Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 1


ANALISA KERUSAKAN SERAT KAPAS SECARA KUALITATIF

Uji Congo Red,Uji Horizon,Uji Perak Nitrat Amoniakal,Uji Pereaksi Fehling,UjiBiru Trunbull,
Uji Na-Kromat,dan Uji Metilen Biru.

Nama : Dhea Nurkhofifah

Npm : 17020023

Grup : K1

Dosen : Maya K., S.Sit.,M.T.

Kurniawan, S.T.,M.T.

Samuel M., S.St

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2018
1. Maksud dan Tujuan

- Pengujian Penggelembungan dengan NaOH


Untuk membedakan kerusakan serat kapas karena zat kimia dan mekanika
- Pengujian Pewarnaan dengan Congo Red
Untuk membedakan kerusakan serat kapas karena zat kimia dan mekanika
- Pengujian Pewarnaan dengan Cara Uji Horizon
Untuk menunjukkan adanya gugus pereduksi pada serat selulosa yang rusak karena zat
kimia
- Pengujian Pewarnaan dengan Perak Nitrat Amoniakal
Untuk menunjukkan adanya gugus pereduksi pada serat selulosa yang rusak karena zat
kimia
- Pengujian Pewarnaan dengan Pereaksi Fehling
Untuk menunjukkan adanya gugus pereduksi pada serat selulosa yang rusak karena zat
kimia
- Pengujian Pewarnaan dengan Cara Pencelupan Tolak
Untuk menunjukkan adanya gugus karboksilat pada serat selulosa yang rusak karena kimia
- Pengujian Pewarnaan dengan Cara Biru Trunbull
Untuk menunjukkan adanya gugus karboksilat pada serat selulosa yang rusak karena kimia
- Pengujian Pewarnaan dengan Na-Kromat
Untuk menunjukkan adanya gugus karboksilat pada serat selulosa yang rusak karena kimia
- Pengujian Pewarnaan dengan Metilen Biru
Untuk menunjukkan adanya karboksilat pada serat selulosa yang rusak karena kimia
2. Teori Dasar

Serat kapas tumbuh menutupi seluruh permukaan biji kapas. Dalam tiap-tiap buah terdapat 20
biji kapas atau lebih. Serat mulai tumbuh pada saat tanaman berbunga dan merupakan pemanjangan
sebuah sel tunggal dari epidermis atau selaput luar biji. Sel membesar sampai diameter maksimum dan
kemudian sel yang berbentuk silinder tersebut tumbuh yang mencapai panjang maksimum. Pada saat
itu serat merupakan sel yang sangat panjang dengan dinding tipis yang menutup protoplesma dan inti.
Pada saat yang sama dengan tumbuhnya serat, tumbuh juga serat-serat yang sangat pendek dan kasar
yang disebut linter. Lima belas sampai delapan belas hari berikutnya mulai masa pendewasaan serat,
dimana dinding sel makin tebal dengan terbentuknya lapisan-lapisan selulosa dibagian dalam dinding
yang asli.

Dinding yang asli disebut dinding primer dan dinding yang menebal pada waktu pendewasaan
disebut dinding sekunder. Pertumbuhan dinding sekunder tersebut berlangsung terus sampai hari ke 45
sampai hari ke 75 atau satu dua hari sebelum buah terbuka.
Pada waktu serat dewasa, agar sel serat tetap bertahan dalam lapisan epidermis. Serat selama
pertumbuhan berbentuk silinder dan diameternya kurang lebih sama di bagian tengah serat, agak
membesar dibagian dasar dan mengecil kearah ujungnya. Ketika buah kapas terbuka uap air yang ada
di dalam menguap, sehingga serat tidak berbentuk silinder lagi.
Dalam proses pengeringan ini dinding serat mengerut, lumennya menjadi lebih kecil dan lebih
pipih dan terbentuk puntiran pada serat yang disebut konvolusi. Arah puntiran baik arah S maupun arah
Z dapat terjadi dalam satu serat. Jumlah putiran berkisan antara 50 sampai 100 per inci bergantung
pada jenis, kondisi
Kerusakan bahan tekstil dapat terjadi pada setiap tingkat proses bahan tekstil, mulai dari bahan
baku (serat) sampai menjadi bahan jadi (kain), dengan demikian kerusakan serat mungkin terjadi pada
setiap tingkat pengolahan, sedangkan jenis kerusakannya bergantung pada jenis pengolahannya.
Kerusakan serat dapat terjadi pada serat alam seperti selulosa (contoh: kapas), serat protein (contoh:
wool) dan serat buatan (contoh: poliamida).

Serat Kapas termasuk ke dalam serat alam. Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman
yang termasuk dalam jenis Gossypium, ialah:
1. Gossypium arboreum (berasal dari India).
2. Gossypium herbareum (asal tidak jelas).
3. Gossypium barbadense (berasal dari Peru).
4. Gossypium hirsutum (berasal dari Meksiko Selatan, Amerika Tengah, dan Kepulauan Hindia
Barat).
Berdasarkan panjang dan kehalusan serat, kapas yang diperdagangkan dapat digolongkan menjadi
tiga kelompok yaitu:

Type 1 : Termasuk dalam type ini adalah serat kapas yang panjang, halus, kuat, berkilau, dengan
panjang stapel 11/2 inci misalnya Kapas Mesir dan Kapas Sea Island. Kapas type ini
biasanya dipakai untuk benang dan kain yang sangat halus.

Type 2 : Termasuk dalam type ini adalah kapas medium yang lebih kasar dan lebih pendek dengan
panjang stapel 1/2 – 13/8 inci, misalnya kapas Upland.

Type 3 : Termasuk dalam type ini adalah kapas-kapas yang pendek kasar dan tidak berkilau dengan
panjang stapel 3/8 – 1 inci misalnya Kapas India, Cina dan sebagian kecil Kapas Timur
Tengah, Eropa Tenggara, dan Afrika Selatan.

Komposisi serat kapas yaitu:

Komposisi % pada serat % pada dinding primer


Selulosa 88 – 96 52
Pektin 0,7 – 1,2 12
Lilin 0,4 – 1 7,0
Protein 1,1 – 1,9 12
Abu 0,7 – 1,6 3
Senyawa organic 0,5 – 1,0 14
2.1 Morfologi Serat Kapas

Bentuk penampang membujur serat kapas, pipih seperti pipa yang terpuntir (terpilin).Bentuk
penampang membujur ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu dasar, badan dan ujung.Bentuk penampang
melintang serat kapas sangat bervariasi dari pipih sampai bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti
ginjal. Serat kapas dewasa penampang lintangnya terdiri dari 6 bagian yaitu: Kutikula, Dinding primer,
Lapisan antara, Dinding sekunder, Dinding lumen, dan Lumen.

2.2 Dimensi Serat Kapas

Perbandingan panjang dan diameter serat kapas pada umunnya bervariasi dari 1000:1 sampai
5000:1

Struktur kimia kapas

Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur kimia yang sama. Hal ini
bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan metilasi yang menunjukan bahwa selulosa pada
dasarnya mengandung residu anhidroglukosa. Subsequent tersebut menyesun molekul
glukosa(monosakarida) dalam bentuk β-glukopironase dan berikatan bersama-sama yang dihubungkan
pada posisi 1 dan 4 atom karbon molekulnya. Formula unit pengulanganya menyerupai selobiosa
(disakarida) yang kemudian membentuk selulosa (polisakarida).
Sifat Fisika

Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream. Karena pengaruh cuaca yang lama,
debu dan kotoran, akan menyebabkan warna keabu-abuan. Tumbuhnya jamur pada kapas sebelum
pemetikan menyebabkan warna putih kebiru-biruan yang tidak bisa dihilangkan dalam pemutihan.

Kekuatan serat kapas per bundel rata-rata adalah 96.700 pound per inci2 dengan minimum
70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci2.Pada umumnya kekuatan serat menurun pada waktu
basah tetapi sebaliknya kekuatan kapas dalam keadaan basah makin tinggi. Mulur saat putus serat
kapas termasuk tinggi diantara serat-serat selulosa alam, kira-kira dua kali mulur rami.Mulur serat
kapas berkisar antara 4-13% bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-rata 7%.

Kekakuan (stiffness) adalah daya tahan terhadap perubahan bentuk dan untuk tekstil dinyatakan
sebagai perbandingan antara kekuatan saat putus dengan mulur saat putus.

Keliatan (toughness) adalah ukuran yang menunjukkan suatu benda untuk menerima
kerja.Diantara serat-serat selulosa alam keliatan serat kapas relatif tinggi tetapi dibanding dengan serat-
serat selulosa yang diregenerasi, sutera dan wol keliatannya lebih tinggi.

Moisture regain serat kapas pada kondisi standar berkisar antara 7 – 8,5%. Berat jenis serat
kapas 1,50 sampai 1,56. Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat 1,58, indeks bias melintang
sumbu serat 1,53.

Sifat Kimia

Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan pemakaian
yang normal, tetapi beberapa zat oksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat
penurunan kekuatan. Kerusakan dengan oksidasi karena terbentuknya oksi selulosa biasanya terjadi
dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang
lama dalam suhu diatas 1400 C. Asam-asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa dalam rantai
selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat menyebabkan degradasi cepat. Larutan yang encer
apabila dibiarkan mengering pada serat akan menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali mempunyai
sedikit pengaruh pada kapas kecuali alkali kuat dengan konsentrasi tinggi menyebabkan
penggelembungan yang besar pada serat. Seperti pada proses merserisasi. Pada kondisi ini dinding
primer menahan penggelembungan serat kapas keluar sehingga bagian lumennya sebagian tertutup,
irisan melintang menjadi lebih bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau, lebih
kuat dan afinitas terhadap zat warna menjadi lebih besar.

Pelarut-pelarut yang biasa digunakan untuk melarutkan kapas adalah kupromonium hidroksida
dan kuprietilen diamin. Viskositas larutan kapas pada larutan-larutan ini merupakan cara yang baik
untuk memperkirakan kerusakan serat. Kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri terutama pada
keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.Banyak modifikasi zat-zat kimia tertentu saat ini
digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat kapas seperti stabilitas dimensi, tahan kusut, tahan air, tahan
jamur, tahan kotoran, dll.

2.4 Mekanisme Oksiselulosa Dan Hidroselulosa

- Oksiselulosa

Pada oksidasi sederhana misalnya oleh NaoCl dalam suasana asam, tidak terjadi pemutusan
rantai tetapi hanya terjadi pembukaan cincin glukosa seperti jenis D. Dalam hal ini pernurunan
kekuatan tarik tidak besar seperti jenis D. Dalam hal ini penurunan kekuatan tarik tidak besar, oleh
karena itu pengelantangan rayon biasanya dilakukan dalam keadaan asam. Pengerjaan lebih lanjut
dengan alkali, sudah pasti akan mengakibatkan pemutusan rantai molekul dan memberikan hasil jenis
F. Dengan demikian kekuatan tarik akan turun. Kedua jenis senyawa ini mempunyai daya reduksi
karena mempunyai gugus aldehida.
Bila pengerjaan dengan alkali tersebut berhubungan dengan udara, maka oksidasi terjadi
serentak memberikan hasil jenis G yang mempunyai gugus COOH, sehinggga mempunyai daya
absorbsi terhadap Metylene-blue.
Pada pengerjaan dengan alkali secara normal, dengan adanya udara, pada umumnya terjadi hasil
campuran sedikit jenis G disamping jenis F. Pada oksidasi yang komplex misalnya oleh NaOCl dalam
suasana alkali, reaksireaksi di atas terjadi bersama-sama terutama terbentuk jenis G dengan campuran
jenis F.
Untuk Oksiselulosa jenis D dan E, kekuatan tariknya hampir tidak berubah, tetapi viskositasnya
dalam kupro amonium hidroksida menunjukkan penurunan. Hal ini disebabkan karena alkali yang ada
dalam larutan tersebut masih cukup untuk memutuskan rantai selulosa yang cincin glukosanya telah
terbuka, walaupun penurunan viskositasnya ini tidak sebesar jenis F dan G.
- Hidroselulosa
Selulosa dapat dipengaruhi oleh asam kuat, oksidator, alkali kuat pekat maupun jamur dan
hama. Asam akan menghidrolisa selulosa menjadi hidroselulosa. Oksidator akan mengoksidasi selulosa
menjadi oksiselulosa. Alkali pekat akan menggelembungkan selulosa, Jamur hama dapat memutuskan
rantai-rantai selulosa.
Jenis-jenis kerusakan dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu :

1. Kerusakan mekanika
Kerusakan yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik pada bahan atau serat sebagai
akibat gerakan mekanik pada bahan tersebut. Kerusakan mekanika dapat disebabkan oleh:
a. Serangan serangga
Serangan serangga dapat ditentukan dengan adanya bekas gigitan dan jaring sarang
serangga pada bagian serat yang rusak.
b. Gesekan
Gesekan benang dapat terjadi selama proses pengerjaan benang sampai menjadi
kain. Pengamatan dibawah mikroskop menunjukkan benang yang tergesek permukaannya
lebih berbulu, serat tampak terpotong-potong, tersikat atau terkoyak-koyak.
c. Putus karena tarikan dan potongan
Kerusakan ini dapat dibedakan dengan melihat ujung serat dibawah mikroskop. Pada
kerusakan karena tarikan ujung serat biasanya tercabik-cabik dan terdiri dari campuran serat
putus dan tidak putus. Sedangkan serat terpotong biasanya ujung seratnya rata.
d. Tusukan
Kerusakan dapat dilihat dengan adanya tusukan atau lubang kecil pada kain dalam
suatu pola yang berulang. Dibawah mikroskop terlihat adanya serat yang terpotong-potong
atau hancur.

2. Kerusakan kimia
Kerusakan yang menyebabkan penurunan kekuatan karena adanya zat kimia yang dapat
ditimbulkan oleh adanya serangan jasad renik (microorganism), cahaya, panas dan pengerjaan
dengan zat kimia. Pada umumnya kerusakan serat karena kimia dapat dibedakan dari kerusakan
mekanika dengan cara pengukuran fluiditas serat dalam pelarut yang sesuai. Kerusakan karena
jasad renik (microbial damage) dapat mengakibatkan penurunan kekuatan yang tidak dapat
ditunjukkan dengan pengukuran fluiditas. Kerusakan kimia dapat disebabkan oleh:
a. Serangan jasad renik
Kerusakan disebabkan karena jasad renik tersebut mengeluarkan enzim yang
menyebabkan kerusakan kimia.
b. Cahaya
Kerusakan serat ditandai dengan terjadinya pemutusan ikatan primer pada selulosa.
c. Panas
Kerusakan oleh panas dapat terlihat dengan terjadinya perubahan pada dinding
primer selulosa.
d. Pengerjaan zat kimia
Serat selulosa dapat rusak karena asam maupun zat oksidator.Asam dapat
menyebabkan terjadinya hidroselulosa yang mempunyai gugus pereduksi. Proses oksidasi
baik dalam suasana asam maupun basa menimbulkan oksiselulosa yang mempunyai gugus
pereduksi maupun karboksilat.

3. Alat dan Bahan


- Mikroskop
- Kaca objek dan kaca penutup
- Kertas hisap
- Tabung reaksi
- Pembakar Bunsen

4. Pereaksi
- Larutan NaOH 18%
- Larutan zat warna Congo Red 1%
- Pelarut A (AgNO3 80 g/L)
- Pelarut B (200 g Na2S2O3 dan 200 g NaOH) dalam 1 L air
- AgNO3 Amoniakal
- NH4OH 10%
- Larutan Fehling A (60 g/L CuSO4)
- Larutan Fehling B (346 g Kalium Natrium tartrat dan 100 g NaOH/L air)
- Larutan Chlorazol Sky Blue FF (Cl Direct Blue 1) 5 g/L
- Ferro sulfat 10 g/L
- Kalium ferri sianida 10 g/L
- Natrium kromat 10 g/L
- Pb Asetat 10 g/L
- Larutan Metilen Biru 10 g/L yang telah diasamkan dengan H2SO4 2 N (10 ml/L)
5. Reaksi
 Reaksi pada pewarnaan uji Horizon
AgNO3  Na2 S 2 O3 NaOH
 Na3 [ Ag ( S 2 O3 ) 2 ]
AgNO3  Na2 S 2 O3  Ag 2 S 2 O3 Putih  NaNO3

+ H2O

Ag 2 S Hitam H 2 SO4

 Na2 Ag S 2 O3 2 


Ag 2 S 2 O3  NaOH
Garamkompleks yang larut
 
Ag Hn  Ag   H

O O

Ag  R C  R C  Ag 
H H

 Reaksi pada pewarnaan uji Fehling


CuSO4 + 2 NaOH C4H4O 6 Cu (OH) 4 + Na2SO4
lar biru
Cu (OH)2 CuO + H2O
2CuO Cu2O + H2O

 Reaksi pada pencelupan tolak

alkali/netral
D - SO3Na + R - Sel Tercelup

asam
D - SO3Na + R - Sel Tidak Tercelup

 Reaksi pada pewarnaan uji Na Kromat


O O
Sel - R - C + Pb - (Ast)2 Sel - R-C Pb + H - Ast
OH OH 2

O O
Sel - R-C Pb + Na2CrO4 Sel - R - C
OH 2 O PbCrO4

Pada Bahan Kuning

6. Cara Kerja
 Pengujian Penggelembungan dengan NaOH
- Potong serat kapas pendek-pendek kira-kira 0,5 mm.
- Letakkan diatas kaca objek, tetesi dengan NaOH sebagai medium, tutup dengan kaca
penutup.
- Biarkan beberapa menit.
- Amati dibawah mikroskop.
 Pengujian Pewarnaan dengan Congo Red
- Rendam contoh uji dalam larutan NaOH 2% selama 5 menit.
- Cuci sampai bebas NaOH (Uji dengan kertas lakmus).
- Keringkan dengan kertas penghisap.
- Rendam contoh uji dalam larutan Congo Red selama 5 menit.
- Cuci bersih dengan air.
- Rendam dalam larutan NaOH 18% selama 3-5 menit.
- Amati dibawah mikroskop.
 Pengujian Pewarnaan dengan Cara Uji Horizon
- Campurkan 1 ml larutan A dalam 20 ml air dengan 2 ml larutan B dalam 20 ml.
- Didihkan contoh uji dalam 2-5 ml campuran tersebut selama 5 menit.
- Cuci dalam larutan B (1 ml dalam 10 ml air).
- Cuci dengan air panas suhu 70oC.
- Amati warna yang terjadi.
 Pengujian Pewarnaan dengan Perak Nitrat Amoniakal
- Panaskan contoh uji dalam larutan AgNo3 amoniakal pada suhu 80oC selama 3-5 menit.
- Cuci dengan air dingin.
- Cuci dengan larutan amoniak 10%.
- Amati warna yang terjadi.
 Pengujian Pewarnaan dengan Pereaksi Fehling
- Campurkan 5 ml larutan Fehling A dan 5 ml larutan Fehling B (Larutan dapat diencerkan
dengan 10 ml air suling).
- Didihkan contoh uji dalam 2-5 ml campuran tersebut selama 10 menit.
- Cuci dengan air panas 70oC.
- Amati warna yang terjadi.
 Pengujian Pewarnaan dengan Cara Pencelupan Tolak
- Rendam contoh uji dalam larutan Chlorazol Sky Blue FF pada suhu mendidih selama 5
menit.
- Cuci dengan air panas pada suhu 70oC.
- Amati warna yang terjadi.
 Pengujian Pewarnaan dengan Cara Biru Trunbull
- Rendam contoh uji di dalam larutan ferro sulfat selama 5 menit pada suhu kamar.
- Cuci dengan air pada suhu 70oC.
- Rendam contoh uji dalam larutan kalium ferri sianida selama 5 menit pada suhu kamar.
- Cuci pada suhu 70oC, lalu dikeringkan.
- Amati warna yang terjadi.
 Pengujian Pewarnaan dengan Na-Kromat
- Rendam contoh uji dalam larutan Pb asetat selama 5 menit pada suhu kamar.
- Bilas dengan air dingin.
- Pindahkan contoh uji kedalam larutan Na Khromat kemudian rendam dalam larutan tersebut
selama 5 menit pada suhu kamar.
- Cuci dan keringkan.
- Amati warna yang terjadi.
 Pengujian Pewarnaan dengan Metilen Biru
- Rendam contoh uji dalam larutan pereaksi Metilen Biru selama 5-10 menit pada suhu
kamar.
- Cuci dengan air mengalir.
- Amati warna yang terjadi.
7. Data Percobaan
- Terlampir

8. Diskusi

 Pengujian Penggelembungan dengan NaOH


Adanya kepala jamur (dumble) pada ujung serat menunjukkan serat baik yaitu pada
kapas baik dan menunjukkan serat yang mengalami kerusakan mekanik yaitu kapas rusak
pukulan dan kapas rusak oleh H2O2.Tidak ada kepala dumble pada kapas rusak karena kaporit,
panas, asam, KMnO4, alkali dan hipoklorit selulosa menunjukkan bahwa pada kapas tersebut
terjadi kerusakan kimia yang hebat.
 Pengujian Pewarnaan dengan Congo Red
Adanya dumble menunjukkan kapas tersebut mengalami kerusakan mekanika yaitu
kapas rusak pukulan. Kapas rusak karena kimia akan terlihat retakan memanjang, tidak terjadi
dumble dan adanya bagian serat yang berwarna merah. Serat yang mengalami kerusakan kimia
yaitu kapas rusak kaporit, kapas baik, kapas rusak panas, kapas rusak asam, KMnO4, H2O2,
kapas rusak alkali dan hipoklorit selulosa.Kapas rusak jamur mengalami rusak karena jasad
renik, yaitu permukaannya aus atau tampak filament-filamen jasad renik.
 Pengujian Pewarnaan dengan Cara Uji Horizon
Ada endapan abu-abu atau hitam menunjukkan adanya gugus aldehide.Setelah
praktikum didapat kapas rusak jamur, kapas rusak kaporit dan kapas rusak hipoklorit selulosa
memiliki endapan abu-abu kehitaman sehingga menunjukkan adanya gugus aldehide.
 Pengujian Pewarnaan dengan Perak Nitrat Amoniakal
Pada pengujian ini, semua serat mengalami perubahan warna menjadi coklat, namun
dapat dilihat tingkat ketuaan warna pada serat tersebut.Serat yang mendapat warna coklat
menandakan serat tersebut rusak.Semakin coklat warna serat maka menandakan semakin besar
tingkat kerusakannya.
 Pengujian Pewarnaan dengan Pereaksi Fehling
Dalam percobaan ini, serat yang sudah diuji oleh pereaksi fehling harusnya ada endapan
berwarna pink atau merah. Namun setelah melakukan percobaan, serat yang dihasilkan menjadi
berwarna hijau.Hal ini mungkin disebabkan karena zat kimia yang dipakai sudah terlalu lama
dalam penyimpanan, alat yang kurang bersih, atau mungkin kesalahan praktikan dalam
melakukan prosedur.
 Pengujian Pewarnaan dengan Cara Pencelupan Tolak
Pada kapas rusak karena hipoklorit selulosa dan rusak karena kaporit menunjukkan tidak
terjadinya pewarnaan maka pada kapas tersebut terdapat gugus karboksil.
 Pengujian Pewarnaan dengan Cara Biru Trunbull
Pada pengujian ini semua serat kapas terwarnai oleh warna biru.Jika dilihat dari ketuaan
warnanya, maka pada kapas rusak oleh hipoklorit selulosa, H2O2, kapas rusak jamur, dan kapas
rusak kaporit mendapat warna biru tua dan hal itu menunjukkan adanya gugus karboksil yang
lebih banyak daripada serat yang berwarna biru muda.
 Pengujian Pewarnaan dengan Na-Kromat
Pada pengujian ini semua serat terwarnai menjadi warna kuning.Gugus karboksil
ditunjukkan oleh warna kuning tua dan serat yang mengalami pewarnaan menjadi warna kuning
tua adalah kapas rusak pukulan.
 Pengujian Pewarnaan dengan Metilen Biru
Semua serat mengalami pewarnaan menjadi warna biru.Gugus karboksil ditunjukkan
dengan perubahan warna menjadi biru tu yaitu pada kapas rusak hipoklorit selulosa, kapas rusak
pukulan, KMnO4, kapas baik dan kapas rusak oleh kaporit.
9. Kesimpulan
- Pengujian Penggelembungan dengan NaOH
Pada pengujian ini dapat dibedakan antara serat yang mengalami kerusakan mekanik
dan serat yang mengalami kerusakan oleh zat kimia.
- Pengujian Pewarnaan dengan Congo Red
Pada pengujian ini dapat dibedakan antara serat yang mengalami kerusakan mekanik
dan serat yang mengalami kerusakan oleh zat kimia.
- Pengujian Pewarnaan dengan Cara Uji Horizon
Kapas yang memiliki gugus karboksil yaitu kapas rusak jamur, kapas rusak kaporit dan
kapas rusak hipoklorit selulosa yang memiliki endapan abu-abu.
- Pengujian Pewarnaan dengan Perak Nitrat Amoniakal
Kapas yang paling rusak ditunjukkan dengan warna kuning atau coklat.Pada percobaan
ini semua kapas menunjukkan warna coklat, namun ketuaan warnanya menunjukkan tingkat
kerusakannya.
- Pengujian Pewarnaan dengan Pereaksi Fehling
Seharusnya kapas yang dihasilkan berwarna pink atau merah, namun hasil praktikum
kapas berwarna hijau.
- Pengujian Pewarnaan dengan Cara Pencelupan Tolak
Gugus karboksil terdapat pada kapas rusak karena hipoklorit selulosa dan kapas rusak
kaporit.
- Pengujian Pewarnaan dengan Cara Biru Trunbull
Kapas rusak oleh hipoklorit selulosa, H2O2, kapas rusak jamur, dan kapas rusak kaporit
mendapat warna biru tua yang menunjukkan adanya gugus karboksilat.
- Pengujian Pewarnaan dengan Na-Kromat
Kapas rusak pukulan memiliki gugus karboksilat karena berwarna kuning tua.
- Pengujian Pewarnaan dengan Metilen Biru
Kapas yang memiliki gugus karboksil adalah kapas rusak hipoklorit selulosa, kapas
rusak pukulan, KMnO4, kapas baik dan kapas rusak kaporit.
Daftar Pustaka
1. Widayat S.Teks, dkk. Serat-Serat Tekstil. Institut Teknologi Tekstil. Bandung: 1973.
2. Rahayu, Hariyanti, dkk. Bahan Ajar Praktikum Evaluasi Kimia 1 Analisa Kualitatif dan
Kuantitatif Kerusakan Serat Tekstil. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil. Bandung: 2005