Anda di halaman 1dari 10

MENGKRITISI JURNAL KEPERAWATAN JIWA

Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa


yang dibina oleh Bapak Edi Sujarwo, S.Kep., Ns. M.Kep

KELOMPOK 7
M. Ilham Santoso (P17211186010)
Luluk Mamluatul Ulumy (P17211186016)
Khusnatul Maghfiroh (P17211186025
Siti Rizky Amalia (P17211186027)
Anggina Ayu Dhewanty (P17211186040)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGAM STUDI PROFESI NERS
2018
A. TEORI
Apakah orang dengan gangguan kejiwaan melakukan kekerasan?
Info publikasi: Jurnal Psikiatri & Neuroscience: JPN; Ottawa Vol. 43,
Masalah. 4, (Juli 2018): 220-222.

Apakah orang dengan gangguan kejiwaan melakukan kekerasan? Data


yang relevan dipengaruhi oleh laporan dan berbagai kemungkinan
tertangkap, divonis, dan didiagnosis, tetapi ada bukti kuat bahwa mereka
yang memiliki masalah kesehatan mental lebih mungkin daripada yang
lain untuk melakukan kejahatan kekerasan. . Analisis dari Daftar
Kejahatan Nasional Swedia populasi menunjukkan bahwa, dibandingkan
dengan populasi umum, tingkat kejahatan kekerasan dua kali lipat untuk
pasien dengan skizofrenia dan gangguan mood bipolar dan tiga kali lipat
bagi mereka yang menderita depresi unipolar.
Dan hal sebaliknya juga tentang Apakah orang yang memiliki kekerasan
lebih mungkin mengalami gangguan kejiwaan? Di sini sekali lagi, data
dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi sebagian besar bukti menunjukkan
bahwa mereka memiliki tingkat psikopatologi yang tinggi, dengan
gangguan mood dan psikotik.
Tingkah laku yang kasar merefleksikan pertemuan banyak faktor yang
sering berinteraksi secara rumit. Terlepas dari kerumitan ini, penurunan
tetap dalam tingkat pembunuhan memberikan optimisme bahwa kemajuan
dapat dibuat. Banyak faktor yang berkontribusi dalam domain psikiatri. Ini
termasuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor
sosiokultural, psikologis, hukum dan sosial lainnya yang mempengaruhi
perilaku bermasalah, dan menggunakan informasi ini ketika membuat
keputusan tentang pasien dan kebijakan.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi kekerasan sangat rentan
terjadi pada pasien yang memiliki gangguan kejiawaan seperti skizofrenia,
gangguan mood bipolar, dan tingkat psikopatologi yang tinggi. Adapun
genetik juga mempengaruhi dari sifat yang diturunkan dan lingkungan
sehari hari yang mempengaruhi tingkah dan sikap dalam menjalani
keseharian dan mengatasi masalah serta memcahkannya.
Hal tersebut terjadi karena dengan gangguan tersebut sudah menjadi faktor
utama terjadinya kekerasaa. Dan dilanjutkan karena rendahnya perhatian
lingkungan dalam mengenali gangguan yang dialami. Dan koping individu
yang sudah mengalami gangguan.
B. PENGKAJIAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERILAKU
KEKERASAN DI RUANGAN MERPATI RUMAH SAKIT JIWA PROF. HB.
SA’ANIN PADANG

Jurnal yang didapatkan untuk pengkajian terbaru adalah terdapat 25 poin


yang harus di kaji pada klien dengan diagnose Perilaku Kekerasan. Dalam
penelitian tersebut menggunakan 15 responden. Mereka semua pasien rawat inap
di RSJ Prof. Hb. Sa’anin Padang. Di dalam jurnal, pengkajian yang dilakukan
kepada responden dengan perilaku kekerasan adalah terdapat 25 poin yang di kaji.
25 poin yang di kaji, antara lain: identitas, alasan masuk rumah sakit,
faktor predisposisis, pemeriksaan fisik, pikososial, hubungan sosial, spiritual,
status mental, pembicaraan, aktivutas motorik, alam perasaan, afek, interaksi
selama wawancara, persepsi, proses atau arus fikir, isi fikir, tingkat kesadaran,
memori, tingkat konsentrasi dan berhitung, kemampuan penilaian, daya tilik diri,
kemampuan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan
lingkungan, dan aspek medik

25 poin yang akan di kaji, antara lain:


1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas
1) Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan
klien tentang: nama perawat, nama klien, tujuan, waktu, tempat
pertemuan, topik yang akan dibicarakan.

2) Usia dan No. Rekam Medik.


b. Alasan Masuk
Biasanya alasan utama pasien untuk masuk ke rumah sakit yaitu pasien
sering mengungkapkan kalimat yang bernada ancaman, kata-kata kasar,
ungkapan ingin memukul serta memecahkan perabotan rumah tangga.
Pada saat berbicara wajah pasien terlihat memerah dan tegang,
pandangan mata tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, mengepalkan
tangan. Biasanya tindakan keluarga pada saat itu yaitu dengan
mengurung pasien atau memasung pasien. Tindakan yang dilakukan
keluarga tidak dapat merubah
kondisi ataupun perilaku pasien

c. Faktor Predisposisi
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan sebelumnya pernah
mendapat perawatan di rumah sakit. Pengobatan yang dilakukan masih
meninggalkan gejala sisa, sehingga pasien kurang dapat beradaptasi
dengan lingkungannya. Biasanya gejala sisa timbul merupakan akibat
trauma yang dialami pasien berupa penganiayaan fisik, kekerasan di
dalam keluarga atau lingkungan, tindakan kriminal yang pernah
disaksikan, dialami ataupun melakukan kekerasan tersebut.

d. Pemeriksaan Fisik
Biasanya saat melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil
tekanan darah meningkat, nadi cepat, pernafasan akan cepat ketika pasien
marah, mata merah, mata melotot, pandangan mata tajam, otot tegang,
suara tinggi, nada yang mengancam, kasar dan kata-kata kotor, tangan
menggepal, rahang mengatup serta postur tubuh yang kaku.

e. Psiokososial
1) Genogram
Biasanya menggambarkan tentang garis keturunan keluarga pasien,
apakah anggota keluarga ada yang mengalami gangguan jiwa seperti
yang dialami oleh pasien.

2) Konsep diri
a) Citra tubuh
Biasanya tidak ada keluhan mengenai persepsi pasien terhadap
tubuhnya, seperti bagian tubuh yang tidak disukai.

b) Identitas diri
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan merupakan anggota
dari masyarakat dan keluarga. Tetapi karena pasien mengalami gangguan
jiwa dengan perilaku kekerasan maka interaksi antara pasien dengan
keluarga maupun masyarakat tidak efektif sehingga pasien tidak merasa
puas akan status ataupun posisi pasien sebagai anggota keluarga dan
masyarakat.

c) Peran diri
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan kurang dapat melakukan peran
dan tugasnya dengan baik sebagai anggota keluarga dalam masyarakat.

d) Ideal diri
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan ingin diperlakukan dengan
baik oleh keluarga ataupun masyarakat sehingga pasien dapat melakukan
perannya sebagai anggota keluarga atau anggota masyarakat dengan baik.
e) Harga diri
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan memiliki hubungan yang
kurang baik dengan orang lain sehingga pasien merasa dikucilkan di
lingkungan sekitarnya.

f. Hubungan sosial
Biasanya pasien dekat dengan kedua orang tuanya terutama dengan
ibunya. Karena pasien sering marah-marah, bicara kasar, melempar atau
memukul orang lain, sehingga pasien tidak pernah berkunjung ke rumah
tetangga dan pasien tidak pernah mengikuti kegiatan yang ada di
lingkungan masyarakat.

g. Spiritual
1) Nilai keyakinan
Biasanya pasien meyakini agama yang dianutnya dengan melakukan
ibadah sesuai dengan keyakinannya.

2) Kegiatan ibadah
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan kurang (jarang) melakukan
ibadah sesuai dengan keyakinannya.

h. Status mental
Penampilan ,biasanya pasien berpenampilan kurang rapi, rambut acak-
acakan, mulut dan gigi kotor, badan pasien bau.

i. Pembicaraan
Biasanya pasien berbicara cepat dengan rasa marah, nada tinggi, dan
berteriak (menggebu-gebu).

j. Aktivitas Motorik
Biasanya pasien terlihat gelisah, berjalan mondar-mandir dengan tangan
yang mengepal dan graham yang mengatup, mata yang merah dan melotot.

k. Alam Perasaan
Biasanya pasien merasakan sedih, putus asa, gembira yang berlebihan
dengan penyebab marah yang tidak diketahui.

l. Afek
Biasanya pasien mengalami perubahan roman muka jika diberikan
stimulus yang menyenangkan dan biasanya pasien mudah labil dengan
emosi yang cepat berubah. Pasien juga akan bereaksi bila ada stimulus
emosi yang kuat.

m. Interaksi selama wawancara


Biasanya pasien memperlihatkan perilaku yang tidak kooperatif,
bermusuhan, serta mudah tersinggung, kontak mata yang tajam serta
pandangan yang melotot. Pasien juga akan berusaha mempertahankan
pendapat dan kebenaran dirinya.

n. Persepsi
Biasanya pasien mendengar, melihat, meraba, mengecap sesuatu yang
tidak nyata dengan waktu yang tidak diketahui dan tidak nyata.

o. Proses atau Arus Pikir


Biasanya pasien berbicara dengan blocking yaitu pembicaraan yang
terhenti tiba-tiba dikarenakan emosi yang meningkat tanpa gangguan
eksternal kemudian dilanjutkan kembali.

p. Isi Pikir
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan memiliki phobia atau
ketakutan patologis atau tidak logis terhadap objek atau situasi tertentu.

q. Tingkat Kesadaran
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan tingkat kesadarannya yaitu
stupor dengan gangguan motorik seperti kekakuan, gerakan yang diulang-
ulang, anggota tubuh pasien dalam sikap yang canggung serta pasien
terlihat kacau.

r. Memori
Biasanya klien dengan perilaku kekerasan memiliki memori yang
konfabulasi yaitu pembicaraan yang tidak sesuai dengan kenyataan dengan
memasukkan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan yang
dialaminya.

s. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan tidak mampu berkonsentrasi,
pasien selalu meminta agar pernyataan diulang/tidak dapat menjelaskan
kembali pembicaraan. Biasanya pasien pernah menduduki dunia
pendidikan, tidak memiliki masalah dalam berhitung (penambahan
maupun pengurangan).
t. Kemampuan penilaian
Biasanya pasien memiliki kemampuan penilaian yang baik, seperti
jika disuruh untuk memilih mana yang baik antara makan atau mandi
terlebih dahulu, maka ia akan menjawab mandi terlebih dahulu.

u. Daya tilik diri


Biasanya pasien menyadari bahwa ia berada dalam masa
pengobatan untuk mengendalikan emosinya yang labil.

v. Kebutuhan Persiapan Pulang


1) Makan
Biasanya pasien makan 3x sehari dengan porsi (daging, lauk pauk,
nasi, sayur, buah).

2) BAB/BAK
Biasanya pasien menggunakan toilet yang disediakan untuk
BAB/BAK dan membersihkannya kembali.

3) Mandi
Biasanya pasien mandi 2x sehari dan membersihkan rambut 1x2
hari. Ketika mandi pasien tidak lupa untuk menggosok gigi.

4) Berpakaian
Biasanya pasien mengganti pakaiannya setiap selesai mandi
dengan menggunakan pakaian yang bersih.

5) Istirahat dan tidur


Biasanya pasien tidur siang lebih kurang 1 sampai 2 jam, tidur
malam lebih kurang 8 sampai 9 jam. Persiapan pasien sebelum tidur cuci
kaki, tangan dan gosok gigi.

6) Penggunaan obat
Biasanya pasien minum obat 3x sehari dengan obat oral. Reaksi
obat pasien dapat tenang dan tidur.

7) Pemeliharaan kesehatan
Biasanya pasien melanjutkan obat untuk terapinya dengan
dukungan keluarga dan petugas kesehatan serta orang disekitarnya.

8) Kegiatan di dalam rumah


Biasanya klien melakukan kegiatan sehari-hari seperti merapikan
kamar tidur, membersihkan rumah, mencuci pakaian sendiri dan mengatur
kebutuhan sehari-hari.

9) Kegiatan di luar rumah


Biasanya klien melakukan aktivitas diluar rumah secara mandiri
seperti menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum jika ada
kegiatan diluar rumah.

w. Mekanisme Koping
Biasanya data yang didapat melalui wawancara pada
pasien/keluarga, bagaimana cara pasien mengendalikan diri ketika
menghadapi masalah:
1) Koping Adaptif
a) Bicara dengan orang lain
b) Mampu menyelesaikan masalah
c) Teknik relaksasi
d) Aktifitas konstrutif
e) Olahraga, dll.

2) Koping Maladaptif
a) Minum alkohol
b) Reaksi lambat/berlebihan
c) Bekerja berlebihan
d) Menghindar
e) Mencederai diri

x. Masalah Psikososial dan Lingkungan


Harga Diri Rendah
Biasanya pasien dengan perilaku kekerasan memiliki masalah
dengan psikososial dan lingkungannya, seperti pasien yang tidak dapat
berinteraksi dengan keluarga atau masyarakat karena perilaku pasien yang
membuat orang sekitarnya merasa ketakutan.

y. Aspek Medik
Biasanya pasien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan
pengobatan yang tepat. Adapun dengan pengobatan dengan neuroleptika
yang mempunyai dosis efektif tinggi contohnya: Clorpromazine HCL yang
berguna untuk mengendalikan psikomotornya. Bila tidak ada dapat
digunakan dosis efektif rendah, contohnya Trifluoperasine estelasine, bila
tidak ada juga tidak maka dapat digunakan Transquilizer bukan obat anti
psikotik seperti neuroleptika, tetapi meskipun demikian keduanya
mempunyai efek anti tegang, anti cemas dan anti agitasi

B. ANALISA DATA
Setelah mengetahui adanya penyakit dalam keluarga terutama
penyakit atau gangguan jiwa seringkali menjadikan keluarga merasakan
beban lebih berat, hal ini disebabkan perilaku atau reaksi klien yang
berlebihan seperti menjadi apatis, menarik diri, halusinasi, dan perilaku
kekerasan. Dihari-hari awal anggota keluarga merasa bingung dan marah
bahkan dapat menyalahkan serta memojokkan klien. Hal ini dapat
menyebabkan depresi, kemarahan dan timbul penyakit psikosomatik pada
klien(Dozz, 2005). Ketidaksiapan keluarga dalam menghadapi masalah ini
menjadikan keluarga memberikan respon yang tidak efektif pada klien.
Sebagian dari cara keluarga mereduksi perasaan-perasaan tertekan,
kecemasan, stress atau konflik adalah dengan menggunakan mekanisme
pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau tidak sadar.
Gangguan jiwa seperti perilaku kan kekerasan biasanya tidak akan
terjadi atau kambuh jika keluarga memiliki pengaruh yang positif pada
anggotanya, mereka akan mempunyai rasa dan pengakuan diri serta harga
diri yang positif, dan akan menjadi produktif sebagai anggota masyarakat.
Namun pada kenyataannya bahkan keluarga sering merupakan faktor
pencetus timbulnya masalah kesehatan mental klien termasuk didalamnya
pencetus timbulnya perilaku kekerasan klien yang digambarkan keluarga
seringkali bersikap enggan untuk membawa klien pulang ke rumah dari
rumah sakit, sehingga jika klien diharuskan pulang makakeluarga sering
memperlakukan klien dengan tidak baik dan tidak mendukung perawatan
klien dirumah. Hal ini sebagai akibat sikap keluarga yang tidak terapeutik
terhadap klien dan kurangnya pengetahuan mengenai peran serta keluarga
dalam perawatan klien, ketidakmampuan memahami keadaan klien, yang
pada akhirnya memperberat keadaan klien yang belum pernah dirawat, dan
penyebab kekambuhan klien pasca opname/ keluar rumah sakit.
kekambuhan pada klien ganggun jiwa disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu klien, tenaga medis, tenaga perawat dan dari keluarga sendiri.
Selanjutnya dikatakan apabila seseorang yang mengalami gangguan jiwa
mempunyai kemampuan adaptasi yang baik selama di rumah daripada di
rumah sakit sebaiknya klien dirawat di rumah karena akan lebih mendapat
dukungan dan perawatan dari keluarga. Kekambuhan ini dapat dicegah
dan tisipasi dengan melibatkan keluarga dalam perawatan klien dirumah
melalui psikoedukasi dan psikoterapi yang diberikan pada keluarga, yang
salah satunya adalah dengan terapi keluarga.
C. DIAGNOSA
D. EVALUASI

Hasil dari pembahasan jurnal adalah didapatkan bahwa klien terkadang sering
marah-marah tanpa sebab, berbicara sendiri, mengamuk dan merusak
barang.berdasarkan data tersebut penulis mengambil diagnosa resiko perilaku
kekerasan. Rencana tindakan tindakannya adalah dengan menerapkan strategi
pelaksanaan klien. Strategi pelaksaan klien terdiri dari SP 1 BHSP dan
mendiskusikan dengan klien tentang penyebab, kerugian, keuntungan perilaku
kekerasan dan melatih cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik
menarik nafas dalam dan pukul bantal. SP 2 mengajarkan klien mengontrol
perilaku kekerasan dengan obat. SP 3 mengajarkan kien mengontrol perilaku
kekerasan secara verbal yaitu : mengungkapkan, meminta dan menolak dengan
benar. SP 4 mengajarkan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara
spiritual yaitu : sholat dan berdoa. Evaluasi yang dilakukan penulis didapatkan
data bahwa klien mampu membina hubungan saling percaya, pasien menyebutkan
penyebab perilaku kekerasan, mampu menyebutkan keuntungan dan kerugiannya,
pasien belum mau diajarkan cara mengontrol marah secara fisik dan minum obat.
Pada akhir pembicaraan perawat membuat kontrak waktu dengan klien untuk
mengajarkan cara mengontrol marah. Klien mengerti cara minum obat. Klien
mengatakan sholat 5 waktu dan mampu menolak dengan halus ketika ada teman
yang membuatnya marah. Pada tahap evaluasi selain menilai spiritual pasien yang
dapat berguna sebagai alat untuk menenangkan diri pasien perawat juga harus
menilai kemampuan keluarga dalam mengontrol emosi pasien. Keluarga diajarkan
bagaiamana cara menenangkan pasien, cara agar kondisi pasien tetap stabil, dan
cara mengontrol emosi pasien ketika pasien sedang kambuh. Sehingga ketika
pasien dipulangkan keluarga dapat ikut serta dalam membantu proses perawatan
pasien