Anda di halaman 1dari 3

Agitated Leaching Tank

Industri pertambangan terutama pada proses pengolahan bijih logam banyak


menggunakan proses leaching. Terdapat tiga jenis leaching dalam pengolahan bijih
logam, yaitu heap leaching, vat leaching, dan agitated tank leaching. Salah satunya
adalah agitated tank leaching, yaitu pelindian emas dengan cara merendam bijih
emas (diameter kurang dari 0.15 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur
dengan larutan sianida pada suatu tangki dan selalu diaduk atau diaerasi. Lama
proses pengadukan biasanya selama 24 jam untuk pelindian yang optimal.
Proses yang terjadi didalam leaching tank adalah pelarutan selektif antara
emas dan perak dengan menggunakan reagen berupa sianida yang diperoleh dari
larutan natrium sianida. Proses leaching yang dilakukan adalah agitation leaching
dengan pelarut sianida yang cocok untuk bijih dengan kadar logam medium hingga
tinggi. Agitation leaching proses dilakukan dengan adanya agitasi dari udara atau
secara mekanik dengan bantuan agitator (Marsden, 1992).
Parameter yang harus diperhatikan didalam leach tank agar proses leaching
mendapat hasil yang optimum yaitu, konsentrasi sianida, pH operasi, persen solid,
jumlah oksigen terlarut, pengadukan, waktu tinggal, dan temperatur. Sebelum
dilakukan agitation leaching perlu dilakukan proses heap leaching terlebih dahulu
Heap leaching dilakukan dengan cara meletakkan bijih yang telah di-crush pada
suatu tumpukan yang dibangun di atas suatu impervious liner. Larutan sianida
diberikan dengan cara di-spray pada bagian atas dari tumpukan dan larutan akan
meresap ke bawah melalui tumpukan dan akan terjadi proses leaching emas.
Larutan yang kaya emas / gold pregnant solution akan mengalir dari dasar
tumpukan dan dikumpulkan untuk proses recovery emas dengan metode carbon
adsorption atau zinc precipitation (Eugene, 2009).
Heap leaching kemudian dilakukan dan pregnant leach solution yang sudah
mengandung emas akan dikontakkan dengan carbon. Ada 3 metode yang umum
digunakan, yaitu;
1. Carbon in Pulp (CIP)
Menggunakan seragkaian agitated tank yang akan menjadi tempat
terjadinya kontak antara pregnant solution (hasil leaching) dengan karbon dan
merupakan metode paling konvensional. Secara umum biaya CIP lebih mahal dari
CIL dan membutuhkan lebih dari satu agitator, namun di sisi lain memiliki
beberapa keunggulan. Tingkat efisiensi adsorbsi karbon yang lebih tinggi
dibandingkan dengan CIL dan waktu resensi adsorbsi yang relatif lebih cepat.
2. Carbon in Leach (CIL)
Penggabungan proses leaching dengan carbon-in-pulp dalam suatu agitated
tank dengan ukuran yang lebih besar dari CIP. Biasanya digunakan jika bijih emas
mengandung native carbon yang dapat menghambat proses recovery emas. Proses
leaching dan carbon adsorption digabung dalam suatu unit, konsentrasi karbon
yang ada menjadi sehingga kemampuan untuk gold recovery-nya tidak sebaik CIP.
Proses adsorbsi tidak berjalan efisien dan waktu resensinya lebih lama. Biaya
operasional metode CIL lebih rendah dibandingkan CIP dan hanya membutuhkan
1 agitator pada tank tersebut.
3. Carbon in Column (CIC)
Menggunakan serangkaian fluidized bed column (umumnya dengan atap
terbuka).Mampu mengolah pregnant solution dengan kandungan solid 2-3%.
Teknik pengerjaannya adalah dengan memberikan kontak antara leached
pulp dengan granular karbon pada serangkaian agitating tanks dengan waktu retensi
yang cukup. Karbon akan di-recycle melalui sirkuit untuk menambah muatan
sekitar 8-10% dari beratnya. Menggunakan alat vibrating screen yang sesuai, arang
akan dipisahkan dari pulp, karena alat ini akan membiarkan pulp untuk lolos
sementara karbon akan tertahan. Karbon kemudian akan dibawa ke stripping
column untuk diregenerasi. Teknik ini dapat juga digunakan pada bijih emas dengan
kadar yang rendah (Eugene, 2009).
DAFTAR PUSTAKA
Marsden, J., House, I. 1992. The Chemistry Of Gold Extraction. United Kingdom:
Ellis Horwood.
Eugene, W. W. L., Mujumdar, A. S. 2009. Gold Extraction and Recovery
Processes. Singapore: NUS