Anda di halaman 1dari 18

PANGKALANUTAMA TNI AL XIII

RUMKITAL ILYAS TARAKAN

PEDOMAN
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA
NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA

RUMKITAL ILYAS TARAKAN

Jl. RE Martadinata No.29 Tarakan


TELP/FAX (0551) 24320 email : rsalilyas@yahoo.com
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA)


atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan
Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang
memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja
sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang
dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Meskipun dalam
Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya
(NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila
disertai peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu
maupun masyarakat luas khususnya generasi muda.

Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi


sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari
tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas.Dari data
yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun.Oleh
karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman
kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor kesehatan memegang peranan
penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya
Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi.

Peran penting sektor kesehatan mengharuskan Rumah Sakit berperan sebagai


instansi yang berwenang dalam pengelolaan psikotropik lebih selektif daam pemberian
pada pasien yang sangat membutuhkan psikotropika dan harus lebih proaktif dalam
upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di masyarakat.

Pada saat pasien berkunjung ke sebuah pelayanan kesehatan, harapan pasien


adalah mendapatkan pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya dan dengan waktu
sesingkat-singkatnya. Pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik
swasta maupun dokter praktek sesungguhnya tidak hanya memberikan pelayanan
medis profesional namun juga memberikan pelayanan umum kepada masyarakat.
Selain mendapatkan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya, pasien dan keluarga juga
mengharapkan kenyamanan dan keamanan baik dari segi petugas yang cekatan,
kenyamanan ruang tunggu, antrian yang tidak terlalu lama, kebersihan toilet maupun
dari sumber daya manusia yang bertugas ditempat pelayanan kesehatan tersebut
harus profesional.

B. TUJUAN PEDOMAN

1. Tujuan khusus

Terwujudnya penyelanggaraan pelayanan kesehatan dengan mutu tinggi


serta mengutamakan keselamatan pasien dalam mempergunakan obat-obat jenis
psikotropika di lingkungan kerja Rumah Sakit.

2. Tujuan umum

a) Pemberian obat psikotropika di pelayanan kesehatan instalasi rawat jalan ( BP ,


KIA/KB, Gigi, IGD, dapat berjalan dengan baik berdasarkan SPO sehingga
keselamatan pasien dapat dimaksimalkan.

b) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata,terjangkau dengan


pengutamaan pada upaya preventif dan kuratif.

c) Menciptakan dan meningkatkan serta memperkuat deteksi terhadap sistem


monitoring diversi dan evaluasi pada kebocoran pengelolaan prekursor seluruh
tahap farmasi sedini mungkin

d) Memberikan peningkatkan mutu kerja, kepastian hukum bersama lintas sektor di


bagian pengelola lingkungan prekursor farmasi untuk mencegah terjadinya
pengelola prekursor penyimpangan atau terjadinya kebocoran farmasi (diversi)
dan dan penyimpangan kebocoran prekursor farmasi dari jalur legal ke jalur ilegal
atau sebaliknya.

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN

1. Ruang lingkup pelayanan klinik umum ( BP ): Memberikan pelayanan dengan


lingkup yang terbatas yaitu pasien dengan diagnosa psikosis, skizoprenia,
psikosomatis, epilepsi dan kejang yang periksa oleh dokter umum.
2. Ruang lingkup pelayanan KIA dalam penanganan anak kejang demam.
3. Memberikan pelayanan kepada pasien di IGD yang memerlukan perawatan
observasi dan tindakan yang harus segera dilakukan, misalnya kejang.
4. Ruang lingkup Ruang persalinan untuk mengatasi adanya pasien kejang karena
eklamsi.
D. BATASAN OPERASIONAL
a) Pelayanan poliklinik :
1. Klinik Umum ( BP ) dimana didalamnya mencakup pelayanan pemeriksaan dan
penentuan diagnosa dan yang memeriksa adalah dokter umum.
2. KLinik Gigi mencakup pelayanan pemeriksaan dan penentuan diagnose penyakit
gigi , klinik ini di layani oleh dokter gigi.
3. Klinik KB dan ANC dimana didalamnya mencakup pelayanan pemeriksaan
kehamilan, konsultasi kandungan / alat kontrasepsi, penentuan diagnosa,
tindakan pemasangan dan lepas alat kontrasepsi iud. yang melayani adalah
bidan.
4. Klinik KIA dimana didalamnya mencakup pelayanan pemeriksaanbalitayang akan
dilayani oleh bidan.
b) Pelayanan IGD dimana didalamnya mencakup pelayanan pemeriksaan dan
penanganan tindakan darurat yang akan dilayani oleh dokter umum dan perawat.
c) Pelayanan persalinan dimana didalamnya mencakup pelayanan pemeriksaan dan
penanganan tindakan darurat kebidanan yang akan dilayani oleh dokter umum dan
perawat.
d) Pelayanan Administrasi
1. Menerima daftar dari bagian admisi untuk didata dan membagi pendistribusian ke
poli pelayanan yang di tuju.
2. Mencatat dan menerima.

E. LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
3. Peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/148/I/
2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Perawat.
5. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/X/
2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Bidan.
6. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 1796/MENKES/PER/VIII/
2011 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.
7. Keputusan Menteri Kesehatan No. 129 Tahun 2008 Tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit.
8. Standar Asuhan Keperawatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia 1997.
9. Pedoman Uraian Tugas Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia 1999.
10. Instrumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2001.
11. Standar Peralatan Keperawatan Dan Kebidanan Di Sarana Kesehatan, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia 2001.
12. Standar Manajemen Pelayanan Keperawatan Dan Kebidanan Di Sarana Kesehatan,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2001.
13. Standar Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia 2005.
14. Dasar-dasar Asuhan Kebidanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2005.
15. Pedoman Penanggulangan KLB – DBD Bagi Keperawatan di RS Dan Puskesmas,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2006.
16. Pedoman Pelayanan Perinatal Pada Rumah Sakit Umum kelas C Dan D
Departemen Kesehatan 1991.
17. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
18. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
19. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotik

BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Kualifikasi sumber daya manusia yang ada di instalasi rawat jalan ( BP ) adalah :
1. Tenaga Medis

a. Tenaga medis yang ada di instalasi rawat jalan adalah tenaga medis yang
bersertifikat,dan berkompeten dibidangnya dalam arti sudah lulus dari
pendidikan kedokteran sebagai dokter umum serta lulus dalam kredential .
b. Tenaga medis yang ada di klinik gigi adalah tenaga medis yang bersertifikat dan
berkompeten sebagai dokter gigi.

2. Tenaga Perawat

Untuk menunjang pelayanan perawatan di instalasi rawat jalan harus di


dukung oleh tenaga perawat yang memiliki ketrampilan, pendidikan dan pelatihan
yang mendukung dalam pelayanan instalasi rawat jalan.

3. Tenaga bidan

Untuk menunjang pelayanan perawatan di instalasi KB, KIA dan ANC harus
di dukung oleh tenaga bidan yang memiliki ketrampilan, pendidikan dan pelatihan
yang mendukung dalam pelayanan .

4. Tenaga kesehatan lain

Kualifikasi Sumber Daya Manusia Petugas yang memiliki kewenanangan


dalam pelayanan resep narkotik dan psikotropika adalah Apoteker yang
memiliki STRA dan SIPA dalam wilayah kerja tersebut dan Tenaga Teknis
Kefarmasian yang memiliki STR dan SIKTTK dalamwilayah kerja tersebut di
bawah pengawasan Apoteker.Distribusi KetenagaanTenaga kefarmasian yang
dibutuhkan dalam pelayanan ini adalah minimal 1 orang Apoteker dan 2 orang
Tenaga Teknis Kefarmasian.

BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG

Meja kasir

RUANG TUNGGU PASIEN KASIR RUANG SIMAK GUDANG FARMASI

Lemari Khusus Psikotropik dan


Narkotik

Ruang antara
Rak Penyimpanan Obat

RUANG PENYIAPAN RUANG ASEPTIK


OBAT

Wastafel

B. STANDAR FASILITAS
Terdapat lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika yang dilengkapi
kunci ganda dan kunci hanya dikendalikan oleh bidan penanggung jawab obat
dan Tenaga Teknis Kefarmasian. Lemari penyimpanan khusus narkotika dan
psikotropika dipersyaratkan agar tidak dapat dipindahkan.
Kelengkapan alat dalam Instalasi Farmasi Rumah Sakit terdiri dari :
1. Registrasi
 Meja computer
 Komputer
 Kursi
 Alat tulis ( balpoint,spidol warna,staples,lem )
2. Meja kerja
 Meja kerja
 Kursi
 Alat peracik obat
3. Klinik umum
 Meja kerja
 Kursi
 Tempat tidur periksa pasien
 Komputer
 Tensimeter
 Stetoskop
 Senter
 Tongue spatel
 Termometer suhu badan

BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. PENGADAAN
Narkotika dan psikotropik untuk kebutuhan Rumah Sakit diperoleh dari
permintaan melalui LPLPO kepada Dinas Kesehatan. Bukti pengadaan ditelusuri
melalui SBBK Obat Psikotropik dan Narkotik.

B. PENYIMPANAN DAN PELAPORAN


a. Narkotika dan psikotropika yang berada di Rumkital Ilyas Tarakan wajib disimpan
secara khusus sesuai standar fasilitas.
b. Apoteker penanggung jawab wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan
laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotika yang berada
dalam penguasaannya.

C. PENYERAHAN
a. Penyerahan Narkotika dan Psikotropika hanya dapat dilakukan oleh dan Tenaga
Teknis Kefarmasian dibawah pengawasan Apoteker berdasarkan resep dokter.
b. Penyerahan Narkotika dan psikotropika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk
menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan Narkotika dan
psikotropika melalui suntikan atau melalui oral.
c. Resep yang berisi obat Narkotika harus digaris bawahi dengan warna merahdan
untuk obat Psikotropika digaris bawahi warna biru sebagai penanda khusus.
d. Pasien yang menerima obat Narkotika dan psikotropika harus ditanyakan
nomor telepon dan alamat lengkap.

D. PEMANTAUAN
Pemantauan terhadap obat-obatan Narkotika dan psikotropika yang dilakukan
meliputi pemantauan stok harian, pasien yang mendapatkan stok harian,
pasien yang mendapatkan resep Narkotika dan Psikotropika berulang kali dan
masa kadaluarsa obat.

E. PEMUSNAHAN
Obat narkotika dan psikotropika yang telah kadaluarsa tidak dimusnahkan di
Rumah Sakit, namum dikembalikan ke Dinas Kesehatan setempat dengan dilampiri
Berita Acara Pengembalian.

F. Lingkup Kegiatan
Tata laksana palayanan dalam instalasi rawat jalan pada umumnya dikerjakan
secara team work, dilakukan sesuai S, O, A dan P serta terdokumentasikan dengan
baik.

1. Pasien Umum
Setelah mendaftar pasien dipersilahkan menunggu, petugas mengantar
berkas pendaftaran ke bagian rekam medic. Bagian rekam medic akan mencari
berkas pasien, petugas registrasi akan memasukan data ke komputer rawat jalan
untuk ke pelayanan dokter atau ruang pemeriksaa yang di tuju. Pasien akan
dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik pendahuluan yang terdiri dari timbang
badan, ukur suhu tubuh, tensimeter pasien siap untuk diperiksa dokter sesuai
antrian. Setelah pasien menyelesaikan tahap pemeriksaan dokter selanjutnya pasien
mendapat resep ataupun advis dari dokter. Kemudian pasien menunggu didepan
ruang farmasi untuk menerima obat.

2. Pasien One Day Care


Pasien one day care adalah pasien yang memerlukan perawatan dan
observasi dalam satu hari, apabila dalam satu hari perawatan / observasi tersebut
pasien belum ada perubahan kondisi yang lebih baik maka pasien dianjurkan untuk
rawat inap. Pelayanan one day care bekerjasama dengan instalasi rawat jnap untuk
proses observasi yang lebih baik.

BAB V
LOGISTIK

Obat-obatan Psikotropik dan Narkotik yang tersdia di apotek Rumkital Ilyas


Tarakan adalah:
a. Obat Narkotika : Codein tablet 10 mg
b. Obat Psikotropika : Diazepam tablet 2 mg, diazepam rectal 5 mg Fenobarbital
tablet 30 mg,haloperidol 1,5 mg,haloperidol 2 mg,triheksilfenidil 2
mg,chlorpromazine 100 mg,carbamazepin 200 mg,trifuperazin 5 mg ,resperidon 2
mg,amitryptilin 25 mg.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. KEBIJAKAN KESELAMATAN PASIEN PADA PELAYANAN KEFARMASIAN


Keselamatan pasien di rumah sakit harus merupakan jaminan bagi pasien
yang mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit. Hal ini merupakan hal yang
bersifat sistematis yang diatur dan diarahkan oleh kebijakan rumah sakit secara
menyeluruh dan merupakan hal yang bersifat kolaboratif antara tenaga medis,
perawatan, farmsi dan administratif untuk selalu mengembangkan dan memonitor
setiap kebijakan yang ada berkaitan keselamatan pasien di rumah sakit Tentunya
keselamatan pasien merupakan hal yang menjadi fokus pada pelayanan
kefarmasian di rumah sakit sehingga perlu dibuat pedoman yang menjamin
keselamatan pasien pada saat mendapatkan pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
a) Pelayanan kefarmasian merupakan proses yang terintegrasi , kolaboratif dan
komunikatif dengan pelayanan medis yang lain.
1. Buku rekam medis harus informatif, komunikatif dan transparan bagi setiap
tenaga medis, perawat dan farmasi yang terlibat dalam pelayanan medis
kepada pasien.
2. Aktifitas asuhan terhadap pasien meliputi pemeriksaan laboratorium,
pemberian obat, pelayanan keperawatan dan pemberian nutrisi yang dicatan
didalam buku rekam medis hanya dilakukan oleh tenaga medis, farmasi dan
perawat yang berkompeten dan mendapatkan otorisasi menuliskan perintah.
3. Pencatatan setiap bentuk pelayanan medis dan hasilnya didalam buku rekam
medis dilakukan secara sistematis sesuai urutan dan kolom kejadian sehingga
memudahkan penelusuran kembali.
4. Pasien dan keluarga berhak untuk mendapatkan penjelasan dan informasi
tentang hasil asuhan dan pengobatan baik yang dikehendaki maupun tidak
dikehendaki.
5. Secara periodik dilakukan evaluasi atau assesmen terhadap pedoman
pelayanan kefarmasian yang dilakukan secara kolaboratif melibatkan tenaga
medis dan perawat yang terlibat dalam asuhan pasien.
6. Entry data pada rekam medis elektronik mencegah terjadinya kesalahan dalam
pembacaan resep dan pemberian perintah.

a. Seluruh proses pelayanan kefarmasian harus berifat integratif, informatif dan


komunikatif disetiap tahapnya guna memperkecil terjadinya resiko kesalahan dalam
melaksanakan pelayanan kefarmasian.
1) Sistem pelaporan dan pencatatan yang integratif dari setiap tahap pelayanan
kefarmasian dimulai dari seleksi dan pengadaan, penyimpanan, persiapan dan
penyaluran, pemberian sampai pemantauan.
2) Sarana komunikasi antar petugas farmasi yang terlibat pada setiap tahap
pelayanan kefarmasian
3) Pembagian tugas kerja yang jelas bagi setiap petugas farmasi pada setiap
tahap pelayanan kefarmasian.
4) Pelayanan kefarmasian hanya dilakukan oleh petugas farmasi yang memiliki ijin
atau otorisasi dari rumah sakit.
b. Sistem distribusi obat yang tepat dan akurat guna memperkecil resiko terjadinya
kesalahan pelayanan kefarmasian terhadap pasien.
1) Sistem yang seragam pada penyaluran dan pendistribusian obat
2) Setiap pemberian obat harus melalui tahap penelaahan yang dilakukan oleh
farmasis dan teknisi farmasi yang memiliki kompetensi.
3) Adanya formulir yang mencatat setiap bentuk pelayanan pemberian obat kepada
pasien.
4) Penanganan khusus melalui pemberian label yang benar untuk obat yang
dikeluarkan dari kemasan.
5) Prosedur yang tepat yang mengatur ketersediaan dan penggunaan sampel obat
Prosedur yang tepat yang mengatur penggunaan obat sendiri oleh pasien.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

B. PEDOMAN KESELAMATAN KERJA PADA PELAYANAN KEFARMASIAN


Tenaga farmasi merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan yang
hampir ada disetiap bentuk pelayanan kesehatan di rumah sakit, sehingga tenaga
farmasi juga memiliki resiko yang sama sebagai mana petugas kesehatan yang lain.
Keselamatan kerja sudah menjadi hal yang bersifat wajib bagi segala bentuk
pelayanan kefarmasian di rumah sakit untuk mencegah terjadinya resiko keselamatan
kerja tersebut. Ancaman resiko keselamatan kerja tersebut dapat disebabkan oleh
faktor resiko internal dalam pelayanan kefarmasian dan juga faktor resiko ekternal .

Tujuan
1) Mencegah terjadinya resiko ancaman keselamatan akibat resiko kerja dalam
pelayanan kefarmasian.
2) Mencegah terjadinya kerugian personel dan material akibat kecelakaan kerja.
3) Pembinaan personel berkaitan pelaksanaan Universal Precaution

Faktor Resiko Internal


Berkaitan erat dengan pelaksanaan prosedur kerja dalam pelayanan
kefarmasian dan berhubungan langsung dengan bahan limbah dan kimia berbahaya.
Pada prinsipnya bahan obat adalah bersifat racun sehingga prosedur Universal
Precaution harus diaplikasikan dalam pelayanan kefarmasian. Universal Precaution
dalam kaitan keselamatan kerja meliputi 3 (tiga) aspek yaitu hygiene individu,
higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga aspek tersebut dijabarkan
dalam kegiatan berikut:

1) Melaksanakan prosedur cuci tangan yang benar.


2) Pemakaian alat pelindung diri sesuai standar kefarmasian untuk mencegah kontak
dengan obat secara langsung.
3) Penanganan alkes habis pakai bekas pakai.
4) Penanganan limbah jarum dan alat tajam.
5) Pengelolaan limbah farmasi.
6) Higiene dan Sanitasi ruangan farmasi
7) Melaksanakan prosedur penanganan sediaan kemoterapi sesuai standar
kefarmasian.
8) Melaksanakan prosedur sterilisasi yang tepat.
9) Pemeriksaan rutin kesehatan secara periodik setiap 6 (enam) bulan sekali dan
sewaktu-waktu bila diperlukan
10) Melaksanakan prosedur pengamanan berkaitan keselamatan kerja.

Faktor Resiko Eksternal


Petugas farmasi yang melakukan pelayanan kefarmasian di ruangan dan
memberikan obat secara langsung kepada pasien beriko terpapar infeksi sehingga
prosedur keselamatan kerja harus dengan benar dilaksanakan guna mencegah
terjadinya resiko kecelakaan kerja. Upaya - upaya Universal Precaution akan dalam
berkaitan dengan pelayanan kefarmasian dilaksanakan dalam bentuk upaya berikut:
1) Menjaga higiene dan sanitasi diri pribadi.
2) Menjaga higiene dan sanitasi ruangan.
3) Melaksanakan prosedur dekontaminasi dan sterilisasi yang tepat.
4) Penanganan limbah farmasi di ruangan dengan prosedur yang tepat.
5) Penggunaan alat pelindung diri untuk mencegah kontak langsung dengan bahan
infeksius.
6) Pemeriksaan rutin kesehatan secara periodik setiap 6 (enam) bulan sekali dan
sewaktu-waktu bila diperlukan.
7) Melaksanakan prosedur pengamanan berkaitan keselamatan kerja.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

A. EVALUASI MUTU PELAYANAN


Dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian agar
memenuhi standar pelayanan maka evaluasi terhadap mutu pelayanan harus
dilakukan. Evaluasi mutu pelayanan kefarmasian merupakan proses penilaian kinerja
pelayanan kefarmasian yang meliputi penilaian terhadap sumber daya
manusia(SDM), pengelolaan perbekalan sediaan farmasi dan kesehatan, pelayanan
kefarmasian kepada pasien dengan indikator antara lain: kepuasan pasien,
kepatuhan pasien dan keberhasilan pengobatan.

Tujuan
1) Menghilangkan kinerja pelayanan yang substandar.
2) Terciptanya pelayanan farmasi yang menjamin efektifitas obat dan keamanan
pasien
3) Meningkatkan efisiensi pelayanan.
4) Meningkatkan mutu obat .

a. Jenis Evaluasi
Berdasarkan waktu pelaksanaan evaluasi, dibagi tiga jenis program evaluasi :
1) Prospektif : program dijalankan sebelum pelayanan dilaksanakan. Contoh:
pembuatan standar, perijinan.
2) Konkuren : program dijalankan bersamaan dengan pelayanan dilaksanakan.
Contoh : memantau kegiatan konseling apoteker, peracikan resep oleh Asisten
Apoteker
3) Retrospektif : program pengendalian yang dijalankan setelah pelayanan
dilaksanakan. Contoh : survei konsumen, laporan mutasi barang.
b. Metoda Evaluasi
1) Audit (pengawasan) : Dilakukan terhadap proses hasil kegiatan apakah sudah
sesuai standar
2) Review (penilaian) terhadap pelayanan yang telah diberikan, penggunaan
sumber daya, penulisan resep.
3) Survei : untuk mengukur kepuasan pasien, dilakukan dengan angket atau
wawancara langsung.
4) Observasi : Terhadap kecepatan pelayanan antrian, ketepatan penyerahan obat.
c. Bagian Farmasi menyelenggarakan rapat teratur untuk membicarakan masalah-
masalah pelayanan farmasi maupun lainnya. Hasil pertemuan tersebut dicatat
pada buku notulen.

Rapat Bagian Farmasi terdiri dari:


1) Rapat rutin : dipimpin oleh Kabag Farmasi yang dihadiri semua anggota Bagian
Farmasi dan dilaksanakan sekali sebulan.
2) Rapat staf : dipimpin oleh Kasubbag Farmasi yang dihadiri oleh Kaur dan kasi di
Bagian Farmasi dan dilaksanakan dua kali sebulan.
3) Rapat koordinasi : dipimpin oleh salah satu kasubbag yang dihadiri oleh kasi dan
karu terkait. Dilaksanakan dua kali sebulan

B. PENGENDALIAN MUTU
Merupakan kegiatan pengawasan, pemeliharaan dan audit terhadap bekal
kesehatan untuk menjamin mutu, mencegah kehilangan, kadaluarsa, rusak dan
mencegah ditarik dari peredaran serta keamanannya sesuai dengan Kesehatan,
Keselamatan Kerja Rumah Sakit (SOP) yang meliputi :

 Melaksanakan prosedur yang menjamin keselamatan kerja dan lingkungan.


 Melaksanakan prosedur yang mendukung kerja Panitia Pengendalian Infeksi
Rumah Sakit .
a. Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Mutu Pelayanan
1) Unsur masukan (input) : tenaga/sumber daya manusia, sarana dan prasarana,
ketersediaan dana
2) Unsur proses : tindakan yang dilakukan oleh seluruh staf farmasi
3) Unsur lingkungan : Kebijakan-kebijakan, organisasi, manajemen
b. Standar – standar yang digunakan
Standar yang digunakan adalah standar pelayanan farmasi minimal yang
ditetapkan oleh lembaga yang berwenang dan standar lain yang relevan dan
dikeluarkan oleh lembaga yang dapat dipertanggung jawabkan .

c. Tahapan Program Pengendalian Mutu


1) Mendefinisikan kualitas pelayanan farmasi yang diinginkan dalam bentuk
kriteria.
2) Penilaian kulitas pelayanan farmasi yang sedang berjalan berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan.
3) Pendidikan personel dan peningkatan fasilitas pelayanan bila diperlukan.
4) Penilaian ulang kualitas pelayanan farmasi.
5) Up date kriteria.
d. Aplikasi Program Pengendalian Mutu
Langkah – langkah dalam aplikasi program pengendalian mutu :

1) Memilih subyek dari program


2) Karena banyaknya fungsi pelayanan yang dilakukan secara simultan , maka
tentukan jenis pelayanan farmasi yang akan dipilih berdasarkan prioritas
3) Mendefinisikan kriteria suatu pelayanan farmasi sesuai dengan kualitas
pelayanan yang diiginkan
4) Mensosialisasikan Kriteria Pelayanan farmasi yang dikehendaki
5) Dilakukan sebelum program dimulai dan disosialisasikan pada semua personil
serta menjalin konsensus dan komitmen bersama untuk mencapainya
6) Melakukan evaluasi terhadap mutu pelayanan yang sedang berjalan
menggunakan kriteria
7) Bila ditemukan kekurangan memastikan penyebab dari kekurangan tersebut
8) Merencanakan formula untuk menghilangkan kekurangan
9) Mengimplementasikan formula yang telah direncanakan
10)Reevaluasi dari mutu pelayanan Pelayanan
e. Indikator dan Kriteria
Untuk mengukur pencapaian standar yang telah ditetapkan diperlukan indikator,
suatu alat/tolok ukur yang hasil menunjuk pada ukuran kepatuhan terhadap standar
yang telah ditetapkan. Makin sesuai yang diukur dengan indikatornya, makin
sesuai pula hasil suatu pekerjaan dengan standarnya. Indikator dibedakan menjadi:

1) Indikator persyaratan minimal yaitu indikator yang digunakan untuk mengukur


terpenuhi tidaknya standar masukan, proses, dan lingkungan.
2) Indikator penampilan minimal yaitu indikator yang ditetapkan untuk mengukur
tercapai tidaknya standar penampilan minimal pelayanan yang
diselenggarakan.

Indikator atau kriteria yang baik sebagai berikut :


 Sesuai dengan tujuan
 Informasinya mudah didapat
 Singkat, jelas, lengkap dan tak menimbulkan berbagai interpretasi
 Rasional

Anda mungkin juga menyukai