Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI KARAKTER TAKSONOMI INVERTEBRATA

Oleh:
Nama : Annanda Nuranisah
NIM : B1A017146
Rombongan : VII
Kelompok :1
Asisten : Angellina

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Klasifikasi merupakan penggolongan makhluk hidup ke dalam kategori


golongan yang sesuai. Pengelompokan ini disusun secara runtut sesuai dengan tingkatan
atau hirarki, yaitu mulai dari yang lebih rendah tingkatannya hingga ke tingkatan yang
lebih tinggi. Dalam Klasifikasi ada yang diesbut sebagai karakter taksonomi yaitu,
Anggota dari masing-masing kelompok memiliki sifat atau ciri khas tertentu yang
membedakan dengan anggota dari kelompok lainnya. Karakter taksonomi meliputi
karakter kualitatif (diekspresikan dengan gambar atau kata-kata), misalnya warna dan
bentuk, dan karakter kuantitatif (dapat dihitung atau diukur), misalnya jumlah kaki dan
jari (Radiopoetro, 1991). Sedangkan menurut Rideng (1989) klasifikasi adalah
pembentukan takson-takson dengan tujuan mencari materi keseragaman dalam
keanekaragaman.
Para ahli memakai suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan
ataupun hewan yang memiliki sebuah persamaan ciri-ciri. Kelompok-kelompok hewan
tersebut kemudian dipasangkan dengan kelompok hewan lainnya yang memiliki
persamaan dalam beberapa kategori. Pengenalan klasifikasi dilakukan oleh John Ray,
namun ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani
berkebangsaan Swedia yang dikenal pada masa sekarang dengan Carolus Linnaeus dan
sistem klasifikasinya disebut klasifikasi sistem alami (Brotowidjoyo, 1990).
Hewan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu hewan vertebrata dan
invertebrata. Semua hewan yang tidak memiliki tulang belakang digolongkan ke dalam
hewan avertebrata. Hewan avertebrata pertama kali dikelompokan berdasarkan
banyaknya sel penyusun tubuh (uniseluler atau multiseluler). Hewan uniseluler atau
protozoa dibedakan atas cara dan lokomosinya yaitu menggunakan silia, flagella atau
pseudopodia. Pembedaan hewan yang lainnya dilakukan berdasarkan kesimetrian
tubuhnya, yaitu simetri radial atau bilateral, berdasarkan bentuk tubuh (bulat,
memanjang dan elips), ada tidaknya insang, segmen, cangkang, antenna dan ciri-ciri
pembeda lainnya (Darbohoesodo, 1976).
Ilmu yang mempelajari prinsip dan cara klasifikasi makhluk
hidup disebut taksonomi atau sistematik. Taksonomi adalah suatu cabang ilmu dari
biologi yang sangat dipergunakan dalam kehidupan. Menurut Setyanto et al (2016),
Taksonomi merupakan cabang ilmu Biologi yang mempelajari penggolongan atau
sistematika makhluk hidup. Taksonomi biologi mungkin tampak ilmu yang
sederhana, namun perlu mempertimbangkan kesamaan morfologi antar organisme
yang memiliki struktur sama. Taksonomi biologi berperanuntuk memilah suatu
spesies ke dalam suatu kelompok tertentu pada tingkatan klasifikasi, dan
menyediakan prinsip untuk mengklasifikasikan taksa ke taksa yang lebih spesifik.
Keanekaragaman sifat dan ciri yang dimiliki suatu makhluk hidup sesungguhnya
menggambarkan keanekaragaman potensi dan manfaat yang dapat digali. Jadi,
taksonomi adalah pengetahuan yang mencakup kegiatan mengenal karakter,
mengklasifikasi, dan memberi nama. Kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah
membutuhkan tenaga taksonomi yang handal dalam jumlah tidak sedikit untuk
mengungkapkan khasanah yang dimiliki Indonesia (Suhardjono, 2006).

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Identifikasi Karakter Taksonomi Invertebrata antara lain


:
1. Praktikan mengetahui pengertian dan beberapa contoh dari karakter taksonomi
hewan invertebrata.
2. Praktikan mengetahui karakter morfologi dari beberapa jenis hewan invertebrata.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut King et al., (1975), karakter taksonomi meliputi karakter


morfologi, etiologi, ekologi, fisiologi dan biogeografi. Taksonomi dari suatu kelompok
tertentu diwujudkan melalui tiga tahap yaitu alfa, beta, dan gama (Adisoemarto, 2008).
Alfa taksonomi apabila kajiannya pada taraf deskripsi seperti morfologi, anatomi,
sitologi, dll. Alfa taksonomi mempelajari tentang karakterisasi, deskripsi dan penamaan
suatu spesies, baik yang masih hidup maupun dalam bentuk fosil. Tugas suatu alfa
taksonomis adalah mendeskripsikan, memberi nama, merevisi dan mencari sinonim dari
suatu taksa. Beta taksonomi tingkat kajiannya sampai pada sistematika-relationships
seperti DNA, gen, isozim, dll. Beta taksonomi terdiri atas dua kegiatan, yaitu klasifikasi
dan sistematik.Kegiatan klasifikasi menempatkan suatu spesies ke dalam kategori taksa,
sedangkan kegiatan sistematik membandingkan antar taksa, termasuk hubungan
kekerabatan (filogeni). Gamma taksonomi tingkat kajiannya sudah sampai pada evolusi
seperti molekuler dan filogenetika(Radiopoetro, 1991).
Pengelompokan dalam Filum Invertebrata masih diperdebatkan, karena adanya
ketidak teraturan dalam menentukan dasar pengelompokan. Ketidak teraturan tersebut
adalah spesies yang struktur tubuhnya lebih lengkap belum tentu memiliki susunan
kimia tubuh yang lebih lengkap atau bisa saja terjadi terjadi sebaliknya.Pengelompokan
Filum pada Zoologi Invertebrata dapat pula didasarkan pada sistem klasifikasi filogeni
dengan metode kladistik. Metode kladistik pada unit materi Zoologi Invertebrata yang
memiliki jumlah persamaan ciri sama atau lebih banyak dari pada jumlah perbedaan ciri
Pratt (1935) berpendapat bahwa, hewan invertebrata dapat dikelompokkan
berdasarkan kontruksi tubuh (susunan tubuh), simetri tubuh, rongga tubuh, jumlah
lapisan tubuh, dan bukaan pertama pada masa embrional. Berdasarkan konstruksi
tubuhnya, Struktur tubuh hewan padat berupa :
1. Konstruksi seluler, yaitu konstruksi tubuh hewan yang paling sederhana. Organisme
dengan konstruksi seluler mempunyai sel-sel yang sebagian besar independen satu
sama lain dan hanya disatukan secara longgar. Sel-sel ini tidak membentuk jaringan
atau organ, sehingga organisme dengan konstruksi tubuh seluler tidak mempunyai
mulut, sistem pencernaan atau sistem peredaran darah.
2. Konstruksi jaringan, merupakan konstruksi tubuh yang lebih kompleks dari
konstruksi seluler karena sudah terdapat hubungan kerjasama antar sel untuk
membentuk jaringan.
3. Konstruksi organ, yaitu konstruksi tubuh yang paling kompleks. Organisme dengan
konstruksi tubuh organ memiliki sistem organ yang telah terkoordinasi dengan baik.
Menurut King et al(1975), simetri merupakan keadaan tubuh hewan invertebrata
yang bila dibagi oleh suatu bidang tertentu akan menghasilkan dua belahan, yang satu
merupakan bayangan cermin dari yang lain. Ada tiga macam simetri tubuh pada hewan
invertebrata diantaranya :
1. Simetri radial adalah tipe simetri di mana tubuh secara mendasar berbentuk silindris
dengan bagian-bagian tubuh secara radial mengelilingi satu sumbu pusat tunggal,
yang mengarah ke kedua ujung. Satu irisan jika diarahkan ke setiap dua radius,
maka irisan itu akan membagi tubuh menjadi dua tengahan yang serupa.
2. Simetri bilateral adalah tipe simetri tubuh yang jika dibagi dua menurut arah antero-
posterior akan dihasilkan paruhan yang sama seperti suatu benda dengan
bayangannya di cermin.
3. Simetri biradial adalah suatu tipe simetri kombinasi antara simetri bilateral dan
simetri radial. Bentuk badan yang bulat dapat dibagi menurut jari-jari dan dibelah
dua.
Berdasarkan rongga tubuhnya, King et al(1975) menggolongkan hewan
menjadi :
1. Aselomata, yaitu hewan yang tidak memiliki rongga tubuh, karena hanya memiliki
2 lapisan tubuh (ekstoderm dan endoderm). Contohnya adalah filum
Platyhelmintes.
2. Pseudoselomata, yaitu hewan yang memiliki rongga semu, karena hanya sebagian
saja lapisan tubuhnya yang dibatasi lapisan mesoderm.
3. Selomata, yaitu hewan yang memiliki rongga tubuh yang nyata, karena seluruh
tubuh dibatasi lapisan mesoderm. Minimal memiliki rongga gastrovasculer yang
berperan sebagai sistem pencernaan.
Menurut King et al (1975), lapisan tubuh pada hewan dapat dibedakan menjadi
lapisan ekstoderm (lapisan luar), endoderm (lapisan dalam), dan mesoderm (lapisan
tengah). Berdasarkan lapisan tubuh yang menyusunnya pada setiap individu, hewan
dibedakan menjadi :
1. Diplobalastik, yaitu hewan yang hanya memiliki dua lapisan tubuh yaitu ekstoderm
dan endoderm.
2. Triploblastik, yaitu hewan yang memiliki tiga lapisan tubuh yaitu ekstoderm,
mesoderm, dan endoderm.
Berdasarkan pola pembentukan embrio di awal pembentukan janin, menurut
Huffaker & Gutierrez (1999), menggolongkan hewan menjadi :
1. Deuterostom, yaitu perkembangan dengan pembentukan anus dahulu kemudian
diikuti pembentukan mulut.
2. Protostom, yaitu perkembangan hewan dengan pembentukan mulut dahulu
kemudian diikuti pembentukan anus.
Hewan invertebrata adalah hewan yang tidak memilik tulang belakang, serta
memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan
kelompok hewan bertulang belakang, termasuk pada beebrapa sistem tubuhnya yaitu
sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah, serta beberapa sistem metabolisme
lainnya. .Hewan invertebrata dikelompokkan menjadi hewan hewan berpori, hewan
berongga, cacing, hewan lunak, hewan berkulit duri, dan hewan berkaki beruas-ruas
(Djuhanda, 1982). Moluska merupakan contoh hewan yang memiliki tubuh lunak,
simetri bilateral, tidak bersegmen, hewan selomata; biasanya memiliki mantel, kaki
ventral, kepala anterior, dan punggung visceral massa. Hewan invertebrata lain
contohnya adalah arthropoda yaitu merupakan hewan simetris bilateral, triploblastik,
tubuh ditutupi dengan kutikuta tebal yang membentuk eksoskeleton, tubuh
tersegmentasi biasanya dipasangkan pelengkap lateral dan bersendi, hewan dengan
selom yang tereduksi dan termodifikasi. Serangga adalah invertebrata yang dengan
udara sebagian besar di daratan dan arthropoda jarang air.siklus hidup mereka di habitat
perairan termasuk telur tahap kemudian larva; nimfa yang merupakan tahap tanpa
metamorfosis seperti capung, atau dengan hemi-metabolisme metamorfosis. Kemudian
tahap dewasa biasanya hidup di permukaan air atau tanaman air atau terbang di sekitar
daratan (Hasim & Al-Taee, 2015). Menurut Mayer-Rochow (2017), serangga dan
invertebrata lainnya, sejak zaman dahulu, tidak hanya digunakan sebagai makanan,
tetapi juga berperan penting dalam perawatan penyakit dan disfungsi (permasalahan)
lainnya.
Hewan invertebrata hidup di berbagai kondisi alam ada (berbagai habitat) yang
di darat ataupun yang di air. Sama seperti hewan invertebrata yang hidup di darat
menurut Desai dan Rita (2016), Makhluk hidup invertebrata makro air adalah binatang
kecil yang hidup di antara batu, batang kayu, sedimen dan tanaman air didasar sungai,
sungai dan danau. Mereka cukup besar untuk dilihat dengan mata telanjang (makro) dan
tidak memiliki tulang punggung.
Beberapa kelas dalam hewan invertebrata diketahui memiliki segmen-segmen
pada tubuhnya yang disebut metamer. Berdasarkan pembentukan pada metameter,
dikenal juga istilah metamerisme dan tagmatisasi. Metamerisme adalah suatu gejala
tubuh hewan invertebrata yang terdiri atas satu seri segmenatau somit yang tersusun
secara linier sepanjang tubuh anterior – posterior. Tagmatisasi adalah suatu pola tubuh
hewan invertebrata matamerik dimana beberapaatau banyak segmennya berfungsi
menyusun beragam fungsi (disebut tagma).Setiap tagma, baik secara struktural dan
fisiologis tentu berbeda-beda, tagma kepala berfungsi dalam makan atau mengkonsumsi
makanan, tagma thorax berfungsi dalam lokomosi, dan tagma abdomen berfungsi dalam
reproduksi (Huffaker & Gutierrez, 1999).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan pada acara praktikum identifikasi dan klasifikasi hewan
avertebrata adalah baki preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop
stereo, kamera, sarung tangan karet (gloves), masker, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan adalah beberapa spesimen hewan avertebrata dan alkohol
70%.
B. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah:


1. Spesimen disiapkan.
2. Karakter pada beberapa spesimen hewan yang telah disiapkan diamati.
3. Identifikasi beberapa hewan invertebrata yang telah disiapkan berdasarkan karakter
morfologinya dan hasil identifikasi dibuat deskripsinya.
4. Identifikasi dan determinasi hewan invertebrata dilakukan berdasarkan kunci
identifikasi yang telah disiapkan.
5. Tabel pengamatan karakter dan identifikasi dilengkapi.
6. Beberapa hewan invertebrata dikelompokkan dan diklasifikasi.
7. Laporan sementara hasil praktikum dibuat.

DAFTAR REFERENSI
Adisoemarto, S., 2008. Taksonomi: Asas, Konsep dan Metode. Lampung: Penerbit
Universitas Bandar Lampung
Brotowidjoyo., D.M., 1990. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Darbohoesodo, R.B., 1976. Penuntun Praktikum Taksonomi Avertebrata. Purwokerto:
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.
Desai, P & Rita, K., 2016. Employing “Macroinvertebrate assemblage”, to study the
Preliminary biotic integrity of freshwater ecosystem with reference to taxa
tolerance values, and, Matrices. International Journal of Advanced Research. 4(7),
pp 134 – 138.
Djuhanda, T. 1982. Anatomi dari 4 Spesies Hewan Vertebrata. Bandung: Armico.
Hasim, N. H & Al-Taee, M. M. 2015. Biodiversity of Benthic Macroinvertebrates in Al-
Razzaza Lake at Karbala Province/ Iraq.International Journal of Advanced
Research. 3(1), pp. 423-427.
Huffaker, C. B., & Gutierrez, A. P. 1999.Ecological Entomology 2nd Edition. United
Kingdom: John Willey and Sons Ltd,.

King, B., M. Woodcock, & E.C. Dickinson. 1975. A Field Guide to the Birds of South-
East Asia. London: Collins.
Latoantja, A. S., Hasriyanti, & Anshary, A. 2013. Inventarisasi Arthropoda pada
Permukaan Tanah di Pertanaman Cabai (Capsicum Annum L.). Jurnal Agrotekbis.
1(5), pp. 406-412.
Meyer-Rochow, V.B., 2017. Therapeutic arthropods and other, largely terrestrial, folk-
medicinally important invertebrates: a comparative survey and review. Journal of
ethnobiology and ethnomedicine, 13(1), p.9.
Pratt, H. S. 1935. A Manual of the Common Invertebrates Animals. New York:
McGraw-Hill Book Company Inc.
Radiopoetro. 1991. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Rideng, I.M., 1989. Taksonomi Tumbuhan Biji. Jakarta: Universitas Udayana, DIKTI.
Rusyana, A., 2017. Pengaruh Kemampuan Brepikir Logis, Berpikir Kritis dan Berpikir
Kreatif Terhadap Pemahaman Konsep Zoologi Invertebrata. Jurnal Wahana
Pendidikan, 4(1), pp.113-121.
Setyanto, H.A., Amin, M. and Lestari, U., 2016. Pengembangan Buku Suplemen
Pendekatan Molekular Taksonomi Hewan Vertebrata. Jurnal Pendidikan: Teori,
Penelitian, dan Pengembangan, 1(6), pp.1180-1184.
Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. Jakarta: UI-Press.
Suhardjono, Y. R. 2006. Status Taksonomi Fauna di Indonesia dengan Tinjauan Khusus
pada Collembola. Zoo Indonesia. 15(2), pp. 67-86.