Anda di halaman 1dari 6

STEP 1:

- Silogisme : suatu cara penarikan kesimpulan secara deduktif


- Opini : pernyataan professional sebagai kesimpulan pemeriksa mengenai tingkat
kewajaran informasi dalam suatu laporan
Pendapat seseorang yang belum diketahui kebenaranya
- Fakta : sesuatu yang dapat dibuktikan kebenaranya
- Hoax : berita palsu/berita bohong. Informasi yang sebenarnya tapi dibuat seeolah olah
ada

STEP 2

1. Bagaimana membedakan opini dan fakta?


2. Bagaimana cara berfikir secara logis?
3. Apa saja Hambatan dalam penerapan pola berpikir kritis?
4. Apa saja keuntungan dikembangkannya berpikir kritis?
5. Apa saja tipe tipe berpikir?
6. Apa tujuan dan manfaat dari berpikir kritis?
7. Bagaimana cara menerapkan berpikir kritis?
8. Bagaimana cara menghindari berita hoax?
9. Apa saja macam-macam dan contoh dari silogisme?
10. Apa saja tahapan berpikir kritis?
11. apa saja factor yang mempengaruhi berpikir kritis?
12. Bagaimana caranya supaya kita berpikir kritis?
13. Apa saja akibat jika tidak berpikir kritis?
14. Kapan dan dimana kita bisa memulai berpikir kritis?
15. Kapan harus menggunakan sebuah opini dan kapan harus mengemukakan fakta?
16. Kapan harus menggunakan silogisme?

STEP 3

1. Apa saja tipe tipe berpikir?


Ada singkata C4A2SHD
- Creative : bagaimana melihat suatu masalah dari sudut pandang baru
- Critical : berpikir secara kritis dan teredukasi.
Menimbang dan menganalisis dulu sebelum mencari penyelesaian
- Concret : berfikir secara nyata
- Convergent : kemampuan untuk memberikan jawaban paling tepat
- Analytical thinking : pemecahan informasi secara lebih kompleks
- Abstract thinking: berfikir melalui apa yang dirasakan
- Squential: membantu untuk mengingat urutan informasi/mengikuti tugas secara
berurutan
- Holistic : melihat secara keseluruhan
- Divergent: proses berfikir yang digunakan menghasilkan ide ide melalui kemungkinan
kemungkinan

4 aspek:

a. Comunicatif thinking : kemampuan berpikir secara tepat


b. Systematic : bisa memprioritaskan
c. Creative thinking: kemampuan berinovasi
d. Abstract thinking

Perbedaan critical thinking dan smart thinking

2. Bagaimana cara berfikir secara logis?


Logical thinking: kemampuan berfikir menggunakan logika dan masuk akal
Caranya dengan Mengidentifikasi masalah/topiknya lalu dikaitkan dengan data/sumber
yang ada
Berfikir logis juga dapat menyangka kemungkinan kemungkinan yang ada

3. Apa tujuan dan manfaat dari berpikir kritis?


Tujuan :
- Dapat mencari informasi dengan tepat, dapat mengelola informasi dengan logis, dan
memecahkan masalah dengan baik
- Menjadikan pembelajaran menjadi tertaata dan terarah

Manfaat:

- Meningkatkan kreativitas
- Memperoleh pengetahuan yang lebih
- Dapat Menemukan solusi dari masalah
- Dalam kedokteran ketepatan diagnosis dan tatalaksana
4. Bagaimana cara menerapkan berpikir kritis?
- Dalam aspek kedokteran saat menerima informasi tidak menerima secara mentah
mentah.
- Melihat berbagai kemungkinan yang ada
- Membiasakan berpikir secara urut dan sistematis

Dalam clinical reasoning:


Intepretasi, analisis, inferensi, explanation,self regulation
5. Apa saja Hambatan dalam penerapan pola berpikir kritis?
a. Malas : malas mencari sumber dan informasi yang benar
b. Kurang pemahaman dalam masalahnya sendiri
c. Cepat dan salah dalam menyimpulkan suatu data
d. Egosentris : tidak mau menerima pendapat orang lain
e. Mental tauberes: tidak mau berfikir, hanya menerima saja
f. Paradigm yang dianut :
- Sociosentrisme : ada 2 kelompok.
Bias kelompok: menilai yang dianut yang paling baik.
Insting kelompok: kecenderungan mengikuti pendapat orang lain yang mayoritas
6. Apa saja tahapan berpikir kritis?
- Interpretasi : memahami dan mengartikan secara tepat
- Analisis: untuk mengenali maksud dan hubungan secara dapat menyimpulkan secara
benar antara penyataan, pertanyaan dan konsep
- Evaluasi : untuk menilai pernyataan
- Intervensi : untuk mengidentifikasi dan memilih elemen yang dibutuhkan untuk
menyusun kesimpulan
- Explaination : kesimpulan untuk menjelaskan apa yang dipikirkan
- Self regulation: untuk melihat ulang yang dilakukan sudah tepat/belum

a. mengenali masalah : identifikasi isu isu


b. Membandingkan kesamaan dan perbedaan
c. Memilih informasi yang relevan
d. Merumuskan masalah
e. Menilai informasi yang relevan : menyeleksi fakta dan opini, hasil nalar, judgement
f. Mengidentifikasi asumsi
g. Mengecek konsistensi
h. Mengenali kemungkinan bias, emosi, salah penafsiran kalimat, propaganda
i. Pemecahan maslah: mengenali data yang diperlukan dan cukup/tidaknya data

7. apa saja factor yang mempengaruhi berpikir kritis?


- Factor pengalaman (paling banyak mempengaruhi)
- Kemampuan berpikir kritis
- Pengetahuan yang terstruktur : dari pengalaman akan memperoleh pengetahuann
8. Bagaimana caranya supaya kita berpikir kritis?

Wahidin (2008) menyarankan beberapa hal berikut untuk mengembangkan


kemampuan berpikir kritis siswa.
1.Kuasai terlebih dahulu kemampuan-kemampuan berpikir dasar.(induktif,
deduktif dan reflektif).
2.Selalu bersikap skeptis tentang segala sesuatu!, benar/tidak ?, cocok/tidak dan
lainnya.
3.Tanamkan dalam diri kita bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak selain yang
datang dari Allah.
4.Latihlah hal-hal berikut.
a.Mengenali inti sebuah pernyataan.
b.Mengulang pernyataan dalam kalimat sendiri.
c.Mencari contoh untuk mengilustrasikan pernyataan.
d.Mengenali maksud di balik pernyataan.
e.Mencari kemungkinan penafsiran lain dari pernyataan.
f.Membedakan antara inti pernyataan dengan alasannya.
g.Memeriksa antara pernyataan denggan alasannya.
h.Merumuskan pertanyaan dengan jelas dan benar.
i.Membedakan antara fakta dengan opini atau penafsiran.
5.Yakini bahwa selalu ada kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dari suatu
pernyataan.
6.Yakini bahwa tidak ada larangan untuk berpikir kritis dan berpendapat lain.
7.Yakini bahwa pendapat orang banyak belum tentu benar.
8.Yakini bahwa berpikir kritis adalah juga kunci untuk maju.

9.Selalu dahului keputusan yang kita ambil sekecil apapun dengan berpikir nalar
(menggunakan logika).
10.Jika kita ingin berpikir kritis, jangan lupa pula bahwa orang lain pun mau.
siapkah ???

(sumber: jurnal Berpikir Kritis: Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi yang Dapat
Dikembangkan melalui Pembelajaran Sains)
9. Apa saja akibat jika tidak berpikir kritis?
Siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan respon yang tinggi memiliki hasil belajar
yang lebih baik. Demikian pula sebaliknya, siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan
respon yang rendah cenderung kurang mampu menguasai materi pembelajaran
sehingga memiliki hasil belajar yang rendah. Ukuran keberhasilan pembelajaran
adalah sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran dan siswa dapat
mengungkapkan kembali apa yang dipelajarinya (Sanjaya,2011: 138).

(Sumber: Jurnal FKIP Unila PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN RESPON
BAHAN AJAR MULTIREPRESENTASI TERHADAP HASIL BELAJAR
Khusnul Khotimah, I Dewa Putu Nyeneng, Feriansyah Sesunan)
10. Kapan dan dimana kita bisa memulai berpikir kritis?
11. Bagaimana membedakan opini dan fakta?
fakta adalah pernyataan yang tak terbantahkan kebenarannya. Pernyataan itu berupa kalimat
yang ditulis berdasarkan kenyataan, peristiwa, atau keadaan yang benar-benar terjadi secara
objektif. Objektif berarti dapat ditangkap oleh indra dan mengandung kepastian.

Tulisan opini menuntut perhatian pada hubungan logis. Hal ini menunjukkan bahwa susunan
tulisan seperti itu sedikit lebih rumit dari pada bentuk-bentuk lain yang diperbincangkan. Opini
adalah pandangan atas suatu peristiwa, pikiran atau pandangan yang terjadi dalam kehidupan
masyrakat (Dalman, 2013: 61). Opini adalah pernyataan atau pemikiran yang berisi pendapat.
Opini juga merupakan hasil anggapan, pemikiran, atau perkiraan orang, baik secara individu
maupun kelompok. Namun, opini bukan sesuatu yang mangada-ada atau khayal. Sumber opini
adalah fakta, hasil pemikiran itu sangat dipengaruhi unsur pribadi yang sangat subjektif.

(sumber: EDUKASI - Jurnal Pendidikan KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI FAKTA DAN OPINI


DALAM TEKS SURAT KABAR MELALUI KEGIATAN MEMBACA INTENSIF SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 4 KOTA TERNATE)
12. Kapan harus menggunakan sebuah opini dan kapan harus mengemukakan fakta?
13. Bagaimana cara menghindari berita hoax?
Ryan Ariesta mengatakan bahwa solusi yang tepat untuk mengurangi dampak hoax adalah
pertama, berhati-hati dengan judul berita atau informasi yang provokatif, karena setiap judul
yang memuat hal tersebut akan menyebabkan masyarakat mudah untuk terprovokasi dengan
cepat. Kedua, cermat dalam melihat sumber berita. Hal tersebut penting untuk memberikan
pengetahuan kepada masyarakat agar selalu melihat apakah sumber berita tersebut terjadi
pada masa lampau, atau hanya berasal dari sumber yang tidak jelas asalnya. Ketiga, periksa
fakta dan keaslian sebuah berita, karena berita adalah suatu informasi yang memuat faktual dan
aktual, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa berita itu mengandung sebuah fakta yang
relevan dan dengan data yang cukup. Keaslian juga merupakan hal yang penting dalam memilih
berita. Masyarakat jangan mudah tertipu terhadap berita yang hanya merupakan aksi provokatif
di media sosial (Ariesta, 2013).

(sumber: Jurnal Pekommas - Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial serta Antisipasinya Hoax
Communication Interactivity in Social Media and Anticipation - Christiany Juditha)
14. Apa saja macam-macam dan contoh dari silogisme?
Ada dua macam silogisme, yaitu silogisme kategoris dan silogisme hipotesis.
- Silogisme kategoris adalah silogisme yang premis-premis dan kesimpulannya berupa keputusan
kategoris. Silogisme ini dapat dibedakan menjadi:
- Silogisme kategoris tunggal, karena terdiri atas dua premis;
- Silogisme kategoris tersusun, karena terdiri atas lebih dari dua premis;
- Silogisme hipotetis, adalah silogisme yang terdiri atas satu premis atau lebih yang berupa
keputusan hipotetis. Silogisme ini juga dapat dibedakan menjadi:
- Silogisme hipotetis kondisional, yang ditandai dengan ungkapanungkapan: ‘jika… (maka)…; -
- Silogisme hipotetis disyungtif, yang ditandai dengan ungkapan:…., atau ….;
- Silogisme hipotetis konyungtif, yang ditandai dengan ungkapan: tidak sekaligus… dan …
- Silogisme kategoris tunggal merupakan bentuk silogisme yang terpenting. Silogisme ini terdiri
atas tiga term, yakni subyek (S), predikat (p), dan term-antara (M). Setiap manusia (M) dapat
mati (P) atau M - P Si Fulan (S) adalah manusia (M) atau S - M Jadi, Si Fulan (S) dapat mati (P)
atau S – P

15. Kapan harus menggunakan silogisme?


Silogisme dapat aplikasikan dalam berbagai aspek aktifitas diantaranya perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi dan pembuatan laporan (Karso, 1999).

Nemunya Cuma gitu doang monmaap 

(sumber: jurnal VARIASI MODEL SILOGISME UNTUK PENGAMBILAN KESIMPULAN DALAM


PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR - Elly’s Mersina Mursidik)