Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Menafsirkan Konsep Membaca dan Menulis Permulaan (MMP)

Disusun Oleh :

- JIHAN AGUSTINA (1173311059)


- LEVIA AYU AZRIANTI (1173311065)
- LUTFHIYAH NIBROSS ANGKAT (1173311070)
- MUKTI KANAYA SIDIQ (1173311086)
- NINTA KARINA BANUREA (1173311094)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya
penulis bisa menyelesaikant Tugas Makalah Kelompok tentang Pengembangan Bahasa dan
Sastra Indonesia Kelas Rendah

Penyusunan Tugas Makalah Kelompok ini penulis menyadari bahwa kelancaran


penulisan Tugas Makalah Kelompok adalah berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak.
Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam kelancaran penulisan Tugas Makalah Kelompok ini.

Dalam penulisan Tugas Makalah Kelompok ini, penulis telah berusaha menyajikan
yang terbaik. Penulis berharap semoga Tugas Makalah Kelompok ini dapat memberikan
informasi serta mempunyai nilai manfaat bagi semua pihak.

Medan, September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan ..........................................................................
A. Latar Belakang.....................................................................................
B. Tujuan Pembuatan Makalah.................................................................
C. Manfaat …………………………………………………………........
D. Metode..................................................................................................
BAB II Pembahasan.............................................................................
A. Langkah-langkah Pembelajaran membaca dan menulis.......................
B. Membandingkan metode MMP secara tepat.........................................
C. Memilih media dan memanipulasikan MMP dengan teknik yang
tepat......................................................................................................
BAB III Penutup...................................................................................
Kesimpulan dan Saran..........................................................................
Daftar Pustaka.......................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menulis permulaan merupakan dasar pengajaran yang pertama kali di jarkan guru
kepada anak kelas satu.keterampilan pembelajaran menulis permulaan disajikan bersama
dengan membaca permulaan sehingga sering di sebut dengan MMP (Membaca dan Menulis
Permulaan).
Pada umumnya tujuan dari penulisan permulaan ini adalah mengajarkan anak menulis
supaya anak bisa menulis dengan benar.Namun dalam menulis permulaan ini bisanya
dilaksanakan setelah atau bersamaan dengan belajar membaca permulaan pada anak kelas
satu. Karena anak yang bisa membaca akan mempermudah pembelajaran anak dalam
menulis permulaan.
Menurut pendapat Saleh Abbas (2006:125), keterampilan menulis adalah kemampuan
mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa
tulis. Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung dengan ketepatan bahasa yang
digunakan, kosakata dan gramatikal dan penggunaan ejaan.
Dalam pembelajaran di kelas satu yang paling mendasar adalah keterampilan membaca
dan menulis, karena hal tersebut merupakan dasar pelajaran bagi kelas selanjutnya. Sehinga
dalam pembelajaran MMP ini keterampilan guru sebagai pengajar yang pertama bagi anak
kelas satu ini harus sangat penuh dengan perhatian kepada anak.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan menulis permulaan ?
2. Apa tujuan menulis permulaan ?
3. Seperti apakah pembelajaran menulis permulaan ?
4. Bagaimana langkah-langkah pembelajaran menulis permulaan ?

C. Tujuan Penulisan
1. Memahami pengertian menulis permulaan.
2. Mengetahui tujuan menulis permulaan.
3. Mengetahui pembelajaran menulis permulaan.
4. Mengetahui langkah pembelajaran menulis permulaan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Langkah-langkah Pembelajaran Menulis Permulaan


Langkah-langkah kegiatan menulis permulaan terbagi ke dalam dua kelompok, yakni
(a) penegenalan huruf, dan (b) latihan. Pengenalan Huruf Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan
dengan kegiatan pembelajaraan membaca permulaan. Penekanan pembelajaran diarahkan pada
pengenalan bentuk tulisan serta pelafalannya dengan benar. Fungsi pengenalan ini
dimaksudkan untuk melatih indra siswa dalam mengenal dan membedakan bentuk dan
lambang-lambang tulisan. Mari kita perhatikan salah satu contoh pembelajaran pengenalan
bentuk tulisan untuk murid kelas 1 SD. Misalnya, guru hendak memperkenalkan huruf a, i, dan
n.
Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1) Guru menunjukkan gambar seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Kedua
gambar anak tersebut diberi nama “nani” dan “nana”.

2) Guru memperkenalkan nama kedua anak itu sambil menunjukkan tulisan “nani” dan “nana”
yang tertera di bawah masing-masing gambar.

3) Melalui proses tanya jawab secara berulang-ulang anak diminta menunjukkan mana “nani”
dan mana “nana” sambil diminta menunjukkan bentuk tulisannya.

4) Selanjutnya, guru memindahkan dan menuliskan kedua bentuk tulisan tersebut di papan tulis
dan anak diminta memperhatikannya. Guru hendaknya menulis secara perlahan- lahan dan
anak diminta untuk memperhatikan gerakan-gerakan tangan serta contoh pengucapan dari
bentuk tulisan yang sedang ditulis guru.
5) Setiap tulisan itu kemudian dinalisis dan disintesiskan kembali.
Perhatikan contoh tulisan berikut.

nani nana
na ni na na
n a n i n a n i
na ni na na
nani nana
Demikian seterusnya, kegiatan ini dilakukan berulang-ulang bersamaan dengan pembelajaran
membaca permulaan. Proses pemberian latihan dilaksanakan dengan mengikuti prinsip dari
yang mudah ke yang sukar, dari latihan sederhana menuju latihan yang kompleks.
Ada beberapa bentuk latihan menulis permulaan yang dapat kita lakukan, antara lain:
1) Latihan memegang pinsil dan duduk dengan sikap dan posisi yang benar. Tangan kanan
berfungsi untuk menulis, tangan kiri untuk menekan buku tulis agar tidak mudah bergeser.
Pensil diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk. Ujung ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
menekan pensil dengan luwes, tidak kaku. Posisi badan ketika duduk hendaknya tegak. Dada
tidak menempel pada meja, jarak mata antara mata dengan buku kira-kira 25-30 cm.

2) Latihan gerakan tangan. Mula-mula melatih gerakan tangan di udara dengan telunjuk
sendiri atau dengan bantuan alat seperti pinsil, kemudian dilanjutkan dengan latihan dalam
buku latihan. Agar kegiatan ini menarik, sebaiknya disertai dengan kegiatan bercerita, misalnya
untuk melatih membuat garis tegak lurus guru dapat bercerita yang
ada kaitannya dengan pagar, bulatan dengan telur.

3) Latihan mengeblat, yakni menirukan atau menebalkan suatu tulisan dengan menindas
tulisan yang telah ada. Ada beberapa cara mengeblat yang bisa dilakukan anak, misalnya
dengan menggunakan kertas karbon, kertas tipis, menebalkan tulisan yang sudah ada. Sebelum
anak melakukan kegiatan ini, guru hendaknya memberi contoh cara menulis dengan benar di
papan tulis, kemudian menirukan gerakan tersebut dengan telunjuknya di udara. Setelah itu,
barulah kegiatan mengeblat dimulai. Pengawasan dan pembimbingan harus dilakukan secara
individual sampai seluruh anak memberikan perhatiannya.
4) Latihan menghubung-hubungkan tanda titik-titik yang membentuk tulisan. Latihan
dapat dilakukan dalam buku-buku yang secara khusus menyajikan latihan semacam ini.

5) Latihan menatap bentuk tulisan. Latihan ini dimaksudkan untuk melatih koordinasi antara
mata, ingatan, dan jemari anak ketika menulis sehingga anak dapat mengingat bentuk kata atau
bentuk huruf dalam benaknya dan memindahkannya ke jari-jemari tangannya. Dengan
demikian, gambaran kata yang hendak ditulis tergores dalam ingatan dan pikiran siswa pada
saat dia menuliskannya.

6) Latihan menyalin, baik dari buku pelajaran maupun dari tulisan guru pada papan
tulis. Latihan ini hendaknya diberikan setelah dipastikan bahwa semua anak telah mengenal
huruf dengan baik. Ada beragam model variasi latihan menyalin, di antaranya menyalin tulisan
apa adanya sesuai dengan sumber yang ada, menyalin tulisan dengan cara yang berbeda,
misalnya dari huruf cetak ke huruf tegak bersambung, atau sebliknya dari huruf tegak
bersambung ke huruf cetak.

7) Latihan menulis halus/indah. Latihan dapat dilakukan dengan menggunakan buku bergaris
untuk latihan menulis atau buku kotak. Ada petunjuk berharga yang dapat Anda ikuti, jika
mrid-murid Anda tidak memiliki fasilitas seperti itu. Perhatikan petunjuk berikut dengan
cermat.

Untuk tulisan/huruf cetak, bagilah setiap baris pada halaman buku menjadi dua. Untuk
ukuran dan bentuk tulisan, lihat pedoman yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan
Nasional.

Untuk tulisan tegak bersambung. Bagilah setiap baris pada halaman buku menjadi tiga
bagian. Untuk ukuran dan bentuk tulisan lihat pedoman dari Depdiknas.

8) Latihan dikte/imla. Latihan ini dimaksudkan untuk melatih siswa dalam


mengkoordinasikan antara ucapan, pendengaran, ingatan, dan jari-jarinya ketika menulis,
sehingga ucapan seseorang itu dapat didengar, diingat, dan dipindahkan ke dalam wujud tulisan
dengan benar.

9) Latihan melengkapi tulisan (melengkapi huruf, suku kata, atau kata) yang secara
sengaja dihilangkan. Perhatikan contoh berikut.
Perhatikan contoh berikut!
Melengkapi huruf
b O l A
b … l A
… O … …
… … … …

11) Mengarang sederhana dengan bantuan gambar.

Ikuti langkah-langkah berikut ini.


Guru menunjukkan suatu susunan gambar berseri.

Guru menceritakan dan bertanya jawab tentang tema, isi, dan maksud gambar.
Siswa diberi tugas untuk menulis karangan sederhana sesuai dengan penafsiran-nya
mengenai gambar tadi atau sesuai dengan cerita gurunya dengan menggunakan kata-kata
sendiri

Pengertian Membaca Permulaan


Membaca Permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah
dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik
membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang
pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca
sebagai suatu yang menyenangkan.

Pembelajaran membaca permulaan

Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar
siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar,
sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca
permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem
tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan
belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan
membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.Tingkatan ini disebut
sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum,
artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan,
telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas.
Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu
perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie,1999: 16).

c. Metode-metode membaca permulaan

Metode adalah cara yang telah teratur dan terpilih secara baik untuk mencapai suatu maksud,
cara mengajar (KBB,1984: 649). Sedangkan yang dimaksud dengan membaca permulaan
adalah pengajaran membaca awal yang diberikan kepada siswa kelas 1 dengan tujuan agar
siswa terampil membaca serta mengembangkan pengetahuan bahasa dan keterampilan bahasa
guna menghadapi kelas berikutnya.

Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada berbagai metode yang dapat dipergunakan ,
antara lain (1) metode abjad (2) metode bunyi (3) metode kupas rangkai suku kata (4) metode
kata lembaga (5) metode global dan (6) metode Struktual Analitik Sinteksis
(SAS).(Alhkadiah,1992: 32-34).

a) Metode abjad dan metode bunyi

Menurut Alhkadiah,kedua metode ini sudah sangat tua. Menggunakan kata-kata lepas,
misalnya:

Metode abjad : bo-bo-bobo


la-ri-lari

Metode bunyi : na-na-nana

lu-pa-lupa

b) Metode kupas rangkai suku kata dan metode kata lembaga

Kedua metode ini menggunakan cara mengurai dan merangkaikan. Misalnya:

Metode kupas rangkai suku kata : ma ta-ma ta

pa pa-pa pa

Metode kata lembaga : Bola-bo-la-b-o-l-a-b-o-l-a-bola

c) Metode global

Metode global timbul sebagai akibat adanya pengaruh aliran psikologi gestalt, yang
berpendapat bahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna daripada jumlah

bagian-bagiannya.Memperkenalkan kepada siswa beberapa kalimat, untuk dibaca.

d) Metode SAS

Metode ini dibagi menjadi 2tahap, yaitu: (1) tanpa buku (2) menggunakan buku.Mengenai itu,
Momo(1987) mengemukakan beberapa cara yaitu:

1. Tahap tanpa buku, dengan cara:

– Merekam bahasa siswa

– Menampilakn gambar sambil bercerita

– Membaca gambar

– Membaca gambar dengan kartu kalimat

– Membaca kalimat secara struktual (S)

– Proses Analitik (A)

– Proses Sintetik (S)

2. Tahap dengan buku, dengan cara:

– Membaca buku pelajaran

– Membaca majalah bergambar

– Membaca bacaan yang disususn oleh guru dan siswa.

– Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara berkelopok.


– Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara individual.

Metode ini yang dipandang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa adalah metode SAS
menurut Supriyadi dkk (1992). Alasan mengapa metode SAS ini dipandang baik adalah:

Metode ini menganut prinsip ilmu bahasa umum, bahwa bentuk bahasa yang terkecil adalah
kalimat.

Metode ini memperhitungkan pengalaman bahasa anak.

Metode ini menganut prinsip menemukan sendiri.

Kelemahan metode SAS, yaitu:

 Kurang praktis
 Membutuhkan banyak waktu
 Membutuhkan alat peraga

B. Membandingkan metode MMP secara tepat

Metode Pembelajaran Membaca dan Menulis permulaan

a. Metode Eja

Pembelajaran membaca dan manulis permulaan dengan metodenya ini memulai


pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alfabetis. Huruf-huruf tersebut
dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Sebagai contoh A/a,
B/b, C/c, D/d, E/e, F/f, dan seterusnya, dilafalkan sebagai (a), (be), (ce), (de), (e), (ef), dan
seterusnya. Kegiatan ini diikuti dengan latihan menulis lambang, tulisan, seperti a, b, c, d, e, f,
dan seterusnya. Proses ini sama dengan menulis permulaan, setelah anak-anak dapat menulis
huruf-huruf lepas, kemudian dialnjutkan dengan belajar menulis rangkai huruf yang berupa
suku kata. Kelemahan yg mendasar dari penggunaan metode eja ini meskipun anak mengenal
dan hafal abjad dengan baik namun anak tetap mengalami kesulitan dalam mengenal rangkaian
huruf yang berupa suku kata atau kata.

b. Metode Abjad

Pembelajaran membaca permulaan dengan metode abjad dimulai dengan mengenalkan


huruf-huruf secara alphabetis. Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai
dengan bunyinya menurut abjad. Untuk beberapa kasus, anak susah membedakan huruf-huruf
b, d, p, q atau n, u, m, w. untuk itu guru melatihkan huruf-huruf tersebut berulang-ulang atau
dengan cara member warna yang berbeda. Setelah tahapan itu siswa diajak untuk mengenal
suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yan sudah dikenalnya.

Contoh : b dan a dibaca ba

C dan a dibaca ca

Sehingga dua suku kata tersebut dibaca menjadi “baca”.

c. Metode Suku Kata

Proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode ini diawali
dengan pengenalan suku kata, seperti: ba, bi,bu,be,bo / ca, ci, cu, ce, co,/ da, di, du, de, do/ ka,
ki, ku, ke, ko/., dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut, kemudian dirangkaikan menjadi kata-
kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi
paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar membaca, menulis permulaan.
Kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kalimat sederhan.
Proses perangkaian kata menjadi kalimat sederhana. Proses perangkaian suku kata menjadi
kata, kata menjadi kalimat sederhana, kemudia di tindaklanjuti dengan proses bahasa terkecil
dibawahnya, yakni dari kalimat ke dalam bentuk kata dan kata ke dalam suku-suku kata.

d. Metode Kata

Proses pembelajaran membaca, menulis permulaan seperti yang digambarkan dalam


langkah-langkah di atas dapat pula dimodifikasi dengan mengubah objek pengenalan awalnya.
Sebagai contoh proses pembelajaran membaca, menulis permulaan diawali dengan pengenalan
sebuah kata tertentu. Kata ini kemudian dijadikan lembaga sebagai dasar untuk pengenalan
suku kata dan huruf.

e. Metode Global

Metode global berarti secara utuh dan bulat. Dalam metode global yang disajikan
pertama kali pada anak adalah kalimat seutuhnya. Kalimat tersebut dituliskan dibawah gambar
yg sesuai dengan isi kalimatnya. Setelah berkali-kali membaca, anak dapat membaca kalimat-
kalimat tersebut. Metode ini sering dikatakan dengan metode kalimat. Dikatakan demikian
karena alur proses pembelajaran membaca, menulis permulaan yang diperlihatkan melalui
metode ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Sebagai contoh :
memperkenalkan gambar, mengurangi salah satu kalimat menjadi kata; kata menjadi suku kata;
dan suku kata menjadi huruf-huruf.

f. Metode Struktural Analitik Sintetik

Metode ini merupakan salah satu jenis metode yang bisa digunakan untuk proses
pembelajaran mambaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Pembelajaran MMP
dengan metode ini mengewali pembelajaran dengan dua tahap , yakni menampilkan dan
memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula, anak disuguhi sebuah struktur yang
memberi makna lengkap, yakni struktur kalimat. Kemudian melalui proses analitik, anak-anak
diajak untuk mengenal konsep kata,. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar untuk
pembelajaran membaca permulaan ini diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih
kecil di sebut kata. Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga pada wujud
satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf.

g. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab adalah suatu teknik untuk memberikan motivasi pada siswa agar
bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan pelajaran, atau guru mengajukan
pertanyaan siswa yang menjawab. Melalui pertanyaan , guru memancing waktu jawaban
tertentu dari siswa jawaban yg diharapkan akan tercapai apabila siswa telah mempunyai
pengetahuan yg siap, ingatan, atau juga penalaran tentang yang ditanyakan . gambaran situasi
yg mendahului pertanyaan sangat membantu siswa dalam menanggapi pertanyaan. Melalui
metode ini dapat dikembangkan keterampilan mengamati, menafsirkan, menggolongkan
menyimpulkan, meneraokan dan mengkomunikasikan .

h. Metode Ceramah

Metode ceramah merupakan yaitu cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan
agama kepada anak didik yang dilakukan secara lisan. Metode ceramah mengajarkan sesuatu
bahwa dengan penuturan, penerangan atau penjelasan bahasa lisan kepada anak. Keberhasilan
anak melalui metode ini sangat bergantung kepada kemampuan anak dalam menyimak.
Hampir semua guru menggunakan metode ini karena metode ini dianggap metode mengajar
yang mudah atau gampang. Padahal metode ini tidak mudah bagi sebagian orang lain karena
dalam metode ceramah penting memperhatikan diantaranya ceramah yang mudah dipahami,
isinya mudah dipahami dan mampu mestimulasi pendengar untuk melakukakan hal-hal baik
dan benar dari isi yang diberikan.
i. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah suatu teknik mengajar dengan memperagakan,


mempertunjukan, atau menayangkan sesuatu. Siswa dituntut memperhatikan objek yang
didemonstrasikan. Melalui metode ini siswa dapat mengembangkan keterampilan mengamati,
menggolongkan, menarik kesimpulan, menerapkan atau mengkomunikasikan.

j. Metode Penugasan

Metode penugasan adalah teknik pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk atau instruksi guru. Tugas dapat bersifat
individu dan kelompok

k. Metode Diskusi

Diskusi adalah proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap anggota
kelompok saling bertukar ide atau pikiran tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan
suatu masalah, menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau pemahaman, atau
membuat suatu keputusan. Jadi setiap siswa harus aktif memecahkan masalah. Apabila proses
diskusi melibatkan seluruh anggota kelas, pembelajaran dapat terjadi secara langsung dan
bersifat berpusat pada siswa. Metode diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang
berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing
mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya

Dikatakan pembelajaran langsung karena guru menentukan tujuan yang harus dicapai melalui
diskusi, mengontrol aktivitas siswa serta menentukan fokus dan keberhasilan pembelajaran.
Dikatakan berpusat kepada siswa karena sebagian besar input pembelajaran berasal dari siswa,
mereka secara aktif dan meningkatkan belajar, serta mereka dapat menemukan hasil diskusi mereka

C. Memilih media dan memanipulasikan MMP dengan teknik yang tepat

Memilih media

Media pembelajaran sangat berperan untuk keberhasilan proses belajar mengajar. Peranan
media pembelajaran terutama adalah untuk membantu penyampaian materi kepada siswa.
Dalam hal ini bisa terlihat bahwa tingkat kualitas atau hasil belajar juga dipengaruhi oleh
kualitas media pembelajaran yang digunakan. Untuk mendapatkan kualitas media
pembelajaran yang baik agar dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam proses belajar
mengajar, maka diperlukan pemilihan dan perencanaan penggunaan media pembelajaran yang
baik dan tepat. Pemilihan media pembelajaran yang tepat ini menjadikan media pembelajaran
efektif digunakan dan tidak sia sia jika diterapkan.

Langkah memilih media pembelajaran :

1. Sesuai dengan tujuan


Media pembelajaran harus dipilih berdasarkan tujuan intruksional dimana akan lebih
baik jika mengacu setidaknya dua dari tiga ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik.
Hal ini bertujuan agar media pembelajaran sesuai dengan arahan dan tidak melenceng
dari tujuan. Media pembelajaran juga bukan hanya mampu mempengaruhi aspek
intelegensi siswa, namun juga aspek lain yaitu sikap dan perbuatan.
2. Praktis, luwes, dan bertahan
Media pembelajaran yang dipilih tidak harus mahal dan selalu berbasis teknologi.
Pemanfaatan lingkungan dan sesuatu yang sederhana namun secara tepat guna akan
lebih efektif dibandingkan media pembelajaran yang mahal dan rumit. Simple dan
mudah dalam penggunaan, harga terjangkau dan dapat bertahan lama serta dapat
digunakan secara terus menerus patut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam
memilih media pembelajaran.

Mensimulasikan MMP dengan tekhnik yang tepat

1. Persiapan membaca permulaan


Langkah langkah nya yaitu :
a. Penguatan prosedur kelas (siswa focus dan tenang) dan etika membaca (menjaga
kebersihan buku, berbagi bila buku digunakan bersama)
b. Cara duduk siswa (posisi duduk tegak)
c. Cara membuka buku (dari halaman depan ke belakang)
d. Mengatur jarak mata ke buku (jarak pandang antara mata dan buku sekitar 40 cm)
e. Melatih cara membaca dari kiri ke kanan.
2. Persiapan menulis permulaan
Langkah langkah nya yaitu :
a. Penguatan prosedur kelas (siswa focus dan tenang) dan etika membaca (menjaga
kebersihan buku, berbagi bila buku digunakan bersama)
b. Cara duduk siswa (posisi duduk tegak)
c. Cara membuka buku (dari halaman depan ke belakang)
d. Mengatur jarak mata ke buku (jarak pandang antara mata dan buku sekitar 40 cm)
e. Cara memegang pensil
f. Melatih cara menggerakkan pensil dari kiri ke kanan
g. Latihan membuat bulatan (lingkaran) atau setengah lingkaran
h. Latihan membuat garis garis (lurus, miring, datar)
i. Menyambungkan titik titik menjadi sebuah garis lurus atau garis lengkung
j. Menyambungkan garis garis menjadi sebuah bentuk
k. Latihan menulis di udara
l. Latihan menulis dengan jari diatas pasir, tepung, meja, punggung teman
m. Bagi anak yang mengalami kesulitan menulis biasanya motoric halusnya belum
berkembang dengan baik. Untuk mengatasinya harus dibantu dengan latihan
motoric halus, seperti : meremas bola tenis, membuat bentuk benda dari plastisin,
memainkan jepitan kertas ibu jari dan jari telunjuk, membuka dan mengancingkan
baju dengan tangan kanan, menalikan tali sepatu, bertepuk tangan sambil
mengucapkan atau membaca kata.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jadi dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa menulis merupakan kegiatan
komunikasi verbal yang berisi penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai
mediumnya. Sedangkan menulis permulaan (beginning writing) adalah cara merealisasikan
simbol-simbol bunyi menjadi huruf-huruf yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata
cara menulis yang baik.
Adapun beberapa tujuan menulis secara umum yaitu, untuk memberikan
suatu informasi,untuk meyakinkan atau mendesak pembaca, untuk menghibur atau
menyenangkan pembaca, dan untuk mengekspresikan perasaan dan emosi yang kuat
Dalam menulis permulaan, tujuannya adalah agar siswa dapat menulis kata-kata dan
kalimat sederhana dengan tepat.

B. Saran
Menulis permulaan merupakan tahapan proses belajar menulis bagi siswa sekolah dasar
kelas awal. Oleh sebab itu, sebagai pengajar kelakhendaknya kita mengajar dengan langkah-
langkah yang benar sertamemperhatikan rambu-rambu dalam pembelajaran menulis.Karena
hal ini merupakan dasar bagi pembelajaran selanjutnya. Serta dalam pembelajaran MMP ini
keterampilan guru sebagai pengajar yang pertama bagi anak kelas satu ini harus sangat penuh
dengan perhatian kepada anak.
DAFTAR PUSTAKA

Hartati, Tatat dkk.(2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah.Bandung
: UPI PRESS.

http://matematikarumuscarapenyelesaianya.blogspot.com/2012/03/aspek-menulis-pengertian-
metode-menulis.html (diakses 21 Sep 2019, pukul 21.45 wib)

http://fatkhan.web.id/pengertian-membaca-menulis-permulaan-mmp/ (diakses 21 sept 2019,


pukul 22.20 Wib)

Indi Bernati, Rhapsona .(2012). Membaca Menulis Permulaan. [online]


Tersedia : http://inbe-oliv.blogspot.com/2012/01/membaca-menulis-permulaan.html. [diakses
pada 20 Maret 2014]