Anda di halaman 1dari 48

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Taksonomi Hewan berjudul :


Keanekaan Hewan di Persawahan Piyungan Kabupaten Bantul, Pantai Baron dan
Pantai Sepanjang kabupaten Gunung Kidul
Di susun oleh :
Nama Mahasiswa : Akhmad Nizzar Nasikhudin
NIM : 1600017116
Fakultas/Prodi : Matematika dan Ilmu PengetahuanAlam(MIPA)/Biologi
Waktu pelaksanaan : 3 Desember 2017
Tempat pelaksanaan : Persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai
Sepanjang
Diterima dan disetujui :

Yogyakarta, 11 Desember 2017


Menyetujui,

Asisten Praktikum Lapangan

Fauzan Muhammad Ardhy


1400017067

i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
limpahan rahmat dan anugerah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum Lapangan Taksonomi Hewan dengan judul “Keanekaan Hewan di
Persawahan Piyungan Kabupaten Bantul, Pantai Baron dan Pantai Sepanjang
kabupaten Gunung Kidul”
Laporan ini disusun sebagai tugas akhir dari praktikum Taksonomi Hewan
dan sebagai syarat utama untuk mengikuti ujian responsi praktikum Taksonomi
Hewan. Pada kesempatan ini, Saya selaku penulis mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang terlibat dan membantu dalam proses
penyusunan laporan Taksonomi Hewan.
Saya sadar bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu
saya selaku penulis laporan ini memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
dalam laporan ini terdapat kesalahan-kesalahan dalam proses penyusunan laporan
ini. Kami harap laporan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Yogyakarta, 8 Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ...................................................................................... i
Kata Pengantar ............................................................................................... ii
Daftar Isi........................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan ................................................................................................ 2
D. Deskripsi Lokasi ................................................................................ 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 4
A. Phylum Porifera ................................................................................. 4
B. Phylum Coelenterata .......................................................................... 5
C. Phylum Mollusca ............................................................................... 6
D. Phylum Platyhelminthes .................................................................... 7
E. Phylum Nemathelminthes .................................................................. 8
F. Phylum Annelida ................................................................................ 9
G. Phylum Arthropoda .......................................................................... 10
H. Phylum Echinodermata .................................................................... 13
I. Super Kelas Pisces ........................................................................... 14
J. Kelas Amphibia ................................................................................ 15
K. Kelas Reptilia ................................................................................... 16
BAB III. METODE PENELITIAN .......................................................... 18
A. Alat dan Bahan ................................................................................. 18
B. Cara kerja ......................................................................................... 19
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 23
A. Kemelimpahan di Persawahan Piyungan ......................................... 23
B. Kemelimpahan di Pantai Baron ....................................................... 31
C. Kemelimpahan di Pantai Sepanjang ................................................ 36
BAB V. KESIMPULAN ............................................................................ 38
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 39
LAMPIRAN ................................................................................................ 41

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman
hayati yang terbesar kedua di dunia setelah Brazil sehingga dijuluki negara
megabiodiversitas. Dimana 5.131.100 hayati di dunia, 15,3 % terdapat di
Indonesia. Setiap wilayah yang terdapat di Indonesia pasti terdapat banyak
sekali keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati itu terjadi di
berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah
(Mikroorganisme) sampai organisme tingkat tinggi (Makroorganisme).
Keanekaragaman hayati itu ada 3, yaitu keanekaragaman genetik,
keanekaragaman spesies (jenis) dan keanekaragaman ekosistem.
Keanekaragaman ekosistem ini misalnya yaitu seperti ekosistem sawah
dan pantai. Keanekaragaman ekosistem inilah yang akan dikaji lebih
lanjut.
Pada umumnya, mahluk hidup dalam hal ini hewan itu secara garis
besar terbagi menjadi dua yaitu hewan invertebrata yang terdiri dari
beberapa phylum yaitu Porifera (hewan berpori), Coelenterata (hewan
rongga perut), Platyhelminthes (cacing pipih), Nemathelmithes (cacing
gilik), Annelida (cacing cincin), Echinodermata (hewan berkulit duri) dan
Arthropoda (hewan kaki berbuku-buku). Sedamgkan hewan vertebrata
terdiri dari beberapa kelas yaitu super kelas Pisces, Amphibia, Reptilia,
Aves serta Mammalia.
Oleh karena mahluk hidup dalam hal ini hewan itu sangatlah
beragam maka kita perlu mempelajari dari hewan-hewan tersebut baik itu
invertebrata maupun vertebrata. Maka dalam hal ini kami (praktikan)
melakukan suatu pengamatan (observasi) di beberapa tempat yaitu di
kawasan Persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai Sepanjang pada
hari Minggu, tanggal 3 Desember 2017. Hal ini bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan informasi mengenai habitat dan persebaran serta
keanekaragaman hewan avertebrata yang ada di lingkungan sekitar dan
memudahkan mahasiswa (praktikan) dalam mengenal berbagai macam

1
bentuk keanekaragaman hewan avertebrata dan vertebrata yang berada di
darat maupun di laut, dan menentukan kedudukannya dalam klasifikasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya yaitu :
1. Bagaimana tingkat keanekaan hewan yang ada di kawasan Persawahan
Piyungan ?
2. Bagaimana tingkat keanekaan hewan yang ada di kawasan Pantai
Baron ?
3. Bagaimana tingkat keanekaan hewan yang ada di kawasan Pantai
Sepanjang ?
4. Apa saja faktor yang menyebabkan tingkat keanekaan hewan yang ada
di kawasan Persawahan Piyungan,Pantai Baron dan Pantai Sepanjang ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dilakukan praktikum lapangan keanekaan hewan ini antara
lain :
1. Mengetahui spesies dari kelas insecta yang paling banyak ditemukan
di kawasan Persawahan Piyungan.
2. Mengetahui spesies dari super kelas pisces yang paling banyak
ditemukan di Pantai Baron.
3. Mengetahui spesies dari kelas crustacea yang paling banyak ditemukan
di Pantai Baron.
4. Mengetahui spesies dari kelas amphibia yang paling banyak ditemukan
di Persawahan Piyungan.
5. Mengetahui tingkat kemelimpahan ordo diptera dari kelas insecta di
kawasan Persawahan Piyungan.
D. Deskripsi Lokasi
Praktikum lapangan Keanekaan hewan dilakukan di tiga lokasi yaitu
Persawahan piyungan, Pantai Baron dan Pantai Sepanjang.
1. Persawahan Piyungan
Piyungan merupakan lingkungan persawahan yang sebagian besar
daerah tersebut ditumbuhi oleh tanaman padi, daerah tersebut
digunakan oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam atau bertani.

2
Karena Piyungan merupakan lingkungan persawahan, maka disana
banyak dijumpai hewan-hewan seperti Insecta, Reptilia, Amfibi,
Molusca, tetapi yang mendominasi adalah Phylum Arthropoda,
kesemua hewan ini hidup bersama-sama dalam suatu ekosistem.
2. Pantai Baron
Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari,
sekitar 20 km arah selatan kota Wonosari (40 km dari kota
Yogyakarta). Seperti halnya beberapa pantai lain di selatan Pulau
Jawa, kondisi Pantai Baron yang memungkinkan para nelayan
berlabuh dengan hasil tangkapan dari laut. Seperti ikan, sehingga di
sana banyak pelelangan ikan seperti ikan tongkol, kakap, pari dan lain-
lain. Serta hewan laut lainnya (undur-undur, kerang, cumi-cumi, udang
dan kepiting).
3. Pantai Sepanjang
Pantai Sepanjang juga merupakan pantai yang berada di wilayah
gunung Kidul, pantai Sepanjang terletak tidak jauh dari pantai Baron.
Pantai ini merupakan pantai yang dikelola dan di jadikan tempat wisata
alam pantai di Jogja. Mahasiswa yang melakukan praktikum dan
identifikasi hewan laut disana menemukan berbagai macam ,seperti
hewan anggota Filum Porifera, Filum Mollusca, Filum Cnidaria, dan
Filum Echinodermata. Pantai ini masih memiliki berbagai jenis hewan
laut, seperti bintang ular, cacing laut, ikan laut yang memiliki warna
tubuh bermacam macam, bulu babi atau landak laut, gastropoda laut,
dan lain – lain.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi adalah penggolongan aneka jenis hewan atau tumbuhan
kedalam golongan-golongan tertentu. Golongan-golongan ini disusun
runtut sesuai dengan tingkatannya (hierarkinya), yaitu dimulai dari
tingkatan yang lebih kecil hingga ketingkatan yang lebih besar. Ilmu yang
mempelajari prinsip dan cara mengelompokkan mahluk hidup kedalam
golongannya disebut taksonomi atau sistematik (Yanti dan Nurhadi,2016).
Hewan invertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang,
serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana
dibandingkan dengan kelompok hewan punggung / bertulang belakang,
juga sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah lebih sederhana
dibandingkan hewan vertebrata. Avertebrata dibagi menjadi 9 filum yaitu
Protozoa, Porifera, Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida,
Mollusca, Arthropoda dan Echinodermata (Romimohtarto, 2007).
A. Phylum Porifera
Porifera merupakan hewan yang berpori dan sering juga disebut
hewan berongga karena seluruhnya tubuhnya dipenuhi oleh lubang-lubang
kecil yang disebut pori. Spons terdiri dari dua lapisan sel dengan selapis
bahan seperti jeli (mesogle) yang terdapat di antara kedua lapisan
tersebut. Sel-sel dari lapisan dalam mempunyai flagel yang menyebabkan
adanya arus air, sel-sel ini memakan partikel-partikel makanan yang telah
disaring. Bentuk tubuh spons yang didukung oleh rangka yang terdiri dari
spikula yang dibentuk oleh sel-sel yang tersebar didalam mesoglea,
spikula cukup keras yang tersusun dari sel ikat atau zat kapur (Kimball,
2000).
Porifera mempunyai 3000 spesies dan secara umum hidupnya dilaut
dangkal sampai kedalaman 5 km. dari 3000 ribu spesies yang dikenal
hanya 150 spesies yang hidup di air tawar sampai kedalaman 2 meter dan
jarang lebihn dari 4 meter yang biasanya hidup pada air jernih dan tenang.
Dilaut jenis calcarea umumnya terbatas pada daerah pantai dangkal
(Sugiarti, 2004).

4
Reproduksi porifera berlangsung secara aseksual dengan membentuk
kuncup, yaitu pertama arkeosit mengumpulkan nutrien dengan memfagosit
sel lain untuk dikumpulkan dalam rongga tubuh. Sel tersebut kemudian
mengelilingi serat kumpulan cluster dan kapsul yang
mengelilinginya. Pada kondisi yang tepat sel meninggalkan gemmulae
dan keluar melalui lubang membentuk spons baru. seksual dengan
pertemuan ovum dan sperma. Perkembangan secara generatif berlangsung
dengan terjadinya peleburan sel kelamin jantan dan betina yang
menghasilkan zigot berkembang menjadi larva yang kemudian
menghasilkan spons dewasa yang berkelamin satu atau hermaprodit
(Kimball, 2000).
Makanan Porifera berupa zat-zat organik dan semua organisne kecil
seperti palankton. Porifera tidak mempunyai alat pencernaan khusus,
system pencernaannya bersifat intraseluler. Zat makanan yang diambil
oleh sel-sel koanosit yang diteruskan ke spongosoel mengikuti aliran air ke
oskulum (Brotowidjoyo, 2004).
Secara ekonomis Porifera tidak banyak memberikan keuntungan pada
manusia, namun diantara beberapa porifera ada yang menguntungkan
yaitu spons yang berspikula dapat di manfaatkan sebagai alat untuk
membersihkan badan (Kimball, 2000).
B. Phylum Coelenterata
Anggota dari filum ini adalah Hydra, ubur-ubur, anemon laut, dan
koral. Hewan dari filum ini digolongkan ke dalam hewan diploblastik dan
bersimetri tubuh radial. Cnidaria sebagian besar hidup di perairan laut.
Cnidaria disebut juga sebagai hewan Coelenterata. Spesies anggota Filum
Cnidaria tubuhnya dikelilingi oleh lengan-lengan halus yang disebut
tentakel dan dalam tentakel ini terdapat nematokist. Nematokist
mengandung racun yang berguna untuk melumpuhkan mangsanya. Filum
Cnidaria memiliki ciri khas, yaitu sebagai organisme yang selama
hidupnya mengalami dua bentuk kehidupan (dimorfis). Bentuk hidup
tersebut yaitu polip dan medusa. Polip adalah bentuk hidup yang
menempel pada dasar perairan, sedangkan medusa adalah bentuk

5
hidupyang bergerak melayang bebas diperairan. Filum cnidaria memiliki
organ intraselluer yang unik dalam jaringan tubuh ektodermnya, yaitu
cnidae yang akan dilepaskan keluar tubuhnya jika ada rangsangan dari
lingkungan dimana fauna ini tinggal. Cnidae digunakan untuk menangkap
mangsa melawan predator, menyerang cnidaria lainnya yang berada
disekitarnya, atau untuk meletakkan tubuhnya pada substrat yang cocock
selama proses setelmen. Cnidae ini, terkandung ke dalam sebuah sel yang
disebut cnidocyte. Cnidae dibagi kedalam tiga kategori utama, yaitu
nematosit, spirosit dan ptikosit. Nematosit terdapat diseluruh anggota
filum cnidarian, sesangkan spirosit dan ptikosit hanya dibatasi pada
beberapa anggota ini (Fautin,2009).
C. Phylum Mollusca
Mollusca adalah hewan berbadan lunak (Latin molluscus, “lunak”)
tetapi sebagian besar terlindungi oleh suatu cangkang keras yang
mengandung kalsium karbonat. Slug, cumi-cumi dan gurita memiliki
cangkang yang tereduksi , di mana sebagian besar diantaranya adalah
cangkang internal, atau mereka telah kehilangan keseluruhan cangkang
selama proses evolusinya. Meskipun terdapat perbedaan yang jelas,
mollusca memiliki kemiripan dalam bangun tubuh. Tubuh mollusca
memiliki tiga bagian utama: kaki berotot, umumnya digunakan untuk
pergerakan; massa viseral yang mengandung sebagian besar organ-organ
internal; dan mantel, suatu lipatan jaringan yang menutupi massa viseral
dan mensekresi cangkang (jika ada). Pada banyak mollusca, mantel
meluas melebihi massa viseral, dan menghasilkan suatu ruang yang penuh
air atau rongga mantel (mantle cavity), yang menampung insang, anus dan
pori ekskretoris. Banyak mollusca yang mengambil makanan
menggunakan organ kasar mirip tali karet yang disebut radula. Sebagian
mollusca memiliki organ jenis kelamin yang terpisah, dengan gonad
(ovarium dan testes) yang terletak di dalam massa viseral. Namun
demikian, banyak keong dan bekicot adalah hemafrodit (Campbell et al.
2005).

6
1. Kelas Gastropoda
Kelas filum Mollusca yang terbesar, Gastropoda, memiliki lebih
dari 40.000 spesies yang hidup. Sebagian besar gastropoda adalah
hewan laut, tetapi banyak juga spesies air tawar. Bekicot dan slug
telah beradaptasi terhadap kehidupan di darat (Andrianna,2016).
2. Kelas Bivalvia
Mollusca dari Kelas Bivalvia meliputi banyak spesies remis, tiram,
kerang hijau, dan scallop. Bivalvia memiliki cangkang yang terbagi
menjadi dua paruhan. Kedua bagian cangkang itu bertaut pada garis
pertengahan dorsal, dan otot adduktor yang sangat kuat menarik kedua
paruh cangkang agar menutup untuk melindungi hewan berbadan
lunak itu. Rongga mantel hewan bivalvia memiliki insang yang
digunakan untuk makan dan untuk pertukaran gas. Sebagian bivalvia
adalah pemakan suspensi. Bivalvia tidak memiliki kepala yang jelas
dan radula telah hilang (Campbell et al. 2005).
3. Kelas Cephalopoda
Cephalopoda (cephalopod artinya “kaki kepala”) adalah satu-
satunya mollusca dengan sistem sirkulasi tertutup. Kaki hewan
cephalopoda telah termodifikasi menjadi sifon berotot dan bagian-
bagian tentakel dan kepala dirancang untuk bergerak secara cepat,
suatu adaptasi yang cocok dengan cara makannya sebagai
karnivora.tMereka juga memiliki suatu sistem syaraf yang
berkembang dengan baik dengan otak yang kompleks. Kemampuan
untuk belajar dan bertingkah laku dalam cara yang rumit keungkinan
lebih penting bagi pemangsa yang bergerak cepat dibandingkan
dengan hewan yang diam seperti remis. Cumi-cumi dan gutita
memiliki organ indera yang berkembang baik (Campbell et al.
2005).
D. Phylum Platyhelminthes
Phylum Platyhelminthes termasuk kelompok Acoelomata, yaitu
kelompok hewan yang pertama memperlihatkan pembentukan lapisan
dasar ketiga yaitu Mesoderm. Phylum platyhelminthes paling primitif di

7
antara semua Phyla dalam grade Billateria. Anggota phylum ini dengan
baik menggambarkan perubahan-perubahan dari bentuk Ancestor
Planuloid yang biradial menjadi bentuk bilateral yang kompleks. Adapun
ciri-ciri umum platyhelminthes adalah :
1. Simetri tubuh bilateral
2. Triploblastik: dinding tubuh terdiri dari 3 lapisan, yaitu ektoderm,
mesoderm dan endoderm, tetapi masih acoelomata.
3. Tubuh pipih tidak bersegmen (pada Cestoda hanya segmen semu atau
proglotid).
4. Alat digesti masih sistem gastrovasculer; tidak memiliki skeleton,
sistem cardiovascular dan alat respirasi khusus.
5. Organ ekskresi berupa sel-sel berbulu getar atau solenocyt atau
protonephridia.
6. Sistem syaraf tangga tali.
7. Bersifat hermaphrodit, kecuali Schistosomatidae dan bersifat fertilisasi
internal (Yanti dan Nurhadi, 2016).
E. Phylum Nemathelminthes
Nemathelminthes dikenal juga dengan nama Aschelminthes.
Berasal dari kata Nema = benang; Aschel = gilig/bulat dan helmin =
cacing.
Berikut ciri-ciri umum phylum nelmathelminthes :
1. Tubuh bulat panjang, silindris atau filiform yang ujungnya membulat
2. Bilateral simetris dan tidak bersegmen
3. Memiliki pseudocoelom/pseudocela atau rongga badan yang terbentuk
oleh mesoderm. Rongga itu bukan rongga sebenarnya (acoelom)
4. Tractus digestivus terdiri dari mulut, Oesophagus, intestinum dan anus
5. Sistem cardiovascular terdiri dari pipa-pipa musular dan tidak
memiliki jantung (cor)
6. Tidak memiliki sistem respirasi khusus dan organ ekskresi hanya
berupa saluran dan sel-sel glanduler
7. Sistem saraf terdiri dari ganglion, cerebrale dan berkas saraf
longitudinal

8
8. Umumnya seks terpisah
9. Habitat di air tawar, laut, parasit pada hewan dan manusia serta pada
tumbuhan (Nurhadi dan Yanti, 2016).
F. Phylum Annelida
Annelida berbeda dengan kelompok-kelompok cacing yang lain
dalam hal-hal berikut:
1. Tubuhnya dibagi ke dalam satu deretan memanjang ruas-ruas
serupa yang juga disebut metamer (metamere) atau somit
(somites), yang kelihatan dari luar dan karena adanya cekungan
yang mengelilingi tubuh dan kelihatan dari dalam karena adanya
sekat yang dinamakan septa atau sekat,
2. Rongga tubuh antara saluran pencernaan dan dinding tubuh
merupakan rongga tubuh yang sebenarnya,
3. Hewan ini mempunyai satu ruas pra-oral yang dinamakan
prostomium,
4. Sistem saraf terdiri dari satu pasang ganglia pra-oral dorsal, otak,
dan satu pasang benang saraf ventral khas dengan satu pasang
ganglia dalam setiap ruas, dan
5. Kutikula bukan dari bahan kitin (Rohmimohtarto 2007).
Cacing tanah merupakan salah satu ragam yang istimewa di antara
Annelida. Apendiks-apendiksnya hanya berwujud rambut-rambut kaku
yang kecil. Cacing tanah tidak mempunyai insang, tetapi mengisap
oksigen melalui kulitnya yang basah dari celah-celah di dalam tanah.
Cacing tanah tidak mempunyai rahang. Cacing tanah mengeluarkan lendir
yang melicinkan jalannya menembus tanah. Pendek kata, dalam banyak
hal cacing tanah menunjukkan adaptasi terhadap kehidupan di dalam
tanah. Annelida yang istimewa lainnya ialah lintah dan pacet. Keduanya
hidup dengan menghisap darah hewan lain. Lintah dan pacet mempunyai
segmentasi seperti Annelida biasa, tetapi tubuhnya pipih dan tidak
mempunyai apendiks-apendiks (Sastrodinoto 1998).
Beberapa hewan Annelida akuatik berenang untuk mencari makan,
tetapi sebagian besar tinggal di dasar dan bersarang di dalam pasir dan

9
endapan lumpur, cacing tanah, tentunya, merupakan pembentuk sarang
dalam lubang. Kelas cacing bersegmen ini meliputi cacing tanah dan
berbagai spesies akuatik. Cacing tanah memakan tanah untuk membuat
lubang jalan melalui tanah, dan mengekstraksi nutrient sementara tanah
dilewatkan melalui saluran pencernaan. Bahan-bahan yang tidak tercerna,
tercampur dengan mucus yang disekresikan ke dalam saluran pencernaan,
dikeluarkan sebagai kotoran melalui anus. Petani menghargai cacing tanah
karena hewan tersebut mengolah tanah, dan kotorannya memperbaiki
kotoran tanah (Campbell et al. 2005).
G. Phylum Arthropoda
Diperkirakan bahwa populasi arthropoda dunia, yang meliputi
crustacea, laba-laba, dan serangga, berjumlah sekitar 1018 individu.
Hampir 1 juta spesies arthropoda telah dideskripsikan, dan sebagian besar
adalah serangga. Keanekaragaman dan keberhasilan arthropoda sebagian
besar dikaitkan dengan segmentasinya, eksoskeletonnya yang keras, dan
tungkai yang bersendi. (Arthropoda berarti “kaki bersendi”). Kelompok
segmen dan anggota badannya telah terspesialisasi untuk berbagai ragam
fungsi. Sebagai contoh, anggota badan secara beragam dimodifikasi untuk
berjalan, makan, dan sebagai reseptor sensoris, kopulasi, dan untuk
pertahanan. Tubuh arthropoda sepenuhnya ditutupi oleh kutikula, suatu
eksoskeleton (kerangka eksternal) yang dibangun dari lapisan-lapisan
protein dan kitin. Kutikula itu dapat merupakan pelindung yang tebal dan
keras di atas beberapa bagian tubuh, dan setipis kertas dan fleksibel pada
lokasi lain, seperti persendian. Eksoskeleton akan melindungi hewan dan
menyediakan titik pertautan bagi otot yang menggerakkan anggota badan.
Eksoskeleton yang kaku juga menimbulkan beberapa permasalahan
evolusioner. Sebagai contoh, untuk dapat tumbuh, arthropoda sewaktu-
waktu harus melepaskan eksoskeletonnya yang lama dan mensekresikan
eksoskeleton yang lebih besar. Proses ini disebut molting, membutuhkan
energi dyang sangat banyak dan meninggalkan hewan tersebut rentan
terhadap pemangsa dan bahaya lainnya untuk sementara waktu.
Arthropoda menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya

10
dengan adanya organ sensoris yang berkembang baik, yang meliputi mata,
reseptor olfaktori untuk penciuman, dan antena untuk sentuhan dan
penciuman. Arthropoda memiliki sistem sirkulasi terbuka (open
circulatory system) dimana cairan yang disebut hemolimfa didorong oleh
suatu jantung melalui arteri pendek dan kemudian masuk ke dalam ruang
yang disebut sinus yang mengelilingi jaringan dan organ. Arthropoda
teresterial umumnya memiliki permukaan internal yang dkhususkan untuk
pertukaran gas. Misalnya, sebagian besar serangga memiliki sistem trakea,
saluran udara bercabang yang menuju ke arah bagian dalam dari pori-pori
yang ada pada kutikula (Campbell et al. 2005).
Arthropoda terdiri dari 5 kelas utama yaitu:
1. Arachnida
Tubuh memiliki satu atau dua bagian utama, enam pasang
angota badan (chelicerae, pedipalpus, dan empat pasang kaki
untuk berjalan), sebagian besar adalah hewan darat seperti laba-
laba, kutu, dan tungau.
2. Diplopoda
Tubuh dengan kepala yang jelas memiliki antena besar dan tiga
pasang bagian mulut yang mengunyah, badan bersegmen
dengan dua pasang kaki berjalan per segmen, teresterial, dan
herbivora, seperti: kaki seribu.
3. Chilopoda
Tubuh dengan kepala yang jelas yang memiliki antena besar
dan tiga pasang bagian mulut; anggota badan segmen tubuh
pertama dimodifikasi sebagai cakar beracun; segmen badan
mengandung satu pasang kaki berjalan setiap segmen;
teresterial; karnivora. Contoh:lipan.
4. Crustacea
Tubuh dengan dua atau tiga bagian; memiliki antena; bagian
mulut untuk mengunyah, tiga atau lebih pasang kaki, sebagian
besar adalah hewan laut seperti kepiting, udang galah, crayfish
atau udang karang, dan udang.

11
5. Insekta (serangga)
Tubuh terbagi menjadi kepala toraks, dan abdomen; memiliki
antena; bagian mulut dimodifikasi untuk mengunyah, menyedot
atau menelan; umumnya memiliki dua pasang sayap dan tiga
pasang kaki, sebagaian besar adalah hewan teresterial
(Campbell et al. 2005).
Insekta terdiri dari beberapa ordo, diantaranya adalah:
a. Hymenoptera
Memiliki dua pasang sayap bermembran, kepala dapat
bergerak; bagian mulut untuk mengunyah atau penghisap;
organ untuk menyengat pada bagian posterior pada betina;
metamorfosis sempurna; banyak spesies bersifat sosial.
Contoh: semut, lebah, tawon ( Perdana, 2010).
b. Orthoptera
Memiliki dua pasang sayap bermembran (beberapa
tahapan tidak bersayap), mulut untuk mengunyah; sangat
sosial; metamorfosis tak sempurna. Contoh: rayap.
c. Mantodea
Tubuh terbagi menjadi tiga bagian yaitu: kepala (caput),
dada (thorax) dan perut (abdomen); antena berbentuk
kawat; betina biasanya memiliki abdomen yang lebih
besar dibandingkan dengan yang jantan; metamorfosis
tidak sempurna. Contoh:belalang sembah.
d. Lepidoptera
Memiliki dua pasang sayap yang ditutupi dengan sisik
kecil; lidah panjang melilit untuk penghisap; metamorfosis
sempurna. Contoh: kupu-kupu, ngengat.
1) Odonata
Memiliki dua pasang sayap bermembran; bagian mulut
untuk menggigit; metamorfosis tak sempurna. Contoh:
Damselfly, capung.
2) Hemiptera

12
Memiliki dua pasang sayap (satu pasang sebagian
seperti berkulit, satu pasang bermembran); mulut
untuk menusuk dan menyedot; metamorfosis tak
sempurna. Contoh: kutu busuk, assassin bug, bedbug,
chinch bug.
3) Diptera
Memiliki satu pasang sayap dan halter (organ untuk
keseimbangan); mulut untuk penghisap, menusuk atau
menelan; metamorfosis sempurna. Contoh: lalat,
nyamuk (Campbell et al. 2005).
H. Phylum Echinodermata
Echinodermata ( dari bahasa Yunani echin, “berduri” dan derma,
“kulit”) adalah hewan sesil atau hewan yang bergerak lamban dengan
simetri radial sebagai hewan dewasa. Bagian internal dan eksternal hewan
itu menjalar dari tengah atau pusat, seringkali berbentuk lima jari-jari.
Kulit tipis menutupi eksoskeleton yang terbuat dari lempengan keras.
Sebagian besar hewan echinodermata bertubuh kasar karena adanya
tonjolan kerangka dan duri yang memiliki berbagai fungsi. Yang khas dari
echinodermata adalah sistem pembuluh air (water vascular system), suatu
jaringan saluran hidrolik yang bercabang menjadi penjuluran yang disebut
kaki tabung (tube feet) yang berfungsi dalam lokomosi, makan, dan
pertukaran gas. Reproduksi anggota filum echinodermata umumnya
melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah dan membebaskan
gametnya ke dalam air laut. Hewan dewasa yang radial tersebut
berkembang melalui metamorfosis dari larva bilateral. Di antara 7000 atau
lebih anggota filum echinodermata, semuanya adalah hewan laut, dibagi
menjadi enam kelas: Asteroidea (bintang laut), Ophiuroidea (bintang ular),
Echinoidea ( bulu babi dan sand dollar), Crinoidea (lili laut dan bintang
bulu), Holothuroidea (timun laut), dan Concentrychycloidea (aster laut).
Aster laut, yang baru ditemukan baru-baru ini, hidup pada kayu yang
terendam air laut dalam (Budiman,2014).

13
I. Super Kelas Pisces
Ikan (pisces) merupakan vertebrata akuatis dan bernapas dengan
insang (beberapa jenis ikan bernapas melalui alat tambahan berupa
modifikasi gelembung renang/gelembung udara). Mempunyai otak yang
terbagi menjadi regio-regio. Otak itu dibungkus dalam kranium (tulang
kepala) yang berupa kartilago (tulang rawan) atau tulang-menulang. Ada
sepasang mata. Kecuali ikan-ikan siklostomata, mulut itu disokong oleh
rahang(aggnatha = ikan tak berahang). Telinga hanya terdiri dari telinga
dalam, berupa saluran-saluran semisirkular, sebagai organ keseimbangan
(equilibrium). Jantung berkembang baik. Sirkulasi menyangkut aliran
seluruh darah dari jantung melalui insang lalu ke seluruh bagian tubuh
lain (Brotowidjoyo, 2004).
Dalam pengklasifikasian kelas pisces, masih terdapat perbedaan
antara para ahli-ahli taksonomi. Di Indonesia pada umumnya
dipergunakan klasifikasi Bleeker yang telah dilengkapi oleh Sunier, Max
Weber, dan L. De Beaufort. Bleeker membagi kelas pisces ke dalam 4 sub
kelas yaitu : Elasmobranchii, Chondrostei, Dipnoi, dan Teleostei.
Klasifikasi Bleeker ini disusun berdasarkan 4000 jenis ikan yang
dikumpulkan di perairan Indonesia dan sekitarnya. Dari ke empat sub
kelas ini yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah sub kelas
Elasmobranchii dan sub kelas Teleostei. Elamosbranchii adalah ikan-ikan
yang struktur rangkanya semata-mata terdiri dari tulang rawan, misalnya
ikan pari (Dasiatis kuhlii) dan ikan hiu (Galeocerda cuviera), sedangkan
Teleostei adalah ikan-ikan yang struktur rangkanya terdiri dari tulang
sejati, misalnya ikan bayar (Rastrelliger kanagurta), bandeng (Chanos
chanos), dan cakalang (Katsuwonus pelamis), (Tim Pembina Mata Kuliah,
2012).Kelas ikan yang masih hidup (Chondrichthyes dan Osteichthyes)
pertama kali muncul pada masa ini, bersama-sama dengan suatu kelompok
yang diberi nama plakoderma (placoderm) (“berkulit lempeng”) yang
tidak memiliki keturunan yang hidup. Di antara semua kelas Vertebrata,
ikan bertulang keras (Kelas Osteichthyes) adalah yang paling banyak
jumlahnya, baik dalam hal jumlah individu maupun dalam jumlah spesies

14
(sekitar 30.000). Kulitnya seringkali tertutupi dengan sisik pipih bertulang
yang berbeda strukturnya dari sisik berbentuk gigi pada hiu. Kelenjar pada
kulit ikan bertulang keras mensekresikan mukus yang memberikan ikan itu
kulit licin yang khas, suatu adaptasi yang mengurangi gesekan selama
berenang. Sistem gurat sisi merupakan suatu barisan organ mikroskopis
yang sensitif terhadap perubahan tekanan air di sekitarnya. Ikan bertulang
keras bernapas dengan melewati air melalui 4 atau 5 pasang insang yang
terletak di dalam ruangan yang tertutup oleh suatu penutup pelindung yang
disebut operkulum. Adaptasi lain dari sebagian besar ikan bertulang keras
yang tidak ditemukan pada hiu adalah gelembung renang (swim
bladder), suatu kantung udara yang membantu mengontrol
pengambangan ikan tersebut (Campbell et al, 2005).
Kelompok yang termasuk jenis-jenis ikan bertulang sebenarnya
rangka tubuhnya terdiri dari tulang sebenarnya. Bentuk sisik bermacam-
macam selain dari tipe sisik placoid. Paru-paru atau gelembung biasanya
dimiliki, ikan-ikan ini sangat banyak ditemukan baik diair tawar maupun
diair laut (Syamsuri, 2004).
J. Kelas Amphibia
Amphibia adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik
dalam air tawar (tidak ada yang di air laut) dan di darat. Sebagian besar
mengalami metamorfosis dari berudu ( akuatis dan bernapas dengan
insang) ke dewasa (amfibius dan bernapas dengan paru-paru), namun
beberapa jenis amphibia tetap mempunyai insang selama hidupnya. Jenis-
jenis yang sekarang ada tidak mempunyai sisik luar, kulit biasanya tipis
dan basah. Tengkorak lebar dan tertekan, dengan rongga otak yang kecil.
Ada 2 kondil oksipital (occipetal condyle). Sabuk-sabuk dada (pektoral)
dan sabuk-sabuk pinggang (pelviks) membantu kaki-kakinya
dalam menyokong tubuh. Kolumna vertebralis mulai menunjukan
diferensiasi menjadi daerah-daerah servikal (leher), badan, sakral (tulang
kemudi), dan caudal (ekor). Kaki-kaki depan umumnya dengan 4 buah
jari, kaki belakang dengan 5 buah jari. Respirasi mungkin melalui insang,
paru-paru, kulit, dan membran faringeal dan kloakal, dengan berbagai

15
variasi kombinasi dari semuanya itu. Jantung mempunyai 2 atrium dan 2
ventrikel. Darah pulmoner dan darah sistemik bercampur. Ada sistem
porta ginjal yang dengan melalui vena abdominal ventral berhubungan
dengan porta hepatis. Telur terbungkus dalam pembungkus gelatinus, dan
biasanya diletakan dalam air (Brotowidjoyo, 2004).
Ciri-ciri khusus kelas Amphibi, yaitu:
1. Kulit selalu basah dan berkelenjar serta tidak bersisik luar.
2. Memiliki 2 pasang kaki untuk berjalan atau berenang; berjari 4-5
atau lebih sedikit; tidak bersirip.
3. Terdapat dua buah nares yang menghubungkan dengan cavum oris.
Mata berkelopak yang dapat digerakan; lembar gendang pendengar
terletak di sebelah luar. Mulut bergigi dan berlidah yang dapat
dijulurkan ke muka.
4. Skeleton sebagian besar berupa tulang keras, tempurung kepala
memiliki dua condyl.
5. Cor terbagi atas tiga ruangan, yakni dua ruang auricula dan satu
ventriculum.
6. Pernapasan dengan insang, paru-paru, kulit atau celah mulut (rima
oris).
7. Otak memiliki 10 pasang nervi cranialis.
8. Suhu tubuh poikilothermis (Mintohari dkk, 2005).
K. Kelas Reptilia
Ciri-ciri hewan melata adalah sebagai berikut:
1. Kulit kering bersisik dari zat tanduk karena zat keratin.
2. Bernafas dengan paru-paru.
3. Berdarah dingin (poikiloterm) yakni yang suhu tubuhnya
dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
4. Umumnya bersifat ovivar (bertelur), contoh kadal, dan vivipar
beranak, contohnya ular.
5. Jantung terdiri dari empat ruang yaitu dua serambi dan dua bilik
yang masih belum sempurna.

16
Reptilia dapat dibagi menjadi beberapa ordo antara lain: Ordo
Crocodila (contoh: buaya); Ordo Sphenedontia (contoh : Tuatara); Ordo
Squamata (contoh: kadal); dan Ordo Testudinata (contoh: kura-kura,
penyu dan labi-labi). (Radiopetra, 1996).

17
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum lapangan taksonomi hewan dan
klasifikasi, yaitu :
1. Botol jam (3 buah) sebagai perlengkapan untuk membuat Killing
Bottle dan untuk menyimpan sampel berupa biota laut.
2. Amplop Insecta untuk menyimpan sampel sementara berupa hewan
insecta.
3. Plot peralon untuk membatasi wilayah
4. Ember untuk menyimpan sampel berupa biota-biota laut
5. Steroform sebagai perlengkapan untuk membuat Insectarium
6. Jarum pentul sebagai perlengkapan untuk membuat Insectarium
7. Kamera untuk mengambil foto-foto dari sampel
8. Kertas label untuk menandai
9. Pinset digunakan untuk mengambil biota laut dari habitatnya
10. Sweep net digunakan untuk menangkap insecta maupun hewan lain
yang dapat terbang
11. Clipboard untuk memudahkan praktikan menulis dari tabel data
pengamatan
12. Kardus tertutup untuk menyimpan alat-alat yang lain berupa botol jam,
tabel data pengamatan, clipboard dan lain-lain.
13. Tabel data pengamatan untuk mencatat hasil pengamatan
14. Alat tulis untuk menulis hasil pengamatan
Sedangkan, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum lapangan
taksonomi hewan dan klasifikasi, yaitu :
1. Mika sebagai bahan untuk menutupi clipboard agar tabel pengamatan
pada clipboard tidak basah.
2. Karet sebagai bahan untuk membuat Killing Bottle
3. Kapas sebagai bahan untuk membuat Killing Bottle
4. Plastik sebagai bahan untuk menyimpan bahan-bahan lainnya.
5. Kertas papilot sebagai bahan untuk proses Insectarium pada insecta

18
6. Kertas karton Kapas sebagai bahan untuk membuat Killing Bottle
7. Alkohol 70% dan 96% sebagai bahan untuk membuat awetan basah
8. Formalin sebagai bahan untuk membuat awetan basah
9. Kloroform sebagai bahan untuk membuat Killing Bottle
10. Air laut 125 mL sebagai bahan untuk membuat awetan basah
B. Cara Kerja
1. Persawahan Piyungan
a. Disiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum di
persawahan Piyungan.
b. Alat-alat yang dibutuhkan adalah plastik, sweep net, amplop
Insecta, tabel data pengamatan, clipboard, kamera, alat tulis dan
botol jam.
c. Sebelum praktikan turun ke persawahan, tiap kelompok diberikan
tugas yang berbeda-beda oleh asisten.
d. Setelah diberikan arahan oleh asisten, praktikan turun ke
persawahan tetap dengan didampingi asisten.
e. Berbagai jenis Insecta, Platyhelmntes, Annelida, Mollusca,
Arthropoda, Amfibi dan Reptil yang akan diamati oleh praktikan di
sekitar persawahan.
f. Setelah hewan yang dicari sudah ditemukan, misalnya jenis Insecta
untuk bangsa Lepidoptera dan Odonata, hewan tersebut diletakkan
didalam amplop Insecta yang sudah disiapkan. Amplop tersebut
digunakan untuk mengawetkan bangsa Lepidoptera dan Odonata
dan sayapnya tidak boleh patah. Sedangkan untuk bangsa belalang
diletakkan pada killing bottle (botol ini bertujuan untuk mematikan
belalang agar organnya tidak rusak).
Berikut cara pembuatan Killing Bottle :
1) Disiapkan bahan berupa botol jam, kapas, kertas manila
yang sudah dibuat lingkaran dan dilubangi seukuran tutup
botol jam

19
2) Selanjutnya dibuka botol jamp lalu dimasukkan kapas yang
sudah dicelupkan dengan eter dan kloroform ke dalam botol
jam.
3) Setelah itu dimasukkan kertas manila yang sudah dilubangi
diatas kapas yang berada didalam botol jamp
4) Kemudian botol ditutup dan siap digunakan.
g. Dicatat hewan yang telah ditemukan di tabel data pengamatan,
selain dicatat masing-masing hewan tersebut difoto.
h. Selanjutnya praktikan membuat insektarium dengan insekta yang
telah ditemui. Berikut cara mebuat insektarium :
1) Disiapkan kardus berserta tutupnya, kertas kado, solatif,
gunting, double tip, cutter, kertas mika, jarum pentul dan
steroform.
2) Dibungkus kardus beserta tutupnya dengan menggunakan
kertas kado
3) Lalu diambil kardus beserta tutupnya kemudian pada tutup
kardus bagian tengahnya dilubangi membentuk persegi.
Diambil plastik mika kemudian tempelkan pada lubang
tadi.
4) Dimasukkan steroform seukuran kardus kedalam kardus
yang digunakkan untuk meletakan serangga
5) Diambil serangga lalu diletakkan diatas steroform yang ada
didalam kardus.
6) Serangga tersebut ditusuk menggunakan jarum pentul pada
bagian thorax.
7) Setelah itu tutup kardus yang telah berisi serangga tersebut
2. Pantai Baron
a. Setelah dari Persawahan Piyungan kemudian dilanjutkan ke Pantai
Baron.
b. Sebelum praktikan turun ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terlebih
dahulu dilakukan koordinir dan arahan / penjelasan dari asisten.

20
c. Alat-alat yang perlu dibawa adalah kamera, clipboard, tabel data
pengamatan, dan alat tulis.
d. Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang akan diamati oleh praktikan
yaitu tentang keanekaan hewan yang hidup di laut, antara lain
Superclass Pisces, Class Molusca dan Class Crustacea sehingga
praktikan lebih jelas dan mengerti tentang berbagai macam jenis
hewan yang hidup di laut sekitar Pantai Baron.
e. Setelah dijelaskan oleh asisten, praktikan langsung menuju ke
Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
f. Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) semua jenis ikan dan hewan laut
yang ada harus dicatat namanya oleh praktikan, Selain dicatat
hewan-hewan tersebut juga difoto satu persatu.
g. Bila nama ikan / hewan yang dilihat tidak diketahui, maka hal
tersebut dapat ditanyakan pada penjual ikan.
3. Pantai Sepanjang
a. Disiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk praktikum di Pantai
Sepanjang diantaranya ember, pinset, peralon, tabel data
pengamatan, alat tulis, clipboard, dan kamera.
b. Hewan yang akan dicari di Pantai Sepanjang ini yaitu berbagai
jenis Echinodermata, Chordata, Cnidaria, Annelida, Porifera,
Mollusca dan Crustacea.
c. Setelah itu praktikan turun ke pantai, di tepi pantai peralon
diletakkan diatas permukaan air, kemudian dicatat, digambar serta
difoto apa saja yang berada didalam plot tersebut. Jika hewan
diberi tanda huruf dan jika itu jenis alga diberi tanda angka.
d. Setelah semua data didapat, data tersebut kemudian ditabulasikan
sehingga akan mendapatkan data yang akurat.
4. Cara pembuatan Awetan Basah
a. Disiapkan balsem mentol dragon, alkohol 96%, air laut 125 ml.
b. Dibuat cairan kristal mentol untuk dioleskan atau di rendam
sebentar pada preparat yang akan di awetkan

21
c. Selanjutnya cairan kristal mentol dibuang dan preparat dicuci
sampai bersih.
d. Setelah itu dibuat larutan pengencer 375 ml. Alkohol 96% + 125
air laut : semua larutan sampat 500 ml.
e. Disuntikkan larutan tersebut pada hewan laut.
f. Lalu preparat atau hewan-hewan laut tersebut direndam dengan
larutan di atas.

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kemelimpahan Hewan di Persawahan Piyungan
1. Insecta
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Persawahan Piyungan
Habitat : Persawahan
Kelompok : 25
No. Nama Spesies (Ordo) Jumlah Keterangan
Kupu-kupu
1. 32 +++
(LEPIDOPTERA)
2. Capung (ODONATA) 35 +++
3. Kepik (HEMIPTERA) 30 ++
Belalang sembah
4. 31 +++
(MANTODEA)
5. Belalang (ORTHOPTERA) 32 +++
6. Tawon (HYMENOPTERA) 33 +++
7. Lalat (DIPTERA) 35 +++
8. Kumbang (COLEOPTERA) 31 +++

Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

23
Leptidoptera Odonata Hemiptera Mantodea
Orthoptera Hymenoptera Diptera Coleoptera

+++ +++
+++ +++
+++ ++
+++ +++

Gambar1. Diagram lingkaran kemelimpahan Insecta di Persawahan Piyungan.


Pembahasan:
Pada tabel dan diagram kelimpahan insecta yang terdapat di
Persawahan Piyungan diatas bahwa ordo Lepidoptera (kupu-kupu),
Odonata (capung), Hemiptera (kepik), Mantodea (belalang sembah),
Orthoptera (belalang), Hymenoptera (tawon), Diptera (lalat) dan
Coleoptera (kumbang) itu memiliki tingkat kemelimpahan yang sama
yaitu sangat melimpah yang artinya bahwa ordo-ordo tersebut masih
banyak ditemukan di Persawahan Piyungan.

Dari tabel dan gambar di atas bahwa spesies yang paling banyak
ditemukan di Persawahan Piyungan yaitu Lalat yang merupakan
anggota dari ordo Diptera dan capung yang merupakan anggota dari
ordo Odonata yang masing-masing ditemukan sebanyak 35.

Faktor yang menyebabkan ordo Diptera (lalat) itu paling banyak


ditemukan di Persawahan Piyungan yaitu ordo Diptera hal ini
dikarenakan ordo Diptera dalam siklus rantai makanannya (food
chain) itu berperan sebagai konsumen terhadap tumbuhan-tumbuhan
maupun hewan lainnya dimana ketersediaan dari tumbuhan maupun
hewan yang merupakan makanan dari hewan ordo Diptera masih
banyak ditemukan di ekosistem dalam hal ini di Persawahan Piyungan

24
selain itu juga morfologinya juga membantu hewan ordo Diptera
dalam adaptasi di ekosistem yaitu matanya berfacet dan occeli yang
mampu mendeteksi adanya predator lain sehingga hewan ini mampu
menghindari predator.. Sedangkan hal-hal yang menyebabkan jumlah
dari ordo Odonata paling banyak yang ditemukan di Persawahan
Piyungan selain ordo Diptera yaitu ordo ini berperan didalam rantai
makanan (food chain) yaitu sebagai konsumen pada serangga-
serangga kecil lainnya namun hewan ini juga dapat berperan sebagai
yang dimangsa dari hewan lainnya seperti ikan, kumbang air dan lain-
lain. Tapi hewan ini (Odonata) merupakan yang paling banyak dari
sekian ordo lain dari hewan insecta karena ordo ini memiliki
morfologi pada matanya yang khas yaitu matanya majemuk yang
sering kali berfaset banyak. Hal ini sangat berguna ketika ordo
Odonata ini mencari mangsa ataupun menghindar dari adanya hewan
predator lain. Hewan ordo Odonata juga dilengkapi sayap sejumlah 4
buah yang berselaput yang berfungsi untuk terbang dimana ordo ini
terbangnya dengan cara direct flight muscles. Hal ini juga membantu
hewan ini untuk tetap survive(bertahan hidup). Selain itu juga
ketersediaan hewan-hewan yang menjadi makanan dari ordo Odonata
yaitu serangga-serangga kecil lainnya masih banyak terdapat di alam
dalam hal ini di Persawahan Piyungan. Hal-hal tersebut merupakan
faktor yang menyebabkan jumlah dari ordo Diptera dan Odonata itu
banyak ditemukan di Persawahan Piyungan.

25
2. Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida dan Mollusca
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Persawahan Piyungan
Habitat : Persawahan
Kelompok : 25
No. Nama Spesies (Ordo) Jumlah Keterangan
Pomacea sp.
1. 34 +++
(ARCHITAENIOGLOSSA)
Achatina fullica
2. 32 +++
(STYLOMMATHOPORA)
Lumbricus terestis
3. 2 +
(MEGASCOLACIDAE)
Hirundinea sp.
4. 1 +
(GNATHOBDELLIDA)

Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Architaenioglossa Stylommathopora Megacscolacidae Gnathobdellida

Gambar 2. Diagram lingkaran kemelimpahan platyhelminthes, nemathelminthes


dan annelida di Persawahan Piyungan.

26
Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram lingkaran di atas bahwa spesies yang
memiliki tingkat kemelimpahan yang paling banyak ditemukan di
Persawahan Piyungan yaitu Pomaceae Sp. dimana spesies ini
merupakan anggota dari ordo Architaeniogloosa. Spesies ini
ditemukan sebanyak 34. Spesies ini tergolong merupakan hewan hama
bagi beberapa tanaman sehingga dalam siklus rantai makanan (food
chain) berperan sebagai konsumen tingkat I yang memakan tumbuhan
namun hewan ini merupakan hewan yang selalu diburu oleh burung
dengan lain perkataan burung merupakan predator bagi Pomacae Sp.
Tapi di dalam ekosistem Pomaceae Sp. mampu beradaptasi dengan
lingkungannya. Hal ini dikarenakan Pomaceae Sp. memiliki cangkang
yang keras. Cangkang tersebut merupakan pelindung bagi Pomaceae
Sp. ketika keberadaannya terancam oleh hewan lainnya seperti
burung. Selain itu juga daya beregenerasinya cukup tinggi dimana
Pomacae Sp. mampu mengeluarkan sejumlah telur kurang lebih 8.300
butir per musim kawin (Isnaningsih dan Marwoto, 2011). Hal lain
yang menyebabkan Pomaceae Sp. banyak ditemukan di suatu
ekosistem yaitu ketersediaan makanan dari Pomaceae Sp. berupa
tumbuh-tumbuhan dimana di Persawahan Piyungan masih banyak
terdapat-terdapat tumbuh-tumbuhan (Zein, 2016). Hal-hal tersebut
yang menyebabkan Pomaceae Sp. mampu bertahan hidup di
ekosistem dalam hal ini Persawahan Piyungan.

27
3. Arthropoda
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Persawahan Piyungan
Habitat : Persawahan
Kelompok : 25
No. Nama Spesies (Ordo) Jumlah Keterangan
1. Araneus sp. (ARANEAE) 14 +
Spirobolus sp.
2. 13 +
(SPIROBOLIDA)
Parathelphusa sp.
3. 1 +
(DECAPODA)

Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Araneae Spirobolida Decapoda

+ +

Gambar 3. Diagram Lingkaran kemelimpahan Arthropoda di Persawahan


Piyungan.

28
Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram lingkaran di atas bahwa spesies dari
kelas Arthropoda yang paling banyak ditemukan di Persawahan
Piyungan yaitu Araneus Sp. sebanyak 14 artinya tingkat kemelimpahan
dari species Araneus Sp. sedikit. Araneus Sp. merupakan species yang
paling banyak ditemukan di Persawahan Piyungan. Hal ini dikarenakan
Araneus Sp. memiliki morfologi yang khas yaitu warna tubuhnya yang
hampir sama dengan habitatnya yaitu di ranting-ranting kayu. Hal ini
sangat membantu untuk berkamuflase ketika berburu makanan maupun
menghindari adanya predator. Selain itu di bagian ujung chelicera dari
Araneus Sp. itu memiliki kelenjar racun yang berfungsi untuk
melumpuhkan mangsanya. Hal lain yang menyebabkan Araneus Sp.
paling banyak ditemukan di Persawahan Piyungan yaitu hewan ini
berkedudukan konsumsi tingkat II dalam siklus rantai makanan (food
chain) dimana makanan atau mangsa dari Araneus Sp. yaiu serangga-
serangga kecil dan lain-lainnya (Barrion dan Litsinger, 1995).
4. Amphibia dan Reptil
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Persawahan Piyungan
Habitat : Persawahan
Kelompok : 25
No. Nama Spesies (Ordo) Jumlah Keterangan
Eutropis multifasciata
1. 1 +
(SQUAMATA)
2. Duttaphrynus sp. (ANURA) 4 +
Bronchocela sp.
3. 3 +
(SQUAMATA)
Dendrelaphis pictus
4. 1 +
(SQUAMATA)
5. Gekko gecko (SQUAMATA) 1 +
6. Fejervarya sp. (ANURA) 10 +

29
Hemidactylus frenatus
7. 1 +
(SQUAMATA)
Ahaetula prasina
8. 1 +
(SQUAMATA)
Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Eutropis multifasciata Duttaphrynus Sp. Bronchocela Sp.


Dendrelaphis pictus Gekko geyco Fejervarya Sp.
Hemidactylus frenatus Ahaetula Prastina

Gambar 4. Diagram Lingkaran Kemelimpahan Kelas Amphibia dan Repitilia di


Persawahan Piyungan.
Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram lingkaran diatas bahwa spesies dari
kelas Amphibia dan Reptilia yang paling banyak ditemukan di
Persawahan Piyungan yaitu Fejervarya limnocharis sebanyak 10 yang
berarti bahwa tingkat kemelimpahannya yaitu sangat sedikit. Hal yang
menyebabkan Fejervarya Limnocharis itu sering kali ditemukan dan
banyak karena Fejervarya limnocharis mampu atau berhasil beradaptasi
di ekosistemnya dengan cara bentuk tubuh dari Fejervarya limnocharis
itu ramping yang memudahkan untuk berjalan dan warna tubuh bagian
dorsal itu berwarna coklat gelap yang memnungkinkan Fejervarya itu
mampu berkamuflase dalam memburu mangsanya maupun bertahan dari

30
predator (Yudha dkk.2014). Selain dari segi morfologinya juga peranan
dari Fejervarya limnocharis dalam siklus rantai makanan (food chain)
dimana Fejervarya itu berperan sebagai konsumen tingkat II yaitu
pemakan serangga yang mana 80 % serangga tersebut adalah serangga
hama. Dimana di Persawahan Piyungan itu masih banyak ketersediaan
makanan dari Fejervarya limnocharis (Kuswantoro dan Soesilohadi,
2016). Hal tersebut merupakan penyebab dari Fejervarya banyak
ditemukan di Persawahan Piyungan.
B. Kemelimpahan Hewan di Pantai Baron
1. Super kelas Pisces
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Pantai Baron
Habitat : Pantai
Kelompok : 25

No. Nama Spesies Jumlah Keterangan


1. Ikan Cakalang 32 +++
2. Hiu Martil 3 +
3. Cucut Hiu 2 +
4. Ikan Kakap Kecil 7 +
5. Ikan Jambal 18 ++
6. Ikan Salmon 15 ++
7. Ikan Layur 40 +++
8. Ikan Bawal Laut 30 +++
9. Ikan Kakap Besar 10 +
10. Ikan Tongkol 30 +++
11. Ikan Tuna 20 ++
12. Ikan Cue 50 +++
13. Ikan Kakap Hitam 25 ++
14. Ikan Kakap Putih 26 ++
15. Ikan Kakap Merah 1 +

31
16. Ikan Kerapu 30 +++
17. Ikan Terisi 31 +++
18. Ikan Pari 6 +
19. Ikan Ekor Kuning 1 +
20. Ikan Dorang 4 +
21. Ikan Tenggiri 32 +++
22. Ikan Laura 6 +
23. Ikan Surung 32 +++

Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Ikan cakalang Hiu Martil Cucut Hiu Ikan Kakap Kecil


Ikan Jambal Ikan salmon Ikan Layur Ikan Bawal Laut
Ikan Kakap Besar Ikan Tongkol Ikan Tuna Ikan Cue
Ikan Kakap Hitam Ikan Kakap putih Ikan Kakap Merah Ikan Kerapu
Ikan Terisi Ikan Pari Ikan Ekor Kuning Ikan Dorang
Ikan Tenggiri Ikan Laura Ikan Surung

+++ +++ +
+ +
+
+++ ++
++ ++
+

+++ +++

+++
+++
+
++
+++
++
++
+++

Gambar 5. Diagram Lingkaran Kemelimpahan Pisces di Pantai Baron.


Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram lingkaran di atas bahwa species yang
paling banyak ditemukan di Pantai Baron yaitu Ikan Cue sebanyak 50

32
dengan tingkat kemelimpahan sangat melimpah. Ikan Cue ini sangat
banyak ditemukan di Pantai Baron karena ikan ini memiliki morfologi
yang mampu menunjang kehidupan di lautan yaitu dua sirip punggung
(dorsal), dorsal 1 memiliki 8 jari-jari keras dan dorsal 2 memiliki 1 jari-
jari keras dan 28-29 jari-jari lemah. Sirip dubur (anal) memiliki 3 jari-jari
keras dan 22-25 jari-jari lemah. 5 Tubuhnya memiliki warna hijau
kebiruan di daerah atas dan keperakan di daerah
bawah, operculum memiliki bintik-bintik hitam kecil. Insang dilindungi
oleh membran halus. Morfologi yang telah disebutkan itu memungkinkan
Ikan Cue ini mampu bertahan hidup di lautan. Selain dari segi
morfologinya juga peranan Ikan Cue pada siklus rantai makanan (food
chain) yang mana Ikan Cue berperan sebagai Konsumen tingkat I yang
memakan plankton-plankton kecil dimana di ekosistem lautan
ketersediaan makanan dari Ikan Cue ini masih sangat banyak sehingga
ikan ini mampu bertahan hidup bahkan mampu melakukan reproduksi
yang memungkinkan jumlah dari Ikan Cue semakin bertambah. Hal-hal
tersebut yang menyebabkan Ikan Cue banyak ditemukan di Pantai Baron
2. Crustacea
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Pantai Baron
Habitat : Pantai
Kelompok : 25
No. Nama Spesies Jumlah Keterangan
1. Udang grogol 34 +++
2. Udang galah 31 +++
3. Kepiting 32 +++
4. Rajungan 29 +++
5. Lobster kipas 1 +
6. Lobster mutiara 10 +
7. Lobster biasa 32 +

33
Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Udang Grogol Udang Galah Kepiting Rajungan


Lobster Kipas Lobster mutiara Lobster biasa

+++ +++

++
+
+++
++

+++

Gambar 6. Diagram Lingkaran Kemelimpahan Crustacea di Pantai Baron.


Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram diatas bahwa spesies dari kelas
Crustacea yang paling banyak ditemukan di Pantai Baron yaitu Udang
Grogol sebanyak 34 dengan tingkat kemelimpahan yait sangat melimpah.
Hal ini dikarenakan bahwa Udang Grogol ini memiliki morfologi khusus
yaitu pada ruas ke-2 dan ke-3 terdapat antena dan antenulla yang
berfungsi sebagai alat peraba dan penciuman. Dimana hal ini sangat
berguna ketika Udang mencari makanannya. Selain itu Udang Grogol
memiliki lapisan kutikula sebagai organ pertahanan pertama yang
memegang peran penting dalam melawan patogensial dan kerusakan
fisik. Lapisan kutikulanya terdiri dari lipid, protein, dan kalsium yang
menutupi insang, oesophagus dan abdomen (Alday-sanz,1995). Selain
faktor lainnya yaitu ketersediaan makanan bagi Udang Grogol yaitu
Plankton-plankton kecil yang masih banyak terdapat di lautan bebas.
Hal-hal tersebut yang menyebabkan Udang Grogol banyak ditemukan di
Pantai Baron.

34
3. Mollusca
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Pantai Baron
Habitat : Pantai
Kelompok : 25
No. Nama Spesies Jumlah Keterangan
1. Sotong 40 +++
2. Cumi-cumi 33 +++
3. Kerang hijau 35 +++

Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Sotong Cumi-cumi Kerang Hijau

+++
+++

+++

Gambar 7. Diagram Lingkaran Kemelimpahan Mollusca di Pantai Baron.


Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram diatas bahwa species dari kelas
Mollusca yang paling banyak ditemukan di Pantai Baron yaitu Sotong
sebanyak 40 dengan tingkat kemelimpahan yaitu sangat melimpah. Hal

35
ini dikarenakan Sotong memiliki morfologi khusus atau khas yaitu pada
tubuhnya terdapat suatu kelenjar hitam yang mana kelenjar hitam ini
sangat berfungsi ketika Sotong itu keberadaanya terancam oleh adanya
predator. Selain morfologinya juga ketersediaan pangan dari Sotong.
Dimana Sotong memakan hewan-hewan mollusca kecil lainnya maka
keberadaan dari hewan-hewan mollusca kecil itu masih banyak. Hal-hal
tersebut yang menyebabkan Sotong banyak ditemukan di Pantai baron.
C. Kemelimpahan Hewan di Pantai Sepanjang
Tabel dan Diagram Pengamatan
Hari, tanggal : Minggu, 3 Desember 2017
Lokasi : Pantai Sepanjang
Habitat : Pantai
Kelompok : 25
No. Phylum Nama Spesies Jumlah Keterangan
1. CNIDARIA Favites sp. 32 +++
2. Meandrina sp. 31 +++
3. Acropora sp. 29 ++
4. PORIFERA Spongia sp. 19 ++
5. MOLLUSCA Turbo sp. 35 +++
6. Conus sp. 33 +++
7. Cypraea sp. 31 +++
8. Trochus sp. 18 ++
9. Morula sp. 16 ++
10. Chiton sp. 2 +
11. Murex sp. 6 +
12. Modolus sp. 4 +
13. ECHINODERMATA Ophiocoma sp. 2 +
14. Echinus sp. 6 +
15. ARTROPODA Brachyura 5 +

36
Keterangan :
+ = Sedikit (< 15)
++ = Melimpah (15-30)
+++ = Sangat Melimpah (> 30)

Favites Sp. Meandrina SP. Acropora Sp. Spongia Sp.


Turbo Sp. Conus Sp. Cypraea Sp. Trochus Sp.
Morula Sp. Chiton Sp. Murex Sp. Modolus Sp.
Ophiocoma Sp. Echinus Sp. Brachyura

++ + +
++ +++
++

++ +++

+++
++

+++ ++

+++

Gambar 8. Diagram Lingkaran hewan yang terdapat di Pantai Sepanjang.


Pembahasan :
Berdasarkan tabel dan diagram lingkaran di atas bahwa species yang
paling banyak ditemukan di Pantai Sepanjang yaitu Turbo Sp. yang
merupakan anggota dari kelas Mollusca sebanyak 35 dengan tingkat
kemelimpahan yaitu sangat melimpah. Hal ini dikarenakan Turbo Sp.
memiliki morfologi khusus yaitu cangkang yang melindungi ketika
keberadaan dari Turbo Sp. terancam oleh predatornya. Selain itu
ketersediaan pangan bagi Turbo Sp. yaitu sisa-sisa organik yang mana
sisa organik di Pantai Sepanjang sangat banyak. Hal inilah yang
memungkinkan keberadaan dari Turbo Sp. sangat banyak ditemukan.

37
BAB V

KESIMPULAN
Dari praktikum keanekaan hewan yang telah dilakukan di kawasan
persawahan Piyungan, Pantai Baron dan Pantai Sepanjang dapat diperoleh
beberapa kesimpulan yaitu diantaranya :
1. Jenis atau spesies dari Kelas Insecta yang paling banyak ditemukan di
kawasan Persawahan Piyungan Kabupaten Bantul yaitu Lalat (Diptera)
sebanyak 35 dan Capung (Odonata) sebanyak 35.
2. Jenis atau spesies dari Super kelas Pisces yang paling banyak
ditemukan di Pantai Baron Kabupaten Gunung Kidul yaitu Ikan Cue
sebanyak 50.
3. Jenis atau spesies dari kelas crustaceae yang paling banyak ditemukan
di Pantai Baron kabupaten Gunung Kidul yaitu Udang Grogol
sebanyak 34.
4. Jenis atau spesies dari kelas Amphibia yang paling banyak ditemukan
di Persawahan Piyungan yaitu Fejervarya Sp. sebanyak 10.
5. Tingkat kemelimpahan dari ordo Diptera dari kelas insecta yang
ditemukan di kawasan Persawahan Piyungan itu sangat berlimpah
dengan jumlah 35.

38
DAFTAR PUSTAKA
Andrianna. 2016. Kelimpahan dan Keanekaragaman Gastropoda di Pantai
Sindangkerta Kecamatan Cipatujuh Kabupaten Tasikmalaya. Skripsi.
Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Pasundan: Tidak diterbitkan
Barrion, AT & Litsinger.1995. Riceland Spider of South and Southeast Asia,
International rice research. CAB International. Manila
Kuswantoro, Farid dan R.C. Hidayat Soesilohadi. 2016. Journal of
Tropical Biodiversity and Biotechnology. Keanekaragaman serangga
sebagai pakan alami katak tegalan (Fejervarya
Limnocharis,Gravenhorst) pada ekosistem sawah di Desa
Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Yogyakarta.
Vol. 1, hal : 1-8
Brotowidjoyo. 2004. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga
Budiman Chika. dkk. 2014. Jurnal mipa unsrat. Keanekaragaman
Echinodermata di Pantai Basaan Satu Kecamatan Ratatotok Sulawesi
Utara. Sulawesi Utara. Vol. 3, No. 2: hal 97-10
Campbell et al. 2005. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Fautin DG. 2009. Importance of nematocyst to actinian taxonomy. Hal. 487-
500. In Hessinger,D.A and H.M. Lenhoff (eds). The Biology Of
nematocyst. Academy Press. Inc. San Diego
Isnaningsih, Nur Rohmatin dan Ristiyanto M Marwoto. (2011). Jurnal Berita
Biologi. Keong Hama Pomaceae Di Indonesia: Karakter Morfologi
dan Sebarannya. Bogor. Vol. 10, No. 4: hal 441-447
Kimball, John. W. 2000. BIOLOGY, Fifth Edition. Addison : Weasley
Publishing Company Inc.
Mintohari, dkk. 2005. Hewan-Hewan Vertebrata. Prima Jaya. Bandung
Radiopoetra.1996. Zoologi. Erlangga. Jakarta
Romimohtarto, Kasijan dan Sri Juwana. 2007. BIOLOGI LAUT Ilmu
Pengetahuan tentang Biota Laut. Jakarta : Djambatan
Sastrodinoto, S. 1998. Biologi Umum. Jakarta : Erlangga

39
Sugiarti, S. 2004. Invertebrata Air. Bogor : Lembaga Sumberdaya Informasi
IPB. Bogor.
Syamsuri,Istamar. 2004. Biologi. Widya Utama. Jakarta
V. Alday-Sanz (ed.) 1995. Intensive Production of Shrimp. Nottingham:
Nottingham University Press
Yanti, Febri dan Nurhadi. 2016. Buku Ajar Taksonomi Invertebrata Cetakan
Pertama. Sumatera Barat: Deeppublish dengan STKIP PGRI Sumbar
Presh
Yudha, Satria Donan dkk. 2014. Jurnal Biologi. Keanekaragaman Jenis Katak
dan Kodok (Ordo Anura) di Sepanjang Sungai Opak Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta. Vol. 18, No. 2: hal 52-59
Zein, Suharno dan Sang putra. (2016). Jurnal Pendidikan Biologi. Pengaruh
Variasi Konsentrasi Ekstrak Serai (Andropogon nardus) Terhadap
Mortalitas Hama Keong Mas (Pomaceacaniculata L.). Jakarta. Vol.7,
No. 1: hal 10-15

40
LAMPIRAN

41
Pengamatan di daerah persawahan piyungan

Gambar 9. belalang Gambar 10. Laba laba

Gambar 11. Kumbang Gambar 12. Belalang sembah

42
Pengamatan didaerah pantai baron

Gambar 12. Ikan kerapu Gambar 13. Ikan hiu cucut

Gambar 14. Ikan kakap hitam Gambar 15. Ikan kakap putih

Gambar 16. Udang windu Gambar 17. Cumi – cumi

43
Gambar 18. Kepiting Gambar 19. Lobster

44
Pengamatan di daerah Pantai sepanjang

Gambar 20. Turbo sp. Gambar 21. Echinus sp.

Gambar 22. Favites sp. Gambar 23. Spongia sp.

45