Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN ANTARA SINDROMA METABOLIK DENGAN VOLUME PROSTAT

DAN DERAJAT KEPARAHAN LOWER URINARY TRACT SYMPTOMS (LUTS) PADA


PENDERITA BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH) DI INSTALASI RAWAT
JALAN RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

Leon PNL1, Didit Pramuditho1, Erial Bahar2


1Departement of Surgery, Mohammad Hoesin Hospital, Sriwijaya University
2Medical Faculty of Sriwijaya

Abstrak

Latar Belakang: Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi
pada pria, dan insidensnya meningkat sesuai pertambahan umur. Pembesaran kelenjar prostat
mengakibatkan terganggunya aliran urin sehingga menimbukan gangguan miksi. Sistem skoring IPSS
digunakan untuk menilai gejala pasien, menentukan pilihan terapi pasien BPH dengan gejala Lower urinary
tract symptom (LUTS) dan evaluasi terapi yang dilakukan. Sindroma metabolik merupakan gabungan dari
beberapa gangguan metabolik dan fisiologis pada satu individu, termasuk obesitas, resistensi insulin,
intoleransi glukosa, hipertensi dan dyslipidemia. Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan
bahwa komponen sindroma metabolik berhubungan dengan terjadinya hiperplasia prostat dan gejala LUTS.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik observasional dengan desain cross-
sectional yang dilakukan di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang pada bulan
Agustus – September tahun 2019. Sampel penelitian adalah semua penderita BPH di instalasi rawat jalan
Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil: Terdapat hubungan antara sindroma metabolik dengan volume prostat pada penderita benign
prostatic hyperplasia di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang, dengan variabel
sindroma metabolic yang bermakna adalah lingkar perut. Namun tidak terdapat hubungan antara sindroma
metabolik dengan derajat keparahan lower urinary tract symptoms pada penderita benign prostatic
hyperplasia di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang, meskipun terdapat
perbedaan rerata trigliserid antara kelompok IPSS.
Kesimpulan: Sindroma metabolik dapat dijadikan suatu diagnosa yang memiliki hubungan terhadap
terjadinya benign prostatic hyperplasia

Kata Kunci: Sindroma Metabolik, BPH, LUTS, IPSS


Pendahuluan untuk mengeluarkan kencing, penurunan
Benign prostatic hyperplasia (BPH) pancaran kencing dan kencing yang menetes.3
merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi Beberapa sistem skoring gejala telah
pada pria, dan insidensnya meningkat sesuai berkembang untuk menilai derajat keparahan
pertambahan umur. Keadaan ini dialami oleh 20% gejala. Sistem skoring ini bukanlah alat untuk
pria berusia 41-50 tahun, 50% pada usia antara diagnosis BPH, tetapi merupakan alat yang valid
51-60 tahun dan lebih 90% ditemukan pada pria secara objektif untuk menilai gejala pasien,
berusia diatas 80 tahun. Pembesaran kelenjar menentukan pilihan terapi pasien BPH dengan
prostat mengakibatkan terganggunya aliran urin gejala LUTS dan evaluasi terapi yang dilakukan.
sehingga menimbukan gangguan miksi.1 Sistem skoring yang paling banyak dipakai
Etiologi pasti terjadinya BPH belum adalah International Prostatic Symptom Score
sepenuhnya dipahami dengan jelas. Jumlah sel (IPSS), yang dikembangkan oleh American
yang bertambah sebagai patofisiologi terjadinya Urological Association (AUA) dan diadopsi oleh
BPH nampaknya terjadi karena proliferasi World Health Organization (WHO). IPSS
epitelial dan stromal serta terganggunya proses memberikan penilaian terhadap tujuh
apoptosis sel sehingga terjadilah akumulasi sel. karakteristik gejala BPH. Skor total
Androgen, estrogen, interaksi epitelial-stromal, menunjukkan derajat keparahan penyakit (1-7
growth factors, dan neurotransmitter diduga mild, 8-19 moderate, 20-35 severe).4
berperan dalam etiologi hiperplasia prostat, baik Penelitian sebelumnya telah
berperan sendiri-sendiri maupun kombinasi menunjukkan bahwa komponen sindroma
bersama.2 metabolik berhubungan dengan terjadinya
Prostat yang membesar dapat hiperplasia prostat.5,6,7 Sindroma metabolik
menghalangi aliran urin. Gangguan saraf dan merupakan gabungan dari beberapa gangguan
kandung kemih juga berperan dalam metabolik dan fisiologis pada satu individu,
menyebabkan keluhan BPH. Keseluruhan termasuk obesitas, resistensi insulin, intoleransi
mekanisme tersebut memunculkan sekumpulan glukosa, hipertensi dan dislipidemia, dan
gejala traktus urinarius bawah atau Lower dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas
urinary tract symptom (LUTS). LUTS yang tinggi.8 Berdasarkan the National
merupakan keluhan yang terdiri dari obstruksi Cholesterol Education Program Third Adult
dari saluran kemih akibat pembesaran jaringan Treatment Panel (NCEP-ATP III), sindroma
(komponen statis) dan peningkatan tonus otot metabolik adalah seseorang dengan memiliki
dan resistensi (komponen dinamik). Keluhan sedikitnya 3 kriteria berikut: Obesitas abdominal,
berupa frekuensi, urgensi, hesitansi, Peningkatan kadar trigliserida darah, penurunan
pengosongan urin yang tidak lengkap, straining
kadar kolesterol HDL, peningkatan tekanan Sampai saat ini belum banyak studi
darah, dan peningkatan glukosa darah puasa.8 penelitian yang meneliti parameter sindroma
Insiden sindroma metabolik di Korea metabolik pada penderita BPH serta
dilaporkan oleh Hyun Keun Byun dkk pada 521 hubungannya dengan volume prostat dan
pasien (Januari 2005 - Desember 2010) derajat keparahan lower urinary tract symptoms.
menyimpulkan bahwa volume prostat secara Oleh sebab itu, peneliti ingin melakukan
signifikan lebih tinggi pada pasien dengan penelitian mengenai hubungan antara sindroma
sindroma metabolik dibandingkan pada pasien metabolik dengan volume prostat dan derajat
tanpa sindroma metabolik.5 Pasien dengan lebih keparahan lower urinary tract symptoms
dari satu komponen sindroma metabolik secara berdasarkan international prostate symptom
signifikan lebih cenderung mempunyai volume score pada penderita benign prostatic
prostat yang lebih besar.5 Penelitian yang hyperplasia di instalasi rawat jalan Rumah Sakit
dilakukan oleh M. Gacci et al pada tahun 2013 Mohammad
juga melaporkan sindroma metabolik Hoesin Palembang.
berhubungan dengan volume prostat, diameter
antero-posterior prostat dan intraprostatic Metode
inflammatory score. Penelitian tersebut Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat
dilakukan dengan menggunakan spesimen analitik observasional dengan desain cross-
prostat yang diteliti oleh dua spesialis patologi sectional untuk mengetahui hubungan antara
anatomi secara blind tanpa mengetahui sindroma metabolik dengan volume prostat dan
informasi klinis apapun.6 derajat keparahan lower urinary tract symptoms
Mengenai hubungan sindroma pada penderita benign prostatic hyperplasia
metabolik dengan derajat keparahan lower dilakukan di instalasi rawat jalan Rumah Sakit
urinary tract symptoms, penelitian Pashootan Mohammad Hoesin Palembang pada bulan
dengan metode kohort pada 4666 laki-laki Agustus – September tahun 2019. Sampel
menunjukkan terdapat hubungan yang penelitian adalah semua penderita BPH di
signifikan antara lower urinary tract symptoms instalasi rawat jalan Rumah Sakit Mohammad
pada penderita BPH dengan sindroma Hoesin Palembang yang memenuhi kriteria
metabolik, baik dalam angka kejadian maupun inklusi dan eksklusi dengan kriteria inklusi
tingkat keparahannya.7 Resiko diperlukan Semua penderita BPH yang mengalami lower
tatalaksana untuk lower urinary tract symptoms urinary tract symptoms dan bersedia mengikuti
juga meningkat seiring dengan jumlah penelitian dan kriteria eksklusi penderita yang
komponen sindroma metabolik yang ada pada mengalami keganasan di bidang urologi,
penderita.7 memiliki riwayat operasi prostat, dan
mengundurkan diri dari penelitian. Pengukuran Tabel 4.1. Karakteristik Umum Subjek Penelitian

volume prostat dilakukan dengan USG TUG. Variabel Mean ± SD Median Min – Max
Usia 63.31 ± 6.86 63.00 50.00 – 76.00
Penderita benign prostatic hyperplasia diberikan Tekanan
pengarahan cara, maksud dan tujuan penelitian Darah
Sistolik 130.18 ± 17.90 130.00 95.00 – 180.00
serta cara penelitian. Lalu dilakukan informed
Diastolik 81.43 ± 10.21 80.00 60.00 – 100.00
consent, anamnesis, pengisian IPSS, Lingkar Perut 92.17 ± 12.00 92.00 70.00 – 120.00
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan HDL 43.53 ± 20.67 38.00 16.00 – 133.00
Glukosa 102.81 ± 19.64 105.50 70.00 – 142.00
laboratorium. Kemudian dilakukan pemeriksaan
Darah
USG TUG dengan mengukur volume prostat Trigliserid 116.59 ± 33.19 115.50 74.00 – 203.00

yang dilakukan oleh radiolog. Sindroma VolumeProstat 48.94 ± 17.77 44.85 17.36 – 94.00
IPSS 29.93 ± 3.81 30.00 18.00 – 37.00
metabolik ditegakkan apabila seseorang
memiliki sedikitnya 3 kriteria berikut: Waist
Distribusi Subjek berdasarkan Usia terhadap
Circumference ≥90 cm pada pria; Kadar
Volume Prostate dan IPSS
Trigliserida ≥ 150 mg /dl; Kadar HDL <40 mg
Distirbusi subjek berdasarkan Usia
/dl; Tekanan darah sistolik (TDS) ≥130 mmHg;
terhadap Volume Prostate dan IPSS dapat dilihat
dan/atau tekanan darah diastolik (TDD) ≥85
pada tabel 4.2. Pada distirbusi subjek
mmHg dan /atau pengobatan farmakologis, dan
berdasarkan Usia terhadap Volume Prostate dan
Glukosa darah puasa ≥110 mg /dl.
IPSS, didapatkan bahwa rerata usia pada
kelompok volume prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL
Hasil
adalah 66.10 ± 6.50 dan 62.04 ± 6.77, dan rerata
Penelitian ini merupakan penelitian
usia pada kelompok IPSS sedang dan berat
yang bersifat analitik observasional dengan
adalah 72.50 ± 3.53 dan 62.70 ± 6.60. Pada uji
desain cross-sectional untuk mengetahui
analisa Independent t-test, didapatkan bahwa
hubungan antara sindroma metabolik dengan
tidak terdapat perbedaan rerata usia terhadap
volume prostat dan derajat keparahan lower
kelompok volume prostate dengan nilai p =
urinary tract symptoms pada penderita benign
0.123, namun terdapat perbedaan rerata usia
prostatic hyperplasia di instalasi rawat jalan
pada kelompok IPSS dengan nilai p = 0.049
Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang
pada bulan Agustus – September tahun 2019.
Didapatkan jumal total sampel sebanyak 32
subjek. Karakteristik Umum Subjek Penelitian
dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.2. Distribusi Subjek berdasarkan Usia test dan Mann-Whitney, hanya didapatkan
terhadap Volume Prostate dan IPSS perbedaan rerata lingkar perut antar kelompok
Volume Prostate IPSS p_Value
Variabel prostate dengan nilai p=0.005, namun tidak
<40 mL ≥ 40 mL Sedang Berat
Usia 0.123* didapatkan perbedaan rerata untuk variabel
Mean ± 66.10 ± 62.04 ± 72.50 ± 62.70 ± 0.049** sindrom metabolik lainnya.
SD 6.50 6.77 3.53 6.60
Tabel 4.3. Distribusi Subjek berdasarkan Variabel
Median 66.50 61.50 72.50 63.00
Min – 53.00 – 50.00 – 70.00 – 50.00 –
Sindrom Metabolik terhadap Volume Prostate
Max 75.00 76.00 75.00 76.00 Volume Prostate p_Value
Variabel
Ket: Uji Independent t-test, *Uji analisis Usia dan Volume <40 mL ≥ 40 mL
Prostate, **Uji analisis Usia dan IPSS Tekanan Darah 0.679*
Sistolik
Mean ± SD 128.20 ± 13.38 131.09 ± 19.83
Distribusi Subjek berdasarkan Variabel
Median 130.00 130.00
Sindrom Metabolik terhadap Volume
Min – Max 110.00 – 95.00 – 180.00
Prostate 142.00
Distribusi Subjek berdasarkan Variabel Tekanan Darah 0.125**

Sindrom Metabolik terhadap Volume Prostate Diastolik


Mean ± SD 78.80 ± 5.00 82.63 ± 11.76
dapat dilihat pada tabel 4.3. Pada distribusi
Median 80.00 88.00
subjek berdasarkan Variabel Sindrom Metabolik Min – Max 70.00 – 86.00 60.00 – 100.00
terhadap Volume Prostate, didapatkan bahwa Lingkar Perut 0.005*
rerata tekanan darah sistolik pada kelompok Mean ± SD 83.70 ± 9.94 96.02 ± 10.99
Median 81.50 93.00
volume prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah
Min – Max 70.00 – 104.00 77.00 – 120.00
128.20 ± 13.38 dan 131.09 ± 19.83; rerata
HDL 0.951**
tekanan darah diastolik pada kelompok volume Mean ± SD 41.20 ± 10.03 44.59 ± 24.16
prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah 78.00 ± Median 40.00 37.50

5.00 dan 82.63 ± 11.76; rerata lingkar perut pada Min – Max 30.00 – 60.00 16.00 – 133.00
Glukosa Darah 0.061*
kelompok volume prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL
Mean ± SD 93.20 ± 19.30 107.18 ± 18.59
adalah 83.70 ± 9.94 dan 96.02 ± 10.99; rerata Median 85.00 112.00
HDL pada kelompok volume prostate < 40 mL Min – Max 76.00 – 127.00 70.00 – 142.00
dan ≥ 40 mL adalah 41.20 ± 10.03 dan 44.59 ± Trigliserid 0.329**
Mean ± SD 109.90 ± 31.30 119.63 ± 34.28
24.16; rerata glukosa darah pada kelompok
Median 106.00 112.50
volume prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah
Min – Max 74.00 – 168.00 79.00 – 203.00
93.20 ± 19.30 dan 107.18 ± 18.59; rerata Ket: *Uji Independent t-test, **Uji Mann-Whitney
trigliserid pada kelompok volume prostate < 40
mL dan ≥ 40 mL adalah 109.90 ± 31.30 dan
119.63 ± 34.28. Pada uji analisa Independent t-
Distribusi Subjek berdasarkan Variabel Tabel 4.4. Distribusi Subjek berdasarkan Variabel

Sindrom Metabolik terhadap IPSS Sindrom Metabolik terhadap IPSS

Distribusi Subjek berdasarkan Variabel IPSS p_Value


Variabel
Sedang Berat
Sindrom Metabolik terhadap IPSS dapat dilihat
Tekanan Darah 0.432*
pada tabel 4.4. Pada distribusi subjek Sistolik
berdasarkan Variabel Sindrom Metabolik Mean ± SD 140.00 129.53 ± 18.31
terhadap IPSS, didapatkan bahwa rerata tekanan Median 140.00 130.00
Min – Max 140.00 95.00 – 180.00
darah sistolik pada kelompok IPSS sedang dan
Tekanan Darah 0.968**
berat adalah 129.53 ± 18.31 dan 140.00; rerata
Diastolik
tekanan darah diastolik pada kelompok IPSS Mean ± SD 83.00 ± 4.24 81.33 ± 10.52
sedang dan berat adalah 83.00 ± 4.24 dan 81.33 Median 83.00 80.00

± 10.52; rerata lingkar perut pada kelompok Min – Max 80.00 – 86.00 60.00 – 100.00
Lingkar Perut 0.141*
IPSS sedang dan berat adalah 80.00 ± 2.82 dan
Mean ± SD 80.00 ± 2.82 92.98 ± 11.95
92.98 ± 11.95; rerata HDL pada kelompok IPSS Median 80.00 92.00
sedang dan berat adalah 37.50 ± 6.36 dan 43.93 Min – Max 78.00 – 82.00 70.00 – 120.00
± 21.28; rerata glukosa darah pada kelompok HDL 0.846**
Mean ± SD 37.50 ± 6.36 43.93 ± 21.28
IPSS sedang dan berat adalah 101.50 ± 36.06 dan
Median 37.50 38.00
102.90 ± 19.16; rerata trigliserid pada kelompok
Min – Max 33.00 – 42.00 16.00 – 133.00
IPSS sedang dan berat adalah 82.50 ± 2.12 dan Glukosa Darah 0.924*
118.86 ± 33.04. Pada uji analisa Independent t- Mean ± SD 101.50 ± 36.06 102.90 ± 19.16

test dan Mann-Whitney, hanya didapatkan Median 101.50 105.50


Min – Max 76.00 – 127.00 70.00 – 142.00
perbedaan rerata trigliserid antar kelompok
Trigliserid 0.043**
prostate dengan nilai p=0.043, namun tidak Mean ± SD 82.50 ± 2.12 118.86 ± 33.04
didapatkan perbedaan rerata untuk variabel Median 82.50 112.50
sindrom metabolik lainnya. Min – Max 81.00 – 84.00 74.00 – 203.00
Ket: *Uji Independent t-test, **Uji Mann-Whitney
Distribusi Subjek berdasarkan Sindrom metabolik dan 50.0% subjek yang mengalami
Metabolik terhadap Volume Prostate sindrom metabolik pada IPSS sedang, sedangkan
Distribusi subjek berdasarkan sindrom terdapat sebanyak 36.7% subjek yang tidak
metabolik terhadap Volume Prostate dapat mengalami sindroma metabolik dan 63.3%
dilihat pada tabel 4.5. Pada distribusi subjek subjek yang mengalami sindrom metabolic pada
berdasarkan sindrom metabolik terhadap kelompok IPSS berat. Pada uji analisis Fisher’s
Volume Prostate, terdapat sebanyak 70.0% Exact, tidak didapatkan hubungan yang
subjek yang tidak mengalami sindroma bermakna antara sindroma metabolik terhadap
metabolik dan 30.0% subjek yang mengalami kelompok IPSS dengan nilai p = 1.000
sindrom metabolik pada kelompok volume Tabel 4.6. Distribusi subjek berdasarkan sindrom
prostate < 40 mL, sedangkan terdapat sebanyak metabolic terhadap IPSS
Sindroma IPSS p_Value
22.7% subjek yang tidak mengalami sindroma
Metabolik Sedang Berat
metabolik dan 77.3% subjek yang mengalami
Tidak Sindrom
sindrom metabolic pada kelompok prostate ≥ 40 Metabolik
1 (50.0%) 11 (36.7%)
1.000
mL. Pada uji analisis Fisher’s Exact, terdapat Sindrom
1 (50.0%) 19 (63.3%)
hubungan antara sindroma metabolik terhadap Metabolik
Ket: Uji analisis menggunakan Fisher’s Exact Test
kelompok volume prostate dengan nilai p =
0.018
Tabel 4.5. Distribusi subjek berdasarkan sindrom Analisa Multivariate Regresi berdasarkan

metabolic terhadap Volume Prostate Variabel Sindrom Metabolik terhadap


Sindroma Volume Prostate p_Value Volume Prostate dan IPSS
Metabolik < 40 mL ≥ 40 mL Analisa Multivariate Regresi
Tidak Sindrom berdasarkan Variabel Sindrom Metabolik
7 (70.0%) 5 (22.7%)
Metabolik
0.018 terhadap Volume Prostate dan IPSS dapat dilihat
Sindrom
3 (30.0%) 17 (77.3%) pada tabel 4.7 dan tabel 4.8. Pada analisa
Metabolik
Ket: Uji analisis menggunakan Fisher’s Exact Test multivariate regresi berdasarkan variabel
sindrom metabolik terhadap volume prostate dan
Distribusi Subjek berdasarkan Sindrom IPSS, didapatkan nilai Adjusted R Square
Metabolik terhadap IPSS sebesar 0.208 yang menunjukkan bahwa lingkar
Distribusi subjek berdasarkan sindrom perut yang menjadi faktor risiko sebesar 20.8%
metabolik terhadap IPSS dapat dilihat pada tabel yang paling signifikan terhadap volume prostate
4.6. Pada distribusi subjek berdasarkan sindrom dibanding variabel sindrom metabolik yang
metabolik terhadap IPSS, terdapat sebanyak 50.0% lainnya namun berkorelasi rendah, dan tidak
subjek yang tidak mengalami sindroma ditemukan variabel sindrom metabolik lain yang
menjadi faktor risiko terhadap IPSS dengan nilai Tabel 4.9. Distribusi Subjek berdasarkan Volume

Adjusted R Square sebesar 0.000. Prostate terhadap IPSS

Tabel 4.7. Analisa Multivariate Sindrom Metabolik Volume IPSS p_Value


Prostate Sedang Berat
terhadap Volume Prostate
< 40 mL 2 (100.0%) 8 (26.7%)
Standardized 0.091
≥ 40 mL 0 (0.0%) 22 (73.3%)
Coefficients Adjusted
Model Beta t Sig. R Square
Ket: Uji analisis menggunakan Fisher’s Exact Test

1 (Constant) -1.185 .079 0.208


Lingkar Pembahasan
.483 3.023 .005
Perut
Berdasarkan tabel 4.2, didapatkan
bahwa bahwa rerata usia pada kelompok volume
Tabel 4.8. Analisa Multivariate Sindrom Metabolik
prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah 66.10 ±
terhadap IPSS
6.50 dan 62.04 ± 6.77, dan rerata usia pada
Standardized
Coefficients
kelompok IPSS sedang dan berat adalah 72.50 ±
Adjusted
Model Beta t Sig. R Square 3.53 dan 62.70 ± 6.60. Pada uji analisis
1 (Consta 0.000 Independent t-test, didapatkan bahwa tidak
21.564 .000
nt) terdapat perbedaan rerata usia yang signifikan
terhadap kelompok volume prostate dengan nilai
Distribusi Subjek berdasarkan Volume p=0.123 dan terdapat perbedaan rerata usia yang
Prostate terhadap IPSS signifikan terhadap kelompok IPSS dengan nilai
Distribusi Subjek berdasarkan Volume p=0.049.
Prostate terhadap IPSS dapat dilihat pada tabel Prevalensi histologis BPH dalam studi
4.9. Pada Distribusi Subjek berdasarkan Volume otopsi meningkat dari sekitar 20% pada pria
Prostate terhadap IPSS, didapatkan 100.0% berusia 41-50 tahun, 50% pada pria berusia 51-
subjek dengan volume prostate < 40 mL pada 60 tahun, dan >90% pada pria yang berusia lebih
kelompok IPSS sedang, sedangkan terdapat 73.3% dari 80 tahun. Gejala obstruksi prostat juga
subjek dengan volume prostate ≥ 40 mL dan 26.7% terkait dengan usia meskipun bukti klinisnya
subjek dengan volume prostate < 40 mL pada lebih jarang terjadi. Pada usia 55 tahun, sekitar
kelompok IPSS berat. Pada uji analisis Fisher’s 25% pria dilaporkan mengalami obstruktif gejala
Exact didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan voiding. Pada usia 75 tahun, 50% dari pria
yang signifikan antara volume prostate dan IPSS mengeluhkan terjadinya penurunan dalam
dengan nilai p = 0.091. kekuatan dan kaliber pancaran urin.1 Hal ini
berbanding terbalik dengan subjek penelitian
yang mendapatkan bahwa rerata usai 72 tahun
memiliki skor IPSS yang sedang.
Berdasarkan tabel 4.3., didapatkan bahwa pasien dengan hipertensi mewakili
bahwa bahwa rerata tekanan darah sistolik pada peningkatan resistensi arteri ginjal, yang
kelompok volume prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL menginduksi peningkatan output urin. 8

adalah 128.20 ± 13.38 dan 131.09 ± 19.83; rerata Rerata lingkar perut pada kelompok
tekanan darah diastolik pada kelompok volume volume prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah
prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah 78.00 ± 83.70 ± 9.94 dan 96.02 ± 10.99. Pada uji analisa
5.00 dan 82.63 ± 11.76. Pada uji analisis Independent t-test didapatkan bahwa terdapat
Independent t-test dan Mann-Whitney perbedaan rerata lingkar perut antara kedua
didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang kelompok volume prostate dengan nilai p=0.005.
signifikan antara kedua kelompok dengan nilai Penelitian yang dilakukan oleh Lee pada tahun
p=0.679 untuk tekanan darah sistolik dan 2012 juga menemukan besarnya lingkar perut
p=0.125 untuk tekanan darah diastolik. Menurut berhubungan dengan peningkatan gejala
penelitian Hwang pada tahun 2013, BPH.9,10
mendapatkan bahwa Total IPSS (22.9 ± 7.8 vs Ada banyak hipotesis yang telah
21.2 ± 7.3, p = 0,01) dan skor gejala obstruktif disarankan untuk efek obesitas pada BPH.
(13.3 ± 5.2 vs 11.9 ± 4.7, p = 0,01) berbeda Obesitas sentral memberikan beberapa efek
signifikan antara pria dengan hipertensi dan sistemik. Obesitas akan meningkatkan tekanan
tanpa faktor risiko kardiovaskular. Tidak ada intraabdomen, yang dapat meningkatkan tekanan
perbedaan signifikan variabel antara subyek kandung kemih dan tekanan intravesik, dengan
dengan DM, merokok atau dislipidemia dan potensi untuk memperburuk dan menyebabkan
tanpa faktor risiko kardiovaskular. Dalam gejala BPH. Mekanisme lain adalah mengubah
korelasi Pearson, tekanan darah sistolik dan status endokrin. Peningkatan rasio estrogen
diastolik berhubungan dengan volume prostat (r terhadap androgen karena enzim P450 aromatase
= 0.138, p = 0.040; r = 0.163, p = 0.020), total diekspresikan oleh jaringan lemak. Oleh karena
IPSS (r = 0.139, p = 0.043; r = 0.138, p = 0.043), itu, massa jaringan adiposa akan meningkatkan
dan skor Gejala obstruktif (r = 0.168, p = 0.014; aktivitas aromatase dan konversi androgen
r = 0.143, p = 0.037), masing-masing. Hubungan menjadi estrogen (testosteron menjadi estradiol
antara hipertensi dan LUTS dapat memengaruhi dan androstenedion menjadi estron).
penatalaksanaan penyakit karena patofisiologi Peningkatan massa lemak dan aktivitas
yang berkorelasi dari entitas penyakit. aromatase mengurangi konsentrasi testosteron
Didalilkan bahwa peningkatan kadar dan memungkinkan pengendapan preferensi
katekolamin plasma berhubungan dengan jaringan adiposa perut / PPN sebagai
produksi urin atau berkurangnya kapasitas keseimbangan kalori positif yang menghasilkan
kandung kemih malam hari. Telah dilaporkan siklus obesitas hipogonadisme. Produksi
estradiol yang terus-menerus yang disebabkan dengan risiko BPH. Dalam analisis subset pada
oleh akumulasi massa lemak dapat pria dengan diabetes, mereka yang berada di
mengakibatkan penekanan gonadotropin, kuartil tertinggi (> 133 mg / dL) kolesterol LDL,
dengan pengurangan lebih lanjut pada kadar dibandingkan dengan mereka yang di kuartil
testosteron dan perkembangan keadaan terendah (<110 mg / dL), 4 kali lebih mungkin
hipogonadisme progresif sehingga untuk mengalami BPH (OR 4.00, 95% CI 1.27-
menguntungkan dalam perkembangan BPH. 12.63, p = 0,02).11
Peningkatan aktivitas saraf simpatis pada Meskipun variabel dalam penelitian ini
obesitas sentral telah diketahui mempengaruhi tidak menemukan perbedaan rerata yang
perkembangan BPH dan keparahan gejala signifikan secara statistic, namun secara
obstruktif urin. Namun, kesulitan dalam deskriptif dapat dilihat bahwa rerata tekanan
mengukur aktivitas saraf simpatik dan darah sistolik/diastolik, lingkar perut, glukosa
heterogenitas dalam mengkarakterisasi obesitas darah, trigliserid lebih tinggi pada kelompok
dapat menyebabkan kurangnya hubungan yang yang memiliki volume prostate ≥ 40 mL, namun
konklusif antara aktivitas saraf simpatis dan rerata HDL ditemukan tinggi pada kelompok
obesitas.9,10 dengan volume prostate ≥ 40 mL.
Rerata HDL pada kelompok volume Berdasarkan tabel 4.5, didapatkan
prostate < 40 mL dan ≥ 40 mL adalah 41.20 ± bahwa terdapat sebanyak 70.0% subjek yang
10.03 dan 44.59 ± 24.16; rerata glukosa darah tidak mengalami sindroma metabolik dan 30.0%
pada kelompok volume prostate < 40 mL dan ≥ subjek yang mengalami sindrom metabolik pada
40 mL adalah 93.20 ± 19.30 dan 107.18 ± 18.59; kelompok volume prostate < 40 mL, sedangkan
rerata trigliserid pada kelompok volume prostate terdapat sebanyak 22.7% subjek yang tidak
< 40 mL dan ≥ 40 mL adalah 109.90 ± 31.30 dan mengalami sindroma metabolik dan 77.3%
119.63 ± 34.28. Pada uji analisa Independent t- subjek yang mengalami sindrom metabolic pada
test dan Mann-Whitney didapatkan bahwa tidak kelompok prostate ≥ 40 mL. Pada uji analisis
terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara Fisher’s Exact didapatkan bahwa terdapat
kedua kelompok dengan p = 0.951 untuk HDL, hubungan yang signifikan antara sindroma
p = 0.061 untuk glukosa darah dan p = 0.329 metabolic terhadap volume prostat dengan nilai
untuk trigliserid. p=0.018.
Pada penelitian Parsons, mendapatkan Hasil penelitian ini sama dengan hasil
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan penelitian Hyun pada tahun 2012 yang
dari total kolesterol (p = 0.520), kolesterol HDL mendapatkan bahwa pasien dengan obesitas
(p = 0.560), trigliserida (p = 0.300), atau sentral (p < 0,0001, < 0,0001), tekanan darah
trigliserida terhadap rasio HDL (p = 0.130)
sistolik tinggi (p = 0,021, p = 0,003), tekanan SM dan meningkatkan tonus otot polos prostat,

darah diastolik tinggi (p = 0.001, p < 0.0001), yang menyebabkan LUTS berat.5-7,12


Satu jalur lagi yang menjelaskan
trigliserid tinggi (p = 0.001, p < 0,0001), HDL- peningkatan risiko BPH pada hiperinsulinemia

C rendah (p = 0.012, p < 0.0001), dan gula darah adalah insulin like growth factor (IGF). IGF-1
adalah mitogen yang kuat dan meningkatkan
puasa tinggi (p = 0.0001, p < 0.0001) memiliki proliferasi sel dan menginhibisi apoptosis di
kadar PSA serum yang lebih tinggi secara banyak jaringan termasuk stroma prostat dan
signifikan dan volume prostate yang lebih besar epitel. Penggunaan IGF-1 secara sistemik pada
daripada pasien tanpa sindroma metabolik. Oleh tikus untuk jangka waktu singkat meningkatkan
karena itu, keberadaan komponen metabolisme berat prostat sampai 29%. Pasien akromegali
pada pasien ini secara signifikan terkait dengan dengan kadar hormon pertumbuhan dan IGF-1
kadar PSA serum yang lebih tinggi dan Volume yang tinggi memiliki pembesaran prostat meski
prostate yang lebih besar.5 jumlahnya rendah kadar testosterone.5-7,12
Sindroma metabolik dapat Berdasarkan tabel 4.4, didapatkan
menyebabkan pertumbuhan prostat dengan bahwa rerata tekanan darah sistolik pada
berbagai mekanisme. Hiperinsulinemia memiliki kelompok IPSS sedang dan berat adalah 129.53
efek stimulan pada sistem saraf simpatis. Ini ± 18.31 dan 140.00; rerata tekanan darah
meningkatkan asupan glukosa ke neuron diastolik pada kelompok IPSS sedang dan berat
ventromedial hipotalamus, yang mengatur adalah 83.00 ± 4.24 dan 81.33 ± 10.52; rerata
sistem saraf simpatik. Obstruksi prostat tidak lingkar perut pada kelompok IPSS sedang dan
hanya disebabkan oleh obstruksi statis yang berat adalah 80.00 ± 2.82 dan 92.98 ± 11.95;
disebabkan oleh kelenjar prostat; tonus sel otot rerata HDL pada kelompok IPSS sedang dan
polos adrenergik yang ada pada kapsul prostat berat adalah 37.50 ± 6.36 dan 43.93 ± 21.28;
dan leher kandung kemih juga memiliki peran rerata glukosa darah pada kelompok IPSS
dalam proses ini, yang disebut penyatuan sedang dan berat adalah 101.50 ± 36.06 dan
dinamis. Peningkatan aktivitas simpatis yang 102.90 ± 19.16; rerata trigliserid pada kelompok
disebabkan oleh hiperinsulinemia dapat IPSS sedang dan berat adalah 82.50 ± 2.12 dan
dikaitkan dengan patofisiologi BPH. 118.86 ± 33.04. Pada uji analisa Independent t-
Hiperinsulinemia berkontribusi terhadap aktivasi test dan Mann-Whitney didapatkan bahwa hanya
sistem saraf simpatis dan menyebabkan trigliserid yang memiliki perbedaan rerata nilai
peningkatan kadar katekolamin dalam jaringan. antara kedua kelompok dengan nilai p = 0.043,
Ini juga dapat berkontribusi pada pengembangan namun tidak didapatkan perbedaan rerata untuk
variabel sindrom metabolik lainnya. Meskipun
variabel dalam penelitian ini tidak menemukan penyimpanan masing-masing meningkat sebesar
perbedaan rerata yang signifikan secara statistic, 67% dan 72%, pada pria dengan sindrom
namun secara deskriptif dapat dilihat bahwa metabolik dibandingkan dengan mereka yang
rerata lingkar perut, glukosa darah, trigliserid tidak memiliki sindrom metabolik. Persentase
lebih tinggi pada kelompok dengan IPSS berat, pasien dengan sindrom metabolik secara
namun rerata HDL ditemukan tinggi pada signifikan (P <0,001) meningkat dengan
kelompok IPSS berat dan tekanan darah keparahan IPSS. Sebagai gambaran, 65,4%
sistolik/diastolik juga ditemukan tinggi pada pasien dengan IPSS mulai dari 20 hingga 35
kelompok dengan IPSS sedang. memiliki komponen sindrom metabolik
Berdasarkan tabel 4.6, didapatkan dibandingkan dengan hanya 45,1% pasien
bahwa terdapat sebanyak 50.0% subjek yang dengan gejala prostat ringan (IPSS mulai dari 0
tidak mengalami sindroma metabolik dan 50.0% hingga 7).7
subjek yang mengalami sindrom metabolik pada Pada analisa multivariate regresi
IPSS sedang, sedangkan terdapat sebanyak 36.7% berdasarkan variabel sindrom metabolik
subjek yang tidak mengalami sindroma terhadap volume prostate dan IPSS, didapatkan
metabolik dan 63.3% subjek yang mengalami bahwa hanya lingkar perut dengan nilai Adjusted
sindrom metabolic pada kelompok IPSS berat. R Square 0.208 yang berarti lingkar perut
Pada uji analisis Fisher’s Exact didapatkan menjadi faktor risiko sebesar 20.8% yang paling
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan signifikan terhadap volume prostate dibanding
antara sindroma metabolik terhadap kelompok variabel sindrom metabolik yang lainnya namun
IPSS dengan nilai p = 1.000. berkorelasi rendah. Pourya mendapatkan bahwa
Hal ini berbeda dengan penelitian dari analisis multivariat juga terjadi peningkatan
Pourya pada tahun 2015 yang mendapatkan risiko IPSS berat pada pasien dengan sindrom
bahwa sindrom metabolik berhubungan dengan metabolik, terlepas dari usia dan BMI:
skor total IPSS yang lebih berat. Pourya disesuaikan OR 1,56 (95% CI 1.35-1.80; p
menemukan hubungan positif yang kuat antara <0,001) pada pasien dengan IPSS 8-19, dan OR
sindrom metabolik dan keparahan LUTS untuk disesuaikan 2.35 (95% CI 1.82-3.03; p <0,001)
keseluruhan IPSS, baik skor berkemih dan pada pasien dengan IPSS 20-35.
penyimpanan, dan bahkan untuk setiap Obesitas sentral juga berkontribusi
pertanyaan individu dari IPSS (P <0,001). IPSS terhadap resistensi insulin. Jaringan adiposa
rata-rata lebih besar> 2 poin dalam kasus mengeluarkan beberapa zat (adipocytokines),
sindrom metabolik. Pria lebih sering memiliki dan zat ini dapat menginduksi resistensi insulin.
gejala LUTS sedang atau berat dalam kasus Beberapa laporan menunjukkan bahwa resistensi
sindrom metabolik. Skor berkemih dan insulin dengan hiperinsulinemia terkait dengan
pembesaran prostat. Obesitas juga meningkatkan 6. Gacci M, Vignozzi L, Sebastianelli A, Salvi M,
aktivitas aromatase, yang akan meningkatkan Giannessi C, Denunzio C, et al. Metabolic
produksi estradiol sehingga terjadi Syndrome and Lower Urinary Tract
ketidakseimbangan hormon. Hipertensi dan Symptoms: The Role of Inflammation.
dislipidemia juga dikaitkan dengan BPH/LUTS Prostate Cancer and Prostatic Disease.

pada beberapa studi. Hal ini terkait dengan stres 2013;16:100–105.

oksidatif yang menyebabkan peningkatan 7. Pashootan P, Ploussard G, Gocaul A, Gouvello


mediator pro inflamasi. 12-14 A, Desgrandchamps F. Association Between
Metabolic Syndrome and Severity of Lower
Urinary Tract Symptoms (LUTS): An
Daftar Pustaka
Observational Study in a 4666 European
1. Presti JC, Kane CJ, Shinohara K, Carroll PR.
Men Cohort. BJU Int. 2015;116(1):124-130
Neoplasms of Prostate Gland. Dalam:
Tanagho EA, McAninch JW (editor).
8. Hwang, Eu Chang, et al. “Men with
Hypertension Are More Likely to Have
Smith’s General Urology Seventeenth
Severe Lower Urinary Tract Symptoms and
Edition. USA: McGraw Hill. 2008:p.348-
Large Prostate Volume.” LUTS: Lower
355.
Urinary Tract Symptoms, vol. 7, no. 1, 2013,
2. Roehrborn CG. Benign Prostatic Hyperplasia:
pp. 32–36., doi:10.1111/luts.12046.
Etiology, Pathophysiology, Epidemiology,
and Natural History. Dalam: Wein AJ,
9. Parikesit, Dyandra, et al. “The Impact of Obesity
towards Prostate Diseases.” Prostate
Kavoussi LR, Partin AW, Peters CA.
International, vol. 4, no. 1, 2016, pp. 1–6.,
Campbell-Walsh Urology Eleventh Edition.
doi:10.1016/j.prnil.2015.08.001.
Philadelphia: El Sevier. 2016:2425-62
3. Reynard J, Brewster S, Biers S. Oxford 10. Lee RK, Chung D, Chughtai B, Te AE,
Kaplan SA. Central obesity as measured by
Handbook of Urology Third Edition. UK:
waist circumference is predictive of severity
Oxford University Press. 2013:72-100.
of lower urinary tract symptoms. BJU Int
4. Cockett ATK, Aso Y, Chatelain C. The
2012;110:540e5.
International Consultation on benign
11. Parsons, J. Kellogg, et al. “Lipids,
prostatic Hyperplasia. Paris Scientific
Lipoproteins and the Risk of Benign
International.1991.
Prostatic Hyperplasia in Community-
5. Byun HK, Sung YH, Chung HC. Relationships
Dwelling Men.” BJU International, vol. 101,
Between Prostate Specific Antigen, Prostate
no. 3, 2008, pp. 313–318.,
Volume, and Components of Metabolic
doi:10.1111/j.1464-410x.2007.07332.x.
Syndrome in Healthy Korean Men. Korean
Journal of Urology 2012:774-775.
12. Ozden C. The Correlation Between
Metabolic Syndrome and Prostatic Growth
in Patients with Benign Prostate Hyperplasia. 14. Bain BS. Obesity and Diabetes Increase Risk
Europe Urology. 2007;51(1):199-203. for BPH : Presented at AUA. Atlanta, GA.
13. Ngai, Ho Yin, et al. Metabolic Syndrome and 2006.
Benign Prostatic Hyperplasia: An Update.
Asian Journal of Urology. Doi:
10.1016/j.ajur.2017.05.001.