Anda di halaman 1dari 5

1.

Hujan
(Merauke, 14 Februari 2019) Setelah Merauke diguyur hujan dengan
intensitas tinggi selama bulan Januari 2019, kini di beberapa tempat
mengeluhkan berkurangnya hujan selama februari. Menyikapi hal
tersebut LO UPSUS wilayah Merauke Sudarsono, menemui Kepala
Stasiun Klimatologi Tanah Miring Sulaiman S.Si (14/2/2019) untuk
mendengarkan penjelasan terkait hal tersebut.

Sulaiman menerangkan bahwa curah hujan dasarian I Februari secara


umum wilayah bagian Selatan Papua berada dalam kategori rendah (0-
50 mm) hingga sangat tinggi (> 300 mm). Curah Hujan kategori rendah-
menengah terjadi di wilayah Merauke, Boven Digoel, Mappi, Dogiyai
dan Deiyai, sementara daerah dengan curah hujan kategori tinggi-sangat
tinggi terjadi di wilayah Nduga dan Mimika.

Khusus untuk Merauke, Rata-rata curah hujan dasarian I Februari di


enam distrik sentra padi (Tanah Miring, Kurik, Malind, Semangga,
Merauke dan Jagebob) sangat rendah dibandingkan tiga dasarian
sebelumnya, hanya mencapai 22 mm. Penurunan curah hujan tersebut
bukan pertanda akhir musim hujan, namun karena disebabkan oleh
peningkatan tekanan udara di Papua bagian selatan.

Setelah penurunan curah hujan pada dasarian I, diperkirakan akan naik


pada dasarian II-III Februari. Sulaiman menambahkan bahwa musim
hujan di Merauke dan sekitarnya terjadi hingga bulan April-Mei 2019.
Pengamatan intensif dinamika perubahan cuaca tetap dilakukan oleh
prakirawan Stasiun Klimatologi Tanah Miring.
2.Asal Air Tanah
Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah dan
terletak pada zona jenuh air. Air tanah berasal dari permukaan tanah,
misalkan hujan, sungai, danau. Dan dari dalam bumi sendiri diamana air
tersebut terjadi bersama-sama dengan batuannya, misalkan pada waktu
terjadinya batuan endapan terdapat air yang terjebak oleh batuan
endapan tersebut. Contohnya: air fosil yang biasanya asin air volkanik –
panas dan mengandung sulfur. (klastik.wordpress.com/2008/03/27/dari-
mana-asal-air-tanah/ Pembentukan Air TanahAir tanah adalah semua air
yang terdapat di bawah permukaan tanah pada lajur/zona jenuh air (zone
of saturation). Air tanah terbentuk berasal dari air hujan dan air
permukan , yang meresap (infiltrate) mula-mula ke zona tak jenuh (zone
of aeration) dan kemudian meresap makin dalam (percolate) hingga
mencapai zona jenuh air dan menjadi air tanah. Air tanah adalah salah
satu faset dalam daur hidrologi , yakni suatu peristiwa yang selalu
berulang dari urutan tahap yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan
kembali ke atmosfer; penguapan dari darat atau laut atau air pedalaman,
pengembunan membentuk awan, pencurahan, pelonggokan dalam tanih
atau badan air dan penguapan kembali (Kamus Hidrologi, 1987). Dari
daur hidrologi tersebut dapat dipahami bahwa air tanah berinteraksi
dengan air permukaan serta komponen-komponen lain yang terlibat
dalam daur hidrologi termasuk bentuk topografi, jenis batuan penutup,
penggunaan lahan, tetumbuhan penutup, serta manusia yang berada di
permiukaan. Air tanah dan air permukaan saling berkaitan dan
berinteraksi. Setiap aksi (pemompaan, pencemaran dll) terhadap air
tanah akan memberikan reaksi terhadap air permukaan, demikian
sebaliknya. (iwankgeografi03.blogspot.com/2009/020air-tanah.html )
Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto
3.Danau kawah
Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

Segara Anak, danau kawah yang berada di kaldera Gunung Rinjani.

Kawah Putih tampak dari permukaan dasar


Danau kawah (crater lake atau volcanic lake) atau Danau
kepundan adalah massa air (danau) yang menutupi permukaan
suatu kawah gunung api. Sekitar 12% dari 700-an gunung api yang ada
di bumi kawahnya tertutupi oleh massa air. Sejumlah gunung api di
Indonesia memiliki danau kawah, yang terkenal adalah Danau
Toba, Kawah Putih di Gunung Patuha, Kawah Ijen, Kawah
Kelud, Segara Anak di Gunung Rinjani, dan kompleks Kelimutu.
Deskripsi fisik dan kimiawi[sunting | sunting sumber]
Keadaan fisik dan kimia danau kawah berbeda-beda, tergantung
aktivitas gas magma serta interaksi batuan dengan cairan antara
permukaan magma dan situasi di bawah permukaan. Perubahan-
perubahan pada kondisi danau menunjukkan dinamika dan kerumitan
proses yang terjadi di danau karena berbagai proses fisika dan kimiawi
terjadi dalam waktu bersamaan. Danau kawah berfungsi pula sebagai
"kondensator" panas dan saringan gas yang keluar dari magma.
Danau kawah yang menutupi kawah aktif biasanya memiliki pH sangat
rendah (0—2) sehingga praktis sangat beracun bagi sebagian besar
makhluk hidup. Warna danau yang dipengaruhi keluaran
gas belerang (H2S dan SO2) biasanya berwarna hijau cerah (seperti di
Kawah Ijen). Warna ini dapat berubah sewaktu-waktu menjadi kuning
atau putih, tergantung kepekatan gas yang keluar. Gas lain yang dapat
dikeluarkan kawah adalah gas klor, fluor, CO serta CO2. Komposisi gas-
gas yang terlarut atau bereaksi dengan air dan mineral mengakibatkan
perbedaan warna danau, seperti yang mudah terlihat pada kompleks
Kelimutu.
4.Pada lahan rawa pasang surut,
tinggi muka air tanah akan mengalami fluktuasi karena adanya pengaruh
pasang surut air laut sehingga komoditas tanaman yang akan
dikembangkan harus memperhatikan kemampuan adaptasi dari suatu
tanaman terhadap kedalaman muka air tanah pada lahan tersebut. Dalam
upaya untuk memaksimalkan fungsi lahan rawa pasang surut perlu
dilakukan penelitian mengenai dinamika aliran air tanah pada lahan rawa
pasang surut. Pengendalian muka air tanah pada kedalaman tertentu
dapat meningkatkan suatu produksi tanaman. Penelitian ini
menggunakan data primer berupa data muka air tanah, data muka air di
saluran, data sifat fisik tanah, temperatur serta curah hujan. Adapun data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa peta lokasi
penelitian. Analisis yang dilakukan adalah analisis hubungan antara
curah hujan,temperatur, sifat fisik tanah serta muka air di saluran
terhadap fluktuasi muka air tanah. Selain itu juga dilakukan simulasi
model fluktuasi muka air tanah yang berdasarkan pada hukum Darcy
dan persamaan kontinuitas. Temperatur pada lokasi penelitian berkisar
antara 210C – 340C, curah hujan maksimum yang terjadi sebesar 226
mm/hari serta elevasi rata-rata muka air tanah adalah +1,561 m untuk
penampang melintang dan +1,590 m untuk penampang memanjang.
Tanah pada lokasi penelitian dikategorikan pada jenis tanah lempung
dengan nilai porositas berkisar antara 66,8 - 75,5 %. Hasil analisis
menunjukkan bahwa curah hujan, temperatur, konduktivitas tanah, dan
fluktuasi muka air di saluran mempunyai pengaruh pada fluktuasi muka
air tanah. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa model dapat
menduga dengan baik kedalaman muka air tanah pada lahan rawa
pasang surut tipe C yang berada di Desa Punggur Besar, Kecamatan
Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat dengan rata-
rata nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 90,7%.

5.Pemahaman mengenai interaksi laut dan atmosfer


merupakan kunci untuk menjelaskan fenomena iklim dan cuaca di
Benua Maritim Indonesia (BMI). Fenomena seperti El Nino Souther
Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole Mode (IODM) merupakan
dua fenomena iklim global yang mempengaruhi seluruh atau sebagian
sistem iklim di BMI, yang diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera
Hindia. Dalam skala waktu yang lebih pendek fenomena Madden-Julian
Oscilation (MJO), yang berkaitan dengan adanya gerakan pusat
pembentukan awan (konveksi) dari tengah Samudera Hindia ke arah
timur menuju Samudera Pasifik, diketahui dapat membangkitkan
gelombang Kelvin di laut (oceanic Kelvin wave). Dalam berbagai teori
tentang mekanisme ENSO dan IODM, gelombang Kelvin disebutkan
dapat mempengaruhi kedalam termoklin dan memicu terjadinya
perubahan temperatur muka air laut.