Anda di halaman 1dari 18

FISIKA LINGKUNGAN

“KAJIAN EFEK RUMAH KACA”

OLEH:

Gede Mudita Edi Putra (06111281621058)

DOSEN PEMBIMBING:

DOSEN: DRA. MURNIATI, M.SI.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSTAS SRIWIJAYA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring bertambahnya populasi manusia di muka bumi, maka semakin
bertambah pula kebutuhan manusia. Demi kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan
hidup sehari-hari manusia menciptakan alat-alat yang dapat membantu memenuhi
kebutuhan mereka. Akan tetapi setiap alat yang diciptakan manusia memiliki efek positif
dan efek negatif yang ditimbulkannya. Tanpa disadari dampak buruk yang akan terjadi
bagi kehidupan di bumi terjadi seperti timbulnya pemanasan global dan perubahan iklim
yang ekstrim. Pemanasan Global (Global Warming) adalah fenomena peningkatan
temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi dari tahun ke tahun yang
digambarkan seperti terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan
oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2) yang berasal dari
kendaraan bermotor, metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan klorofluokarbon (CFC)
sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Telah kita ketahui bersama
bahwa konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang meningkat di atmosfer menyebabkan
suhu bumi semakin memanas. Perubahan tekanan udara akibat memanasnya bumi
menyebabkan iklim secara keseluruhan juga ikut berubah.
Perubahan iklim global mengakibatkan iklim di utara dan selatan zona iklim
sedang akan bergeser ke arah kutub. Diperkirakan lebih dari 10% tumbuhan di berbagai
daerah di Amerika Serikat tidak dapat bertahan hidup terhadap kondisi iklim baru yang
lebih hangat. Jika mereka tidak dapat bermigrasi ke lokasi baru, maka mereka akan punah.
Fragmentasi habitat akibat kegiatan manusia dapat memperlambat dan mencegah
berbagai spesies untuk bermigrasi ke daerah baru yang lebih sesuai habitatnya. Tidak
diragukan lagi akan banyak spesies yang terbatas distribusinya atau kemampuan
menyebarnya rendah, akan punah di kemudian hari. Cuaca di bumi sangat dipengaruhi
oleh radiasi matahari. Radiasi matahari yang mencapai bumi mencapai 342 Wm -2.Sekitar
30% dari radiasi tersebut dipancarkan kembali ke angkasa luar karena adanya awan dan
permukaan bumi. Permukaan bumi akan menyerap radiasi matahari sebesar 168 Wm -2,
sedangkan atmosfer menyerap 67 Wm-2. Atmosfer mempunyai beberapa lapis gas,
termasuk gas rumah kaca dan awan yang akan mengemisikan kembali sebagian radiasi

2
infra merah yang diterima ke permukaan bumi. Dengan adanya lapisan ini maka panas
yang ada di permukaan bumi akan bertahan dan proses ini dinamakan Efek Rumah Kaca.
Untuk jangka panjang akan terjadi keseimbangan antara radiasi yang masuk dan keluar
sehingga suhu di bumi mencapai nilai tertentu.
Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian
besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek termasuk cahaya tampak.
Ketika energimengenai permukaan bumi, ia akan berubah dari cahaya menjadi panas.
Kemudian permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memancarkan kembali
sisanya sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian
panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca
yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan radiasi
gelombang yang dipancarkan kembali oleh bumi dan sebagai akibatnya panas tersebut
akan tersimpan di permukaan bumi. Hal ini terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan
suhu rata-rata bumi terus meningkat.
Perubahan iklim juga akan membawa bencana yang berlangsung secara
perlahan-perlahan seperti kenaikan permukaan air laut dan intrusi ke delta-delta sungai
yang merusak ekosistem pesisir serta menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Hal
ini menyebabkan lebih banyak korban jiwa, penderitaan, kemiskinan, gangguan
pelayanan sosial, porak-porandanya harta benda dan infrastruktur, kemunduran dalam
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta kerusakan lingkungan hidup.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca?
2. Apa penyebab terjadinya Efek Rumah Kaca?
3. Bagaimana dampak dari Efek Rumah Kaca?
4. Apa keterkaitan antara Efek Rumah Kaca , Global Warming dan Perubahan Iklim?
5. Bagaimana Mekanisme Terjadinya Efek Rumah Kaca Dan Penyebabnya?
6. Bagaimana Solusi atau penanganan dari Efek Rumah Kaca / Globalisasi

C. Tujuan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca
2. Mengetahui penyebab terjadinya Efek Rumah Kaca

3
3. Mengetahui dampak dari Efek Rumah Kaca
4. Mengetahui keterkaitan antara Efek Rumah Kaca , Global Warming dan Perubahan
Iklim
5. Mengetahui mekanisme terjadinya Efek Rumah Kaca dan penyebabnya
6. Mengetahui solusi atau penanganan dari Efek Rumah Kaca

4
BAB II

PEMBAHASAN DAN ISI

A. Pengertian Efek Rumah Kaca


Efek Rumah Kaca (ERK) pertama kali dikemukakan oleh Joseph Fourier
pada tahun 1824, ia mengungkapkan
bahwa Efek Rumah Kaca merupakan
sebuah proses dimana atmosfer
memanaskan sebuah planet. Istilah
efek rumah kaca, diambil dari cara
tanam yang digunakan para petani di
daerah iklim sedang (negara yang
memiliki empat musim). Para petani
biasa menanam sayuran atau bunga di
dalam rumah kaca untuk menjaga suhu
ruangan tetap hangat. Demikian halnya
salah satu fungsi atmosfer bumi ialah seperti rumah kaca.
Efek rumah kaca adalah suatu proses dimana radiasi termal dari permukaan
atmosfer yang diserap oleh gas rumah kaca, dan dipancarkan kembali ke segala
arah. Mekanisme ini pada dasarnya berbeda dari yang rumah kaca sebenarnya, yang
bekerja dengan mengisolasi udara hangat dalam struktur tersebut sehingga panas yang
tidak hilang oleh konveksi. Efek rumah kaca ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun
1824, dan pertama kali dilaporkan kuantitatif oleh Svante Arrhenius pada tahun 1896,
merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit)
yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar
energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika
energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang
menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan
memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra
merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di
atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon

5
dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini.
Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan
Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi.
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh
awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi
tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan
bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah
kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di
bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata
sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya
semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan
menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut
telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

B. Penyebab Terjadinya Efek Rumah Kaca


Efek rumah kaca yang berlebih disebabkan karena naiknya konsentrasi gas-gas di
atmosfer. Gas-gas tersebut disebut dengan Gas Rumah Kaca (GRK). Gas rumah
kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas
tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat
aktivitas manusia. Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai
atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin
meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang
terperangkap di bawahnya. Berikut akan dipaparkan mengenai gas-gas yang berperan
dalam efek rumah kaca dengan persentase kontribusi mereka terhadap efek rumah kaca :
1. Uap Air (36-70%)
Uap air adalah gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab
terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca. Konsentrasi uap air berfluktuasi secara
regional. Aktivitas manusia tidak secara langsung memengaruhi konsentrasi uap air
kecuali pada skala lokal. Meningkatnya konsentrasi uap air mengakibatkan
meningkatnya efek rumah kaca yang mengakibatkan meningkatnya temperatur dan

6
semakin meningkatknya jumlah uap air di atmosfer. Keadaan ini terus berkelanjutan
sampai mencapai titik ekuilibrium (kesetimbangan).

2. Karbondioksida (9-26%)
Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer ketika
mereka membakar bahan bakar fosil, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan
bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama,
jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang akibat
perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.
3. Metana (4-9%)
Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca.
Metana merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih
banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi dan
transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari
pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat
keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari
pencernaan. Sejak permulaan revolusi industri pada pertengahan 1700-an, jumlah
metana di atmosfer telah meningkat satu setengah kali lipat.
4. Nitrogen Oksida
Nitrogen oksida adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama
dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen oksida dapat
menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Konsentrasi gas ini telah
meningkat 16 persen bila dibandingkan masa pre-industri.
5. Gas lainnya
Gas rumah kaca lainnya dihasilkan dari berbagai proses manufaktur. Campuran
berflourinasi dihasilkan dari peleburan alumunium. Hidrofluorokarbon (HCFC-22)
terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi,
perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan. Lemari pendingin di beberapa
negara berkembang masih menggunakanklorofluorokarbon (CFC) sebagai media
pendingin yang selain mampu menahan panas atmosfer juga mengurangi
lapisan ozon (lapisan yang melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet). Komsumsi

7
CFC tertinggi terdapat pada Negara-negara maju. Amerika Serikat mengkomsumsi
hampir sepertiga komsumsi CFC dunia.
Negara-negara maju adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
Menurut data dari PBB, urutan beberapa negara penghasil emisi karbondioksida per
kepala per tahun sebagai berikut:
• Amerika Serikat 20 ton
• Kanada dan Australia 18 ton
• Jepang dan Jerman 10 ton
• China 3 ton
• India 1 ton

C. Dampak Efek Rumah Kaca


Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-
rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang
akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030.
Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak
gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan
mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Efek rumah kaca yang berlebih mengakibatkan meningkatkannya suhu
permukaan bumi. Sehingga terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini
dapat mengakibatkan terganggunya hutan, tumbuhan, hewan dan ekosistem lainnya
disekitar hutan, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbondioksida di
atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah
kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan
mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi
kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan
pengaruh yang sangat besar.
Perubahan iklim menimbulkan perubahan pada pola musim sehingga menjadi
sulit diprakirakan. Pada beberapa bagian dunia hal ini meningkatkan intensitas curah
hujan yang berpotensi memicu terjadinya banjir dan tanah longsor. Sedangkan belahan
bumi yang lain bisa mengalami musim kering yang berkepanjangan, karena kenaikan

8
suhu dan turunnya kelembaban. Selanjutnya perubahan iklim akan berdampak pada
segala sector. Meliputi:
1. Ketahanan Pangan Terancam
Produksi pertanian tanaman pangan dan perikanan akan berkurang akibat banjir,
kekeringan, pemanasan dan tekanan air, kenaikan air laut, serta angin yang kuat.
Perubahan iklim juga akan mempengaruhi jadwal panen dan jangka waktu
penanaman. Peningkatan suhu 10C diperkirakan menurunkan panen padi sebanyak
10%.

2. Dampak Lingkungan
Banyak jenis makhluk hidup akan terancam punah akibat perubahan iklim dan
gangguan pada kesinambungan wilayah ekosistem (fragmentasi ekosistem).
Terumbu karang akan kehilangan warna akibat cuaca panas, menjadi rusak atau
bahkan mati karena suhu tinggi. Para peneliti memperkirakan bahwa 15%-37% dari
seluruh spesies dapat menjadi punah di enam wilayah bumi pada 2050. Keenam
wilayah yang dipelajari mewakili 20% muka bumi (Jhamtani, 2007).
3. Risiko Kesehatan
Cuaca yang ekstrim akan mempercepat penyebaran penyakit baru dan bisa
memunculkan penyakit lama. Badan Kesehatan PBB memperkirakan bahwa
peningkatan suhu dan curah hujan akibat perubahan iklim sudah menyebabkan
kematian 150.000 jiwa setiap tahun. Penyakit seperti malaria, diare, dan demam
berdarah diperkirakan akan meningkat di negara tropis seperti Indonesia.
4. Air
Ketersediaan air berkurang 10%-30% di beberapa kawasan terutama di daerah
tropik kering. Kelangkaaan air akan menimpa jutaan orang di Asia Pasifik akibat
musim kemarau berkepanjangan dan intrusi air laut ke daratan.
5. Ekonomi
Kehilangan lahan produktif akibat kenaikan permukaan laut dan kekeringan,
bencana, dan risiko kesehatan mempunyai dampak pada ekonomi. Sir Nicolas
Stern, penasehat perdana menteri Inggris mengatakan bahwa dalam 10 atau 20
tahun mendatang perubahan iklim akan berdampak besar terhadap ekonomi.

9
Belum ada data komprehensif mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia.
Namun beberapa data menunjukkan bahwa:

1. Suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,30C sejak tahun 1990.


2. Musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif
sehingga meningkatkan risiko banjir.
3. Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko kebakaran hutan
dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi (CIFOR, 2004)
4. Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan berdampak pada
sektor pertanian dan ketahanan pangan.
5. Kenaikan permukaan air laut akan mengancam daerah dan masyarakat pesisir.
Sebagai contoh air Teluk Jakarta naik 57 mm tiap tahun. Pada 2050, diperkirakan
160 km2 dari kota jakarta akan terendam air, termasuk Kelapa Gading, Bandara
Sukarno-Hatta dan Ancol (Susandi, Jakarta Post, 7 Maret 2007).
6. Di Bali kerusakan lingkungan pada 140 titik abrasi dari panjang panti sekitar 430
km. Laju kerusakan pantai di Bali diperkirakan 3,7 Km per tahun dengan erosi ke
daratan 50-100 meter per tahun (Bali Membangun, 2004). Kerusakan ini ditambah
potensi dampak dari perubahan iklim diduga akan menyebabkan muka air laut naik
6 meter pada 2030, sehingga Kuta dan Sanur akan tergenang (Bali Post, 16 Agustus
2007). Hal ini mengancam keberlangsungan pendapatan dari pariwisata yang
mengandalkan kekayaan dan keindahan pantai dan laut di Bali.
7. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko
kehilangan banyak pulau-pulau kecilnya dan penciutan kawasan pesisir akibat
kenaikan permukaan air laut. Wilayah Indonesia akan berkurang dan akan ada
pengungsi dalam negeri.
8. Dampak kenaikan muka air laut akan mengurangi lahan pertanian dan perikanan
yang pada akhirnya akan menurunkan potensi pendapatan rata-rata masyarakat
petani dan nelayan. Kerusakan pesisir dan bencana yang terkait dengan hal itu akan
mengurangi pendapatan negara dan masyarakat dari sektor pariwisata. Sementara
itu, negara harus menaikkan anggaran untuk menanggulangi bencana yang
meningkat, mengelola dampak kesehatan, dan menyediakan sarana bagi pengungsi
yang meningkat akibat bencana. Industri di kawasan pesisir juga kemungkinan
besar akan menghadapi dampak ekonomi akibat permukaan air laut naik.

10
Kesemuanya ini akan meningkatkan beban anggaran pembangunan nasional dan
daerah.

D. Keterkaitan antara Efek Rumah Kaca , Global Warming dan Perubahan Iklim
Keterkaitan antara Efek Rumah Kaca, Global Warming, dan Perubahan Iklim
yaitu Secara umum iklim merupakan hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik
dimana parameter-parameternya adalah seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah
hujan yang terjadi pada suatu tempat di muka bumi. Iklim merupakan suatu kondisi rata-
rata dari cuaca, dan untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, diperlukan nilai rata-
rata parameter - parameternya selama kurang lebih 10 sampai 30 tahun. Iklim muncul
setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di
atmosfer bumi.
Kompleksitas proses fisik dan dinamis di atmosfer bumi ini berawal dari
perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya.
Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh
bumi tidak merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk
suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga
bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu. Perpaduan antara proses-proses tersebut
dengan unsur-unsur iklim dan faktor pengendali iklim menghantarkan kita pada
kenyataan bahwa kondisi cuaca dan iklim bervariasi dalam hal jumlah, intensitas dan
distribusinya.
Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan
kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu
akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi –disebut gas rumah kaca,
sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan efek
rumah kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana panas yang
masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga
dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.
Efek rumah kaca, Peristiwa alam ini menyebabkan bumi menjadi hangat dan layak
ditempati manusia, karena jika tidak ada ERK maka suhu permukaan bumi akan 33
derajat Celcius lebih dingin. Gas Rumah Kaca (GRK) seperti CO2 (Karbon
dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs

11
(Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan
dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan
bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik,
kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari
pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang
dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida,
menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer. Berubahnya komposisi GRK
di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia
menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa,
sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi.
Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer pada akhirnya menyebabkan meningkatnya
suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan Pemanasan Global. Sinar
matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan
bumi ke angkasa. Setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang
berupa energi panas. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus
kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu
komposisinya.
Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi
terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan
kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari
kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah
kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi
maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim
dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.
Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan suhu,
mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, bergesernya garis pantai, musim
kemarau yang berkepanjangan, periode musim hujan yang semakin singkat, namun
semakin tinggi intensitasnya, dan anomaly-anomali iklim seperti El Nino – La Nina dan
Indian Ocean Dipole (IOD). Hal-hal ini kemudian akan menyebabkan tenggelamnya
beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan, pengungsian besar-besaran, gagal panen,
krisis pangan, banjir, wabah penyakit, dan lain-lainnya.

12
E. Mekanisme Terjadinya Efek Rumah Kaca dan Penyebabnya
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya gas karbondioksida ( CO2 ) dan gas-
gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 disebabkan oleh kenaikan
pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organic lainnya yang
melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya. Energi yang
masuk ke bumi, 25 % dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25 % diserap
awan, 45 % diserap permukaan bumi, 5 % dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
Energy yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah yang
dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan
ke permukaan bumi. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah
belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa
senyawa organic seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut
memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara
lain berupa uap air atau H2O, CO2, metana (CH4), dan ozon (O3). Sinar panas inframerah
ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan
permukaan bumi menjadi naik. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya Efek Rumah
Kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah disebut Gas Rumah Kaca. Efek rumah kaca
bisa terjadi karena berubahnya komposisi GRK (Gas Rumah Kaca), yaitu meningkatnya
konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia terutama yang berhubungan
dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada
pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu
GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian
dan peternakan, GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida,
metana, dan nitroksida. Hal tersebut di atas juga merupakan salah satu penyebab
pemanasan global yang terjadi saat ini.
Dunia memperoleh sebagian besar energi dari pembakaran bahan bakar fosil yang
berupa pembakaran minyak bumi, arang maupun gas bumi. Ketika pembakaran
berlangsung sempurna, seluruh unsur karbon dari senyawa ini diubah menjadi karbon
dioksida. Senyawa karbon dari bahan bakar fosil telah tersimpan di dalam bumi selama
beratus-ratus milliar tahun lamanya. Dalam jangka waktu satu atau dua abad ini, senyawa
karbon ini dieksploitasi dan diubah menjadi karbon dioksida. Tidak semua karbon

13
dioksida berada di atmosfir (sebagian darinya larut di laut dan danau, sebagian juga
diubah menjadi bebatuan dalam wujud karbonat kalsium dan magnesium), tetapi hasil
pengukuran menunjukkan bahwa kadar CO2 di atmosfir perlahan-lahan meningkat tiap
tahun dan terus meningkat dekade-dekade terakhir. Peningkatan dari kadar CO2 di
atmosfir menimbulkan masalah-masalah penting yang disebabkan oleh alasan-alasan
berikut ini. Karbon dioksida memiliki sifat memperbolehkan cahaya sinar tampak untuk
lewat melaluinya tetapi menyerap sinar infra merah. Agar bumi dapat mempertahankan
temperatur rata-rata, bumi harus melepaskan energi setara dengan energi yang diterima.
Energi diperoleh dari matahari yang sebagian besar dalam bentuk cahaya sinar tampak.
Oleh karena CO2 di atmosfer memperbolehkan sinar tampak untuk lewat, energi lewat
sampai ke permukaan bumi. Tetapi energi yang kemudian dilepaskan (dipancarkan) oleh
permukaan bumi sebagian besar berada dalam bentuk infra merah, bukan cahaya sinar
tampak, yang oleh karenanya disearap oleh atmosfer CO2. Sekali molekul CO2 menyerap
energi dari sinar infra merah, energi ini tidak disimpan melainkan dilepaskan kembali ke
segala arah, memancarkan balik ke permukaan bumi. Sebagai konsekuensinya, atmosfer
CO2 tidak menghambat energi matahari untuk mencapai bumi, tetapi menghambat
sebagian energi untuk kembali ke ruang angkasa. Fenomena ini disebut dengan Efek
Rumah Kaca.
Lapisan terbawah (troposfir) adalah bagian yang terpenting dalam kasus efek
rumah kaca atau ERK. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan
bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan
ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan
kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel. Sisanya yang 65% masuk
ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas
tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37%
merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi difus yang telah mengalami penghamburan
dalam lapisan troposfir oleh molekul gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi,
sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam
bentuk sinar inframerah. Sinar inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh
molekul gas yang antara lain berupa uap air atau H2O, CO2, metan (CH4), dan ozon (O3).
Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan troposfir dan oleh karenanya suhu
udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi naik. Terjadilah Efek Rumah Kaca.

14
F. Solusi atau penanganan dari Efek Rumah Kaca / Globalisasi
1. Jadilah Vegetarian
Memproduksi daging sarat CO2 dan metana dan membutuhkan banyak air. Hewan
ternak seperti sapi atau kambing merupakan penghasil terbesar metana saat mereka
mencerna makanan mereka. Food and Agriculture Organization (FAO) PBB
menyebutkan produksi daging menyumbang 18%pemanasan global, lebih besar
daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%). Lebih lanjut, dalam
laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”, 2006 dipaparkan bahwa peternakan
menyumbang 65% gas nitro oksida dunia (310 kali lebih kuat dari CO2)
dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2). Selain itu, United Nations
Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan “Kick The Habit”, 2008,
menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya
menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya
menyumbang190 kg CO2! Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB,
yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB,
Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk mengurangi makan daging.
2. Tanam Pohon
Satu pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 kg CO2 per tahunnya. Dalam
seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap 1 ton CO 2. United
Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan bahwa pembabatan hutan
menyumbang 20% emisi gas rumah kaca. Seperti kita ketahui, pohon menyerap
karbon yang ada dalam atmosfer. Bila mereka ditebang atau dibakar, karbon yang
pernah mereka serap sebagian besar justru akan dilepaskan kembali ke atmosfer.
Maka, pikir seribu kali sebelum menebang pohon di sekitar Anda. Pembabatan
hutan juga berkaitan dengan peternakan. Tahukah Anda area hutan hujan seukuran
1 lapangan sepak bola setiap menitnya ditebang untuk lahan merumput ternak? Bila
Anda berubah menjadi seorang vegetarian, Anda dapat menyelamatkan 1 ha pohon
per tahunnya.
3. Bepergian yang Ramah Lingkungan
Cobalah untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi
bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang
menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang dibakar

15
dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2. Bila jaraknya dekat dan tidak terburu
waktu, anda bisa memilih kereta api daripada pesawat. Menurut IPCC, bepergian
dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca.
4. Kurangi Belanja
Industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal
dari penggunaan bahan bakar fosil. Jenis industri yang membutuhkan banyak bahan
bakar fosil sebagai contohnya besi, baja, bahan-bahan kimia, pupuk, semen, gelas,
keramik, dan kertas. Oleh karena itu, jangan cepat membuang barang, lalu membeli
yang baru. Setiap proses produksi barang menyumbang CO2.
5. Beli Makanan Organik
Tanah organik menangkap dan menyimpan CO2 lebih besar dari pertanian
konvensional. The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara organik
dapat mengurangi 26% CO2 yang disumbang oleh pertanian.
6. Gunakan Lampu Hemat Energi
Bila Anda mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda
dapat menghemat 400 kg CO2 dan lampu hemat energi 10 kali lebih tahan lama
daripada lampu pijar biasa.
7. Gunakan Kipas Angin
AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr CO 2 per jamnya.
Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin.
8. Jemur Pakaian Anda di bawah Sinar Matahari
Bila Anda menggunakan alat pengering, Anda mengeluarkan 3 kg CO2. Menjemur
pakaian secara alami jauh lebih baik: pakaian Anda lebih awet dan energi yang
dipakai tidak menyebabkan polusi udara.
9. Daur Ulang Sampah Organik
Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca
melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan
membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal dari sisa makanan, kertas,
daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini!
10. Pisahkan Sampah Kertas, Plastik, dan Kaleng agar Dapat Didaur Ulang
Mendaur ulang aluminium dapat menghemat 90% energi yang dibutuhkan untuk
memproduksi kaleng aluminium yang baru – menghemat 9 kg CO2 per kilogram

16
aluminium! Untuk 1 kg plastik yang didaur ulang, Anda menghemat 1,5 kg CO2,
untuk 1 kg kertas yang didaur ulang, Anda menghemat 900 kg CO2.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Efek Rumah Kaca adalah suatu proses dimana radiasi termal dari permukaan
atmosfer yang diserap oleh gas rumah kaca, dan dipancarkan kembali ke segala
arah. Mekanisme ini pada dasarnya berbeda dari yang rumah kaca sebenarnya, yang
bekerja dengan mengisolasi udara hangat dalam struktur tersebut sehingga panas yang
tidak hilang oleh konveksi. Efek rumah kaca ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun
1824, dan pertama kali dilaporkan kuantitatif oleh Svante Arrhenius pada tahun 1896,
merupakan proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit)
yang disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Efek Rumah Kaca disebabkan
oleh Uap Air, Karbondioksida, Metana, dan Gas lainnya. Solusi atau penanggulangan
Efek Rumah Kaca yakni jadilah vegetarian, menanam pohon, bepergian yang ramah
lingkungan, kurangi berbelanja, beli makanan organik, gunakan lampu hemat energi,
gunakan kipas angin, dan daur ulang sampah plastik.

B. Saran
Dunia yang kita huni ini bukan hanya untuk beberapa tahun saja. Bukan hanya
untuk kita saja. Generasi kita jugalah yang akan menikmati kehidupan di dunia ini. Kalau
bukan kita yang akan menjaga dan merawat bumi ini siapa lagi. Sejak dini mulailah kita
memperbaiki sikap kita, mulailah kita ramah terhadap lingkungan, mulailah kita bersikap
arif terhadap bumi. Bila tidak dari sekarang, kita akan merasakan dampak yang sangat
besar untuk generasi-generasi mendatang. Pemanasan global bukanlah disebabkan oleh
alam, pemanasan global sebenarnya karena ulah manusia yang semakin serakah telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.

17
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah dan Khairuddin. 2009. Emisi Gas Rumah Kaca dan Pemanasan
Global.Biocelebes, 3, 1, hlm 10-19.
Adibroto, Tusy A. dkk. 2011. Iptek Untuk Adaptasi Perubahan Iklim: Kajian Kebutuhan
Tema Riset Prioritas. Jakarta: Dewan Riset Nasional.
Adirachman.2011. Perubahan Iklim dan Efek Rumah
Kaca.ciptakarya.pu.go.id/dok/bulletin/bulletinCK_sep11.pdf. (Diakses pada 4
September 2019).
Aldrian, Edvinn dan Dian Nur Ratri. 2011. Pertanyaan Yang Sering Diajukan Mengenai
Perubahan Iklim Disarikan Dari IPCC Report 2007.Jakarta Pusat: BMKG, Pusat
Perubahan Iklim dan Kualitas Udara.
Anonim.2011. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.http://geografi-
geografi.blogspot.com/2011/12/pemanasan-global-dan-perubahan-iklim.html.
(Diakses pada 4 September 2019).
Anonim.2010. Energi Matahari dan Radiasi
Matahari.repository.usu.ac.id/bitstream/.../20743/.../Chapter%20II.pdf. Medan:
Universitas Sumatera.
Astra, I Made.2010. Energi dan Dampaknya Terhadap Lingkungan.Meterologi dan Ilmu
Fisika 11,2, hlm 127.
BMKG.2012. Buku Informasi Perubahan Iklim dan Kualitas Udara di Indonesia. Jakarta
Pusat: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Boer, Rizaldi. Tanpa Tahun. Perubahan Iklim dan Pengurangan Resiko Bencana. Bogor:
Laboratorium Klimatologi Institut Pertanian Bogor.

18