Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS

PENILAIAN PAKAN UNGGAS

OLEH :

KELOMPOK 5 KELAS E

M RAKA ALFAZRIO 200110170090


DHEA ANISA F.A. 200110170095
ARI RASWATI 200110170163
HILMAN ISMAIL 200110170165
BENITA NADIRA R. 200110170277
BILLY SATYA ABADI 200110170283

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS


FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan Kepada Allah Subhanallahu Wa Ta’ala

yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat

menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Produksi Ternak Unggas yang berjudul

“Pakan”. Laporan akhir ini juga disusun dalam rangka memenuhi tugas Praktikum

Produksi Ternak Unggas Program Studi Fakultas Petenakan Universitas

Padjadjaran.
Laporan akhir ini berisikan pembahasan mengenai apa saja yang peenyusun

lakukan selama praktikum, didalamnya penyusun mencoba untuk menjelaskan

hasil dari pengamatan selama praktikum yang dibandingkan dengan sumber-

sumber yang relevan sehingga diharapkan laporan ini dapat bermanfaat khususnya

bagi penyusun, umumnya bagi pembaca.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ir. Dani Garnida, MS.. selaku

dosen pengampu mata kuliah produksi ternak unggas serta Tim Asisten

Laboratorium Produksi Ternak Unggas yang telah memberikan bimbingannya.


Terlepas dari semua itu, penyusun menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya, oleh karena itu

kami mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun agar

kedepannya menjadi lebih baik. Akhir kata semoga laporan akhir praktikum ini

dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Sumedang, 4 Mei 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Bab Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................ iii

DAFTAR TABEL ........................................................................ v

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................... vi

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................ 1
1.3 Maksud dan Tujuan ................................................................. 2
1.4 Manfaat Praktikum ................................................................. 2
1.5 Waktu Dan Tempat ................................................................ 2

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Bahan Pakan......................................................... 3
2.2 Evaluasi Bahan Pakan Unggas ............................................... 3
III ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat ......................................................................................... 6


3.2 Bahan ...................................................................................... 6
3.3 Prosedur Kerja ....................................................................... 7

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan ................................................................... 11


4.2 Pembahasan ............................................................................ 12
4.2.1 Pakan Unggas ................................................................ 12
4.2.2 Pakan Sumber Protein ................................................... 19
4.2.3 Pakan Sumber Energi .................................................... 19
4.2.4 Pakan Sumber Mineral .................................................. 19
4.2.5 Feed Additive dan Feed Suplement .............................. 19

iii
Bab Halaman

V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan............................................................................. 28
5.2 Saran ....................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ................................................................. 29

LAMPIRAN ................................................................................ 31

iv
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Tabel Hasil Pengamatan Pakan ..................................................... 11


2 Tabel Hasil Pengamatan Pakan Mikroskopis ................................ 11

v
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Distribusi Penugasan ..................................................................... 31

vi
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Makan merupakan aktifitas yang dilakukan setiap makhluk hidup

untuk mempertahankan kehidupannya. Ternak membutuhkan pakan untuk

memproduksi dan mempertahankan hidupnya, semakin banyak pakan yang masuk

maka semakin banyak juga feses yang keluar. Ternak dibagi menjadi dua menurut

system pencernaannya, yaitu ternak monogastrik dan poligastrik. Unggas

merupakan ternak monogastrik dimana pakan yang diberikan pun berbeda dengan

ternak poligastrik. Unggas tidak dapat mencerna serat kasar yang masuk kedalam

sistem pencernaannya, dengan begitu pakan yang diberikan pun harus lah rendah

serat kasar, salah satu contoh unggas adalah ayam.

Pakan yang diberikan kepada ayam haruslah tinggi nutrisi namun rendah

akan serat kasar, dengan mengetahui berbagai macam jenis pakan yang dapat

diberikan kepada ayam maka produktivitas pada ayam akan menjadi tinggi,

campuran beberapa jenis pakan disebut ransum. Nutrisi yang terdapat dalam

ransum, harus memenuhi kebutuhan hidup ayam tersebut selama 24 jam, dengan

begitu ayam akan memperoleh pasokan nutria untuk hidup dan memiliki nutrisi

yang cukup untuk produksi.

Terdapat berbagai jenis pakan yang dapat dikonsumsi oleh ayam, dengan

nilai nutrisi yang berbeda satu dengan lainnya, maka dari itu mempelajari berbagai

jenis pakan akan menjadi salah satu faktor terpenting untuk meningkatkan

produktivitas dari ayam tersebut.


2

1.2 Identifikasi Masalah

(1) Bagaimana cara menggolongkan bahan pakan unggas?

(2) Bagaimana cara pengujian dasar kualitas pakan unggas secara fisik

dan mikroskopis?

(3) Apa saja zat antinutrisi yang terdapat dalam bahan pakan?

1.3 Maksud dan Tujuan


(1) Dapat mengetahui penggolongan bahan pakan unggas.

(2) Dapat mengetahui pengujian dasar kualitas pakan unggas secara fisik

dan mikroskopis.

(3) Dapat mengetahui apa saja zat antinutrisi yang

terdapat dalam bahan pakan.

1.4 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah praktikan

mampu menjabarkan ciri ciri dari berbagai macam bahan pakan

unggas dan zat antinutrisi yang terdapat di dalam tiap tiap bahan

pakan

1.5 Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Senin,29 April 2019
Waktu : 15.00-17.00 WIB

Tempat : Laboratorium Produksi Ternak Unggas


Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
3

II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Bahan Pakan

2.1.1 Definisi Bahan Pakan

Pakan adalah bahan makanan yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna, dan

diserap dengan baik secara keseluruhan atau sebagian dan tidak menimbulkan

keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang mengkonsumsinya

(Kamal, 1998). Sedangkan ransum adalah campuran beberapa bahan pakan yang

disusun sehingga nutrisi yang dikandungnya seimbang dan sesuai dengan

kebutuhan nutrisi ternak (Indah dan Sobri, 2001). Dalam memilih bahan pakan bagi

ternak khususnya unggas, bahan pakan tersebut harus memenuhi syaratnya yaitu

(Subekti, 2009) :

1. Tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia

2. Ketersediannya menentu (kontinyu) sehingga kuantitas tinggi

3. Harga murah

4. Kualitas tinggi

Berdasarkan kandungan zat gizinya bahan pakan untuk unggas dapat

dikelompokkan dalam 6 kelompok yaitu (Subekti, 2009) :

1. Pakan sumber energi yaitu pakan yang mengandung protein kurang dari
20%, serat kasar kurang dari 18% dan kandungan dinding sel kurang dari

39%, seperti contohnya tepung jagung, dedak padi, dedak gandum, dsb.

2. Pakan sumber protein yaitu pakan yang mengandung protein lebih dari 20%,

contohnya bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, dsb.

3. Sumber mineral yaitu pakan yang mengandung mineral tinggi seperti

tepung tulang, grit, tepung kerang, dsb.


4

4. Sumber vitamin yaitu pakan yang mengandung vitamin yang tinggi seperti

minyak ikan dsb.

5. Feed supplement yaitu bahan pakan yang ditambahkan dalam jumlah sedikit

yang berfungsi untuk melengkapi kandungan nutrisi yang kurang, contohnya

asam amino, vitamin, dsb.

6. Feed additive adalah bahan yang ditambahkan dalam jumlah sedikit untuk

tujuan tertentu seperti menyembuhkan penyakit, meningkatkan daya tahan

tubuh, dsb. Contohnya adalah antibiotik, antioksidan, dsb. Fitofarmaka

merupakan bahan alami yang dijadikan obat dan dicampurkan dalam

ransum dan menjadi salah satu dari contoh feed additive seperti jahe dan

kunyit.

2.1.2 Bahan-Bahan Pakan Konvensional

Bahan pakan konvensional merupakan bahan pakan yang umum digunakan

dalam formulasi pakan dan sudah banyak diperdagangkan. Bahan pakan ini

merupakan komoditas perdagangan industri pakan dan tersedia di poultry shop dan

toko obat obatan ternak yang tersebar di berbagai wilayah, sehingga peternak

mudah mendapatkan pakan dan bahan-bahan pakan konvensional tersebut.

Kuantitas, kualitas dan kontinuitas bahan pakan konvensional relatif stabil,

walaupun harganya mahal dan tidak stabil (litbang Pertanian, 2011).

2.1.3 Bahan-Bahan Pakan Inkonvensional

Bahan-bahan pakan inkonvensional adalah bahan pakan yang tidak lazim

digunakan, ketersediaannya masih terbatas dan direkomendasikan dapat

dimanfaatkan untuk formulasi pakan, karena mempunyai kandungan nutrisi yang

baik untuk pertumbuhan dan produksi ternak. Beberapa aspek yang perlu

diperhatikan dalam menggunakan bahan pakan inkonvensional adalah sifat dan


5

karakteristik bahan pakan tersebut, seperti secara fisik tidak terlihat ada perubahan

warna dan bau yang menyengat, segar, tekstur lembut, sedangkan secara kimia

untuk mengetahui kandungan zat-zat nutrisi dan zat anti nutrisinya perlu dilakukan

analisa laboratorium pada instansi yang mempunyai fasilitas terakreditasi maupun

belum terakreditasi (litbang Pertanian, 2011).

2.2 Evaluasi Bahan Pakan Unggas

2.2.1 Teknik Evaluasi Pakan Unggas

Untuk menggunakan sutau bahan sebagai bahan pakan, maka bahan tersebut

seaiknya dievaluasi terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan campuran

ransum atau sebagai bahan ransum. Penggunaan suatu bahan pakan sebagai pakan

disesuaikan dengan anatomi alat pencernaan ternak yang mau diberi makan. Oleh

sebab itu, bahan pakan harus betul-betul dievaluasi dengan baik agar ternak dapat

memanfaatkan pakan tersebut secara efisiensi.

Jenis evaluasi yang dapat dilakukan adalah evaluasi secara fisik, biologis,

dan ekonomi. Disamping evaluasi tersebut, perlu juga dlakukan survey ketersediaan

bahan pakan sepanjang tahun dan lokasi sumber bahan pakan tersebut

(Mukodiningsih dkk, 2014).

(1) Evaluasi bahan pakan secara fisik

Merupakan analisis pakan dg cara melihat keadaan fisiknya. Pengujian

secara fisik bahan pakan dapat dilakukan baik secara langsung (makroskopis)

maupun dengan alat bantu (mikroskopis). Pengujian secara fisik disamping

dilakukan untuk mengenali bahan pakan secara fisik juga dapat untuk

mengevaluasi bahan pakan secara kualitatif.

Evaluasi secara fisik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : secara makro
6

dan mikro. Evaluasi secara makro diidentifikasi mengenai struktur, warna, dan rasa

dari bahan tersebut. Hal tersebut dilaksanakan, karena erat hubungannya dengan

palatabilitas ternak dan daya cerna. Evaluasi secara mikro dilaksanakan dengan cara

menggunakan alat mikroskop. Dengan menggunakan mikroskop dapat dibedakan

partikel berbagai bahan waluapun telah digiling secara halus. Dengan

menggunakan mikroskop dapat dideteksi adanya pemalsuan mengenai bahan

pakan. Mislanya, pemalsuan dedak halus dapat diketahui dengan menambahkan

sekam yang telah digiling halus.

Karakteristik yg mudah diamati dari makanan ternak yg bernilai tinggi

adalah:

(a) Telah bersih, bau asam laktat yang cukup menyenangkan, jelasnya kurang

kotor atau bau asam butyric dari makanan ternak yg tidak baik.

(b) Mempunyai bau yang menyenangkan – tidak pahit atau asam

(c) Tidak berjamur, apek atau berlumpur

(d) Sama dalam kelembaban dan warna. Umumnya makanannya berwarna

hijau kecoklat-coklatan adl baik, makanan ternak yg berwarna tembakau

coklat atau coklat gelap menunjukkan panas yg berlebihan, dan makanan

ternak hitam

(2) Evaluasi bahan pakan secara kimiawi

Teknik evaluasi pakan secara kimiawi umumnya menggunakan metode

pendugaan yg disebut dengan analisa proksimat untuk menduga kandungan nutrien

dari suatu bahan pakan. Jika suatu bahan pakan memiliki nilai yg lebih rendah atau

lebih tinggi dr standar yg telah ditentukan maka perlu diwaspadai adanya tindak

pemalsuan yg terjadi.

Evaluasi bahan pakan secara kimiawi dapat dilakukan dengan cara :


7

(a) Colorimetry dan Spectrophotometry

Colorimetry dan Spectrophotometry adalah analisis kimia dimana cahaya

melewati larutan untuk menghasilkan informasi tentang konsentrasi dr beberapa

senyawa. Panjang gelombang tertentu dari cahaya melewati sampel dan jumlah dari

cahaya yang diserap oleh sampel memberikan sebuah indikasi dari konsentrasi

senyawa yg sedang di uji. Colorimetry berbeda dg spectrophotometry dimana

colorimetry adl berguna dalam mengukur panjang gelombang dalam wilayah yg

terlihat dari spectrum cahaya, sedangkan spectrophotometry menggunakan panjang

gelombang dalam ultraviolet, terlihat dan wilayah infrared dalam spectrum.

(b) Metode Van Soest

Meskipun system Weende tentang analisis pakan selama bertahun-tahun

telah dan terus menjadi sebuah perangkat yg berguna untuk memprediksi nilai

kandungan nutrisi dalam pakan, namun bukan berarti system ini tak memiliki

kekurangan atau tak butuh beberapa perbaikan. Faktanya system ini memiliki

beberapa keterbatasan nyata, khususnya dalam kaitannya dg serat mentah (crude

fiber) dan pecahan-pecahan ekstraksi yang bebas nitrogen.

(c) Analisis Proksimat

Analisis proksimat adl suatu metode analisis kimia untuk

mengidentifikasikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan/pangan.

Istilah proksimat mengandung arti bahwa hasil analisisnya tidak menunjukkan

angka sesungguhnya, tetapi mempunyai nilai mendekati. Hal ini disebabkan

komponen dari suatu fraksi masih mengandung komponen lain yg jumahnya sangat

sedikit yang seharusnya tidak masuk kedalam fraksi yg dimaksud. Namun demikian

analisi kimia ini adl yg paling ekonomis (relatif) dan datanya cukup memadai untuk

digunakan dalam penelitian dan keperluan praktis.


8

(d) Metode Bom Calorimeter

Metode itu digunakan untu mengetahui kandungan energi suatu bahan yang

dianalisis. Berdasarkan literatur, energi yang dihasilkan oleh satu perubahan ATP

menjadi ADP adalah 11 calori dalam astu molekul glucose dapat menghasilkan 38

ATP. Secara umum kandungan energi karbohidrat adalah 4,15 kcal/gr, lemak 9,40

kcal/gr dan protein 5,65 kcal/gr. Dengan demikian lemk mengandung 2½ kali lipat

energi per berat dibanding dengan karbohidrat dan protein.

Kilo kalori (Kcal) adalh jumlah panas yang dibutuhkan untuk meningkatkan

temperatur satu kilogram air dari temperatur 14,5ºC menjadi 15,5ºC. Energi yng

terdapat pada suatu bahan pakan dalam bentuk karbohidrat, protein dan lemak. Hal

terebut dapat terjadi karena adanya proses photosintesis pada daun tanaman yang

merubah energi cahaya matahari dalam bentuk gelombang menjadi energi kimia

yang tersimpan dalam bentuk karbohidrat, protein dan lemak. Energi yang

dikandung dalam suatu bahan pakan atau ransum disebut gross energi atau total

energi. Total energi ini kemudian dimakan oleh ternak dan dicerna. Hasilnya akan

emjadi energi tercerna dan energi tidak tercerna. Energi tidak tercerna ini akan

keluar dalam bentuk kotoran. Sedangkan energi tercerna akan mngalami proses

energi terserap dan energi tidak terserap. Energi terserap akan menjadi energi

metabolik dan energi yang keluar dalam bentuk urine.

Energi metabolik akan menjadi energi tersimpan dalam tubuh dalam bentuk

lemak, daging, bulu atau glicogen atau dalam bentuk lain yang apabila ternak

tersebut menghasilkan susu, daging, telur tau tenaga maka energi tersebut akan

dimanfaatkan bila ada dalam bentuk net energi.

(3) Evaluasi Secara Biologi

Evaluasi suatu bahan pakan atau ransum dapat dilakukan secara biologi
9

untuk mengetahui palatabilitasnya, daya cernanya, daya serap, angka manfaat, dan

nilai tinggal suatu zat makanan.

(a) Palatabilitas

Palatabilitas adalah daya kesukaan ternak terhadap suatu bahan pakan atau

ransum. Palatabilitas ditentukan oleh kualitas bahan tersebut atau kebiasaan ternak

terhadap bahan atau ransum. Palatabilitas diasosiasikan dengan jumlah pakan yang

dimakan atau dikonsumsi (feed intake). Konsumsi atau feed intake dapat dihitung

dari pakan yang ditawarkan dikurangi dengan pakan yang tersisa.

(b) Daya Cerna

Evaluasi daya cerna dapat dilakukan dengan berbagai metode. Daya cerna

dapat dipengaruhi dengan kemampuan ternak memotong atau mengunyah pakan.

Keadaan fisik dan kima pakan dan ketrsediaan enzim untuk memutuskan rantai-

rantai zat pakan dalam proses pencernaan. Pencernaan pakanpada ternak

ruminansia berbeda dengan ternak monogastrik seperti unggas dan babi. Pada

ternak ruminansia dan pada ternak kuda dapat mecerna bahan pakan yang

mempunyai serat kasar yang tinggi yang dalam bentuk sel yang menebal yang

dibangun oleh sellulose dan hemisellulose.

Pada ternak ruminansia dan kuda dapat mencerna bahan rumput atau

leguminosa atau hasil ikutan pertanian yang dibangun oleh sel yang berdinding

tebal. Hal itu disebakan oleh karena pada rumen ternak ruminansia dan pada

caecum tenak kuda berkembang berbagai mikroorganisme yang dapat

menghasilkan enzim yag dapat memutuskan rantai pengikatyang terdapat pada

sellulose dan hemisellulose.

Sebenarnya sellulose dibangun oleh sellubiose. Sellubiose dibangun oleh

dua molekul glucose yang mempunyai ikatan hubungan Beta 1,4. Ikatan Beta 1,4
10

hanya dapat diputuskan oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Oleh

sebab itu, biasa dikatakan bahwa sellulose sulit dicerna. Karena hanya dapat dicerna

pada alat pencernaan ruminansia dan caecum kuda yang memelihara

mikroorganisme. Sedangkan pada maltose yang juga dibangun oleh dua molekul

glucose tetapi terikat dalam hubungan Alfa 1,4. Hal ini disebut mudah dicerna

sebab enzim yang dapat memutuskan hubungan Alfa 1,4 tersebut pada umumnya

dihasilkan oleh alat pencernaan monogastrik. Pada bahan pakan yang dibangun oleh

sell, enzim terlebih dahulu mencerna dinding sel baru dapat mencerna zat-zat yang

ada pada isi sel. Proses pencernaan sebenarnya adalah penguraian bahan pakan

menjadi zat-zat makananseperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral

kemudian zat-zat tersebut diurai lagi menjadi lebih kecil agar dapat masuk ke aliran

darah dan disebarkan keseluruh tubuh ternak. Seperti karbohidrat menjadi

monosacharida, protein menjadi asam-asam amino, lemak menjadi asam-asam

lemak, demikian pula pada vitamin dan mineral.

(c) Penyerapan

Penyerapan adalah proses dimana zat hasil pencernan ditransfer dari rumen

alat pencernaan ke darah atau lymph. Zat yang diserap dibawa ke jaringan tubuh

untuk degradasi, proses pembentukan atau untuk disimpan. Proses penyerapan

dikenal ada tiga, yaitu : (1) Secara pasive, (2) dengan media carrier (carrier-

mediated transport), (3) proses pinocytosis (transpor mater yang ada di lumen

dalam vacuola ke mucoza sel).


11

III

ALAT DAN BAHAN


3.1 Alat

(1) Baki, sebagai tempat menyimpan 13 stoples berisi bahan pakan

(2) Stoples, fungsinya menyimpan bahan pakan

(3) Plastik

3.2 Bahan

1) Jagung, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

2) Dedak, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

3) Bungkil kopra, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

4) Bungkil kedele, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

5) Tepung ikan, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

6) Tepung Tulang, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

7) Tepung Bulu, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

8) Minyak, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi

9) Premix, sebagai bahan pakan atau sampel yang diidentifikasi


10) CGM (Corn Gluten Meal), sebagai bahan pakan atau sampel yang

diidentifikasi

11) MBM (Meat Bone Meal) sebagai bahan pakan atau sampel yang

diidentifikasi

12) DDGS (Distillers Dried Grains with Solubles), sebagai bahan pakan atau

sampel yang diidentifikasi


12

3.3 Prosedur Kerja

1) Diperhatikan dan diamati setiap sampel bahan pakan unggas yang tersedia

dalam baki atau nampan.

2) Diamati setiap bahan pakan unggas dengan cara melakukan uji fisik melalui

alat indera yaitu dengan cara diraba, dicicipi, dicium dengan hidung dan

dilihat warna dari bahan pakan tersebut.

3) Dituliskan bahan pakan apa saja dan berikan keterangan pada Tabel yang

telah disediakan mengenai warna, bau, tekstur, dan rasa.


13

IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pakan


Nama
Warna Bau Rasa Tekstur Sumber
Pakan
Kuning Berbau Tidak Kasar Energi
T. Jagung Muda Khas Berasa
Orange Harum Tidak Kasar Protein
CGM Berasa
Kuning Tidak Tidak Cair Energi
Minyak Jernih Berbau Berasa
Coklat Tua Harum Tidak Kasar Protein
B. Kopra Berasa
Coklat Menyengat - Halus Protein
T. Bulu
Putih Bau Khas Pahit Halus Feed
Premix Kekuningan Additive
Krem Tua Sedikit Tidak Halus Energi
Dedak Berbau Berasa
Kuning Sedikit Seperti Kasar Protein
B. Kedele Memudar Berbau Kacang
Coklat Bau Ikan Asin Halus Protein
T. Ikan Muda
Coklat Harum Asam, Kasar Energi dan
DDGS Asin Protein
Putih Amis Tidak Kasar Mineral
T. Tulang Berasa
Coklat Menyengat - Kasar Protein
MBM

Tabel 2. Hasil Pengamatan Pakan Secara Mikroskopis

Bahan Keterangan
14

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pakan Unggas

Bahan pakan unggas diklasifikasikan menjadi dua yaitu bahan pakan

konvensional dan inkonvensional. Bahan pakan konvensional merupakan bahan

pakan yang biasa atau sering sedangkan bahan pakan inkonvensional merupakan

bahan pakan alternative yang jarang digunakan. Bahan pakan unggas juga

digolongkan menjadi bahan pakan sumber protein, sumber energi, sumber mineral,

sumber vitamin, feed additives dan feed supplement.

Pada praktikum tentang pengenalan bahan pakan unggas ini disediakan, pakan

unggas yaitu jagung, dedak, bungkil kelapa, tepung ikan, premix, konsentrat ayam

petelur, minyak kelapa dan tepung tulang, dimana kedelapan pakan tesebut

diklasifikasikan sebagai bahan pakan konvensional karena penggunaannya yang

sering digunakan.
15

Bahan pakan tersebut kemudian dapat digolongkan menjadi sumber protein,

sumber energi, sumber mineral, sumber vitamin, feed additives dan feed

supplement.

4.2.2 Pakan Sumber Protein

a) Protein Nabati

1) Bungkil Kopra

Kopra merupakan buah kelapa yang dikeringkan dan digunakan sebagai

sumber minyak. Pengeringan kelapa dilakukan dibawah sinar matahari atau

dengan menggunakan pengering buatan. Berdasarkan hasil pengamatan secara

fisik, bungkil kopra berwarna coklat tua, teksturnya kasar, tidak memiliki rasa,

dan aromanya harum.

Bungkil kopra merupakan bahan pakan sumber protein yang baik untuk

ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Hal tersebut

sesuai dengan pendapat Child (1964) bahwa bungkil kopra masih mengandung

protein, karbohidrat, mineral dan sisa-sisa minyak yang masih tertinggal. Karena

kandungan protein yang cukup tinggi, maka bungkil kelapa cukup baik apabila

digunakan sebagai makanan ternak

2) Bungkil Kedelai

Berdasarkan hasil pengamatan secara fisik, bungkil kedelai berwarna

kuning memudar, memiliki tekstur yang kasar, memiliki rasa seperti kacang, dan

sedikit berbau. Bungkil kedelai merupakan limbah dari pembuatan minyak

kedelai yang banyak dimanfaatkan untuk ternak. Bungkil kedelai termasuk ke

dalam pakan sumber protein karena mengandung protein yang tinggi. hal ini

sesuai pernyataan Parakkasi (1983) bahwa bungkil kedelai dapat meningkatkan


16

kualitas protein yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan protein. Bungkil

kedelai mempunyai kandungan protein yang tinggi dan berkualitas baik, tetapi

rendah akan kandungan kalsium dan phospor serta tidak mengandung vitamin A

dan D.

3) CGM (Corn Gluten Meal)

Corn Gluten Meal (CGM) adalah sisa dari penggilingan jagung dalam

proses produksi pati dan sirup jagung, yang merupakan residu dari pemisahan

pati dan lembaga jagung, dan dikeringkan. Berdasarkan hasil pengamatan secara

fisik, bungkil kedelai berwarna orange, memiliki tekstur yang kasar, tidak

berasa, dan aromanya harum.

Kandungan protein dalam CGM sangat tinggi lebih tinggi dari protein

hewani seperti tepung ikan. Hal ini sesuai dengan Amrullah (2003) bahwa

kandungan protein kasar CGM lebih tinggi dibandingkan dengan tepung ikan,

yaitu sebesar 62%. CGM diberikan pada ternak unggas terutama ayam broiler

dengan batas penggunaan tertentu. Hal tersebut diperjelas dengan pernyataan

Amrullah (2003) bahwa batas maksimum penggunaan CGM dalam ransum

broiler adalah 20% dari total formulasi ransum.

4) DDGS (Distillers Dried Grain with Solubles)

Distiller’s Dried Grains with Solubles (DDGS) adalah produk ikutan dari

penggilingan kering dan industri etanol setelah etanol dan CO2 dihilangkan.

Berdasarkan hasil pengamatan secara fisik, DDGS berwarna coklat, memiliki

tekstur yang kasar, memiliki rasa yang asam dan asin, dan aroma harum.
17

DDGS dapat digunakan sebagai sumber energi, protein (asam amino) dan

fosfor untuk ternak. DDGS termasuk kedalam pakan sumber protein untuk

unggas karena memiliki kandungan protein yang cukup baik. Hal tersebut

diperjelas oleh Tangendjadja (2008) DDGS memiliki kandungan protein

mencapai 27%, sedangkan kandungan lemaknya mencapai > 9%. Penggunaan

DDGS untuk ternak unggas dapat meningkatkan kualitas telur. Hal ini sesuai

dengan penelitian JENSEN dkk (1974) melaporkan bahwa penggunaan DDGS

meningkatkan kualitas bagian dalam telur (Haugh Unit) meskipun tidak

konsisten

b) Protein Hewani

1) Tepung Ikan

Tepung Ikan adalah produk padat yang dihasilkan dengan mengeluarkan

sebagian besar air, sebagian atau seluruh lemak dari bahan yang berupa daging

dan ikan atau bagian ikan yang biasanya dibuang (kepala ikan, isi perut ikan dan

lain-lain). Hal ini sesuai dengan pendapat Ilyas (1982) bahwa Tepung ikan

merupakan salah satu hasil pengawetan ikan dalam bentuk kering.

Berdasarkan hasil pengamatan secara fisik, tepung ikan berwarna coklat

muda, memiliki tekstur yang halus, rasa asin, dan bau ikan tetap tercium

Tepung ikan merupakan pakan alternative untuk pakan sumber protein asal

hewani karena memiliki protein yang sangat tinggi. Hal ini sesuai dengan Rasyaf

(1990) bahwa tepung ikan mengandung protein kasar antara 60% hingga 70%

dan kaya akan asam amino esensial terutama lisin dan metionin yang selalu

kurang dalam bahan makanan ternak asal nabati.


18

2) Tepung Bulu

Tepung bulu merupakan bulu ayam yang telah mengalami pengukusan

dengan tekanan dan kemudian dikeringkan lalu digiling. Berdasarkan hasil

pengamatan tepung bulu secara fisik, didapatkan hasil yaitu berwarna coklat,

memiliki tekstur yang halus, dan berbau bulu ayam yang sangat menyengat.

Tepung Bulu dapat dijadikan alternative pakan sumber protein karena bulu

ayam dalam bentuk tepung mempunyai kandungan gizi yang cukup baik untuk

pakan ternak. Hal tersebut sesuai pernyataan Cullison (1979) bahwa kandungan

protein pada tepung bulu cukup baik untuk pakan ternak karena proteinnya

mencapai 24%, serta kecernaan protein nya berada di atas 55%. Tepung bulu

termasuk ke dalam pakan sumber protein. Penggunaan tepung bulu sebagai

sumber protein. Bahan pengganti konsentrat dalam ransum ternak berdasarkan

penelitian Bo Gohl (1975) memberikan hasil yang positif terhadap peningkatan

pertambahan berat badan, serta pemakaiannya di dalam ransum ternak tidak

lebih dari 5%.

3) Meat Bone Meal (MBM)

Tepung daging dan tulang merupakan bahan pakan sumber protein hewani.

Kualitas yang bervariasi tergantung dari jumlah tulang yang digunakan. Meat

bone meal (MBM) sebagai bahan pakan mempunyai kandungan protein cukup

tinggi dan dapat menyumbangkan kalsium cukup tinggi di dalam pakan. Hal ini

sesuai dengan pendapat Anggorodi (1985) bahwa meat bone meal merupakan

bahan pakan sumber protein yang berasal dari hewan yang memiliki kandungan

protein yang cukup tinggi.


19

Berdasarkan hasil pengamatan MBM secara fisik, didapatkan hasil yaitu

berwarna coklat, memiliki tekstur yang kasar, dan berbau menyengat

4.2.3 Pakan Sumber Energi

Bahan pakan sumber energi adalah semua bahan pakan dengan kandungan

protein kasar < 20 % dan serat kasar >18 % yang diberikan kepada ternak dengan
tidak memberikan efek negatif bagi ternak itu sendiri. Setiap mengkonsumsi

makanan yang mengandung karbohidrat maka kita akan mendapat kalori yang akan

diubah menjadi energi yang berguna sebagai pelaksana aktifitas dalam kehidupan

sehari-hari. Aktifitas yang dikerjakan oleh unggas sehari-hari memerlukan energi

yang banyak, oleh karena itu tubuh unggas perlu energi sebagai pelaksananya.

Tanpa energi memang sulit bagi hewan untuk melakukan segala aktivitas dan

bergerak. Dengan alasan tersebut, maka kehidupan ternak banyak tergantung pada

energi. Karbohidrat merupakan sumber energi utama yang berpengaruh penting

terhadap beberapa organ seperti otak, lensa mata, dan sel syaraf, karena sumber

energi ini tidak dapat digantikan pada organ tersebut.

Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi

empat kelompok, yaitu:

a) Kelompok serealia/ biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)

b) Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)

c) Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)


20

d) Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah,

rumput benggala dan rumput setaria)

Saat praktikum terdapat beberapa contoh bahan pakan sumber karbohidrat

yang dievaluasi kualitasnya agar menghasilkan performa produksi yang optimal.

Bahan pakan sumber karbohidrat yang dievaluasi saat praktikum antara lain adalah

tepung jagung, dedak padi, dan minyak kelapa. Evaluasi dilakukan secara fisik

terhadap semua contoh bahan pakan, sedangkan evaluasi mikroskopis dilakukan

pada tepung jagung dan dedak. Berikut uraian mengenai hasil evaluasi dari contoh

bahan pakan sumber karbohidrat pada saat praktikum.

(1) Tepung Jagung

Jagung merupakan bahan makanan yang paling digemari unggas yang

berasal dari nabati. Sesuai dengan pernyataan Rasyaf (1992) bahwa jagung dan

dedak padi adalah bahan pakan yang mudah didapat sepanjang tahun dengan harga

yang relative murah sehingga jagung dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk

ternak khususnya ayam broiler. Jagung mengandung serat kasar yang rendah yaitu

86% BK; 4,3% SK; 61,8% BETN; dan 9,7% PK. Penggunaan jagung bagi pakan

ternak terutama unggas rata-rata berkisar 45-55% porsinya. Hal ini karena jagung

mempunyai banyak keunggulan di bandingkan bahan baku lainnya. Dua diantara

keunggulan jagung adalah kandungan energinya yang bisa mencapai 3350 kcal/kg

(NRC 1994) dan xantophil yang cukup tinggi. Dari sisi asam amino jagung

dipandang sebagai bahan yang cukup kaya akan methionine (rasio) sehingga

kombinasi jagung dengan sumber lysine seperti Soybean Meal dirasa cukup baik

dalam penyusunan ransum. Namun demikian, kandungan energi, xantophil dan

asam amino jagung sebenarnya di pengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu contoh
21

adalah kadar air, semakin tinggi kadar air jagung maka semakin rendah kandungan

energi di dalamnya.

Kualitas bahan pakan juga harus diperhatikan, yaitu dengan dilakukannya

evaluasi secara fisik dan mikroskopis. Pengamatan secara fisik yaitu dengan

memperhatikan warna, tekstur, bau, dan rasa. Warna pada tepung jagung yaitu putih

kekuningan, teksturnya kasar, baunya yaitu bau khas jagung, dan rasanya hambar.

Jagung kuning merupakan makanan yang digemari ayam broiler karena jagung

kuning mempunyai pigmen crytoxanthin yang merupakan precursor vitamin A

yang menyebabkan warna yang menarik pada karkas ayam broiler. Selanjutnya
yaitu dilakukan evaluasi dengan mikroskop.

(2) Dedak Padi

Dedak padi merupakan lapisan sebelum biji hasil ikutan penggilingan padi

yang jumlahnya sekitar 11% dari padi yang digiling. Pemanfaatan dedak sebagai

bahan pakan ternak sudah umum dilakukan. Kandungan gizi dedak padi sangat

bervariasi tergantung dari jenis padi dan jenis mesin penggiling. Di samping itu,

pada saat dedak sulit didapat, seringkali dedak dicampur dengan sekam yang

digiling. Sekam yang berlebih dapat membahayakan ternak yang memakannya. Hal

ini sudah pasti mempengaruhi kualitas atau nilai gizi dedak tersebut, terutama

menyebabkan kadar serat kasar yang tinggi. Secara umum, penggunaan dedak

dalam ransum broiler tidak disarankan melebihi 10% dan dalam ransum ayam

petelur 20% . Adanya zat antinutrisi myoinositol (asam phytat) di dalam dedak

dapat menghambat ketersediaan mineral ransum bagi ternak. Penggunaan dedak

yang tinggi dapat menyebabkan penurunan produksi, namun, pertimbangan

ekonomis mungkin lebih menguntungkan bila menggunakan kadar dedak yang

tinggi dalam ransum. Menurut National Research Council (1994) dedak padi
22

mengandung energi metabolis sebesar 2980 kkal/kg, protein kasar 12,9% ; lemak

13% ; serat kasar 11,4%, ; Ca 0,07% ; P 0,22% ; Mg 0,95% serta kadar air 9%.

Kualitas bahan pakan juga harus diperhatikan, yaitu dengan dilakukannya

evaluasi secara fisik dan mikroskopis. Pengamatan secara fisik yaitu dengan

memperhatikan warna, tekstur, bau, dan rasa. Warna pada dedak padi yaitu krem,

teksturnya halus, baunya yaitu bau khas padi, dan rasanya hambar. Hal ini sesuai

dengan pendapat Rasyaf (2002) yang mengatakan bahwa dedak padi yang

berkualitas baik mempunyai ciri fisik seperti baunya khas, tidak tengik, teksturnya

halus, lebih padat dan mudah digenggam karena mengandung kadar sekam yang

rendah, dedak yang seperti ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi. Anggorodi

(1994) menyatakan bahwa, dedak padi yang berkualitas tinggi mempunyai

kandungan sekam lebih rendah. Selanjutnya yaitu dilakukan evaluasi dengan

mikroskop.

(3) Minyak Kelapa

Untuk membantu kadar energi dalam pakan, digunakan sumber energi

pendukung yang berasal dari minyak, bisa dari hewan ataupun dari tumbuhan.

Penggunaan minyak ini dapat membantu meningkatkan palatabilitas (cita rasa

pakan), membantu penyerapan vitamin (A, D, E, K) dan meningkatkan efisiensi

penggunaan pakan (makanan akan lebih lama berada dalam saluran pencernaan).

Karena kadar lemaknya tinggi, penggunaan minyak juga akan menimbulkan

masalah, seperti ketengikan, gangguan saluran pencernaan (diare) dan penimbunan

lemak tubuh. Oleh karena itu, penggunaan minyak tidak boleh terlalu banyak

(maksimal 5%). Namun beberapa minyak nabati mempunyai kandungan energi

yang cukup tinggi seperti minyak kelapa yang mempunyai EM 8600 kkal/kg dan

lemak yang bisa melebihi 90 %. Penggunaan minyak juga diperlukan pada


23

pembuatan pakan ikan yang membutuhkan pasokan energi tinggi, yang hanya dapat

diperoleh dari minyak. Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak nabati

yang baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak.

Saat dilakukan pengamatan fisik pada minyak kelapa, didapat warnanya

kuning jernih, tidak berbau, rasanya tawar dan teksturnya cair. Minyak juga

merupakan bahan pakan yang mengandung sumber energi yang berasal dari lemak

yang bebentuk cair. Walaupun demikian pada pakan tidak boleh terlalu banyak

mengandung minyak atau lemak ini karena agak sulit untuk dimetabolisme oleh

sistem pencernaan. Hasil ini sesuai dengan hasil yang dilaporkan oleh Anggorodi.R

(1997) menyatakan bahwa bahan pakan sumber energi antara lain jagung,

sorghum, beras, dedak padi, hijauan, serta minyak yang merupakan sumber energi

yang berasal dari lemak yang berbentuk cairan. Akan tetapi sumber lain

menyatakan bahan pakan sumber energi yang utama adalah bahan pakan yang

kandungan utamanya berupa karbohidrat yang mana lebih mudah dimetabolisme

dari pada energi yang berasal dari lemak.

4.2.4 Pakan Sumber Mineral

Bahan pakan sumber mineral digunakan dalam jumlah yang sangat sedikit

(1-4%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Suprijatna (2005) bahwa mineral

merupakan omponenn dari pernyessanyawan organik jaringan tuuh dan

persenyawaan kimiawi lainnya yang berperan dalam proses metabolism.

Kebutuhannya sangat sedikit (tidak lebih dari 4%) tetapi sangat vital, terutama pada

ayam yang sedang tumbuh dan berproduksi karena kerangka tubuh dan kerabang

telur terutama tersususn dari mineral yaitu kalsium (Ca) dan fosfor (P). Harga

mineral umumnya murah.


24

Menurut Suprijatna (2005) Bahan pakan sumber mineral meliputi beberapa

bahan seperti tepung tulang, tepung kulit kerang dan grit. Fungsinya yaitu sebagai

sumber mineral kalsium terutama digunakan pada peternakan ayam petelur. Grit

berfungsi sebagai mineral yang membantu pencernaan ayam. Oleh karena itu, grit

biasanya terdiri dari beberaoa campuran seperti batu granit, kulit kerang, batu

kapur, dan bahan fosfor.

Kalsium dan posfor merupakan unsur yang diperlukan tubuh dalam jumlah

yang sedikit. Walau tubuh hanya memerlukan sedikit kalsium dan posfor, namun

pada kenyataanya mahluk hidup tidak mampu memenuhi kedua unsur tersebut

hanya dari asupan makanan sehingga sering terjadi kekurangan. Bahkan Rasidi

(1999) menyatakan bahwa unggas tidak dapat memproduksi mineral dalam

tubuhnya, sehingga harus disediakan dalam pakan. Kekurangan kalsium dan posfor

sangat berpengaruh bagi kegiatan metabolisme dan mampu menimbulkan dampak

buruk karena kedua unsur tersebut bersifat esensial. Pakan ternak biasa tidak dapat

memenuhi kebutuhan tubuh akan kalsium dan posfor, sehingga ternak perlu

diberikan tambahan suplemen atau pakan tambahan yang merupakan sumber

kalsium dan posfor. Pakan tambahan yang dapat dijadikan sumber kalsium dan

posfor salah satunya adalah tepung tulang.

Tepung tulang merupakan produk sampingan dari ternak dengan

memanfaatkan tulang-tulangnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kurniawan

(2015) bahwa tepung tulang merupakan hasil sampingan dari ternak yang sudah

tidak dimanfaatkan lagi, biasanya tepung tulang ini menggunakan sisa-sisa tulang

dari ikan, ayam dan bahkan tulang dari beberapa peternakan yang tidak

dimanfaatkan lagi. Umumnya, tepung tulang mengandung Ca 24% dan P 12%.

Penggunaan dalam pakan ayam broiler biasanya sekitar 1%. Hal ini sesuai dengan
25

pernyataan Suprijatna (2005) bahwa tepung tulang mengandung kalsium dua kali

lebih banyak dari pada fosfor, dengan rekomendasi penggunaanya yaitu sekitar 1%.

Evaluasi pada tepung tulang pada praktikum kali ini dilakukan secara fisik

dan juga makroskopis. Evaluasi secara fisik yaitu dengan mengamati warna, bau,

rasa, dan tekstur dapi tepung tulang tersebut. Sedangkan pengamatan secara

mikroskopis yaitu dengan pengamatan sampel dibawah mikroskop. Berdasarkan

hasil pengamatan tepung tulang mempunyai ciri-ciri berwarna putih, baunya amis,

tidak berasa dan bertekstur kasar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rasyaf (2004)

yang menyatakan bahwa tepung tulang memiliki ciri berwarna putih dan berbau

khas tulang.

2.2.5 Feed Additive dan Feed Suplement

1) Feed Aditif

(a) Premix

Berdasarkan hasil pengamatan secara fisik, premix berwarna kuning dengan

tekstur halus/tepung, bau obat dan rasanya sedikit pahit. Premix merupakan

campuran beberapa mineral dalam suatu bahan pembawa (carrier) yang digunakan

sebagai bahan pakan untuk memenuhi kebutuhan mineral ternak yang terdiri dari

12 vitamin, 6 mineral, dan 2 asam amino. Premix berfungsi untuk memacu

pertumbuhan pada ungags. Hal tesebut sesuai dengan Anonim (2013) bahwa

premix adalah sebutan untuk suatu suplemntasi vitamin, mineral, asam amino, dan

antibiotik, atau penggabungan dari keempatnya.

2. Feed Suplement

Suplementasi pada pakan dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu feed

supplement dan feed additive. Dua macam suplementasi tersebut dapat memenuhi
26

kekurangan nutrisi di dalam tubuh hewan sehingga hewan tidak mengalami

difisiensi nutrisi. Menurut Cullison (1979) tujuan pemberian feed

supplement dan feed additive yaitu :

o Melengkapi kandungan nutrisi mikro, terutama vitamin yang kemungkinan

berkurang karena proses penanganan dan penyimpanan ransum yang kurang

baik

o Meningkatkan kualitas fisik ransum, terutama penambahan feed additive

o Meningkatkan ketersediaan nutrisi maupun proses pencernaan dan

penyerapan zat nutrisi dalam ransum

Feed additive dan feed supplement mempunyai pengertian yang berbeda. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo (1996), additive adalah tambahan pakan

yang umum digunakan dalam menyusun pakan ternak. Penambahan bahan biasanya

hanya dalam jumlah yang sedikit. Maksud dari penambahan adalah untuk

merangsang pertumbuhan atau merangsang produksi. Macam-

macam additive antara lain antibiotika, hormon, arsenikal, sulfaktan, dan

transquilizer. Sedangkan supplement menurut Hartadi dkk (1991) Feed

supplement merupakan bahan pakan tambahan yang berupa zat-zat nutrisi, terutama

zat nutrisi mikro seperti vitamin, mineral atau asam amino. penambahan feed

supplement dalam ransum berfungsi untuk melengkapi atau meningkatkan

ketersedian zat nutrisi mikro yang seringkali kandungannya dalam ransum kurang

atau tidak sesuai standar

Bahan pakan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu premix. Premix

merupakan feed supplement yang terdiri dari campuran beberapa mineral dalam

suatu bahan pembawa (carrier) yang digunakan sebagai bahan pakan untuk

memenuhi kebutuhan mineral ternak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murtidjo
27

(1996)bahwa Premix merupakan bahan tambahan yang mengandung mineral dan

pemberian sejumlah mineral bersifat esensial untuk kesehatan, pertumbuhan, dan

produksi ternak yang optimal. Secara umum menurut Murtidjo (1996) ada tiga jenis

premix berdasarkan komposisinya. Ketiga premix tersebut adalah sebagai berikut:

1. Premix Vitamin-Mineral yaitu feed suplement yang mengandung berbagai

jenis vitamin dan mineral. Cara pemberiannya tergantung pada pabrik yang

membuat.

2. Premix Vitamin-Antibiotika yaitu feed suplement yang mengandung

berbagai jenis vitamin dan antibiotik. Cara pemberiannya tergantung pada

pabrik yang membuat.

3. Premix Vitamin-Mineral-Antibiotik yaitu feed supplement yang

mengandung berbagai jenis vitamin , mineral dan antibiotik. Cara

pemberiannya tergantung pada pabrik yang membuat.

Menurut Medion (2010) Penambahan premiks harus disesuaikan dengan

kondisi ayam baik tingkat produktivitas maupun kondisi lingkungannya.

Setidaknya ada 4 level suplementasi premiks yaitu defisiensi, suboptimum

(standar), optimum dan berlebihan. Suplementasi premiks hendaknya pada level

optimum yaitu asupan premiks sedikit di atas level kebutuhan standar. Hal ini

bermanfaat saat ayam berada dalam kondisi yang tidak nyaman seperti saat heat

stress, ayam masih memiliki caangan nutrisi untuk menekan efek negatif dari stres

tersebut sehingga produktivitas ayam tetap optimum.

Evaluasi terhadap premix ini dilakukan dengan dua cara yaitu secara fisik

dan juga mikroskopis. Secara fisik yaitu dengan mengamati secara langsung warna,

bau, rasa, dan tekstur premix tersebut. Sedangkan secara mikroskopis yaitu dengan

pengamatan dibawah mikroskop. Ciri-ciri premix secara fisik yaitu berwarna putih
28

kekuningan, bau nya khas, pahit, dan teksturnya halus. Hal ini sesuai dengan

pernyataan dari Murtidjo (1996)bahwa premix mempunyai rasa yang pahit dan

berwarna putih kekuningan.


V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

(1) Pakan unggas dibagi menjadi sumber energy, protein, mineral dan feed

supplement/ additive. Berdasarkan kepada kelazimaan pengunaanya pakan

unggas ada yang bersifat konvensional (sering digunakan) dan ada yang

bersifat non-konvensional

(2) Pengujian bahan pakan secara fisik dilakukan kepada 12 sampel bahan

pakan yang digunakan yaitu tepung jagung, CGM, minyak, Bungkil kopra,

tepung bulu, premix, dedak, bungkil kedele, tepung ikan, DDGS, Tepung

tulang, dan MBM. Sedangkan untuk uji secara mikroskopik hanya

dilakukan terhadap tepung tulang, tepung jagung, dan bungkil kopra.

(3) Anti nutrisi pada dedak padi yaitu asam phytat dan pada jagung yaitu

aflatoksin

5.2 Saran

Setiap wadah yang berisi sampel hendaknya bagian luarnya diberi label

terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindarkan praktikan dari kebingungan saat

mengidentifikasi sampel.
DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, I. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor

Anggorodi, H.R., 1994. Ilmu Makanan Ternak Unggas. Gramedia, Jakarta.

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia. Jakarta.

Anonim . 1997. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka,Jakarta.

Anonim . 2002. Beternak Ayam Pedaging. Edisi Revisi. Penebar Swadaya,

Anonim, 2013. Direktorat Pembinaan SMK. Agribisnis Pakan Ternak Unggas

Untuk Kelas 11 Semester 3. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan RI, 2013.

Bo Gohl. 1975. Tropical Feed. Feed Information Summaries and Nutritives Values.

Food and Agriculture Organization of The United Nations Roma.

Child, R. 1964. Coconut. Longman. London

Cullison, A. E. 1978. Feed and Feeding Animal Nuhition. Prentice-Hall of India.

India, pp.81-84

Cullison. A. E. 1978. Feed and Feeding. Prantice Hall of India Private Limited,

New Delhi.
Hartadi, H., S. Reksodiprodjo dan A.D. Tillman. 1991. Tabel Komposisi Bahan

Makanan Ternak Untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Ilyas, S. 1982. Teknologi Pemanfaatan Lemuru Selat Bali. Balai Penelitian

Teknologi Perikanan. Jakarta.

Indah, P., M. Sobri. 2001. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas

Peternakan Universitas Muhamadiyah. Malahng

Jakarta.
JENSEN, L.S., L. FALEN and C.H. CHANG. 1974. Effect of distillers grains with

solubles on reproduction and liver fat accumulation in laying hens. Poult.

Sci. 53: 586 – 592

Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Laboratorium Makanan

Ternak , Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan,

Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Kurniawan, Fredi. 2015. Cara Membuat tepung tulang untuk pakan ternak.

Available at http://fredikurniawan.com/cara-membuat-tepung-tulang-

untuk-pakan-ternak/ (diakses 1 Mei 2019, pukul 21.00 WIB)

Medion. 2010. All About Premix. Avaliable at

https://info.medion.co.id/index.php/artikel-broiler/artikel-tata-

laksana/343-all-about-premix (Diakses, 1 Mei 2019 Pukul 22.00 WIB)

Mukodiningsih, S., C.I. Sutrisno., B. Sulistyanto dan B.W.E. Hadi. 2014.

Pengendalian Mutu Pakan. UPT UNDIP Press Semarang, semarang.

Murtidjo, B. A. 1996. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius, Yogyakarta

National Research Council. 1994. Nutrient Requirements of Poultry Eighth

Parakkasi, A.1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Vol IA. Angkasa.

Bandung.

Rasidi. 1999. 302 Formulasi Pakan Lokal Alternatif untuk Unggas. Cetakan ke-2.

Penebar Swadaya. Jakarta

Rasyaf, M. 1990. Bahan Makanan Unggas di Indonesia. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Rasyaf, M. 1992. Memelihara Ayam Buras. Kanisius, Yogyakarta

Rasyaf, M., 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Revised Edition. National Academy of Sciences. Washington, DC.


Subekti, E. 2009. Ketahanan Pakan Ternak Indonesia. Publikasi Ilmiah Staf

Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim. Semarang

Suprijatna, E. U. Atmomarsono, dan K. Ruhyat. 2005. Ilmu Dasar Ternak

Unggas. Cetakan 1. Penebar Swadaya. Jakarta.


LAMPIRAN

LAMPIRAN

1. Pembagian Distribusi Tugas

Nama NPM Pembagian Tugas


Muhammad Raka 200110170090 1. Kata Pengantar
Alfazrio 2. Pembahasan Pakan
Sumber Energi
Dhea Annisa F. A. 200110170095 1. Cover + Daftar Isi dll
N. F. 2. Hasil Pengamatan
3. Editor
Ari Raswati 200110170163 1. Pembahasan Pakan
Sumber Mineral
2. Pembahasan Feed
Supplement
3. Kesimpulan dan Saran
Hilman Ismail 200110170165 1. Tinjauan Pustaka
2. Pembahasan Feed
Additive
3. Lampiran
Benita Nadira 200110170277 1. Alat, Bahan dan
Rahmadina Prosedur Kerja
2. Pembahasan Pakan
Sumber Protein
Billy Satya Abadi 200110170283 1. Pendahuluan
2. Pembahasan Pakan
Unggas

Anda mungkin juga menyukai