Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I - PENETAPAN MASSA MOLAR

BERDASARKAN PENURUNAN TITIK BEKU

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR I

HYPERLINK
"http://2.bp.blogspot.com/-
FchPzqGJqG8/VN3Wfx0Ra_I/AAAAAAAAACc/3dR2HS-wirc/s1600/unsri.png"

NAMA : RANDO FIRMANSYAH


NIM :08031181320024
JURUSAN : KIMIA
KELOMPOK II

PERCOBAAN : PENETAPAN
MASSA MOLAR
BERDASARKAN
PENURUNAN TITIK BEKU
LABORATORIUM KIMIA
DASAR
FAKULTAS MATEMATIKA
DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

I. NOMOR PERCOBAAN :V
II. NAMA PERCOBAAN : PENETAPAN MASSA MOLAR
BERDASARKAN PENURUNAN TITIK BEKU
III. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Menetapkan titik beku cairan murni dan larutan
2. Menetapkan massa molar dari senyawa yang tidak diketahui berdasarkan
penurunan titik beku
IV. DASAR TEORI
Apabila suatu zat dilarutkan dalam suatu pelarut, maka sifat larutan itu
berbeda dari sifat pelarut murni. Contohnya, larutan gula yang berbeda sifat dengan
air murni biasa. Sifat-sifat larutan yang ada, seperti rasa, warna, pH, dan kekentalan
bergantung pada jenis dan konsentrasi zat yang terlarut. Pengaruh jenis zat yang
terlarut kecil sekali sejauh zat yang terlarut itu tergolong nonelektrolit dan tidak
mudah menguap. Sedangkan sifat-sifat yang tiak bergantung pada jenis zat yang
terlarut tetapi hanya pada konsentrasi partikelnya disebut dengan sifat-sifat koligatif
suatu larutan.
Larutan akan terjadi apabila terjadinya kesetimbangan antara pelarut dan zat
yang terlarut. Pelarut merupakan zat yang mendispersikan zat terlarut dan mempunyai
massa relative yang lebih banyak atau lebig besar dari zat lain atau zat yang
dicampurkan. Zat terlarut merupakan zat yang terdispersi (tersebar secara merata di
dalam pelarut). Adapun yang termasuk ke dalam sifat-sifat koligatif suatu larutan
adalah : penurunan titik beku ΔTf, kenaikan titik didih ΔTb, penurunan tekana uap Δp
dan tekanan osmose larutan π = mRT.
Secara eksak seperti yang telah diuraikan dalam sifat-sifat koligatif suatu larutan
merupakan suatu larutan yang ideal. Tetapi sebagian besar larutan akan semak
in mendekati perilaku ideal hanya bila larutan tersebut m keadaan encer.
Poenya ,Lanova.2010
Sifat koligatif larutan adalah sifat fisis larutan yang hanya tergantung pada
jumlah partikel zat terlarut dan tidak tergantung dari jenis zat terlarut. Dengan
mempelajari sifat koligatif larutan, akan menambah pengatahuan kita tentang gejala-
gejala di alam, dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan, misalnya mencairkan salju
di jalan raya, menggunakan obat tetes mata atau cairan infuse, mendapatkan air murni
dari laut, menentukan massa molekul relative zat terlarut dalam laruan, dan masih
banyak lagi.
Kita perlu mengetahu beberapa hal berikut : Molar yaitu jumlah mol zat
terlarut dalam 1 liter larutan (mol/L). Molal yaitu jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg
larutan (mol/Kg). Fraksi mol yaitu perbandingan mol zat terlarut dengan jumlah mol
total larutan (mol zat pelarut + mol zat terlarut)
Xterlarut = n terlarut/n pelarut + n terlarut
Xpelarut = n pelarut/n terlarut + n pelarut (L)
PENURUNAN TEKANAN UAP
Penurunan tekanan uap adalah kecenderungan molekul-molekul cairan untuk
melepaskan diri dair molekul-molekul cairan disekitarnya dan menjadi uap. Jika ke
dalam cairan dimasukan suatu zat terlarut yang sukar menguap dan membentuk suatu
larutan, maka hanya sebagian pelarut saja yang menguap, karena sebagian yang lain
penguapannya dihalangi oleh zat terlarut. Besarnya penurunan ini diselidiki oleh
Raoult lalu dirumuskan sebagai berikut :
P = Po.XB
Keterangan :
P = tekanan uap jenuh larutan
Po = tekanan uap jenuh pelarut murni
XB= fraksi mol pelarut
Karena XA+XA = 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi :
P = Po (1 - XA)
P = Po – Po.XA
Po – P = Po.XA
Sehingga :
ΔP = Po.XA
Keterangan :
ΔP = penurunan tekanan uap jenuh pelarut
Po = tekanan uap pelarut murni
XA= fraksi mol zat terlaut
KENAIKAN TITIK DIDIH
Adanya penurunan tekanan
uap jenuh mengakibatkan titik
didih larutan lebih tinggi dari
titik didih pelarut murni.
Untuk larutan non elektrolit
kenaikan titik didih dinyatakan
dengan:
ΔTb = m . Kb
keterangan:
ΔTb = kenaikan titik didih (oC)
m = molalitas larutan
Kb = tetapan kenaikan titik didih molal
HYPERLINK "http://hersipa.files.wordpress.com/2010/01/jk.jpg"
(W menyatakan massa zat terlarut), maka kenaikan titik didih larutan dapat
dinyatakan sebagai:
HYPERLINK "http://hersipa.files.wordpress.com/2010/01/rm210.jpg"
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan
sebagai :
Tb = (100 + ΔTb) oC
jika pelarutnya bukan air,maka titik didih larutan menyesuaikan diri dengan titik didih
pelarut yang digunakan.Adanya kenaikan titik didih dapat dihitung dengan:
ΔTb = Tb larutan – Tb pelarut
PENURUNAN TITIK BEKU
Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan sebagai:

HYPERLINK

"http://hersipa.files.wordpress.com/2010/01/hkj.jpg"
ΔTf = penurunan titik beku
m = molalitas larutan
Kf = tetapan penurunan titik beku molal
W = massa zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarut
Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku larutannya
dinyatakan sebagai:
Tf = (O – ΔTf)oC
TEKANAN OSMOSIS
Osmosa adalah proses merembesnya pelarut kedalam larutan melewati membran semi
permeable.osmosa juga bisa diartikan merembesnya larutan yang berkonsentrasi kecil
kedalam larutan yang berkonsentrasi besar melalui membran.Tekanan osmosis adalah
tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-
molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis)
seperti ditunjukkan pada.
Menurut Van’t hoff tekanan
osmosis mengikuti hukum gas
ideal:
PV = nRT
Karena tekanan osmosis = Π ,
maka :
HYPERLINK

"http://hersipa.files.wordpress.com/2010/01/rm48.jpg"
π° = tekanan osmosis (atmosfir)
C = konsentrasi larutan (M)
R = tetapan gas universal. = 0,082 L.atm/mol K
T = suhu mutlak (K)
Tekanan osmosis dibagi tiga : Larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih rendah
dari yang lain disebut larutan Hipotonis. Larutan yang mempunyai tekanan lebih
tinggi dari yang lain disebut larutan Hipertonis. Larutan yang mempunyai tekanan
osmosis sama disebut Isotonis. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
larutan elektrolit di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini
mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak
daripada larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama.
Suhendar, aang. 2009
Larutan akan memperlihatkan perilaku pendinginan yang berbeda-beda
dengan cairan murni. Temperatur larutan akan turun lebih rendah tetapi larutan itu
sendiri belum membeku. Kemudian temperatur tersebut akan turun lagi secara
perlahan-lahan disaat pembekuan itu sedang berlangsung (gambar b) pada saat itu
akan terjadi lewat dingin. Lewat dingin artinya temperatur turun di bawah titik beku
lalu setelah itu akan naik lagi. Untuk memperoleh titik beku yang terbaik, tariklah dua
garis masing-masing untuk bagian atas dan bagian bawah kurva hingga berpotongan.
Titik potong tersebut menunjukkan titik beku.

Adapun titik beku dari


suatu cairan adalah suhu yang
terjadi pada saat tekanan ua
suatu larutan itu sama dengan
tekanan uap pelarut padat
murni. Apabila tekanan uap
larutan lebih rendah daripada
tekanan uap pelarut maka
larutan tersebut belum membeku pada saat suhu 0o C. Apabila suhu telah diturunkan
terus menerus tetapi ternyata pelarut padat murni mengalami penurunan tekanan uap
yang lebih cepat daripada larutan sehingga pada suatu suhu di bawah titik beku
pelarut, tekanan uap larutan sama dengan tekanan uap pelarut padat.
(Rivai Bakti : penuntun praktikum kimia dasar I. Hal 25-26)
Ketika larutan membeku yang membeku sebenarnya adalah pelarutnya,
sedangkan zat terlarut tidak akan pernah membeku. Sebagai contoh es yang terbentuk
di permukaaan air laut, yang sebenarnya membeku merupakan pelarut. Ikan dan
makhluk lainnya yang terdapat di bawah permukaan es tidak akan membeku. Larutan
akan makin pekat dan juga titik bekunya akan makin rendah. Jadi suatu larutan itu
tidak akan membeku pada suhu yang sama, selalu berubah-ubah tergantung pada
tekanan uapnya. Yang dimaksud dengan titik beku itu sendiri adalah suhu yang
tercapai pada saat suatu larutan itu sudah mulai membeku. Selisih antara titik beku
pelarut dengan titik beku larutan disebut dengan penurunan titik beku (ΔTf = freezing
point depression)
ΔTf = titik beku pelarut – titik beku larutan
ΔTf = 0o C – Tf
Apabila suatu larutan menggunakan zat pelarut yang berupa air, maka titik beku
normalnya adalah tekanan pada tekanan 1 atm yaitu pada suhu 0o C.
Beberapa percobaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kenaikan titik
didih maupun penurunan titik beku tidaklah bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi
hanya dipengaruhi pada jumlah atau konsentrasi pada partikel yang terdapat dalam
larutan. Oleh karena itulah penurunan titik beku dirumuskan sebagai berikut :
Tf =K.m
Dimana :
Tf = titik beku larutan
Kf = tetapan penurunan titik beku
m = kemolalan larutan
= (W2 / Mr W2) x (1000/W1)
Keterangan
W2 = massa zat terlarut
W1 = massa pelarut
Mr = massa molekul relative zat terlarut
Pada larutan elektrolit, nilai koligatifnya lebih besar dari zat non elektrolit, hal
ini dikarenakan zat elektrolit mengalami disosiasi atau ionisasi membentuk ion-
ionnya, sehingga ada faktor koreksi vanhoof (i).
ΔTf = Kf.m.i
Dimana :
i = 1 + (n-1)α
n = jumlah ion = derajat ionisasi
α = mol terurai
mol mula-mula
(http://www.google.co.id/penurunantitikbekularutan.html)
Penurunan titik beku molal (Kf) adalah tetapan penurunan titik beku jika
larutan konsentrasi larutan sebesar suatu molal yang tergantung pada jenis pelarut.
Berikut ini adalah tetapan penurunan titik beku (Kf) dari beberapa pelarut :
Pelarut Titik beku(o C) Kf
Air 0 1,86
Asam asetat 16,6 3,57
Benzena 5,45 5,07
Sikloheksana 6,5 20
Kamfer 178,4 37,7
Untuk perubahan dalam titik beku, hukum sifat koligatif berlaku baik untuk zat
terlarut atrisi (menguap) maupun tak atrisi. Pada temperatur rendah tekanan uap
pelarut maupun zat terlarut rendah, dan pengaruh tekanan uap zat terlarut sangat
kecil.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam
pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini mengakibatkan larutan
elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non
elektrolit pada konsentrasi yang sama. Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan
(kemampuan) untuk mengion adalah derajat ionisasi. Untuk larutan elektrolit kuat,
harga derajat ionisasinya mendekati 1 sedangkan untuk larutan elektrolit lemah harga
derajat ionisasinya berada diantara 0 dan 1 (0>α>1). Adanya zat terlarut di dalam
pelarut menyebabkan larutan yang terbentuk semakin seukar membeku.
Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan
ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat koligatif itu sendiri. Jumlah partikel
dalam larutan elektrolit tidak sama dengan jumlah larutan non elektrolit, walaupun
konsentrasi keduanya sama.
Larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit
tidak terurai menjadi ion-ionnya, dengan demikian sifat elektrolit suatu larutan
dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.
Untuk sebuah contoh, dimisalkan sebuah larutan 0,5 molal glukosa
dibandingkan dengan larutan 0,5 molal garam dapur. Untuk larutan glukosa dalam air
jumlah partikel (konsentrasinya) tetap, yaitu 0,5 molal sedangkan untuk larutan garam
dapur NaCl karena terurai menjadi 2 ion Na+ dan Cl- maka konsenntrasi ionnya
menjadi 2 kali semula, sama dengan 1,0 molal.
(http://www.google.co.id/chemistry/sifatlarutanelektrolit.html)

V. ALAT DAN BAHAN


- Tabung reaksi besar
- Gabus penyumbat
- Termometer
- Statif dan klem
- Kawat pengaduk
- Es
- Air
- Garam
- Gula
- Gelas Piala
- Stopwatch

VI. PROSEDUR PERCOBAAN


Penetapan titik beku pelarut murni
Rakitlah alat (tabung reaksi
besar, gabus, sumbat dua
lubang, termometer, statif dan
klem, kawat kasa, kawat
pengaduk dan gelas piala)

Pasang termometer dan kawat pendingin yang terdiri dari es, air dan garam

Tambahkan 5 ml air, pasang


sumbat
Aduk p-Xylena dengan kawat
pengaduk, bila temperature
mencapai 18o C catat
temperature setiap 15detik
hingga p-Xylena beku

Angkat tabung, biarkan mencair kembali

Penetapan massa senyawa yang tak diketahui


Ambil 1 – 2,5 g senyawa,
timbang

Pindahkan ke
dalam tabung hingga semua zat
larut

Tetapkan titik beku larutan p-Xylena catat temperatur setiap 15detik

VII. TUGAS PENDAHULUAN


Dalam 400 g air dilarutkan 9 g glukosa dan sejumlah urea, bila titik beku
larutan -0,93 o C. Tentukan berat urea yang ditimbangkan ?
Jawab :
ΔTf = Tf pelarut – Tf larutan
= 0 – (- 0,93)
ΔTf = 0,93 oC
Tf = m. Kf
= massa glukosa + massa urea . 1000 . Kf
Mr glukosa Mr Urea P
0,93 = 9 + massa urea . 1000 . 1,86
180 60 40
0,93 = 9 + 3g urea . 1000 . 1,86
180 60 40
0,93 . 180 = 9 + 3g urea
4,65
36 = 9 + 3g urea
g urea = 36 - 9
3
g urea = 9 gram
Sebanyak 1,2 g senyawa dengan rumus C8H8O dilarutkan dalam 15 ml sikloheksana
(ρ= 0,799g/ml). Hitunglah molalitas larutan ini ?
Jawab :
m = g . 1000
Mr V
= 1,2 . 1000
120 1,5
m = 0,6061 molal
VIII. DATA HASIL PENGAMATAN
Waktu (s) Air T (oC) Gula (oC) p-xylena (oC)
0 31 31 32
15 28 25 26
30 25 21 18
45 23 19 13
60 22 16 9
75 21 14 6
90 18 12 5
105 16 10 4
120 14 9 2
135 12 8 1
150 11 7 1
165 10 6 0
180 9 5 0
195 8 4
210 7 3
225 6 2
240 5 1
255 4 0
270 3 -1
285 2 -1
300 1 -1
315 0
330 0
345 0

Grafik Penurunan Titik Beku Pelarut Air


Grafik Penurunan Titik Beku Glukosa

Grafik Penurunan Titik Beku p-xylena

IX. REAKSI DAN


PERHITUNGAN
PERHITUNGAN
Vair = 5 ml
Massa glukosa = 1 gram
ρ = 0,996 g/ml
ΔTf = T pelarut – T terlarut
= 0 – (- 1)
= 1 oC
Massa air = ρ air . v air
= 0,996 g/ml . 5 ml
Massa air = 4,98 g
ΔTf = m. Kf
ΔTf = m gula . 1000. Kf
Mr ρ
Mr = 1 g . 1000 . 1,86
1 oC 4,98
Mr = 373
Rumus molekul
(CH2O)n = Mr
(12 + 2 + 16 ) n = Mr
30n = 373
n = 12
Rumus molekulnya adalah C12H24O12 atau (CH2O)12

X. PEMBAHASAN
Pada percobaan mengenai penetuan masa molar berdasarkan penurunan tiitk
beku, dapat diketahui bahwa sifat koligatif suatu larutan hanya bergantung pada
jumlah paritkel zat tersebut bukan berdasarkan jenis zat dalam larutan. Larutan sendiri
merupakan campuran yang bersifat homogen , jadi tidak dapat dipisahkan lagi antara
zat pelarut dan zat terlarut. Larutan gula merupakan contoh dari larutan yang
homogen.
Larutan akan terjadi apabila ada kesetimbangan antara zat pelarut dengan zat
terlarut. Pelarut atau solven dalam larutan memiliki massa yang lebih banyak dari zat
terlarut atau solut. Adapun yang dimaksud dengan kelarutan diartikan sebagai jumlah
maksimal zat yang larut dalam suatu pelarut. Faktor- faktor yang mempengaruhi
kelarutan diantaranya tekanan, temperatur, dan luas penampang. Semakain tinggi
tekanan dan temperatur maka semakin cepat suatu larutan untuk bereaksi. Sebaliknya,
semakin kecil luas permukaan zat terlarut, maka semakin cepat bereaksi. Pada
percobaan kali ini yang dimaksud dengan pelarut itu air suling atau aquades,
sedangkan glukosa pada percobaan tersebut sebagai zat terlarut.
Sifat-sifat dari koligatif larutan antara lain penurunan tekanana uap, kenaiakan
titik didih , penurunan titik beku dan tekanan osmotik. Pada penggunaan alat dan
bahan diutamakan untuk berhati-hati. Ketika termometer dimasukkan ke dalam
tabung reaksi, usahakan agar termometer tidak menyetuh dinding tabung karena akan
membuat termometer jadi tidak stabil sehingga mempengaruhi temperatur penurunan
titik beku larutan yang di uji. Dan sebelum penghitungan suhu, termometer harus
dalam temperatur yang stabil.
Es, garam ,gula dan p-xylena merupakan bahan yang digunakan pada
percobaan mengenai penentuan massa molar melalui penururnan titik beku ini. Garam
dapur yang digunakkan tersebut sebagai campuran es yang dimaksudkan untuk
menghambat proses pencairan es, sehingga dapat membantu kita dalam melakukan
penganalisisan terhadap titik beku laruatan yang di uji tersebut.
Dalam penggunaan garam dapur, massa garam yang digunakakn jangan terlalu
banyak dan juga jangan terlalu sedikit, sebab akan mempengaruhi proses penurunann
titik beku dan hasil yang didapat kemungkinan kurang akurat. Namun apabila garam
yag digunakaan terlalu sedikit, penurunan titik beku tidak mencapai suhu yang akurat,
dan pada larutan gula yang di uji , pembentukkan kristal yang terjaadi tidak sempurna.
Oleh karena itu para pratikum di tuntut ketelitian dan keterampulannya dalalam
melakukan percobaan tersebut.
Perubahan titik beku pada larutan dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi
perubahan suhu baik dari sisitem ataupun dari lingkuangan. Dari data hasil pengamtan
yang telah didapat, masing-masing ada tiga larutan yang di uji memiliki titik beku
konstant yang berbeda-beda. Untuk larutan belum jenuh di mana konsentrasi hasil kali
kelarutannya lebih besar dari hasil kali ion-ionnya ,maka larutan tersebut lebih cepat
untuk membeku. Sedangkan untuk larutan tepat jenuh dan lewat jenuh, di. mana telah
terbentuk endapan pada larutan tersebut akan lebih sulit untuk membeku. Pada
dasarnya yang membeku itu hanya zat pelarutnya saja.
Adapun analisis yang dipakai berupa analisis kualitatif yang didasarkan pada
perubahan fisis seperti bentuk, warna dan bau , serta analisis kuantitatif yang
didasarkan pada perhitungan.
XI. KESIMPULAN
1. Sifat koligatif larutan didasarkan pada jumlah partikel zat terlarut dan tidak
bergantung pada jenis dan sifat partikel zat terlarut tersebut.
2. Penurunan titik beku terjadi apabila titik beku larutan lebih besar dari pada tititk
beku pelarut.
3. Berdasarkan penurunan titik beku suatu zat, dapat ditentukan besarnya
konsentrasi zat tersebut di dalam larutan.
4. Raksi yang terjadi merupakan reaksi eksoterm di mana perubahan suhu terjadi
dari sistem ke lingkunagan
5. Garam dapur berfungsi sebagai stabilisator suhu es dikarenakan garam dapur
dapat menghambat proses pencairan es.

DAFTAR PUSTAKA
Poenya ,Lanova. sifat koligatif. http://herispa.wordpress.com/sifat-koligatf-larut anpe
nuru nan-titik-beku-2/. di akses pada 21 oktober 2010 09:07
Suhendar, aang. 2009. Penurunan titik beku. http://kimia.upi.edu/utama/ bahanajar/
kuliahweb/2008/aang%20suhendar_060928_/penurunan%20titik%20beku.html. di
akses pada 21 oktober 2010 08:57
Tim kimia. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Indaralaya : Universitas
Sriwijaya.

Termometer

*MSDS BAHAN *

NAMA SENYAWA P.XILENA AIR[H2O] GARAM


Nama kimia Benzena Aqua Natrium klorida
Rumus kimia C8h10 H2o Nacl
Wujud senyawa Liquid Cair Padat
Titik didih 138,35 c 100 c 1465 c
Titik lelelh 13,2 c Oc 801 c
Massa molar 106,17 gr/mol 10,0153 gr/mol 58,44 gr/mol
Massa jenis 0,861 gr/mol 0,99987 gr/mol 2,16 gr/mol
Bau - Tidak Tidak
Rasa - tidak Asin
Warna tidak/pucat Tidak Tidak
Kelarutan dalam air Tidak larut - Larut
Kelarutan dalam etanol Sangat larut - Larut
Kelarutan dalam titik eter Sangat larut - -
Tekanan 8,7 hps 100 kpa Tegak
Suhu 343,05 c/kritis Oc Tegak
elektronegatifitas Tinggi Tinggi Tinggi
Titik beku 13,263 c Oc <oc
Ikatatn kimia - Ikatan hidrogen Ikatan ion
Ph 3-9 5,5-7,5 Netral

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM KIMIA DASAR
PENETAPAN MASSA MOLAR BERDASARKAN PENURUNAN TITIK BEKU

Oleh :

Kelompok V

Cintami Winanda Sari :


(08101005051)
Heriansyah Hidayat :
(08101005009)
Meydy : (08101005041)
Muhamad Abdul Karim : (08101005018)
Yesy Aristiantin : (08101005017)

LABORATORIUM KIMIA DASAR


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR 1
I. NOMOR PERCOBAAN : V
II. N
AMA PERCOBAAN : PENETAPAN MASSA MOLAR
BERDASERKAN PENURUNAN TITIK BEKU
III. TUJUAN PRAK TIKUM :
1. Menetapkan titik beku cairan murni dan larutan
2. Menetapkan massa molar dan senyawa yang tidak diketahui berdasarkan
penurunan titik beku.
IV. DASAR TEORI :
Sistem homogen yang mengandung dua aatau lebih zat disebut
larutan bias any alrutan dianggap sebagai larutan yang mengandung zat terlarut. Pada
kenyataanya setiap sistem homogen dari zat merupakan larutan. Komponen utamanya
biasanya disebut sebagai pelarut dan komponen minornya disebut sebagai zat terlarut
yang dapat berperan serta dalam reaksi kimia suatu larutan atau eninggalkan larutan
karena penguatan atau pengendapan . Uraian mengenai gejalah ini disebut spesifikasi
kuantitatif mengenai banyaknya zat terlarut dalam larutan dan kompoisi larutan
terbentuk dari percampuran dua atau lebih zat murnih yasng molekulnya berinteraki
dengan keadaan tercampur. Perubahan gaya antar molekul berinteraksi langsung
dalam keadaan tercampur. Perubahan gaya antar molekul dalam keadaan bergerak dari
zat terlarut atau dalam keadaan tercampur mempengaruhi baik kemudahan dalam
pembentukan maupun kestabilan larutan dapat berada dalam kesetimbangan fasa
dengan gas dan ditentuksn melalui bobot molekul zat terlarur. Misalnya lerutan dula
yang bereda sifat denga air murnih biasa. Sifat-sifat larutan yang tidak dapat
ditinggalkan yaitu rasa, warnah, pH dan kekentalan bergantung pad jenis dan
konsentrasi zat terlarut pengaruh jenis zat yeng kecil (Fassenden, 1993 : 153-154).
Bila dibandingkan tekanan uap larutan pada suhu yang sama lebih
rendah dari tekanan uap pelarutnya. Jadi, titik didih normal larutan, yakni suhu saat
fasa gas pelarut mencapai 1 atm, harus lebih tinggi daripada titik didih pelarut.
Fenomena ini disebut dengan kenaikan titik didih larutan. Membran berpori yang
dapat dilalui pelarut tetapi zat terlarut tidak dapat melaluinya disebut dengan
membran semipermeabel. Bila dua jenis larutan dipisahkan denga membran
semipermeabel, pelarut akan bergerak dari sisi konsentrasi rendah ke sisi konsentrasi
tinggi melalui membran. Fenomena ini disebut osmosis. Membran sel adalah contoh
khas membran semipermeabel. Membran semipermeabel buatan juga tersedia. Bila
larutan dan pelarut dipisahkan membran semipermeabel, diperlukan tekanan yang
cukup besar agar pelarut bergerak dari larutan ke pelarut. Tekanan ini disebut dengan
tekanan osmosis. Tekanan osmosis larutan 22,4 dm3 pelarut dan 1 mol zat terlarut
pada 0 °C adalah 1,1 x 105 N m-2.
Hubungan antara konsentrasi dan tekanan osmoisi diberikan oleh hukum van’t
Hoff’s.
πV = nRT
π adalah tekanan osmosis, V volume, T temperatur absolut, n jumlah zat (mol) dan R
gas. Anda dapat melihat kemiripan formal antara persamaan ini dan persamaan
keadaan gas. Sebagaimana kasus dalam persamaan gas, dimungkinkan menentukan
massa molekular zat terlarut dari hubungan ini.
Tegangan permukaan juga merupakan sifat fisik yang berhubungan dengan gaya
antarmolekul dalam cairan dan didefinisikan sebagai hambatan peningkatan luas
permukaan cairan. Awalnya tegangan permukaan didefinisikan pada antarmuka cairan
dan gas. Namun, tegangan yang mirip juga ada pada antarmuka cairan-cairan, atau
padatan dan gas. Tegangan semacam ini secara umum disebut
dengan teganganantarmuka. Tarikan antarmolekul dalam dua fas dan tegangan
permukaan di antarmuka antara dua jenis partikel ini akan menurun bila tempeartur
menurun. Tegangan antarmuka juga bergantung pada struktur zat yang terlibat.
Molekul dalam cairan ditarik oleh molekul di sekitarnya secara homogen ke segala
arah. Namun, molekul di permukaan hanya ditarik ke dalam oleh molekul yang di
dalam dan dengan demikian luas permukaan cenderung berkurang. Inilah asal mula
teori tegangan permukaan. Bentuk tetesan keringat maupun tetesan merkuri adalah
akibat adanya tegangan permukaan (Karyadi, 2009 : 281).
Cairan naik dalam kapiler, fenomena kapiler, juga merupakan fenomena terkenal
akibat adanya tegangan permukaan. Semakin besar tarikan antar molekul cairan dan
kapilernya, semakin besar daya basah cairan. Bila gaya gravitasi pada cairan yang
naik dan tarikan antara cairan dan dinding kapiler menjadi berimbang, kenaikan akan
terhenti
Pembentukan suatu larutan tidak menimbulkan pengaruh terhadap sifat-sifat kimia
zat-zat penyusun larutan tersebut. Air suling (air murni) dan air sumur
memperlihatkan reaksi yang sama saja, misalnya direaksikan dengan logam natrium.
Akan tetapi sifat-sifat fisis suatu zat yang sering berubah tatkala zat itu menjadi
komponen larutan. Pada suhu 20oC air murni pasti membeku, sedangkan air yang
dicampur dengan etilen glikol (zat anti beku, “antifreeze” untuk radiator kendaraan)
akan tetap cair pada suhu rendah itu (Anshory, 1994: 2).
Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer atau kira-kira pada
larutan yang lebih pekat, yang tergantung pada jumlah partikel terlarut yang ada. Jadi,
sifat-sifat tersebut tidak tergantung pada jenis larutan. Keempat sifat tersebut ialah
penurunan tekanan uap, peningkatan titik didik, penurunan titik beku, dan tekanan
osmosisi. Pada tahun 1880-an kimiawan Prancis F. M. Raoult mendapati bahwa
melarutkan suatu zat terlarut mempunyai efek penurunan tekanan uap dari pelarut.
Banyak penurunan tekanan uap (DP) terbukti sama dengan hasil kali fraksi mol
terlarut (XB) dan tekanan uap pelarut murni (PAo), yaitu:
DP = XB.PAo
Dalam dua larutan komponen, XA + XB = 1, maka XB = 1-XA. Juga apabila
tekanan uap pelarut di atas larutan dilambangkan PA, maka P = PAo-PA. Sehingga
dapat ditulis kembali menjadi:
PAo - PA = (1-XA) PAo
Dan penataan ulang persamaan ini menghasilkan bentuk yang umum dikenal dengan
Hukum Raoult. Hukum Raoult menyatakan bahwa “Tekanan uap pelarut di atas suatu
larutan (PA) sama dengan hasil kali tekanan uap pelarut murni (PAo) dengan fraksi
mol dalam larutan (XA)”. Apabila zat terlarut mudah menguap dapat ditulis pula PB =
XB.PBo. Dalam larutan ideal semua komponen (pelarut dan zat terlarut) mengikuti
Hukum Raoult pada seluruh selang konsentrasi. Namun zat terlarut dalam larutan tak
ideal encer mengikuti Hukum Hendry, bukan Hukum Raoult (Petrucci, 1998: 63-64).
Titik beku larutan lebih rendah dari pada titik beku pelarut yang murni. Larutan gula
misalnya membeku di bawah suhu 0oC. Selisih antara titik beku larutan dengan titik
beku pelarut disebut penurunan titik beku larutan (DTf). Penurunan titik beku larutan
ini juga sebanding dengan konsentrasi zat yang terlarut. Dan hubungan ini dapat
dinyatakan dengan rumus DTf = m. Kf.
Seperti halnya dengan kenaikan titik didih, maka penurunan titik beku larutan ini juga
dapat dipakai untuk menentukan berat molekul zat yang dilarutkan (Anonim
2010 : 1).
Larutan yang mengandung zat terlarut tak volatil dapat menurunkan tekanan uap
pelarut. Semakin tinggi konsentrasinya maka semakin besar penurunan tekanan
uapnya. Biasanya bila berbicara tentang titik beku atau titik didih, orang sepakat
bahwa itu berlaku untuk kondisi 1 atm. Istilah yang lebih eksak untuk titik itu adalah
titik beku dan titik beku normal. Dalam lampiran kita dapat mempunyai harga-harga
Tf dan Tbuntuk sejumlah zat. Metode untuk menduga Tb biasanya kurang baik.
Seperti yang diungkapkan oleh Bondi sfus lebih besar bila molekul dapat memiliki
sejumlah orientasi dalam fase cair dibanding dalam wujud padatnya. Jadi sfus lebih
kecil untuk molekul sferik, kauk dan Tf lebih tinggi dari pada untuk molekul
berukuran sama yang anisometrik dan lentur. Bagaimanapun Eston mengusulkan
penggunaan metode interpolasi untuk mengkorelasikan titik-titik beku pada deret
homolog. Untuk deret seperti itu, ia membuat grafik (Tb - Tf) / Tf Vs berat molekul.
Kecuali barang kali untuk anggota pertama deret grafik tersebut menghasilkan sebuah
garis lurus (Reis, 1999: 1).
Perubahan suhu berbanding lurus dengan perubahan tekanan uap untuk konsentrasi
zat terlarut yang cukup rendah, penurunan titik beku berkaitan dengan molalitas total
melalui
DTf = Tfo - Tf = Kf ´ m
Dengan Kf adalah tetapan positif yang hanya bergantung pada sifat pelarut. Gejala
penurunan titik beku menyebabkan kenyataan bahwa air laut yang mengandung
garam terlarut memiliki titik beku yang lebih rendah daripada air segar. Larutan
garam pekat memiliki titik beku yang lebih rendah lagi. Pengukuran titik beku seperti
halnya peningkatan titik didih yang dapat digunakan untuk menentukan massa molar
zat yang tidak diketahui. Jika suatu zat berdisosiasi dalam larutan maka molalitas total
semua spesies yang ada (ionik atau netral) harus digunakan dalam perhitungan
(Norman, 2001: 167).
V. ALAT DAN BAHAN
Tabung reaksi besar
Gabus penyumbat
Termometer
Statif dan klem
Kawat pengaduk
Es
Air
Garam
Gula
Gelas piala
Stopwatch

VI. PROSEDUR PERCOBAAN


Penetapan titik beku pelarut murni
Ambil tabung reaksi besar, gabus sumbat dengan dua lubang thermometer
dengan ketelitian sampai 0,1c statif dan klem, kawat, kasa, pengaduk dan piala
600 ml, rakitlah alat seperti gambar berikut, pasangan thermometer dan kawat
pendingin yang terdiri dari es, air, dan sedikit garam.

Tambahkan tepat 5 ml air kedalam tabung, lalu pasanglah sumbat. Jepitlah


tabung seperti yang terlihat pada gambar. Pastikan permukaan cair pendingin
dalam gelas piala

Gunakan kawat pengaduk untuk mengaduk p-xylena sewaktu mendingin. Jika


temperature telah mencapai 18oC, catatlah temperature setiap 45 detik
sehingga p-xylena membeku.
Angkatlah tabung dari cairan pendingin dan biarkan mencair kembali, gunakan
tabung dan isinya untuk percobaan B.

Penetapan massa senyawa yang tidak diketahui

Tetapkan titik beku larutan p-xylena, catat temperature setiap 15 detik seperti pada
butir 3

Perhitungan
Plot kurva titik p-xylena murni. Tentukan titik beku pelarut murni.
Buat kurva titik beku larutan senyawa dalam p-xylena. Gunakan metode yang
digunakan pada latar belakang, tentukan titik beku larutan.
Tetapan titik beku molar (Kb) p-xylena = 4,3oC/menit. Cari rapan p-xylena dalam
hand book dan hitung massa pelarut yang digunakan. Hitung massa molar senyawa.
Asisten akan memberikan rumus empiris senyawa. Hitunganlah rumus molekulnya.

VII. PERTANYAAN PRAPRAKTIK DAN JAWABAN


1. Dalam 400 gr H2O dilarutkan 9 gr glukosa dan sejumlah urea. Bila titik beku
larutan -0,93. Tentukan berat urea yang ditambahkan !
2. Sebanyak 1,2 gr senyawa dengan nama C8H8O dilarutkan dalam 15 ml
sikloheksena (p = 0,799 g/ml) Hitunglah molaritas larutan ini !
Jawaban :
1. Tf = Tf pelarut – Tflarutan
= 0 – (-0,93)
= 0,93oC
Tf = m x Kf
=
gr glukosa + gr
urea x 1000 x Kf

Mr glukosa Mr
Urea p
0,93
= 9 + gr urea x 1000 x
1,86

180 60 400
0,93 =
9 + 3 gr urea x 1000 x
1,86

180 180 400


0,93 =
9 + 3 gr urea x 2,5 x 1,86
180
0,93 x 180 =
9 + 3 gr urea
4,65
36 =
9 + 3 gr urea
Gr
urea = 36 – 9

3
Gr
urea = 27 = 9 gr

3
2. m = gr x 1000
Mr v
= 1,2
gr x 1000 = 0,6061
molal
120 1,5
VIII. DATA HASIL
PENGAMATAN
Tabel 1. Menggunakan air
murni, dimulai dari suhu 21oC
Perubahan suhu (oC) Waktu (s)
21 0
18 15
11 30
11 45
8 60
7 75
5 90
5 105
5 120

Tabel 2. Menggunakan air + gula


Perubahan suhu (oC) Waktu (s)
21 0
10 15
5 30
5 45
5 60
Tabel 1. Menggunakan air murni, dimulai dari suhu 21oC

Tabel 2. Menggunakan air +


gula

IX. DATA HASIL


PENGAMATAN
Diketahui :
Massa glukosa : 1 gr
V air : 5 ml
P air : 0,966
gr m-1
Kf : 1,86

Tf = Tf pelarut – Tflarutan
=5–5
=0

m = massa air
V air
= . V air
= 0,966 . 5
= 4,83 gr
m air = 5 gr

Tf = Kf . m
= Kf . massa
glukosa . 1000
Mr glukosa
0 = 1,86 . 1 . 1000
Mr 5
Mr = 107,5

Menentukan Rumus empiris


[CH2O]n = Mr
[12+6+16]n = Mr

n = Mr = 107,5
30 30
= 3,58
=4
[CH2O]n = [CH2O]n
= Ci Hi Oi
= C4 H8 O4
Jadi rumus molekul C4 H8 O4
X. PEMBAHASAN
Dari Praktikum kali ini yang berjudul “Penetapan Masa Molar Berdasarkan
Penurunan Titik Beku” kami mendapatkan pembahasan diantaranya yaitu : bahwa
penurunan suhu pada percobaan yang kami lakukan sangat drastis atau curam, dari
yang awalnya suhunya normal, setelah dimasukkan kedalam gelas beaker yang
berukuran besar yang diisi dengan batu es. Dengan menggunakan larutan berupa air
murni, kami mendapatkan suhu yang stabil setelah waktu yang cukup lama, yaitu 5ºC.
Adapun dengan menggunakan larutan gula, kami mendapatkan suhu stabil yang sama,
akan tetapi dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini disebabkan karena larutan gula
bersifat menurunkan titik beku suatu larutan air murni. Hal ini dapat dilihat dari table
data hasil pengamatan.
Kami juga mennggunakan garam dapur yang dicampurkan dengan es batu
dalam gelas beaker, hal ini bertujuan untuk menghambat proses pencairan pada es
batu sehingga dapat membantu kami dalam melakukan percobaan ini. Pada proses
pengukuran suhu, jangan sampai thermometer menyentuh dinding tabung reaksi,
karena hal ini dapat berpengaruh terhadap hasil dari pengukuran.
Penurunan titik beku, ΔTf . bila kebanyakan larutan encer didinginkan, pelarut
murni terkristalisasi lebih dahulu sebelum ada zat terlarut yang mengkristalisasi suhu
dimana kristal-kristal pertama dalam keseimbangan dengan larutan disebut titik
bekularutan. Titik beku larutan demikian selalu lebih rendah dari titik beku
berbanding lurus dengan banyaknya molekul zat terlarut di dalam massa tertentu
pelarut, jadi penurunan titik beku ΔTf = (titik beku pelarut – titik bekularutan) = Kf .
m dimana m ialah molaritas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi 1
molal, penurunan titik beku larutan 1 molal setiap non elektrolit yang tersebut di
dalam pelarut itu ialah Kf yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal (molal
Freezmapoint consatant) pelarut itu. Nilai numerik Kf adalah khas pelarut itu masing-
masing.
Dari percoban di atas dapat kita ketahui bahwa dalam mendapatkan titik beku
dari grafik, yaitu dengan membuat grafik dari hasil percobaan sehingga kita dapatkan
grafik yang dihasilkan akan memperlihatkan penurunan suhu yang curam pada
beberapa detik diawal percobaan (1-60 detik pertama) dan perubahan suhu yang
relatif kecil pada sisa waktu percobaan (penurunan suhu yang landai). Untuk
mendapatkan titik beku pelarut atau larutan, tarik garis pada daerah curam (garis
pertama) dan landai(garis kedua) sehingga garis tersebut membagi titik suhu dengan
jarak yang sama. Perpotongan antara kedua garis tersebut merupakan titik beku
pelarut/larutan. Sedangkan pada larutan contoh perubahan suhunya juga tidak konstan
pada awal-awal pertama dan pada detik pengukuran terakhir pada pada suhu 5ºC. jadi
dapat kita simpulkan bahwa perubahan yang terjadi pada penentuan titik beku pelarut
dengan penentuan titik beku larutan contoh perubahan suhunya relatif tidak tetap dan
penurunannya juga berjalan dengan tidak konstan.

XI.KESIMPULAN
Sifat koligatif larutan adalah sifat suatu larutan yang hanya bergantung pada jumlah
partikel zat terlarut dan tidak bergantung pada sifat partikel zat terlarut tersebut.
Titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku zat terlarut.
Dengan peristiwa penurunan titik beku suatu zat atau senyawa, kita dapat mencari
massa relative suatu senyawa yaitu dengan menggunakan titik beku larutannya.
Penurunan titik beku pada larutan dipengaruhi oleh factor yang mempengaruhi
perubahan suhu baik dari system ataupun dari lingkungan.
Dalam peristiwa penurunan titik beku, garam dapur berfungsi sebagai stabilisator
suhu es dikarenakan garam dapur dapat menghambat proses pencairan es.

DAFTAR PUSTAKA
Fassenden, J, Ralph, dkk. 1993. Organik Chemistry 3rd Edition. Jakarta : Erlangga
Karyadi, Beni. 1997. Kimia Edisi II. Jakarta : Pusat perbukuan Depdikbud
Tim Penyusun. 2003. Penuntun Pratikum Kimia Edisi Dasar I. Indralaya : Universitas
Sriwijaya

Anda mungkin juga menyukai