang yang lebih longgar agar tradisi pemikiran terus
berkembang, tentu saja disertai sikap tasamuh dan memiliki pertanggungjawaban intelektual
yang tinggi.
Keberhasilan Muhammadiyah melangkah melintasi zaman menuju 100 tahun kedua,
karena potensi dan modal dasar yang dimiliki sebagai gerakan pencerahan. Melalui gerakan
pencerahan yang membawa misi dakwah dan tajdid yang membebaskan, memberdayakan,
dan memajukan kehidupan di tengah dinamika abad modern yang sarat tantangan.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tajdid adalah mengembalikan ajaran agama islam kembali kepada Al-Quran dan As-
Sunnah, karena sekarang ini ajaran islam mengalami penyimpangan dan percampuran dengan
pemahaman yang bukan berasal dari islam, sedangkan tajrid beratri pengosongan,
pengungsian, pengupasan, pelepasan atau pengambil alihan. Tajdid dalam Muhammadiyah
mengalami perubahan yang sangat beratri. Tajdid dalam Muhammadiyah pada tatanan praktis
dan gerakan aksi yang mengarah pada pemurnian akidah dan ibadah, sebagai reaksi terhadap
penyiimpangan yang dilakukan oleh umat islam.

B. Saran
Saran kami sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur agar
lebih memahami tentang kemuhammadiyahan, serta sebagai gerakan Islam yang berwatak
Tajrid dan Tajdid. Dan menghidupkan mempertahankan nilai-nilai Islami di masyarakat.

11
DAFTAR PUSTAKA
Rohmansyah, (2017). kuliah kemuhammadiyahan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian,
Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/16234/KEMUHAMM
ADIYAHAN.pdf?sequence=1&isAllowed=y diakses pada tanggal 25
September 2019.

Rafhaulfa, (2016). Makalah Kemuhammadiyahan Sebagai Gerak.


http://rafhaulfa.blogspot.com/2016/08/makalah-kemuhammadiyahan-sebagai-
gerakan.html

12

Anda mungkin juga menyukai