Anda di halaman 1dari 12

Pemberian Kewenangan Pada Desa Dalam Konteks Otonomi Daerah....(Jefri S.Pakaya,S.H.,M.H.

PEMBERIAN KEWENANGAN PADA DESA DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH


(THE PROVIDING OF AUTHORITY TO VILLAGE
IN THE CONTEXT OF REGIONAL AUTONOMY)

Jefri S.Pakaya
Perancang Madya Pada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Gorontalo
Jl.Tinaloga No. 01 Gorontalo Indonesia
Email;jefri80pakaya@gmail.com
(Naskah diterima 01/02/2016, direvisi 10/03/2016, disetujui 31/03/2016)

Abstrak
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada
Desa adalah urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan
masyarakat. Dalam melaksanakan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pembangunan Desa, Pembinaan
kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan masyarakat Desa, Pemerintahan Desa memerlukan kewenangan
dalam penyelenggaraannya, baik itu kewenangan yang bersifat asal usul maupun kewenangan atributif. Dimana
kewenangan-kewenangan tersebut bertujuan untuk mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat
Desa untuk pengembangan potensi dan aset Desa guna kesejahteraan bersama guna mewujudkan tujuan
otonomi daerah.
Kata Kunci :Kewenangan Desa,Otonomi Daerah.

Abstact
Government affairs under the authority of the Regency / Municipality submitted to the village setting is the government
affairs that can directly improve service and community empowerment. In carrying out the implementation of Village
Administration, Rural Development, Rural Development community, and community empowerment village, Village
Government in its implementation requires authority, be it the authority that is both the origin and authority of the
attributive. Where the powers to encourage the initiative, movement, and the participation of the village community
to the development potential and assets for the common welfare village in order to realize the objectives of regional
Autonomy .
Keywords : Village Authority, Regional Autonomy

A. Pendahuluan wilayah terkecil yang dikelola secara formal


Untuk menciptakan masyarakat adil dan dan mandiri oleh kelompok masyarakat yang
makmur seperti yang diamanatkan dalam berdiam di dalamnya dengan aturan-aturan yang
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disepakati bersama, dengan tujuan menciptakan
bangsa Indonesia harus memulai paradigma keteraturan, kebahagiaan dan kesejahteraan
pembangunan dari bawah (Desa) karena bersama yang dianggap menjadi hak dan
sebagian besar penduduk Indonesia beserta tanggungjawab bersama kelompok masyarakat
segala permasalahannya tinggal di Desa. Tetapi tersebut.
selama ini, pembangunan cenderung berorientasi Pada awalnya, sebelum terbentukya sistem
pada pertumbuhan dan bias kota. sumberdaya pemerintahan yang menguasai seluruh bumi
ekonomi yang tumbuh di kawasan Desa diambil nusantara sebagai suatu kesatuan negara,
oleh kekuatan yang lebih besar, sehingga Desa Urusan-urusan yang dikelola oleh desa adalah
kehabisan sumberdaya dan menimbulkan arus urusan-urusan yang memang telah dijalankan
urbanisasi penduduk Desa ke kota. Kondisi ini secara turun temurun sebagai norma-norma
yang menciptakan ketidakadilan, kemiskinan atau bahkan sebagian dari norma-norma itu
maupun keterbelakangan senantiasa melekat telah melembaga menjadi suatu bentuk hukum
pada Desa. yang mengikat dan harus dipatuhi bersama oleh
Secara umum di Indonesia, desa (atau masyarakat desa, yang dikenal sebagai hukum
yang disebut dengan nama lain sesuai bahasa adat1.Urusan yang dijalankan secara turun
daerah setempat) dapat dikatakan sebagai suatu temurun ini meliputi baik urusan yang hanya

1 Dalam perkembangan setelah terbentuknya negara Republik Indonesia, urusan desa menjadi bertambah dengan masuknya urusan-
urusan yang timbul karena adanya pemerintahan negara sebagai kekuasaan supra desa. Dalam hal ini Pemerintah, baik secara langsung
dan dengan tugas pembantuan ataupun melalui pemerintah daerah dengan desentralisasi otonomi, memerlukan bantuan dari desa
untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan yang dilaksanakan di tingkat “akar rumput” (grass roots).

73
Vol. 13 N0. 01 - Maret 2016 : 73 - 84

murni tentang adat istiadat, maupun urusan selamanya marginal dan tergantung, maka
pelayanan masyarakat dan pembangunan justru akan menjadi beban berat pemerintah
(dalam administrasi pemerintahan dikenal dan melumpuhkan fondasi NKRI. Kedepan kita
sebagai urusan pemerintahan), bahkan sampai membutuhkan Desa sebagai entitas lokal yang
pada masalah penerapan sanksi, baik secara bertenaga secara sosial, berdaulat secara politik,
perdata maupun pidana. Urusan yang demikian, berdaya secara ekonomi dan bermartabat secara
dalam teori dan praktek sistem pemerintahan budaya.
daerah di Indonesia, selama ini dikenal sebagai Berdasarkan realita di lapangan tersebut
“urusan asal-usul”. menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan
Dalam sistem administrasi negara yang kewenangan desa masalah utama yang dihadapi
berlaku sekarang di Indonesia, wilayah desa antara lain pertama, dalam kewenangan asal-
merupakan bagian dari wilayah kecamatan, usul di mana posisi Desa yang merupakan
sehingga kecamatan menjadi instrumen desa transisi dari desa tradisional ke arah
koordinator dari penguasa supra desa (negara desa modern mengakibatkan adat dan budaya
melalui Pemerintah dan pemerintah daerah). yang ada tidak begitu kental dan otonomi asli
Diperjelas dalam Pasal 371 ayat (1) Undang- yang dimiliki mulai memudar dengan seiring
Undang Nomor 23 Tahun 2014, menyatakan: berjalannya waktu.
“Dalam pemerintahan daerah kabupaten/ Dalam pelaksanaannya, pengaturan
kota dapat dibentuk pemerintahan Desa“. mengenai Desa tersebut belum dapat mewadahi
Penggunaan istilah “dibentuk” ini menegaskan segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat
bahwa pemerintah Desa merupakan subsistem Desa yang hingga saat ini sudah berjumlah
atau bagian dari pemerintah kabupaten/kota, sekitar 73.000 (tujuh puluh tiga ribu)Desa.
karenanya ia menjalankan sebagian kewenangan (Data Kementerian Dalam Negeri 2015) Selain
pemerintah kabupaten/kota. Dalam undang- itu, pelaksanaan pengaturan Desa yang selama
undang ini Desa merupakan satuan pemerintah ini berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan
yang ada dalam pemerintah kabupaten/kota. Ini perkembangan zaman, terutama antara lain
berbeda dengan istilah yang digunakan dalam menyangkut kedudukan masyarakat hukum
Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi
“Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan
daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu pembangunan sehingga menimbulkan
dibagi atas kabupaten dan kota ...”. kesenjangan antarwilayah, kemiskinan, dan
Pemakaian istilah “dibagi atas daerah- masalah sosial budaya yang dapat mengganggu
daerah” menunjukkan selain menghormati daerah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
otonom juga menegaskan adanya hubungan Untuk menyesuaikan perkembangan
pemerintah pusat dan daerah bersifat hirarkhis tersebut Pemerintah mengundangkan Undang-
dan vertikal. Dengan demikian ada perbedaan Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,
model hubungan pusat dan daerah berdasarkan pada tanggal 15 Januari 2014. Undang-Undang
Pasal 18 UUD 1945 dengan model hubungan ini disusun dengan semangat penerapan amanat
Kabupaten/kota dengan Desa berdasar UU konstitusi, yaitu pengaturan masyarakat hukum
No. 23/2014. Namun hal tersebut berkembang adat sesuai dengan ketentuan Pasal 18B ayat
dengan dikeluarkannya Undang-Undang Desa, (2) untuk diatur dalam susunan pemerintahan
bahwa pengakuan dan penghormatan atas sesuai dengan ketentuan Pasal 18 ayat (7).
Desa yang sudah ada dengan keberagamannya Walaupun demikian, kewenangan kesatuan
sebelum dan sesudah terbentuknya Negara masyarakat hukum adat mengenai pengaturan
Kesatuan Republik Indonesia diakui dan hak ulayat merujuk pada ketentuan peraturan
diberikan kejelasan status dan kepastian perundang-undangan sektoral yang berkaitan.
hukum atas Desa dalam sistem ketatanegaraan
Undang-undang ini tentu tidak mungkin
Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan
melakukan pengaturan terhadap seluruh
bagi seluruh rakyat Indonesia.
aspek kehidupan Desa, apalagi yang terkait
Upaya penguatan otonomi daerah dan dengan aspek kemasyarakatan (adat-istiadat,
“otonomi Desa” menjadi bagian dari cita-cita kearifan lokal, modal sosial, kearifan lokal, dan
itu, sekaligus hendak membangun imajinasi sebagainya) Desa yang sudah berjalan normal.
Indonesia yang kuat dan sempurna, yang Pengaturan yang terlalu detail dan jauh terhadap
melampui sentralisme dan lokalisme. NKRI akan ”Desa” juga menunjukkan intervensi negara
menjadi lebih kuat bila ditopang oleh kedaulatan yang justru melumpuhkan masyarakat. Prinsip
rakyat serta kemandirian lokal (daerah dan dasarnya, Undang-Undang ini memberi amanat
Desa), yakni pusat yang “menghargai” lokal dan kepada negara untuk memberikan pengakuan
lokal yang “menghormati” pusat. Kemandirian (rekognisi) dan perlindungan (proteksi) terhadap
Desa akan menjadi fondasi dan kekuatan aspek-aspek kemasyarakatan Desa. Karena itu
NKRI dan imajinasi Indonesia itu. Jika Desa Undang-Undang ini bukanlah Undang-undang

74
Pemberian Kewenangan Pada Desa Dalam Konteks Otonomi Daerah....(Jefri S.Pakaya,S.H.,M.H.)

Desa (yang menyeluruh) melainkan Undang- di dalamnya tidak terlalu berbeda antara satu
undang tentang tatakelola (governance) Desa dan lainnya, 3) para warganya dapat menghayati
atau disebut dengan Undang- Undang tentang lapangan kehidupan mereka dengan baik.
Desa, yang akan menunjang pelaksanaan Selain itu masyarakat pedesaan memiliki sifat
pembangunan nasional. solidaritas yang tinggi, kebersamaan dan gotong
Kemudian berkaitan dengan pelaksanaan royong yang muncul dari prinsip timbal balik.
kewenangan desa berupa urusan distributif Artinya sikap tolong menolong yang muncul
yang tergolong baru dalam penyelenggaraan pada masyarakat desa lebih dikarenakan hutang
pemerintahan desa yaitu urusan yang jasa atau kebaikan.
diserahkan pengaturannya dari pemerintah Menurut Anshoriy (2008), dalam
atau pemerintah kabupaten kepada desa penelitiannya tentang kearifan lingkungan di
sehingga diasumsikan pemerintah desa sulit tanah jawa3, bahwa kehidupan sosiokultural
melaksanakan otonomi desanya karena terdapat masyarakat di pedusunan (pedesaan)
urusan-urusan pemerintahan yang baru. Oleh memiliki ciri-ciri sebagai berikut: menjunjung
karena itu menarik untuk melihat pelaksanaan kebersamaan dalam bentuk gotong royong,
kewenangan desa. gugur gunung dan lain sebagainya,
1. Suka kemitraan dengan menganggap
B. Pembahasan siapa saja sebagai saudara dan wajib
B.1.Pengertian Desa dijamu bila berkunjung ke rumah,
Menurut Rahardjo, Desa atau lingkungan 2. Mementingkan kesopanan dalam wujud
pedesaan adalah sebuah komunitas yang selalu unggah-ungguh, tata krama, tata susila
dikaitkan dengan kebersahajaan (simplicity), dan lain sebagainya yang berhubungan
keterbelakangan, tradisionalisme, subsistensi, dengan etika sopan santun.
dan keterisolasian. berpendapat bahwa 3. Memahami pergantian musim (pranata
masyarakat desa dalam kehidupan sehari- mangsa) yang berkaitan dengan masa
harinya menggantungkan pada alam. Alam panen dan masa tanam,
merupakan segalanya bagi penduduk desa,
4. Memiliki pertimbangan dan perhitungan
karena alam memberikan apa yang dibutuhkan
relijius (hari baik dan hari buruk) dalam
manusia bagi kehidupannya. Mereka mengolah
setiap agenda dan kegiatannya,
alam dengan peralatan yang sederhana untuk
dipetik hasilnya guna memenuhi kebutuhan 5. Memiliki toleransi yang tinggi dalam
sehari-hari. Alam juga digunakan untuk tempat memaafkan dan memaklumi setiap
tinggal.2 kesalahan orang lain terutama
pemimpin atau tokoh masyarakat,
Menurut Bintarto dalam Daljoeni (2003),
ada tiga unsur yang membentuk sistem yang 6. Mencintai seni dan dekat dengan alam.
bergerak secara berhubungan dan saling terkait Menurut Shahab,  secara umum ciri-
dari sebuah desa, yaitu : ciri kehidupan masyarakat pedesaan dapat
1. Daerah tanah yang produktif, lokasi, luas diidentifikasi sebagai berikut :
dan batas yang merupakan lingkungan a. Mempunyai sifat homogen dalam
geografis, mata pencaharian, nilai-nilai dalam
2. Penduduk, jumlah penduduk, pertambahan kebudayaan serta dalam sikap dan
penduduk, persebaran penduduk dan mata tingkah laku,
pencaharian penduduk, b. Kehidupan desa lebih menekankan
3. Tata Kehidupan, pola tata pergaulan dan anggota keluarga sebagai unit ekonomi
ikatan pergaulan warga desa termasuk yang berarti semua anggota keluarga
seluk beluk kehidupan masyarakat desa. turut bersama-sama memenuhi
(Daldjoeni, 2003, geografi kota dan desa, kebutuhan ekonomi keluarga,
alumni, bandung.) c. Faktor geografi sangat berpengaruh
atas kehidupan yang ada. Misalnya,
Koentjaraningrat (2005), berpendapat
keterikatan anggota keluarga dengan
bahwa masyarakat di pedesaaan merupakan
tanah atau desa kelahirannya,
sebuah komunitas kecil yang memiliki ciri-ciri
yang khusus dalam pola tata kehidupan, ikatan d. Hubungan sesama anggota masyarakat
pergaulan dan seluk beluk masyarakat pedesaan, lebih intim dan awet dari pada kota.
yaitu; 1) para warganya saling mengenal dan Pedesaan dan masyarakat desa merupakan
bergaul secara intensif, 2) karena kecil, maka sebuah komunitas unik yang berbeda dengan
setiap bagian dan kelompok khusus yang ada masyarakat di perkotaan. Sementara segala

2 Beratha I. Nyoman, 1984, Teknologi Desa, Ghalia Indonesia, Jakarta.


3 Ansory:kearifan lokal di tanah jawa

75
Vol. 13 N0. 01 - Maret 2016 : 73 - 84

kebijakan dan perundangan-undangan adalah mewujudkan penyelenggaraan Pemerintahan


produk para pemangku kebijakan yang notabene Daerah dan kesejahteraan sosial melalui
adalah masyarakat perkotaan, maka masyarakat pembangunan daerah karena daerah Indonesia
desa memiliki kekhasan dalam mengatur terbagi dalam daerah yang bersifat otonom atau
berbagai kearifan-kearifan lokal. bersifat daerah administrasi. Asas otonomi
Secara sosial, corak kehidupan masyarakat dan tugas pembantuan secara yuridis formal
di desa dapat dikatakan masih homogen tercantum dalam Pasal 18 UUD 1945.
dan pola interaksinya horizontal, banyak 1. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi
dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan. Semua atas daerah-daerah Provinsi dan daerah
pasangan berinteraksi dianggap sebagai anggota Provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota
keluarga dan hal yang sangat berperan dalam yang tiap-tiap Provinsi, kabupaten dan kota
interaksi dan hubungan sosialnya adalah motif- itu mempunyai pemerintahan daerah yang
motif sosial. Interaksi sosial selalu diusahakan diatur dengan undang-undang.
supaya kesatuan sosial (social unity) tidak 2. Pemerintahan daerah Provinsi, daerah
terganggu, konflik atau pertentangan sosial kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus
sedapat mungkin dihindarkan jangan sampai sendiri urusan pemerintahan menurut asas
terjadi. Prinsip kerukunan inilah yang menjiwai otonomi dan tugas pembantuan.
hubungan sosial pada masyarakat pedesaan.
3. Pemerintahan Daerah Provinsi, daerah
Kekuatan yang mempersatukan masyarakat
kabupaten dan kota memiliki Dewan
pedesaan itu timbul karena adanya kesamaan-
Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-
kesamaan kemasyarakatan seperti kesamaan
anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.
adat kebiasaan, kesamaan tujuan dan kesamaan
pengalaman. 4. Gubernur, Bupati dan Walikota masing-
masing sebagai Kepala Pemerintahan
Berbagai karakteristik masyarakat pedesaan
Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih
di atas seperti potensi alam, homogenitas, sifat
secara demokratis.
kekeluargaan dan lain sebagainya menjadikan
masyarakat desa sebuah komunitas yang 5. Pemerintahan Daerah menjalankan
khusus dan unik. otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang
B.2.Dasar Hukum Pemerintahan ditentukan sebagai urusan pemerintah
pusat.
Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun
1945 (UUD 1945) merupakan hukum tertinggi 6. Pemerintahan daerah berhak menetapkan
dan instrumen utama bagi Pemerintah peraturan daerah dan peraturan-peraturan
Indonesia. UUD 1945 telah menuntut proses lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas
perubahan berbagai lembaga pemerintahan dan pembantuan.
menjadi dasar bagi stabilitas politik, kebebasan 7. Susunan dan tata cara penyelenggaraan
hak asasi manusia, pertumbuhan ekonomi dan pemerintahan daerah diatur dalam undang-
kemajuan sosial. Negara Indonesia merupakan undang.
suatu organisasi kekuasaan (kewibawaan) atau
Dalam kaitan susunan dan penyelenggaraan
sebuah bentuk pergaulan hidup yang harus
Pemerintahan Daerah, setelah perubahan UUD
memenuhi persyaratan tertentu, antara lain:
1945, pengaturan Desa atau disebut dengan
ada pemerintah yang berdaulat, wilayah (daerah)
nama lain dari segi pemerintahannya mengacu
tertentu dan rakyat yang hidup teratur, yang
pada ketentuan Pasal 18 ayat(7)yang menegaskan
merupakan syarat minimum yang harus dimiliki
bahwa “Susunan dan tata cara penyelenggaraan
oleh tiap-tiap Negara serta harus ada tujuannya
Pemerintahan Daerah diatur dalam undang-
– para pendiri Negara telah menjatuhkan
undang”. Hal itu berarti bahwa Pasal 18 ayat
pilihannya pada prinsip pemencaran kekuasaan
(7) Undang-Undang Dasar Negara Republik
dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara
Indonesia Tahun 1945 membuka kemungkinan
Indonesia yang tujuannya tercantum pada alinea
adanya susunan pemerintahan dalam sistem
keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar
pemerintahan Indonesia.
1945.
Melalui perubahan UUD 1945, pengakuan
“... melindungi segenap bangsa Indonesia terhadap kesatuan masyarakat hukum adat
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan dipertegas melalui ketentuan dalam Pasal 18B
untuk memajukan kesejahteraan umum, ayat (2) yang berbunyi “Negara mengakui dan
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
abadi, dan keadilan sosial. perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Untuk mencapai maksud tersebut, Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam
para pejabat di daerah-daerah membantu undang-undang”.

76
Pemberian Kewenangan Pada Desa Dalam Konteks Otonomi Daerah....(Jefri S.Pakaya,S.H.,M.H.)

B.3.Pemberian Kewenangan Desa Dalam usul dan adat-istiadat (self governing community),
Peraturan Perundang–Undangan bukan disiapkan sebagai entitas otonom sebagai
Dalam sejarah pengaturan Desa, telah local self government.
ditetapkan beberapa pengaturan tentang Desa, Selanjutnya Undang-Undang ini
yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 memberikan kewenangan Daerah Kabupaten/
tentang Pokok Pemerintahan Daerah, Undang- Kota dapat dibentuk Desa dan Pemerintah Pusat,
Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok- Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah
Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Daerah kabupaten/kota dapat menugaskan
Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi
Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 19 kewenangannya kepada Desa.
Tahun 1965 tentang Desa Praja Sebagai Bentuk Semangat UU No. 32/2004 yang meletakkan
Peralihan Untuk Mempercepat Terwujudnya posisi Desa yang berada di bawah Kabupaten
Daerah Tingkat III di Seluruh Wilayah Republik tidak koheren dan konkruen dengan nafas lain
Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 dalam UU No. 32/2004 yang justru mengakui
tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, dan menghormati kewenangan asli yang
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang berasal dari hak asal-usul. Pengakuan pada
Pemerintahan Desa, Undang-Undang Nomor kewenangan asal-usul ini menunjukkan bahwa
22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 23/2014 menganut prinsip pengakuan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang (rekognisi). Kosekuensi dari pengakuan
Pemerintahan Daerah,Undang-Undang Nomor atas otonomi asli adalah Desa memiliki hak
23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya
dan terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 sendiri berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat
Tahun 2014 tentang Desa,Berikut pengaturan setempat (self governing community), dan bukan
Desa dalam beberapa peraturan perudang – merupakan kewenangan yang diserahkan
undangan : pemerintahan atasan pada Desa.
Pasal 371 ayat (1), menyatakan “Dalam
B.3.1. Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2014
pemerintahan daerah kabupaten/kota dibentuk
Tentang Pemerintahan Daerah.
pemerintahan Desa yang terdiri dari pemerintah
Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2014 Desa dan badan permusyawaratan Desa”
tentang Pemerintahan Daerah merupakan Penggunaan istilah “dibentuk” ini menegaskan
Undang-Undang Pengganti dari Undang-Undang bahwa pemerintah Desa merupakan sub sistem
sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 32 atau bagian dari pemerintah kabupaten/kota,
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, karenanya ia menjalankan sebagian kewenangan
dalam Undang-Undang ini Desa didefinisikan pemerintah kabupaten/kota. Dalam undang-
Desa adalah : undang ini Desa merupakan satuan pemerintah
Desa adalah desa dan desa adat atau yang yang ada dalam pemerintah kabupaten/kota. Ini
disebut dengan nama lain,selanjutnya berbeda dengan istilah yang digunakan dalam
disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat Pasal 18 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan
hukum yang memiliki batas wilayah yang “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas
berwenang untuk mengatur dan mengurus daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu
Urusan Pemerintahan, kepentingan dibagi atas kabupaten dan kota ...”.
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa Pemakaian istilah “dibagi atas daerah-
masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak daerah” menunjukkan selain menghormati
tradisional yang diakui dan dihormati daerah otonom juga menegaskan adanya
dalam sistem pemerintahan Negara hubungan pemerintah pusat dan daerah bersifat
Kesatuan Republik Indonesia. hirarkhis dan vertikal. Dengan demikian ada
Klausul ini berupaya melokalisir Desa perbedaan model hubungan pusat dan daerah
sebagai subyek hukum yang mengelola berdasarkan Pasal 18 UUD 1945 dengan model
kepentingan masyarakat setempat, bukan hubungan Kabupaten/kota dengan Desa
urusan atau kewenangan pemerintahan, seperti berdasar UU No. 32/2004.
halnya daerah. Desa sudah lama mengurus
sendiri kepentingan masyarakat, untuk apa B.3.2.Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
fungsi ini harus diakui oleh Undang –Undang . Tentang Desa
Tanpa diakui oleh Undang-Undang sekalipun, Dibentuknya Undang-Undang tentang Desa
Desa sudah mengurus kepentingan masyarakat secara tersendiri, yang merupakan pemisahan
setempat. Klausul itu juga menegaskan bahwa peraturan perundang-undangan tentang
negara hanya “mengakui” keberadaan Desa, desa dari pemerintahan daerah dengan misi
tetapi tidak “membagi” kekuasaan pemerintahan memperbaiki dan menyempurnakan ketentuan-
kepada Desa. Desa hanya diakui sebagai ketentuan yang ada di dalamnya, adalah dengan
kesatuan masyarakat hukum berdasarkan asal- tujuan utuk membentuk desa yang modern

77
Vol. 13 N0. 01 - Maret 2016 : 73 - 84

berbasis masyarakat sebagai civil society, Sebagaimana telah diterangkan di atas,


dimana tersedia ruang publik dan kondisi yang dengan prinsip tersebut desa bukanlah
memungkinkan tumbuhnya masyarakat dengan merupakan subordinat dari pemerintah, tapi
ciri-ciri mandiri, otonom, dan sukarela. Selain mitra yang setara dalam rangka memberikan
itu Undang-undang tentang Desa juga akan pelayanan kepada masyarakat desa dan
memberikan legitimasi dan justifikasi yang melakukan pembangunan di desa. Dengan
lebih kuat bagi self governing community sesuai prinsip ini berarti desa dan pemerintah akan
dengan kebutuhan dan menggunakan prinsip- saling menghormati, yang merupakan bagian dari
prinsip demokrasi seperti checks & balances, prinsip rekognisi (mengakui dan menghormati).
tranparancy, dan accountability. Dalam prinsip rekognisi, negara harus mengakui
Pencapaian tujuan tersebut dilakukan keberadaan desa-desa beserta sistem pengelolaan
dengan cara memperbaiki ketentuan-ketentuan kemasyarakatan dan lingkungannya. Namun
yang ada sekarang, yang secara khusus dapat pengakuan dan penghormatan itu tentunya
dijabarkan sebagai berikut: harus dilakukan dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
1. Lebih mengakui dan menghormati upaya
masyarakat desa untuk mengatur dan Kewenangan Desa berdasarkan Undang-
mengurus rumah tangga sendiri dan Undang Desa meliputi kewenangan di
hubungan mereka dengan masyarakat desa bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
lain; pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan
2. Mengatur tata cara masyarakat desa kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan
mengatur dan mengurus hal-hal masyarakat Desa berdasarkan prakarsa
sebagaimana dimaksud pada huruf a; masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat
Desa. Kewenangan Desa tersebut meliputi:
3. Memperjelas aturan mengenai hubungan
masyarakat desa dengan Negara, Pemerintah 1. kewenangan berdasarkan hak asal usul;
dan pemerintah daerah; 2. kewenangan lokal berskala Desa;
4. Memberi masyarakat desa alokasi dana a. kewenangan yang ditugaskan oleh
sesuai dengan kebutuhan untuk mengatur Pemerintah, Pemerintah Daerah
dan mengurus hal-hal sebagaimana Provinsi, atau Pemerintah Daerah
dimaksud pada huruf a; Kabupaten/Kota; dan
5. Mengatur tata cara pertanggungjawaban b. kewenangan lain yang ditugaskan
kinerja dan keuangan pemerintah oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah
desa dengan menggunakan prinsip Provinsi, atau Pemerintah Daerah
profesionalisme; Kabupaten/Kota sesuai dengan
6. Mengatur tata cara pembinaan dan ketentuan peraturan perundang-
pengawasan penyelenggaraan pemerintahan undangan.
desa
Dalam penyelenggaraan desa, penerapan B.3.3.Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun
asas desentralisasi agak berbeda dengan 2014 Tentang Peraturan Pelaksana
desentralisasi yang kita kenal dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
penyelenggaraan pemerintahan daerah, dimana Tentang Desa
walaupun negara telah menyerahkan urusan Peraturan Pemerintah ini mengatur secara
kepada daerah, urusan tersebut tetap menjadi lebih terperinci mengenai tata cara pemilihan
milik negara, dalam arti negara dapat mengambil kepala Desa secara langsung atau melalui
alih urusan tersebut setiap saat dengan musyawarah Desa, kedudukan, persyaratan,
perubahan undang-undang terkait. mekanisme pengangkatan perangkat Desa,
Sementara dalam penyelenggaraan desa, besaran penghasilan tetap, tunjangan, dan
suatu urusan yang telah diserahkan oleh penerimaan lain yang sah bagi kepala Desa dan
pemerintah kepada desa (melalui proses perangkat Desa, penempatan perangkat Desa
kesepakatan antara pihak pemerintah daerah yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil,
dengan pihak desa) akan menjadi urusan desa serta tata cara pemberhentian kepala Desa dan
(tidak lagi merupakan urusan pemerintahan). perangkat Desa. Pengaturan yang berkaitan
Dengan demikian urusan yang telah menjadi dengan keuangan dan kekayaan Desa, antara
urusan desa ini hanya dapat diambil kembali lain memuat ketentuan mengenai ADD yang
oleh pemerintah dengan persetujuan dari bersumber dari APBD kabupaten/kota, bagian
masyarakat desa dalam bentuk kesepakatan dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah
antara pemerintah dengan penyelenggara desa, kabupaten/kota, penyaluran bantuan keuangan
untuk selanjutnya diformalisasikan dalam yang bersumber dari APBD provinsi atau APBD
peraturan daerah. Inilah yang disebut dengan kabupaten/kota ke Desa serta penggunaan
prinsip kesetaraan dan kemitraan belanja Desa, penyusunan APB Desa, pelaporan

78
Pemberian Kewenangan Pada Desa Dalam Konteks Otonomi Daerah....(Jefri S.Pakaya,S.H.,M.H.)

dan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan 2. Bidang Pertambangan dan Energi serta


APB Desa, dan pengelolaan kekayaan Desa. Sumber Daya Mineral;
Peraturan Pemerintah ini disusun dalam 3. Bidang Kehutanan dan Perkebunan;
rangka mewujudkan penyelenggaraan Desa 4. Bidang Perindustrian dan Perdagangan;
yang didasarkan pada asas penyelenggaraan 5. Bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan
pemerintahan yang baik serta sejalan Menengah;
dengan asas pengaturan Desa sebagaimana 6. Bidang Penanaman Modal;
diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 6 7. Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
Tahun 2014 tentang Desa, antara lain kepastian 8. Bidang Kesehatan;
hukum, tertib penyelenggaraan pemerintahan, 9. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan;
tertib kepentingan umum, keterbukaan, 10. Bidang Sosial;
profesionalitas, akuntabilitas, efektivitas dan 11. Bidang Penataan Ruang;
efisiensi, kearifan lokal, keberagaman serta 12. Bidang Pemukiman/Perumahan;
partisipasi. Dalam melaksanakan pembangunan 13. Bidang Pekerjaan Umum;
Desa, diutamakan nilai kebersamaan, 14. Bidang Perhubungan;
kekeluargaan, dan kegotongroyongan guna 15. Bidang Lingkungan Hidup;
mewujudkan perdamaian dan keadilan sosial. 16. Bidang Politik Dalam Negeri dan Administrasi
Publik;
Urusan pemerintahan yang menjadi
17. Bidang Otonomi Desa;
kewenangan Desa mencakup urusan
18. Bidang Perimbangan Keuangan;
pemerintahan yang sudah ada berdasarkan
19. Bidang Tugas Pembantuan;
hak asal-usul Desa, urusan pemerintahan yang
20. Bidang Pariwisata;
menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang
21. Bidang Pertanahan;
diserahkan pengaturannya kepada Desa, tugas
22. Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil;
pembantuan dari Pemerintah dan Pemerintah
23. Bidang Kesatuan Bangsa dan Perlindungan
Daerah, urusan pemerintahan lainnya yang
Masyarakat, dan Pemerintahan Umum;
oleh peraturan perundang-undangan yang
24. Bidang Perencanaan;
diserahkan kepada Desa.
25. Bidang Penerangan/Informasi dan
Urusan pemerintahan yang menjadi Komunikasi;
kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan 26. Bidang Pemberdayaan Perempuan dan
pengaturannya kepada Desa adalah urusan Perlindungan Anak;
pemerintahan yang secara langsung dapat 27. Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga
meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan Sejahtera;
masyarakat. Perbedaan dengan Undang- 28. Bidang Pemuda dan Olahraga;
Undang Desa adalah bahwa adanya 29. Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa;
kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan 30. Bidang Statistik; dan
pengaturannya kepada Desa yang perlu diatur 31. Bidang Arsip dan Perpustakaan.
dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
Sedangkan untuk rincian urusan
dengan berpedoman pada Peraturan Menteri.
pemerintahan Kabupaten/Kota yang dapat
Penyerahan urusan pemerintahan tersebut
diserahkan kepada Desa, meliputi :
disertai dengan pembiayaannya.
1. Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan,
Sedangkan untuk tugas pembantuan
dengan 23 (dua puluh tiga) jenis kegiatan;
dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Desa wajib 2. Bidang Pertambangan dan Energi serta
disertai dengan dukungan pembiayaan, sarana Sumber Daya Mineral, dengan 8 (delapan)
dan prasarana, serta sumber daya manusia. jenis kegiatan;
Penyelenggaraan tugas pembantuan tersebut 3. Bidang Kehutanan dan Perkebunan, dengan
berpedoman pada peraturan perundang- 11 (sebelas) jenis kegiatan;
undangan. Desa berhak menolak melaksanakan 4. Bidang Perindustrian dan Perdagangan,
tugas pembantuan yang tidak disertai dengan dengan 12 (dua belas) jenis kegiatan;
pembiayaan, prasarana dan sarana, serta
5. Bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan
sumber daya manusia.
Menengah, dengan 6 (enam) jenis kegiatan;
B.3.4. Peraturan Menteri Dalam Negeri 6. Penanaman Modal, dengan 1 (satu) jenis
Nomor 30 Tahun 2006 Tentang Tatacara kegiatan;
Penyerahan Urusan Pemerintahan 7. Bidang Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Kabupaten/Kota Kepada Desa dengan 6 (enam) jenis kegiatan;
Urusan pemerintahan Kabupaten/Kota 8. Bidang Kesehatan, dengan 16 (enam belas)
yang dapat diserahkan pengaturannya kepada jenis kegiatan;
Desa antara lain: 9. Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, dengan
1. Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan; 10 (sepuluh) jenis kegiatan;

79
Vol. 13 N0. 01 - Maret 2016 : 73 - 84

10. Bidang Sosial, dengan 8 (delapan) jenis dan Evaluasi Penyerahan Urusan Pemerintahan
kegiatan; Kabupaten/Kota kepada Desa. Urusan
11. Bidang Penataan Ruang, dengan 4 (empat) pemerintahan yang diserahkan pengaturannya
jenis kegiatan; kepada Desa tersebut ditetapkan dengan
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
12. Bidang Permukiman/Perumahan, dengan 5
(lima) jenis kegiatan; Setelah Peraturan Daerah Kabupaten/
Kota tentang Penetapan Jenis Urusan Yang
13. Bidang Pekerjaan Umum, dengan 11
Dapat Diserahkan Kepada Desa diundangkan,
(sebelas) jenis kegiatan;
Pemerintah Desa bersama BPD melakukan
14. Bidang Perhubungan, dengan 4 (empat) evaluasi untuk menetapkan urusan
jenis kegiatan; pemerintahan yang dapat dilaksanakan di Desa
15. Bidang Lingkungan Hidup, dengan 5 (lima) yang bersangkutan. Kesiapan pemerintahan
jenis kegiatan; desa untuk melaksanakan Urusan Pemerintahan
16. Bidang Politik Dalam Negeri dan Administrasi Kabupaten/ Kota, ditetapkan dengan Keputusan
Publik, dengan 6 (enam) jenis kegiatan; Kepala Desa atas persetujuan Pimpinan BPD.
17. Bidang Otonomi Desa, dengan 20 (dua Bupati/Walikota menetapkan Peraturan
puluh) jenis kegiatan; Bupati/Walikota tentang Penyerahan Urusan
Pemerintahan Kabupaten/Kota kepada
18. Bidang Perimbangan Keuangan, dengan 2
masing-masing Desa. Bupati/Walikota
(dua) jenis kegiatan;
dalam menetapkan peraturan tersebut, wajib
19. Bidang Tugas Pembantuan, dengan 3 (tiga) memperhatikan Keputusan Kepala Desa.
jenis kegiatan;
Pelaksanaan urusan pemerintahan
20. Bidang Pariwisata, dengan 4 (empat) jenis Kabupaten/Kota yang diserahkan kepada desa
kegiatan; dilaksanakan oleh Pemerintah Desa. Pemerintah
21. Bidang Pertanahan, dengan 4 (empat) jenis Kabupaten/Kota dapat menambah penyerahan
kegiatan; urusan pemerintahan Kabupaten/Kota kepada
22. Bidang Kependudukan dan Catatan Sipil, Desa atas permintaan Pemerintah Desa. Apabila
dengan 14 (empat belas) jenis kegiatan; pelaksanaan urusan Pemerintahan Kabupaten/
Kota yang telah diserahkan kepada Desa dalam
23. Bidang Kesatuan Bangsa dan Perlindungan
kurun waktu 2 (dua) tahun tidak berjalan
Masyarakat, dengan 4 (empat) jenis kegiatan;
secara efektif, pemerintah Kabupaten/Kota
24. Bidang Perencanaan, dengan 3 (tiga) jenis dapat menarik sebagian atau seluruh urusan
kegiatan; pemerintahan yang telah diserahkan.
25. Bidang Penerangan/Informasi dan
Komunikasi, dengan 8 (delapan) jenis
kegiatan; B.4.Kewenangan Desa Dalam Mewujudkan
Pelaksanaan Otonomi Daerah
26. Bidang Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, dengan 2 (dua) jenis Meski Desa tetap menjadi bagian dari
kegiatan; subsistem pemerintahan kabupaten/kota, tetapi
tidak ada teori dan azas yang membenarkan
27. Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga
penyerahan kewenangan/urusan dari
Sejahtera, dengan 6 (enam) jenis kegiatan;
pemerintah kabupaten/kota kepada Desa. Di
28. Bidang Pemuda dan Olahraga, dengan 10 sisi lain, konstitusi juga tidak menetapkan
(sepuluh) jenis kegiatan; desentralisasi kewenangan Desa. Karena
29. Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan itu, kewenangan Desa didasarkan pada azas
Desa, dengan 4 (empat) jenis kegiatan; rekognisi dan subsidiaritas, bukan pada azas
30. Bidang Statistik, dengan 2 (dua) jenis desentralisasi.
kegiatan; dan Kewenangan Desa tidak lagi mengikuti
31. Bidang Arsip dan Perpustakaan, dengan 2 skema penyerahan atau pelimpahan sebagian
(dua) jenis kegiatan. kewenangan dari kabupaten/kota, melainkan
Mengenai tatacara penyerahan urusan dengan skema pengakuan (rekognisi) dan
Bupati/Walikota melakukan pengkajian subsidiaritas atas kepentingan masyarakat
dan evaluasi terhadap jenis urusan yang setempat, secara langsung dari Undang-Undang
akan diserahkan kepada Desa dengan Desa. Berdasarkan skema ini ada dua jenis
mempertimbangkan aspek letak geografis, kewenangan Desa yang utama:
kemampuan personil, kemampuan keuangan, 1. Kewenangan asal-usul yang diakui oleh
efisiensi dan efektivitas. Untuk melakukan negara: mengelola aset (sumberdaya alam,
pengkajian dan evaluasi terhadap jenis urusan tanah ulayat, tanah kas Desa) dalam wilayah
yang akan diserahkan kepada Desa, Bupati/ yurisdiksi Desa, membentuk struktur
Walikota dapat membentuk Tim Pengkajian pemerintahan Desa dengan mengakomodasi

80
Pemberian Kewenangan Pada Desa Dalam Konteks Otonomi Daerah....(Jefri S.Pakaya,S.H.,M.H.)

susunan asli, menyelesaikan sengketa 7. pembinaan sanggar seni dan belajar;


secara adat dan melestarikan adat dan 8. pembinaan perpustakaan Desa;
budaya setempat.
9. pemanfaatan dan pemeliharaan embung
2. Kewenangan melekat (atributif) mengatur Desa;
dan mengurus kepentingan masyarakat
10. pembuatan jalan Desa antar pemukiman ke
setempat yang berskala lokal (Desa):
wilayah pertanian;
perencanaan pembangunan dan tata ruang
Desa, membentuk struktur dan organisasi 11. pengembangan kesenian;
pemerintahan Desa, menyelenggarakan 12. memfasiltasi olah raga;
pemilihan kepala Desa, membentuk Badan 13. memfasilitasi masyarakat hidup sehat dan
Perwakilan Desa, mengelola APBDesa, berolahraga;
membentuk lembaga kemasyarakatan,
14. pendataan penduduk Desa lanjut usia dan
mengembangkan BUMDesa, dan lain-lain.
disabilitas;
Kewenangan Desa yang dapat diatur 15. pembinaan kelembagaan petani dan nelayan;
dan diurus sendiri oleh Desa berdasarkan
16. pengelolaan rumah potong hewan skala
Undang-Undang Desa terdiri dari kewenangan
Desa;
berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan
lokal berskala Desa. Kewenangan berdasarkan 17. pengelolaan tempat pelelangan ikan skala
hak asal usul adalah hak yang merupakan Desa;
warisan yang masih hidup dan prakarsa Desa 18. pembinaan anggota koperasi dalam rangka
atau prakarsa masyarakat Desa sesuai dengan wajib menabung;
perkembangan kehidupan masyarakat, yang 19. pemberdayaan usaha ekonomi masyarakat
meliputi : meliputi pengelolaan simpan pinjam dan
1. pembinaan organisasi masyarakat adat; lumbung Desa;
2. pembinaan kelembagaan masyarakat dan 20. pendataan potensi wajib belajar dan
lembaga adat; pelestarian kebudayaan;
3. pembinaan pranata dan hukum adat;
21. pengelolaan objek wisata milik Desa;
4. pengelolaan tanah kas Desa;
5. pembangunan partisipasi masyarakat Desa; 22. pengadaan air minum skala Desa;
6. pengelolaan sumber daya alam untuk 23. pembinaan bidan Desa dan poliklinik Desa;
kepentingan pembangunan jalan Desa, 24. pencatatan penduduk Desa dan penduduk
jembatan Desa, dan rumah rakyat Desa; miskin; dan/atau
7. penyelesaian sengketa masyarakat Desa di
25. pembinan taman bacaan.
bidang pertanahan;
8. pemeliharaan ketentraman dan ketertiban Selain itu, ada satu jenis kewenangan
Desa; (urusan) yang bersifat tambahan, yakni
9. pengembangan kondisi kehidupan sosial kewenangan dalam bidang tugas pembantuan
masyarakat Desa; (delegasi) yang diberikan oleh pemerintah. Prinsip
10. pengembangan kearifan lokal Desa; dasarnya, dalam tugas pembantuan ini Desa
11. pengelolaan dan pelestarian hutan Desa; hanya menjalankan tugas-tugas administratif
12. penataan pengairan Desa; dan (mengurus) di bidang pemerintahan dan
13. pembinaan keagamaan. pembangunan yang diberikan pemerintah. Tugas
pembantuan disertai dengan dana, personil dan
Sedangkan untuk kewenangan lokal fasilitas.
yang berskala Desa adalah kewenangan
Kemudian dirumuskan pula kewenangan
untuk mengatur dan mengurus kepentingan
lain yang ditugaskan oleh Pemerintah,
masyarakat Desa yang telah dijalankan oleh Desa
Pemerintah Daerah Provinsi atau Pemerintah
atau mampu dan efektif dijalankan oleh Desa
Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan
atau yang muncul karena perkembangan Desa
ketentuan peraturan perundang-undangan.
dan prakarsa masyarakat Desa, yang meliputi:
Desa berhak menolak tugas pembantuan
1. pengelolaan tambatan perahu;
jika tidak disertai dengan dana, personil dan
2. pengelolaan pasar Desa; fasilitas. Sebagai kosekuensi dari keragaman
3. pengelolaan tempat pemandian umum; Desa berdasarkan optional village maka
4. pembuatan saluran irigasi tradisional dalam kewenangan Desa pun disesuaikan dengan
skala Desa; Desa yang dipilih. Desa integrated memiliki tiga
kewenangan, yaitu:
5. pengelolaan lingkungan pemukiman
masyarakat Desa; 1. kewenangan asal usul
6. fasilitasi masyarakat dan penyediaan pos 2. kewenangan atributif
pelayanan terpadu; 3. tugas pembantuan

81
Vol. 13 N0. 01 - Maret 2016 : 73 - 84

Sedangkan Desa yang koeksistensi dengan Menurut Taliziduhu Ndraha dalam


masyarakat adat, kewenangan asal usul menjadi bukunya Dimensi-Dimensi Pemerintahan Desa
kewenangan masyarakat adat. (1981:81) bahwa desa melalui pemerintah desa
Agar penyelenggaraan pemerintahan Desa mempunyai urusan yang menjadi wewenang dan
dapat lebih peka dalam memahami aspirasi tanggungjawabnya, yang secara umum terdapat
dan permasalahan yang dihadapi masyarakat. dua (2) urusan yaitu urusan dekonsentratif dan
Sehubungan dengan hal ini ada 7 asas partisipatif. Khusus bagi desa yang berotonomi
penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang desa adanya jenis ketiga yaitu urusan rumah
ditekankan, yaitu: tangga desa. Pandangan tersebut pada
berlakunya UU No. 5 Tahun 1974 tentang
1. Asas Kepastian Hukum
Pemerintah Daerah dan UU No. 5 Tahun 1979
2. Asas Tertib Kepentingan Umum
tentang Pemerintahan Desa.
3. Asas Keterbukaan
4. Asas Profesionalitas Urusan pemerintahan yang menjadi
5. Asas Akuntabilitas wewenang desa berdasarkan Pasal 7 Peraturan
6. Asas Efisiensi Pemerintah No. 72 Tahun 2004 adalah mencakup
7. Asas Efektivitas urusan sebagai berikut:
Kewenangan yang dimiliki Desa tersebut 1) Urusan pemerintah yang sudah ada
tidak dapat semuanya diterapkan di seluruh berdasarkan hak asal-usul desa (otonomi
Desa, melainkan Desa mempunyai kesempatan desa);
untuk memilih kewenangan yang sesuai dengan
2) Urusan pemerintah yang menjadi wewenang
konteks dan kapasitas lokal.
kabupaten/ kota yang diserahkan
Daerah otonom memperoleh kewenangan pengaturannya kepada desa (desentralisasi);
dengan menggunakan asas desentralisasi
3) Tugas pembantuan dari pemerintah,
(otonomi yang diberi oleh Pemerintah). Berbeda
pemerintah Provinsi dan pemerintah
dengan Desa yang merupakan self governing
Kabupaten/Kota (medebewind);
community menggunakan asas subsidiaritas,
dimana sebagian besar kewenangan itu aslinya 4) Urusan pemerintah lainya yang oleh
memang sudah ada di masyarakat, bukan peraturan perundang-undangan diserahkan
pemberian. Dalam desentralisasi, bila daerah kepada desa (desentralisasi).
tidak mampu, kewenangannya diambil kembali Dengan demikian urusan pemerintahan
oleh Pemerintah, sementara dalam subsidiaritas, yang dilakukan di desa adalah urusan otonomi
bila ada eksternalitas, maka masyarakatlah yang desa/rumah tangga desa, urusan desentralisasi
meminta pemerintah untuk mengambil alih. (dari daerah otonomi) dan urusan medebewind
Hal ini sesuai dengan amanat Pembukaan UUD atau pembantuan  dari pemerintah pusat
NRI 1945, dimana pembentukan Pemerintah maupun daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota),
Negara Indonesia dimaksudkan untuk sehingga wewenang pemerintah desa sangat
mengatur dan mengurus hal-hal yang tidak bisa strategis, secara kelembagaan, kebijakan dan
diselenggarakan oleh masyarakat sendiri (lihat administratif pemerintahan dalam menjalankan
kalimat “Kemudian daripada itu … melindungi urusan pemerintahan tersebut.
segenap bangsa …” ).
1) Urusan Rumah Tangga/Otonomi Desa
Desa menjadi tumpuan pemerintah
dan masyarakat dalam menjadikan fungsi Urusan otonomi desa atau rumah tangga
pemerintahan, gerak pembangunan dan desa kewenangan yang melekat pada pemerintah
dinamika masyarakat di Desa. Berbagai urusan desa. Urusan otonomi atau rumah tangga desa
pemerintahan baik pemerintahan umum, teknis merupakan urusan pemerintahan yang sudah
dan daerah serta otonomi desa berada dan ada berdasarkan hak asal-usul, adat istiadat
dilaksanakan di desa seperti urusan keamanan dan budaya desa yang dijaga, diatur dan
dan ketertiban desa, urusan pertanian dan dipelihara serta dikembangkan dalam kehidupan
perkebunan, urusan kehutanan, urusan masyarakat desa. Urusan rumah tangga atau
pendidikan, urusan kesehatan, urusan tenaga otonomi desa bersifat adat, tradisi dan budaya
kerja dan urusan lainnya yang menjadi wewenang yang melekat di desa yang setiap daerah berbeda,
desa. Desa pada prinsipnya mempunyai karena perbedaan adat dan budayanya, sehingga
kewenangan kegiatan pengaturan, pembinaan, urusan rumah tangga desa sangat dipengaruhi
pelayanan, dan fasilitasi pada masyarakat oleh kapasitas pemerintah desa, kemampuan
desa. Kesemuanya dalam kewenangan urusan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan peran
pemerintahan di desa tersebut bersifat tugas serta masyarakat maupun pembinaan dalam
pembantuan atau medebewind dari pemerintah pemerintah desa bersifat decision (keputusan
Pusat, Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) politik) dan responsible (administrasi pemerintah
dan otonomi desa. desa).

82
Pemberian Kewenangan Pada Desa Dalam Konteks Otonomi Daerah....(Jefri S.Pakaya,S.H.,M.H.)

Pemerintahan desa dalam kewenangan bisa diselenggarakan oleh masyarakat sendiri


politiknya untuk mengatur dan mengurus Sehingga Desa menjadi tumpuan pemerintah
kepentingan masyarakat di desanya salah satu dan masyarakat dalam menjalankan fungsi
bentuknya dalam mengatur pemerintahan dan pemerintahan, gerak pembangunan dan
masyarakatnya melalui kebijakan pemerintahan perkembangan dinamika masyarakat di Desa.
desa berbentuk Peraturan Desa (Perdesa), Namun dalam perkembangannya pengaturan
misalnya, pungutan desa, dan lain sebagainya. yang ada, sebelum Undang-Undang Desa
Sedangkan, pemerintah desa dalam kewenangan diundangkan, belum dapat mengakomodir
administratif untuk menyelenggarakan pelaksanaan kewenangan Desa.
administrasi pemerintah desa bagi kepentingan Dalam melaksanakan penyelenggaraan
pelayanan masyarakat melalui pengaturan, Pemerintahan Desa, Pembangunan Desa,
mengelola dan pembinaan organisasi perangkat Pembinaan kemasyarakatan Desa, dan
desa,Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemberdayaan masyarakat Desa, Pemerintahan
Badan Usaha Milik desa  (BUMD), Perencanaan Desa memerlukan kewenangan dalam
Pembangunan Desa dan APB desa. penyelenggaraannya, baik itu kewenangan
Dalam perkembangannya kewenangan Desa yang bersifat asal usul maupun kewenangan
yang bersifat otonomi mencakup kewenangan atributif. Dimana kewenangan-kewenangan
berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal tersebut bertujuan untuk mendorong prakarsa,
berskala Desa. Dimana yang dimaksud dengan gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa
hak asasl usul adalah hak yang merupakan untuk pengembangan potensi dan aset Desa
warisan yang masih hidup dan prakarsa Desa guna kesejahteraan bersama guna mewujudkan
atau prakarsa masyarakat Desa sesuai dengan tujuan otonomi daerah.
perkembangan kehidupan masyarakat.
Sedangkan kewenangan lokal berskala Daftar Pustaka
Desa adalah kewenangan untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat Desa yang
Buku-Buku
telah dijalankan oleh Desa atau mampu dan
Beratha I. Nyoman, Teknologi Desa, Ghalia
efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul
Indonesia, Jakarta, 1984.
karena perkembangan Desa dan prakarsa
Daldjoeni, Geografi Kota dan Desa, Alumni,
masyarakat Desa.
Bandung, 2003.
2) Urusan Pemerintahan Kabupaten/Kota yang Eko, Sutoro dkk, Prakarsa Desentralisasi &
Disertakan Pengaturannya kepada Desa Otonomi Desa, IRE Press, Yogyakarta, 2005.
Pemerintah desa dalam melaksanakan Kansil, Pemerintahan Daerah di Indonesia.
kewenangan untuk melaksanakan berdasarkan Hukum Administrasi Daerah, Sinar Grafika,
kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan Jakarta, 2008.
pengaturannya kepada desa. Urusan pemerintah Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,
daerah tersebut yang secara langsung dapat Rineka Cipta, Jakarta, 2005.
meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan Muslimin, Amrah, Aspek-Aspek Hukum Otonomi
masyarakat di desa melalui Peraturan Daerah Daerah, Alumni, Bandung, 1986.
dan penyerahannya dari pemerintah daerah Tim Penyusun, Naskah Akademik Rancangan
yang bersangkutan. Undang-Undang tentang Desa, Direktorat
Inti dari otonomi sejatinya adalah Pemerintahan Desa dan Kelurahan,
adanya transfer kewenangan dari tingkatan Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, 2011.
pemerintahan. Jadi jika terjadi transfer Wasistiono, Sadu dan M. Irwan Tahir, Prospek
kewenangan antar tingkatan pemerintahan maka Pengembangan Desa, Fokusmedia, Bandung,
konsekuensinya adalah otonomi. Sedangkan 2007.
otonomi pada dasarnya adalah hak, wewenang,
dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus Peraturan Perundang-undangan
rumah tangganya sendiri. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah;
C. Penutup Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa merupakan self governing community Desa;
yang menggunakan Asas subsidiaritas, dimana Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
sebagian besar kewenangan itu aslinya memang tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-
sudah ada di masyarakat, bukan pemberian. Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
Dikaitkan dengan amanat Pembukaan UUD
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun
NRI 1945, dimana pembentukan Pemerintah
2005 tentang Pedoman Pembinaan dan
Negara Indonesia dimaksudkan untuk
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
mengatur dan mengurus hal-hal yang tidak
Daerah;

83
Vol. 13 N0. 01 - Maret 2016 : 73 - 84

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Artikel Internet


tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Muhsin Albantani, Urusan Pemerintahan Desa,
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah http://muchsinal-mancaki.blogspot.
Provinsi dan Pemerintahan Daerah com/2011/12/urusan-pemerintahan-desa.
Kabupaten/Kota; html.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30
Eni A, Pengertian Desa, http://ssbelajar.
Tahun 2006 tentang Tatacara Penyerahan
blogspot.com/2012/12/pengertian-desa.
Urusan Pemerintahan Kabupaten/Kota
html.
Kepada Desa;

84

Anda mungkin juga menyukai