Anda di halaman 1dari 13

PERTEMUAN KE- 5

SUMBER-SUMBER AJARAN ISLAM


Bagian 2 (Hadits dan Sunnah)

Kesepakatan para ulama bahwa hadits merupakan


sumber asli ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur‟an (QS.
ali Imran[3]:31). Kehadiran hadits dalam penetapan hukum
(ajaran Islam) sangat diperlukan, sebab secara umum ayat-
ayat al-Qur‟an memiliki maksud yang masih bersifat global,
sehingga dibutuhkan penjelasan dari hadits Nabi
Muhammad SAW.

A. Pengertian Hadits dan Sunnah


Secara sederhana sedikit ada perbedaan antara
hadits dan sunnah. Kata hadis secara etimologi (bahasa)
berarti al-Jadid (baru, lawan dari kata qadim), al-Khabar yang
berarti berita dan al-Qarib (dekat).
Selanjutnya menurut istilah pengertian hadits
adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW.
berupa perkataan atau pengakuannya (taqrir) yang dijadikan
sebagai acuan di dalam penetapan hukum syariat.
Selanjutnya sunnah dalam bahasa Arab berarti tradisi,
kebiasaan, dan istiadat. Selanjutnya dalam terminologi
Islam, sunnah adalah segala perbuatan, perkataan dan
segala yang diizinkan Nabi Muhammad SAW. yaitu af‟ alu,
aqwalu dan taqriru.

1
Hadits dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
telah ditetapkan oleh Nabi SAW. secara lisan (sabda) yang
terkait dengan ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah
sosial (muāmalah) dan diketahui para sahabatnya.
Penetapan yang dilakukan oleh Nabi SAW. adalah
merupakan bimbingan wahyu dari Allah SWT. (QS. An-
Najm [53]: 3-4).

Selanjutnya pengertian sunnah menurut syara‟ ialah


segala sesuatu yang diperintahkan dan atau dilarang melalui
perbuatan oleh Nabi SAW. terkait dengan ibadah, baik
ibadah ritual maupun ibadah muamalah (sosial) dan
diketahui para sahabatnya. (M. Ajaj Al-Khatib, 1998: 2).

Dengan demikian hadits (sunnah) yakni segala


perkataan (perbuatan) Nabi SAW. yang terkait dengan
ibadah, baik ibadah ritual maupun sosial (muamalah) dan
diketahui oleh para sahabatnya. Menurut Abuddin Nata
(2011:37), ajaran Islam akan menemui kesulitan untuk
memahami dan melaksanakannya jika tidak didampingi
oleh hadits (sunnah).

Sebagai sumber hukum ajaran Islam kedua, hadits


berada satu tingkat di bawah al-Qur‟an. Artinya, jika terjadi
sebuah perkara hukum tidak terdapat di dalam al-Qur‟an,
maka yang harus dijadikan sumber berikutnya adalah
Hadits. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT.

         

2
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka
ambillah, dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. (QS.
al-Hasyr[59]:7).

Maksud dari ayat ini adalah apa saja yang


diperintahkan oleh Nabi SAW. baik langsung dengan
ucapan (hadits), maupun melalui tidak langsung dengan
tindakan beliau (sunnah), maka “wajib” untuk diikuti, jika
memang isinya perintah wajib dan dianjurkan untuk diikuti
jika perintahnya sebatas anjuran, begitu pula sebaliknya,
apa saja yang dilarang oleh Nabi SAW. maka wajib
ditinggalkan.

Dengan demikian, kewajiban seorang muslim


untuk menggunakan hadits dalam menetapkan hukum
setelah al-Qur‟an adalah mutlak adanya, sebagaimana
disebutkan dalam salah satu firman Allah SWT.
“Barangsiapa mentaati Rasul (Muhammad), maka
sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT. Dan barangsiapa
berpaling (ingkar) darinya, maka ketahuilah, Kami tidak
mengutusmu Muhammad untuk menjadi pemelihara mereka. (QS.
an-Nisa‟[04]:80).
Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa keberadaan
hadits di dalam upaya memahami ajaran Islam begitu urgen
(penting), karena hadits merupakan gambaran bagaimana
cara dan metode Nabi SAW. di dalam memahami dan
mengamalkan seluruh isi al-Qur‟an. (QS al-Maidah[5]:92).

3
Disamping ayat al-Qur‟an di atas, Nabi SAW.
pernah menyebutkan dalam salah satu haditsnya: “Aku
tinggalkan untuk kalian dua hal, kalian tidak akan sesat selama
berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Qur`an dan sunnah”.
(HR. al-Hakim, dan dishahïhkan oleh al-Albani dalam
Shahïh al-Jami‟ ash-Shaghïr, no. 2937).

Dari sini jelaslah, bahwasanya hadits-hadits


Rasulullah SAW. menjadi salah satu sumber pengambilan
hukum syari‟at, baik dalam hal aqidah, hukum fiqih, dan
yang lainnya. Sunnah-sunnah Rasulullah SAW. ini menjadi
sumber pedoman seorang muslim dalam menggapai
kebahagian dan keridhaan Allah SWT. Sehingga, dengan
kedudukannya ini, maka hadits-hadits tersebut menjadi
sumber dan asas syari‟at yang kekal dan selalu terjaga
keasliannya.

B. Fungsi hadits terhadap al-Qur'an


Eksistensi hadits sebagai sumber ajaran Islam
kedua setelah al-Qur‟an sangat penting sebagaimana telah
disebutkan di atas, karenanya perlu dipahami secara konkrit
fungsi hadis terhadap al-Qur‟an tersebut. Dalam konteks
itulah, posisi hadits dalam al-Qr‟an paling tidak dapat
dibagi ke dalam beberapa fungsi di antaranya yakni:
Pertama, hadits sebagai bayan tafsil. Artinya bahwa
posisi hadits berfungsi untuk memberikan rincian dan
tafsiran terhadap maksud ayat-ayat al-Qur'an yang masih
bersifat umum maknanya. Sebab jika tidak ditafsirkan
4
melalui hadits, maka akan terdapat kesulitan bagi kita untuk
memahami ayat-ayat al-Qur‟an tersebut, apalagi menurut
keyakinan umat Islam bahwa yang paling mengetahui
maksud al-Qur‟an setelah Allah SWT. adalah Nabi SAW.

Diantara contoh ayat-ayat yang al-Qur'an yang


masih global (umum) adalah perintah shalat, baik mengenai
cara mengerjakan, syarat-syarat, atau halangan-
halangannya. Salah satu ayat yang memerintahkan shalat
adalah:

       

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan


rukuklah beserta orang-orang yang ruku' (QS. al-Baqarah[2]:
43).

Dalam ayat di atas belum jelas bagaimana dan


kapan shalat dilakukan oleh umat Islam, karena itu
Rasulullah SAW. menjelaskan ayat di atas dengan sebuah
Hadits “ Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”
(HR. Bukhari).

Dalam hadits yang lebih rinci Nabi SAW. melalui


Haditsnya menjelaskan tentang teknis pelaksanaan shalat:
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
“Apa bila kamu berdiri untuk shalat, maka sempurnakan wudhu‟,
kemudian menghadaplah kiblat, kemudian takbirlah, kemudian
bacalah ayat yang ringan (mudah), kemudian ruku'lah hingga

5
tuma'ninah dalam keadaan ruku', kemudian berdirilah hingga
i'tidal dalam keadaan tegak, kemudian sujudlah hingga tuma'ninah
dalam sujud, kemudian bangunlah hingga tuma'ninah dalam
keadaan duduk, kemudian sujudlah hingga tuma'ninah dalam
sujud, kemudian kerjakanlah hal tersebut di setiap kali kamu
shalat”. (HR. Bukhari).

Merujuk hadis di atas, memberi gambaran secara


jelas bagaimana teknis pelaksanakan shalat yang akan dan
harus dilakukan oleh umat Islam mulai takbir hingga salam.

Kedua, hadits sebagai bayan takhsis. Artinya


menghususkan maksud dari al-Qur'an, yang maknanya
masih bersifat umum. Misalnya al-Qur'an telah
mengharamkan bangkai dan darah secara mutlak
sebagaimana diinformasikan di dalam al-Qur‟an sebagai
berikut:

 …     

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging


babi .... (QS. Al-Maidah[5]: 3).

Kemudian hadits mengkhususkan (mentakhsis)


keharamannya, serta menjelaskan macam-macam bangkai
dan darah yang diharamkan, sebagaimana disebutkan
hadits berikut: “Dihalalkan bagi kalian dua macam bangkai dan
dua macam darah. Adapun dua macam bangkai itu ialah bangkai

6
ikan dan bangkai belalang, sedangkan dua macam darah itu adalah
hati dan limpa”. (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim).

Dari hadits ini menunjukkan bahwa walaupun al-


Qur‟an telah menyebutkan tentang keharaman bangkai dan
darah, akan tetapi Nabi SAW. memberikan penjelasan dari
maksud ayat di atas, yakni halal bagi umat Islam dua
macam bangkai dan darah yakni bangkai ikan dan belalang,
selanjutnya darah yang dihalalkan adalah darah “hati dan
limpa”.

Ketiga, hadits sebagai bayan taqyid.


Artinya membatasi maksud ayat al-Qur‟an dengan mutlak
baik sifat, keadaan, atau syarat-syarat tertentu. Sebagai
contoh hadits Nabi SAW. berikut: Dari „Aisyah r.a. berkata,
Nabi SAW. bersabda”Tangan pencuri tidak boleh dipotong,
melainkan pada pencurian senilai seperempat dinar atau lebih. (HR.
Muslim).
Hadits di atas mentaqyid (membatasi) ayat berikut:

        

    

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,


potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang
mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Maidah[5]: 38).

7
Dengan demikian, maksud ayat ini terkait perintah
Allah untuk memotong tangan bagi pencuri, itu memiliki
persyaratan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di
atas yakni nilai yang dicuri minimal “seperempat dinar”.

Keempat, hadits berfungsi sebagai bayan ta'qid


(penguat). Artinya adalah menetapkan dan memperkuat
apa yang diterangkan dalam al-Qur'an. Karena itu, disini
hadits semakna dengan apa yang disampaikan al-Qur'an,
karena masih dalam tujuan dan sasaran yang sama. Karena
itulah, maka dalam keadaan seperti ini, hadits
berkedudukan sebagai penguat dan menegaskan apa yang
telah disebutkan dalam al-Qur'an. Sebagai contoh dapat
dilihat dalam hadits berikut, “Tidak diterima shalat seseorang
yang berhadas sebelum berwudhu”. (HR. Bukhari).

Hadits ini menta'kid (menguatkan) QS. al-


Maidah[5]: 6 mengenai keharusan berwudhu ketika hendak
mendirikan shalat. Ayat tersebut adalah:
        

      

 …  

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak


mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu
sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki….”.
8
C. Macam-macam hadits

Dalam kaitannya dengan macam-macam hadits,


maka dapat diklasifikasi menjadi beberapa macam:

 Hadits dilihat dari asalnya


1) Hadis qudsi, sebuah hadits yang maknanya
disandarkan kepada Allah SWT. disampaikan melalui
suatu wahyu, dan redaksinya dari Nabi SAW.
Contoh: “Dari Abu Dzar Jundab bin Janadah r.a. dari
Nabi SAW. berdasarkan berita yang disampaikan Allah
Tabaraka wa Ta‟ala, bahwa Allah telah berfirman, “Wahai
hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri
kamu dan atas hamba–hamba-Ku. Janganlah kalian saling
menzalimi…” (HR. Muslim).
2) Hadis Nabi, pemberitaan makna dan redaksinya
berdasarkan ijtihad Nabi sendiri. Dalam hadis qudsi
Nabi menjelaskan kandungan atau yang tersirat pada
wahyu sebagaimana yang diterima dari Allah dengan
ungkapan beliau sendiri. Sekalipun kandungannya
dari Allah tetapi ungkapan itu disandarkan kepada
Nabi sendiri karena tentunya ungkapan kata itu
disandarkan kepada yang mengatakannya walaupun
maknanya diterima dari yang lain. Oleh karena itu,
selalu disandarkan kepada Allah. Pemberitaan seperti
ini biasa disebut tawfiqi.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hadis
Nabawi dengan hadis dengan kedua bagiannya merujuk
kepada wahyu, baik yang dipahami dari kandungan wahyu

9
secara tersirat yang disebut dengan tawfiqih maupun yang
dipahami dari al-Qur‟an secara tersurat.

 Hadits dilihat dari bentuknya


Mengutip pandangan Amiruddin dan
Fathurrahman, (2016: 43), menyebutkan bahwa adapun
macam hadits (sunnah) ditinjau dari bentuknya yakni:

1) Hadits qauliyah, yaitu semua perkataan Rasulullah


SAW. Sunnah ini biasa disebut khabar (berita) atau
berbagai perkataan Nabi SAW.yang didengar dan
diketahui beberapa sahabatnya lalu disampaikan
kepada sahabat yang lainnya. Contoh: “Tidak sah
shalatnya seseorang yang tidak membaca al-Fatihah (HR.
Muslim).
2) Hadits fi‟liyah, yaitu semua perbuatan Rasulullah
SAW. yang diketahui dan disampaikan oleh para
sahabatnya seperti tata cara shalat, wudhunya Nabi
SAW. Contoh lain misalnya: “Do‟a yang paling
banyak dilakukan oleh Nabi SAW, adalah Allahumma
atina fi ad-dun-ya hasanah wa fi al-akhirati hasanah
waqina azabaan-nar” (HR. Bukhari, Muslim).
3) Taqririyah, yaitu perbuatan atau ucapan sahabat
yang mendapat pengakuan dari Nabi SAW. namun
beliau diam dan tidak mencegahnya, maka sikap
diamnya Nabi SAW. menunjukkan beliau setuju
terhadap hal tersebut. Contoh sebagaimana
disebutkan dalam hadits berikut: ”Dari Imran bin
Husain, ia berkata”pernah kami bersama Rasulullah

10
SAW.dalam sebuah perjalanan lalu beliau shalat dengan
orang banyak, tiba-tiba ada seorang laki-laki menyendiri.
Lalu ia bertanya”apa yang menghalangi engkau tidak
shalat , lalu laki-laki itu menjawab”aku sedang junub,
padahal tidak ada air, lalu Nabi SAW.
bersabda”gunakanlah debu (tayamum), karena
sesungguhnya ia cukup bagimu (HR. Bukhari, Muslim).
Dalam hadits yang lain disebutkan “Amr bin Ash
sesungguhnya ketika aku diutus ke dalam peperangan
Dzatus Salail lalu ia berkata”aku bermimpi hingga keluar
air mani pada suatu malam yang sangat dingin, kemudian
aku bangun pagi-pagi. Kalau aku mandi tentu aku akan
celaka (sakit), karena itu aku bertayamum, kemudian aku
mengimami shalat subuh bersama sahabat-sahabatku,
ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW. lalu nabi
mengetahui hal tersebut dari salah seorang sahabat, lalu
nabi diam…(HR. Abu Daud, Ahmad).
4) Hadits hammiyah, yaitu sesuatu yang telah
direncanakan akan dikerjakan oleh Nabi SAW. tapi
tidak sampai dikerjakan. Contoh, tentang puasa 9
Muharam, sebagaimana diceritakan dalam hadits
berikut: “Dari Abdullah bin Abbas r.a. Rasulullah
SAW berkata”Ketika beliau melakukan puasa 10
Muharam dan memerintahkan para sahabat
melakukannya, lalu para sahabat berkata”Di hari ini
diagunggkan oleh orang Yahudi dan Nasrani, maka Nabi
SAW. bersabda”Jika begitu, pada tahun mendatang kita
juga akan berpuasa pada 9 muharam, ternyata sebelum

11
sampai 9 muharam beliau lebih dulu wafat”. (HR.
Muslim).

 Hadits dilihat dari jumlah periwayatnya


1) Hadits Mutawatir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang
banyak antara 3 hingga 300 orang. Contohnya “Dari
al-Mughirah r.a. berakata bahwa Nabi SAW. bersabda”
Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka siapkanlah
tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari).
2) Hadits Ahad, yaitu hadits yang jumlah periwayatnya
tidak sampai kepada tingkatan mutawatir. Akan tetapi
harus diketahui bahwa hadits ahad tidak berimplikasi
pada kualitas sebuah hadits. Contoh hadits tentang
“Dari Ibn Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW.
bersabda”Perkara halal yang dibenci oleh Allah adalah
talaq. (HR. Abu Daud).

 Hadits ditinjau dari kualitasnya


1) Hadits shahih, yaitu hadits yang bersambung
(muttashil) sanadnya, diriwayatkan oleh orang yang
„adil, dhabit (memiliki ingatan yang kuat, tidak ada
kejanggalan (syadz) dan cacat (ber‟illat) kepadanya.
Contohnya “Dari Abdullah bin Umar r.a. Rasulullah
SAW. bersabda”Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-
baik perhiasan adalah wanita shalilah (HR.Muslim).
2) Hadits hasan, yaitu hadits yang baik, tapi tidak sampai
memenuhi sebagian dari syarat hadits shahih.
Contohnya “Dari Abu Hurairah r.a.

12
berkata”Rasulullah SAW. bersabda”Umur umatku
antara 60 dan 70 tahun (HR. at Tirmidzi).
3) Hadits dhaif, yaitu hadits yang tingkatannya tidak
sampai pada hadits hasan, atau diantaranya
perawinya ada yang meragukan. Contohnya” Siapa
yang membaca surat yasin pada permulaan siang (pagi hari)
maka akan diluluskan semua hajatnya.”Menurut para
ulama hadits ini lemah. Ia diriwayatkan oleh Ad-
Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja‟. Atha‟ bin Abi
Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu
Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam. Sebab ia lahir
sekitar tahun 24 H dan wafat tahun 114 H. (Ad-
Darimi, 2:457).
4) Hadits Maudhu‟, yaitu hadits yang tidak ada sanadnya
dari Nabi SAW. Contohnya;“Siapa yang membaca
surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun
pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat
Ad-Dukhan pada malam Jum‟at maka ketika ia bangun
pagi hari diampuni dosanya.” Menurut ulama hadits
ini Palsu. Demikian pula disebutkan Ibnul Jauzi
bahwa, hadits ini dari semua jalannya adalah batil,
tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata:
Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad
hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. ( Ibnul
Jauzi, I: 246-247).

13