Anda di halaman 1dari 7

Makalah PAI ( Sistim Politik Dalam Islam )

“SISTEM POLITIK DALAM ISLAM”

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam

DISUSUN OLEH :

2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat, hidayah dan
karunia-Nya, Sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah Agama Islam yang berjudul
“Sistem Politik Dalam Islam”.
Makalah ini ditujukan guna memenuhitugas makalah untuk presentaSI yang diberikan oleh
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, baik
dalam penyusunan maupun pengolahan data. Dan tanpa adanya bantuan dari semua pihak,
penulisan ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.
Ucapan terima kasih tidak lupa penulis sampaikan kepada kedua orang tua penulis, dosen
Pendidikan Agama Islam 1, teman-teman, anggota kelompok, dan juga semua pihak yang
telah membantu penulis menyelesaikan makalah ini, yang tidak mungkin penulis sebutkan
satu persatu namanya.
Semoga Allah SWT membalas segala jerih payah dan bantuan yang diberikan kepada
Penulis.Akhir kata perkenankanlah Penulis mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-
besarnya apabila dalam Makalah ini ada kata-kata yang kurang berkenan di hati
pembaca.Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi penyempurnaan
Makalah ini.Penulis juga berharap Semoga Makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi
Penulis dan umumnya bagi pembaca sekalian, sehingga diharapkan pengetahuan dalam
sistem politik dan demokrasi di Indonesia dapat berasaskan keislaman.

September 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… i
DAFTARISI ………………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………… 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Politik Islam………………………………………………………………. 2
B. Politik Islam 3-5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 6
B. Saran 6
DAFTAR PUSTAKA 7

PENDAHULUAN

Di antara fenomena yang disadari oleh sebagian pengkaji teori-teori politik secara umum,
adalah: adanya hubungan yang erat antara timbulnya pemikiran-pemikiran politik dengan
perkembangan kejadian-kejadian historis .Jika fenomena itu benar bagi suatu jenis atau
madzhab pemikiran tertentu, dalam bidang pemikiran apapun, hal itu bagi pertumbuhan dan
perkembangan teori-teori politik Islam amatlah jelas benarnya.Teori-teori ini terutama pada
fase-fase pertumbuhan pertamanya berkaitan amat erat dengan kejadian-kejadian sejarah
Islam.Hingga hal itu harus dilihat seakan-akan keduanya adalah seperti dua sisi dari satu mata
uang. Atau dua bagian yang saling melengkapi satu sama lain. Sifat hubungan di antara
keduanya berubah-ubah, terkadang pemikiran-pemikiran itu tampak menjadi penggerak
terjadinya berbagai kejadian, dan terkadang pula kejadian-kejadian itu menjadi pendorong
atau rahim yang melahirkan pendapat-pendapat itu. Kadang-kadang suatu teori hanyalah
sebuah bias dari kejadian yang berlangsung pada masa lalu. Atau suatu kesimpulan yang
dihasilkan melalui perenungan atas suatu pendapat yang telah diakui pada masa sebelumnya.
Atau bisa pula hubungan itu berbentuk lain.
Karena adanya hubungan antara dua segi ini, segi teoretis dan realistis, maka jelaslah masing-
masing dari kedua hal itu tidak dapat dipahami tanpa keberadaan yang lain. Metode terbaik
untuk mempelajari teori-teori ini adalah dengan mengkajinya sambil diiringi dengan realitas-
realitas sejarah yang berkaitan dengannya.Secara berurutan sesuai dengan fase-fase
perkembangan historisnya yang sekaligus merupakan runtutan alami dan logisnya.Sehingga
dapat dipahami hakikat hubungan yang mengkaitkan antara dua segi, dapat memperjelas
pendapat-pendapat, dan dapat menunjukkan bumi yang menjadi tempat tumbuhnya masing-
masing pemikiran hingga berbuah, dan mencapai kematangannya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Politik Islam


Di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah (661-850 Masehi), pemikiran politik Islam
didominasi oleh perdebatan tentang sistem pemerintah atau lebih tepatnya hubungan khalifah
dan Negara.Kedua dinasti Islam ini cenderung menganut sistem pemerintahan atau system
politik yang tidak memisahkan agama dan Negara.Bahkan agama yang direpresentasikan
oleh khalifah cenderung mensubordinasi Negara atau kehidupan politik di kedua dinasti.
Tapi, sejak kira-kira 850 M, pemikiran dan praktek politik yang dominan di dunia muslim
adalah yang memisahkan agama dan Negara. Kekuasaan dibagi antara sultan yang mengatur
urusan militer serta menegakkan hukum dan ketertiban dan ulama yang mengatur urusan
social dan keluarga.
Sejak 1000-1200 M, para pemikir muslim seperti Al-Mawardi, Nizam Al-Mulk, Al-
Ghazali,Ibn Rusyd serta Al-Razi menawarkan pemikiran politik jalan tengah atau pemikiran
politik keseimbangan. Di masa-masa tersebut, sultan dan ulama saling bekerja sama dan
saling tergantung.
Namun, pada 1220-1500 M, ide penyatuan agama dan politik kembali mendominasi
pemikiran para pemikir muslim. Pemikir muslim yang paling menonjol pada masa itu yang
menganjurkan pemerintahan berdasarkan syariat adalah Ibn Taimiyah. Dimana masa itu
disebut sebagai masa “syariat dan pedang”.
Puncak pemerintahan berdasarkan syariat berlangsung pada masa kerajaan-kerajaan modern
yang meliputi Dinasti Utsmani, Dinasti Safawi dan Dinasti Mogul.Tentu daja Dinasti
Utsmani yang berpusat di Turki menjadi dinasti paling terkemuka.Dinasti ini disebut
Khilafah Islamiyah.Namun, dinasti ini mengalami kemunduran dan dibubarkan pada tahun
1924.Kemunduran ini menandai mulai berpengaruhnya pemikiran politik Barat.Para pemikir
yang diidentifikasi sebagai pemikir liberal bermunculan. Mereka antara lain Jamaluddin Al-
Afghani dan Muhammad Abduh yang menganut paham pemisahan agama dan politik.
Berpijak pada kemajuan Barat, para pemikir muslim ini menawarkan pemikian modernisme.
Masa ini disebut sebagai abad modernisme.
Tapi kemajuan barat dewasa ini memunculkan reaksi di kalangan Islam fundamentalis.
Pemikir Islam fundamentalis paling terkemuka adalah tokoh Ikhwanul Muslim, Al-Maududi,
serta sayyid Qutb. Mereka menginginkan kehidupan masyarakat muslim dewasa ini
mencontoh kehidupan di masa Nabi atau setidaknya masa kejayaan dinasti-dinasti di masa
awal Islam. Itu berarti mereka menginginkan tidak adanya pemisahan agama dan politik.
Islam boleh jadi agama yang paling kaya dengan pemikiran politik dimana pemikiran politik
Islam terentang mulai masalah etika politik, filsafat politik, agama, hukum, hingga tata
Negara. Politik Islam juga dipengaruhi oleh pemikiran politik Plato, Aristoteles dan Iran
kuno. Tapi keragaman khazanah pemikiran politik Islam itu bisa dikatakan bermuara pada
pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Ada pemikiran para pemikir muslim yang
menginginkan pemisahan Islam dan politik sebagai pemikiran politik Islam dan pemikiran
yang menghendaki penyatuan Islam dan politik sebagai pemikiran Islam politik. Sejak
Revolusi Perancis agama Kristen relatif telah selesai membahas hubungan gereja dan Negara
bahwa gereja harus terpisah dari Negara, Islam masih berkutat pada persoalan yang satu ini
sejak zaman Nabi hingga zaman kini.
Pada zamannya, Nabi membentuk sebuah komunitas yang diyakini bukan hanya komunitas
agama, tapi juga komunitas politik. Nabi berhasil menyatukan berbagai komunitas kesukuan
dalam Islam. Di Madinah, tempat hijrah Nabi, beliau berhasil menyatukan komunitas sosial,
yakni kaum pemukim dan kaum pendatang. Lebih dari itu, di Madinah, Nabi juga berhasil
mengatur kehidupan kaum muslim, nasrani serta Yahudi dalam komunitas “Negara Madinah”
atau “masyarakat Madinah”.
Komunitas yang dibentuk Nabi di Madinah inilah yang belakangan kerap dirujuk oleh para
pemikir muslim, baik yang liberal maupun yang fundamentalis sebagai masyarakat Islam
ideal. Pemikir liberal lebih suka menyebut komunitas yang dibentuk Nabi di Madinah sebagai
“masyarakat madani”, sedangkan mereka yang fundamentalis lebih nyaman menyebut
“Negara Madinah”.

B.Politik Dalam Islam

Di dalam Islam kekuasaan politik kait mengait dengan al-hukm, perkataan al-hukm dan kata-
kata yang terbentuk dari kata tersebut dipergunakan 210 kali dalam Al-Qur‟an. Dalam bahasa
Indonesia, perkataan al-hukm yang telah-dialih bahasakan menjadi hukum intinya adalah
peraturan, undang-undang, patokan atau kaidah, dan keputusan atau vonis (pengadilan).

Politik Islam = Fiqh Siyasah


Secara harfiyah dapat diartikan sebagai mengurus, mengendali atau memimpin sebagaimana
sabda Rasulullah sallallahu„alaihi wa-sallam:

“Adapun bani israil dipimpin oleh nabi mereka”

Dalam Agama Islam, bukan masalah Ubudiyah dan Ilahiyah saja yang dibahas. Akan tetapi
tentang kemaslahatan umat juga dibahas dan diatur dalam Islam, dalam kajian ini salah
satunya adalah Politik Islam yang dalam bahasa agamanya disebut Fiqh Siyasah.
Fiqh Siyasah dalam konteks terjemahan diartikan sebagai materi yang membahas mengenai
ketatanegaraan Islam (Politik Islam). Secara bahasa Fiqh adalah mengetahui hukum-hukum
Islam yang bersifat amali melalui dalil-dalil yang terperinci. Sedangkan Siyasah adalah
pemerintahan, pengambilan keputusan, pembuatan kebijaksanaan, pengurusan, dan
pengawasan.
Sedangkan Ibn Al-Qayyim mengartikan Fiqh Siyasah adalah segala perbuatan yang
membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemudharatan, serta
sekalipun Rasullah tidak menetapkannya dan bahkan Allah menetapkannya pula.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Fiqh Siyasah adalah hukum yang mengatur
hubungan penguasa dengan rakyatnya. Pembahasan diatas dapat diartikan bahwa Politik
Islam dalam kajian Islam disebut Fiqh Siyasah.

Fiqh Siyasah ini menurut Pulungan (2002, hal:39) terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. Siyasah Dusturiyah
Siyasah Dusturiyah menurut tata bahasanya terdiri dari dua suku kata. Arti Siyasah dapat kita
lihat di pembahasan diatas, sedangkan Dusturiyah adalah undang-undang atau
peraturan.Secara pengertian umum Siyasah Dusturiyah adalah keputusan kepala negara
dalam mengambil keputusan atau undang-undang bagi kemaslahatan umat.Sedangkan Ibn Al-
Qayyim mengartikan Fiqh Siyasah adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih
dekat kepada kemaslahatan dan lebih jauh dari kemudharatan, serta sekalipun Rasullah tidak
menetapkannya dan bahkan Allah menetapkannya pula.

2. Siyasah Maliyah
Arti kata Maliyah bermakna harta benda, kekayaan, dan harta. Oleh karena itu Siyasah
Maliyah secara umum yaitu pemerintahan yang mengatur mengenai keuangan negara.
Djazuli (2003) mengatakan bahwa Siyasah Maliyah adalah hak dan kewajiban kepala negara
untuk mengatur dan mengurus keungan negara guna kepentingan warga negaranya serta
kemaslahatan umat. Lain halnya dengan Pulungan (2002, hal:40) yang mengatak bahwa
Siyasah Maliyah meliputi hal-hal yang menyangkut harta benda negara (kas negara), pajak,
serta Baitul Mal.Dari pembahsan diatas dapat kita lihat bahwa siyasah maliyah adalah hal-hal
yang menyangkut kas negara serta keuangan negara yang berasal dari pajak, zakat baitul mal
serta pendapatan negara yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

3. Siyasah Dauliyah
Dauliyah bermakna tentang daulat, kerajaan, kekuasaan, wewenang, serta kekuasaan.
Sedangkan Siyasah Dauliyah bermakna sebagai kekuasaan kepala negara untuk mengatur
negara dalam hal hubungan internasional, masalh territorial, nasionalitas, ekstradisi tahanan,
pengasingan tawanan politik, pengusiran warga negara asing. Selain itu juga mengurusi
masalah kaum Dzimi, perbedaan agama, akad timbal balik dan sepihak dengan kaum Dzimi,
hudud, dan qishash (Pulungan, 2002. hal:41).
Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa Siyasah Dauliyah lebih mengarah pada pengaturan
masalah kenegaraan yang bersifat luar negeri, serta kedaulatan negara. Hal ini sangat penting
guna kedaulatan negara untuk pengakuan dari negara lain.

4. Siyasah Harbiyah
Harbiyah bermakna perang, secara kamus Harbiyah adalah perang, keadaan darurat atau
genting. Sedangkan makna Siyasah Harbiyah adalah wewenang atau kekuasaan serta
peraturan pemerintah dalam keadaan perang atau darurat.
Dalam kajian Fiqh Siyasahnya yaitu Siyasah Harbiyah adalah pemerintah atau kepala negara
mengatur dan mengurusi hala-hal dan masalah yang berkaitan dengan perang, kaidah perang,
mobilisasi umum, hak dan jaminan keamanan perang, perlakuan tawanan perang, harta
rampasan perang, dan masalah perdamaian (Pulungan, 2002. hal:41).
Konsekuensi dari asas bahwa hubungan Internasional dalam Islam adalah perdamaian saling
membantu dalam kebaikan
BAB III
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah kami kaji, kami dapat menyimpulkan :
1. Semua sumber politik islam yang kita pelajari adalah bersumber dari Alquran dan Hadist.
2. Politik islam dipengaruhi pemikiran politik seperti etika politik, filsafat politik, agama,
hukum, hingga tata Negara. bisa dikatakan bermuara pada pemikiran tentang hubungan
agama dan negara.
3. Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi dan didomisili oleh orang-orang
Islam yang menahami dan mengamalkan Islam secara baik, yang merupakan hasil penerapan
dari siyasah.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka saran yang dapat disampaikan
adalah sebagai berikut:
1. Langkah politik yang diambil kalangan Islam dalam menanggapi perubahan situasi
politik nasional era reformasi memang tidak berbeda jauh dengan pendahulunya. Kalangan
Islam mampu berdampingan dengan demokrasi sebagai bentuk sistem politik modern. Tetapi
cukup mengecewakan keadaan kalangan Islam saat ini lebih banyak mengikutialur
perpolitikan ketimbang pembuat alur. Selain itu, pertimbangan kekuatan politik di parlemen
menjadi tolok ukur untuk menentukan langkah-langkah perjuangan penegakan syariat. Bila
posisi politik di MPR mendukung (Islam sebagai mayoritas), wakil-wakil gerakan Islam atau
kalangan Islam akan membuat aturan-aturan perundang-undangan yang sesuai dengan ajaran
Islam. Kalau tidak, mereka tidak memaksakan dan akan menerimaaturan walaupun berlainan
dengan ajaran agamaIslam. Sehingga sangat mengesankan sikap pragmatisme kalangan
Islam.
2. Umat Islam di Indonesia seharusnya berani untuk mengambil alih pemerintahan sehingga
nilai-nilai Islam akan terwujud di masyarakat Indonesia sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

 Erwina, Brigita Win. 2010. Makalah Studi Kepemimpinan Islam Demokrasi Dalam
Perspektif Islam. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Yogyakarta
 AlFajri Asbahri 2010. Makalah Sistem Politik dan Demokrasi dalam islam. Institut
Teknologi Bandung. Bandung
 Black,Antony.2001.The History of Islamic Political Thought : From the Prophet to the
Present.Edinburgh University Press.
 Ali, Abdullah dan Mariana Arietyawati.2006.Terjemahan : Pemikiran Politik Islam dari
Masa Nabi hingga Masa Kin .Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.
 Erwina, Brigita Win. 2010. Makalah Studi Kepemimpinan Islam Demokrasi Dalam
Perspektif Islam. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Yogyakarta
 http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/agama_islam/bab11-
agama_islam_dan_politik.pdf
 kamusbesarbahasaindonesia.org
http://kumpulanmakalahjurusanpendidikan.blogspot.co.id/2015/04/makalah-pai-sistim-
politik-dalam-islam.html